Senin, 02 Maret 2015

status ((bagian ke empatpuluh tiga))


Jadi jomblo itu kadang tidak mudah. Tidak pacaran, disangka nggak laku. Belum menikah, diduga penakut akut.
Nah, berikut tipsnya, kalau ada yang nanya hal beginian kalian jawab saja dengan mantap: "Ini sudah 2015, Om, Tante, Pakde, Bude, saya sudah besar. Saya tahu persis mau melakukan apa. Fokus sekolah. Serius kerja. Daripada menghabiskan waktu buat galau. Dan besok lusa insya Allah bakal ketemu jodohnya. Saya yakin banget soal itu."

Banyak di antara para pencinta yang mengucapkan kalimat "selamat tinggal" kepada seseorang/sesuatu yang bahkan sebelumnya tidak pernah disapa "selamat bertemu", tidak pernah bersama sama sekali, tidak pernah punya jalan cerita bersisian.
Perasaan itu kadang kejam sekali.

Saya kira, cinta itu adalah memahami. Bukan menjelaskan.
Karena semakin banyak penjelasan, maka semakin rapuh pondasinya.

Tidak perlu terburu-buru. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang spesial, menunggu lama sekalipun itu tetap berharga.
Tidak perlu cemas apalagi takut. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang sejati, kita tidak akan cemas walau sesenti, sejauh apapun pergi, dia akan kembali.

Hidup ini kadang tidak berjalan sesuai keinginan kita. Karena pengemudi hidup kita sejatinya bukan kita sendiri.
Tidak mengapa. Sepanjang kita tetap jujur, bekerja keras dan selalu kongkret, insya Allah, jalannya kembali lancar.

Ada nasehat lama yang menarik:
Lebih baik diam, disangka bodoh. Daripada bicara (ikut komentar), untuk kemudian justeru memperlihatkannya.

Tahun 2009, Polri juga pernah menjadikan KPK tersangka (Chandra Hamzah & Bibit Samad); atas hal ini, KPK mengajukan praperadilan. Mabes Polri saat itu bilang: Praperadilan tidak punya kompetensi untuk menguji penetapan tersangka.
Tahun 2015, Calon Kapolri Si Budi dijadikan KPK tersangka, atas hal ini, Polri mengajukan praperadilan. Mabes Polri bilang: Boleh-boleh saja, dalam UU itu kan hak-hak tiap-tiap warga negara yang merasa dirugikan. Seperti kalau ada proses penangkapan yang dimungkinkan atau dimungkinkan ada pelanggaran, silakan diuji dalam praperadilan.
Semua media online masih menyimpan fakta ini. Silakan saja cari.
Di novel "Negeri Para Bedebah", hal-hal begini memang lumrah. Hukum diterapkan sesuai situasi dan kondisi versi mereka saja. Bahkan paling menggelikan misalnya: yang tidak bersalah habis2an dipaksa mengaku; yang jelas2 sudah mengaku bersalah, dicarikan cara agar tidak bersalah.

“Seluruh air di samudera lautan tidak bisa menenggelamkan sebuah perahu kecil, jika airnya tidak masuk ke dalam perahu tersebut. Maka, seluruh kesedihan, kegundahan, beban hidup di dunia ini tidak bisa menenggelamkan hati kita, kecuali kita membiarkannya masuk ke dalam hati kita sendiri.”
— nasehat orang tua

Dulu, ngantri di minimarket, update status. Bisulan, update status. Lihat ada kecelakaan, update status.
Hari ini? Bertambah-tambah.
Lagi di mall, selfie. Lagi kejedut pintu, selfie. Lagi di angkot, selfie. Lagi ulangan, selfie. Bahkan lagi ada kebakaran, selfie dulu (bukannya nolongin).
Sebenarnya, ada apa dengan sebagian dari 7 milyar penduduk bumi ini? Kekurangan cara aktualisasi diri? Atau keinginan terpendam untuk menjadi pusat perhatian? Atau ketidakmampuan menahan diri, mana yang seharusnya diumumkan, mana yg sebaiknya untuk konsumsi diri sendiri. Mana selfie yang masih pada tempatnya, mana yang sudah berlebihan sekali.
Mungkin kalian punya penjelasan lebih baik.

Semua orang ilfil lihat pejabat jalan2 ke LN, kemana2, pakai uang APBN, naik pesawat, menginap di hotel berbintang, gratis dibayarin. Mulai dari alasan studi banding, ikut festival film, book fair, delegasi apalah, kontingen apalah, pendamping apalah.
Ilfil kan?
Nah, maka mulailah ilfil juga saat study tour sekolah2, ada banyak guru2 yang ikut gratis. Saya tahu, nanti argumennya, lah, kami ini ikut buat jagain murid2. Aduh, kalau itu alasannya, mending batal saja study tournya. Memangnya study tour itu ada di kurikulum? Memangnya kalau tidak ada jalan2 itu murid2nya jadi tidak bisa melihat dunia?
Saya juga tahu, nanti alasannya, study tour ini atas usulan orang tua, murid2, mereka maksanya ke Singapore. Aduh, kalau itu alasannya, mudah sekali, bilang, sekolah ini tidak ada study tour. Titik. Pindah sana ke sekolah lain yang ada study tournya. Kalau gurunya malah bilang oke-oke saja, maka yg kegatelan ingin study tour itu jangan2 gurunya. Sudah tahu bakal repot, bakal susah ngurus murid2nya, eh, masih dilaksanakan.
Setiap tahun, jutaan murid2 ikut study tour, ada yg lokal, ada yang ke LN, banyak sekali diantara mereka, murid2 yang harus nabung, terpaksa ikut, bahkan diintimidasi, disisihkan, diancam inilah, itulah, jika tidak ikut. Ribuan kesaksian bisa dipanggil atas intimidasi study tour. Setiap tahun, siklus ini terus terulang, saya pernah menemukan sebuah sekolah, bahkan keluarga gurunya bisa ikut, gratis, full dibayari. Maka, jangan tanya dari mana kebiasaan jalan2 gratis pejabat dengan uang rakyat. Kitalah yang melahirkannya dalam sistem yang di-amin-kan, tanpa pernah dipikirkan lagi, diuji lagi, diprotes.
Saya percaya, masih banyak guru2 amanah, guru2 yang paham sekali tanggung-jawab mereka, yang berani, gagah berani melindungi murid2nya dari hal2 mubazir, pemaksaan, pungutan, dsbgnya. Yang bila perlu, berani melawan kepala sekolah, komite sekolah, demi prinsip yg dia yakini. Di novel2 (setidaknya ada 4 novel yg membahas ttg guru), saya tulis guru2 ini, guru2 terbaik sebagai teladan.

Buat yang suka sekali komen nyolot atas nasehat, misalnya di postingan, "Jangan berlebih2an, jangan pamer", kemudian malah balas komen nyolot: "Urus saja urusan masing2, Anda tidak usah mengurus orang lain",
Maka kalian yg suka komen begitu bersyukurlah, kalian tidak hidup di jaman Nabi.
Karena repot, kalau kalian hidup di jaman Nabi, ketika ada seruan Nabi, "Jangan berlebih2an, jangan pamer." Kan ngga asyik jika kalian berseru ketus pada Nabi: "Urus saja urusan masing2, Anda itu tidak usah mengurus orang lain".
Sebelas-dua belas dengan Abu Jahal.

Salah-satu ciri ketika kita sudah keras hati adalah: semua kebaikan orang dianggap dusta; semua penjelasan orang dianggap bohong.
Berhati-hatilah. Karena sungguh malang, ketika tiba di akhir, kita baru menyadari: justeru kita sendiri masalah terbesar kita selama ini.

Hidup ini kadang tidak berjalan sesuai keinginan kita. Karena pengemudi hidup kita sejatinya bukan kita sendiri.
Tidak mengapa. Sepanjang kita tetap jujur, bekerja keras dan selalu kongkret, insya Allah, jalannya kembali lancar.

Jika orang lain memilih melupakan kita, maka itu masalah dia. Nah, ketika kita yang melupakan, maka itu sungguh adalah masalah kita.

Bukan dibenci oleh musuh yang menyakitkan. Itu sih lumrah, namanya juga musuh.
Tapi dibenci oleh teman sendiri itulah yang paling menyakitkan. Ketika teman, pendukung sendiri mulai menjauh, tidak percaya lagi.

Ada orang-orang yang jatuh cinta, tapi tidak ditakdirkan bersama.
Ada orang-orang yang bersama, tapi tidak jatuh cinta.
Ada pula orang-orang yang jatuh cinta, ditakdirkan bersama.
Hidup ini memang begitu2 saja. 7 milyar manusia di atas bumi; tiap detik, setidaknya ada yang jatuh cinta, pun tiap detik, ada yang berpisah. Jadi, tidak perlu galau, sakit hati, sesak, toh, penulis skenario hidup kita adalah yang maha mengetahui. Dijalani saja, apapun ujungnya. Syukur2 happy ending.

Semua orang pasti punya aib. Sesuatu yang malu jika diceritakan. Mulai dari yang ringan seperti pernah ngompol, (maaf) pupup di celana, hingga yang serius, masalah keluarga, masa lalu, dsbgnya, dsbgnya.
Semua orang pasti punya aib.
Dan sungguh indahlah agama ini yang telah mengatur bagaimana menyikapi aib ini: "Barangsiapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya dunia dan akherat." Kalimat ini bukan karangan Tere Liye, kalimat ini ada dalam hadist sahih Muslim. Jelas sekali aturan mainnya: tutup aib saudara kita.

Dalam sebuah perdebatan, boleh jadi kita merasa memenangkan banyak hal karena lawan kita memilih diam saja, dan kita terus berseru2 yakin sekali, tapi sesungguhnya, itulah kekalahan paling telak.
Kita tidak bisa melihatnya saat itu. Besok lusa, mungkin baru terlihat.

Jangan biarkan orang lain menarik kita dalam sekali dalam sebuah pertengkaran, hingga kita jadi membencinya seperti dia membenci kita. Jangan biarkan.
Kita berhak atas rasa damai dalam hidup ini, dengan tidak membenci orang lain walau kita tidak sependapat, berbeda pihak, apalagi kalau cuma beda partai, kelompok, fans sepakbola, dsbgnya.

Ganteng, cantik, pintar, rajin, saleh, salehah, taat orang tua, aduh sungguh menyenangkan melihat anak muda seperti ini. Dan ternyata masih jomblo pula, pandai nian menjaga diri.
Semoga besok lusa bertemu jodoh terbaik, dengan cara terbaik, dan menjadi keluarga yang baik.

Banjir di kota2 besar di Indonesia itu azab, bukan ujian. Apalagi banjir di Jakarta, itu azab paling serius karena kita telah merusak lingkungan begitu beratnya. Tanah-tanah dibeton, sungai-sungai mampet oleh sampah, hutan2 di hulu dihabisi, dijadikan rumah, ini dikeduk, itu disumpal, hancur lebur lingkungan oleh manusia.
Mau sehebat apapun pengetahuan dan teknologi manusia, jika mereka tidak berhenti merusak lingkungan, tidak akan pernah menang melawan banjir ini.
Penting sekali pendidikan soal lingkungan ini bagi generasi berikutnya. Didik mereka minimal dari hal paling simpel: jangan buang sampah sembarangan.

Jangan mendiskon kehormatan perasaan dan diri kita begitu rendahnya. Apalagi diobral habis2an, hanya karena suka dengan seseorang. Nanti terlihat sekali murahan.

Tidak ada yang kebetulan di muka bumi. Semua adalah skenario Tuhan, pemilik rencana paling sempurna.
Dengan meyakini semua adalah skenario dari Tuhan, kita bisa menerima kejadian apapun dengan lapang dada sambil terus memperbaiki diri, agar tibalah skenario yang lebih baik lagi.

Ketika kita sungguh menyayangi seseorang, maka perasaan itu tidak hanya menetap di hati kita, tapi juga di bola mata kita.
Itulah kenapa, saat ada seseorang yang benar2 mencintai orang lain, maka rasa cintanya terlihat dari bola matanya. Bola mata itu menatap seribu kali lebih indah. Tanyakan kepada orang tua kita saat mereka menatap kita.

Sangat 'epic' ketika ada pejabat yang 'ceramah': "Apa yang kalian berikan untuk negara? Lantas apa yang telah negara berikan kepada kalian?"
Modifikasi quote dari John F Kennedy ini, please, jangan jadi retoris belaka. Jangan cuma buat bersilat lidah.
Karena eh karena: "Kami sih tidak tahu apa yang telah kami berikan ke negara, Pak, Ibu. Tapi kami tahu persis, apa yang telah negara berikan ke Bapak2 sekalian. Gaji untuk bapak, tunjangan, fasilitas, kekuasaan, pakaian, kendaraan, rumah, uang sekolah anak-anak Bapak, kemudahan2. Nah, dengan semua itu, lantas apa sih yang Pak pejabat berikan kepada negara?
Kami sih memang tidak bisa ngasih apapun buat negara ini, Pak Pejabat. Nyadar dirilah, apa sih kami ini, rakyat kecil, bodoh pula. Tapi minimal, kami tidak hidup digaji oleh negara, untuk kemudian banyak ngeluh, marah2, bahkan korup pula."
*Tere Liye, murid berisik di kelas

Kita tidak jadi bijak atau baik karena orang lain menilai kita baik. Buat apa? Toh, kalaupun sejuta orang lain bilang baik, kitalah yang tahu persis seberapa baik hidup kita.
Cukup jadi diri sendiri. Jangan pusing dengan penilaian orang lain.

Cinta itu bukan soal kebersamaan apalagi memiliki.
Melainkan pada ingatan yang diletakkan di hati kita masing2, pun dalam doa2 yang dipanjatkan dalam senyap.
Itulah kenapa, kalaupun kita tidak memiliki seseorang/sesuatu, tidak bersama dengannya, atau malah dibenci karena salah paham, perbedaan, atau memang simpel karena tidak suka (apapaun alasan tdk suka tersebut), kita tetap selalu bisa menyebutnya dengan kata cinta.

Ada banyak hal yang sebaiknya orang lain tidak perlu tahu.

Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita, tidak perlu siapapun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan.
Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita itu keren atau tidak, bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia.
Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.

Rasa sakit di hati itu hanya ibarat kabut di pagi hari. Tunggulah matahari tiba, maka dia akan hilang bersama siraman lembut cahayanya.
Rasa sakit di hati itu hanyalah ibarat kabut pagi.
Tidak pernah mengubah hakikat indahnya pagi. Bahkan bagi yang senantiasa bersyukur, dia akan menari (meski sambil menangis) di tengah kabut. Dan itu sungguh tarian indah. Tarian penerimaan.

Tidak ada yang bisa dilupakan, termasuk sekalipun kita memang tidak ingat lagi. Karena boleh jadi, di sisi2 lain, hal tersebut tetap diingat hingga kapanpun.
Jika kita tidak bisa memahaminya dari sisi yang tidak ingat lagi, maka cobalah dari sisi yang hingga kapanpun tetap mengingatnya. Dengan demikian, semoga kita selalu bisa menghormati perasaan-perasaan yang sempat bersinggungan dengan hidup kita.

Hatiku sedang rindu, maka aku salah bicara melulu, juga lupa meletakkan barang di manalah, pun kadang tidak tahu, entahkah, ini tadi saya mau melakukan apa?
*Tere Liye, novel "Cinta Dari Pohon Linden"

Pilih mana: Selembar uang Rp 100.000 tapi lecek, terlipat, butut; atau selembar uang Rp 1.000 yang baru, kinclong dan wangi?
Sama. Pilih mana, tampilan kampungan, kutu buku, lusuh, tapi isi otaknya brilian, manfaatnya melimpah; atau tampilan selangit, ngikut2 trend dunia, bergaya, berdandan, tapi kosong saja sisanya. Yang semakin dewasa, semakin tua, malah masih menjadi beban orang lain.

Level Kabareskrim: "Yang bicara teror kan KPK. Ya, silakan saja dibuktikanlah teror itu"
Level petugas polsek, polres: "Yang kemalingan itu kan kamu. Ya, silakan saja dibuktikanlah kalau kamu kemalingan."
*sebenarnya, mereka itu digaji pakai uang rakyat atau bukan sih? atau jangan2, rakyat kecil-lah yang GR selama ini.

Definisi surplus-defisit baru:
Surplus adalah: kita punya sesuatu yang melebihi tampilan fisik kita. Pintar, cekatan, mandiri, kreatif, baik hati, dan sebagainya.
Defisit itu adalah: hanya tampilan fisik kita saja yang keren, bergaya, berdandan, sisanya kosong.

Senjata paling mematikan dalam perdebatan itu bukan: mendebat balik, argumen, dsbgnya.
Senjata paling mematikan adalah: diam.
Tapi ini jurus tingkat tinggi, perlu latihan.

Bukankah, jika kita memang sungguh mencintai, kangen, rindu atau apalah dengan seseorang, kita tidak akan mengatakannya lewat facebook, twitter atau media sosial lainnya.
Buat apa? Membuatnya jadi tidak personal dan spesial lagi.
*Tere Liye, penulis yang tidak romantis

Tidak semua orang bisa mengerti apa yang kita lakukan, pilihan yang kita buat, atau keputusan yang kita ambil.
Tapi tidak mengapa. Jika kita yakin itu benar, jalani saja dengan yakin, besok lusa akan lebih banyak yang paham.


Pertanyaan: "Kenapa ya kalau kita dekat dengan orang yang kita sukai, kita deg-degan. Padahal dia juga belum tentu tahu kalau kita suka?
Jawaban: Ya iyalah, deg-degan. Kalau kita dekat dengan orang yg kita sukai malah pengin gampar atau nonjok, itu berbahaya. Lagian, deg-degan itu juga bermanfaat, biar kita nggak kayak kambing atau sapi, langsung nyeruduk.

Sebenarnya siapa sih yang sungguhan peduli saat kita sibuk menyebut nama2 pacar di jejaring sosial? Naruh foto2 mesra? Saling berbalas komen seperti sudah sewindu tak bersua?
Jangan2 nggak ada. smile emotikon
Iya kan? Menarik loh kalau mau dipikirkan dari sudut pandang berbeda. Besok lusa bisa nyengir dan tertawa sendiri.

Kesepian bukan alasan baik untuk jatuh cinta. Karena ketahuilah, banyak orang yang tetap merasa kesepian meski telah jatuh cinta.

Ada kalanya sesuatu, seseorang, atau apapun itu tidak bisa tinggal dalam hidup kita--sekuat apapun kita berusaha.
Mungkin sudah saatnya melepaskan.
Dan tersenyumlah, toh jika dia tidak bisa tinggal dalam hidup kita, kita selalu bisa membuatnya menetap abadi dalam hati dan kenangan terbaik.

Menunggu adalah pekerjaan untuk orang yang memiliki keyakinan.
Bahkan ketika yang ditunggu berkali2 tidak muncul, bahkan ketika situasi berganti menyebalkan, bahkan ketika orang lain sudah mengambil jalan lain, dia tetap yakin.

Yang pergi pasti kembali, yang hilang akan ditemukan jika memang berjodoh. Percayalah.

Membaca itu penting sekali. Buku, majalah, apa saja yang isinya bagus dan bermanfaat.
Malam ini, saat membaca majalah Bobo terbaru, saya jadi tahu, kancing kemeja/baju laki-laki sengaja diletakkan di bagian kanan; dan kancing kemeja/baju perempuan ada di bagian kiri. Olala! Saya tidak menyadari hal itu selama ini. Bahkan majalah anak-anak Bobo, tidak sekadar berisi cerita Nirmala, Oki, Bona, dkk.
Mari biasakan anak-anak kita membaca; agar sejak kecil mereka mencintai kebiasaan ini. Membaca adalah jendela dunia.

Wanita keren itu bilangnya kayak begini:
"Kak, bukannya aku tidak mau, jual mahal, tapi aku hanya menerima cinta jika nembaknya bawa rombongan sekeluarga. Lantas kakak dengan suara gugup bicara pada orang tuaku, tentang tanggal, tempat dan sebagainya.
Di luar itu cara nembaknya, nggak level, ada banyak hal lain yang lebih penting dipikirkan. Aku lebih baik sibuk sekolah, belajar, kerja, memperbaiki diri sendiri, dan sebagainya."

Cowok keren itu kayak begini:
"Dek, kenapa aku bahkan hingga hari ini tidak menyampaikan perasaan ini. Tidak bilang-bilang. Bukan karena aku tidak yakin, tidak berani, bukan karena itu. Melainkan karena saat aku memutuskan menyampaikannya, maka itu berarti akan datang serombongan besar ke rumahmu, dan kau hanya bisa tersipu malu mendengar orang tua kita membicarakan tanggal, tempat, dan sebagainya."

Saya tidak cemas dengan KPK. Mereka pernah menghadapi masalah lebih serius dibanding ini. Ketika ketua KPK masuk penjara gara-gara kasus pembunuhan. Tapi mereka kemudian bisa bangkit lagi, bisa menangkapi banyak koruptor lagi.
Saya lebih mencemaskan kamu, Jok. Sama Mbok dan partai-mu. Aku cemas nasibnya tahun 2019 smile emotikon
**saya minta maaf kalau ada yang marah dengan postingan tentang KPK, presiden, dll; mau membenci page ini juga tidak apa, itu hak semua orang. saya tidak bisa memaksa kalian mencintai page ini, karena saya hanya fokus atas prinsip2 yang saya pegang.

Buat yang benci dengan Malaysia, baiklah, saya beritahu:
Ada 6,5 Juta Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Dari 6,5 juta itu, 2 juta diantaranya ada di Malaysia. Dan dari semua TKI ini, mereka mengirim uang ke keluarga di Indonesia lebih dari 100 Triliun rupiah.
Salah alamat kalau kita benci dengan Malaysia, mereka justeru secara kongkret memberikan nafkah bagi jutaan orang, memberi uang makan, biaya sekolah bagi belasan juta lagi di Indonesia.
Saya tahu persis apa yang telah diberikan Malaysia ke Indonesia; justeru yang saya tidak tahu hingga hari ini, apa yang telah pejabat-pejabat di Indonesia berikan ke saya. Jalan rusak, buku2 dibajak, film2 dibajak, depan rumah banjir, kebutuhan hidup mahal, ngurus apapun dimintain duit sama kantor2 pemerintahan, belum lagi korupsi di mana-mana. Dan atas semua itu, Mak, kami dikenakan pajak pula.
Siapa sih yang menikmati punya negara ini? Kalau tidak banyak lagi manfaatnya bagi orang banyak, mending re-start ulang semuanya.
*Tere Liye

Jika ada masalah, maka selesaikan segera. Jangan ditunda-tunda. Nanti malah merambat kemana2 dan semakin susah diselesaikan. Belum lagi jika masalah itu bisa melawan, bisa mengumpulkan kekuatan, tambah rumit. Kita sendiri yang akhirnya terjepit karena tidak bisa memutuskan dengan cepat.
Gitu loh, Jok. Biar rampung.

Jangan kalian sampaikan pendapat kepada orang yang tak menginginkannya; Kalian tidak akan mendapat manfaat, tidak pula pendapatmu akan berguna.

Kita bisa berubah karena orang lain. Bisa.
Tapi sebaiknya, berubahlah karena diri sendiri. Agar besok lusa, jika orang lain itu sudah pergi, orang lain itu mengecewakan, kita tetap punya alasan baiknya.

Penerimaan yang tulus, bahkan bisa membuat beban segunung terasa seberat bulu ayam. Ringan.
Tapi penolakan yang keras, membuat masalah se-bulu ayam terasa berat segunung.

Semakin tinggi gaji kita, jangan semakin bersorak senang. Rumusnya tidak begitu, semakin tinggi, maka semakin berhati-hati menjaga amanah.
Karena dengan semakin tinggi gaji, maka setiap menit yang digunakan di luar amanah, harganya akan semakin mahal. Panggil nurani masing-masing, itulah tempat bertanya terbaik.
Selamat hari senin. Selamat bekerja kembali.

Jika kau merasa bahagia dan sakit di waktu bersamaan.
Merasa yakin dan ragu dalam satu hela nafas.
Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok.
Tak pelak lagi, kau sedang jatuh cinta.
Berbahagialah menyambutnya atau bersiaplah patah hati.

Wanita itu amat "pengingat". Kita tidak tahu sama sekali, berapa lama kalimat2 yang pernah kita ucapkan akan diingat oleh mereka.
Dan menariknya masalah ini, laki2 itu justeru "pelupa". Mereka bahkan bisa segera lupa janji2 apa saja yang pernah diucapkannya kepada wanita.
*tidak selalu begitu, tapi tips ini bermanfaat memahami dua dunia berbeda laki2 dan wanita

Saya benar-benar tidak paham kenapa orang-orang mengeluhkan susah menyelesaikan skripsi, tugas akhir.
Dek, saya punya teman, dia hanya butuh 14 hari, selesai. Mulai dari mengetik Bab I hingga kesimpulan dan saran. Dapat A saat ujian skripsi. Dan itu di fakultas, di kampus yang standar skripsinya tidak mudah (baiklah, saya sebut saja, FEUI).
Bagaimana cara dia menyelesaikannya? Duduk di depan komputer, jangan pindah walau sejengkal, jangan berhenti (kecuali untuk shalat, makan, mandi/toilet dan tidur), kerjakan 24 jam dalam sehari, dan haram hukumnya membuka internet, game, dsbgnya yang tidak ada hubungan dengan skripsi. Full melototin aplikasi word dan excel. Fokus memeriksa puluhan buku rujukan, artikel, hasil survei, berserakan di lantai.
Kenapa kita tidak bisa melakukannya seperti kawan saya ini? Karena kita banyak alasan dan bahagia dengan alasan2 tersebut. Lebih banyak mengeluh dibanding mulai dikerjakan. Padahal, itu skripsi tetap berdiri menghadang di depan mata, nyengir melihat kita.

Perasaan bisa naik turun. Hari ini cinta, besok benci. Orang2 bisa berubah, jadi lebih baik, jadi lebih buruk. Nasib juga bisa berganti, hari ini bahagia, besok penuh duka cita. Pun beban kehidupan, hari ini lapang, besok terasa sesak dan sempit.
Tapi bagi orang2 yang paham: komitmen selalu tetap.
Komitmen selalu tetap. Akan terus bersama, melewati apapun situasinya.

*Jangan Naif
Menyusul keputusan praperadilan yang menghapus status tersangka calon Kapolri BG, Mantan Presiden SBY, merilis doa di twitternya, dengan pengikut 6,8 juta orang lebih, banyak orang tahu doa SBY ini, tapi akan saya tuliskan lagi di sini:
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Pemimpin, bangsa dan negara kami tengah Engkau uji sekarang ini. Tolonglah kami. Ya Allah, beri pencerahan batin & kekuatan akal sehat kpd para elite & pemimpin bangsa, agar dpt mengambil pilihan yg tepat & bijak. Ya Allah, kami malu mengatakan, di balik prahara ini, ternyata banyak kisah & drama yg berkaitan dgn nafsu utk meraih kekuasaan. Tak semua cerita di balik layar itu kami ketahui. Tetapi Engkau Maha Tahu. Karenanya, setelah Kau berikan pelajaran, tolonglah kami... dstnya
Sebagian orang like doa ini, sebagian tidak suka, dengan komen masing2. Frankly speaking, saya juga tidak suka orang berdoa di media sosial. Tapi ada substansi menarik dari postingan SBY ini, selain doa itu sendiri. Apa? Bahwa ada sesuatu yang serius sekali dengan rezim berkuasa sekarang: ternyata banyak kisah dan drama yang berkaitan dgn nafsu untuk meraih kekuasaan. Apakah SBY sedang bergurau? Sedang mengarang seperti Tere Liye yang memang tukang fiksi? Saya tidak tahu. Tapi jangan lupakan, SBY itu mantan presiden, dia masih punya orang di mana-mana, sumber informasinya akurat, bukan ecek-ecek.
Hari ini, Polda Sulselbar resmi menyatakan: Abraham Samad dijadikan tersangka kasus pemalsuan dokumen Feriyani Lim, karena si FL ini namanya ada di KK Abraham Samad, dan kemudian membuat paspor dll atas hal itu. Belum lagi kasus pertemuan soal cawapres, foto2 dengan wanita. Di sisi lain, Bambang Widjojanto, sudah duluan dijadikan tersangka dalam kasus kesaksian palsu. Juga petinggi KPK lainnya, sudah masuk dalam antrian kasus2 lainnya. Perang antara KPK dan Polri masuk tahapan baru.
Sekarang mari kita bandingkan kasusnya, si BG (calon kapolri) itu, tersangka kasus dugaan transaksi uang haram senilai 50 Milyar lebih. Rekening gendut sang jenderal. Hiruk pikuk semua orang, bergaya sekali pengacara dalam pra-peradilan, hingga lupa substansi paling penting: kita sedang memerangi penegak hukum (siapapun itu, mau KPK, Polri, Hakim, Jaksa) yang korup. Bukan saling menghancurkan institusi. Polisi sujud syukur mendengar BG dimenangkan.
Bukankah kita semua benci dengan koruptor? Bukankah kita sepakat, kita akan memperbaiki Indonesia ini?
Jika kita sepakat, lantas kenapa masih ribut? Kenapa seorang Presiden tidak bisa melihat hal sesederhana itu? Bukankah Presiden juga punya cita-cita Indonesia ini bebas korupsi? Bukankah kita semua punya cita-cita itu?
Kenapa masih ribut? Karena pertikaian ini sederhana; Ada gerombolan yang ingin menguasai tampuk kekuasaan penegak hukum. Sesederhana itu. Ada 4 institusi penting penegak hukum di Indonesia: Kejaksaan Agung, Polri, Hakim dan KPK (di luar MK). Dalam setiap pergantian rezim, maka 4 institusi ini mengalami keseimbangan baru. Akan selalu ada parasit penegak hukum yang menempel pada partai politik, berusaha memenuhi ambisi kekuasaannya dengan cara-cara khas. Dan itu ada di semua institusi.
Coba saja jawab pertanyaan sederhana ini: memangnya tidak ada polisi yang bisa diterima banyak orang untuk menjadi Kapolri? Ada. Banyak. Tapi kenapa kita sudah sebulan lebih masih harus menyaksikan pertikaian ini? Apa susahnya sih mengalah? Kenapa masih harus mengotot? Karena ada sesuatu di belakangnya. Saling berkelindan, saling memerangkap. Sudah jadi rahasia umum, semua orang punya kasus hukum, punya dosa-dosa masa lalu. Kuasai empat institusi ini, maka kepentingan siapapun akan aman, setidaknya hingga rezim berganti.
Dalam konstelasi keseimbangan baru ini, susah sekali berharap akan ada yang mendahulukan kepentingan rakyat banyak. Susah. Yang ada adalah saling adu kekuatan. Saling pamer pernyataan. Akhir dari semua cerita ini gampang ditebak seperti sebelumnya: KPK yang berganti pimpinan, atau Polri yang berganti bos. Setelah KPK dan Polri dibereskan, tinggal menggarap Hakim--yang tidak akan sulit dilakukan.
Maka dalam situasi seperti ini, Jangan naif, Kawan, jangan mau dijadikan pijakan kaki doang. Kita mati-matian membela seseorang, hanya untuk dijadikan pijakan paling dasar, sementara di atas sana, elit sedang memenuhi ambisi mereka. Jangan naif, Kawan, musuh besar kita itu adalah: korupsi. Titik. Maka barangsiapa yang bermain-main soal ini, dia tidak lagi tersambung dengan perjuangan kita. Putus hubungan. Lu-gue end.
Maka sekarang, silakan dimana kalian akan berdiri. Apakah kalian akan berada di belakang penegakan hukum, perlawanan atas korupsi. Atau memilih tutup mata, bodo amat. Atau sebaliknya, memilih di seberang, apapun manut. Saya tidak pernah cemas dengan KPK. Saya mengikuti, mendukung KPK sejak berdiri. Mereka pernah kehilangan ketuanya, masuk penjara karena kasus pembunuhan dengan bumbu2 cinta. Apakah KPK jadi padam? Tidak. Mereka berganti personil, mereka kembali dengan kekuatan baru.
Kali ini, jika mereka terkapar lagi, pimpinannya masuk penjara, Polri dikuasai keseimbangan baru, Jaksa, Hakim, dikuasai gerombolan baru, apakah KPK akan mati? Tidak akan. Sepanjang masih ada suara-suara mendukung pemberantasan korupsi di negeri ini. Sepanjang masih ada yang menyalakan satu lilin kecil, lantas berdiri di gelapnya malam, berseru meski dengan suara gemetar karena gentar: saya akan berdiri di sini, memerangi koruptor.
Dan saya percaya, lilin-lilin kecil itu masih ada. Di hati kalian. Esok lusa, bersama-sama, cahayanya akan menyala terang. Membakar habis para pencuri uang rakyat, pejabat tidak amanah, para bedebah, dan politisi yang berlindung lewat kata-kata manis tapi penuh dusta.
*Tere Liye, penulis novel "Negeri Para Bedebah"

*Surat Permintaan Maaf
Saya baru menyadari, tadi malam, saat melepas postingan tentang kacau balau situasi KPK, ada yang tersinggung sekali kalau saya memanggil presiden dengan menyebut namanya langsung, Jok atau Jokowi. Menuduh saya tidak sopan dengan orang tua.
Saya benar-benar minta maaf. Karena saya baru tahu, sesuai Surat Edaran Menteri Dalam Negeri, tanggal 26 Januari 2015, bahwa dalam setiap acara formal dan kenegaraan, presiden harus dipanggil: YANG TERHORMAT, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, BAPAK JOKOWI. (huruf bold sesuai surat edaran tersebut).
Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak tahu kalau facebook ini termasuk kategori acara formal dan kenegaraan. Pun saya baru tahu, menghormati orang itu ternyata lebih dilihat dari prosedural, bukan substansi. Karena, kalau menurut niat saya, ketika saya melepaskan postingan tentang KPK, Polisi, Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi, dsbgnya, itu karena saya sedang hormat dan sayang sekali dengan mereka. Jika saya sudah tidak sayang, satu kata pun saya tidak akan lagi membahas mereka. Bodo amat, peduli setan. Bukan urusan saya lagi. Ternyata saya keliru, secara prosedural itu dianggap menghina. Saya lupa, rezim telah berganti, beda seperti dulu, ketika page ini bisa bebas menulis SBY atau Bambang.
Semoga surat permintaan maaf ini diterima, dan kasus ini tidak perlu dibawa ke Bareskrim.
Salam damai.
*Tere Liye, penulis novel "Negeri Para Bedebah"

Berpetualanglah, Anak Muda. Bawa ransel di punggung, berkelana. Tidak bisa jauh-jauh, maka bisa dekat rumah, lihat sekitar. Tidak ada alasan jika sudah niat.
Itu akan membuat kita paham banyak hal. Menghargai perbedaan. Menghormati orang lain.
Karena orang nyolot itu berkorelasi erat dengan terbatasnya melihat dunia. Semakin nyolot dia, jangan-jangan selama ini hanya sibuk melotot di depan gagdet/HP.

Jomblo yang bahagia adalah spesies paling menarik bagi lawan jenis sejagad raya. Kalau sudah niat, nyari jodohnya insya Allah gampang.

Doa itu berkorelasi dengan kelakuan.
Doa minta jodoh yang baik, maka tidak nyambung kalau kita pacaran, berdua-duaan, mojok, merusak diri.
Doa minta nilai bagus, bisa lanjut ke sekolah cita-cita, maka tidak nyambung kalau kita kebanyakan main HP, gagdet, lebih banyak buka facebook dibanding buka buku.
Doa dan kelakuan harus nyambung. Kalau tidak nyambung, sama kayak kirim SMS, tapi jaringannya putus, nggak sampai SMS-nya, cuy.

Saya benar-benar menghimbau, semarah apapun kalian dengan delay pesawat, jangan pernah menyamakan pesawat dengan metromini apalagi angkot.
Ayo, komen begini, sama sekali tidak banyak faedahnya, dan mengundang keributan baru, jadi kemana-mana. Karena Mamang Sopir Angkot jadi ikut marah. Mana mau mereka disamakan dengan delay pesawat, sekacau apapun angkot, mereka tidak pernah ngetem 23 Jam. Membuat penumpang bete sehari-semalaman nunggu. Catat itu baik-baik.
*Tere Liye, murid berisik di kelas


Jika kita menyukai teman karena dia tampan, cantik, kaya, pintar, populer, baik dan semua kelebihan lainnya, maka itu sih lumrah saja. Rumus umum yang berlaku di dunia.
Tapi jika kita tetap berteman dengan seseorang yang jelek (maaf), miskin, biasa2 saja, tdk ada prestasinya, maka itu sebuah pertemanan yang baik.
Nah, jika kita tetap berteman dengan seseorang yang bangkrut, melakukan kesalahan, dijauhi orang lain, tetap membantunya, memberikan kekuatan, motivasi agar terus memperbaiki diri maka jelas itu sebuah keistimewaan. Amat spesial.

*Marah-marah
Salah-satu delay pesawat yg sangat saya ingat adalah, ketika Bapak saya meninggal, 8 tahun lalu, kabar saya terima jam 1 malam. Saya segera ke bandara, beli tiket penerbangan paling pagi.
Dan delay! Saya menangis di bandara, tega banget. Padahal itu flight pertama, pesawat baru keluar, kru juga baru bertugas. Bagaimana bisa delay? Cuaca juga baik. Secepat apapun sy tiba di tempat kelahiran, Bapak saya sudah dikebumikan, tidak akan terkejar, karena kami menyetujui, tidak ada yang ditunggu, sekali pemakaman siap, anak-anaknya terlambat datang, kebumikan segera sesuai tuntunan agama.
Delay itu bukan hanya soal waktu terbuang 24 jam, uang terbuang jutaan, tenaga terbuang, lelah. Delay pesawat itu kadang tentang kenangan yang dirobek, kasih-sayang yang hilang.
Tuan, Nyonya, bertahun-tahun, industri penerbangan di negeri ini dibiarkan begitu saja soal delay ini.
Bukankah Tuan, Nyonya buncah bicara tentang keselamatan saat Air Asia jatuh? Sekali delay massif terjadi, standar keselamatan turun signifikan. Semua jadi serba darurat, kru, pesawat, ruang tunggu, bahkan manifest pun darurat, terburu-buru, bergegas. Petugas lelah, kru lelah, penumpang lelah. Itu berbahaya.
Tuan, Nyonya, mulailah mengambil regulasi serius, sehingga kita bisa mengurangi delay. Kalian berani loh ambil kebijakan hapus tiket murah, naikkan batas bawah tiket. Berani. Membuat Air Asia tersudut. Kalian juga katanya mau hapus loket di bandara agar tidak ada calo. Itu berani sekali. Saatnya ambil regulasi: maskapai manapun yang delay lebih dari tiga jam, harus membayar kompensasi 3 juta. Saat itu juga dibayar! Di bandara, loket kompensasi langsung dibuka ketika pesawat telat 3 jam. Ini akan memaksa maskapai serius menyusun rencana anti-delay. Karena mereka lebih baik menyusun rencana itu dibanding bayar 3 juta per penumpang.
Kami menunggu konsistensi kalian. Berani marah-marah ke siapapun.

Di luar negeri (Uni Eropa), delay lebih tiga jam itu kompensasinya adalah cash hingga 600 Poundsterling (setara 11 juta), sesuai kategori penerbangan. Dan cash!! Langsung diambil di bandara saat itu juga, bukan ngutang bayarnya, apalagi ribet refund-nya. Silakan rujuk Regulation (EC) No 261/2004.
Berani nggak niru mereka? Nggak usah 11 juta-lah, jadi 3 juta saja, dijamin, maskapai akan mulai berubah besar2an. Diterapkan secara bertahap, beri waktu maskapai masa percobaan 6 bulan, lepas dari itu, tidak ada lagi pengecualian. Lewat 3 jam, counter kompensasi cash langsung dibuka di ruang tunggu.
Ini baru regulasi! Bukan cuma rese menghapus tiket murah, bos.
*Tere Liye
**Kalian yang tidak pernah merasakan delay 7 jam, tidak usah cengengesan membela pemerintahan deh. Saya ini, bukan cuma kenyang dengan delay, bahkan setahun terakhir, sudah dua kali double seat; nyaris berdiri bergelantungan di pesawat karena ada beberapa penumpang yg punya boarding pass identik kursi, nomor penerbangan, tapi beda nama. Belum lagi harus beli tiket baru biar tidak ketinggalan skedul berikutnya. Industri penerbangan itu sudah jadi kerajaan diktator. Penumpang telat 5 menit, ditinggal, eh dia telat 5 jam, malah penumpangnya yang diomelin. Galakan dia.

Dua hari terakhir ini, Lion Air delay-nya ampun-ampun-an. Bandara sudah kayak pasar. Delay 3-4 jam sih masih beruntung penumpangnya, yang lagi apes bisa double dari itu.
Mungkin kalau ini sejenis Air Asia, sudah diancam sama pak bos; atau langsung keluar regulasi habis2an, seperti no tiket murah, dipukul KO. Tapi karena bukan, entahlah, terserah mereka sajalah.
Di situ kadang saya merasa sedih.

Hampir tiap hari page ini posting tentang jangan pacaran. Berkali-kali, berkali-kali. Sampai bosan bikin sistem schedule-nya.
Lantas apa yang terjadi? Masih ada saja yang tiba-tiba kirim email, "Bang saya menyesal pacaran, saya sudah bla.. bla.. bla.."
Membaca email seperti ini...
Di situ kadang saya merasa sedih.

Adik2 sekalian, besok lusa, berhati-hatilah atas 3 kosong ini: Omong kosong, otak kosong, tabungan juga kosong.
Nah, mumpung masih muda, mulailah serius untuk belajar, sekolah. Kalau sudah lulus, segera cari pekerjaan, usaha. Dilakukan dengan tekun. Biar besok2 bukan kita yang masuk 3 kosong tadi. Jangan habiskan waktu main HP melulu, kelayapan di flyover, pacaran, dsbgnya.

*Kenapa sih kita butuh pemerintah?
Ini sebenarnya pertanyaan mendasar sekali: kenapa sih kita butuh pemerintah?
Jawabannya bisa sangat sederhana: agar ada yang bisa mengatur kehidupan menjadi lebih baik, lebih adil, lebih seimbang.
Saya kasih contoh paling mutakhir. Dua hari terakhir, penerbangan kacau balau. Delay di mana-mana, bukan cuma 3-4 jam, ada yang berkali lipat dari itu. Honestly dek, kalau kalian tanya ke maskapainya, maka jawaban mereka: "Kalau situ nggak suka, ya silakan cari maskapai lain." Bahkan mengutip pernyataan bos-nya: "Nyatanya penumpang tetap balik lagi, naik maskapai kami. Hari ini delay, besok naik lagi." Nah, logika ini seolah benar, masuk akal sekali, memang begonya adalah penumpang. Sudah tahu sering delay, kenapa pula masih naik?
Di situlah kehadiran pemerintah menjadi penting. Sebagai pihak yang bisa mengeluarkan regulasi. Dalam industri yang berat sebelah, perusahaan lebih kuat dibanding customer, penting sekali penyeimbang. Karena kalau semua orang bisa bebas bilang: "Situ tidak terima, silakan pergi", maka dunia ini akan kacau balau. Listrik misalnya, PLN mati, komplain, situ tidak terima, putuskan saja sambungan. Seluruh Bank Swasta sepakat menaikkan biaya transaksi 100.000/transfer, situ tidak terima, simpan saja uang kalian di bawah bantal. Situasi akan rusak. Lebih gila lagi, delay pesawat, komplain, "Situ tidak terima, ya beli saja pesawat sendiri." Mending kita bubarkan saja negara ini.
Kenapa sih kita butuh pemerintah? Agar mereka bisa mengeluarkan regulasi. Melindungi konsumen, juga melindungi perusahaan. Melindungi karyawan, melindungi semua pihak dengan adil.
Delay ini solusinya mudah sekali. Kenapa delay? Delay lama lazimnya karena ada 1 pesawat rusak, sehingga mengganggu tik-tok rute. Dan akan lebih parah lagi saat ada beberapa pesawat rusak/maintenance sekaligus, dan itu di masa ramai (peak season), ketersediaan pesawat shortage. Bagaimana solusinya? Seharusnya maskapai menyediakan pesawat cadangan, tidak semua terbang, jadi ketika ada yang rusak, bisa segera diganti, dan penumpang bisa segera berangkat. Apakah maskapai menyiapkan pesawat cadangan? Seharusnya iya. Tapi pertanyaan berikutnya, apakah mereka benar-benar serius menyiapkan pesawat cadangan yang cukup? Karena markir satu pesawat itu mahal, apalagi kalau markir hingga 3 pesawat cadangan. Jangankan pesawat, menyiapkan mesin pesawat cadangan saja sudah puluhan milyar. Ini bisnis semua.
Pemerintah bisa hadir sebagai regulator yang memaksa maskapai manapun, agar hal-hal ini disediakan. Tidak bisa ada alasan apapun. Bagaimana memaksa maskapai? Mudah. Misalnya, contohlah Uni Eropa. Di sana, setiap delay lebih dari tiga jam, maskapai wajib memberikan kompensasi cash hingga 600 Poundsterling, atau 11 juta. Nah, dengan kompensasi sebesar itu, maskapai pasti mikir. Tidak perlu hingga 11 juta, cukup 2-3 juta, mereka pasti mulai berhitung, aduh, ternyata akan lebih murah kalau kami menyiapkan pesawat cadangan sajalah. Juga menyiapkan pilot/kru cadangan (karena ini juga bisa bikin delay), dan semua plan B, C, D, E untuk menghindari delay. Maskapai mulai serius memperbaiki banyak hal.
Sialnya, sekarang, delay itu kompensasinya hanya ecek-ecek, dikasih minum, dikasih makan, dan uang 300.000 (yang ngambilnya juga susah ampun2an). Dalam situasi seperti ini, jangan berharap mereka akan serius, maskapai akan tertawa: "Ah, mending saya kasih makan saja, daripada harus bikin banyak plan yang tidak efisien.". "Mending saya kasih kotak snack saja daripada hilang uang untuk hal lain."
Apakah pejabat pemerintah tidak tahu soal ini. Ya tahulah. Mereka itu pintar-pintar semua. Tulisan saya ini pun tidak saya tujukan ke mereka, tapi saya tujukan ke kalian, agar memahami situasinya. Saat semua orang aware masalah ini, beramai-ramai, masyarakat bisa mendorong pejabat pemerintah agar berani mengambil kebijakan. Berani membuat regulasi.
Kenapa kita butuh pemerintah? Karena mereka bisa membuat regulasi, kemudian mengawasi regulasi tersebut. Lantas menghukum siapapun yang tidak taat. Sesimpel itu.
Apakah mereka berani membuat regulasi serius untuk urusan delay ini? Itu misterinya.

Saya sepakat sekali dengan kalimat ini: Jodoh itu tidak mungkin tertukar. Tapi keduluan orang lain mungkin saja.
Jadi, segera lulus sekolah, kerja, mandiri, biar bisa melamar anak orang. Bukan sebaliknya pacaran mulu, ngakunya tidak siap2.

Tamak kekuasaan itu adalah ketika: suaminya habis berkuasa, giliran istrinya yang mencalonkan diri. Habis istrinya, giliran anaknya yang mencalonkan diri.
Dan selalu saja alasannya: "kalau mampu, kenapa tidak?", "kalau masih dipilih, kenapa tidak?". Sistem demokrasi ini menjadi alat pembenaran yang mulus sekali. Hingga orang2 lupa, dalam sistem ini, koruptor pun masih bisa terpilih. Satu suara preman setara dengan satu suara profesor.
Banyak sekali contohnya. Seolah jabatan itu warisan, yang bisa diwariskan ke anak-anaknya.

*Asumsi Menyesatkan
Media sosial ini kadangkala membuat kita meletakkan asumsi yang keliru dan naif sekali.
Saya kasih misal, ketika kita membaca tulisan orang lain yang mengingatkan seorang pemimpin; maka tidak otomatis tulisan itu bermaksud menyerang pemimpin tersebut. Kita saja yang tidak tahu, kalau penulisnya siang malam justeru berdoa demi kebaikan pemimpin tersebut. Siang malam kongkret ikut mensukseskan cita-cita pemimpin tersebut. Lantas kenapa kita menyimpulkan demikian? Karena kita menggunakan asumsi diri kita sendiri. Karena kita selama ini, jika mengkritik orang lain, maka otomatis nafsu menghancurkan, menjelek2an muncul semuanya. Lupa, bahwa itu asumsi keliru dan naif sekali, orang lain tidak begitu semua, tidak seperti kita.
Contoh kedua, ketika kita membaca tulisan orang lain yang berseberangan kelompok dengan kita; maka tidak otomatis, penulisnya benci dengan kelompok kita. Kita saja yang tidak tahu, kalau penulisnya justeru lemah lembut, sayang, dan senantiasa hormat dengan kita. Selalu menghargai dan bahkan membantu kelompok kita. Lantas kenapa kita mudah sekali menyimpulkan begitu? Karena kita menggunakan asumsi versi kita saja. Sebab selama ini, jika kita benci dengan kelompok lain, benci dengan pendapat orang lain, kita akan benar-benar merah padam, mengumpat, mengeluarkan kata-kata hinaan. Kita lupa, orang lain tidak otomatis begitu, orang lain tidak seperti kita.
Di media sosial ini, kita tidak bisa menggunakan asumsi diri sendiri. Kita tidak bisa mudah sekali menyimpulkan ini itu hanya berdasarkan versi kita saja. Dan ingat loh, persoalan ini, bukan cuma soal tulisan2 serius seperti konstelasi politik, dll. Juga menyangkut postingan lain sehari-hari. Bahkan hal simpel misalnya: gebetan kalian diam-diam posting status "Eh kamu hari ini cantik sekali dengan baju merah." Jangan buru-buru berteriak horeee, dia muji aku, dia bilang aku cantik, karena itu asumsi kita sendiri, dan kita memakai baju merah hari ini. Boleh jadi gebetan kalian itu justeru sedang memuji gadis lain. Kan jadi malu, sudah GR mati-matian, ternyata asumsinya keliru.
Juga sama dengan kasus, ada orang yang memposting: "Aku baru tahu kalau dia punya panu di pantat." Aduh, jangan pernah dengan cepat berasumsi yang memposting sedang nyindir kita, lantas kita ngamuk nulis komen: "Kurang ajar, kalau berani ngomong langsung, oi. Jangan nyindir." Tuh, kan, belum jelas apa maksud postingan itu, kita sendiri telah mengumumkan dan mengakui, kalau kita punya panu di pantat. Padahal yang nulis postingan maksudnya bilang dia baru tahu kucing kesayangannya punya bercak kayak panu di pantatnya. Jadilah semua orang tahu kita punya panu.
Berhentilah meletakkan asumsi yang keliru dan naif sekali atas setiap postingan orang lain. smile emotikon
Media sosial ini persis seperti majalah dinding, semua orang bisa meletakkan tulisan di mading itu. Sebagai pembaca, maka kita berdiri tegak membaca, tidak perlu bereaksi berlebihan. Jika tulisannya lucu, kita tertawa, berkomentar secukupnya. Jika tulisannya penuh inspirasi, kita mengangguk takjim, berkomentar secukupnya. Jika tulisannya bermanfaat, kita bagikan, kita pahami, berkomentar secukupnya. Jika tulisannya lebay, jelek, tidak sependapat dan sebagainya menurut kita, pun sama, cukup berhenti dibaca, pindah ke tulisan lain, tidak perlu habiskan waktu untuk tersinggung, komentar marah, apalagi memaki. Karena boleh jadi, maksud tulisan tersebut tidak seperti yang kita pikirkan.
Sepakat? Baik.
Adios.

Tentu saja sering ngintipin timeline, dinding akun orang lain itu tidak selalu otomatis bisa dibilang stalking, kepo. Boleh jadi itu termasuk strategi intelijen demi masa depan. Termasuk setidaknya buat menghibur hati.
Asal jangan berlebihan saja, apalagi kalau tiba2 malah jadi sedih tanpa sebab. Itu ganjil sekali, yang nyuruh kepo nggak ada, eh malah sedih sendiri.

Karena kita sudah memaafkan, sudah tidak sedih lagi, maka bukan berarti kita siap untuk kembali menghadapi situasi menyakitkan. Tidak.
Karena kita kuat, karena kita bisa berdiri tangguh, maka bukan berarti kita bisa disakiti oleh siapa saja. Jangan mau begitu.

Tidak ada yang bisa dilupakan, termasuk sekalipun kita memang tidak ingat lagi. Karena boleh jadi, di sisi2 lain, hal tersebut tetap diingat hingga kapanpun.
Jika kita tidak bisa memahaminya dari sisi yang tidak ingat lagi, maka cobalah dari sisi yang hingga kapanpun tetap mengingatnya. Dengan demikian, semoga kita selalu bisa menghormati perasaan-perasaan yang sempat bersinggungan dengan hidup kita.

Kalau menangis bisa menyelesaikan masalah, maka urusan lebih gampang. Sayangnya tidak, menangis bahkan bisa menambah masalah--seperti mata merah, bengkak, sembab.
Silahkan menangis, secukupnya, seperlunya. Lantas hapus air matanya, berdiri gagah menyusun rencana, mulai beraksi. Kongkret.

Mencari ilmu jauh lebih mendesak dibanding kekayaan atau ketenaran.
Karena ilmu akan menjaga kita dengan baik; sedangkan kekayaan atau ketenaran? Kitalah yang harus menjaganya habis-habisan.

Menulislah, karena yakin tulisan kita bisa mengubah.
Menulislah, karena yakin tulisan kita bisa menghibur.
Menulislah, karena yakin tulisan kita bisa menemani.
Menulislah, dengan keyakinan bahwa itu bisa merubah, menghibur dan menemani Jangan pedulikan jumlah komen, jumlah like, jumlah pengunjung. menulislah! Karena dunia ini akan jauh lebih baik jika semua orang pintar menulis —bukan pintar bicara.
Menulislah!

Ketika kita dalam masa-masa gelap hidup kita, maka lazim sekali jika yang kita sangka teman-teman akan pergi. Keluarga pun bahkan tega pergi. Sungguh, dalam kegelapan, bahkan bayangan kita sendiri saja ikut pergi.
Hanya "pemahaman baik" yang akan menjadi teman sejati kita. Menetap, menemani. Dan mata air pemahaman paling jernih adalah agama kita. Nasehat-nasehat agama kita. Jangan pernah ditinggalkan.
Agar besok lusa, ketika bayangan sendiri pun telah pergi, kita masih punya teman terbaik.

Hanya orang2 kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu.
Meski sakit hati, menangis, marah2, sebal, sekali pada akhirnya bisa tulus melepaskan, dia sudah berhasil menaklukkan diri sendiri.

Terlarang sekali mencari-cari kesalahan orang lain. Dikeduk-keduk, diaduk-aduk, hingga nemu. Haram hukumnya.
Larangan itu bukan di KUHP, bukan di KUHAP, tapi di kitab suci.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” -- Al Hujurat 12
Berhenti melakukannya, sebelum Allah membuka lebar-lebar kesalahan kalian di dunia, pun kelak di akherat, bertambah-tambah terbukanya.

Salah-satu teman terbaik kita adalah buku-buku yang baik. Menyenangkan dan bermanfaat menghabiskan waktu bersama teman yang satu ini.
Tidak bermanfaat sekarang apa yang kita baca, esok lusa insya Allah berguna.

Di jaman modern ini, definisi sahabat yang baik itu bisa diibaratkan seperti "copy" dan "paste".
Saling melengkapi, saling membutuhkan.

Jangan membawa barang2 yang tidak diperlukan dalam perjalanan. Singkirkan yang tidak perlu dan yang berat-berat, paling membebani. Biar perjalanannya santai dan asyik.
Pun sama, jangan membawa 'barang2' yang tidak perlu dalam hati kita. Tinggalkan. Buang. Jangan mau sumpek dan membebani diri sendiri. Biar kehidupan kita juga asyik.

Ketika seseorang ingin pergi, maka jangankan 10 alasan, punya 100 alasan baik untuk tetap tinggal pun, dia tetap pergi.
Tetapi ketika seseorang memutuskan ingin bertahan, maka jangankan 100 atau 10 alasan, bahkan ketika dia tidak punya alasan lagi--hanya tersisa harapan dan keyakinan, dia akan tetap bertahan.

Akar dari seluruh perasaan sejati adalah: menunggu
Mahkota dari segenap perasaan adalah: melepaskan
Yang pergi akan kembali; yang hilang akan diganti.

(1)  Pamer atau riya adalah sesuatu yang bagai semut hitam, berjalan di atas batu hitam, di tengah gulita malam. Benar-benar susah dilihat. Tahu-tahu sudah hinggap di hati kita.
(2)  Hampir setiap jengkal media sosial ini dipenuhi oleh kesempatan untuk riya. Pamer. Mulai dari status, foto, dsbgnya.
(3)  Sekali sebuah amal baik, kebajikan, dihinggapi oleh riya, maka binasa sudahlah amalan itu.
(4)  Dengan tiga fakta tersebut, maka berhati-hatilah. Berhati-hatilah dengan yang kita tuliskan jadi status, foto-foto yang kita posting. Ada banyak hal yang tidak perlu dibagikan. Termasuk di dalamnya berdoa, update amalan, hingga foto-foto yang berlebihan.

Barangsiapa yang rajin berdoa di dunia nyata, maka dia tidak perlu lg berdoa di dunia maya.
Barangsiapa yang menyibukkan diri beribadah di dunia nyata, maka dia tidak perlu lg sibuk menyebut2 ibadah tsb di dunia maya.

Bedanya berdakwah dengan pamer/riya:
1. "Mari dirikanlah shalat malam".
2. "Alhamdulillah, hari ini shalat tahajud."
Kalian bahkan bisa dengan mudah membedakannya. Coba pilih 1 atau 2? Saya tahu, semua itu tergantung niat. Tapi "niat" tidak bisa dijadikan argumen untuk ngeles.

sumber : Facebook Tere Liye

Tidak ada komentar: