Jumat, 08 Mei 2015

count bless!



i know there's so so much reason to be sad, to feel bad with ourself or others, tapi setelah itu, setelah segala hal yang mungkin membuat hati kita sesak tak berdaya dan memaksa seluruh sendi dalam tubuh kita menegang karena emosi lalu menghamburkan semua kemarahan, apakah kita akan kembali ke dalam situasi di mana kondisi kita masih baik dan terkontrol? tentu tidak, kan? maka, saya berpikir, alangkah lebih baik kalau saya mampu mengendalikan diri sendiri, mengendalikan keadaan fisik dan hati agar tidak emosional dan mengacaukan segala sesuatu yang seharusnya berjalan dengan baik dan benar, yang salah satu dari sekian banyak caranya adalah dengan menghitung keberkahan yang sudah Tuhan berikan, alias, bersyukur.

bersyukur ((yang baik, ikhlas, dan benarbenar merasa bersyukur)) membuat kita bisa mengendalikan halhal yang terjadi di sekeliling kita. jikapun yang berlangsung di sekitar adalah hal buruk, kita bisa bersabar menghadapinya, bersyukur bukan hanya dengan ucapan tapi tindakan. menahan marah itu juga bersyukur, berbagi apalagi, menjadi contoh yang baik untuk diri sendiri dan lingkungan. lagipula, manusia itukan makhluk yang gak pernah puas dengan apa yang sudha di raih, dan Tuhan kita sendiri sudah memberitahukan kalau kita mau mendapat lebih, maka kita harus bersyukur dahulu. tapi, bukan berarti kita harus bersyukur karena sebuah imbalan, kan kita sedang samasama belajar untuk ikhlas. yang artinya tidak mengharapkan sesuatu apapun untuk menjadi alat bayar apa saja yang sudah kita lakukan. jadi, bersyukur seharusnya bukan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan setelahnya yaitu nikmat yang lebih lagi, tapi bersyukur memang karena Tuhan kita berhak mendapatkannya, jangan jadikan diri sendiri sebagai bahna olokolok di akhirat hanya karena kita tidak menyadari kedudukan sebagai hamba dan di mana seharusnya posisi Dia dalam hidup dan hati kita.

ps : saya mau berterimakasih buat siapapun di dunia ini yang udah menciptakan resep martabak ketan kelapa, semoga kamu masuk Surga. paham ga sih, law, setiap kali wa makan martabak enak itu berasa kayak diadonannya terselip remahremah Firdaus, hahah.

Tidak ada komentar: