Sabtu, 02 Mei 2015

status ((bagian ke empatpuluh lima))


Kemalasan hanya akan melahirkan kemalasan berikutnya.
Keraskepala juga hanya akan melahirkan keraskepala berikutnya.
Mengeluh pun hanya akan melahirkan keluhan berikutnya.
Banyak bicara hanya disusul banyak bicara lainnya.
Hanya disitu-situ saja tempatnya. Jika tidak dipangkas habis, segera!

Peppres tentang uang muka mobil pejabat yang ratusan milyar itu akhirnya akan dievaluasi. Pak Presiden sudah bilang, dia tidak sempat cek semua dokumen yang harus dia tanda-tangan, salah-satunya Peppres yang sangat tidak adil ini. Pak Presiden bilang, Peppres itu tidak tepat. Lah iya, toh, jutaan rakyat harus berhemat ditengah harga2 naik, eh, enak banget malah ngasih uang muka mobil ke pejabat yang gajinya sudah berpuluh kali upah minimum.
Baiklah, Pak Presiden, saya paham, situ memang pasti tidak sempat cek--bukan ngeles setelah dibombardir banyak pihak. Saya saja, yang pengarang amatiran, pas pameran, tanda-tangan banyak buku, kadang tidak sempat cek lagi, itu buku saya atau bukan, malah kadang ada buku yasinan, LKS, dsbgnya.
Semoga lain kali hati-hati, kan repot, salah tanda-tangan, membuat ratusan milyar uang rakyat jadi salah sasaran. Dan berterima-kasihlah kepada yang berisik, kan jadinya bisa diluruskan. Percayalah, tidak semua yang berisik itu benci, kadang, yang berisik itulah justeru yang sangat sayang, sementara yang selalu bilang "iyes", malah banyak kepentingannya.

Jangan pernah melupakan orang-orang yang membantu saat kita sedang dalam kesulitan besar. Teman-teman sejati.
Juga jangan pernah melupakan orang-orang yang justeru pergi menjauh, apalagi bersedia membantu, sama sekali tidak mau, saat kita dalam kesulitan besar. Teman-teman palsu.
Dan tentu saja, jangan pernah melupakan orang-orang yang membuat kita dalam kesulitan besar tersebut. Dimaafkan iya, dilupakan jangan pernah.
*nasehat lama ini mungkin bermanfaat.

Kenapa sebuah benda itu awet?
1. Karena kita rawat dengan baik
2. Jika rusak, segera diperbaiki
Sama dengan hubungan manusia. Jika dirawat dengan baik, kalau rusak segera diperbaiki, maka akan awet.
Carilah seseorang dengan pemahaman seperti itu; bukan sebaliknya, rusak sedikit, ketinggalan jaman, langsung buang, ganti yang baru.

Kemalasan hanya akan melahirkan kemalasan berikutnya.
Keraskepala juga hanya akan melahirkan keraskepala berikutnya.
Mengeluh pun hanya akan melahirkan keluhan berikutnya.
Banyak bicara hanya disusul banyak bicara lainnya.
Hanya disitu-situ saja tempatnya. Jika tidak dipangkas habis, segera!

*Terima kasih
Hampir semua keluarga mengajarkan frase "terima kasih" kepada anak2 mereka di usia yang amat dini. Dan bisa dipastikan, hampir anak2 di seluruh dunia, menguasai frase ini jauh lebih awal dibanding kalimat menyuruh, memerintah, dan sebagainya. Akan tetapi, catatan ini tidak akan membahas tentang substansi frase 'terima kasih' tersebut, apalagi soal kalau besok lusa, ternyata orang2 lebih suka menggunakan frase menyuruh, memerintah dan sebagainya, lupa frase terima kasih, saya tidak akan membahasnya, catatan ini simpel tentang frase 'terima kasih' secara bahasa.
Kalian tahu, bagi masyarakat tertentu, saat kita bilang frase 'terima kasih', maka mereka akan menjawabnya dengan "maaf". Saya pernah mengalaminya. Saya bilang terima kasih, mereka dengan wajah tersenyum, mengangguk khidmat bilang "maaf." Aduh, ini menarik sekali. Kenapa dibalas dengan kata 'maaf'? (dialog ini tidak dalam bahasa Indonesia, tapi sy tulis dalam bahasa Indonesia agar lebih simpel). Untunglah ada yang menjelaskan kalau frase 'terima kasih' mutlak milik Tuhan. Manusia hanyalah kepanjangan tangan saja, atau jalan bagi sesuatu kebaikan, sedangkan sumbernya mutlak adalah Tuhan. Jadi kalau mereka menerima frase 'terima kasih', maka jawaban mereka yang sopan dan pantas adalah: 'maaf'. Karena semuanya sungguh hanya Tuhan lah yang pantas membalas. Ini jenis penjelasan yang sangat masuk akal, dan saya mengangguk paham. Benar juga.
Sebaliknya, bagi negara-negara pengguna bahasa Inggris, kalimat 'thank you' sering bisa dijawab 'no problem'. Nah, sama dengan saat kita bilang 'terima kasih', lantas dijawab 'tidak masalah' dalam bahasa Indonesia. Tentu saja, 'no problem' di sini posisinya lebih informal dibanding jika dijawab 'you're weclome' atau 'my pleasure'. No problem boleh jadi karena memang itu sudah tugasnya, jadi ya memang no problem. Sedangkan jawaban 'my pleasure', akan lebih sering digunakan dalam percakapan yang lebih formal. No problem digunakan agar lebih akrab, lebih santai. Namanya juga 'no problem'.
Bagi kebudayaan kita, yang kalau kita mau makan, membawa piring makanan, lantas lazim sekali menawarkan, "Makan, yuk." ke orang sebelah, dan itu jelas bukan berarti memang mengajak makan--hanya basa-basi, frase 'terima kasih' memiliki begitu banyak variasi makna dan penggunaan. Ada terima kasih sambil lalu, ada terima kasih ya terima kasih, ada juga terima kasih dengan salam tempel (bisa ditempeli amplop, ditempeli no rekening); bahkan ada terima kasih bersifat sebaliknya, sinis dan sarkas--yang jelas-jelas tidak sedang terima kasih. Tapi apapun itu, tetaplah frasenya 'terima kasih', dan lazimnya kita menjawab 'sama-sama'. Sama apanya? Sama terima kasihnya. Eh, kalau begitu siapa yang berterimakasih? Pokoknya sama-sama. Menarik, bukan?
Karena saya sudah janji di awal catatan, bahwa tulisan pendek ini tidak akan substantif, hanya bermain-main dengan frase 'terima kasih', maka tentu tidak perlu dibahas lebih detail soal frase lain seperti: 'tidak tahu terima kasih'; yang rasa-rasanya, jadi membuat frase 'terima kasih' awalnya begitu indah, begitu menentramkan membaca/mendengarnya, tiba-tiba terbelokkan maknanya menjadi amat berbeda. Seperti awalnya melihat bidadari, tiba2 berubah menjadi kuntilanak di film2 horor itu. Apalagi kalau ditambahi kata 'dasar', 'dasar tidak tahu terima kasih'. Aduh, jadi rumit sekali.
Baiklah, sebagai penutup, saya ingin bilang, kalau frase terima kasih ini sungguh berkembang begitu luar biasa mengikuti kebiasaan jaman. Jadi jika ada yang menjawabnya dengan 'no problem', 'my pleasure', 'maaf', 'sama-sama', 'terima kasih kembali', 'you're welcome', dan sebagainya, maka saya pernah menyaksikan ada yang menjawabnya dengan cara lain, cari paling up to date. yaitu dengan bentukan kata lain yang lebih akrab, informal dan tentu saja jadi menggemaskan. Bagaimana caranya? Yaitu, saat seseorang bilang: 'terima kasih', maka ternyata temannya justeru menjawab, 'ciyus. miapah?'
Lengkap sudah. Maksudnya sama dengan: 'sama-sama'.

Mengendalikan harapan sama persis seperti kita mengendalikan stang motor atau setir pada mobil. Semakin jago kita mengendalikannya, maka semakin lancar hidup kita.
Orang-orang yang pandai mengendalikan harapan miliknya, maka dia dekat dengan kebahagiaan.


Koh, situ boleh saja bilang bir itu tidak bikin mati orang yang minumnya. Juga silakan saja situ mau bilang bisnis bir menguntungkan. Pun mau berargumen soal jika bir dilarang, maka orang2 akan oplos, menyelundup, dll.
Tapi kami, di sini juga berhak mati-matian melindungi anak-anak kami dari minuman bir. Kami akan menggunakan aturan main untuk melakukannya, hukum yang berlaku. Dan Permendag tentang pengawasan minuman beralkohol jelas adalah produk hukum yang telah mengunci semua diskusi. No way, minuman beralkohol dilarang dijual di mini market per 16 April 2015, dari Sabang hingga Merauke. Telah diatur dengan sangat ketat.
Siapapun yang menghormati hukum di negeri ini, maka laksanakan Permendag itu dengan taat. Kami tidak sedang sok suci, sok alim, apalagi sok punya moralitas. Ini akal sehat saja. Bahwa telah ada produk hukumnya yang mengatur, maka yang masih waras, patuhilah.

Pra-peradilan mantan Menteri Agama, SDA, ditolak mentah2 oleh hakim Tatik Hadiyanti. Hakim memutuskan, penetapan tersangka bukanlah wewenang praperadilan.
Lantas kenapa, hakim yang memutus BG dulu bisa menerima? Di PN Jaksel--yang sama tempatnya, ketika hakim2 lain bilang tidak. Apa hakim yang dulu memang spesial sekali sehingga bisa beda sendiri? Atau kasus hukumnya yang spesial sekali, sehingga bahkan BG masih saja diwacanakan akan dijadikan wakapolri.
Ya Allah, jika negeri ini masih punya pemimpin yang berani menegakkan kebenaran dan keadilan, mudah sekali melihat semua masalah, dan mengambil keputusan. Maka, wahai yang maha perkasa, berikanlah keberanian kepada mereka. Bukan malah melindungi kepentingan kelompok sendiri.

Hidup ini bagai roda, kadang kita di atas, semua terasa mudah, kadang kita di bawah, semua terasa sulit, dipergilirkan, satu sama lain sungguh dipergilirkan.
Itulah kenapa kita tidak harus sombong, menyakiti saudara sendiri, merendahkan teman saat posisi kita di atas, karena besok lusa, boleh jadi kitalah dalam posisi susah, sulit, dan harus meminta pertolongan kepada orang yang pernah kita sakiti.
Maka, berbahagialah orang2 yang memahami hal ini, dan mampu menjaga dirinya dari perbuatan tersebut. Dan sungguh, lebih berbahagia lagi orang2 yang sudah pernah disakiti, direndahkan, tapi tetap memilih untuk membalas orang yang menyakitinya dengan penuh kebaikan, tak kurang walau semili ketulusan dalam hatinya.

Ada sebuah legenda yang pantas didengar kembali. Alkisah, ada seorang raksasa patah hati. Sebuah tragedi melukai hatinya. Raksasa ini berlari ke tengah lautan yang dalamnya hanya sebatas pinggangnya--saking besarnya raksasa itu. Dia menangis tersedu di sana, memukul-mukul nestapa permukaan laut. Meraung. Menggerung.
Berhari-hari kesedihan itu menguar pekat. Raksasa yang sedih membuat ombak lautan menjadi tinggi. Awan hitam bergulung. Petir dan guntur menyalak diantara raung kesedihan raksasa. Badai melanda pesisir pantai. Kekacauan terjadi dimana-mana. Sungguh malang nasib raksasa itu, kesedihannya mengungkung sekitar. Penduduk tahu betapa menderitanya raksasa. Tapi mereka tidak bisa berbuat apapun.
Setelah sembilan belas hari raksasa itu masih menangis di tengah lautan, peri laut memutuskan melakukan sesuatu, tempat tinggal mereka di laut dalam juga terganggu. Peri menemui raksasa tersebut. Menawarkan sebuah solusi yang tidak pernah terpikirkan. Bagaimana cara menghilangkan kesedihan sang raksasa.
"Aku tahu betapa sesaknya rasa sakit itu. Setiap hela nafas. Setiap detik. Laksana ada beban yang menindih hati kita. Tangisan membuatnya semakin perih. Ingatan itu terus kembali, kembali dan kembali. Kau tidak berdaya mengusirnya, bukan?"
Raksasa tersedu--itu sebuah jawaban.
"Aku bisa membuat seluruh kesedihan itu pergi selama-lamanya. Apakah kau ingin menghapusnya?" Peri menawarkan obat terbaik.
Raksasa sudah tidak tahan lagi. Dia ingin melenyapkan seluruh ingatan, seluruh kesedihan. Maka, tanpa berpikir panjang dia mengangguk.
Malam itu, saat purnama tertutup awan. Peri mengambil seluruh kesedihan milik raksasa dengan cara mengubah raksasa itu menjadi batu. Saking besarnya badan raksasa, maka batu itu menjadi sebuah pulau. Badai reda, awan hitam pergi. Seluruh kesedihan telah hilang.
Lantas, apakah itu cara terbaiknya? Apakah kita bisa memilih menjadi batu saja agar bisa melupakan? Atau menerima seluruh kesedihan sebagai sebuah kebenaran yang tidak perlu dibantah. Menerimanya sebagai kebenaran yang dipeluk erat. Entahlah, karena kita tidak dalam posisi si raksasa tadi. Jika kita berada dalam situasinya, mungkin kita akan berlari menemui peri lautan.
*Tere Liye, Novel "HUJAN", akhir 2015
**Tentang melupakan. Melupakan hujan....

Tenang saja, ketika sesuatu yang kita anggap baik berakhir, ketika kita kehilangan seseorang yang kita nilai spesial, ketika sebuah kesempatan emas hilang maka, tenang saja, akan datang sesuatu pengganti yang lebih baik, seseorang yang lebih istimewa, pun kesempatan emas lainnya.
Pastikan saja syaratnya dipenuhi: bersabar.
Bagi orang2 bersabar, selalu datang hal-hal baik sebagai pengganti hal-hal sebelumnya.

*Sajak kenapa kita
Kenapa kita harus saling menasehati? Jawabannya bukan karena kita sudah bijak pol, sudah keren maksimal menjalani hidup ini jadi pantas memberi nasehat.
Tapi karena justeru kita sering mengalami masalah, dan kita tahu persis betapa tidak enaknya ketika orang2 pergi, tidak peduli, tidak ada yang membesarkan semangat dengan satu dua potong kalimat baik penuh hikmah.
Kenapa kita harus menolong orang lain? Bukan karena kita ini sudah jadi superman, sudah jago menolong siapapun. Melainkan, karena justeru kita pernah mengalami kesusahan, kesulitan hidup, dan kita tahu persis betapa tidak enaknya ketika tiada yang bersedia menolong.
Dan terakhir, kenapa kita harus senantiasa memberi?
Jawabannya juga bukan karena kita ini sudah kaya raya, punya segalanya, bukan karena itu. Melainkan, karena kita pernah tidak punya apa-apa, dan kita tahu rasanya tidak memiliki apapun.
Inilah sajak kenapa kita. Sungguh beruntung orang2 yang paham.

Jodoh kita itu tidak bisa ditemukan lewat fungsi "find" atau "search" di laptop/HP atau internet. Ketikkan "jodohku", lantas tunggu beberapa detik, maka muncullah nama dan wajahnya.
Tapi dia bisa ditemukan dengan teknologi yang lebih canggih dari itu. Lewat fungsi "keyakinan" dan "terus memperbaiki diri". Yakin bahwa laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, dan sebaliknya wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Maka "dengan terus memperbaiki diri", akan ditemukanlah jodoh tersebut.
Tentu, karena ini teknologi canggih, membutuhkan aritmatika dan logika pencarian yang super, lengkapi dengan program "harap bersabar, terus berdoa diberikan yang terbaik."

Dewan kota New York telah menaikkan batas minimum usia membeli rokok dari 18 tahun menjadi 21 tahun.
Di kota paling bebas, di negeri paling bebas, bahkan mereka mengatur hal ini. Karena mereka paham betapa seriusnya kebiasaan merokok ini. Di sana, kita tidak bisa membeli rokok, dikendalikan penuh. Belajarlah dari cara mereka menyelamatkan anak2 dan remajanya dari merokok.

Kita bisa jadi apa saja di dunia ini: seorang guru, seorang dokter, insinyur, apoteker, akuntan, buruh, karyawan, PNS, pembantu, helper, penjaga loket. Kita bisa jadi apa saja di dunia. Dan semuanya sama pentingnya, sama mulianya.
Sepanjang kita berkomitmen penuh untuk menjadi orang yang:
(1) berahklak baik dan
(2) bermanfaat.
Tanpa dua hal ini, bahkan saat jadi penguasa nomor satu sekalipun, tetap tidak ada gunanya. Sia-sia saja. Tapi dengan dua hal tersebut, jadi tukang sampah pun tetap spesial dan memang selalu spesial.

*Orang sungguh
Orang sungguh baik itu bukan karena berharap balas, apalagi penuh perhitungan, tapi semata karena dia berharap janji Tuhannya.
Orang sungguh sabar itu bukan karena terpaksa, tidak ada pilihan, tapi semata karena dia memutuskan percaya pada Tuhannya.
Orang sungguh berani itu bukan karena sedang ramai, banyak yg membela, tapi semata karena dia bergantung pada Tuhannya.

Selamat kepada KPK yang berhasil menangkap tangan anggota DPR atas kasus suap. Ini anggota DPR sebenarnya mau ikut kongres partainya, atau mau ngobyek sih?
Bahkan ketika kalian dizalimi oleh pihak-pihak tertentu, kalian tetap menegakkan pemberantasan korupsi. Bayangkan jika pemimpin negeri ini sendiri yang memimpin kalian. Berdiri tegak di depan, memberikan 10.000 penyidik tambahan, menghabisi siapapun yang menghalangi (apalagi cuma jenderal bintang 3, gampang banget itu ngatasinnya), terang sekali masa depan negeri ini.
Bravo KPK!

Duluuu ya, adik2 sekalian, duluuuu tahun 1990-an, berkerudung itu mahal harganya. Didiskriminasi dalam banyak kesempatan, dicurigai, bahkan bisa2 diciduk oleh intel, ditanya soal gerakan ekstremis. Tanyakan saja ke kakak-kakak kalian, ibu2 kalian yang berani berkerudung di tahun2 tsb atau lebih awal lagi. Ada yang menangis dipaksa lepas kerudung demi foto ijasah sekolah.
Duluuu, adik2 sekalian, duluuu sekali, membujuk keluarga, adik, kakak agar berkerudung itu susah payah. Dibujuk pelan2, diberikan nasehat pelan2. Bahkan perlu modal malah, biar mengganti seluruh pakaian mereka yang sudah ada. Terpaksa menggunakan uang tabungan. Duluuu, 20 tahun lalu, hanya hitungan jari yang berkerudung.
Hari ini, kalian semua rata2 sudah berkerudung. Kesadaran ini sudah tumbuh menakjubkan. Maka lengkapilah dengan kerudung hati yang lebih indah. Saya berdoa, semoga semakin berkurang menemukan di mall, di alun2, cewek2 berkerudung asyik pacaran, boncengan, mojok, cekikikan, dan kelakuan lainnya. Ingatkan teman2 kita, nasehati. Tidak akan mudah, yang ini jelas akan lebih susah payah, tapi harus dikunyah sepahit apapun.

Sebagai muslim kita nggak bisa bilang: 'Tidak masalah tidak shalat, yang penting baik hatinya." Ini keliru.
Dan lebih fatal lagi saat bilang: "Daripada shalat rajin, tapi kelakuan bejat." Ini juga pendapat yang lebih fatal lagi.
Tidak ada pilihan antara shalat dengan yang lain. Karena tetap saja pilihannya mutlak: shalat. Hal ini beda dengan memilih seseorang baik hatinya tapi miskin; atau buruk kelakuannya tapi kaya. Itu bisa dilakukan memilih. Silahkan. Tapi shalat, mau bumi hancur lebur, langit digulung, tetap tidak bisa dipilih. Harus shalat.
Jika mencari jodoh, itu salah-satu kriteria paling penting. Coret jika tidak. Dan kalau dia berjanji mau berubah, shalat, suruh buktikan dulu memang shalat dengan baik dan konsisten dalam jangka waktu tertentu, baru lanjutkan rencana menikahnya.

Sebenarnya siapa sih yang peduli saat kita sibuk menyebut nama2 pacar di jejaring sosial? Juga siapa yang peduli dengan kita bolak-balik update status relationship buat cari2 perhatian atau sekadar pengumuman?
Sttt, jawabannya: Nggak ada

Biasakanlah menulis pendapat kita dalam sebuah tulisan yang panjang dan komprehensif. Melalui proses pemikiran, di edit berkali2, diperbaiki, dipastikan sumbernya, diperbaiki lagi, maka jadilah dia sebuah tulisan yang baik.
Karena membuat tulisan seperti ini akan membuat kita belajar banyak, dan paham bahwa: satu tulisan yg dibuat dengan baik lebih berharga dibanding 1.000 status/tweet/komen yang asal keluar.

Kalaupun nilai2 di sekolah kita tidak cemerlang, IP-nya biasa2 saja, malah nyaris DO, bukan berarti kita tidak bisa sukses saat kerja kelak.
Kerja keras, ketekunan jauh lebih penting. Nah, apakah kalian memiliki kerja keras, ketekunan tersebut?
Jika jawabannya punya, sungguh punya, maka saya hendak bertanya: "Kok bisa IP, nilai2 kalian jelek padahal mengaku punya kerja keras, ketekunan?" Tidak masuk akal.

Siapa sih yang tidak pernah disakiti dalam hidup ini. Tapi itu bukan berarti kita harus membalasnya.
Kalau memang harus membalas, maka tidak ada pembalasan lebih baik selain menjadi orang yang lebih baik dibandingkan orang2 yang menyakiti kita tersebut.

Ketika kita merasa ada orang yang sedang menghindari kita, maka boleh jadi cara mengatasinya adalah menunggu sejenak hingga suasana lebih nyaman. Bukan justeru langsung melakukan konfrontasi dan konfirmasi besar-besaran.
Tenang saja, salah paham akan terselesaikan dengan baik; kekeliruan bisa diperbaiki; kekecewaan bisa diobati. Sepanjang mau bersabar sejenak dan selalu tulus.

Lebih baik memiliki musuh yang kejam daripada memiliki teman bermuka dua.

Jangan kebangetan nggak suka dengan seseorang, boleh jadi besok lusa, kita malah butuh bantuannya. Atau dalam kasus yang lebih menakjubkan, jika itu lawan jenis, kita bisa jatuh cinta, dan justeru menikah dengannya.

Senyum adalah jembatan yang menghubungkan antara dua mata.
Kalimat yang santun dan baik adalah jembatan yang menghubungkan antara dua telinga.
Perbuatan yang mulia adalah jembatan yang menghubungkan antara dua hati.
Maka, jangan ragu2 membangun jembatan setiap hari. Bukan sekadar agar kita selalu terhubung dalam kebaikan, tapi yang lebih penting, agar kita tidak terisolasi dari kebahagiaan.
Tentu bukan hanya desa atau kampung saja yang bisa terpencil, manusia juga bisa disebut 'manusia terpencil'. Yang sayangnya bukan karena posisi geografisnya, tapi karena dia tidak mau membangun jembatan2 penghubung tersebut.

Anggota DPR tertangkap tangan menerima suap. Temannya bilang: memalukan.
Eh, saya jadi mau nanya, memangnya DPR itu masih punya rasa malu soal korupsi ini?
Karena eh karena, saya tidak pernah mendengar ada anggota DPR yang ngotot membuat UU yang berisi: hukuman mati bagi koruptor. Kalaupun ada, cuma basa-basi, lip service doang. Coba dibuktikan dong, pada kompak bikin UU itu. Korupsi = tembak mati.

Adik-adikku,
Jangan biarkan 'perasaan' kalian berserakan, berceceran di facebook, twitter, dsbgnya. Orang yang ingin kita cari2 perhatian toh tidak akan memperhatikannya.
Sadarilah, dalam banyak kasus itu terlihat berlebihan sekali. Dan ibarat air tumpah, itu justeru berbahaya, bikin terpeleset, mengganggu. Ada banyak cara lain menyalurkan perasaan selain posting status galau setiap jam, misalnya lewat bikin puisi, cerita, menulis di diary, menulis di blog, dijadikan ide tulisan terbaik, malah akhirnya bisa menerbitkan buku.

Cari jodoh itu sama seperti cari investasi dunia akherat.
Maka, jangan cari yang cuma fisik luarnya bagus saja. Karena setelah berpuluh tahun, casing-nya malah keriput, tidak laku lagi. Tapi carilah yang dalamnya cemerlang. Pekerja keras, bertanggung-jawab, setia, saleh pula--meski casingnya rata-rata. Yang ini, semakin lama, semakin mahal harganya.


Kenapa sih kita harus marah, tidak terima atas postingan di facebook, twitter, dll? Kenapa sih kita tiba-tiba harus membela diri?
Bukankah dunia maya ini hanya dinding; mayoritas kenal juga tidak, kenapa kita malah tersinggung merasa sedang disindir? Merasa harus menjelaskan?
Jangan habiskan waktu melakukannya. Karena kalau kita rusuh, itu malah menunjukkan jika postingan itu benar apa adanya.

Menikah itu bukan ukuran 'sukses', apalagi syarat masuk surga.
Oleh karena itu, tidak ada lomba cepat2an menikah, dan juga tidak ada istilah telat menikah. Daripada sibuk ditanya kapan menikah, lebih baik didoakan saja. Memberikan doa, adalah 'cara paling murah-meriah' tanda kita peduli.

Orang yang paling menguasai makna cinta adalah: yg tidak memiliki kepentingan, tidak ada pretensi, tidak cemas, tidak khawatir, simpel dan lurus hanya cinta saja.
Dan kita semua sebenarnya pernah menguasainya.
Ketika masih balita. Bahkan setelah dimarahin sekalipun, balita tetap bisa tersenyum. Bahkan habis menangis tantrum sekalipun, balita tetap segera tersenyum. Tidak ada sakit hati, benci, apalagi dendam.

Tidak ada gunanya bersikap sok bijak, sok dewasa di dunia nyata maupun dunia maya. Selalu tampil apa adanya. Tanpa topeng. Orang tidak suka, maka itu masalah mereka. Hidup ini sudah rumit tanpa harus bermanis2 ria.
*Tere Liye
**nasehat itu jadi rusak, ketika orang2 sibuk berkomentar tanpa baca baik2 kalimatnya. postingan ini jelas sekali: sok bijak, sok dewasa, dan memakai topeng. kalau kalian memang sudah bijak, dewasa, dan apa adanya, ya bagus. keren. nah, buat yang malah tersinggung, ngeles, mikir kemana2, itu sih malah menunjukkan sesuatu.

Bagi orang2 yang memendam rindu, mencintai dalam diam, maka apa-apa yang ditunjukkannya hanyalah bagai gunung es di dalam samudera, hanya memperlihatkan pucuk kecil dari betapa besar perasaan itu di bagian dalamnya. Besarrr sekali yang tersembunyi.
Tapi bagi para tukang gombal, yang berceceran perasaannya di mana-mana, maka apa-apa yang diperlihatkannya itu justeru adalah semuanya, itupun dikali dua dengan lebay dan kepalsuan. Tidak ada lagi yang tersisa di bagian dalamnya. Sudah diobral habis.

Jangan suka bilang hidup kita hampa. Kosong.
Coba dongakkan wajah ke atas, tatap langit. Sejak jaman dinosaurus hingga jaman android hari ini, itu langit sudah hampa. Benar-benar hampa. Kosong.
Tapi langit punya penghiburan, punya kegiatan yang indah, sesekali melintas awan, hujan, sesekali dihiasi pelangi, sesekali di penuhi titik bintang dan bulan. Maka indah sudahlah kehampaannya.

*Saya Tidak Paham Lagi
Anggota DPR dari PDIP, bernama Adriansyah, tertangkap tangan oleh KPK saat hendak disuap di Bali, ketika PDIP sedang melakukan kongres ria. Atas kasus ini, teman-teman separtainya nampaknya marah besar. Ada yang bilang: memalukan.

Tapi yang lebih keren gila adalah, sekjen terpilih PDIP untuk periode 2015-2020, Hasto Kristiyanto bilang: Adriansyah akan dipecat. Sekjen dengan gagahnya bilang: "Ibu Mega berulang kali menegaskan jika korupsi adalah kejahatan kemanusiaan dan PDI Perjuangan dengan tegas ikut dalam memberantas korupsi."

Hebat banget kan?

Tapi ijinkan saya bertanya. Lantas kenapa dalam susunan kepengurusan PDIP periode 2015-2020 yang baru saja keluar, ada nama Idham Samawi? Yang adalah tersangka kasus korupsi dana hibah KONI ke Persiba Bantul sebesar Rp12,5 miliar.

Ini membingungkan sekali, katanya Ibu Mega mendukung tegas pemberantasan korupsi, tapi kenapa, tersangka masuk dalam kepengurusan yang jelas sekali dia pilih sendiri. Selain Idham, nama Rohmi Danuri, Olly Dondokambey dan Bambang Dwi Hartono juga sempat dikaitkan dalam beberapa kasus. Namun Megawati tetap memasukkan nama mereka dalam struktur kepengurusan DPP.
Saya tidak paham lagi. Jangan-jangan elit politik itu memang punya cara berpikir ajaib. Jangan-jangan, mereka pikir partai itu milik mereka; terserah2 mereka, selalu punya argumen atas keputusan mereka. Dan rakyat, gobloknya--maafkan saya memaki diri sendiri, malah membuat mereka menang dan berkuasa.
Maka, dalam kasus ketika Adriansyah ditangkap KPK, maafkan saya, saya tidak paham dengan kata "memalukan" yang dikeluarkan teman-temannya. Karena jika melihat inkonsistensi ini, jangan2 maksudnya bukan itu, melainkan sebaliknya: memalukan, kenapa ente sampai ketahuan?

*Menggadaikan Idealisme
6 bulan berkuasa, sudah 10 jabatan komisaris dibagi-bagikan ke partai:
1. Komisaris Telkomsel, diberikan kepada Diaz Hendropriyono (Ketua Umum Koalisi Anak Muda dan Relawan Jokowi, anak Hendropriyono)
2. Komisaris Bank Mandiri, dibagikan kepada Cahya Dewi Rembulan Sinaga (mantan caleg PDI-P)
3. Komisaris BNI, diserahkan kepada Pataniari Siahaan (mantan caleg PDI-P)
4. Komisaris BRI, dihadiahkan kepada Sonny Keraf (mantan anggota DPR F PDI-P)
5. Komisaris Utama Jasa Marga, dibagikan kepada Refly Harun (tim sukses Jokowi)
6. Komisaris BTN, diberikan kepada Sukardi Rinakit (pengamat politik, menolak jabatan ini).
7-8. Komisaris Krakatau Steel, Roy E Maningkas (kader PDI-P dan anggota Barisan Relawan Jokowi Presiden) dan Hilmar Farid (Ketua Panitia Simposium Seknas Jokowi)
9-10. Komisaris Perusahaan Gas Negara, Iman Sugema (Tim Ekonomi Jokowi) dan Paiman Rahardjo (Sekretaris Jenderal Rumah Koalisi Indonesia Hebat)

Boleh saja membagi-bagikan jabatan ke orang partai sendiri. Sah. Di seluruh dunia itu lumrah. Yang menjadi tidak lumrah adalah, ada batas kewajaran, masuk akalnya. Apakah 10 orang ini wajar? Silakan kalian simpulkan sendiri. Kalau menurut saya, setidaknya ada tiga hal yang sangat mengganggu.

Satu, kriteria. Pertanyaan naifnya adalah, misalnya, bagaimana mungkin pakar hukum ditunjuk sebagai Komut Jasa Marga? Baiklah, alasannya karena katanya Jasa Marga punya banyak masalah hukum; hanya itu? Entahlah. Toh, tidak jelas sekali kriteria apa yang digunakan oleh Kementerian BUMN saat membagi2kan posisi ini. Apa syarat2nya menjadi komisaris? Tanpa transparansi soal ini, maka jangan-jangan, komisaris BNI ditunjuk simpel karena dia punya keahlian perbankan setelah nabung di BNI selama 15 tahun; dan komisaris Telkomsel ditunjuk, karena dia punya keahlian telekomunikasi mutakhir setelah memakai simcard telkomsel selama lima tahun.

Dua, kapasitas. Apakah di perusahaan itu memang tidak ada yang lebih pantas ditunjuk jadi komisaris? Apakah kapasitasnya nyambung? Ayolah, pasti ada yang lebih kompeten. Bukan sekadar disambung-sambungkan, dikarang2 alasannya. Teladan mundurnya Sukardi Rinakit bisa menjadi acuan. Dia menolak jadi Komisaris BTN, karena merasa tidak punya kapasitas di perbankan. Itu tahu diri, dan sangat bijak. Tapi hari ini, di negeri ini, orang bijak sudah jadi barang langka. Yang ada, bahkan ketika dia sudah sadar tidak punya kapasitasnya, dia tetap mau, dengan argumen: tugas negara.

Tiga, isu internal. Penunjukan orang partai, orang2 antah-berantah masuk ke dalam perusahaan BUMN, maka karyawan di perusahaan itu, mulai dari staf, manajer, hingga direksi, sebenarnya merasa ilfil. Mereka bertahun2 harus melewati karir, bekerja keras, ini kenapa ada orang yang hanya karena kedekatan politik tiba2 masuk, dan ngatur2 pula? Siapa situ yang sok mengatur dan sok paham sekali bisnis kami? Hanya karena mereka tidak bersuara saja maka tidak terlihat, tapi secara internal, masalah ini pasti ada. Jangankan di BUMN, di perusahaan swasta saja lumrah.

Ini catatan yang menarik sekali: 6 bulan berkuasa, sudah 10 posisi di BUMN dibagi2kan, maka bayangkanlah, lima tahun ke depan akan berapa banyak lagi jabatan yang dibagikan begitu saja. Ini sudah berlebihan. Karena ingatlah, BUMN itu milik rakyat, bukan milik partai. Dan ketika ada orang2 yang nyinyir, itu bukan karena iri hati. Bukan, dek. Tapi untuk kebaikan bersama. Dalam kasus komisaris ini misalnya, maka apa susahnya Kementerian BUMN memilih dari mantan direksi lama, pakar2 yang relevan, profesional yang sudah berkecimpung lama di bidangnya. Ini common sense sekali, sesuatu yang kalau dipikirkan tanpa kepentingan, pasti mudah memahaminya.

Tapi saya sudah tidak berharap banyak lagi dengan mereka. Sudah terlanjur. Sudah susah dibilangin. Tidak mengapa, karena inilah alasan kenapa saya tetap menulis catatan ini: kalian, ratusan ribu anggota page ini. Adik-adik sekalian, ingatlah, jika hari ini kita benci sekali dengan hal2 seperti ini, maka besok lusa, saat giliran kalian yang berkuasa di negeri ini, ingatlah... Ingatlah. Kita pernah punya idealisme.

Itulah kenapa saya menyuruh anak2 muda menulis. Banyak menulis tentang sekitarnya. Lantas simpan tulisan kalian. 20-30 tahun lagi, baca ulang tulisan masa lalu kita dulu. Itu akan membantu kita untuk refleksi, bahwa kita, akan selalu menggigit idealisme tersebut. Tidak akan kita gadaikan, demi jabatan setinggi apapun.

*Dindingmu dindingmu, dindingku dindingku
Kita harus belajar bagaimana menggunakan media sosial ini. Dewasa. Maka, baiklah, akan saya bantu mendudukkan persoalannya segamblang mungkin.
1. Akun media sosial itu sama dengan rumah di dunia nyata.
Ketika seseorang membuat akun facebook atau twitter, maka itulah rumah dia di dunia maya. Adalah hak dia mau posting apapun, karena itu rumah dia. Bebas. Tapi kalau dia posting hal jorok, porno, penuh kebencian, bagaimana dong? Maka simply jauhi rumah tersebut. Tapi kalau dia posting menghujat, memfitnah, melanggar hukum, nah, kalau memang melanggar hukum maka laporkan ke penegak hukum.
Kita tidak bisa merangsek, tiba-tiba marah-marah di halaman yang bersangkutan. Di dunia nyata, saat rumah sebelah kita jadi tempat judi, prosedur normalnya adalah, laporkan ke ketua RT/RW, lantas polisi akan datang. Fatal kalau kita sendiri yang sok gagah merangsek ke rumah itu. Juga sama, di facebook, twitter, ada fungsi untuk melaporkan hal seperti ini.
2. Fokuslah pada dinding masing-masing.
Saat kita tidak terima ada banyak profil alay di jagad raya dunia maya, hendak menasehati, maka fokuslah pada profil kita. Jangan malah komentar di group atau page alay tersebut, ceramah di sana, salah alamat. Kalau mau ceramah, pastikan hanya di rumah kita. Boleh? Ya bolehlah, ada yang mau alay, boleh; ada yang tidak mau alay, juga jelas boleh. Tapi fokus di rumah masing-masing, pasti tidak akan bertengkar.
Kenapa terjadi pertengkaran di dunia maya ini? Karena masing-masing pihak menyeberang, lupa rumah sendiri. Ingat jaman pilpres? Pemilih no. 1 silahkan fokus di rumah masing-masing, pemilih no. 2 juga silahkan urus rumahnya. Dijamin tidak akan berantem. Yang membuat berantem, aduh, kita menghabiskan waktu ikutan komentar di rumah orang lain. Buat apa? Jelas-jelas sudah beda pendapat, apapun komentar kita, tidak akan masuk diakal.
Saya tidak suka klub Barcelona--misalnya, maka bodoh sekali jika saya bergabung ke group Barcelona, kemudian marah-marah saat group itu membicarakan tentang Real Madrid--klub favorit saya. Dan sebaliknya, adalah naif sekali jika fans Barcelona bergabung ke page Real Madrid.
Yang mau alay, bebas. Silahkan. Tapi naif sekali jika alay tersinggung saat membaca postingan orang lain yang tidak suka. Yang tidak suka alay, juga bebas. Silahkan. Tapi lucu sekali jika dia ceramah, menulis komen di page milik kumpulan alay.
3. Sopan santun
Nah, dengan memahami dua poin di atas, tibalah memahami penjelasan lebih lanjut. Bahwa sopan santun itu penting. Setiap kali kita berkunjung ke dinding facebook orang lain, selalu ingat: kita sedang bertamu. Sekali lagi: kita sedang bertamu. Jika tuan rumah posting foto narsis, itu hak dia. Tuan rumah posting alay, itu hak dia. Sama berhaknya saat kita di rumah masing-masing memposting apapun. Jika kita keberatan atas isi rumahnya, lantas komen menyinggung, maka kitalah yang bermasalah. Pun sebaliknya, jika mereka yang keberatan dengan isi rumah kita, komen tersinggung, maka mereka yang bermasalah. Di dunia nyata, selalu ada adab bertamu, juga sama di dunia maya.
Jika kita membaca postingan yang sepertinya menyindir kita, jangan tanggapi. Jangan habiskan waktu menulis komentar. Buat apa? Satu, belum tentu postingan itu buat kita, dua, belum tentu postingan itu maksudnya demikian. Dengan menanggapi, malah membuat orang lain jadi tahu, dan kita mengaku sendiri bahwa postingan itu benar.
4. Ambil yang bermanfaat, buang yang tidak
Saat kita bergabung dengan page/group/kelompok apapun itu istilahnya, saat kita menerima permintaan teman, dsbgnya maka itu adalah tindakan sukarela yang kita lakukan. Tidak dipaksa bukan? Aturan mainnya sederhana sekali: selama kita masih merasa ada manfaatnya, ikuti, follow. Sekali kita sudah merasa tidak bermanfaat lagi, sudah buruk, tinggalkan, unfollow. Beres. Tidak perlu dipuji2 jika kita merasa bermanfaat, pun saat kita sudah tidak suka, tidak perlu pula dihina2. Netral saja. Karena aneh sekali, banyak loh di dunia maya ini, orang2 yang bahkan follow pun tidak, kenal pun tidak, dia bisa menjelek2an seseorang. Sungguh merugi jika kita yang melakukannya. Menumpuk penyakit hati.
Terakhir, ingatlah selalu, dalam agama-pun ada kaidah: agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku.
Pun sama di dunia maya ini, dindingmu adalah dindingmu, dindingku adalah dindingku.

*Berbuat sesuatu
Akan saya kisahkan sebuah cerita. Anggap saja fiksi, biar kalian tidak terbebani pikiran macam2. Sederhana saja kisah ini, menjurus klasik, bahkan belum usai cerita, kita bisa menebak ujungnya.
Jadi, pada suatu hari, ada sebuah acara yang digelar di aula besar sebuah kota kecil. Dihadiri banyak orang, dihadiri oleh orang2 penting. Acara ini khusus tentang memotivasi dan menginspirasi anak2 muda agar berbuat baik. Maka biar afdol, dihadirkanlan tiga orang bintang tamu yang paling brilian dari kota tersebut. Orang2 yang dilahirkan di kota tersebut, dan sekarang sudah jadi orang sukses.
Yang pertama, beliau ini sudah jadi dokter di ibukota. Lulusan kampus terkenal, jadi dokter di rumah sakit terkenal, dan pasiennya banyak, menulis di kolom2 koran, majalah, menerbitkan buku, sering muncul di televisi. Semua orang tahu dokter ini--termasuk yang tinggal di kota lain, mendengar kisah hidupnya, perjalanan panjang menempuh karirnya, membuat seluruh peserta acara terpesona. Dokter ini bilang kota kecil mereka inilah sumber inspirasi dia menjadi dokter, masa kanak2, masa sekolah di kota tersebut. Bertepuk-tangan riuh seisi aula. Benar2 memotivasi dan menginspirasi.
Giliran pembicara kedua, beliau ini seorang pengusaha. Jatuh bangun jadi pengusaha. Kadang rugi, ditipu, bangkrut. Tapi lebih sering dan tidak pernah berhenti untuk bangkit. Perusahaannya banyak, ada di mana2, termasuk di kota mereka. Memberikan jalan rezeki, pekerjaan bagi orang2. Pengusaha usia empat puluhan ini terkenal dermawan dan baik hati. Mendengar kisah hidupnya membuat aula hening, lantas kemudian ramai oleh tepuk-tangan. Pengusaha ini bilang, kota ini juga adalah sumber motivasi terbaiknya, masa kanak2, masa sekolah di kota tersebut.
Giliran pembicara ketiga, beliau ini pejabat publik. Di koran2, banyak berita yang memuat tentang dirinya. Dan terbalik dengan berita2 pejabat lain yang lebih banyak negatifnya, beliau ini lebih banyak berita positifnya. Contoh politikus yang berbudi dan peduli. Dia juga jatuh bangun jadi pejabat publik. Pernah difitnah, pernah dituduh, intrik politik dsbgnya. Tapi dia selalu ingat nasehat masa kanak2nya, agar jangan berhenti berbuat baik, maka dia memutuskan menjadi politikus yang tangguh, tetap jujur. Karirnya sudah melesat cepat, hanya soal waktu dia terus menanjak naik ke atas. Aula itu juga ramai oleh tepuk-tangan.
Tiga pembicara sudah bercerita, dan semua cerita mereka amat memotivasi dan menginspirasi peserta acara yang rata2 masih anak muda. Sepertinya sesi tanya jawab akan segera dimulai, beberapa sudah mengacung tidak sabaran hendak bertanya, tapi entah kenapa moderator bilang, masih ada satu lagi pembicara penting yang harus didengarkan. Aula terdiam, menatap panggung, dari pintu belakang, muncul seseorang yang sudah sepuh, usianya tujuh puluh. Laki-laki, rambutnya beruban, datang dengan pakaian amat sederhana, mengenakan selop, memegang tongkat. Bapak tua ini mau bicara tentang apa?
Moderator dengan sopan meminta Bapak sepuh ini bercerita apa profesinya selama ini. Aula masih hening. Bapak itu mengangguk, dia mulai bercerita. Tapi ceritanya tentu saja tidak 'sehebat' tiga pembicara sebelumnya. Dia pensiunan guru SD, sudah sepuluh tahun pensiun. Menjadi guru sejak usia dua puluh, lulus SPG (setara SMA). Jadi honorer berpuluh tahun, lantas diangkat jadi PNS di ujung2 pengabdiannya. Dia menjadi guru yang baik, berusaha mengajar tepat waktu, berusaha peduli atas murid2nya. Sekarang di usianya yang 70-an, dia tinggal berdua dengan istrinya--yang sama sepuhnya. Anak2nya sudah besar, merantau ke kota lain. Menghabiskan masa pensiun dengan damai dan tenteram.
Aula masih diam, lantas apa poinnya? Di mana letak motivasi dan inspirasinya bapak sepuh ini? Peserta saling toleh.
Pertanyaan itu tidak butuh waktu lama untuk dijawab. Ketika si dokter bangkit, mencium tangan bapak2 itu, juga si pengusaha ikut mencium tangannya, dan terakhir di si pejabat publik menangis, mencium tangannya, maka penjelasan segera terbuka. Bapak sepuh inilah guru SD mereka dulu, masa kanak2 yang penting, yang menanamkan budi luhur, kerja keras, dan semangat belajar yang tinggi. Si pejabat publik berkata pelan, "Setiap kali saya ingin berhenti menjadi politikus, saya selalu ingat nasehat guru saya dulu, dia bilang, kita tidak berhenti berbuat baik hanya karena satu dua masalah." Bapak sepuh itulah yang bilang kalimat2 yang terus dikenang murid2nya.
My dear anggota page, anggap saja kisah ini fiksi--meski sebenarnya, di luar sana, berserakan contoh nyata hal ini (yang bahkan lebih mengharukan). Ambil pelajaran terbaiknya, kita tidak perlu jadi presiden untuk bermanfaat, memotivasi dan menginspirasi orang2 di sekitar. Kita tidak perlu menjadi orang2 yang bergelimang harta, pengetahuan, untuk bisa membantu, memberikan jalan kebaikan bagi orang2 di sekitar. Bahkan seorang guru SD, yang akhirnya pensiun dalam kesederhanaan, dia tetap bisa menjadi potongan mozaik indah dalam kehidupan. Pun kalaupun dunia ini tidak mencatatnya, pun kalapun kita tidak perlu menjelaskannya, dia tetap spesial, istimewa. Karena sungguh, kemuliaan hidup tidak akan tertukar satu senti pun.
Jadilah apapun, bermanfaat dan berahklak baik. Kitalah yang menjalani hidup masing2.

Jangan coba2 jatuh cinta kalau kalian tidak mampu 'melepaskan' dan 'melupakan'. Tidak ada yang menjamin cinta kita akan diterima, abadi, dsbgnya. Pasti akan kalah oleh waktu--bahkan kalah karena ditolak begitu saja.

Betapa dekatnya kosa-kata "cemburu" dengan "cemberut". Jangan-jangan, dua kata ini saling berhubungan, entah yang mana lebih dulu lahir.

Jangan habiskan waktu membenci orang lain.
Karena kita capek "mikirin" dia, menghabiskan waktu siang-malam membencinya, boleh jd (dan memang seringnya begitu), yang kita benci malah sibuk mengurus hal lain. Itu sungguh situasi yang "tidak adil", alias berat sebelah. Dan kitalah yang dalam posisi paling rugi.

Ada 4 praperadilan yang diproses PN Jaksel. 3 yang terakhir baru diputus minggu2 ini.
1. Calon kapolri BG, hakim Sarpin: dikabulkan
2. Mantan Menag SDA, hakim Tatik Hadiyati: ditolak mentah2
3. Mantan anggota DPR, SB, hakim Asiadi Sembiring: ditolak mentah2
4. Mantan pejabat DKI, UP, hakim Hendryani Effendi: ditolak mentah2

Sulit memahami logika bagaimana dulu praperadilan BG bisa dikabulkan. Dan lihatlah, akibatnya, 2 pimpinan KPK jadi tersangka kasus remeh; dan kita dibuat lupa dengan kasus pentingnya: rekening gendut para jenderal, puluhan milyar isinya?

Kalau kita masih sibuk mengikuti, sibuk ingin tahu, maka meski kita maki-maki orangnya, kita anggap jelek semuanya, sepanjang terus kita bicarakan, maka itu bukan benci, dek. Kita justeru adalah fans berat.
Generasi dunia maya hari ini, kadang lupa banget esensi nasehat lama ini. 
Jika kita ingin mendapat cinta dengan cepat, wajah dan tampilan fisik mungkin akan berguna.
Tapi jika kita ingin mendapat cinta yang awet, tahan lama, maka rasa nyaman dan selera humor menjadi kuncinya.

*"Kalaupun Tidak"
Kalaupun dia tidak tahu kita menyukainya.
Kalaupun dia tidak tahu kita merindukannya.
Kalaupun dia tidak tahu kita menghabiskan waktu memikirkannya.
Maka itu tetap cinta. Tidak berkurang se-senti perasaan tersebut.

Bersabar dan diam lebih baik. Jika memang jodoh akan terbuka sendiri jalan terbaiknya. Jika tidak, akan diganti dengan orang yang lebih baik.

Sifat sabar, mau dilihat dari sisi manapun, akan selalu beruntung. Tapi kalau keduluan orang lain? Tapi masa' mau saja dizalimi? Masa' diam saja? Tapi, tapi. Maka jawabannya: sifat sabar, mau dilihat dari sisi manapun, akan selalu beruntung. Dijamin dalam kitab suci.
Jika kita tidak beruntung, merasa keduluan, merasa sakit hati, maka sabar kita itu bohong, dusta saja. Sabar KW-2, tapi sudah merasa sangat sabar. Terlalu banyak tapi, tapinya tadi.

Seseorang tidak dinilai dari warna kulitnya, tidak dinilai dari rambutnya, bola matanya, tidak dinilai dari bentuk fisiknya, tidak dinilai dari apa yang dia kenakan.
Seseorang dinilai dari jiwa yang ada di dalam tubuh tersebut.
Tubuh akan sakit, lemah, keriput, tapi jiwanya bisa terus sehat dan tangguh. Tubuh akan mati, hancur terurai dalam tanah. Tapi jiwa-nya akan terus ada.

Jangan rusak hari kita yang indah dengan mendengarkan atau membaca kalimat orang2 yang memang suka bicara sembarangan. Lebih baik mendengarkan/membaca hal2 yang lebih bermanfaat.

Semua orang memiliki kapasitas muatan. Tidak bisa dipaksakan mengangkut di luar kapasitasnya. Pun termasuk kapasitas dalam memikirkan sesuatu.
Jadi tinggalkan beban tidak berguna yang cuma menuh2in tempat. Mending kelak bakal bermanfaat, ini cuma bikin sebal setiap memikirkan beban tersebut.

Orang-orang boleh jadi cepat sekali lupa kebaikan yang kita berikan. Juga cepat sekali lupa bantuan yang kita julurkan. Seperti air menguap. Lupa seketika.
Sebaliknya, orang2 boleh jadi gampang sekali mengingat kesalahan yang kita perbuat. Mudah sekali mengungkitnya. Selalu ingat.
Tapi justeru dengan tahu hal tersebut, itu bukan berarti kita punya alasan untuk berhenti berbuat baik. Juga bukan alasan untuk malu pernah membuat kesalahan.

Di sekitar kita itu berserakan orang-orang yang tidak ada capeknya hanya sibuk mencari kekurangan orang lain. Selalu sibuk mencari kesalahan orang lain, setiap hari, sementara dia sebenarnya juga tidak oke-oke amat.
Maka, jangan terlalu ditanggapi. Fokus saja pada diri sendiri. Dan pastikan, bukan kita orang dengan sifat tersebut.

Cinta bukan pembenaran diri sendiri untuk berbuat bego, merusak diri sendiri. Meski memang, orang2 yang tidak mampu mengendalikan perasaannya cenderung begitu.

Dalam hidup ini, manusia itu selalu condong kepada sesuatu. Yang akan menentukan kualitas hidupnya.
Jika dia condong pada kebaikan, maka hidupnya akan diisi dengan kebaikan. Tapi jika dia condong pada keburukan, maka hidupnya akan diisi keburukan.
Maka mulailah dengan membentengi diri agar kita terus condong kepada kebaikan. Mulai dari teman2 yang baik, aktivitas2 yang baik, keluarga yang baik. Habiskan waktu untuk hal2 baik. Insya Allah baik sudah hidup kita. Kalaupun ada beban hidup, kita akan melewatinya dengan baik dan benar.
Tapi orang2 yang sejak awal, sudah condong buruk, memulai sesuatu dengan buruk, berteman dengan orang berkebiasaan buruk, dirinya juga melakukan keburukan, maka jangan salahkan siapapun kalau hidupnya penuh masalah. Beban hidup datang bertubi2, tidak ada habis2nya. Hei, kita sendiri yang mau condong kesana. Orang-orang seperti ini, tidak akan pernah keluar dari lingkaran masalahnya, jika dia tidak mulai memutus dirinya dari condong pada keburukan tadi.

Kita selalu menyimpan sesuatu yang amat berharga; yang hanya akan digunakan dalam situasi paling spesial.
Nah, bukankah 'hati' kita ini juga amat spesial? Masa' iya, mau digunakan kapanpun, dimanapun, dengan siapapun. Berceceran perasaanya terlihat dimana2, di media sosial, dsbgnya. Sama sekali tidak disimpan.
Seharusnya kita simpan kelak, saat waktunya sudah tepat, untuk seseorang yang paling istimewa.

*Bertahan lama
Saya akuntan, jadi pernah menghabiskan banyak waktu untuk belajar sebuah konsep yang disebut: going concern. Saya ingat, kuliah tentang teori akuntansi ini seru, karena menjadi tempat terbaik berdiskusi tentang prinsip2, standar2, dan apapun yang melandasi dunia akuntansi. Ada banyak konsep2 dalam dunia akuntansi, tapi kali ini saya akan bahas going concern.
Apa itu going concern? Simpelnya adalah: bertahan lama, hidup lama.
Ketika kita meng-audit sebuah perusahaan, melakukan pembukuan, membuat laporan keuangan, dsbgnya terkait proses akuntansi, maka penting sekali konsep going concern ini. Bahwa perusahaan akan bertahan lama, hidup lama. Karena kalau kita tidak yakin bahwa perusahaan ini akan bertahan lama, metode pencatatan akuntansinya akan amat berbeda. Kita tidak bisa menerapkan pendekatan depresiasi, amortisasi (yang bisa 20 tahun), kita tidak bisa mencatat hutang jangka panjang, dan detail2 lainnya. Saya tahu, tidak banyak diantara kita yang paham tentang akuntansi, jadi sy tidak akan panjang lebar lagi membahasnya.
Lebih baik kita membahas bagian yang mungkin menarik buat kita semua. Karena sebenarnya, konsep going concern ini bisa dipakai buat apapun.
Dalam pernikahan misalnya, kenapa orang2 memutuskan menikah? Karena dia meyakini bahwa pernikahan tersebut akan berjalan lama, atau kalau bisa selama2nya hingga meninggal. Going concern. Tidak ada orang yang menikah hanya untuk keperluan 1-2 jam, atau 1-2 hari. Karena kalau ada, itu tidak cocok dengan tujuan mulia dari sebuah pernikahan. Jika ada, maka metoda 'pencatatan' hubungan itu tidak lagi merujuk pada pernikahan, tapi dengan metode lain.
Dalam hubungan orang tua dan anak, contoh berikutnya. Jelas sekali itu sebuah hubungan dengan konsep going concern. Karena tidak akan ada orang yang menganggap hubungan orang tua dan anak hanya untuk urusan sebentar, temporer. Rusak dunia ini jika ada yang mencatat hubungan tersebut tanpa pondasi going concern. Pun dalam persahabatan, teman baik, kawan sejati, itu juga menggunakan konsep going concern. Kita berteman untuk selama-lamanya, bukan untuk kepentingan sesaat, bukan untuk keuntungan sepihak, dan konsep temporer lainnya.
Maka, ketika kita memahaminya going concern, apapun yang terjadi dalam hubungan tersebut, marah, berantem, bertengkar, berbeda pendapat, pikirkanlah selalu bahwa hubungan ini akan lama. Suami istri yang bertengkar, ketika mereka berangkat dari posisi sama, bahwa pernikahan mereka akan bertahan lama, semenyakitkan apapun bertengkarnya, tetap akan punya pondasi kokoh. Apalah artinya marah2an 2 hari dibandingkan terbentang luas berpuluh tahun waktu masa depan. Anak2 yang ngambek kepada orang tuanya, atau orang tua yang kecewa kepada anak2nya, apalah artinya rasa marah 2-3 jam dibanding terbentang jauh waktu going concern tsb. Hubungan orang tua dan anak akan abadi, tidak bisa diganti. Going concern.
Pun saat kita mendidik anak2 kita, gunakan konsep going concern, kita akan melihatnya tumbuh berpuluh2 tahun kelak, maka berikanlah pendidikan terbaik. Dan pendidikan terbaik, tidak selalu menyenangkan bagi anak kita dalam jangka pendek. Boleh jadi menyakitkan, mereka harus belajar disiplin, prihatin, tapi demi going concern, kita bisa melihat hasilnya di masa depan.
Juga dengan persahabatan baik, kita sepakat bahwa itu akan going concern, maka janji masa depan yang lebih baik, akan lebih penting dibanding salah-paham, pertengkaran sesaat. Kita tidak berteman hanya untuk sehari atau seminggu, kita berteman untuk jangka lama. Karena teman baik, semakin lama dia, semakin asyik dan seru. Beda dengan HP, laptop, semakin lama, semakin ngadat dan ketinggalan jaman.
Sadarilah, kita membina hubungan2 baik ini untuk keperluan yang sangat lamaaa. Jadi, catatlah dengan konsep going concern. Jangan catat dengan egoisme, keras kepala, tidak mau berkomunikasi, dsbgnya, dsbgnya. Hidupilah hubungan2 tersebut untuk keperluan yang panjang, selalu lihat dari kaca mata going concern.
Maka, ketika itu terjadi, kesadaran tersebut dimiliki, kita bisa naik satu level lebih tinggi dari konsep tersebut. Satu level lebih tinggi? Ohiya, itu benar, ada konsep yang lebih tinggi dibanding 'going concern' ini. Tidak akan saya bahas sekarang, silahkan kalian temukan sendiri.
*Tere liye
**pastikan kalian paham, pacaran itu tidak pernah masuk dalam teori going concern. karena eh karena, kalaupun kalian ngotot bilang itu akan selama2nya, saya yakin sekali: kalian tidak akan mau pacaran selama2nya, bukan? pada akhirnya mau menikah juga, kan? nah, daripada pacaran, mending langsung menikah, lebih jelas going concern-nya.

Mau kita itu bekerja sebagai anak buah, karyawan, mau bekerja sebagai pembantu, mau sebagai penonton, mau sebagai murid biasa, atau pemain figuran.
Kita semua tetap adalah pemain utama dalam hidup milik kita. Kita juga bos, tuan, sekaligus kapten. Kita adalah pemeran utama dalam cerita yang berjudul: hidup kita sendiri. Maka jadilah seperti pemeran utama yang pantas.

Jika tidak siap menikah, masih peragu, penakut, maka mencintai dalam diam adalah situasi terhormat. Jadi rahasia di pojok hati paling dalam, tidak ada orang yang tahu. Tidak merusak diri, tidak melanggar kaidah agama.
Maka silahkan tunggu keajaiban perasaan tersebut berproses dengan baik.

Tidak perlu mencari kejujuran di hati orang lain. Carilah kejujuran yang bermukim di hati kita.
Tidak perlu menemukan kebaikan di hati orang lain. Carilah kebaikan yang menetap di hati kita.

Jika sepotong kisah hidup kita tidak selesai, tutup potongan tersebut, lanjutkan kisah yang lain. Ada banyak cerita baru yang lebih seru telah menunggu.
Jika sepucuk keinginan kita gagal terpenuhi, maka tinggalkan keinginan tersebut, teruskan keinginan yang lain. Ada banyak keinginan yang lebih baik yg tersedia.
Hidup ini sebentar, jangan habiskan berkutat di sepotong kisah saja.

Sssttt, ini rahasia:
Orang sungguhan ganteng itu nggak pernah merasa ganteng. Juga orang sungguhan cantik, nggak pernah merasa cantik.
Nah, kalau ada yang merasa--bahkan merasa lebih oke dibanding orang lain, pasti ganteng atau cantiknya boongan, alias gadungan, alias KW saja.

Saya menerima beberapa pertanyaan soal ini, dan karena semakin banyak yang bertanya, agar manfaatnya optimal, baiknya akan saya tulisakn saja di sini. Pertanyaan ini datang dari penulis baru, yang baru menerbitkan 1-2 buku, dan bertanya: "Bagaimana menyikapi review atas buku yang saya tulis. Karena ada yang sangat membuat sedih dan patah semangat. Seolah tidak ada bagusnya buku yang saya tulis." Juga kadangkala datang dari penulis blog, yang tulisannya dikomentari buruk.
Maka, bagaimana menyikapinya? Tidak ada jawaban pastinya. Akan tetapi, untuk memudahkan mengambil sikap, akan saya berikan beberapa pondasi pemahaman.
1. Kualitas review.
Kita tidak lagi hidup di jaman 1980, atau 1990-an, yang saat itu, review atas sebuah buku pastilah setara, alias satu level dengan buku tersebut. Jaman itu, review dimuat di koran2 nasional, koran2 lokal, yang otomatis, tulisan si reviewer ini telah lulus dewan redaksi, lulus standar kepenulisan yang baik. Setara dengan buku yang direviewnya, yang juga telah lulus dewan redaksi duluan.
Hari ini, tidak begitu. Review ada di mana2, ada di media sosial, ada blog, dimana2 orang bisa menulis review. Maka pertanyaan paling penting adalah: seberapa baik kualitas review itu? Frankly speaking, 99% review di dunia maya hari ini, tidak layak dimuat oleh media massa kelas nasional seperti Kompas, dkk. Sadis sekali memang fakta ini. Tapi itulah kenyataannya. Buat reviewer yang keberatan dengan fakta ini, maka silahkan buktikan, apakah kalian berhasil menembus standar koran nasional, seperti Kompas, dkk.
Dengan ketidaksetaraan itu, maka lazim sekali menemukan ada tulisan yang me-review buku, mengkritik banyak, tapi kualitas tulisan review yang ditulisnya pun sangat jauh dari baik. Mengkritisi soal typo misalnya, hanya untuk menunjukkan di dalam reviewnya yang hanya 3-4 paragraf, penuh typo. Padahal dia hanya menulis 3-4 paragraf, typo pula, untuk menilai kualitas novel setebal ratusan halaman. Di mana pointnya? Apalagi jika sudah membahas tentang substansi tulisan, tidak fokus, kemana2, apapun dibahas.
2. Substansi review.
Pahamilah bahwa apapun review, maka isinya selalu subyektif.
Bohong sekali jika ada reviewer yang bilang dia: obyektif. Tidak ada :) Dan jangan percaya. Siapapun yang melakukan review atas buku, film, makanan, dsbgnya, maka dia positif subyektif. Ada yang kadarnya 90% subyektif, ada yang bisa hanya 30% subyektif. Tapi tidak ada yang 0% subyektif. Artinya apa? Review selalu bersifat suka dan tidak suka.
Buku terkenal sekalipun, pasti ada yang tidak suka. Simply suka dan tidak suka, tidak ada korelasinya dengan kualitas sebenarnya.
Nah, apesnya, saya seringkali menemukan reviewer yang sifatnya ganjil sekali. Sang reviewer seringkali menjelek2an film2 nasional (misalnya). Tapi dia masiiiih saja menonton film nasional, untuk kemudian ditulis semua kekurangannya? Sama sekali tidak ada bagusnya setiap film itu. Buat apa? Kan jelas-jelas secara subyektif dia tidak suka sejak awal, selalu dibanding2kan dengan film Hollywood. Apa poinnya dia masih menonton, untuk kemudian ditulis semua keburukannya? Apakah dia tidak lelah hanya sibuk mencari kekurangan atas sesuatu yang secara default sejak awal, dia memang tidak suka. Ada banyak sekali reviewer bersifat seperti ini.
3. Memilah-milah
Maka pada akhirnya, di tengah begitu mudahnya orang2 memberikan review atas sebuah karya, semuanya dikembalikan kepada kita. Pandai2lah memilah mana yang sebenarnya masukan bermanfaat, kritik2 membangun, atau hanya seruan tidak suka, orang2 yang lagi mencari pelampiasan saat menulis review, dan gumaman tidak penting. Ingat selalu untuk fokus pada sisi positifnya. Dari 10 orang, ada 8 yang memberikan apresiasi, ada 2 yang tidak. Fokuslah pada yang 8, jangan habiskan waktu mengurus yang 2. Kecuali jika kita menemukan masukan yang sangat bermanfaat.
Adik-adik sekalian yang sedang memulai menjadi penulis; saya tidak tahu seberapa kokoh motivasi kalian menulis. Saya tidak tahu seberapa gagah kalian akan menghadapi review di dunia maya ini; tapi apapun komentar yang datang, jangan berkecil hati. Jangan patah semangat. Saya tahu rasanya dinilai jelek semua tulisan kita--seolah tidak ada sama sekali kebaikannya. Menyakitkan, tapi jangan biarkan membuat kalian berhenti menulis.
Jika menemukan komentar yg sangat menyakitkan atas tulisan kalian, dan kalian tidak tahu lagi harus bilang apa saking sedihnya. Baca mantra ini baik2 dalam hati: 10 tahun dari sekarang, saya akan buktikan; bahwa saya terus menulis, menerbitkan buku2, sementara orang ini, dia tetap hanya sebagai komentator. 10 tahun dari sekarang, saya sudah melesat jauh sekali, buku2 saya dibaca banyak orang, orang ini hanya sibuk menonton saja, tidak ada yang memperhatikannya.
Semoga bermanfaat.

Dalam banyak situasi, menunggu adalah kebijaksanaan tiada tara.
Dalam banyak kondisi, menunggu adalah solusi terbaik tanpa tanding.
Saya tidak bergurau. Meski diluar sana banyak sekali orang yang justeru menyuruh bergegas, siapa cepat dia dapat. Dalam banyak keadaan, justeru menunggu adalah yang terbaik.
Jangan lupa, lengkapi menunggu tersebut dengan dua syarat pentingnya: bersabar dan berdoa. Maka kita tidak akan pernah merugi atas setiap urusan.


Saya tidak tahu kenapa Tuhan menciptakan 7 hari dalam seminggu. Tapi sepertinya agar kita bisa 7 kali dalam seminggu berterimakasih atas semuanya.
Saya tidak tahu kenapa Tuhan menciptakan 24 jam dalam sehari. Tapi nampaknya agar kita bisa 24 kali dalam sehari bersyukur atas segalanya.
Saya tidak tahu kenapa Tuhan menciptakan 60 menit dalam sejam. Tapi rupanya agar kita bisa 60 kali dalam semenit menghela nafas penuh kelapangan untuk apa saja.
Saya sungguh tidak tahu kenapa Tuhan menciptakan 60 detik dalam semenit. Tapi boleh jadi, agar setiap detik itu, kita bisa belajar tentang kehidupan. Bahwa hidup ini selalu berkurang, dan waktu kembali semakin dekat.

Cinta adalah abadi bagi orang2 yang mengerti.
Bahkan saat ditolak, tidak terbalas, dia bisa tetap abadi. Berharap orang yang dicintainya mendapat yang terbaik.

Teman yang baik, yang tidak sekadar menjadi teman, ada di saat susah, tapi juga saling mengingatkan dalam kebaikan, berani meluruskan jika kita melakukan khilaf adalah salah satu harta paling berharga di dunia.
Jika kita tdk memilikinya, maka mulailah dengan menjadi teman seperti itu ke siapa saja, maka kitapun akhirnya akan punya sahabat sejati.

Rasa cemas, khawatir itu merusak tiga tingkatan:
1. Menghabiskan waktu
2. Meracuni pikiran
3. Mencuri kebahagiaan
Nasehat lama ini mungkin bermanfaat dipikirkan.

Kadangkala kita sendiri yang merusak jalan cerita. Yang sudah berjalan baik, kita rusak karena tidak sabar, prasangka, terlalu sensitif dan sebagainya.

Happy atau sad ending perjalanan perasaan kita, itu hanya ukuran relatif. Boleh jadi menurut kita happy, tapi sejatinya sad ending, tanpa kita sadari kita telah membuat kerusakan. Boleh jadi menurut sad, tapi sejatinya justeru bahagia, Allah mencegah kerusakan.
Lantas apa yang absolut?
Yang absolut adalah penerimaan. Lapang hati apapun endingnya. Itu selalu absolut.

LDR (long distance relationshio) itu bukan cuma soal jarak fisik, satu di kota ini, satu lagi di pulau seberang.
LDR itu juga bisa fungsi waktu. Jodohnya belum datang hari ini.
Jadi, kalau kita jomblo, tenang saja. Bilang, saya sudah "taken", tapi jodohnya masih LDR di masa depan. Disimpan oleh Allah, dan saya akan menjemputnya dengan terus memperbaiki diri. Karena sungguh Allah telah menjanjikan: Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, dan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. 

Kadang, kita tidak tahu kenapa kita masih berharap.
Kadang, kita tidak tahu kenapa masih menunggu.
Kadang, kita tidak tahu kenapa tetap tinggal.
Maka, itulah salah-satu cabang sabar. Ketika kita "tidak tahu" misteri masa depan, tapi kita tetap melakukannya. Lengkapi dengan keyakinan Allah selalu punya skenario terbaik, sibukkan diri dengan hal positif fan bermanfaat, maka semoga bahagia selalu menemani kita.

Hari ini, mungkin kita adalah segalanya bagi seseorang. Tapi besok, boleh jadi bukan siapa-siapa lagi.
Hati manusia itu mudah berubah.
Karena itu, jangan berlebihan. Agar sakitnya tidak terlalu dalam membekas.

Kata "Maaf" tidak akan membuat yang terlambat jadi tepat waktu.
Kata "Maaf" juga tidak akan membuat yang terlanjur tersakiti jadi sembuh sedia kala.
Kata "Maaf" apalagi, juga tidak bisa mengembalikan yang telah pergi; menghapus salah menjadi benar; yang rusak seketika menjadi baik.
Tidak bisa.
Tapi kata "Maaf" yang tulus dan ihklas, melampaui ukuran itu semua, melewati ukuran dunia. Kata "Maaf" bisa menyiram hati menjadi lebih cemerlang. Bening. Damai. Dan itulah hakikat memaafkan.

Kalau menangis bisa menyelesaikan masalah, maka urusan di dunia lebih gampang. Sayangnya tidak, menangis bahkan bisa menambah masalah--setidaknya bikin mata merah, bengkak, sembab.
Silahkan menangis, secukupnya, seperlunya. Lantas hapus air matanya, mulai menyusun rencana, mulai berubah.

Satu hal yang harus selalu dicatat: tidak ada yang bisa dilupakan, meskipun itu kita tidak ingat lagi. Karena boleh jadi, di sisi2 lain, hal tersebut tetap diingat hingga kapanpun.
Jika kita tidak bisa memahaminya dari sisi yang tidak ingat lagi, maka cobalah dari sisi yang hingga kapanpun tetap mengingatnya. Dengan demikian, semoga kita selalu bisa menghormati perasaan-perasaan yang sempat bersinggungan dengan hidup kita. Dan selalu berhati2 dengan kehormatan perasaan sendiri.

Teman terbaik bisa menjadi orang asing. Perlahan dan menyakitkan.

Siapa yang pernah minum air laut yang asin? Coba saja. Sekali kita minum, maka haus kita justeru bertambah-tambah. Semakin banyak diminum, semakin kering kerongkongan, semakin terhidrasi tubuh kita.
Begitu pula hal2 buruk di sekitar kita. Jangan coba sekali2 berbohong, maka semakin mudah kita berbohong lagi, dan lagi. Jangan coba sekali2 mencuri, maka semakin mudah kita mengulanginya lagi, dan lagi. Haus sekali, mencekik pemahaman baik.

*Sajak "Persentase"
Coba lempar bola ke dalam keranjang
50% mungkin bolanya masuk, 50% mungkin tidak
Saat mencoba memulai bisnis
30% mungkin berhasil, 70% mungkin gagal
Saat mencoba mengikuti ujian sekolah
40% mungkin diterima, 60% mungkin ditolak
Dalam hidup ini
Selalu ada persentase atas usaha-usaha yang kita lakukan
Ada yang besar kemungkinan suksesnya
Ada yang besar kemungkinan gagalnya
Tapi tidak mengapa, itulah hakikat berusaha
Jika gagal tetap bersyukur
Kalaupun sukses tetap rendah hati
Karena ketahuilah
100% pasti tidak masuk untuk setiap bola yang tidak berani kita lemparkan
100% pasti gagal untuk setiap bisnis yang tidak pernah kita mulai
Pun sama, 100% pasti ditolak, untuk ujian sekolah yang tidak berani kita ikuti
Pikirkanlah.

*Sedikit Pengetahuan
Kalian mengikuti diskusi tentang hutang Indonesia ke IMF. Yang hingga SBY sekalipun harus mengklarifikasi di twitternya.
Maka baiklah, akan saya bantu luruskan. Tidak usah dianggap serius, karena toh, saya ini cuma akuntan abal-abal.
Hutang Indonesia ke IMF itu memang sudah lunas. Beres. SBY sudah benar memberikan pernyataan itu.
Lantas kenapa ada pejabat pemerintah sekarang menunjukkan data dari Statistik Utang Luar Negeri Indonesia yang diterbitkan oleh BI, bahwa Indonesia masih berhutang 2,9 milyar dollar? Itu karena membaca laporan itu tidak harus saklek. Ketika BI mencantumkan sebuah pos pada posisi "hutang", maka itu boleh jadi adalah aset IMF yang memang diletakkan di setiap bank sentral. Sesuai prinsip akuntansi, maka tentu harus dicatat sebagai "kewajiban". IMF itu punya tugas menjaga likuiditas global, lazim sekali mereka melakukan alokasi tersebut. Coba baca laporan keuangan Bank, tabungan atau deposito dari masyarakat akan diletakkan di posisi "hutang".
Saya kira ini sudah clear sekali. Hanya cukup sedikit pengetahuan mengenai akuntansi.
Toh, kalau mau terus-terang, saya sih lebih percaya omongan SBY dibanding rezim yang bahkan mengurus jenderal bintang 3 saja entahlah. Dan lihatlah, atas semua itu, harganya mahal sekali, KPK kehilangan dua pemimpinnya.
**siapapun yang mau komen ngotot menganggap itu tetap "hutang", maka pastikan memiliki pengetahuan dasar tentang akuntansi. ketika kita nabung ke bank, jelas sekali itu tidak masuk kategori "hutang" seperti kita pinjam umumnya, meski di banknya, tabungan kita itu dicatat sebagai passiva.

Suara wanita termasuk kehormatan yang harus dijaga. Jadi sebaiknya tidak perlu bicara mendayu2, dimanja2in, didesah2kan, apalagi kalau bicara dengan lawan jenis yang bukan siapa2 kalian (baik secara langsung atau lewat telepon, dsbgnya). Itu bisa jadi sumber masalah buat diri sendiri.
Ini saran saja, bicaralah yang biasa2 saja, dengan intonasi biasa2 saja. Tidak jutek, tidak menyebalkan, pun tidak genit2.
Nah, kalau kalian merasa unyu lebih oke, bermanja2 itu keren, tentu tidak akan ada yang melarang. Karena di luar sana, toh memang banyak cowok pesolek yang suka. 

Satu hal yang harus selalu dicatat: tidak ada yang bisa dilupakan, meskipun itu kita tidak ingat lagi. Karena boleh jadi, di sisi2 lain, hal tersebut tetap diingat hingga kapanpun.
Jika kita tidak bisa memahaminya dari sisi yang tidak ingat lagi, maka cobalah dari sisi yang hingga kapanpun tetap mengingatnya. Dengan demikian, semoga kita selalu bisa menghormati perasaan-perasaan yang sempat bersinggungan dengan hidup kita. Dan selalu berhati2 dengan kehormatan perasaan sendiri.

Pernikahan yang panjang, lama, seperti yang terjadi pada kakek-nenek, orang tua kita, yg bahkan usia pernikahannya 50 tahun lebih, bukan karena sepanjang 50 tahun itu cinta mereka terus membara, menyala tinggi seperti pasangan bulan madu.
Selalu ada masa-masa saat cinta itu redup, mengecil, bahkan berganti kecewa, marah, pun benci. Tetapi cinta itu selalu bisa kembali terang, menghangatkan dan melindungi hubungan tersebut. Nasehat itu benar, boleh jadi, kakek-nenek kita, orang tua kita, tidak hanya sekali jatuh cinta di awal hubungan mereka, melainkan berkali2 jatuh cinta pada pasangannya yang sama, maka awetlah hubungan mereka.

Tidak pernah orang yang banyak bicara itu disebut pintar, pun juga bijak. Juga tidak pernah orang yang selalu bicara setiap hal disebut jenius, pun juga cendekia.
Melainkan orang-orang yang tahu persis kapan harus bicara, kapan harus diam. Melainkan orang-orang yang tahu persis dia paham masalahnya maka dia angkat bicara, jika tidak, dia memilih diam.


Mahatma Gandhi pernah menuliskan '7 dosa sosial yang mematikan':
1. Kekayaan tanpa kerja
2. Kesenangan tanpa nurani
3. Ilmu tanpa kemanusiaan
4. Pengetahuan tanpa karakter
5. Politik tanpa prinsip
6. Bisnis tanpa moralitas
7. Ibadah tanpa pengorbanan

Pemikiran Gandhi ini mungkin cocok, mungkin tidak. Tapi pasti ada manfaatnya jika dipikirkan.

Jika kita ingin lebih tahu dibanding orang paling tahu sekalipun, maka baca buku2 yang dia baca, semua yang pernah dia baca, plus satu buku yg tidak dia baca.
Jika kita ingin lebih berwawasan dibanding orang paling berwawasan, maka bacalah buku2 yang pernah dia baca, semuanya, plus tambahi satu buku yang tidak dia baca.
Cara tercepat 'menyalip' orang lain adalah dengan membaca buku.

sumber : Darwis Tere Liye Facebook

Tidak ada komentar: