Selasa, 27 Desember 2016

kotakkotak kehidupan


"manusia, dengan segala standar yang mereka buatbuat, dalam hidup yang mereka kotakkotakkan."

kalimat pembuka saya dapat hasil dari berselancar dunia blogger, maaf sekali saya lupa alamatnya, mohon jika ada yang mengenali sila saya berkenan dikoreksi.

setelah membaca kalimat tersebut lagi dan lagi di status plurk saya yang sudah saya tandai, saya berpikir "alangkah pas nya dengan kondisi manusia sekarang ini. di Indonesia terutama, dengan polemik berkepanjangan meyangkut politik dan agama".

saya tau ini topik yang sensitif, apalagi sekarangsekarang ini. kamu salah ketik sedikit saja siapsiap jadi viral dan bisabisa dianggap hate speech, trus didatengin kapolri, melanggar UUITE yang sampai saat ini saya ga tau isinya apa.

sampai detik ini saya berhasil menahan keinginan untuk komentar ataupun berbagi tautan untuk isuisu yang sangat sensitif ini. dan hamdalah, saya sudah menghentikan aktif di beberapa akun media sosial, facebook sudah menuju tahun keempat sejak saya terakhir kali menulis status, BBM already uninstalled, twitter juga sudah uninstall hanya cek via browser untuk update info terkini, kemudian path hahahahaha deleted account permanent is successful, apa lagi, yaa? instagram, sudah dua tahunan apus acc ga niat bikin lagi, google + sudah banyak sawangnya kali. memang ada beberapa yang masih aktif, like plurk, pinterest, goodreads, blogger. dan sebisa mungkin saya membatasi interaksi ataupun tindakan yang bisa jadi menyakiti pihak pro atau kontra, apapun itu isunya.

kembali soal kotak mengkotakkan. benarlah bahwasannya manusia itu hidup dengan standar masingmasing, including me, saya juga punya standar yang jadi acuan menjalani hidup ini. kemudian setelah standar yang diciptakan oleh pribadi masingmasing, munculah kotakkotak imajiner tempat semua pikiran memisahkan mana yang layak dan mana yang tidak layak.

sebenarnya, apa yang membuat manusia mengkotakkotakkan hidup mereka? menurut saya ada beberapa kemungkinan ;

1. sifat / pembawaan diri
memang kita tidak bisa memungkiri bahwa dalam sebuah kelompok, mungkin saja ada beberapa orang yang berbeda sifat bisa akurakur saja, tapi perihal kotak ini bahkan bisa tumbuh dalam satu komunitas yang solid sekalipun. seseorang akan lebih cocok dengan teman yang sesifat dengan dirinya, dengan pembawaan yang sama seperti dia.

2. pemikiran
apa yang lebih menyenangkan dari bertemu orang yang sepemikiran dengan kita? orangorang yang punya visi yang sama, pendangan hidup yang sejalan, dan hasil pikiran yang saling menyerupai? kita selalu suka dengan pemikiran yang menghasilkan pendapat dari orang yang satu ide dengan kita, satu pandangan, satu kesimpulan.mengapa banyak orang yang bertengkar hanya karena berbeda pendapat dalam sebuah kolom komentar? kotakkotak pemikiran lah jawabannya.

3. pembenaran dan keuntungan
contoh nyata adalah diri saya sendiri, saya pun cenderung menyetujui dan berada di sisi yang lebih menguntungkan bagi saya, dan lebih menyetujui serta membenarkan pendapat yang membenarkan saya. jadilah, opini  lain tertutup kotakkotak, lagi dan lagi.

lantas apakah salah memiliki standar hidup? jelas tidak, justru setiap orang berhak dan wajib memiliki standar hidup untuk dirinya sendiri yang menyokong keberadaan dia di dunia. permasalahkan bukan pada standarnya, tapi pada kotakkotak yang dibuat setelah mengamati dan menyeleksi kehidupan sekitarnya.

saya jengah, dengan berbagai status menyudutkan yang saling merasa benar. pro-kontra yang menyebabkan kita bermusuhan dan pada akhirnya semakin terkotakkotak. ini tidak hanya untuk kasus yang sedang on fire saat ini, kotakkotak ini sudah ada sejak lama, bahkan sejak kita ada di sekolah dasar, disadari atau tidak.

mengapa harus mengkotakkotakan, menghasilkan kebencian yang hanya akan berakhir dengan sindir menyindir, unfriend unfollow, dan bahkan mendoakan keburukan untuk sesamanya? mengapa banyak bicara sementara ilmu kita bahkan jauh di bawah orang yang kita hina?

apakah pantas kita mengatakan hal buruk pada orang yang tidak sependapat dengan kita? apakah pantas menganggap orang lain lebih rendah hanya karena ia tidak satu pemikiran dengan kita? hanya karena kita dikelilingi atau memilih berada disekitar orangorang yang setuju dengan kita, apakah hal yang wajar menganggap orang lain yang berbeda itu bodoh, kolot, dan tidak open-minded saat memiliki perndapat yang jauh berbeda? lantas di mana letak freedom dan toleransi yang selama ini diagungkan sementara kita masih saja menghakimi orang yang tak sama dengan kita.

mengapa harus mengatakan orang lain munafik hanya karena di media sosial dia berdiam tak bersuara saat sebagian besar manusia sibuk saling berteriak lewat dunia maya? mengapa harus menganggap orang lain tidak berbesar hati saat sulit memaafkan kesalahan orang yang nyata dan mengingikan penegakan hukum setinggitingginya? see, bahkan soal hukum yang sudah jelas pun baik agama dan negara saja kita terkotakkotak.

mengapa menganggap intoleran pada mereka yang tak mau ikut merayakan atau sekadar mengucapkan selamat pada hari besar agama lain? atau mengapa menganggap kafir pula kepada dia yang ikut membantu menjaga keamanan, membantu bersihbersih tempat ibadah, menjadi saksi ibadat agama lain? apakah sebegitu dalam kebencian pada keyakinan yang berbeda dengan kita?

saya meyakini, perkataan Tuhan saya bahwa, "untukmu agamamu, untukku agamaku", dan saya yakin setiap orang pun begitu dengan keyakinannya masingmasing. jika tak sampai ilmu, maka janganlah berprasangka buruk pada orangorang yang jauh lebih pandai, jauh lebih soleh, jauh lebih takwa. mungkin selama ini kita tidak lantang bersuara atau hanya ikutikutan saja, yang penting suka pendapatnya dan satu selera. sayangnya, apapun yang keluar dari diri kita, kata yang terucap jelas atau sekadar tertulis dalam baris kalimat, bahkan prasangka yang hanya tertahan dalam hati, semua akan ada pertanggungjawabannya.

kotakkotak kehidupan memang dibutuhkan, namun pertajamlah setiap sisinya untuk melindungi keyakinanmu pada standar dan prisip hidupmu yang akan mengokohkan keimananmu dan menjadikanmu lebih bijaksana memahami perbedaan, bukan untuk menggores kotakkotak lain, sehingga akan saling meretakkan untuk kemudian hancur berserakan.

entah sampai kapan kita harus menunggu kotakkotak itu menjadi lingkaran yang pastinya tidak utuh satu, namun setidaknya saling beririsan dengan kasih sayang dan rasa kemanusiaan.

3 komentar:

Loki Arawari mengatakan...

Kayaknya Mbak termasuk orang yang resah Indonesia ini akan kemana ya, dengan kondisi sekarang yang begitu banyak masalah, terpecah belah mungkin. Sabar mbak, hehe

Nur'aini Tri Wahyuni mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Nur'aini Tri Wahyuni mengatakan...

Loki! long time no see :D

iya, nih. mana makin banyak berita hoax. harus teliti banget sekarang, yaa.