Senin, 27 Juli 2015

#sepedamerah


satu kata untuk buku ini, indah.

serius. saya benerbener ga nyangka kalau ini novel grafis, saking senengnya nemu di bazaar dan langsung ambil, lagilagi pengaruh review bagus di goodreads. awalnya agak kecewa karena ini novel grafis, saya ngarepnya ini novel biasa yang ada gambarnya di per-bagiannya, tapi ternyata kekecewaan saya terbayar lunas, tuntas. Kim Dong Hwa benarbenar memberikan sentuhan magis di gambargambarnya. aduuuuh, cakeeeeeeeep banget.



saya rasa, Kim Dong Hwa menggunakan figur diri sendiri untuk menjelaskan Tukang Pos bersepeda merah dalam buku ini. kisahnya sederhana, hanya ceritacerita pendek tentang keseharian penduduk Yahwari, di Korea Selatan. sebuah desa yang sangat indah, masih bersih dari polusi, dan banyak petaninya ((saya boleh pindah ke sana, ga?)). dibuka dengan dua halaman pemandangan ala anak sd, yang luar biasa bagusnya plus tukang pos di pojokan dengan sepeda merahnya, bikin saya pengen punya gambar itu ukuran besar sedinding kamar buat ditempel di sana. dimasingmasing babnya ada kisah tersendiri dan hikmah yang bisa diambil, saya mau bagi sebagian, buat yang kepengen baca bukunya jangan diterusin baca reviewnya, karena ini akan sangat spoiler sekali :))

bab pertama di buka dengan perkenalan penduduk desa Yahwari, di mana cerita pertama adalah tukang pos kita yang mengantar suratsurat dengan alamat yang errr seems weird, yes, karena ga pake nama jalan apalagi nomor rumah, tapi dnegan ciriciri, kaya 'rumah dengan semaksemak warna khaki', 'rumah kuning dalam kehijauan', dll dsb, lucu dan bikin gemas, karena semenyulitkan apapun alamatnya tukang posnya enjoy banget sama kerjaannya, bikin seneng ngeliatnya.

kalau di bab dua, ini ada kisah yang saya suka banget, tentang Dandelion. seperti biasa kalau tentang bunga yang satu ini pasti banyak filosofinya, dan gambar yang indah bikin saya benerbener terenyuh, i mean beneran indah loh gambarnya, beneran bikin baper #YHA

terus ada kisah yang judulnya Kantin Nenek, saat si tukang pos ini sedang bekerja ia bertemu dengan neneknenek di perjalanannya yang sedang berlari sembari memegangi dadanya di musim dingin. tukang pos bertanya apakah nenek tsb sedang sakit dan mau ke dokter? ternyata nenek itu menyembunyikan bekal makan cucunya yang tertinggal saat cucunya berangkat sekolah, tukang pos kita yang baik hati menawarkan bantuan agar lebih cepat ia saja yang mengantarkan ke cucu nenek tsb, tapi nenek itu menolak, alasannya bekal tsb akan terjaga kehangatannya jika tetap tersembunyi di balik pakaian tebal di dadanya. lalu, dipenghujung cerita tukang pos berpikir, "jika aku mengantarkan suratsurat dengan mendekapnya di dadaku, apakah mereka juga menyimpan kehangatan seperti bekal nenek itu?".

semua kisah di baba kelima adalah favorite saya, judul bab ini, Pembawa Kabar Gembira ; nama lain si tukang pos. saya suka sekali dnegan kepribadian tukang pos di sini, tipikal tokoh protagonis memang tapi tetap saja berbeda dengan yang lain, lebih tulus, lebih indah. i'm so in love with this book, apalagi pas dia datang ke pemakaman seorang gadis berwajah pucat yang sering ia temui dulunya saat dalam perjalanan mengelilingi desa untuk mengantarkan surat, yaa Tuhaaan so touchy. baca deh buku ini, ga bakalan nyesel. :)

***

"telusurilah jalanjalan pedesaan yang beraneka ragam itu untuk menemui para penduduk Yahwari. anda pasti akan berpapasan dengan sepeda merah si tukang pos yang berkeliling pelan penuh keselarasan dengan alam sekitarnya."

Tidak ada komentar: