Senin, 02 Februari 2015

status ((bagian ke empatpuluh dua))


Hidup ini memang tidak se-indah dan se-gampang nasehat2, quote2 itu. Tidaklah.
Tapi hidup ini jelas tidak se-omong-kosong ngeles, ngeyel, sumpek, sempit nan terbatasnya pemahaman kita. Absolutely tidak.

Balas dendam adalah "menolong orang lain".
Semakin besar dendam kita terhadap hal paling menyakitkan bagi kita, alirkan menjadi perbuatan baik, menolong orang lain. Maka itu akan mengobati dendam itu. Menghapus kebencian, sekaligus bermanfaat bagi orang banyak.
*dari "Rise of Legend", film terbaru adaptasi kisah Wong Fei Hung. Ada yang sudah nonton?

Bahkan hal paling menyakitkan sekalipun, ketika dijalani dgn sabar, tetap membawa bahagia.
Peluk erat rasa sabar itu. Jadikan teman di kala apapun.

Lautan luas tidak pernah perlu menjelaskan betapa luas dan dalam dirinya. Tidak pernah dan sama sekali tidak perlu.
Maka, jangan2 hanya orang2 yang sempit dan dangkal saja yang sibuk menjelaskan siapa dirinya, apa yang telah dia lakukan, serta mendaftar seluruh riwayat hidup dan meletakkan seluruh gelar2--yang tetap saja gagal membuat orang sedang menatap lautan.

Roda belakang motor itu tidak akan pernah bisa menyusul roda depan. Secepat apapun dia lari.
Pun dalam kehidupan. Ada hal2 yg tidak bisa dipaksakan. Menerima situasi dgn lapang, tulus, justeru membawa kebahagiaan.

Jangan keliru memahaminya.
Sederhana atau bersahaja bukan berarti tidak melakukan apapun, bukan berati jadi orang biasa2 saja. Karena banyak orang yang hidup bersahaja tapi dia melakukan hal menakjubkan bagi orang banyak. Manfaatnya terentang dari ujung ke ujung. Sama sekali bukan orang biasa2 saja, tapi dia tetap bersahaja.
Jadilah orang2 dengan pemahaman seperti ini. Bukan sebaliknya.

Kalau orang lain tidak mencintai kita, tidak mengapa, setidaknya kita bisa mencintai diri sendiri, melakukan yang terbaik bagi diri sendiri.
Kalau orang lain tidak menyukai kita, juga tidak mengapa, setidaknya kita bisa menyayangi diri sendiri, menjaga diri sendiri dari hal2 merusak.
Cinta dan kasih sayang orang lain itu boleh jadi penting, kadang juga tidak sama sekali. Tapi mencintai dan menyayangi diri sendiri situasinya selalu penting.

Jika sepotong kisah hidup kita tidak selesai, tutup potongan tersebut, lanjutkan kisah yang lain. Ada banyak cerita baru yang lebih seru telah menunggu.
Hidup ini sebentar, jangan habiskan berkutat di sepotong kisah saja.

"Tidak semua yg tersenyum pada kita itu teman, dan tidak semua yang menyakiti kita itu musuh.
Tidak semua yang bermanis2 ria kepada kita itu sahabat, dan tidak semua yang berkata tegas, terasa jleb, sakit itu lawan."
Poin dari nasehat lama ini bukan menyuruh kita agar suuzon dengan orang-orang; melainkan agar kita paham, bahwa sesuatu yang kita sukai belum tentu baik bagi kita, pun sebaliknya, sesuatu yang kita benci, boleh jadi sangat baik bagi kit.

Setiap cinta memiliki waktunya.
Jika sekarang belum saatnya, belum pantas, belum siap, maka bukan berarti itu tidak cinta. Bersabar lebih baik.

Boleh jadi, kita itu harus belajar dari dibenci lebih dulu, untuk paham arti kasih sayang dan kepedulian.
Belajar sendiri dan kesepian, untuk paham arti kebersamaan dan menghargai setiap detiknya.
Belajar dari dikhianati dan disakiti, untuk mengerti arti kesetiaan dan komitmen.
Boleh jadi demikian.
Tapi sungguh beruntung, yang bisa memahami tiga hal tersebut, tanpa harus melewati rasa sakit sebelumnya.

Jika semua orang memperoleh apa yang diinginkannya, maka my dear anggota page, dunia ini akan mengalami kekacauan yang luar biasa.
Maka, berhentilah bilang cinta itu tidak adil, kenapa cinta harus memilih, kenapa dia harus memilih orang lain. Kitalah yang membuat rumit situasi, karena di dunia ini, hei, ada milyaran orang lainnya.

Ketika kita disuruh menunggu, lantas bertanya, hingga kapan? sampai kapan? berapa lama? Maka sebenarnya kita tidak sedang menunggu, Kawan. Tapi berhitung, penuh perhitungan sang pedit, bakhil nan pelit.
Ketika kita disuruh bersabar, lantas nyeletuk iya kalau ujungnya dapat, kalau nggak? Rugi dong. Maka sebenarnya kita tidak sedang bersabar, Kawan. Tapi transaksi jual beli, atau malah bertaruh. Seolah bersabar adalah pilihan tersisa yang dilempar di atas meja taruhan.
Padahal, sungguh tidak ada resiko bagi orang yang sabar. Dia menjual sesuatu kepada yang maha memiliki segala sesuatu. Di dalam kitab suci bahkan dikunci bahwa orang yang sabar akan beruntung. Apanya yang akan rugi? Jangan begitu keliru memahami hakikat sabar. Orang2 dulu yang berilmu bahkan menghabiskan puluhan tahun hanya untuk mengerti satu cabangnya saja.

Jika belum siap, maka tutup pintunya rapat2, gembok dengan rantai terbaik, lantas lemparkan anak kuncinya ke dalam lautan luas. Begitulah cara terbaik menjaga hati dari perasaan.
Well, jangan cemas anak kuncinya tidak akan ketemu. Jika sudah tiba saatnya, jodoh yg baik akan membawa anak kuncinya, dan hei, pas sekali, sempurna sudah membuka pintu hati.

Jangan menyakiti perasaan orang lain yang justeru berharap kepada kita. Jangan merendahkan perasaan orang lain yang justeru meletakkan dengan tinggi posisi kita.
Perasaan bukan permainan, melainkan kepastian dan kejelasan.

Menunggu orang yang tidak menunggu kita itu sama seperti kita mau beli kulkas merk Samsung, tapi belinya malah di toko HP. Sungguh, meski itu toko HP juga jual merk Samsung, nggak akan jual kulkas.
Kurang lebih demikian.

Saya baru saja membuka daftar maskapai di dunia yang di ban oleh Uni Eropa, alias dilarang terbang masuk kawasan mereka. Daftarnya seru (silahkan google untuk melihatnya):
1. Afganistan, Kongo, Liberia, Mozambiq, Djibouti, Eritria, seluruh maskapainya di ban. Tanpa ampun, ban.
2. Indonesia? Semua diban, kecuali: Garuda, Airfast Indonesia, Republic Express Airlines, dan Air Asia Indonesia.
Saya juga baru membuka website The World's Airline Awards. Nangkring di daftar pemuncak Low Cost Airlines terbaik sedunia, selama lima tahun 2010, 2011, 2012, 2013, 2014: Air Asia.
Nah, sekarang saya tiba di pertanyaan paling naif. Bagaimana bisa, maskapai yang bisa terbang direct ke Eropa, penerima penghargaan terbaik 5 tahun berturut-turut, bisa terbang "ilegal" dari Surabaya? Ada apa sebenarnya? Apakah Air Asia ini memang maskapai brengsek? Kriminal? Atau birokrasi dan regulasi kita yang penuh jebakan betmen? Jangan-jangan, Air Asia itu adalah korban dari ketidakbecusan kita menegakkan peraturan, untuk kemudian kita banting dia jadi penjahatnya, dikorbankan.
Saya tidak tahu jawabannya. Karena biasanya, kalau sudah urusan begini, yang kena libas paling hanya manajer kelas kroco. Atasannya yang seharusnya bertanggung-jawab mengawasi anak-buahnya sih selamat, bisa senyum lebar di media massa.
*Tere Liye
**I dont care apapun afiliasi politik kalian, mau kalian fans pemerintah, mau fans KMP; saya hanya peduli dengan masa depan travelling saya. Honestly, saya butuh maskapai seperti Air Asia agar bisa melihat dunia. Harga murah, safety prioritas pertama.

Tidak semua orang beruntung, menikah dengan cinta sejatinya.
Tapi semua orang bisa beruntung, menjadikan orang yang dinikahi sebagai cinta sejatinya.

Nabi itu punya sahabat-sahabat terbaik. Dikenang sebagai orang-orang terbaik yang dicatat oleh sejarah. Itulah teladan jika kita mau punya sahabat.
Jika kita tidak punya, merasa teman itu hanya khianat, ember, dsbgnya. Maka tiba waktunya untuk memikirkan banyak hal, boleh jadi, masalahnya di kita, yang tidak mau memulai menjadi sahabat baik bagi orang lain.

Sahabat baik selalu TAHU kalau kita sedang sedih.
Meskipun kita tersenyum, tertawa, terlihat riang; dia tahu kita sedang sedih. Hanya dengan menatap mata kita.

Jangan terlalu erat2 memegang sesuatu; nanti kita susah berhenti sedihnya karena ternyata malah sesuatu itu yang memutuskan pergi.
Pun jangan terlalu longgar memegang sesuatu; nanti kita menyesal tak berkesudahan karena saat terlepas, baru menyadari sesuatu itu amat berharga.
Pegang dengan tangan, lengkapi dengan akal sehat dan pemahaman terbaik. Dijamin tidak sedih dan tidak menyesal apapun yang terjadi.

Kalaupun sesuatu itu tidak kita peroleh hari ini; maka semoga akan kita dapatkan besok lusa.
Kalaupun sesuatu itu gagal kita jalani hari ini, maka semoga besok lusa sukses kita lewati.
Pun, jika selama2nya tidak kita peroleh, gagal, tidak mengapa, karena boleh jadi Tuhan punya sesuatu yang lebih spesial untuk kita.

Luka dikulit (misalnya di betis), bekas lukanya terlihat sekali, tapi bisa terlupakan--kadang tidak ingat ada bekas luka tersebut.
Luka di hati, sifatnya justeru terbalik; bekas lukanya sama sekali tidak nampak, tapi susah dilupakan--bahkan kembali teringat setelah belasan tahun berlalu, hanya karena hal kecil saja pemicunya.
Maka, jangan main2 dengan hati, sekali terluka, resikonya begitulah.

Seorang guru pernah menasehati:
Semakin dalam sebuah sungai, maka permukaannya akan terlihat tenang. Tidak beriak walau se-mili. Tapi jangan coba2 lompat, kita bisa terkejut dengan betapa dalam dasarnya.
Sebaliknya, semakin dangkal sebuah sungai, airnya mengalir deras, berisik, bergemuruh, terpercik kemana-mana. Tapi dangkal saja, cuma sebetis kaki, langsung terlihat dasarnya.
Begitu juga manusia. Semakin dalam pengetahuannya, dia tenang mengagumkan. Semakin dangkal wawasannya, dia berisik amat mengganggu tiada banyak manfaatnya.

Orang-orang berilmu selalu fokus dengan topik pembicaraan. Jika orang-orang sedang bicara A, maka komentarnya tidak akan lari kemana2, B, C, D sampai Z.
Nah, jika kita masih melakukannya, itu bukan tanda kita berwawasan, itu pertanda kita sebenarnya tidak paham sama sekali, lantas akhirnya komentar apapun seolah nyambung.
Berserakan hal-hal seperti ini di dunia maya. Orang-orang sedang bahas "panu" di postingan, dia komentar soal pilpres. Orang-orang bahas "jerawat", dia komentar Jokowi-Prabowo, apa nyambungnya jerawat dengan mereka? 

Sungguh ada banyak hal di dunia ini yang boleh jadi kita susah-payah menggapainya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali, cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri.
Ada banyak masalah di dunia ini yang boleh jadi kita mati-matian menyelesaikannya, susah sekali jalan keluarnya, ternyata cukup diselesaikan dengan ketulusan, dan jalan keluar atas masalah itu hadir seketika.

Kalian tahu nggak sih, masalah izin hantu penerbangan ini semakin seru. Pejabat top kemenhub bilang, 4 penerbangan Garuda tidak sah, alias ilegal. Dan Garuda, baru saja merilis surat resmi bantahan, bahwa: Seluruh penerbangan Garuda Indonesia dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan dari regulator.
Jika terbukti Garuda ini terbang tanpa izin, gelar maskapai "5 Bintang" (hanya ada 8 maskapai di dunia) yang barusaja mereka peroleh dari lembaga prestisius dunia bisa saja dibatalkan. Masa' iya, "5 Star Airlines" terbang ilegal?
Nah, Anda percaya dengan pak pejabat? Atau percaya dengan Garuda? Karena di "Negeri Para Bedebah", setelah telepon sana, telepon sini, akan banyak pernyataan plintat-plintut yang berubah-ubah sesuai situasi.

Selalu kendalikan rasa marah kita ke orang yang kita sayangi. Karena jangan sampai, rasa marah itu membuat kita kehilangan mereka, orang2 yang justeru kita sayangi dan sebaliknya amat menyayangi kita selama ini. Dan kita hanya bisa menyesalinya.

Setiap orang memiliki perjalanan perasaan yang khas. Ada yang berliku2, ada yang lurus, ada yang menanjak, ada yang turun. Tidak bisa disamakan satu sama lain. Dan setiap perjalanan perasaan itu tentu saja spesial.
Yang sama adalah: aturan2 yang mengikatnya; norma2 masyarakat yang mengaturnya; dan tentu saja kaidah2 agama yang menjadi tuntunannya. Sama.
Jangan dilanggar, jangan ditabrak. Maka kisah perasaan kita akan selalu istimewa untuk dikenang atau diceritakan.

"Melupakan" adalah salah satu dahan dari pohon cinta. Dia dekat dengan dahan "melepaskan". Dan boleh jadi, besok lusa, seiring waktu berjalan, dua dahan ini justeru menjadi akibat penting bersatunya sebuah cinta.
Sayangnya, dahan-dahan ini tidak akan terlihat oleh orang yang terlalu dekat, melotot pula, takut sekali kehilangan, saat menatap pohon cinta. Dahan-dahan ini terabaikan begitu saja.

Seorang guru pernah menasehati:
Jika kita menemukan seseorang begitu menakjubkan, pengetahuan begitu luas, nasehat begitu dalam, dan menyenangkan mendengarnya bicara, maka jangan tanyakan tips, cara, atau apapun agar bisa menjadi seperti dia selain pertanyaan: "buku apa saja yang telah dia baca?"
Pun sama, jika kita menemukan seseorang yang menyebalkan, tidak sopan, dangkal, suka menggunakan kosakata kotor, maka jangan tanyakan apa yang membuatnya menjadi begitu melainkan pertanyaan: "kapan terakhir kali dia membaca buku?"

Kesabaran dan kejujuran adalah ibu dan bapak dari segala ahklak mulia. Dari sini, akan dilahirkan berbagai ahklak terbaik lainnya.
Didik hati kita untuk senantiasa sabar dan jujur, maka insya Allah, tiada kesulitan, masalah, ataupun aral melintang dalam hidup yang bisa mencegah kita senantiasa damai dan tenteram.

Tidak perlu terburu-buru. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang spesial, menunggu lama sekalipun itu tetap berharga. Tidak perlu cemas apalagi takut. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang sejati, kita tidak akan cemas walau sesenti, sejauh apapun pergi, dia akan kembali.

Hanya orang2 kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu. Meski sakit hati, menangis, marah2, sebal, sekali pada akhirnya bisa tulus melepaskan, dia sudah berhasil menaklukkan diri sendiri.

Rumus modern ngeles:
1. Saat jadi tersangka:
Ah, kita harus selalu mengedepankan praduga tak bersalah.
2. Saat jadi terdakwa:
Aduh, ini juga masih sidang, belum tentu juga terbukti.
3. Saat sudah divonis:
Belum final, kami masih banding.
4. Saat sudah vonis MA:
Kata siapa bersalah? Ini cuma rekayasa politik, dijebak, sengaja dihancurkan oleh lawan, bla-bla-bla-bla.
Apapun partainya, apapun pejabatnya, selalu itu rumusnya. Sampai bosan lihatnya.

Saya kira, ketika kita nanti kelak dihisab di hari akhir, tidak ada satupun manusia yang bisa membela diri dengan bilang: "Semua ini salah setan, ya Allah. Mereka menggoda saya tiada henti, mereka memancing2 saya, memprovokasi saya. Semua ini salah setan."
Rasa2nya kita tidak bisa membela diri seperti ini, lantas dibebaskan, hukuman diberikan kepada setan semua.
Oleh karena itu, berhentilah menyalahkan "setan" dalam hidup ini. Baik setan benaran, atau setan yang sebenarnya kita ciptakan sendiri agar selalu punya alasan buat ngeles, hidup dengan argumen.

Berdiri kokoh di atas prinsip kebenaran, tidak selau membawa kebahagiaan.
Tapi bisa dipastikan, kebahagiaan sejati hanya bersumber dari kebenaran. Tidak akan datang dari dusta, aniaya, dan topeng kehidupan.


*Kompak ni yee
Hari ini, Gubernur Sumatera Utara, melantik Sekda Provinsi Sumatera Utara. Itu posisi yang sangat strategis dan kuat. Sekda gitu loh. Nah, menariknya, Sekda ini statusnya bukan singel atau menikah tidak menikah; Sekda ini statusnya TERDAKWA. Pelantikan ini merujuk pada surat keputusan Presiden. Kok bisa? Bisalah. Pertama2 Sekda itu dicalonkan oleh Gubernur (yg adalah orang KMP, tepatnya PKS), untuk kemudian disetujui atau tidak disetujui oleh Presiden (dalam hal ini orang KIH, tepatnya PDIP). Menarik sekali bukan? Kompak banget elit partai dalam urusan ini. Satu mencalonkan, satu menyetujui. Deal. Jika tidak ada yang mencalonkan, tiada yang akan menyetujui. Jika tidak ada yang menyetujui, maka tiada yang akan dilantik.
Nah, hari ini juga, calon kapolri yang barusaja ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, diusulkan oleh Presiden (KIH); kemudian disetujui oleh Komisi III DPR (yg mayoritas KMP). Kok bisa? Ya bisalah. Satu mencalonkan, satu menyetujui. Deal.
Tidakkah kita ini, rakyat2 kecil, mau belajar dari kisah serupa ini sejak jaman dulu kala?
Jika kita mau belajar, maka mulailah pikirkan ini baik2: elit partai itu kompak banget jika kepentingannya sama; sementara kita, malah saling "tikam" di bawah; saling serang di dunia maya. Saling habisi, saling maki, saling menjelek2an.
Tapi baiklah, bukan itu poin tulisan ini. Saya hanya hendak sekali lagi mewasiatkan sesuatu.
Anak muda, di manapun kalian berada, kalian dipanggil untuk peduli soal ini. Hari ini, kalian mungkin tidak punya kekuasaan, besok lusa, boleh jadi kalianlah orang2 berkuasa di sana. Maka ingatlah selalu masa-masa ketika kita bisa berpikir lebih lurus, lebih bersahaja. Ingatlah selalu masa-masa ketika kita benci sekali dengan hal2 yg mengkhianati nurani.
Anak muda, selalu gigit prinsip2 kebaikan yang kita pegang. Tidak selalu benar, kita tahu itu, tapi jika kita ingin terus belajar, kita bisa terus memperbaiki pemahaman kita atas prinsip2 itu. Hingga semakin cemerlang. Fokuslah selalu pada prinsip2 itu, maka insya Allah kita bisa menjaga diri dari kendali, dikendalikan, apalagi mengendalikan orang lain untuk kepentingan sepihak. Contoh prinsip baik itu adalah: menegakkan kebenaran dan keadilan. Maka, itulah yang dibela. Selama masih sama, kita masih bisa sejalan beriringan. Tapi jika sudah tidak, jangan gentar untuk berdiri bilang tidak.
Tidak habis2nya saya menulis soal ini di page ini. Resikonya tinggi. Fans KMP, menuduh page ini mendukung Jokowi. Sebaliknya, fans KIH, menuduh page ini hater. Karena satu 47%, satunya 53%, maka total jenderal 100% jadinya benci page ini dong?
Well, saya sih tidak mencemaskan soal itu, karena orang2 yang memang mau belajar bersama di page ini, pembaca terbaik tulisan2 saya, pasti tahu apa yang sedang dibicarakan. Sedangkan yg salah-paham, semoga besok mereka akhirnya paham. Saya akan terus memilih fokus kepada yang mau mendengarkan saja.
Salam cipirili!

Kalian tahu tidak sih, di tengah hingar bingar calon kapolri jadi tersangka, hari ini, calon Sekda (Sekretaris Daerah) Provinsi Sumatera Utara, yang memiliki status terdakwa, dilantik oleh gubernurnya. Pelantikan Sekda ini merujuk pada surat keputusan Presiden.
Suram sekali situasi belakangan. Seolah di sana tidak ada lagi pendekar2 yang tulus mengingatkan. Tidak ada lagi sahabat2 yang lurus untuk sekadar bilang: "Mbok ya kenapa sih harus ngototttt sekali. Toh, masih banyak calon yang lain."
*Tere Liye
**anak muda, kalian semua dipanggil untuk peduli soal ini; atau kita tidak punya lagi harapan memperbaiki generasi berikutnya.
**btw, kalian tidak perlu terlalu menghujat 100% presidennya, karena sumatera utara ini, gubernurnya adalah KMP, jadi penunjukan Sekda itu separuhnya juga oleh KMP. utk hal2 begini, mereka sepertinya kompak

Menyadari bahwa orang yang kita suka, dukung, ternyata tidak sempurna itu sakitnya di sini. Dan semakin sakit saat orang lain mengingatkan betapa kelirunya ekspektasi kita selama ini.
Juga sama, menyadari bahwa orang yang kita benci mati2an, ternyata punya sisi kebaikan yang disukai orang banyak juga sakitnya di sini. Dan semakin sakit saat orang lain mengingatkan betapa kelirunya penilaian kita selama ini.
Itulah, sejak dulu, berkali2 dinasehati oleh orang tua, jangan pernah cinta buta dalam segala hal; juga jangan benci buta. Selalu berpegang teguh pada prinsip, setialah pada prinsip2 kebaikan, itu tidak akan menipu kita.

Pak Presiden, sudah lebih 24 jam sejak calon ente dinyatakan sebagai tersangka, kenapa ente nggak muncul memberikan pernyataan secara langsung?
Ane tahu, ente jadi capres itu karena tugas partai. Tapi dalam situasi paling buruk sekalipun, misalnya kayak si Koh, yang berani keluar dari partai, maka tanpa partai sekalipun, ente tetap bisa memenangkan hati rakyat sepanjang amanah.
Berdirilah di atas prinsip2 itu. Maka semoga semua urusan dimudahkan dan diberi jalan keluar. Kami akan mendoakan agar ente sebagai pemimpin, selalu diberikan petunjuk yang lurus.

Orang yang menjaga kehormatan perasaannya, bahkan bisa menyimpan perasaannya hingga setan pun tidak tahu. Percaya bahwa Allah tidak akan zalim kepada hambanya yang selalu berserah diri.
Sementara di luar sana, para pencinta--yang mengaku cintanya sejati, berceceran di mana2 perasaannya, tumpah ruah, bisa di lihat dunia. Bahkan bangga melanggar batas, pamer hubungan tidak pada tempatnya, merusak diri sendiri.

Kebanyakan orang, dalam urusan menaklukkan cinta, memilih amunisi: dandan paling tampan/cantik, kenakan baju paling bagus, bawa kendaraan paling oke, bergaya begitu keren, bicara penuh bunga, dan sejenisnya dan sebagainya.
Tetapi dalam ilmu urusan cinta sejati, amunisi paling sakti justeru adalah: sabar. Itu sungguh lebih mujarab untuk menaklukkan cinta terbaik.

'Masalahnya penerimaan itu bukan sesuatu yang sederhana. Banyak sekali orang-orang di dunia ini yang selalu berpura-pura. Berpura-pura menerima tapi hatinya berdusta. Kita semua harus berlatih susah payah untuk belajar menerima." 
Hari ini, China mengkonfirmasi memeriksa Kepala Intelijen Ma Jian terkait kasus korupsi. Orang ini kuat sekali, selain sebagai salah-satu petinggi partai komunis China, Ma Jian adalah bos-nya mata-mata seperti "James Bond" di China.
Presiden China Xi Jinping menegaskan akan membasmi korupsi di antara pejabat partai dan pemerintah China.
Well done, di negeri mereka, Presiden memimpin perang melawan korupsi, termasuk bila perlu menghabisi pejabat dari partai sendiri.

Shalat itu jatuhnya wajib. Jadi, mau preman, mau kiyai, mau penjahat, mau ulama, wajib. Tidak ada logika: mending kelakuannya baik meski nggak shalat daripada shalat tapi kelakuannya bejat. Tertolak logika ini. Yang ada: mending shalat dan kelakuannya baik.
Pun sama, berkerudung/jilbab itu juga jatuhnya wajib. Doakan dan bantu agar adik-kakak, saudara2 kita yang perempuan agar terpanggil memenuhi kewajibannya ini. Dan doakan biar yang sudah berkerudung menjaga kehormatan pakaian yang dia kenakan. Jangan malah dimusuhi, atau menjaga jarak. Dunia ini indah sekali jika orang2 senantiasa mau saling menasehati.

Jika seseorang itu memang sungguh2 ingin tinggal, maka dia akan selalu punya alasan, meskipun sudah beribu gagal. Dia akan menemukan alasan baik berikutnya.
Tapi sebaliknya, jika seseorang itu memang sudah ingin pergi, seribu alasan baik pun tidak akan berguna lagi. Dia tetap akan pergi.

Kalau kalian lebih kenal artis, pemain bola dibandingkan kenal Imam Syafi'i, Ibnu Taimiyah, Imam Ghazali, maka saatnya mulai membaca buku. Bukan hanya menghabiskan waktu sia-sia.
Anak muda, itu menyedihkan, sangat menyedihkan bagi generasi yang mengaku muslim tapi tidak tahu apa-apa tentang buku2 terbaik dari guru-guru besar ini, bukan malah bangga, merasa modern dan canggih.

Di negara Georgia, tahun 2005, Presidennya, karena jengkel dengan betapa korupnya polisi disana, memutuskan memecat 30.000 polisinya. Dibabat habis. Untuk mengganti hampir 75% polisi yang dipecat tersebut (total polisi di sana hanya 40.000-an), mereka melakukan rekrutan baru yang jujur. Gaji mereka dinaikkan berkali2 lipat.
Hari ini, masyarakat Georgia bahkan kehilangan kunci atau kucing pun lapor ke polisi, karena dilayani dengan baik.
Di novel "Negeri Para Bedebah", hilang kambing, lapor polisi, malah kehilangan sapi.

Orang2 yang susah move on itu kayak tukang parkir. Mundur, mundur terus teriakannya. Iya kan?
Udah gitu, sudah susah move on, maunya dendaman mulu: balas! balas!

Dulu, Zainuddin MZ suka ceramah begini:
"Sujud kagak pernah, ibadah susah, shalat kagak ngerti. Pas lagi kena musibah, bilangnya, "Eh gue lagi diuji, nih",
Lah, siapa yang nguji?
Sekolah kagak pernah, tiba2 ngikut ulangan?"
Mungkin menarik untuk dipikirkan.

Di DKI Jakarta, gaji lurah yang bisa dibawa pulang (take home pay) adalah 33 juta/bulan. Gaji camat 44 juta/bulan. Kepala Biro ke atas bisa 70 juta/bulan.
PNS level paling rendah di unit pelayanan 9,6 juta/bulan, Operasional 13 juta/bulan, Administrasi 18 juta/bulan, Teknis 22 juta/bulan. Guru PNS rata2 12 juta/bulan.
Data ini resmi dari Koh Ahok. Kalau kalian PNS DKI Jakarta, dan tidak dapat segitu besok-besok, maka tanyakan ke Koh Ahok.
Dengan gaji sebesar ini, tidak ada rumusnya lagi PNS DKI Jakarta malas2an, nongkrong merokok di kantin, keluyuran di mall, masuk kantor telat, pulang duluan, main internetan, dsbgnya. Apalagi sampai melakukan pungutan, Mak, astagfirullah, tega banget kalau sampai masih minta 50.000 setiap warga ngurus KTP. Yang ada, kalau warga mau ngasih, PNS ini justeru menolak bilang, "Maaf, kami tidak menerima uang terima kasih." Persis seperti di parkiran perusahaan2 top, satpam mereka, menolak dengan tegas uang parkir. "SOP kami melarang itu!"
Saatnya ada perubahan signifikan dari mental PNS DKI Jakarta.

Kadang dunia ini tidak adil sama sekali.
Di Mall, pusat perbelanjaan, ada pengumuman besar2: Anak sekolah dengan seragam sekolah dilarang masuk mall saat jam sekolah. Kenapa tidak ada pengumuman: PNS, karyawan swasta, dan siapapun yang punya amanah, dilarang keluyuran masuk mall saat jam kerjanya tersebut.
Gagal paham saya.

Kita tidak bisa melihat akar sebuah pohon besar. Tidak tahu seberapa dalam akar2nya menghujam, seberapa kokoh akar2nya masuk ke dalam tanah?
Kita tidak bisa melihatnya. Bukan berarti tidak bisa membayangkan, dan meyakininya.
Pun sama, kita tidak bisa melihat betapa menghujam kasih sayang orang tua. Betapa kokoh dan dalamnya cinta mereka.Kita tidak bisa melihatnya. Bukan berarti tidak bisa membayangkan, dan meyakininya.

Manusia itu memiliki hak dan kewajiban.
Nulisnya memang "hak" dan "kewajiban" (hak disebut lebih dulu). Tapi cara memahaminya: sadari dan laksanakan kewajiban kita, baru ribut soal hak kita. Jangan terbalik. Merasa berhak ini, itu, tapi lupa apa kewajiban kita. No way.

Sekolah tinggi itu tidak ada korelasinya dengan kekayaan.
Bukankah di sekitar kita banyak contohnya; keluarganya hanya buruh tani, tukang becak, punya enam anak misalnya; enam-enamnya lulus sarjana, dari kampus negeri semua, malah ada yang kuliah di LN. Tapi sebaliknya, ada keluarga yang orang tuanya pejabat tinggi, kaya-raya, punya enam anak misalnya; malah DO, gagal sekolah.
Jadi tidak perlu berkecil hati punya keluarga sederhana; jalan untuk sekolah tinggi tetap terbuka, sepanjang niat dan sungguh-sungguh, bisa lanjut ke kampus terbaik, hingga LN.

Bapak2, Ibu2, kalau kalian mau mengenal calon mantu kalian lebih dekat, silahkan buka profile facebook/twitter mereka. Nanti akan ketahuan apakah calon mantu kalian ini alay, nulis profile nggak jelas, narsis, eksis, suka posting/share apa saja, naruh foto apa saja, semuanya bisa dilihat.
Nah, kalau calon mantunya nggak mau ngasih akses untuk dilihat profilenya, coret saja.

Jaman saya dulu, tidur di lantai tanpa kasur, makan sehari sekali, nyambi bekerja buat sekolah, itu lumrah. Apalagi belajar hanya dengan lampu minyak, buku tulis cuma satu setahun, itu sih biasa saja. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari hal itu, karena banyak yang lebih susah hidupnya.
Hari ini, tidak punya pulsa buat internetan, tidak bisa SMS saja sudah belagu, merasa paling menderita hidupnya. Sekolah tinggal berangkat, baju, buku2, semua ada, bahkan lebih dari itu kemudahan yang dimiliki, masih saja merasa paling berhak menyalahkan orang lain.
Ingat baik-baik; kegagalan kita di masa-masa sekolah, akan menjadi serius sekali di masa depan, dan semua sudah sangat terlambat. Orang lain mungkin mau bersimpati, menolong, tapi ada batasnya. Tidak ada yang mau tukaran dengan kehidupan kita. No way!

Jangan memaksakan hal2 yang tidak bisa dipaksakan.
Roda belakang motor tidak akan pernah berhasil mengejar roda depan, semau apapun dia. Dan ingat selalu, kita tetap bisa bahagia tanpa harus menjadi roda depan, sepanjang senantiasa bersyukur.

Siapa yang meletakkan cintanya hanya di mata, maka hanya sampai disanalah awal dan akhir semua kisah.
Siapa yang meletakkan cintanya hanya di kaki dan tangan, maka juga hanya disanalah tempat terjauh yang bisa digapai.
Tapi barangsiapa yang meletakkan cintanya di hati, mematuhi aturan main dan senantiasa bersabar, maka dari sanalah semua kisah akan mekar bercahaya, wangi memesona.

Media sosial ini kadangkala adalah tipuan. Kita boleh jadi senang gembira ketika dikerubungi oleh banyak orang, ramai yang komen dan like, ramai sekali. Hingga lupa kalau hanya soal ramai saja, ingatlah nasehat orang tua, bangkai pun ramai dikerubungi lalat.
Semoga kita masih punya teman2 terbaik yang bisa menasehati dalam sepi; agar kita tidak tertipu oleh dengung keramaian.

Ketegasan adalah salah-satu ciri orang berani.

Menara paling tinggi di dunia ini adalah: tinggi hati.
Batu paling keras di dunia ini adalah: keras kepala.
Maka, menara batu paling tinggi dan keras di dunia ini, adalah kombinasi keduanya. Tabiat ini kalau hanya dimiliki kanak-kanak, tidak serius. Tapi jika dimiliki orang dewasa, bisa serius sekali. Ngototnya tanpa ampun.

Saya bahas Prabowo dan KMP, marah fans-nya. Bilang, Anda itu bahas tentang cinta-cintaan saja, biar saya tetap suka page ini.
Saya bahas Jokowi dan KIH, marah pula pendukungnya. Bilang, Anda itu bahas yang memotivasi dan menginspirasi saja, biar saya tetap suka page ini.
Mak, di dunia maya ini, kadang tamu lebih galak dibanding yang punya rumah.

Setialah pada prinsip2 kebaikan yang kita yakini. Bukan setia kepada orang atau kelompok. Kita bisa dikhianati setiap saat oleh orang di dunia ini, toh, orang itu bisa berubah, dan penuh dengan kepentingan; tapi prinsip2 yang baik, dia akan langgeng sampai kapanpun.
Sebagian besar dari kita, masih memahami hal ini hanya dari kaca mata orangnya saja. Dan repotnya menganggap orang lain juga punya pola pikir yang sama dengan kita. Hingga lupa, bahkan pemimpin sekelas Umar Bin Khattab pun pernah bilang: jika dia menyimpang, luruskan. Umar, yang setan pun takut dengannya, bahkan meminta rakyatnya setia pada prinsip2 kebaikan, bukan pada Umar-nya.

Jangan pernah menilai buku jika kita belum selesai membacanya. Jangan pernah menilai film jika kita belum tamat menontonnya.
Pun sama, jangan pernah menilai orang lain sebelum kita mengenalinya dengan dekat, memahami hidupnya dengan baik. Suka menilai/nge-judge itu sudah tabiat buruk; apalagi menilai orang yang sama sekali tidak kita ketahui, lebih buruk lagi.

*Orang Goblok
1.
"Saya sudah menggoblokkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menggoblokkan orang lain"
2
"Orang pintar kebanyakan ide dan akhirnnya tidak ada satu pun yang jadi kenyataan. Orang goblok cuma punya satu ide dan itu jadi kenyataan"
3.
"Orang goblok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar"
4
"Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat. Saya nggak pernah mikir karena cuma melangkah saja. Ngapain mikir, kan cuma selangkah"
5.
"Orang goblok itu nggak banyak mikir, yang penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah"
6.
"Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblok itu berjuang keras untuk sukses biar bisa bayar pelamar kerja"
*Bob Sadino; selamat jalan. Quote "orang goblok" ini akan dikenang banyak orang.

Jika seseorang itu memang sungguh2 ingin tinggal, maka dia akan selalu punya alasan, meskipun sudah beribu gagal. Dia akan menemukan alasan baik berikutnya.
Tapi sebaliknya, jika seseorang itu memang sudah ingin pergi, seribu alasan baik pun tidak akan berguna lagi. Dia tetap akan pergi.

Hanya orang2 kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu. Meski sakit hati, menangis, marah2, sebal, sekali pada akhirnya bisa tulus melepaskan, dia sudah berhasil menaklukkan diri sendiri.

Cukuplah Allah yang tahu doa-doa terbaik kita. Tidak perlu orang sejagad tahu.
Cukuplah Allah yang tahu amalan2 terbaik milik kita. Tidak perlu seluruh dunia tahu.
Pun cukuplah Allah yang tahu keluh kesah, gundah gulana, masalah hidup kita. Tidak perlu kita umumkan dan kemudian semua orang jadinya tahu.
Semoga kita selalu paham mana yang sesungguhnya baik, mana yang akan menjerumuskan kita dalam kekeliruan.

Melepaskan itu mudah sekali. Seperti membalik telapak tangan.
Masalahnya: kitalah yang tidak mau semudah itu. Semua dibuat rumit, ribet, belipet, plintat-plintut. Toh hidup ini, semuanya bukan milik kita. Apa susahnya?

Di negara Georgia, tahun 2005, Presidennya, karena jengkel dengan betapa korupnya polisi disana, memutuskan memecat 30.000 polisinya. Dibabat habis. Untuk mengganti hampir 75% polisi yang dipecat tersebut (total polisi di sana hanya 40.000-an), mereka melakukan rekrutan baru yang jujur. Gaji mereka dinaikkan berkali2 lipat.
Hari ini, masyarakat Georgia bahkan kehilangan kunci atau kucing pun lapor ke polisi, karena dilayani dengan baik.
Di novel "Negeri Para Bedebah", hilang kambing, lapor polisi, malah kehilangan sapi.

Orang2 yang susah move on itu kayak tukang parkir. Mundur, mundur terus teriakannya. Iya kan?
Udah gitu, sudah susah move on, maunya dendaman mulu: balas! balas!

Dulu, Zainuddin MZ suka ceramah begini:
"Sujud kagak pernah, ibadah susah, shalat kagak ngerti. Pas lagi kena musibah, bilangnya, "Eh gue lagi diuji, nih",
Lah, siapa yang nguji?
Sekolah kagak pernah, tiba2 ngikut ulangan?"
Mungkin menarik untuk dipikirkan.

Buat yang suka sekali komen ngamuk2 di page ini, dikit2 tersinggung, padahal hanya musabab tidak baca dengan baik dan benar postingannya; buruan sana beli mastin deh. Biar putih merona hatinya.
Karena eh karena, sudah ngamuk2, komennya jelas sekali memperlihatkan dia tidak paham, tidak bisa membaca dengan baik, tidak nyambung, terlihat sekali tersinggungnya. Komen seperti ini beresiko dihabisi satpam cipirili. Dan ketika di cipirili, sakitnya tuh di sini.
*night night

Di DKI Jakarta, gaji lurah yang bisa dibawa pulang (take home pay) adalah 33 juta/bulan. Gaji camat 44 juta/bulan. Kepala Biro ke atas bisa 70 juta/bulan.
PNS level paling rendah di unit pelayanan 9,6 juta/bulan, Operasional 13 juta/bulan, Administrasi 18 juta/bulan, Teknis 22 juta/bulan. Guru PNS rata2 12 juta/bulan.
Data ini resmi dari Koh Ahok. Kalau kalian PNS DKI Jakarta, dan tidak dapat segitu besok-besok, maka tanyakan ke Koh Ahok.
Dengan gaji sebesar ini, tidak ada rumusnya lagi PNS DKI Jakarta malas2an, nongkrong merokok di kantin, keluyuran di mall, masuk kantor telat, pulang duluan, main internetan, dsbgnya. Apalagi sampai melakukan pungutan, Mak, astagfirullah, tega banget kalau sampai masih minta 50.000 setiap warga ngurus KTP. Yang ada, kalau warga mau ngasih, PNS ini justeru menolak bilang, "Maaf, kami tidak menerima uang terima kasih." Persis seperti di parkiran perusahaan2 top, satpam mereka, menolak dengan tegas uang parkir. "SOP kami melarang itu!"
Saatnya ada perubahan signifikan dari mental PNS DKI Jakarta.

Kadang dunia ini tidak adil sama sekali.
Di Mall, pusat perbelanjaan, ada pengumuman besar2: Anak sekolah dengan seragam sekolah dilarang masuk mall saat jam sekolah. Kenapa tidak ada pengumuman: PNS, karyawan swasta, dan siapapun yang punya amanah, dilarang keluyuran masuk mall saat jam kerjanya tersebut.
Gagal paham saya.

Kita tidak bisa melihat akar sebuah pohon besar. Tidak tahu seberapa dalam akar2nya menghujam, seberapa kokoh akar2nya masuk ke dalam tanah?
Kita tidak bisa melihatnya. Bukan berarti tidak bisa membayangkan, dan meyakininya.
Pun sama, kita tidak bisa melihat betapa menghujam kasih sayang orang tua. Betapa kokoh dan dalamnya cinta mereka.Kita tidak bisa melihatnya. Bukan berarti tidak bisa membayangkan, dan meyakininya.

**sumber :  Darwis Tere Liye Facebook



Tidak ada komentar: