Senin, 01 Juni 2015

status ((bagian ke empatpuluh enam))


Tidak ada yang kekal di dunia ini. Pohon tinggi besar akan rontok daunnya, meranggas batangnya, layu, lapuk, kemudian roboh.
Gunung2, bertambah tinggi hanya untuk meletus hilang, digantikan gunung2 lain. Lautan bergesar, kering menjadi gurun pasir.
Apalagi hubungan anak manusia. Lebih cepat lagi kalah oleh waktu. Rumah yang ditinggali menua, meja makan yang digunakan kala makan malam bersama menjadi kusam, pun wajah, tangan, dan orang2nya, senja dan lantas tenggelam.
Itulah kenapa penting sekali membina perasaan lewat cara yang baik, tidak melanggar aturan main, tidak bablas. Cinta jenis ini tidak akan dilupakan dan melupakan.

Jika sepotong kisah hidup kita tidak selesai, tutup potongan tersebut, lanjutkan kisah yang lain. Ada banyak cerita baru yang lebih seru telah menunggu.
Jika sepucuk keinginan kita gagal terpenuhi, maka tinggalkan keinginan tersebut, teruskan keinginan yang lain. Ada banyak keinginan yang lebih baik yg tersedia.
Hidup ini sebentar, jangan habiskan berkutat di sepotong kisah saja.

Tidak perlu mencari kejujuran di hati orang lain. Carilah kejujuran yang bermukim di hati kita.
Tidak perlu menemukan kebaikan di hati orang lain. Carilah kebaikan yang menetap di hati kita.
Selalu begitu.

Jika tidak siap menikah, masih peragu, penakut, maka mencintai dalam diam adalah situasi terhormat. Jadi rahasia di pojok hati paling dalam, tidak ada orang yang tahu. Tidak merusak diri, tidak melanggar kaidah agama.
Maka silahkan tunggu keajaiban perasaan tersebut berproses dengan baik.

Tidak perlu terburu-buru. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang spesial, menunggu lama sekalipun itu tetap berharga.
Tidak perlu cemas apalagi takut. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang sejati, kita tidak akan cemas walau sesenti, sejauh apapun pergi, dia akan kembali.

Banyak yang memilih, yakin sekali pilihannya benar, untuk besok lusa, menyadari semuanya keliru.
Jadi, memang tidak perlu berlebihan dalam urusan dunia ini. Dengan biasa-biasa saja, dijamin bebas sakit hati.

Percaya Diri alias PD sejati itu menempel pada apa yang ada di kepala kita. Bukan pada pakaian yang kita kenakan, kendaraan yang kita naiki, apalagi bualan omong-kosong.
Semakin banyak isi kepala kita, pengetahuan, wawasan, pengalaman, maka semakin PD kita. Lengkapi dengan rendah hati dan ketulusan, mulailah dengan Bismillah, maka tiada situasi yang bisa membuat kita gugup.

Ketika kita tidak bisa memiliki, berhasil, lulus, dll, maka jangan memaksa. Boleh jadi ada pilihan lebih baik telah menunggu.

Lidah itu lebih "malang" nasibnya dibanding hati kita. Dia harus merasakan pahit, manis, asam, pedas, asin, bahkan tengik dsbgnya. Dia juga harus merasakan dingin, panas, obat, madu, keras, lembut, semuanya. Non stop setiap hari, tidak pernah protes, tidak pernah berhenti.
Sedangkan hati kita, baru terpanah sepucuk masalah, bisa langsung semaput semalaman, seharian, bahkan seminggu atau berbulan2.
Maka belajarlah dari tangguhnya lidah. Tetap teguh setiap hari.

Jika dua orang ditakdirkan bersama, maka dari sudut bumi manapun mereka berasal, mereka pasti bertemu.
Jadi santai saja, lebih baik fokus sekolah, bekerja. Itu akan membawa kalian mengelilingi bumi ini, dan menjemput jodohnya dari sudut manapun. Bukan malah cekikikan pacaran, belum tamat sekolah sudah terpaksa menikah duluan karena bablas. Game over.
Takdir itu penuh misteri. Punya lapisan skenario. Jadilah, gara-gara tidak sabaran pacaran saat SMA, "jodoh" kalian sebenarnya, yang tampannya pol macam boyband, dari Inggris sana, saleh, kaya raya, berpendidikan, akhirnya tidak ketemu. 

Simpan hati kita untuk yang terbaik. Untuk seseorang yang juga menyimpan hatinya untuk yang terbaik.
Hidup sendirian itu bukan hal menyakitkan.
Yang sangat menyakitkan adalah, kita hidup di tengah keramaian, tapi justeru dilupakan begitu saja oleh seseorang yang sangat berharga bagi kita. Dianggap tidak ada lagi. Dihapus dalam hidupnya. Itu baru nyesek. Dan boleh jadi, semua itu terjadi karena tingkah laku kita sendiri.

Kita diperintahkan oleh agama ini untuk memaafkan. Pemaaf adalah ahklak mulia. Memaafkan siapapun yang menyakiti kita. Memaafkan semua kejadian yang menyakitkan.
Tetapi jelas, memberikan kesempatan kedua, adalah sepenuhnya hak kita. Dan itu tidak ada hubungannya dengan tulus atau tidak tulus memaafkan. Dalam situasi tertentu, itu sederhana soal jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama dua kali.

Kelilingilah.... Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang sibuk mengejar cita-cita, maka kita akan ikut mengejar cita-cita.
Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang sibuk berkata baik, berbuat baik, maka kita akan ikut berkata baik, berbuat baik.
Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang giat belajar, tak henti mencari ilmu, maka kita akan ikut giat belajar, tak henti mencari ilmu.
Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang selalu menyemangati, berkata positif, memotivasi, maka kita akan ikut semangat, berkata positif dan termotivasi.
Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang saling mengerti, menerima apa adanya, maka kita akan ikut saling mengerti, menerima apa adanya.

Menyadari bahwa orang yang kita suka, dukung, ternyata tidak sempurna itu sakitnya di sini. Dan semakin sakit saat orang lain mengingatkan betapa kelirunya ekspektasi kita selama ini.
Juga sama, menyadari bahwa orang yang kita benci mati2an, ternyata punya sisi kebaikan yang disukai orang banyak juga sakitnya di sini. Dan semakin sakit saat orang lain mengingatkan betapa kelirunya penilaian kita selama ini.
Itulah, sejak dulu, berkali2 dinasehati oleh orang tua, jangan pernah cinta buta dalam segala hal; juga jangan benci buta. Selalu berpegang teguh pada prinsip, setialah pada prinsip2 kebaikan, itu tidak akan menipu kita. Orang-orang akan berubah, tapi prinsip kebaikan, akan terus abadi.

Rumus modern ngeles:
1. Saat jadi tersangka:
Ah, kita harus selalu mengedepankan praduga tak bersalah.
2. Saat jadi terdakwa:
Aduh, ini juga masih sidang, belum tentu juga terbukti.
3. Saat sudah divonis:
Belum final, kami masih banding.
4. Saat sudah vonis MA, final:
Kata siapa bersalah? Ini cuma rekayasa politik, dijebak, sengaja dihancurkan oleh lawan, bla-bla-bla-bla.
5. Saat sudah benar-benar tidak ada alasan lagi:
Biasa saja, siapa sih yang tidak pernah berbuat salah? Manusia itu bukan malaikat.
Maka ingatlah, orang tua dulu pernah menasehati: "Memang benar, semua orang pasti berbuat salah, keliru. Tapi tidak semua orang jadi pencuri, koruptor."

Hanya orang2 kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu. Meski sakit hati, menangis, marah2, sebal, sekali pada akhirnya bisa tulus melepaskan, dia sudah berhasil menaklukkan diri sendiri.

Di dunia ini, ada orang-orang yang memilih pergi, ada yang memutuskan tinggal.
Ada orang-orang yang melupakan, ada yang memilih mengingat.
Ada orang-orang yang menyayangi, pun ada yang tidak peduli lagi.
Maka, fokuslah pada yang tinggal, mengingat dan menyayangi. Bukan yang pergi, melupakan dan tidak peduli. Jangan dibalik, agar kita senantiasa bahagia.

Ketahuilah, hanya karena kita bebas menulis apa saja di media sosial ini, maka bukan berarti kita bisa bebas mau ngapain saja.
Atau jangan-jangan, kita telah menjadi genreasi menyakiti? Yang suka sekali berkomentar apapun. Misalnya, ada seseorang melintas di depan kita, orang itu kebetulan pesek dan hitam (saya minta maaf harus memakai contoh ini), kita bergegas langsung menulis status di facebook atau nge-tweet: "Eh, ada orang pesek dan hitam melintas. Jelek banget orangnya." Apa salah orang yang melintas di depan kita, lantas kita maki? Apa dosa orang itu hingga kita harus membahasnya di media sosial kita? Yang kita omongkan memang tidak tahu, tapi itu telah menjadi sebuah "percakapan".
Mungkin kita tidak merasa. Oh, saya tidak begitu di media sosial. Tapi silahkan tengok apa yang pernah kita posting selama ini. Kita terbiasa men-judge, menilai (orang, kejadian, film, buku, makanan, dsbgnya); kita benci tanpa alasan; kita tidak sependapat tanpa kenal; kita pandai sekali memberikan penilaian kepada banyak hal di media sosial ini. Kita seperti lebih mahir, lebih pandai, merasa lebih sempurna. Kita mendadak bisa mengirimkan komentar apapun, semau kita, terserah kita. Untuk kemudian, sebenarnya, apa poinnya? Apa manfaatnya? Apa dosa (orang, kejadian, film, buku, dsbgnya) tersebut kepada kita? Apa sih salah mereka hingga kita bisa tega menilai jelek, tidak mutu?
Tentu saja boleh mengkritisi sesuatu. Tidak ada yang melarang. Tentu saja boleh mengingatkan orang lain, satu-dua dengan cara yang sangat serius. Tapi selalu pikirkan apakah itu memang prinsip sekali? Apakah itu memang melanggar nilai2 pemahaman baik dan kita harus menyatakan sikap. Seperti kejujuran, amanah, mendidik, dsbgnya, itu bisa dipahami; saat memang ada implikasi secara luas, menyangkut kepentingan umum, kita memberikan pendapat, itu bisa dimengerti. Tapi ketika poinnya tidak ada, hanya iseng, nyeletuk bebas, mengomentari hal2 yang remeh dan tidak perlu, hanya agar puas saja sudah mereview/menulis tentang sesuatu, sy khawatir kita justeru sedang mengundang masalah sendiri.
Apa masalahnya? Tidak terlihat langsung memang. Karena begitu banyak seliweran di dunia maya ini, seolah tidak ada yang memperhatikan. Tapi ketahuilah, saat kita "memaki" sesuatu (orang, kejadian, film, buku, makanan, tokoh, dsbgnya tadi), yang sama sekali tidak adil, dan itu ternyata menyakiti orang lain, boleh jadi kita sedang menyusun tinggi kesulitan hidup. Karena di dunia ini, tidak ada yang bebas dari pembalasan. Boleh jadi karena "omongan" kita sendiri di media sosial, hidup kita jadi susah. Susah dapat pekerjaan, susah dapat sekolah, susah dapat jodoh, susah ini, susah itu, simply karena kita tidak bisa menjaga omongan.
Semoga masih ada yang mau memikirkannya.

Kunci perbaikan pendidikan di Indonesia itu adalah: guru. Perbaiki kualitas gurunya, maka dengan cepat sekali kualitas pendidikan kita akan membaik.
Terpujilah wahai engkau Ibu-Bapak guru yang amanah, yang sungguh mencintai profesinya, yang dicintai murid2nya, yang mendidik murid2nya agar senantiasa jujur.

Hal yang sudah jelas dan pasti saja kadang berakhir menyakitkan. Apalagi yang tidak jelas dan tidak pasti. Tinggalkanlah. Bergegas. Ada banyak hal lebih penting yang harus segera diurus. Jangan habiskan waktu sia-sia.

Pemilik nilai UN tertinggi seluruh Indonesia 2015 bilang: untuk persiapan UN, dia tidur cepat, kemudian bangun jam 23.00 hingga jam 3 subuh untuk belajar, lantas shalat malam.
Maka itulah kenapa dia bisa dapat nilai bagus. Belum lagi ikut belajar tambahan siang hari. Sekarang, anaknya sudah diterima lewat jalur khusus di Fakultas Kedokteran.
Jika nilai UN kita jelek, apalagi sampai nyontek biar bisa lulus, untuk kemudian menyalahkan sistem, mari kita bandingkan, apakah kita setangguh itu belajarnya? Jangan-jangan, mata kita juga melotot dari jam 20.00 hingga tengah malam, tapi yang dipelototi HP, bukan buku.
Adik-adik sekalian, terutama yang masih remaja, teladan terbaik itu ada di sekitar kita, bahkan seusia dengan kalian. Maka, jangan contoh yang terlalu banyak alasan, ngeles, dsbgnya.

Menunggu adalah pekerjaan untuk orang yang memiliki keyakinan.
Bahkan ketika yang ditunggu berkali2 tidak muncul, bahkan ketika situasi berganti menyebalkan, bahkan ketika orang lain sudah mengambil jalan lain, dia tetap yakin.

Saya kira ada benarnya juga, menikah itu tidak perlu pekerjaan tetap, penghasilan, mapan, dan sejenisnya. Yang diperlukan hanya cinta.
Nah, kalian punya cinta, kan? Kalau memang punya, maka ijinkan saya bertanya, lantas kenapa kalian belum punya pekerjaan tetap, penghasilan, mapan agar segera bisa menikah? Kenapa tidak sekolah yang baik, segera lulus, nilai bagus, dapat pekerjaan? Kan katanya punya cinta, harusnya itu cukup sebagai energi untuk kongkret mulai berubah.
Bukan malah pacaran melulu.

Tidak perlu terburu-buru. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang spesial, menunggu lama sekalipun itu tetap berharga.
Tidak perlu cemas apalagi takut. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang sejati, kita tidak akan cemas walau sesenti, sejauh apapun pergi, dia akan kembali.

*Sistem Yang Mengunci
Kita tidak bisa berharap lagi perubahan akan dimulai dari pelaku UN, juga guru, sekolah. Terlalu banyak sekolah, terlalu banyak peserta ujian, itu tidak mudah mengawasinya.
Maka, ciptakanlah sistem yang mengunci kokoh, sehingga terjadinya nyontek nyaris nihil. Yaitu dengan teknologi--yang sejatinya kita sudah familiar. Murid yang ikut ujian duduk di depan komputer, yang menyimpan puluhan ribu variasi soal, yang muncul secara acak. Tidak murah investasi awalnya, tapi sekali sistem ini terbentuk, kita bisa memaksa siapapun untuk jujur.
Ribet? Repot? Tidak juga. Lima tahun lalu, orang-orang masih menganggap smart-phone itu ribet. Hari ini, anak SD pun bisa mengoperasikannya, dan populasi smart-phone akan lebih banyak dibanding populasi orang di dunia ini. Hanya soal waktu, populasi tablet seperti Ipad, juga ada di mana-mana. Mahal? Tidak juga. Biaya kejujuran UN setara dengan investasi apapun. Toh biaya beli UPS yang heboh kemarin, plus anggaran siluman lainnya, bisa untuk membeli satu juta komputer.
Maka, sekali sistem ini diimplementasikan ke seluruh Indonesia, seorang anak akan menghadapi layar komputer (besok lusa bisa diganti layar sentuh di atas meja), mengerjakan 50 soal Matematika, yang muncul secara acak, pilihan A, B, C, D-nya pun muncul berbeda-beda, mereka diberikan kertas dan puplen buat berhitung, persis di menit ke-90 (misalnya), saat dia mengklik jawaban terakhir di layar, bahkan nilainya bisa langsung terlihat. Tidak pakai tunggu pengumuman.
Yang mau bawa HT di baju, tanam implant di telinga, bikin contekan di paha, kertas di saku, monggo. Silahkan hadapi variasi ribuan soal yang akan muncul secara random dengan limit waktu terbatas. Tidak akan sempat nyonteknya, Kawan. Baru sibuk mulai nyontek, waktunya terus bergerak, soal berikutnya sudah menunggu.
Satu-satunya cara terbaik menghadapi ujian seperti ini adalah: belajar.
*Tere Liye
**saya mendukung penuh implementasi UN berbasis komputer. jika 5 tahun ke depan, pemerintah berhasil menerapkan 50% saja di seluruh Indonesia, itu sudah keberhasilan yang mengagumkan.

Koruptor itu tidak dilahirkan dalam semalam.
Koruptor itu dibentuk, digembleng, diproses sejak kecil.
Salah-satunya adalah, saat sekolah dulu mereka adalah tukang nyontek, tukang ngasih contekan. Lantas sibuk membenarkan kalau itu boleh2 saja, demi kebaikan, biar lulus, tolong menolong. Rasionalisasi atas perbuatan keji ini terus berlanjut hingga mereka masuk kerja, meniti karir. Koruptor dibentuk oleh proses.
Silahkan bantah postingan ini, untuk mengumumkan bahwa semakin dibantah, semakin mengaku saja.

Di jaman modern ini, definisi sahabat yang baik itu bisa diibaratkan seperti "copy" dan "paste".
Saling melengkapi, saling membutuhkan.

Aib itu berbeda dengan kejahatan.
Korupsi/mencuri misalnya, itu bukan aib bagi pelakunya. Tapi adalah kejahatan yang harus dituntaskan dunia akherat, diadili seterang2nya. Nah, perbuatan itu baru masuk kategori aib bagi anak-anak, cucu-cucu pelakunya (sepanjang memang tidak tahu menahu kejahatan orang tuanya).
Ingatlah nasehat orang tua dulu: semua orang punya aib, tapi tidak semua orang melakukan kejahatan.
Apakah menyontek saat ujian adalah aib? Atau kejahatan? Kalian bisa menjawabnya sendiri.

Apapun yang kita lakukan, orang-orang akan tetap menilai semau mereka--padahal kita tidak berbuat salah atau merugikan mereka. Ada yang bilang oke, ada yang bilang jelek, ada yang tidak peduli.
Maka, biarkan saja orang-orang sibuk berkomentar. Kita memilih fokus terus berusaha.

Cukuplah Allah yang tahu doa-doa terbaik kita. Tidak perlu orang sejagad tahu.
Cukuplah Allah yang tahu amalan2 terbaik milik kita. Tidak perlu seluruh dunia tahu.
Pun cukuplah Allah yang tahu keluh kesah, gundah gulana, masalah hidup kita. Tidak perlu semua orang tahu, dan kita umumkan lewat dunia maya.

Sebagai penulis novel2 cinta, saya memahami: kita tidak selalu bicara tentang ending, apakah dia akan bahagia atau sedih. Tapi kita selalu bicara tentang cerita itu sendiri.
Tentang perasaan misalnya. Yang paling penting adalah ceritanya itu sendiri. Bukan semata-mata apakah dia akan happy ending, atau sad ending. Memiliki atau melepaskan. Toh, pada akhirnya, kita tidak pernah tahu misteri akhir cerita. Hal ini juga berlaku dalam dunia nyata.
Maka, fokuslah pada ceritanya. Kalau sedang sedih, tidak mengapa sedih. Kalau tidak kuat, tidak mengapa, toh kita manusia. Pastikan kita tidak menghabiskan waktu sia-sia, melanggar nilai-nilai, hingga tidak merusak diri sendiri. Endingnya, biarkan jadi kejutan mengagumkan.

Ada banyak orang-orang yang telah dibantu bertahun-tahun, bukannya berterima-kasih, mereka malah memaki, bilang mereka tidak dibantu siapapun selama ini.
Ada banyak orang-orang yang justru sumber masalahnya adalah mereka, bukannya memiliki keinsyafan, mereka malah menyalahkan orang lain, merasa benar sendiri.
Pun ada banyak orang-orang yang jadi beban, benalu, tidak pernah kongkret, bukannya menyadari hal tersebut, justru asyik balas menceramahi orang lain.
Tapi tidak mengapa. Itulah yang akan menguji level ketulusan dan kebaikan. Jangan biarkan kita diseret pada level mereka dengan balas bereaksi negatif.

*Sajak "Yang Dilupakan Anak Muda"
Waktu,
Adalah ujian seberapa lama cinta bisa menunggu.Jarak
Adalah ujian seberapa jauh cinta bisa melewati perjalanan.Perbedaan
Adalah ujian seberapa pandai cinta bisa saling memahami.Kesempatan,
Adalah ujian seberapa teguh cinta bisa memutuskan.Masalah,
Adalah ujian seberapa tangguh cinta bisa bertahan.Dan terakhir, Melepaskan,
Adalah ujian seberapa rindu cinta bisa kembali. Karena jika dia adalah cinta sejati, sungguh dia akan kembali dan kembali lagi ke tempat terbaiknya.

Definisi surplus-defisit baru:
Surplus adalah: kita punya sesuatu yang melebihi tampilan fisik kita. Pintar, cekatan, mandiri, kreatif, baik hati, dan sebagainya.
Defisit itu adalah: hanya tampilan fisik kita saja yang keren, bergaya, berdandan, sisanya kosong.

Ketika kita bisa mengingat sesuatu dengan detail, tapi tidak terasa menyakitkan lagi; maka itu berarti hati kita telah sembuh.
Sebaliknya, ketika kita tidak bisa lagi mengingat sesuatu dengan detail; tapi entah kenapa tetap terasa sesak menyakitkan; maka itu berarti kita belum berhasil melepaskan dengan tulus.

Ada sesuatu yang jika memang sudah selesai, maka sudah demikianlah, tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menerimanya dengan lapang.
Kita tidak bisa lagi menyiram bunga yang sudah mati. Buat apa? Tidak akan tumbuh, tidak akan berbunga. Lebih baik, bersiap menanam bunga berikutnya.

Orang-orang mudah sekali melupakan kebaikan yang kita berikan. Tapi kalau sudah bicara kebaikan yang dia berikan, maka dia akan ingat sampai mati.
Sebaliknya, orang-orang mudah sekali mengingat kesalahan yang kita perbuat. Tapi kalau sudah bicara kesalahan yang dia lakukan, sedetik berlalu bahkan telah lupa.
Tapi tidak mengapa. Tetaplah berbuat baik dengan mereka. Kemuliaan hidup itu tidak akan tertukar. Pun ketenteraman, rasa damai, itu juga tidak akan tertukar.

Bagi wanita, hal paling penting yg kokoh, kuat, bukan fisiknya, tapi hatinya. Tentu saja akan lebih baik jika fisiknya juga kuat.
Bagi laki-laki, hal yang paling penting tangguh, tegar, juga bukan fisiknya, tapi rasa sabarnya. Pun tentu saja akan lebih baik jika fisiknya juga tangguh.

Kalian tahu kalimat2 dari siapa yang paling sering diabaikan oleh banyak orang? Kalimat2 yang sering tidak didengarkan. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan.
Jawabannya: kalimat dari orang tua sendiri.
Bersyukurlah jika kita bergegas hendak membantah tidak begitu. Tapi lebih bersyukur lagi jika kita bersedia memikirkan postingan ini.

**Karena hidup tidak pernah soal diri kita sendiri.
Negeri kita ini dipenuhi oleh orang2 yang mengabdikan hidupnya bagi orang lain.
Di pelosok-pelosok, ada banyak sekolah2, pesantren2 yang didirikan oleh orang yang peduli dengan pendidikan. Tanpa bantuan siapapun, apalagi bantuan pemerintah, dengan kekuatan seadanya, mereka merintis jalan agar anak2 di sekitar mereka memperoleh pendidikan. Mengorbankan waktu, uang, tenaga, maka jangan tanya, berapa gaji yang mereka peroleh. Jangan tanya remunerasi yang mereka dapatkan. Inilah orang-orang senyap, yang terus bekerja tanpa bicara. Kongkret memperbaiki sekitarnya.
Di penjuru-penjuru, ada banyak yang mendirikan taman bacaan, mengumpulkan satu-persatu buku, bertahun-tahun, hanya untuk "diberikan" ke orang lain, agar semua orang bisa membaca. Lihatlah, satu taman bacaan, cukup untuk menerangi satu pedesaan. Berbondong-bondong anak kecil memenuhi taman bacaan, meminjam buku, keceriaan terpancar di wajah mereka. Besok lusa, bayangkan jika satu saja diantara anak itu menjadi seseorang yang membanggakan karena bacaan, maka amal jariyah yang mengalir, tak terkira jumlahnya.
Negeri kita ini dipenuhi oleh orang2 yang memilih jalan kebajikan.
Dokter-dokter pergi ke pedalaman. Sarjana-sarjana menetap di perkampungan. Apakah mereka tidak memiliki janji kehidupan lebih baik di kota yang gemerlap? Tentu saja punya. Bahkan mereka bisa saja kalau mau pergi ke luar negeri, menjadi warga negara dunia. Tapi mereka memilih jalan yang berbeda. Kenapa mereka melakukannya?
Saya teringat sebuah nasehat lama: kebahagiaan punya banyak sekali mata air. Salah-satu mata air paling jernih adalah berbagi. Semakin banyak kebaikan yang dibagikan, maka semakin bahagia hidup seseorang. Boleh jadi, itulah alasannya kenapa mereka melakukannya, dengan penuh kesadaran, apapun resikonya. Hidup sederhana tapi dengan mimpi luar biasa.
Maka saya berdoa, semoga semakin bertambah dan bertambah orang-orang yang peduli. Termasuk yang tidak mampu menyisihkan waktu dan tenaga, mungkin bisa menyisihkan uang. Mengirimkan bantuan ke tempat-tempat yang membutuhkan. Kita semua dipanggil untuk mengabdikan hidup bagi sekitar. Karena hidup tidak pernah soal diri kita sendiri.

Jangan sampai kita tergelincir oleh gelar-gelar pendidikan yang susah payah kita dapatkan, juga gelar-gelar yang disematkan orang lain kepada kita. Sekali rasa bangga, pamer, sombong menyelinap hadir saat gelar itu disebutkan, jatuh sudah pasal ujub dan riya.
Apalah artinya gelar-gelar itu. Hanya gelar saja. Justeru sebaliknya, malah merusak kebaikan yang ada di dalamnya.

Semua orang memiliki masalah dalam hidup ini. Memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Kita tidak mau dinilai orang lain atas perjalanan yang kita lakukan, karena mereka tidak menjalani kehidupan kita. Pun sama, orang lain juga tidak mau dinilai kehidupannya.
Cukup pastikan kita senantiasa jujur, tidak mencuri, mematuhi nilai-nilai agama, norma-norma, maka baik-buruk kehidupan kita, baik-buruk kehidupan orang lain, biarlah Tuhan yang menilainya. Karena hanya Tuhan yang berhak melakukannya.

Ada tiga hal tercepat jika ingin selalu lapang hati:
1. Ringan mendahulukan orang lain, bahkan dalam urusan naik angkot, atau memberikan kursi di kereta yang sesak
2. Senantiasa merasa beruntung, bahkan dalam situasi buruk, tetap bersyukur bahwa situasi tidak lebih buruk lagi
3. Selalu memaafkan orang lain, bahkan sebelum orang lain itu meminta maaf.
*nasehat orang tua

Jodoh itu rahasia Tuhan.
Yang namanya rahasia, kita mampu merobohkan gunung sekalipun, mengeringkan lautan, kalau tidak berjodoh, tidak akan pernah terjadi. Sebaliknya, mau benci setinggi bulan, mau menghindar ke ujung dunia, kalau memang berjodoh, tetap akan terjadi, ada saja jalannya.
Banyak sekali yg paham dan setuju saat membaca kalimat ini. Sayangnya, lebih banyak yg cuma setuju di dunia maya, di dunia nyata tetap saja galau, memaksakan cerita, tidak sabaran, bahkan pacaran, menghabiskan waktu sia-sia. Kenapa nggak ditunggu saja sih? Sambil terus belajar banyak hal, memperbaiki diri sendiri.
Jodoh kalian sudah menunggu dengan manisnya. Tinggal seberapa tangguh keyakinan kalian.

Orang sungguh baik itu bukan karena berharap balas, apalagi penuh perhitungan, tapi semata karena dia berharap janji Tuhannya.
Orang sungguh sabar itu bukan karena terpaksa, tidak ada pilihan, tapi semata karena dia memutuskan percaya pada Tuhannya.
Orang sungguh berani itu bukan karena sedang ramai, banyak yg membela, tapi semata karena dia bergantung pada Tuhannya.

"Cinta pertama itu tidak spesial; karena yang paling spesial adalah cinta terakhir dan itu selama-lamanya. Tetapi jika kalian beruntung, akan lebih spesial lagi jika cinta pertama itu sekaligus menjadi cinta terakhir dan selama-lamanya.
Situasi ini hanya terjadi jika kita menjaga perasaan kita dengan baik, bukan setiap saat bisa jatuh hati ke siapapun, cepat sekali GR, lantas dinyatakan dengan mudah sekali, untuk berganti cinta lagi juga dengan mudah."

sumber : Darwis Tere Liye Facebook

Tidak ada komentar: