Rabu, 01 April 2015

status ((bagian ke empatpuluh empat))


Beras mahal --> mafia, ada yang bermain2.
Daging mahal --> mafia, ada yang sengaja.
Gas 3 kg mahal --> mafia, ada yang nimbun.
Semua salah mafia. Nasib tinggal di "Negeri Para Bedebah", ada masalah, mari salahkan mafia.

Kita tidak lagi melawan penjajah dari luar.
Hari ini, kita justeru melawan penjajah dari bangsa sendiri, yang lebih kejam dan mengenaskan. Yang berwajah domba tapi hatinya serigala.

Orang bawa bantal, belum tentu akan tidur. Orang bawa handuk, pun belum tentu bakal mandi. Orang yang bawa piring, juga belum pasti akan makan.
Di dunia ini banyak sekali yang sudah terlihat begitu, ternyata memang belum tentu akan begitu. Termasuk salahsatunya, orang2 yang perhatian sama kita, belum tentu memang suka, memang sayang sama kita. Mungkin saja dia memang perhatian dan baik ke semua orang, atau kitanya yang korslet, merasa GR duluan.

Jangan kecil hati jika kitalah yang bekerja habis-habisan, orang lain hanya menonton. Dan saat selesai, orang lain itu yang justeru jumawa bilang dialah yang melakukannya. Mengklaim, mengambil semua 'piala'.
Jangan sakit hati, santai saja. Terus fokus mengerjakan hal lain yang lebih menantang. Orang lain itu sih dicuekin saja.
Karena besok atau lusa, semua orang akan tahu, siapa yang memang bekerja, siapa yang bicara saja--dan hanya itulah kemampuannya.

Adik2 sekalian, Emak itu tidak selalu ingin naik haji, kadangkala lebih sederhana keinginannya: Emak ingin kita wisuda; Emak ingin kita lulus cepat, Emak ingin kita diterima di sekolah yang bagus; Emak ingin kita dapat kerja yang baik.
Jadi, jangan kelamaan main gagdet. Apalagi lebih lama buka HP daripada buka buku.

Ketika kita bisa mengingat sesuatu dengan detail, tapi tidak terasa menyakitkan lagi; maka itu berarti hati kita telah sembuh.
Sebaliknya, ketika kita tidak bisa lagi mengingat sesuatu dengan detail; tapi entah kenapa tetap terasa sesak menyakitkan; maka itu berarti kita belum berhasil melepaskan dengan tulus.

Kalian yang punya batu akik nggak usah berlebihan. Itu cuma batu, hanya perhiasan.
Dan toh, sebelum kalian punya batu akik, Nyak, Ibuk, Emak kalian di rumah bahkan sudah sejak lama punya batu. Lebih besar. Dan lebih fungsional: Batu Ulekan. Buat ngulek sambal.
Emak nggak pernah menganggap batu ulek itu bisa membawa berkah, bertuah, apalagi munculin aura. Kagak. Jadi kenapa anak-anaknya malah lebay memuliakan batu akik? Seolah batu akik bisa membawa rezeki, dsbgnya? Siapa yang ngajarin kalian? Penjual batu akik? Ya iyalah, tipu-tipunya pasti pol biar laku mahal batunya. Tapi batu adalah batu. Hanya perhiasan. Hanya itu. Titik.

Kumpulkan seluruh batu di dunia ini, tidak ada apa-apanya dibanding Hajar Aswad. Batu di ka'bah. Kumpulkan semua batu, jual 1.000 kali lipat, tetap lebih mahal Hajar Aswad.
Pun meskipun Hajar Aswad adalah batu sepenting itu, Umar Bin Khattab cuma bilang: "Engkau hanyalah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat atau bahaya. Jika bukan karena aku melihat Nabi menciummu, aku tentu tidak akan menciummu."
Lantas kenapa Nabi mencium Hajar Aswad? Itu hanya simbol kerinduan, sama seperti kita shalat, sujud, wajah kita mencium lantai; bukan berarti kita menjadikan sajadah, keramik, tikar sebagai 'berhala', memang begitu gerakan shalat; simbol sujud kepada Allah.
Kalau Hajar Aswad saja levelnya hanya batu biasa; apalagi batu-batu lain.

Batu adalah batu.
Jika ada yang percaya batu bisa memberikan aura, berkah, jauh dari bala, lancar rezeki, maka dia telah mundur bahkan lebih jauh dibandingkan jaman batu.
Batu adalah batu.
Posisinya hanyalah hiasan indah. Sedap dipandang mata. Sama seperti punya sepatu, atau pakaian bagus. Hanya itu.

“Orang-orang yang bersabar tidak otomatis hidupnya seindah definisi sabar tersebut. Dimata banyak orang, boleh jadi hidupnya biasa saja, menyedihkan malah.
Orang-orang yang jujur, tidak selalu hidupnya jadi semegah definisi jujur tersebut. Di mata banyak orang, boleh jadi hidupnya biasa saja, menyedihkan malah. Di mata banyak orang, boleh jadi hidupnya patut dikasihani, miskin sekali.
Tapi sesungguhnya, hidup ini bukan soal yang terlihat dimata orang-orang. Hidup ini adalah kebahagiaan. Dan jelas, kebahagiaan selalu bersemayam dalam hati masing-masing. Kitalah yang tahu persis bahagia atau tidak, bukan orang lain.
Kemudian, hidup tidak akan tertukar seperjuta mili.”

Ketika pasangan yang telah menikah berpuluh2 tahun, suami istri, salah-satunya meninggal, maka yang menyedihkan bukan melihat ada yang ditinggalkan, ada yang sendirian.
Melainkan saat menyaksikan yang terbaring kaku, tidak bisa lagi mengusap air mata di pipi yang duduk menangis di sebelahnya. Itulah hakikat kasih sayang. Ketika tiada lagi yang bisa menghibur kekasihnya.
Saksikanlah momen2 ini pada kakek-nenek kita, orang2 tua di sekitar kita, saat cinta mereka "dihentikan" oleh waktu. Belajarlah dari hal2 ini, cinta bukan sekadar gejolak masa muda yang singkat. Belajarlah dari orang2 tua kita, tidak perlulah terlalu percaya novel2 gombal (apalagi karangan Tere Liye).

Besok lusa, di tengah sesak pengapnya media sosial, boleh jadi akan banyak yang update status: "Lagi rakaat kedua shalat Isya, nih."
Itulah kenapa, Imam Syafi'i, ratusan tahun silam, bahkan sudah memberikan wasiat: cukuplah Allah yang tahu ibadah2 terbaik yang kita lakukan.
Urusan ini bukan soal memotivasi orang lain, menjadi contoh, dsbgnya. Urusan ini simpel tentang: kitalah yang tahu persis apakah sesuatu itu perlu diumumkan ke semua orang atau tidak. Ada yang perlu, ada yang tidak. Menahan diri, memikirkan minimal 2x sebelum menekan tombol "post", ditimbang2 sekali lagi, boleh jadi akan menjaga nilai ibadah tersebut. Pikirkanlah.

Biasanya orang yg sungguhan cinta, justeru sulit sekali mengatakannya. Keringetan. Malu. Takut. Gugup. Gemeteran.
Maka kalau ada yg naksir kalian, mudah sekali bilang, malah boros sekali nge-gombal, berhati2lah. Bukan malah cekikikan senang.
*Mbah-mu
Saya kutip berita ini dari detik.com (biar saya tidak salah tulis, terus nanti malah dilaporkan ke Bareskrim):
Razman Arief Nasution yang sukses menjadi pengacara Komjen Budi Gunawan (BG), dan saat ini menjadi kuasa hukum DPRD DKI melawan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) soal dugaan korupsi pengadaan UPS, terbelit kasus penganiayaan dan dihukum 3 bulan penjara sejak 2009. Namun sampai saat ini Razman belum menjalaninya dan masih bebas berkeliaran.

"Ini sekarang bola di tangan jaksa, berani atau tidak? Putusan sudah dari tahun 2010, ada apa ini?" kata ahli hukum pidana Universitas Soedirman (Unsoed) Prof Hibnu Nugroho ketika dihubungi, Selasa (3/3/2015). Razman telah diputus pidana penjara selama 3 bulan oleh Pengadilan Tinggi Medan. Kemudian Razman mengajukan kasasi dan ditolak oleh Mahkamah Agung (MA) melalui putusan MA nomor 1260 K/Pid/2009. Razman berkilah apabila dalam amar putusan MA tersebut tidak ada perintah untuk melakukan penahanan terhadap dirinya. Namun putusan MA itu menguatkan putusan sebelumnya yaitu pidana penjara 3 bulan.

Sementara itu, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) enggan berkomentar mengenai hal tersebut. Basuni menghindar saat ditanya awak media beberapa waktu lalu. "No comment," ucap Basuni Masyarif di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Jumat (27/2) lalu.

++++
Bayangkan, 5 tahun berlalu, dia tetap bisa berkeliaran, sama sekali tidak dieksekusi oleh Kejaksaan. Kenapa lima kali lebaran, Kejaksaan tidak mengeksekusinya? Ada apa sebenarnya?
Lantas, kasus BG mau diserahkan dari KPK ke Kejaksaan? Diserahkan ke lembaga, yang bahkan tidak berani hingga detik ini mengeksekusi pengacara ini? Itu baru pengacaranya. Bagaimana Kejaksaan menghadapi BG-nya?
Aduh, negeri ini bukan milik Mbah-mu, Tuan, Nyonya. Negeri ini milik Allah, dititipkan ke 250 juta orang di dalamnya.
Demi Allah, akan tiba, sungguh akan tiba hari di mana keadilan ditegakkan. Maka jangan bersedih hati, mari kita siapkan semuanya, mari kita rapatkan pemahaman.

Nah, akhirnya DPRD Jakarta meniru cara meng-KO pimpinan KPK.
Wakil Ketua DPRD telah menunjuk si Razman (salah-satu anggota geng pengacara BG yg sukses meyakinkan si Sarpin) melaporkan Ahok ke Bareskrim Polri dengan delik pemalsuan dokumen, dll. Sekali Ahok dijadikan tersangka oleh Bareskrim, selesai urusan Ahok. Non-aktif. Besok-besok, masuk penjara. Beritanya sudah muncul.
Mari kita lihat akan seperti apa tindakan Presiden kita. Kalau dia konsisten, dia tidak bisa mengintervensi polisi. Silakan saja Ahok membela diri di pengadilan. Masuk penjara karena delik abal-abal. Sementara kasus milyaran, triliunan, seperti biasa, dilupakan saja, Kawan. 

Pertanyaan: "Bang Tere bagaimana menyikapi kalau ada yang bilang suka sama kita."
Jawaban: "Gampang. Tanya sama dia, sukanya itu 'suka aja' atau 'suka banget'. Kalau suka banget, bilang ke dia, monggo silahkan menghubungi ibu bapakku di rumah. Kalau cuma suka aja, ada banyak yang lebih penting diurusin."

27 Pejabat Tinggi/Senior Kepolisian Afganistan barusaja dipecat oleh Presidennya, karena indikasi korupsi. Termasuk komandan polisi Kabul (setara Jakarta). Presiden Afganistan yang berkuasa sejak September 2014, memulai reformasi habis2an di kepolisian mereka. Presidennya telah bersumpah akan menghabisi pejabat2 korup di negerinya (dan dia berani). Silakan baca berita ini di BBC, CNN, media internasional lainnya.
Afganistan? Negara itu bahkan baru saja perang. Tertatih mulai membangun negerinya setelah pertikaian panjang.
Indonesia? Hampir 70 tahun merdeka. Urusan satu Jenderal polisi saja susahnya minta ampun. Malah KPK, yang kemarin dijadikan komoditas kampanye presiden, buncah janji2nya, dibiarkan saja sendirian digebuki.

Jadilah orang2 yang ketika tiba waktunya, bisa mengatakan:
“Aku mencintaimu bahkan sebelum kita bertemu.” dan kita menerima jawabannya, “Aku bertahun2 mencarimu bahkan sebelum aku tahu apa yang kucari.”
Dan semua orang mengucapkan selamat berbahagia, menempuh hidup baru, semoga langgeng sampai aki-nini.

Presiden,
Anda tidak akan dikenang karena blusukan, kurs dollar, apalagi duduk diapit Obama dan Putin. No way! Bahkan Soeharto yang bisa membuat harga pangan murah saja orang sudah lupa.
Anda akan dikenang jika berdiri di depan memerangi korupsi. Anda bersedia mati demi perang terhadap Jenderal korup, Jaksa, hakim korup, termasuk pemimpin partai korup saat dia berkuasa.

Pelimpahan kasus BG ke Kejaksaan adalah bukti betapa kuatnya kroni tersangka kasus rekening gendut puluhan milyar.
Kalau Presiden itu memang peduli soal pemberantasan korupsi, dia akan menyuruh KPK terus menyelesaikan kasus ini. Karena itu tugas KPK. Bahkan dia akan menyuruh KPK menyelidiki kasus BLBI sekalian, kasus Century dan semua kasus yang menguap begitu saja. Toh, Presiden tetap membiarkan kasus pimpinan KPK diproses Polisi.
Minggu-minggu ini, internal KPK akan mengalami pergolakan. Penyidik, staf KPK tidak akan terima situasi ini. Enak saja, kasus BG dilimpahkan ke kejaksaan, tapi 2 pimpinan KPK tetap dijadikan tersangka (atas kasus numpang Kartu Keluarga dan kasus abal-abal). Semoga mereka diberikan kekuatan melewati masa-masa sulit.
Demi Allah, akan selalu datang pertolongan bagi orang-orang yang terus bahu-membahu menegakkan sisa-sisa keadilan di muka bumi. Tidak hari ini, besok pasti akan tiba.

*Dibalas Setimpal
Seorang gadis India, usia 23 tahun, diperkosa enam orang, di malam hari. Setelah diperkosa, gadis ini dibunuh.
Dalam pengadilan, juga saat diwawancara media, salah-satu pelakunya, dengan santainya membuat pembelaan diri sebagai berikut:
1. Pemerkosaan itu salah si gadis tersebut. Karena dia keluar malam hari. Coba kalau dia tidak keluar malam-malam, tidak akan kejadian.
2. Pembunuhan itu juga salah si gadis tersebut. Karena melawan saat diperkosa. Jika tidak melawan, dia tidak akan dibunuh.
Saya tidak kaget dengan pembelaan seperti ini. Apanya yang aneh? Di negeri kita, bukankah banyak hal yang sama menjijikkan ketika pelaku kejahatan membela diri? Kasus korupsi misalnya, kalian ikuti saja pengadilannya, maka berserakan, logika yang sama persis seperti yang digunakan oleh pemerkosa di India itu.
Hingga saya hafal sekali, pelaku kejahatan korupsi akan selalu menggunakan fase berikut untuk membela diri:
1. Bantah habis-habisan. Bila perlu sogok, suap penegak hukum. Buat alasan, serangan balik, dsbgnya. Gunakan kekuasaan dan harta benda. Jangan sampai masuk pengadilan.
2. Jika gagal, tetap masuk pengadilan, maka mengaku lupa, tidak ingat, bukan saya, dsbgnya. Putar balikkan fakta.
3. Jika tetap terbukti, terdesak. Mulai jurus berikutnya, salahkan orang lain, kenapa orang lain tidak dihukum seperti saya.
4. Jika gagal juga, maka mulailah rumus terakhir: seret siapapun, enak saja, saya tidak mau masuk penjara sendirian.
Itulah kenapa, menegakkan keadilan itu tidak mudah. Itulah kenapa, semua orang harus mendukung lembaga seperti KPK. Karena kalian harus tahu, kembali lagi dalam kasus pemerkosaan di India tadi, banyak loh yang sependapat dengan pelaku pemerkosa. Bersimpati kepada pelakunya, menyalahkan korbannya, meski terang-benderang tindakan memerkosa itu sangat menjijikkan. Apalagi dalam kasus korupsi, ketika semua bisa dibuat sumir, fakta dibolak-balik, bersilat lidah, seorang koruptor di negeri ini bahkan yang pernah masuk penjara sekalipun, bisa menang dalam pilkada, pileg. Koruptor itu tidak bertobat, karena kalau mereka bertobat sungguh2, mereka justeru akan berhenti dari dunia politik.
Terakhir, saya sengaja menggunakan contoh pemerkosa India dalam catatan ini. Karena sejatinya, koruptor itu sama kejinya dengan pemerkosa. Mereka memerkosa hak orang banyak, lantas kemudian merasa tidak bersalah, tertawa, terkekeh di atas mobil mewah, rumah megah, melihat hina orang banyak yang telah dia perkosa. Bergaya sekali, bisa berkeliaran bebas, terhormat--padahal sejatinya sangat hina dina. Saat ditangkap sekalipun, sudah divonis sekalipun, mereka tetap tertawa ceria di depan kamera. Persis seperti pemerkosa di India itu.
Saya percaya, Allah itu adil. Koruptor alias pemerkosa boleh saja lolos dari hukuman di dunia ini, tapi besok lusa, mereka akan menerima azabnya. Termasuk orang-orang yang mendukung, membelanya. Akan dibalas setimpal setiap butir debu perbuatan mereka.

Ketika kita tidak bisa melupakan sesuatu, kejadian, atau seseorang, maka bukan berarti kita tidak bisa terus beranjak maju.
Dengan terus melangkah, cepat atau lambat, semua beban kenangan akan tertinggal di belakang.

Kebanyakan sahabat baik, terjadi dengan alami begitu saja. Tidak pernah tahu persis kenapa jadi dekat. Cocok satu sama lain dengan sendirinya, kompak, dan bersama-sama dengan sendirinya. Meskipun tentu saja ada yang menjadi sahabat baik setelah bertengkar hebat.
Tapi apapun itu, selalu menyenangkan memiliki sahabat baik. Yang saling memotivasi, mengingatkan hal baik, menemani dalam situasi apapun. Jadilah salah-satu dari mereka.

*Sajak "Meletakkan Cinta"
Cinta itu bukan soal kebersamaan apalagi memiliki.
Melainkan pada ingatan yang diletakkan di hati kita masing2, pun dalam doa2 yang dipanjatkan dalam senyap.
Itulah kenapa, kalaupun kita tidak memiliki seseorang/sesuatu, tidak bersama dengannya, atau malah dibenci karena salah paham, perbedaan, atau memang simpel karena tidak suka (apapaun alasan tdk suka tersebut), kita tetap selalu bisa menyebutnya dengan kata cinta.

Jika cinta tidak butuh alasan, maka putus pun sama sekali tidak butuh penjelasan. Cukup selesai saja.
Menarik kalau mau dipikirkan.

Punya pacar itu tidak pernah menjadi kebanggaan.
Tapi punya sahabat sejati yang baik, itu adalah istimewa.
Bahkan Nabi pun, dikelilingi sahabat terbaik.

Urusan perasaan sejati adalah perkara kepastian.

Ada tiga "sebelum" yang tidak bisa dinasehati:
1. Pemalas, sebelum dia beranjak mulai bekerja
2. Banyak bicara, sebelum dia menutup mulutnya
3. Sok tahu, sebelum dia akhirnya merasa bodoh

*Mengadu Nyawa
Saya kutipkan berita (juga fotonya) dari website Tribunnews. Anak-anak ini bukan Chuck Norris, tapi mereka terpaksa menjadi petualang menantang maut setiap berangkat sekolah. Sudah setahun, puluhan murid SD Inpres 657 Hulo, Kahu, Bone, Sulsel berangkat sekolah melewati tali-tali ini. Jika hujan, tali akan licin berlumpur, menantang maut melewatinya.
Paduka yang mulia, itulah kenapa perlawanan atas korupsi itu penting. Di mana-mana, ketika infrastruktur rusak, jembatan rusak, jalan rusak, itu karena mental pejabatnya yang korup. Anggarannya dikorup, proyeknya dikorup, semuanya dikorup. Apakah kita tidak punya uang untuk membangun satu jembatan agar anak-anak ini bisa lewat dengan aman? Apakah kita tidak punya kepedulian? Mata hati pejabat sudah hitam legam, disiram oleh tabiat korup.
Masalah bangsa ini bukan soal kerja, kerja dan kerja. Rakyat kita dikenal sebagai pekerja keras sejak jaman kerajaan dulu. Tanpa dibantu pemerintah pun, jutaan rakyat Indonesia telah bekerja menopang perekonomian. Masalah kita adalah: korupsi. Bereskan korupsi ini, maka dengan sendirinya, banyak masalah akan selesai.
Maka Anda, Paduka yang mulia, berdirilah di depan, menghunus pedang penegakan hukum di negeri ini. Berantas korupsi hingga ke akar-akarnya. Bukan sebaliknya, memilih diam, memilih menghindar ketika KPK digebuki oleh semua pihak. Memilih bungkam ketika penegak hukum (polri) justeru memberikan rasa tidak aman.
Saya tidak sedang nyinyir, kecewa, apalagi benci. Saya justeru sayang sekali. Toh, kalaupun tulisan ini gagal menghampiri hati para pejabat, tulisan ini tidak akan meleset tiba di hati pembaca page ini. Anak-anak muda yang besok lusa akan menjadi pemimpin. Ratusan ribu jumlah mereka di sini, satu saja di antara mereka memahami masalah ini dengan baik, kemudian kelak menghunuskan pedang menegakkan hukum, misi tulisan ini telah paripurna.

*Sajak "Tidak"
Tidak mengapa jika kita sekarang sedih,
Dengan begitu, besok lusa saat bahagia
Kita bisa sungguh-sungguh berterima-kasih
Tidak mengapa kita sekarang sendiri,
Besok lusa, kita bisa memahami lebih baik
Definisi kebersamaan yang selalu menemani
Bukan masalah jika kita sekarang melakukan kesalahan,
Hei, orang-orang bijak lahir dari setiap kesalahan
Yang membuatnya semakin matang bertindak
Tidak masalah jika kita masih penakut
Dengan begitu kita bisa belajar
Mana ketakutan sekadar ilusi, mana yang nyata
Tidak mengapa kita masih lemah dan kurang
Ketahuilah, orang kuat adalah yang bisa mengetahui
Setiap jengkal kelemahan miliknya
Terakhir,
Jangan cemas jika kita sekarang ditinggalkan
Sungguh, orang-orang yang setia menunggu
Adalah orang yang paham sekali sakitnya ditinggalkan

Ada tiga hal yang sebaiknya didahulukan:
1. Pandai mencintai diri sendiri, sebelum kita mencintai orang lain.
2. Berterima kasih atas yang telah dimiliki, sebelum bicara tentang apa yang belum dimiliki.
3. Bersyukur atas detik-detik yang dilalui sekarang, sebelum mengenang masa lalu, pun membayangkan masa depan.
Dengan demikian, semoga kita berada dalam realitas hidup yang baik dan sebenar-benarnya, bukan hidup dalam angan diri sendiri, apalagi bayangan orang lain.

Ada tiga "selalu" yang pantas dimiliki:
1. Selalu sederhanakan masalah kita. Jangan dibuat rumit, jangan dibuat panjang.
2. Selalu berpikir positif. Pun saat situasi memang negatif sekali, berpikir positif akan membantu kita.
3. Selalu belajar melepaskan. Pada akhirnya, toh, tidak ada yang sebenarnya kita miliki, bukan?

“Menunggu bukan pekerjaan sabar atau tidak sabar. Menunggu adalah pekerjaan bermanfaat atau tidak bermanfaat.
Menunggu bukan pekerjaan setia atau tidak setia. Menunggu adalah pekerjaan awal dan akhir prosesnya.
Siapa yang mengerti, akan berakhir dengan pribadi lebih baik,
meskipun yang dia tunggu tidak pernah datang kembali.”


*Melupakan
Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yg membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yg pernah kita sayangi, hal2 indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tsb.
Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh2, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.
Bagaimana mengatasinya?
Justeru resep terbaiknya adalah kebalikannya. Logika terbalik. Apa itu? Mulailah dengan perasaan tenteram terhadap diri sendiri. Berdamai. Jangan lari dari kenangan tersebut. Biarkan saja dia hadir, bila perlu peluk erat. Terima dengan senang hati. Bilang ke diri sendiri: "Sy punya masa lalu seperti ini, pernah dekat dengan orang menyakitkan itu, sy terima semua kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega, karena sy tahu, besok lusa sy bisa jadi lebih baik--dan semua orang berhak atas kesempatan memperbaiki diri." Letakkan kenangan tsb dalam posisi terbaiknya.
Maka, mekanisme menakjubkan akan terjadi. Perlahan tapi pasti, kita justeru berhasil mengenyahkan ingatan itu. Pelan tapi pasti, kenangan tersebut justeru menjadi tidak penting, biasa-biasa saja. Dan semakin kita terbiasa, levelnya sama dengan seperti kenangan kita pernah beli bakso depan rumah, hanyut dibawa oleh hal2 baru yg lebih seru. Ketahuilah, racun paling mematikan sekalipun, saat dibiasakan, setetes demi setetes dimasukkan dalam tubuh, dengan dosis yang tepat, besok lusa jika kita tdk semaput oleh racun tsb, kita justeru akan jadi kebal. Apalagi kenangan, jelas bisa dibiasakan.
Itulah hakikat dari: jika kalian ingin melupakan sesuatu atau seseorang, maka justeru dengan mengingatnya. Terima seluruh ingatan itu.

Menikah itu secara "harfiah" adalah menjalani dan menjadi tua bersama dengan seseorang.
Bayangkan dua buah kursi di depan rumah. Sepasang anak muda yang baru menikah duduk di sana menatap jalanan ramai. Lantas, wusshh, 50 tahun berlalu, sekarang sepasang kakek-nenenk duduk di atas kursi (yg sudah berganti berkali2). Tetap bersama, tanpa terasa, beranjak semakin tua.

Jaman dulu, ketika Rasul Allah berkuasa, apa yang dimakan beliau, sama dengan apa yang dimakan rakyatnya.
Apa yang menjadi rumah beliau, sama dengan apa yang ditinggali rakyatnya. Apa yang menjadi tikar beliau, sama dengan apa yang dipakai rakyatnya. Apa yang menjadi pakaian beliau, sama dengan apa yang dikenakan rakyatnya. Bahkan dalam banyak kesempatan, beliau jauh lebih sederhana, manusia paling mulia itu jauh lebih bersahaja.
Hari ini, pemimpin dan pejabat negeri ini terbalik bablas. Di meja makan mereka terhidang makanan lezat, rakyatnya cuma seonggok piring berisi nasi sepotong lauk sudah bagus. Rumah dan tanah mereka berserakan, rakyatnya bahkan harus kredit 30 tahun baru lunas. Kasur2 mereka empuk, jas mahal jutaan rupiah, jam tangan puluhan juta, rakyatnya beli baju di pasar loak.
Tidak sampai nasehat agama. Sungguh tidak sampai.

*Dagelan yang tidak lucu
Kalian harus tahu, Mukti Ali, pedagang sapi yang dijadikan tersangka korupsi, melakukan upaya preperadilan. Yang menjadikan tersangka si Mukti Ali adalah Reskrim Polres Banyumas per 28 Agustus 2014. Setelah sidang praperadilan, hakim akhirnya menolak mentah-mentah, menyatakan praperadilan tidak bisa membatalkan status tersangka, keputusannya baru saja dikeluarkan. Dalam kasus ini, Polda Jateng membantu Polres Banyumas, menyiapkan pengacara, dll. Polisi menang.
Nah, inilah hukum manusia yang penuh dagelan. Karena belum kering ingatan kita, BG, si calon kapolri yang dijadikan tersangka oleh KPK, melakukan upaya praperadilan, dan oleh hakim Sarpin, BG (polisi) dimenangkan, dan menyatakan penetapan tersangka termasuk obyek pra-peradilan. Kok bisa jadi aneh begini? BG dibebaskan dari tersangka. Sedangkan Mukti Ali tetap jadi tersangka. Siapa yang sesat, siapa yang bablas dalam kasus ini? Apakah hakim yang menolak Mukti Ali. Atau hakim yang membebaskan BG?
Kita semua tahu sekali permasalahan ini. Kita tahu sekali siapa yang sesat dan bablas. Tapi entah kenapa pemimpin tertinggi negeri ini tutup mata. Orang hebat itu seperti tidak peduli lagi. Selalu menghindar jika ditanyakan soal BG--seperti akan tumbuh bisul jika bahas-bahas soal itu. Hei, tidak perlu pakar hukum untuk memahami: hello, jika penetapan tersangka bisa dibatalkan oleh praperadilan, maka maling ayam pun akan minta praperadilan jika dia punya uang untuk membayar pengacara (termasuk mungkin membayar lain2nya). Dan kita semua kemudian menghabiskan waktu untuk masalah2 teknis, melupakan substansi pentingnya.
BG itu adalah kasus tentang rekening jenderal Polisi yang isinya puluhan milyar. Itu kasus serius sekali. Jika petinggi Polri itu bersih, bisalah kita berharap negeri ini akan mulai menuju masa jayanya. Ini bukan kasus ecek-ecek. Baiklah, mari kita anggap pimpinan KPK si AS dan BW berengsek, mereka memang bedebah, tapi bukan berarti kita melupakan substansi masalah. Karena jika situasinya, KPK sekarang dibiarkan dihabisi, dikeroyok, dicabik2, dari luar dan dari dalam, sementara substansi masalahnya dilupakan, maka pertanyaannya akan berubah: Siapa sebenarnya yang berengsek dalam situasi ini? Siapa yang sejatinya penakut dan pengecut? Siapa yang sedang dilindungi dan diuntungkan dari perubahan konstelasi pimpinan KPK? Entah apa yang ada di kepala pemimpin negeri ini, apakah mereka masih punya cita-cita negeri ini bebas korupsi atau tidak?
Catat baik-baik: Tanpa penegakan hukum, tanpa pemberantasan korupsi, percuma saja kita kerja, kerja dan kerja. Buat apa? Kita kerja keras agar ada uang yang bisa dikorup? Aih, lucu sekali. Coba dengar, mereka malah melemparkan wacana agar partai politik dikasih uang 1 triliun. Kerja, kerja dan kerja, semua rakyat disuruh kerja, agar ada uang pajak yang bisa mereka kunyah semaunya. Kita disuruh kerja agar orang2 tidak tahu malu itu bisa bagi2 duit 1 triliun gitu? Di tengah banyak anak2 tidak bisa sekolah, harga beras melambung, dsbgnya?
Tegakkan hukum dengan gagah perkasa, habisi koruptor, tanpa disuruh kerja pun, kami semua akan semangat kerja. Ketika kami yakin uang pajak kami memang digunakan sebaik2nya untuk rakyat banyak. Yang punya bisnis akan lega, tidak ada lagi pungli. Yang jadi PNS, dsbgnya, akan lega, karena tidak ada lagi nepotisme. Bahkan yang mau ngurus SIM, STNK saja akan lega, karena tidak ada lagi yang minta2 uang. Dengan suasana sebaik itu, rakyat akan bekerja dengan luar biasa.

Banyak orang lain yang lebih bahagia dibanding kita padahal:
Pakaian, rumah, kendaraan, makanan yang mereka miliki lebih sedikit dibanding kita. Pendidikan, sekolah yang mereka punyai lebih rendah dibanding kita. Pekerjaan, gaji, fasilitas, kesempatan yang dia punya lebih terbatas dibanding kita. Pun keluarga, rasa aman, rasa nyaman, lebih tiada dibanding kita.
Lantas kenapa mereka lebih bahagia hidupnya?

Setia, benci, suka, dendam, cinta, cemas, peduli, pergi, rasa sakit, sahabat, keluarga....
Semuanya adalah fungsi waktu.
Pada akhirnya, hakikat sejatinya akan terlihat seiring waktu.

*Soal dukung-mendukung
Kalian harus paham soal ini:
1. Mendukung prinsip2 kebaikan itu, bukan berarti melekat kepada mendukung orang atau kelompok. Melainkan nempel pada prinsip2 kebaikannya.
2. Orang atau kelompok akan berubah, tapi prinsip2 kebaikan akan tetap abadi. Repot sekali kalau dukungan hanya mengenal orang/kelompok, karena orang suci bisa jadi penjahat karena godaan dunia; pun sebaliknya, penjahat bisa menjadi orang baik karena keinsyafan.
3. Dalam situasi keadilan dirusak, prinsip2 baik dirusak, siapapun yang berdiri netral, tidak bersuara, diam seribu bahasa, maka sesuai kaidah apapun, maka orang tersebut termasuk mendukung kerusakan, mendukung kezaliman. Karena dia memilih tidak melakukan apapun.
4. Apa itu prinsip2 kebaikan? Banyak. Tapi yang paling mendesak di negeri ini adalah: keadilan, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, orang-orang yang zalim.
5. Esok lusa, jika page ini nempel pada orang/kelompok. jika Tere Liye punya label kelompok, silakan kalian pergi, kecewa. Tapi kalau kalian kecewa hanya karena idola, orang, kelompok kalian disinggung oleh tulisan page ini, itu sih "kekecewaan" abal-abal. Karena belum tentu juga tulisan itu lahir oleh kebencian, boleh jadi lahir karena kasih-sayang.
Semua orang terus berubah, kelompok2 juga selalu berubah sesuai kepentingan, tapi prinsip2 kebaikan akan abadi. Termasuk saya, besok lusa, boleh jadi berubah; tapi prinsip2 kebaikan yang kalian gigit akan abadi--saat itulah kalian bisa memutuskan dengan baik apakah saya masih berdiri di atas prinsip itu, atau tidak lagi. Giliran kalian mengingatkan.

Kita tidak bisa membangun satu jembatan gantung untuk anak-anak berangkat sekolah; tapi kita bisa membeli puluhan UPS 5 milyar satunya.
Kita tidak bisa memberi raskin (beras miskin) kepada nenek-nenek yang tinggal di kandang kambing; tapi kita mau saja memberi partai politik 1triliun.
Kita tidak bisa melindungi nenek-nenek pencuri demi sesuap nasi; tapi kita bisa melindungi rekening gendut puluhan milyar pun rekening2 lain penegak hukum.
Negeri Para Bedebah!!
Selama kami bisa menulis, maka kami tidak akan berhenti menyuarakan soal ini. Silakan. Kalian yang tidak suka pergi. Silakan. Kalian yang tersinggung membalasnya. Akan ada ribuan lainnya yang bersuara lantang.

Menkum HAM Yasonna Laoly menyetujui pemberian remisi dan pembebasan bersyarat (PB) bagi narapidana kasus korupsi, dengan argumen bahwa siapapun tidak boleh diperlakukan diskriminasi.
Rezim baru ini memang hebat sekali soal pemberantasan korupsi. Setelah KPK digebuki, kasus rekening gendut diredupkan. Entahlah, apakah mereka ini masih ingat dokumen Nawa Cita? Karena saya mencatat Nawa Cita urutan 4: "Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya."
Atau jangan-jangan, setelah mereka jadi penguasa, semua janji indah itu tinggal janji-janji saja. Apa sih prestasi mereka sejak berkuasa soal pemberantasan korupsi ini? Nol besar. Tidak ada terobosan megah, tidak ada langkah hebat.
Gombal saja.
*Tere Liye, murid berisik soal korupsi di media sosial

Fatimah pernah bilang ke Ali setelah menikah: "Maafkan aku, Kanda, karena sebelum menikah denganmu aku pernah jatuh cinta dengan seorang pemuda."
Ali bertanya: "Lantas kenapa kau tidak menikah dengannya? Kenapa kau menerima lamaranku? Apakah kau menyesal menikah denganku?"
Fatimah menjawab: "Pemuda itu adalah engkau, Kanda."
Kisah cinta paling romantis itu bukan Romeo & Juliet (yg malah mati bunuh diri), apalagi Laya Majnun (yg malah gila); film2, apalagi novel2 roman picisan Tere Liye. Bukan.
Kisah cinta paling romantis itu adalah kisah cinta Ali dan Fatimah. Mereka menyimpan rahasia itu erat2, bahkan setan pun tidak tahu. Mereka jatuh cinta diam-diam. Ali harus bersabar setiap kali mendengar kabar Fatimah dilamar laki-laki lain (nama2 tersohor sahabat Nabi); Pun Fatimah, lebih bersabar lagi. Karena sekali saja perjodohan2 tersebut terjadi, cinta dalam diam itu bisa gagal. Mereka berdua bersabar sambil terus memperbaiki diri, hingga Allah menakdirkan mereka menikah. Silakan baca buku2 baik tentang kisah ini.
Teladanilah mereka dengan baik. Bersabarlah.

Ada sesuatu yang jika memang sudah selesai, maka sudah demikianlah, tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menerimanya dengan lapang.
Kita tidak bisa lagi menyiram bunga yang sudah mati. Buat apa? Tidak akan tumbuh, tidak akan berbunga. Lebih baik, bersiap menanam bunga berikutnya.

Dalam urusan cinta sejati, tidak ada istilah temporer, main-main, dan tergantung mood. Sifat cinta sejati selalu permanen, serius, dan penuh komitmen.

Sebenarnya, kita lebih sering jatuh cinta kepada orang yang membuat kita nyaman, plus lucu, alias punya selera humor yang baik.
Lantas kenapa kita menghabiskan waktu untuk terlihat tampan, cantik, gagah, imut, dsbgnya?
Nyaman itu datang dari ahklak (prilaku) yang baik; Selera humor yang baik muncul dari pengetahuan yang luas.

Teman-teman terbaik sama seperti lagu favorit kita. Diulang-ulang menyanyikannya, selalu menyenangkan. Pun, jika ada lagu-lagu baru lainnya, posisinya tetap tidak tergantikan.
Silakan tag/panggil teman-teman terbaik kalian di kolom komen.

*Tips super biar kebal galau
Adik-adik sekalian, khusus yang masih sekolah/kuliah, berikut saya berikan tips super agar kalian kebal dari komplikasi keseleo perasaan:
1. Jangan mudah GR
Di sekolah, di kegiatan ekstra kurikuler, organisasi mahasiswa, jauhilah kebiasaan mudah GR. Selalu biasa-biasa saja dengan siapapun. Apalagi sampai menambatkan harapan berlebihan. Itu sangat berbahaya. Tapi bagaimana kalau orang lain yang GR dengan kita? Itu sih mudah mengatasinya, katakan dengan tegas, kalian tidak suka dia GR, kalian memilih fokus dengan sekolah/kuliah. Jangan ada tapi, tapi dan tapinya.
2. Kebiasaan kepo
Saya serius ini. Perasaan suka itu semakin besar karena kita sendiri yang membesarkanya. Kepo bin stalking, alias ngintip2, ingin tahu, bisa memupuk dengan cepat benih perasaan. Mulai dari kepo akun media sosial, kepo kapan dia lewat di gang depan rumah, kapan dia lewat di depan kelas. Hentikan sebelum terlanjur tumbuh. Karena sekali tumbuh subur, disiram dengan minyak pun dia akan tumbuh dua kali lipatnya.
3. Isi waktu dengan kegiatan produktif
Terakhir, pastikan waktu kita diisi dengan hal-hal produktif. Belajar, membaca, habiskan bersama keluarga, dan semua kegiatan produktif lainnya. Tapi bagaimana kalau saya menyibukkan diri dengan ikut ekskul panjat tebing, eh, ternyata justeru di ekskul itu saya malah nemu seseorang yang bikin galau? Maka, ingat kembali niat kalian ikut ekskul. Fokus pada ekskul-nya, bukan pada yang lain. Titik, jangan dikasih koma lagi.
Masa-masa muda kalian sangat berharga. Isilah dengan sesuatu yang positif dan bermanfaat. Tenang saja, jodoh tidak akan lari, yang pergi bisa kembali, bahkan yang hilang bisa muncul lagi jika jodoh. Akan tiba masanya ketika kalian bisa serius soal ini, dan saat itu tiba, kalian memang sudah siap.
Semoga bermanfaat.

Kesendirian itu adalah pilihan. Kita bisa memilih sendiri, dan tetap bahagia dengan situasi tersebut.
Tapi kesepian, dalam situasi tertentu, adalah makhluk yang berbeda lagi. Karena banyak orang yang justru merasa kesepian di tengah hiruk-pikuk ramainya dunia.

Bagi orang-orang yang memendam rindu, mencintai dalam diam, maka apa-apa yang ditunjukkannya hanyalah bagai gunung es di dalam samudera, hanya memperlihatkan pucuk kecil dari betapa besar perasaan itu di bagian dalamnya. Besarrr sekali yang tersembunyi.
Tapi bagi para tukang gombal, yang berceceran perasaannya di mana-mana, maka apa-apa yang diperlihatkannya itu justeru adalah semuanya, itupun dikali dua dengan lebay dan kepalsuan. Tidak ada lagi yang tersisa di bagian dalamnya. Sudah diobral habis.

Menyakitkan kalau kita hanya jadi alternatif orang lain. Cuma opsi, dibutuhkan karena tidak ada pilihan terbaik.
Tapi tidak mengapa, banyak orang yang hidup bahagia dengan kondisi tersebut, sepanjang kita terus membuktikan kita sejatinya adalah prioritas pertama dalam hidup ini. Cepat atau lambat, orang lain akan tahu hal tersebut.

Kadang, kita tidak tahu kenapa kita masih berharap.
Kadang, kita tidak tahu kenapa masih menunggu.
Kadang, kita tidak tahu kenapa tetap tinggal.
Maka, itulah salah-satu cabang sabar. Ketika kita "tidak tahu" misteri masa depan, tapi kita tetap melakukannya. Lengkapi dengan keyakinan Allah selalu punya skenario terbaik, sibukkan diri dengan hal positif fan bermanfaat, maka semoga bahagia selalu menemani kita.

Sakit hati, patah hati, dan sejensinya itu mudah sekali dipahami, dijelaskan.
Nah, yang susah dipahami itu adalah: jika kita sendiri yang mengalaminya

Lagu yang indah bahkan bisa memporak-porandakan hati seorang anak muda.
Ayo, ngaku saja. Lagu apa yang membuat kalian tiba-tiba jadi sentimentil.

Kita tidak bisa kehilangan sesuatu yang bukan milik kita bukan?
Sayangnya, bagi orang yang memendam perasaan diam-diam, pemahaman ini tidak berlaku. Dia bisa benar-benar kehilangan, saat seseorang dambaan itu ternyata menikah dengan orang lain. Padahal, jangankan memiliki, tahu pun tidak seseorang itu kalau dia mencintainya.
Nah, jika kalian salah-satunya, ingatlah nasehat lama itu: Apalah arti memiliki? Ketika diri sendiri pun bukan milik kita.

Happy atau sad ending perjalanan perasaan kita, itu hanya ukuran relatif. Boleh jadi menurut kita happy, tapi sejatinya sad ending, tanpa kita sadari kita telah membuat kerusakan. Boleh jadi menurut sad, tapi sejatinya justeru bahagia, Allah mencegah kerusakan.
Lantas apa yang absolut?
Yang absolut adalah penerimaan. Lapang hati apapun endingnya. Itu selalu absolut.

Orang lain boleh cinta kita, boleh jadi tidak cinta. Orang yang kita sayangi, boleh jadi kita miliki, boleh jadi tidak.
Tapi kita, mutlak mencintai diri sendiri. Sesedih apapun. Sesakit apapun, kita itu berharga, maka sayangilah diri sendiri. Jangan dirusak, jangan disia-siakan, apalagi jika ikut merusak orang lain. Ingatlah selalu, hidup ini seperti perjalanan dengan kapal, maka, tidak ada nahkoda kapal yang akan merusak kapalnya sendiri, akan dia rawat hingga tiba di tujuan terakhir.

Jika cinta adalah waktu, maka dia adalah pagi.
Ketika matahari muncul, dan cahaya lembutnya menyiram embun di dedaunan. Kemilau cemerlang. Takjim. Indah.
Selamat pagi.

Jika orang lain tidak mencintai kita, menolak mentah-mentah, maka bukan berarti kita tidak boleh tetap mencintainya, sebaliknya, kita justeru tetap bisa mendoakan yang terbaik, ikut berbahagia.
Hal sesimpel ini kadang dilupakan para pencinta yang memahami perasaannya terlalu naif. Hingga bagaimanalah mereka akan bicara tentang: let it go? Melepaskan dengan tulus?

Kita menunjukkan jati diri sejati kita saat kesulitan, saat beban hidup datang bertubi-tubi.
Yang sejatinya pencuri, akan terlihat tabiatnya. Yang sejatinya pengkhianat, matre, dsbgnya akan terlihat perangainya.
Pun sama, yang sejatinya penyabar, akan terlihat rasa sabarnya. Yang sejatinya jujur, akan terlihat kejujurannya semakin cemerlang. Yang sejatinya setia, sungguh akan menakjubkan melihat kesetiaannya.

Karena orang lain tidak bisa memenuhi keinginan kita, ekspektasi, harapan kita, maka bukan berarti orang lain itu jadi jahat, buruk, dsbgnya.
Orang lain sudah sempurna seperti itu apa adanya. Sama seperti kita, sempurna apa adanya tanpa harus memenuhi standar yang dipikirkan orang lain.

Kadangkala kita sendiri yang merusak jalan cerita. Yang sudah berjalan baik, tidak ada masalah, kita rusak karena tidak sabar, prasangka, terlalu sensitif dan sebagainya.

Rasa cemas, khawatir itu merusak tiga tingkatan:
1. Menghabiskan waktu
2. Meracuni pikiran
3. Mencuri kebahagiaan
Nasehat lama ini mungkin bermanfaat dipikirkan.

Saya percaya, kalau belajar menulis hanya demi menerbitkan buku, laku, kaya, populer, difilmkan, apalagi sibuk menghitung view, like, komen, maka cepat atau lambat akan berakhir pada kekecewaan--bahkan meski semua itu akhirnya tercapai. Kosong saja ketika sudah tiba di titik itu. Semoga kalian tidak memulai langkah yg keliru, mendengarkan orang2/mentor/guru menulis yg keliru.
Menulislah karena itu menyenangkan. Selalu menyenangkan.
Menulislah apa yang harus orang baca, bukan yang ingin orang baca.
Menulislah dengan pemahaman: Tidak semua kata-kata indah itu mengandung kebenaran. Kadangkala, sebuah kebenaran harus disampaikan dengan kalimat yang amat menyakitkan.
Menulislah dalam senyap. Si penulis akan mati, jadi tulang belulang, tapi tulisannya boleh jadi abadi ribuan tahun.

*Jenis-jenis gombal
(Gombal kelas internasional)
Bilang ke pacar 'Aku cinta kamu karena Allah, dek." Pacar? Sambil pegangan tangan? Mesra2an. Aduh, nggak banget deh. Jangan bawa2 Tuhan utk urusan pacaran yg jelas melanggar banyak peraturan Tuhan. Malaikat saja mungkin gerah berada di sekitar, mungkin pergi ratusan kilometer, menjauh.
(Gombal kelas nasional)
Orang pacaran yg ngaku2: "Cinta kita suci, ini anugerah Tuhan yang tidak kita minta." Sambil mojok berdua. Asyik berduaan, asyik pegangan tangan. Suci? Tapi dikotori dengan pacaran, yg melanggar begitu banyak peraturan Tuhan. Ya ampun sejak kapan pacaran masuk dalam definisi suci.
(Gombal kelas provinsi)
"Nggak juga bang tere, pacar aku serius kok". Wushhh, hening deh. Serius? Sejak kapan pacaran masuk definisi serius? Kalau serius ya menikah. Satu-satunya keseriusan dalam pacaran adalah: serius pacaran. Asyik masyuk, menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
(Gombal kelas kabupaten)
"Kami pacarannya islami kok, tahu batas-batasnya." Ya ampun, justeru dengan pacaran, batas terbesarnya sudah dilanggar. Kalau memang ada pacaran islami, maka besok lusa, acara bergosip di televisi akan ngaku gosip islami. Yang pembawa acara gosipnya seperti cacing kepanasan akan membuka acara dengan: "Hei hei pemirsa, assalammualaikum, hallllo apa kabar sih? Kalian tahu nggak penonton, masya Allah, subhanallah, kucing sebelah rumah selingkuh. Astagfirullah. Mari kita berdoa semoga selingkuhannya diberikan jalan tobat, Allah SWT berfirman, Rasul Allah bersabda, dst, dstnya."
(Gombal kelas kecamatan)
"Beneran loh, Bang, pacaran itu menambah semangat belajar." Oh iya? Lantas hitung sendiri nanti ya, berapa banyak waktu sia-sia yang dihabiskan, berapa banyak galau, tidak menentu. Dan silahkan cek sendiri, apakah kalian jadi peserta olimpiade Matematika dunia dan dapat medali emas gara2 pacaran. Kalau mau jujur2an, mau mendengarkan, mau obyektif, besok lusa, saat kalian sudah 40, 50 atau 60 tahun, pikirkan, apakah memang ada manfaatnya pacaran jaman kalian masih remaja dulu?
(Gombal kelas Kelurahan)
"Aku rela berkorban demi dia". Bela-belain beli kado, hadiah, buat siapa? Pacar? Tapi beliin orang tua, adik, kakak, kado, hadiah malah amit2. Bela-belain ngantar siapa tadi? Pacar? Rela hujan2an, rela ngutang, rela semua. Tapi ngantarin orang tua, adik, kakak, malah ogah.

The right person,
the right momen,
and the right way.

Hidup ini tidak seperti novel, yang kita bisa mengulang halaman pertama kapanpun kita mau. Dalam kehidupan nyata, saat sebuah kisah tidak lagi asyik, mulai menyakitkan, kita tidak bisa mengulanginya dari halaman pertama lagi.
Tapi tidak mengapa, karena kita selalu bisa membuat bab baru, halaman baru. Selalu bisa.

Orang kuat itu bukan berarti dia selalu kuat. Tidak. Melainkan dia tahu sekali kapan harus berjuang habis-habisan, kapan harus siap tulus melepaskan.

Anak jaman sekarang itu besar sekali tantangan hidupnya. Sangat besar. Coba bayangin, nunggu reply komen dari seseorang saja bisa galau. Kok nggak dibalas2 ya. Kok aku dicuekin? Semalaman nggak bisa tidur malah. Iya, kan?

*4 Hal Yang Menipu

1. Bukan pekerjaan yang membuat seseorang mandiri, apalagi terjamin masa depannya. Tidak. Pekerjaan bisa hilang, gaji tinggi bisa pergi. Bahkan dalam kecamuk dunia (perang atau bencana alam misalnya), semua bisa hancur binasa. Lantas apa yang bisa menjamin? Pengetahuan. Skill. Maka fatal sekali jika orang sekolah hanya demi nilai, apalagi ijasah, kemudian saat ujian, bela-belain nyontek. Dapat nilainya memang, tapi sama sekali tidak dapat pengetahuan atau skill-nya. Mereka tertipu. 

2. Bukan harta benda yang membuat seseorang bahagia. Tidak. Banyak orang yang kaya raya, hidupnya malah susah. Sebaliknya, ada yang hidup sangat bersahaja, hidupnya amat bahagia. Lantas apa yang bisa membuat seseorang bahagia? Pemahaman. Lagi-lagi, maka fatal sekali jika orang mengejar pekerjaan, harta-benda, aduh, ingatlah selalu: kitalah yang menjaga harta benda. tapi pemahaman/ilmu yang baik, dialah yang menjaga kita dari kemalangan hidup. Pemahaman akan menuntun kita ke ilmu syukur, ilmu sabar, dsbgnya.

3. Bukan nama, wajah, pesona, kehadiran fisik yang membuat orang terkenal, membuat seseorang abadi. Tidak. Sejak dunia ini ada, berjuta pesohor telah dilupakan. Bahkan artis-artis 2-3 tahun lalu ngetop, sekarang tidak ada yang ingat. Lupa. People dont care about that. Lantas apa yang membuat kita "terkenal"? Kebermanfaatan. Penemu lampu misalnya, tidak perlu orang mengenalnya, tapi seluruh dunia tahu bahwa lampu itu sangat berguna. Pendiri sekolah gratis, boleh jadi sudah meninggal 40 tahun lalu, tapi sepanjang sekolah itu masih berdiri, masih bermanfaat, namanya akan abadi--terlepas dari orang masih ingat atau tidak.

4. Bukan kekuasaan, jabatan, apalagi jadi panglima perang yang membuat orang diikuti, dihormati. Tidak. Banyak diktator dunia yang merasa sudah berkuasa sekali, game over, tamat riwayatnya. Banyak penegak hukum, hakim, polisi, dsbgnya yg merasa dia berkuasa sekali menentukan nasib orang lain, juga game over, saat diambil posisinya, cuma bisa meringkuk tidak bergaya dia. Ingatlah, presiden akan mati. Raja akan binasa. Lantas apa yang membuat orang dihormati? Inspirasi. Respek diperoleh dari inspirasi. Ketika seseorang bisa memberikan inspirasi ke banyak orang, maka itulah "kekuasaan" tidak terlihat. Orang-orang bersedia berdiri di belakangnya--mati sekalipun, demi membela inspirasi penuh kebaikan. Melewati jaman, bahkan saat sudah tiada, orang-orang tetap menghormati dan mengikutinya.

Semoga kita memahami 4 hal ini dengan baik. Bukan sebaliknya, tertipu mentah-mentah.

Memahami kaum wanita itu boleh jadi sama seperti menonton film berbahasa asing (yang bahasanya benar2 asing), dan tidak ada subtitle/terjemahan di layar. Jadilah menebak2 dari ekspresi wajah, dari gambar saja. Dan nasib buruk buat kaum laki-laki, laki-laki-lah secara default yang disuruh memahami mereka.
Nasehat lama ini tidak selalu benar, tapi mungkin bermanfaat.

Kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun?
Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.
*Tere Liye, novel "HUJAN"

Kalau pacar kalian sanggup membangunkan kalian jam 2 subuh bilang: "Babe, shalat tahajud dulu, gih." Tapi dia tidak sanggup melamar kalian ke rumah, maka please deh, tidak perlu cekikikan bahagia, merasa dia orang baik sedunia. Karena itu gombal saja.
Karena weker, alarm HP, bisa mengambil-alih tugas tersebut, tanpa perlu dekat-dekat dengan pintu pergaulan bebas. Dan jelas, weker bisa diandalkan, tanpa pamrih.
Jangan tertipu hal-hal seperti ini. Mau dibungkus apapun, tidak ada definisi pacaran sehat, apalagi definisi pacaran islami. Tidak ada.

Novel itu hanya ada di urutan ke-10 buku2 yang harus dibaca. Di atasnya masih ada buku2 lain. Jadi jangan habiskan waktu hanya membaca novel, meski itu menyenangkan, menginspirasi, dsbgnya.
Pun tidak perlu memaksakan diri membelinya. Pinjam di perpustakaan, pinjam ke teman, baca naskah online resmi (ada di page ini). Sama saja. Untuk melengkapi 20 buku Tere Liye, kalian butuh 1 juta lebih, itu bukan jumlah uang yang sedikit, lebih baik buat sekolah kalian.


Kita bisa saja memantulkan semua omongan jelek orang lain. Kita balas, caci balas caci, fitnah balas fitnah, benci balas benci, kita pantulkan dengan lebih kencang. Tapi buat apa?
Lebih baik diserap saja. Seperti sponge busa yang bisa menyerap air. Tidak ada rasa sakit hati. Tidak ada waktu untuk memikirkannya. Sibukkan diri dengan hal positif dan produktif.

Menyakiti balik orang2 yang menyakiti kita boleh jadi memang memberikan rasa puas, kebahagiaan. Biar tahu rasa.
Tapi hakikat terbaik dari pembalasan justeru terletak saat kita bisa melakukannya, tapi kita memilih memaafkannya. Melupakannya.
Itu sungguh akan memberikan rasa puas, kebahagiaan yang lebih hakiki. Lebih menenteramkan.

Salah-satu ciri ketika kita sudah keras hati adalah: semua kebaikan orang dianggap dusta; semua penjelasan orang dianggap bohong.
Berhati-hatilah. Karena sungguh malang, ketika tiba di akhir, kita baru menyadari: justeru kita sendiri masalah terbesar kita selama ini.

Hanya orang2 kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu. Meski sakit hati, menangis, marah2, sebal, sekali pada akhirnya bisa tulus melepaskan, dia sudah berhasil menaklukkan diri sendiri.

Ketika seseorang ingin pergi, maka jangankan 10 alasan, punya 100 alasan baik untuk tetap tinggal pun, dia tetap pergi.
Tetapi ketika seseorang memutuskan ingin bertahan, maka jangankan 100 atau 10 alasan, bahkan ketika dia tidak punya alasan lagi--hanya tersisa harapan dan keyakinan, dia akan tetap bertahan.

Kita beli HP, maka jelas yang kita peroleh adalah HP. Kita beli laptop, juga dapat laptop. Yang kita gunakan hingga rusak/bosan.
Kita beli makanan, yang kita dapatkan adalah makanan. Kita beli minuman, pun yang kita peroleh adalah minuman. Yang kita konsumsi hingga habis, atau bersisa basi tidak terpakai.
Lantas, kalau kita membelanjakan uang kita untuk melakukan perjalanan, apa yang kita peroleh?
Pergilah melihat dunia. Tidak mengapa menghabiskan sedikit uang melakukan perjalanan. Karena meski kita tidak mendapatkan HP, laptop, makanan, minuman, kita akan memperoleh hal lain yang akan bermanfaat.

Dimana2 tentu saja orang akan jatuh cinta ke orang yang tampil baik, keren, punya uang, pekerjaan, masa depan. Punya segala2nya. Situasi aman sentosa. Semua serba indah dan mudah.
Tapi sesungguhnya, perasaan diuji ketika situasi menjadi sulit dan rumit. Ketika kita bangkrut, dipecat dari pekerjaan, atau kecelakaan yang mengambil tampilan fisik, ketika sakit berkepanjangan. Saat situasi menjadi buruk dan sesak, dan kalimat2 cinta tidak bisa dimakan atau bisa membayar tagihan2.
Ketika itulah kita tahu persis siapa yang sebenarnya mencintai kita. Siapa yang tetap berdiri di sebelah kita.

Ketika kita bisa mengingat sesuatu dengan detail, tapi tidak terasa menyakitkan lagi; maka itu berarti hati kita telah sembuh.
Sebaliknya, ketika kita tidak bisa lagi mengingat sesuatu dengan detail; tapi entah kenapa tetap terasa sesak menyakitkan; maka itu berarti kita belum berhasil melepaskan dengan tulus.

Ada banyak kosa kata indah di dunia ini.
Salah-satunya adalah "maaf". Kosa kata ini indah sekali, baik dari sisi penulisannya, bunyinya pun dari hakikatnya.
"Maaf" bisa menghentikan pertengkaran, meluruhkan dendam kesumat, bisa mengeringkan air mata, pun bisa membuat tenteram hati.
"Maaf" adalah kosa kata milik orang-orang yang juga indah hatinya.

Tidak pernah orang yang banyak bicara itu disebut pintar, pun juga bijak. Juga tidak pernah orang yang selalu bicara setiap hal disebut jenius, pun juga cendekia.
Melainkan orang-orang yang tahu persis kapan harus bicara, kapan harus diam. Melainkan orang-orang yang tahu persis dia paham masalahnya maka dia angkat bicara, jika tidak, dia memilih diam.

Salah satu penyebab gagalnya sebuah hubungan adalah karena kita berlebihan menganggap seseorang itu sempurna. Maka, ketika ada sesuatu yang mengecewakan, sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan di awal, masalahnya akan membesar dan kemana2.

Ketika kita dalam masa-masa gelap hidup kita, maka lazim sekali jika yang kita sangka teman-teman akan pergi. Keluarga pun bahkan tega pergi. Sungguh, dalam kegelapan, bahkan bayangan kita sendiri saja ikut pergi.
Hanya "pemahaman baik" yang akan menjadi teman sejati kita. Menetap, menemani. Dan mata air pemahaman paling jernih adalah agama kita. Nasehat-nasehat agama kita. Jangan pernah ditinggalkan.
Agar besok lusa, ketika bayangan sendiri pun telah pergi, kita masih punya teman terbaik.

Kadang, kita tidak tahu kenapa kita masih berharap.
Kadang, kita tidak tahu kenapa masih menunggu.
Kadang, kita tidak tahu kenapa tetap tinggal.
Maka, itulah salah-satu cabang sabar. Ketika kita "tidak tahu" misteri masa depan, tapi kita tetap melakukannya. Lengkapi dengan keyakinan Allah selalu punya skenario terbaik, sibukkan diri dengan hal positif fan bermanfaat, maka semoga bahagia selalu menemani kita.

LDR (long distance relationshio) itu bukan cuma soal jarak fisik, satu di kota ini, satu lagi di pulau seberang.
LDR itu juga bisa fungsi waktu. Jodohnya belum datang hari ini.
Jadi, kalau kita jomblo, tenang saja. Bilang, saya sudah "taken", tapi jodohnya masih LDR di masa depan. Disimpan oleh Allah, dan saya akan menjemputnya dengan terus memperbaiki diri. Karena sungguh Allah telah menjanjikan: Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, dan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik.
Kata "Maaf" tidak akan membuat yang terlambat jadi tepat waktu.
Kata "Maaf" juga tidak akan membuat yang terlanjur tersakiti jadi sembuh sedia kala.
Kata "Maaf" apalagi, juga tidak bisa mengembalikan yang telah pergi; menghapus salah menjadi benar; yang rusak seketika menjadi baik.
Tidak bisa.
Tapi kata "Maaf" yang tulus dan ihklas, melampaui ukuran itu semua, melewati ukuran dunia. Kata "Maaf" bisa menyiram hati menjadi lebih cemerlang. Bening. Damai. Dan itulah hakikat memaafkan.

Terkadang, solusi terbaik semua masalah, hanya cukup berdamai dengan diri sendiri. Maka selesai sudah masalahnya.

Move on, dek.
Ingatlah nasehat lama: hidup ini persis seperti naik sepeda. Harus terus melaju meskipun pelan, agar terus seimbang. Karena sekali sepedanya berhenti, maka sepeda akan terjatuh.
Jadi, meski jalannya mendaki, penuh onak-duri, bikin sesak hati, kita harus terus maju. Move on, dek.

Pertanyaan: "Saya sudah memberikan segalanya buat dia, Bang. Tapi tetap saja saya disakiti, dikhianati. Apa yang harus saya lakukan?"
Jawaban: Simpel. Itu berarti kita salah orang. Diberikan segalanya saja masih dikhianati, apalagi jika tidak. Bergegas ditinggalkan. Bukan sebaliknya, berkeluh kesah kemana2 mencari pembenaran atas keputusan amat menyedihkan yang sedang kita lakukan.
Dan btw, apalagi kalau statusnya masih pacar. Nggak banget. Capek deh. Ini 2015, bukan jaman prasejarah. Ada banyak tertulis dimana2, nasehat baik agar kita tidak pacaran.

*Ketika
Ketika semua pintu sudah tertutup, dan kita masih terus berusaha, maka itulah yang disebut kegigihan.
Ketika semua jalan buntu, dan kita masih terus maju, selangkah demi selangkah, maka itulah yang disebut persisten.
Ketika semua cara telah berkali-kali dicoba, terus gagal lagi, gagal lagi, dan kita masih terus mencoba, maka itulah yang disebut ketekunan.
Ketika semua amunisi habis, tidak ada lagi yang bisa membantu, dan kita masih terus berdiri tegak menyelesaikan tugas, maka itulah yang disebut pantang menyerah.
Dan ketika semua orang lain sudah berhenti, dan kita masih terus berusaha, maka itulah yang disebut keyakinan.
Sungguh dekat sekali orang-orang ini dengan keberhasilan. Pun kalau nasib ternyata gagal, dia tetap dekat dengan kebahagiaan. Berbahagia dengan usaha yang telah dilakukan.

Ingatlah nasehat2 indah orang tua ini:
1. Sumber kebahagiaan sejati ada di hati kita sendiri. Tidak perlu mencarinya di hati orang lain.
2. Jangan pusing dengan penilaian orang lain kepada kita. Mereka toh tidak menjalani kehidupan kita.
3. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Karena kita bukan mereka, dan jelas, kita juga tidak menjalani kehidupan mereka.
4. Jangan terlalu banyak berpikir, jangan terlalu sering berandai-andai, jangan habiskan waktu cemas, dsbgnya. Tidak banyak manfaatnya, malah membuat rumit diri sendiri.
dan terakhir:
5. Selalu berdamai dengan masa lalu. Termasuk kesempatan yang telah lewat, kegagalan, dsbgnya. Agar kita bisa tenteram menatap masa depan.

Mencari jodoh itu bukan mencari kesempurnaan. Nggak ada jodoh yang pontennya 100. Cukup memenuhi kriteria dasar, maka sudah baiklah dia.
Dan kita semua, bisa menentukan apa kriteria dasar terbaik tersebut. Semakin banyak pengetahuan kita, semakin luas pemahaman kita, maka akan semakin baik kriteria tersebut, tidak hanya soal tampilan fisik.

Kenangan itu seharusnya adalah benda tidak kasat mata, tidak bisa disentuh, tidak bisa dipegang. Hanya diawang-awang.
Tapi ajaibnya, kenangan bisa lebih tajam dibanding pisau; lebih pahit dibanding pare; dan lebih berat mengganduli kaki dibanding bola besi. Membuat tidak selera makan, membuat sesak sepanjang hari.

Jangan mendiskon kehormatan perasaan dan diri kita begitu rendahnya. Apalagi diobral habis2an.
Tenang saja, akan datang seseorang yang bisa menilai betapa mahalnya harga seorang yang bisa menjaga diri.

Bagi orang yang meyakininya, maka Allah selalu dekat dengannya.
Bahkan ketika seseorang menangis terisak, menyebut "Oh Allah", mengadukan semua beban hidup, menghamparkan semua kesedihan, Allah jelas telah hadir di sana. Tidak peduli meski tangisan itu datang di kamar paling sempit, gelap, di sudut dunia yang paling terpencil dan tidak dipedulikan mahkluk.
Allah telah hadir. Seketika.
Lantas pertanyaan paling signifikan buat kita semua, warga dunia maya, apakah Allah hadir ketika kita curhat, mengeluh, berkeluh-kesah di dinding facebook? Entah, apakah itu curhat, atau jangan2, membuka aib, riya, pamer, dsbgnya?

Waktu dan Jarak tidak bisa mengalahkan persahabatan sejati. Justeru membuatnya semakin cemerlang.
Beruntunglah jika kalian memiliki para sahabat.

Jangan cemas kehilangan kesempatan, selalu saja akan tersedia kesempatan lebih baik berikutnya. Tapi jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan, hal terbaik mungkin tidak datang dua kali.
Jika ragu-ragu, maka lebih baik urungkan. Jika terlalu yakin hingga ngotot, maksa, berlebihan, maka lebih baik pikirkan ulang.
Jangan pernah tergesa-gesa, hal buruk ikut menumpang pada urusan tergesa-gesa. Juga jangan pernah menunda-nunda, hal buruk juga ikut menumpang pada urusan yang ditunda-tunda.

Laki2 yang baik berpasangan dengan wanita yg baik; dan sebaliknya.
Maka, jangan sedih kalau tidak merasa ganteng atau cantik buat yang cewek. Kan tidak ditulis: laki2 yang ganteng berpasangan dengan wanita yg cantik. Ganteng dan cantikkanlah diri maka akan datang jodoh yang ganteng dan cantik. Kalaupun tetap dapat yg jelek, kita tetap bisa bersyukur dengan pemahaman baik tsb.

Bukan hanya ketika melakukan hal salah kita bisa menghadapi masalah. Saat melakukan hal benar pun kita bisa menghadapi masalah yang lebih serius lagi.
Tetapi bukan berarti kita jadi tidak mau melakukannya. Itulah yang membedakan antara orang2 hidup dengan prinsip baik atau sebaliknya.

Tidak ada yang melarang kalian jatuh cinta. Silakan buka kitab2, tanyakan ke ulama2 mahsyur. Bahkan Buya Hamka (penulis tafsir Al Azhar) menulis novel percintaan. Juga ulama2 besar lainnya dalam catatan sejarah.
Tapi amat terlarang kalian berdua2an, mojok, pacaran, dsbgnya. Amat super terlarang. Tidak ada tawar-menawar.
Page ini banyak posting soal perasaan, itu tidak ditujukan buat kalian yang hanya memahaminya ngasal, hanya menurut mau versi kalian saja. Saya percaya, pembaca saya yg benar2 mengikuti page ini akan paham. Sedangkan yang menyimpulkan semaunya, itu sih hanya golongan ikut2an saja like page ini. 

Pemblokiran massal atas website tertentu (ada 20 lebih) adalah tindakan yang mundur sekali. Sangat tidak berkelas, dan menunjukkan kekerdilan pola pikir. Jika mereka tidak nyaman dengan website itu, maka rumusnya selalu sama: tulisan dilawan tulisan, pendapat dilawan pendapat. Masing-masing adu tulisan di website masing-masing, toh, masyarakat sudah tambah pintar, bukan malah menutup yang lain.
*Tere Liye
**Saya ini tukang blokir, di page saya ini, banyak sekali yang merasakan sakitnya diblokir. Tapi mereka hanya diblokir tidak bisa komentar di page ini--agar tidak memancing pertengkaran, di luar sana, di akun masing2, silakan saja mau bicara apapun. Bebas.

Memang tidak ada di dalam rukun islam atau rukun iman bunyinya begini: "Bisa membaca Al Qur'an dalam huruf Arab-nya".
Tetapi jika kalian mencari jodoh, hal ini bisa masuk dalam rukun kriteria jodoh yang baik. Kalau dia belum bisa membaca Al Qur'an dengan lancar dan baik, suruh belajar segera. Kalau dia sungguh cinta, jangankan disuruh belajar membaca Al Qur'an, bukankah gombalnya bilang, lautan api pun diseberangi?
*Tere Liye

Guru yang bahagia, akan membuat murid2nya bahagia, bahkan jikalau murid tersebut bete banget disuruh sekolah, tidak semangat, malas2an. Murid bete itu akan ikut bahagia menatap gurunya yang bahagia.
Maka berbahagialah guru2 kita. Semoga mereka senantiasa selalu mencintai dan dicintai murid2nya.

Hei, cowok2 gagah, kata siapa kita ini tidak tinggal di negeri dongeng? Kata siapa tidak ada lagi puteri2 jelita yang baik hatinya tapi ditawan di menara tinggi, dijaga oleh seekor naga?
Pergi sana ke rumah orang tua gadis yang kalian sukai, lamar, ajak menikah. Jadilah pangeran yang berani dan perkasa. Merekalah puteri2 yang diikat, dijaga, 'ditawan' oleh orang tuanya agar menjadi puteri yang jelita dan baik hatinya. Kalian datang 'membebaskannya', mengajak pergi berpetualang.
Atau jangan2 hari ini, lebih banyak cowok2 plintat-plintut, pengecut, hanya berani pacaran saja, persis dalam telenovela atau sinetron murahan, apesnya, cowok2 penakut ini bermimpi hidup dalam kisah cinta dongeng2 legendaris.

Cinta itu tidak selalu melekat pada kebersamaan, tapi melekat pada doa-doa yang disebutkan dalam senyap.

Alay, ngomong dicadel-cadelin, ngomong manja-manja, itu sama sekali bukan prestasi, dek. Bukan. Jika teman-teman kalian melakukannya. Kita tidak perlu ikut-ikutan.
Prestasi itu adalah: kalian sekolah dengan baik, bisa lanjut di sekolah yang dicita-citakan. 20-30 tahun dari sekarang, kalian akan tahu, "alay" tidak bisa dijual untuk nyari pekerjaan.

Bagaimana kalian tidak tahu ayat ini:
...Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya...
Ada di kitab kalian, cuy! Di kitab suci kalian! Bukan di facebook, twitter, apalagi di instagram. Baca Al Hujuraat ayat 12.
Berhentilah menonton berita2 gosip di televisi, membaca di website berita, share di media sosial, dsbgnya. Berhenti. Sekarang. Tidak pakai acara ngeles, argumen, dll.
Cuy, kalau orang lain berebut melakukannya. Kalaupun seluruh dunia melakukannya, maka hukum agama tetap tidak bisa dikalahkan. Hari ini, sudah terlalu banyak bangkai yang dikerubuti lalat, dan disangka baik. Kitalah lalat-nya. Makan bangkai busuk.

Membicarakan aib orang lain, bergunjing, bergosip, hukumnya sangat mengerikan. Bagai mengunyah bangkai saudara sendiri. Mayatnya yang sudah busuk, dikunyah, dimakan. Itu tertulis dalam Al Qur'an dan hadist sahih. Kecuali kalian tidak pernah membuka buku agama, makanya tidak tahu sih--dan biasanya sok tahu.
Kita tonton bersama2 di televisi. Di website berita. Di media sosial. Berebut sekali. Aib2 dibahas. Persis seperti lalat yang megerubungi bangkai busuk. Seolah makanan lezat, tapi sejatinya sedang mengunyah mayat.
Lindungi keluarga kita dari kesia-siaan dunia.

Acara gosip di negeri ini sudah keterlaluan. Hal2 yang sejatinya adalah aib, diberitakan dengan terbuka. Dilahap begitu semangat, dipelototin, dicungkil hingga detail.
Lindungi kita dan keluarga kita. Matikan televisi, jangan klik link beritanya, jangan baca, jangan share, jangan digunjingkan, jangan dijadikan becandaan. Percayalah, jika kita bisa menahan diri soal bergunjing, besok lusa akan ada hadiah spesial bagi kita.
Dan ingat baik-baik, yang ramai dikerubungi orang belum tentu baik. Karena bangkai busuk, berebut lalat mengerubunginya. 

Ketika kita tidak bisa melupakan sesuatu, kejadian, atau seseorang, maka bukan berarti kita tidak bisa terus beranjak maju.
Dengan terus melangkah, cepat atau lambat, semua beban kenangan akan tertinggal di belakang.

Sesungguhnya ada banyak hal yang sebaiknya orang lain tidak perlu tahu. Cukup kita simpan dalam hati. Karena diumumkan sekalipun, orang2 tetap tidak menganggapnya penting.

Tuhan itu tahu persis siapa yang baik untuk kita, siapa yang tidak. Siapa yang silahkan lewat, siapa yang harus berhenti dan menjadi bagian hidup kita.
Nah, kita semua yakin soal ini, kan? Tapi kenapa kita sendiri yang sibuk meng-intervensi skenario Tuhan. Pada bandel, kan? Pengin bilang, pengin pacaran, melanggar aturan main. Kenapa tidak dibiarkan saja perasaannya, fokus terus memperbaiki diri, maka akan datang sendiri momennya.
Tapi, kalau tidak dikejar nanti jodohnya tidak dapat, Bang? Tapi, tapi, tapi bagaimana kalau diambil orang lain? Baik. Baiklah kalau kalian banyak tapinya. Silahkan sana kejar ke rumah orang tuanya, langsung lamar. Atau kalau kalian cewek, kirim orang ke dia, tanyakan mau menikah dengan saya, nggak. Nah, berani melakukannya? Karena kalau cuma ngomong doang, komentar doang, sudah terlalu banyak teori cinta di dunia ini. Bosan.

Cinta bukan seperti harta karun. Siapa yang menemukan pertama kali maka dia bisa memiliknya. Siapa yang pertama kali bilang, maka dia yang punya.
Cinta lebih mirip jemuran di lapangan, gantung saja lama2, maka dia diambil orang lain--atau minimal terbang dibawa angin.

Saya tahu Bill Gates itu drop out alias DO dari sekolah. Dan dia tetap sukses besar. Kaya raya. Itu benar, Bill Gates tidak perlu sekolah tinggi untuk sukses.
Tapi kita harus tahu sekali: Bill Gates itu DO dari Harvard, universitas paling top sedunia. Kita? Hanya sekolah di antah-berantah dibanding Harvard.
Sekolah tinggi itu selalu penting. Cewek, cowok, siapapun. Berhentilah malas, banyak ngeles, banyak argumen, nilai-nilai kita jelek, sekolah kita bermasalah. Karena di luar sana, banyak anak-anak yang harus bekerja siang malam agar terus sekolah. Sedangkan kita, hanya tinggal sekolah saja, tidak becus. Lebih sering buka HP dibanding buka buku buat belajar.
Baiklah. Jika ingin tetap ngotot, tetap merasa yakin sekolah itu tidak penting, mari kita lihat 20-30 tahun dari sekarang. Semoga kita tidak jadi beban anak-anak, menantu, cucu-cucu kita besok lusa. Beban masyarakat.

Saya tahu banyak diantara kalian yang bercita-cita jadi penulis.
Saran saya: jangan, dek.
Jadilah penyanyi saja, boyband misalnya. Harga tiket konser One Direction hari ini di Jakarta, termurah 500rb, paling mahal 2,75juta, yang nonton 50.000 orang, berebut itu tiketnya. Kalian jadi penulis, diminta ngisi acara seminar kampus, paling mentok cuma dikasih uang transport--itupun masih diomelin komersil.
Jadi penyanyi juga lebih ringan hidupnya, mau punya skandal, mau hidup bebas, mabuk, dll, orang2 tetap nge-fans. Nah, apesnya jadi penulis, sekali kalian menyinggung sesuatu, orang2 bisa boikot.

Orang-orang yang rendah hati, tidak akan rugi.
Bahkan dalam sebuah nasehat Nabi, barangsiapa yang rendah hati kepada Allah, dia tidak akan memperoleh sesuatu melainkan Allah akan meninggikan derajat kemuliaannya.

Sekali sebuah hubungan dihiasi dusta, sekecil apapun, maka ibarat perahu, berlubang sudah perahu itu.
Kecil awalnya, tapi hanya soal waktu, saat dusta2 berikutnya hadir, air merembes deras masuk, lubang itu lebih dari cukup membuat perahu tenggelam.

Salah satu penyebab gagalnya sebuah hubungan adalah karena kita berlebihan menganggap seseorang itu sempurna. Maka, ketika ada sesuatu yang mengecewakan, sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan di awal, masalahnya akan membesar dan kemana2.

Move on, dek.
Ingatlah nasehat lama: hidup ini persis seperti naik sepeda. Harus terus melaju meskipun pelan, agar terus seimbang. Karena sekali sepedanya berhenti, maka sepeda akan terjatuh.
Jadi, meski jalannya mendaki, penuh onak-duri, bikin sesak hati, kita harus terus maju. Move on, dek.

Mencari jodoh itu bukan mencari kesempurnaan. Nggak ada jodoh yang pontennya 100. Cukup memenuhi kriteria dasar, maka sudah baiklah dia.
Dan kita semua, bisa menentukan apa kriteria dasar terbaik tersebut. Semakin banyak pengetahuan kita, semakin luas pemahaman kita, maka akan semakin baik kriteria tersebut, tidak hanya soal tampilan fisik.

Kenangan itu seharusnya adalah benda tidak kasat mata, tidak bisa disentuh, tidak bisa dipegang. Hanya diawang-awang.
Tapi ajaibnya, kenangan bisa lebih tajam dibanding pisau; lebih pahit dibanding pare; dan lebih berat mengganduli kaki dibanding bola besi. Membuat tidak selera makan, membuat sesak sepanjang hari.

Tidak ada yang kebetulan di muka bumi. Semua adalah skenario Tuhan, pemilik rencana paling sempurna.
Dengan meyakini semua adalah skenario dari Tuhan, kita bisa menerima kejadian apapun dengan lapang dada sambil terus memperbaiki diri, agar tibalah skenario yang lebih baik lagi.

Bagi orang yang meyakininya, maka Allah selalu dekat dengannya.
Bahkan ketika seseorang menangis terisak, menyebut "Oh Allah", mengadukan semua beban hidup, menghamparkan semua kesedihan, Allah jelas telah hadir di sana. Tidak peduli meski tangisan itu datang di kamar paling sempit, gelap, di sudut dunia yang paling terpencil dan tidak dipedulikan mahkluk.
Allah telah hadir. Seketika.
Lantas pertanyaan paling signifikan buat kita semua, warga dunia maya, apakah Allah hadir ketika kita curhat, mengeluh, berkeluh-kesah di dinding facebook? Entah, apakah itu curhat, atau jangan2, membuka aib, riya, pamer, dsbgnya?

Bukan hanya ketika melakukan hal salah kita bisa menghadapi masalah. Saat melakukan hal benar pun kita bisa menghadapi masalah yang lebih serius lagi.
Tetapi bukan berarti kita jadi tidak mau melakukannya. Itulah yang membedakan antara orang2 hidup dengan prinsip baik atau sebaliknya.

Tidak ada yang melarang kalian jatuh cinta. Silakan buka kitab2, tanyakan ke ulama2 mahsyur. Bahkan Buya Hamka (penulis tafsir Al Azhar) menulis novel percintaan. Juga ulama2 besar lainnya dalam catatan sejarah.
Tapi amat terlarang kalian berdua2an, mojok, pacaran, dsbgnya. Amat super terlarang. Tidak ada tawar-menawar.
Page ini banyak posting soal perasaan, itu tidak ditujukan buat kalian yang hanya memahaminya ngasal, hanya menurut mau versi kalian saja. Saya percaya, pembaca saya yg benar2 mengikuti page ini akan paham. Sedangkan yang menyimpulkan semaunya, itu sih hanya golongan ikut2an saja like page ini.

sumber : Facebook Bang Tere yang lagi ga aktif itu :)

Tidak ada komentar: