Jumat, 20 Maret 2015

share - unshare


jangan memberitahukan kepada orangorang mengenai kesulitan/kesusahanmu, sebab sebagian dari mereka tidak perduli, dan sebagian yang lain justru senang mendengarnya. ((NN - sebenernya karena saya lupa sapa yang bilang))

ini ada di buku kumpulan kalimat motivasi yang  saya beli beberapa tahun yang lalu. dan langsung, doeeenggggg! iyaa juga, sih, bener juga yang dibilang ini. bukan, bukan bermaksud untuk negatif thinking bahwa ga ada yang perduli sama kita di dunia ini. ada, kok. jelas ada. orang tua misalnya, kakak adik, saudara, dan sahabat tempat berbagi. mereka pasti mau mendengarkan cerita bahagia maupun keluh kesah kita, sekalipun yang paling berhak untuk dicurhatin di dunia ini adalah Tuhan kita, yang kita bicara ataupun tidak, Dia mengetahui segalanya.

trus ngapain sik, bikin tulisan share-unshare gini? niatnya sih, cuma buat diri sendiri, cuma buat ngingetin kalau di dunia ini masih banyak hal penting yang bisa dilakukan ketimbang menjelajahi dunia maya untuk tujuan yang tidak menyeimbangkan hidup. misalnya, stalk gebetan, mantan, setan ((maaf, setan ga punya medsos)) atau hanya untuk mengeluarkan sumpah serapah, jangan heran buktinya semakin banyak aja hestek untuk ngebully di twitter, status penuh cemooh, atau hanya update bbm untuk menyindir orang lain.

media sosial itu perlu. bukan untuk supaya dianggap gaul atau keren atau sejenisnya. medsos perlu, dan berguna asal kita bisa memanfaatkan dengan sebaik mungkin. menggunakan untuk hal yang benarbenar perlu kita share dari sana, misalnya info penting atau berita terbaru, atau kondisi darurat. kalau kita membuat akun medsos hanya untuk membagi foto makanan, otw tempattempat elit bagus bersejarah trus nongkrong di mall penuh gengsi dan bahkan cuma buat pamer kekayaan atau buat mengolokolok mending kamu masuk goa trus semedi di sana, yoga, dan sejenisnya biar pikiran kamu tenang dan bisa balik ke dunia ini membawa kedamaian.


***

Dunia maya memang telah membuat kehidupan manusia seolah-olah lupa akan dunia yang sebenarnya. Kini hampir seluruh manusia penduduk didunia ini telah singgah didunia maya. Apalagi dengan teknologi yang lebih canggih, gadget yang kian modern dan terus semakin canggih membuat manusia tak hanya orang dewasa saja yang dapat menikmati dunia maya. Bahkan kini anak-anak pun telah mampu “mampir” di dunia maya. Telah banyak dunia maya saat ini yang mampu mengubah seseorang seolah olah lupa akan dunia disekitarnya. Seperti banyak orang mengatakan, dunia maya, gadget yang makin canggih membuat yang dekat jadi jauh yang jauh makin dekat. 

Sekian banyak fitur-fitur jejaring sosial di dunia maya yang kian semakin merambah. Seperti facebook, twitter, blackberry messenger, line, instagram dan lain-lain. Dimana seseorang mampu mengekspresikan segala kehidupannya di jejaring sosial. Tidak sedikit kita melihat bahwa sesungguhnya di dalam jejaring sosial terekam aktivitas, dan perasaan seseorang dalam jejaring sosial tersebut. Hampir dari pagi sampai pagi lagi hal itu terekam dalam jejaring sosial. 

Seperti yang kita lihat saat ini, orang terlalu sering untuk curhat tentang perasaannya di dunia maya. Seperti yang dikatakan Darwis Tere Liye dalam page facebooknya “Menurut statistik, dari orang-orang yang suka sekali curhat dan berkeluh kesah di dunia maya:

50% hanya mencari perhatan, bukan solusi
30% hanya mencari lawan bertengkar
30% hanya mencari pembenaran

Orang yang mau nyari solusi hidupnya, dia tidak akan berkeluh kesah di dunia maya yang malah lebih sering nambah-nambahin masalah, membuat disitu-situ saja, menghabiskan waktu tak terasa.

Selain itu juga update tentang apa yang tengah dilakukannya, mau pergi kemana pun di update, seperti otw otw’an (otw semarang, papua, jogja, solo, surabaya, malang, padang, dan lain-lain), nyapa-nyapa tempat seperti pagi semarang, malam yogyakarta, sore solo, mau pamer posisi apa ngasih tau orang-orang ya ? kenapa nggak pamer ngasih tau aktivitas yang lain seperti otw wc, malem toilet gitu. Namun itulah dunia maya, tempat untuk segalanya bahkan saat ini manusia melakukan bisnis ekonominya melalui dunia maya atau online tanpa bertatap muka secara langsung. 

Namun, dari semua itu menurut saya nih yang paling aneh itu ketika seseorang berdo’a memohon-mohon di jejaring sosial. Oh ampun deh lo kira Tuhan juga ikutan mainan di dunia maya ?? yaps itu memang sudah biasa kita temui di jejaring sosial hal-hal seperti itu. Dan yang lebih aneh lagi, mau sholat, beribadah juga di update, “sholat maghrib dulu”, “abis sholat, abis itu tadarus dulu”, kok sempet-sempetnya gitu mau sholat update dulu, mau tadarus update dulu. Mau sholat, tadarus update mulu kapan sholat dan tadarusnya cinn ?? hehehe.

Memang benar, dunia maya kini telah merambah untuk mengalahkan dunia nyata yang sebenarnya. Namun alangkah baiknya jika kita jangan terlalu sering untuk hidup didunia maya, dan juga menenmpatkan posisi. Ada teman lama sekal-kali ketemu lagi reunian disampingnya, eeeeh malah tinggal bbm’an, facebokan sama teman yang jauh tidak ditempat itu. Tulah salah satu efek dunia maya yang sangat terlihat saat ini. Menjauhkan yang dekat.

“Media sosial ini sudah mirip pasar malam, semua serba ada. Mau berdoa, lapor ke facebook, lapor ke instagram. Mau jalan-jalan, lapor ke twitter. Lagi sedih curhat ke google+. Habis menang undian sabun colek, umumkan lewat profil bbm. Semua ada. Bahkan sedang sakit pun bukannya minum obat atau pergi ke dokter, kita bergegas malah update. Tentu saja boleh, itu hak masing-masing. Bebas. Tapi saya percaya, kita selalu punya kesempatan memikirkannya. Bahwa ada hal-hal dalam hidup ini yang tidak harus dibagikan ke semua orang, cukup disimpan sebagai kenangan terbaik hidup kita.” (Tere Liye)


***

ahaha, ini ada satu postingan tentang dunia maya, yang saya setujui. i mean, coba deh gunakan akun kamu untuk hal yang lebih penting dibandingkan untuk update apa yang sedang dimakan, dipakai, diharapkan. sebagian dari orangorang yang kamu kenal dan kenal kamu di dunia maya jujur sajalah tidak perduli dengan semua itu, dan bahkan sisanya justru senang/tidak senang. sepanjang pengetahuan saya, yang benarbenar perduli sama kamu adalah dia yang langsung bertanya, bukan lewat komentar tapi langsung dengan diri pribadi. dan percayalah itu adalah hal yang manis dan lebih dihargai kedepannya, sekalipun mungkin bagi beberapa tipe orang, kita jadi dianggap kepo dengan kehidupan orang lain. lah, bukankah apa pun itu, yang kamu "lempar" ke dunia maya, yaa sudah jadi milik umum? semua yang melihat dan membacanya punya hak untuk komentar #imho kalau ga mau dikomentari yaa jangan bikin status atau gembok medsos kamu dan hiduplah dengan penuh ketenangan.

trus soal komentar, kenapa sii, orangorang ngerasa lebih bebas ketika komentar di dunia maya? lebih mengekspresikan katakata, contoh, ketika teman mengupdate suatu hal yang katakanlah lucu, kita akan tertawa dan menanggapi dengan kata dan emot yang sedikit berlebihan dibanding dengan sikap di dunia nyata. berapa banyak orang yang di dunia maya berkoarkoar tapi aslinya, dia berlindung dibalik jaringan smartphonenya. 

*Penyakit sosial dunia maya

Gegap gempitanya dunia maya hari ini, diikuti dengan mudahnya akses internet bagi siapapun, sepertinya tidak melulu membawa kemaslahatan. Secara simultan, sama seperti saat hadirnya televisi pertama kali, budaya baru ini juga membawa dampak negatif. Kita harus mulai mencermati penyakit sosial atas munculnya interaksi baru di dunia maya.

Setidaknya ada enam penyakit sosial tersebut, yang pertama, berkurangnya kualitas dan kuantitas membaca (apalagi menulis). Kita hampir tiap hari menyaksikan orang-orang –termasuk kita sendiri-- yang sibuk mematut layar komputer atau laptop, menatap layar telepon genggam, asyik bercengkerama dengan piranti canggih miliknya, di jalan-jalan, di kendaraan, di tempat kerja, di sekolah, sudah lazim pemandangan ini. Semua orang bisa dikatakan memiliki akun email, plus dengan jejaring sosial favoritnya. Menghabiskan waktu berjam-jam dan berkali-kali rajin memeriksa beranda dunia mayanya. Lantas apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan? Membaca? Menulis? Berbeda dengan televisi, dunia maya memang memberikan kesempatan membaca dan menulis. Tapi apakah itu sungguh-sungguh membaca dan menulis?

Kita kadang merasa sudah banyak membaca, juga menulis, tapi sejatinya itu sekadar dunia percakapan yang mengambil bentuk tulisan. Membaca ‘celoteh’, membaca ‘ucapan’. Menulis ‘celoteh’, menulis ‘ucapan’. Memang banyak yang membaca laman berita media massa, loncat kesana-kemari memeriksa judul yang menarik, tapi dengan gaya penulisan dunia maya yang serba ringkas, kebiasaan pengguna yang membaca tidak tuntas, umumnya kualitas dan kuantitas membaca berkurang drastis, apalagi menulis. Kita terperangkap ilusi sudah membaca dan menulis—dengan kenyataan, buku-buku semakin disingkirkan.

Penyakit sosial kedua adalah suburnya kebiasaan berdebat tiada manfaat. Dunia maya memang tiba-tiba memberikan derajat yang sama kepada penggunanya, egaliter menemukan definisi terbaiknya. Tidak peduli presiden, ataupun orang biasa. Tidak peduli profesor maupun tidak sekolah, semua tiba-tiba menjadi setara di dunia maya. Kolom komen di jejaring sosial, laman berita media massa, forum, memberikan kesempatan kepada siapapun untuk berkomentar. Dan situasi ini semakin rumit, mengingat pemilik laman, pengelola sebuah akun, menyadari bahwa semakin ‘menarik’ sebuah topik, akan mengundang semakin banyak pengunjung. Hampir di semua sudut dunia maya, kita harus menonton perdebatan tiada manfaat. Komentar saling menjelekkan, memaki, menghina, ringan sekali ditulis oleh pengguna dunia maya. Tidak ada topik yang kebal atas situasi ini, pertandingan sepakbola, hingga agama pun menjadi santapan. Kita tiba-tiba merasa penting untuk berpendapat—terlepas dari kualitas pendapat tersebut.

Hal-hal yang sudah tahu sama tahu tetap diperdebatkan. Sesuatu yang sudah jelas, baik, tetap diperdebatkan. Apalagi yang memang kontroversial dan berpotensi beda pendapat. Kita tidak lagi merayakan beda pendapat dengan menghormati satu sama lain, melainkan merayakan perbedaan dengan meneriakkan nyaring pendapatnya.

Semakin maraknya mental gratisan adalah penyakit sosial ketiga. Di dunia maya, semua seolah-olah gratis. Apa sih yang tidak bisa diperoleh dari internet? Pengguna internet mengunduh film-film laris, yang bahkan belum beredar di jaringan bioskop lokal. Orang-orang berbagi file lagu yang tentu saja full gratis, e-book ilegal ada di mana-mana, hingga mencomot sana-sini hasil jerih payah pemikiran dan proses kreatif orang lain. Jika kita terbiasa dengan gaya bahasa forum berbagi file, maka istilah ‘leechers’ atau ‘lintah’ lazim digunakan untuk merujuk ke pengguna yang menyedot puluhan bahkan ratusan bahkan ribuan file ‘gratis’. Mental gratisan ini merusak banyak sistem, menerabas hukum, dan pada tingkat lebih rendah, merusak masyarakat itu sendiri. Jika kita hanya memikirkan memperoleh sesuatu secara gratis, maka proses memberi, proses berkarya, perlahan akan padam dengan sendirinya. Dan situasi ini akan terbawa langsung ke dunia nyata.

Penyakit sosial yang keempat adalah rendahnya sopan santun di dunia maya. Penggunaan akun dunia maya seperti menjadi tameng, benteng pelindung, yang membuat orang-orang nyaman melakukan apapun. Bahkan dalam situasi menggunakan identitas asli pun, banyak pengguna internet yang merasa lebih nyaman (mungkin bisa ditulis berani). Apalagi saat menggunakan identitas palsu, pengguna internet bisa melakukan apapun tanpa perlu khawatir bertatap muka langsung seperti di dunia nyata. Pepatah lempar batu sembunyi tangan menemukan definisi terbaiknya dalam dunia maya. Berkurangnya sopan santun ini tercermin mulai dari komunikasi lewat email, message, hingga interaksi bebas di jejaring sosial, forum, laman lainnya. Kita tidak lagi perlu merasa memiliki sopan santun saat bertamu ke beranda milik orang lain, merasa semua tempat adalah wilayah publik, bebas mau melakukan apapun.

Penyakit sosial kelima adalah mulai kaburnya interaksi dunia nyata. Bukankah sudah lazim sekali terlihat, saat beberapa teman dekat berkumpul di restoran, mereka memang dekat secara fisik, tapi satu sama lain justeru sibuk memeriksa piranti canggih masing-masing. Saat satu keluarga berkumpul di ruang keluarga, secara fisik dekat satu sama lain, tapi masing-masing justeru asyik berselancar di dunia maya, lebih dekat dengan orang-orang yang tidak dikenal dan jauh. Kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama gagdet dibanding dengan keluarga atau teman sendiri. Interaksi dunia nyata perlahan menjadi kabur, digantikan oleh interaksi berdasarkan internet.

Penyakit sosial keenam adalah berkurangnya waktu produktif. Jika kita asumsikan pengguna aktif internet di Indonesia adalah 40 juta orang, rata-rata mengunjungi jejaring sosial dan sejenisnya satu jam setiap hari, maka kita sebenarnya punya 40 juta jam dalam sehari untuk melakukan hal lain secara produktif. Jika candi Borobudur katakanlah membutuhkan 20 tahun, 2.000 pekerja yang bekerja 8 jam setiap hari, maka total jam kerja untuk menyelesaikan satu candi Borobudur adalah 119 juta jam kerja. Bangsa ini bisa menyelesaikan satu candi setiap tiga hari. Ini hanya ilustrasi, boleh jadi berlebihan, toh ketika televisi hadir di tengah masyarakat, situasinya juga sama—bahkan lebih massif, tapi setidaknya dapat menjelaskan permasalahannya. Berbeda dengan televisi, pengguna internet kebanyakan adalah orang-orang berpendidikan, pekerja dan di usia yang sangat produktif.

Kita tidak bisa mencegah gelombang internet, kita sudah berada di dalamnya sepuluh tahun terakhir. Dengan harga gagdet yang semakin murah, tersedianya pilihan akses murah-meriah, maka penetrasi budaya ini akan semakin dalam ke seluruh masyarakat. Keenam penyakit sosial ini menjadi realita yang harus disadari. Dan ketika proses mendidik pengguna internet berjalan lambat, kesadaran berinternet sehat masih rendah, tanggung-jawab besar jatuh pada pemilik laman raksasa dengan pengunjung ribuaan bahkan jutaan. Website berita milik media massa, website forum-forum, hingga akun jejaring sosial yang diikuti oleh banyak orang adalah ujung tombak mengurangi dampak buruk dari internet, terlebih pengaruhnya kepada pengguna remaja. Dalam contoh yang paling bersahaja, sudah seharusnya kampanye internet sehat diletakkan di halaman muka website tersebut, entah berupa link, banner, gambar dan sejenisnya. Seharusnya itu mudah sekali dilakukan.


okay then, selamat berjuang untuk menjadikan medsos kamu sebagai tempat berbagi yang positif, minimalisir apapun yang kirakira menyebabkan "ketegangan" dengan orang lain, jadikan internet dan medsos sebagai bahan pembelajaran dan jangan jadikan sebagai hal yang utama, kendalikan medsos, bukan kita yang dikendalikan, tetap produktif dan menghasilkan karya jangan hanya menonton orangorang menjadi sukses, setidaknya kelak ketika kita sudah tidak ada, masih ada hal di dunia ini yang patut diingat, bukan status galau atau kesedihan, tapi karya yang membanggakan, kecil tak apa, asalkan bermanfaat. dan yang paling penting, tengoklah sekelilingmu untuk menyadari bahwa kamu punya hidup yang nyata, punya hal yang harus kamu urus dan punya segala hal yang harus kamu hadapi dibandingkan dengan berpikir, "harus saya kasih caption apa yaa foto ini?" :))

salam sayang selalu :*

i just want to advise myself, for make my life better than before, at least for peoples around me.

Tidak ada komentar: