Sabtu, 18 Juli 2015

norwegian wood


merenungkan segala sesuatu yang telah hilang dalam perjalanan hidupku hingga kini. waktu yang hilang, orangorang yang telah tiada atau pergi, perasaan yang tak pernah kembali.

ketika apapun yang kulihat, apa pun yang kurasa, dan apa pun yang kupikirkan, akhirnya semua kembali lagi pada diri sendiri seperti bumerang.

tanpa memahaminya, mengapa kau bisa mengatakan mengetahui kesulitanku?

aku bukan orang pintar, untuk memahami sesuatu aku perlu waktu. tetapi kalau cukup waktu aku akan dapat memahami dnegan baik, sehingga dapat mengerti dirimu lebih daripada siapa pun di dunia ini.

yang bisa dituangkan ke dalam wadah yang tidak sempurna yang disebut kalimat itu, hanyalah ingatan dan kenangan yang tidak sempurna.

aku adalah orang biasa yang tidak menonjol, yang suka membaca buku dan mendengarkan musik sendirian.

jangan terlalu serius memikirkan segala sesuatu, harus menjaga jarak dengan segala sesuatu- itu saja.

namun betapa pun coba melupakannya, dalam diriku masih tertinggal sesuatu seperti gelembung udara yang samar. kemudian seiring dengan berlalunya waktu, gelembung itu mulai membentuk dirinya, sederhana tapi jelas. aku bisa mengungkapkan bentuk itu dengan katakata. bentuk itu adalah seperti ini. kematian bukan lawan kehidupan... tetapi ada sebagai bagiannya.

kematian tidaklah berlawanan dnegan kehidupan. kematian sejak lama sudah terkandung dalam keberadaanku ini, dan kenyataan itu tidak dapat dihapuskan dari pikiran kita, betapa keras pun upaya kita.

bagaimana pun kita menilainya, kematian tetaplah suatu kebenaran yang serius.

di dalam kehidupan, semuanya dan segalanya berputar mengitari kematian.

tetapi entah mengapa hatiku tidak pernah merasa tergerak padanya. mungkin di dalam hatiku masih ada cangkang yang keras dan yang bisa membelah dan masuk ke dalamnya sangat terbatas. boleh jadi karena itulah aku tidak bisa mencintai seseorang dengan baik.

aku sennag membaca banyak buku tetapi bukan jenis pembaca yang membaca banyak buku. aku suka membaca berulangulang buku yang kusukai.

berulangkali kubaca bukubuku itu, atau adakalanya hanya dengan memejamkan mata, menghirup aroma, dan menyentuh halaman buku, aku sudah merasa bahagia.

kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang kain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain.

ia hidup sambil menentengnenteng "neraka"-nya sendiri dengan caranya sendiri.

aku tidak tahu harus dibawa kemana, atau disimpan di mana kepedihan itu. kepedihan itu bagaikan angin yang bertiup di sekujur tubuhku, tidak berbentuk dan tidak berberat. aku pun tidak bisa mengenakannya untuk diriku sendiri.

tidak ada orang yang suka kesendirian. hanya saja aku tidak memaksakan diri mendapat teman. kalau memaksakan diri yang didapat hanya kekecewaan. tidak ada orang yang suka kesendirian. cuma tidak mau merasa putus asa saja.

kalau kita berusaha pasti ketemu, tapi kalau tidak kita buar saja sendiri, asal jangan terlalu melenceng.

itu karena kamu terlihat tak punya masalah  meskipun tak disukai orang. karena itu ada juga orangorang yang kesal terhadap sikapmu itu.

kamu mau mati bersamaku? | mana mungkin. kalau sudah betulbetul gawat aku akan lari. kalau kamu ingin mati, matilah sendiri.

semua orang terlihat bahagia. apakah nereka betulbetul bahagia, atau hanya kelihatannya seperti itu, aku tak tahu.

dapat menulis surat kepada seseorang itu sangat menyenangkan, ya. ketika kita ingin menyampaikan perasaan kepada seseorang, kita duduk di depan meja, mengambil pulpen lalu menulis kalimat, benarbenar indah.

harus punya keinginan menolong seseorang. kemudian anda pun harus berpikir bahwa anda sendiri harus ditolong seseorang. kedua, jadilah orang jujue. jangan berbohong, jangan berpurapura, jangan menyamarkan sesuatu yang tidak baik.

mendengar lagu ini kadangkadang menjadi sedih. entah mengapa, tapi rasanya aku seperti kesasar di dalam hutan rimba. sendirian, kedinginan, dan gelap. tak seorang pun datang menolong.

aku orang biasabiasa saja. lahir dari keluarga biasabiasa saja, nilai sekolahku biasabiasa saja, berpikir yang biasabiasa saja. | bukankah orang yang menuliskan, jangan mempercayai orang yang mengatakan bahwa dirinya orang biasabiasa saja adalah Scott Fitzgerald, penulis idamanmu?

katakanlah semuanya dengan jujur. itulah yang terbaik. meskipun mungkin hal itu akan melukai hati masingmasing, atau seperti tadi, membuat emosi seseorang menjadi tegang, kelau kita melihatnya ke depan, itulah cara yang terbaik.

yang paling penting adalah tidak tergesagesa. ini satu lagi nasihatku. jangan tergesagesa. meskipun persoalannya sangat kusut berbelitbelit dan sulit ditangani, kamu tidak boleh putus-asa atau memaksakan diri untuk meluruskannya secara paksa dengan amarah. kamu harus punya tekad untuk menyelesaikannya secara perlahan, uari satu demi satu. secara cermat.

bila bersamanya, rasanya kehidupanku bangkit lagi. bila kami bersamasama rasanya lega, segala hal yang menyebalkan semuanya terlupakan.

wajahku dan wajahnya hanya terpisah sekitar 30 cm, namun rasanya ia seperti berada di tempat yang sangat jauh, bertahuntahun cahaya.

aku paling menyukai pagi. seolaholah semuanya baru dimulai dari awal lagi. jadi ketika siang tiba rasanya sedih. dan sore, paling kubenci. setiap hati aku menjalani kehidupan sambil memikirkan ini.

waktu itu aku sudah tahu bahwa seumur hidupku mungkin akan terus seperti ini, dan aku tak mau melibatkan siapa pun ke dalam kehidupanku. aku tak mau memaksakan kehidupan yang penuh dengan kecemasan, penuh kebimbangan kepada siapa pun.

karena pada prinsipnya mustahil kebenaran dan kebahagiaan yang mereka kejar itu terpenuhi, bukan? jadi, timbulah kondisi chaos yang luarbiasa. kirakira menurut Bapak apa yang terjadi? ini persoalan yang benarbenar mudah, karena pada akhirnya muncullah Tuhan. lalu ia mengatur lalu lintas, kamu pergi ke sana! kamu pergi ke situ! kamu bergabunglah dnegan dia! kamu sementara di sini-di sana, begitu. ia berperan seperti tukang bongkar pasang. lalu segala sesuatu pun terpecahkan sudah. ini yang disebut deus ex machina.

pada dasarnya merupakan manusia yang hanya berminat pada dirinya sendiri. meskipun di situ ada perbedaan dalam hal sombong atau tidak sombongnya. kami hanya berminat pada apa yang kami pikirkan, kami rasakan, dan kami lakukan. karena itulah kami bisa berpikir dengan cara memikirkan diri sendiri dengan orang lain.

kami tidak berpikir untuk dimengerti orang lain. itulah perbedaan kami dengan yang lain. kalau orang lain berusaha keras agar orang di sekitarnya memahami mereka. sementara itu tidak menjadi masalah bagi kami. aku adalah aku. orang lain adalah orang lain.

aku bukan manusia sekuat itu. aku bukan tidak berpikir tak masalah bila tidak dipahami orang lain. aku ingin punya patner yang bisa saling memahami. hanya selain oleh orangorang seperti itu, tidak dipahami pun apa boleh buat. aku pasrah. karena itu aku tak berpikir tak masalah meskipun tak dipahami orang.

orang bisa memahami seseorang karena saatnya sudah tiba untuk itu, bukan karena seseorang iru berharap ingin dipahami orang lain.

jangan mengasihani diri sendiri. mengasihani diri sendiri adalah tindakan orang hina.

kau anggap saja kehidupan ini sebagai kaleng biskuit. di dalam kaeng biskuit itu ada bermacammacam biskuit yang kamu sukai ada pula uang tak mau suka. dan kalau terus memakan yang kamu suka, yang tersisa hanya yang tidak kamu suka. setiap mengalami sesuatu yang menyedihkan aku selalu berpikir seperti itu. kalau yang ini sudah kulewati, nanti akan datang yang menyenangkan, begitu.

kamu selalu mengurung diri di dalam duniamu. setiap aku memangglmu, setiap aku mengetuk pintu, kamu hanya melirikku sebentar, lalu kembali lagi ke dalam duniamu.

di luar jendela hujan tampak turun. hujan khas di bulan Juni, jatuh lurus tanpa angin, dan itu tanpa henti membahasi semua yang ada di permukaan bumi.

kau suka model rambutku? | bagus sekali. | sebagus apa? | bagus sekali, sampaisampai seluruh pepohonan di hutanhutan yang ada di seluruh bumi ini bertumbangan.

dalam kehidupanku sampai saat ini aku sudah banyak terluka dan aku tidak ingin terluka lebih dari ini. aku ingin bahagia.

seberapa besar kamu menyukaiku? | aku menyulaimu sebesar harimauharimau di seluruh dunia yang mencair menjadi mentega.

mencintai seseorang itu adalah sesuatu yang indah, jika rasa cinta itu merupakan cinta yang jujur, maka tak mungkin seseorang akan terlempar ke dalam labirin. percayalah pada diri sendiri.

dibiarkan pun sesgala sesuatunya akan mengalir ke arah yang semestinya mereka mengalir, dan beta pun kita melakukan yang terbaik, seseorang kalau sudah waktunya terluka, akan terluka juga. itulah hidup.

kamu harus lebih berbahagia. berusahalah untuk bahagia.

***


oke, finally review this. ga nyangka bakalan dapet buku ini saat ga beneran nyari, cuma liatliat apa lagi yang mau di beli and dang! i met this one. 

berkisah tentang Toru Watanabe yang menyimpan rasa kepada kekasih sabatanya, Naoko. setelah sahabatnya meninggal ia dan Naoko tidak pernah bertemu sampai suatu hari yang tak sengaja. Naoko memiliki sebuah penyakit, apa yaa istilahnya mungkin sejenis skizo tapi ga parahparah amat. ia suka termenung dan sibuk di dunianya sendiri. menemukan Watanabe mungkin adalah salah satu jalan keluar yang sayangnya tidak dimanfaatkan dengan baik.

ga jauh beda dengan 1q84 yang intinya tulisan kakek Haruki memang yaaah so deep so dark sedikit menyesakkan dengan bahasa #ehem vulgar. tapi, jujur saya merasa nyaman dengan gaya Haruki dibanding penulis Jepang lainnya. sepertinya kakek satu ini menulis dengan "normal". dia membentuk karakter tokoh utama lakilaki yang kuat, kokoh, tapi juga begitu rapuh. oh, dna jangan lupa ada filmnya juga, yang sungguh plek sama dengan novelnya, saya suka sekali. dan tempat yang sering dikunjungi Naoko, memang seindah imajinasi saya. really good job, Murakami!

bonus, the soundtrack


and Toru Watanabe


3 komentar:

Loki Arawari mengatakan...

Kenapaa ya saya gak kepikiran kalo ini review buku. Kirain Kakak mau kemana aja ..
Serius, udah typo nya banyak, isinya gak keruan, panjang lagi. Wah ini apaan =---=
ternyata

Nur'aini Tri Wahyuni mengatakan...

hahahah, Loki, i'm sorry. ga nyangka ada yang betah baca, saya udah prediksi beberapa tulisan belakangan ini membosankan. :)

Loki Arawari mengatakan...

Ya, selama memang bagus tulisannya, why not?
Yang ini asik kok, depressingly beautiful