Senin, 05 Januari 2015

1Q84 ; saat pertanyaan di duniamu, tak pernah bisa kau temukan jawabannya


bagaimana kamu bisa tenang memandang langit, saat ada dua bulan menggantung di langit?

Aomame dan Tengo, terpisah selama 20 tahun tapi siapa menyangka mereka punya takdir yang harus dilewati bersama demi kembali ke tahun di mana mereka seharusnya berada. 

kisah dimulai dengan dua sudut pandang, sebenernya sih, satu, penulisnya doang, cuma dibikin untuk dua sisi dari Tengo dan Aomame. Tengo adalah seorang lakilaki dewasa, pengajar bimbel yang juga menjadi penulis bayangan dan suka mengikuti kompetisi fiksi meskipun ga pernah menang ((sabar, yaa)), tinggal di apartemen sederhananya, melakukan kehidupan sebagaimruktana manusia normal, punya pacar yang adalah istri orang ((coba, deh, ampun sama kakek Haruki)), sementara Aomame adalah seorang isntruktur olahraga di sebuah pusat kebugaran, yang juga mengajar beberapa klien privat, dan menjadi pembunuh bayaran sebagai kerja sampingan ((what a coll girl!)) #seleralo.

di buku jilid pertama, cerita bermula saat Tengo menerima penawaran untuk menulis ulang sebuah novel yang dikarang oleh anak sma bernama Fuka Eri, seorang gadis yang irit bicara, yang ternyata merupakan anak dari seorang pemimpin sebuah sekte keagamaan terkemuka. sebuah novel yang diberi judul "kepompong udara", sangat melejit dan menjadi best seller yang ternyata berpengaruh buruk untuk sekte tersebut. sebuah novel dengan dua bulan menggantung di langit malam, dengan sedang Aomame adalah seorang wanita dewasa yang di perintahkan oleh seseorang untuk membunuh pemimpin tersebut di jilid kedua, yang ternyata memang menginginkan kematian sebab penyakit yang ia derita.

nah, sekarang saya mau fokus ke jilid 3 nya aja, aduhhh, hati wa berbungabunga.

jadi di jilid 3 ini saya agak kaget juga ada pov Ushikawa, seorang apa yaa, bisa dibilang detektive yang pengacara suruhan Sakigake ((sekte ayahnya Fuka Eri)) untuk mencari dan mendapatkan Aomame yang telah membunuh pemimpim mereka. yaa kaget aja kenapa ada pov ini orang, sementara di dua buku sebelumnya ga ada ((yaiyalah, di dua buku pendahulunya Ushikawa bukan orang penting)) ((iya, maaf)).

cerita berlanjut sejak Aomame memutuskan untuk tidak jadi bunuh diri dan mencari Tengo untuk menyelesaikan semua masalah di dunia 1q84 nya ini. dunia di mana tahun sebenarnya adalah 1984, sedang bulan yang menggantung di langit ada dua, dunia di mana orang kecil datang diamdiam dari jasad yang mati dan bangun lalu menganbil benang di udara dan membuat kepompong yang berisi kloningan untuk memenuhi sebuah aturan. jangan ditanya, yaa, karena sampe halaman belakang buku ini putih sekalipun ga ada yang namanya penjelasan tentang apa itu orang kecil dan apa itu kepompong udara. sialan yang manis, kalau saya bilang, mah. wkwkwkwk.

dan slaah satu hal yang paling membuat saya senang dnegan novel ini adalah, semakin banyak kalimat dari Murakami yang ga saya tahu saya justru semakin suka. semakin banyak katakata "ngaco" yang ia buat, saya semakin jatuh cinta.

***

"pengetahuan besar menuntut tanggung jawab besar."

"di mana ada harapan, di situ ada cobaan. tapi harapan jumlahnya sedikit, dan sebagian besarnya abstrak, sedangkan cobaan begitu banyak dan biasanya konkret."

apakah ada beda yang layak disebut perbedaan? mungkinkah kita sekadar menganggapnya beda agar praktis saja?

tetapi sejak menyaksikan sosok gadis yang tidur di dalam kepompong udara, Tengo tidak bisa memikirkan perempuan selain Aomame. bagi Tengo, perempuan lain sekadar bayangan samar yang kebetulan lewat. sosok Aomame selalu bersemanyam di sudut benaknya.

"waktu terus maju dari hari ke hari". dan waktu yang sudah maju tak bisa dimundurkaan lagi.

"orang berengsek jauh lebih banyak daripada orang yang berguna bagi masyarakat."

tak ada yang lebih gampang ditipu daripada orang yang yakin dirinya benar.

dia nyaris terjangkau. mungkin jika lain kali kuulurkan tanganku, aku benarbenar bisa menjangkaunya. hatinya melayang terbawa kerinduan.

inilah artinya meneruskan hidup. ketika dianugerahi harapan, ornag menggunakannya sebagai bahan bakar dan tujuan untuk menjalani hidup. tanpa harapan, manusia tidak bisa bertahan hidup. tetapi itu sama saja dengan berjudi melemparkan uang logam. sisi depan ataukah sisi belakang yang akan terpampang, tak ada yang tahu sebelum logam itu jatuh ke permukaan.

di hatinya, terasa seolah sebuah pintu ditutup, lalu pintu lain dibuka dengan tenang, tanpa suara.

dia senang mencari informasi di perpustakaan. dia suka rasanya menimbun pengetahuan di dalam otaknya. kebiasaan yang diperolehnya pada masa kanakkanak.

seandainya bisa memilih tempat tinggal, dia ingin hidup di negeri kecil dan damai di Amerika Selatan. Kosta Rika, misalnya. dia akan menyewa vila kecil di pantai, dan melewatkan harihari dnegan berenang, baca buku, dan sebagainya.

kebanyakan orang di dunia ini tidak berpikir pakai otak. dna orang yang tidak berpikir selalu tidak mendengarkan katakata orang lain.

dunia harus bergerak maju, bagai jam waker murahan, hanya bertugas menjalankan peran yang disandangnya sebisanya.

orang harus membayar apa yang diterimanya.

tapi bagaimanapun, bisa saja ada yang luput dari pandangan. karena dia hanya punya sepasang mata.

"apa yang terlanjur rusak tidak bisa dipulihkan seperti sedia kala."

menurutmu, apa definisi kenyataan?" | "tempat orang mengucurkan darah merah kalau ditusuk jarum. itulah dunia nyata."

kami datang dari arah yang berbeda, kebetulan kami berpapasan, saling berpandangan sejenak, lalu berpisah ke arah yang berbeda. kami masingmasing berdiri di dua ujung dunia yang terpisah jauh. tak ada yang dapat menjembatani.

kalau ada secercah harapan, dia akan memeganginya eraterat. biarpun kehujanan, walau diterpa angin, tak peduli terbakar matahari, atau dipukuli pakai tongkat, dia takkan melepasnya. sekali lepas, entah kapan terpegang kembali. dia mampu bertahan dalam penderitaan berat karena sudah belajar, dnegan mempertaruhkan nyawanya sendiri, bahwa ada penderitaan yang jauh lebih berat di dunia ini.

alangkah senangnya kalau Aomame ada di sini, menggenggam erat tanganku, tanpa mengucap sepatah katapun.

"orang yang belum pernah mengalami takkan tahu betapa menyekitkannya itu. rasa skit tidak mudah disamaratakan. tiaptiap rasa skit memiliki ciri khas. kalau boleh menyadur ungkapan terkenal  Tolstoy, semua kesenangan itu serupa, tapi tiap rasa sakit menyakitkan dengan cara masingmasing. walau tidak layak disebut beda rasa."

"maaf, aku tak bisa memberi tahu. tidak hanya kepadamu, tapi kepada siapa pun. kalau ada yang ku kasih tahu, seketika itu juga akan ketahuan seluruh dunia."

"sangat sulit menjelaskan secara logis hal yang tidak logis."

mulai sekarang, akulah yang menentukan. aku yang memutuskan apa yang baik dan apa yang buruk-dan kemana kami melangkah. sebaiknya siapapun ingat itu."

Tengo juga mencariku. hanya itu yang perlu kuketahui. hati Aomame dipenuhi kegembiraan. katakata lain di dunia ini tak berarti lagi baginya.

"katamu kamu mau pergi jauh. seberapa jauh?" | "jaraknya tak bisa diukur." | " seperti jarak yang memisahkan hati orang dari hati orang lain?"

"seandainya kamu benarbenar bertemu dengannya, kalian mau apa di papan luncur?" | "kami berdua mau melihat bulan." | 'romantis sekali."

sama speerti aku selalu memikirkannya, dia juga memikirkanku. Tengo hampirhampir tak percaya bahwa di dunia yang kalangkabut dan menyerupai labirin ini, hati dua insan-pemuda dan pemudi- dapat tersambung tanpa berubah, meski sudah 20 tahun tidak berjumpa.

ada banyak hal yang sulit dipahami. alur ceritanya berbelitbelit. garis mana tersambung dengan garis mana, ada hubungan sebab-akibat macam apa, sulit dilihat.

mungkin lebih baik kami tidak bertemu lagi. tidakkah lebih baik mereka terus memendam hasrat untuk berjumpa kembali, tanpa benarbenar bertemu lagi? dengan begitu, harapan dalam hati mereka akan menyaala selamanya. harapan itu akan menjadi pelita kehidupan yang mengahangatkan mereka sampai tulang sumsum. pelita yang dilindungi telapak tangan agar terlindung dari angin. pelita yang mudah padam jika tertiup angin kencang kenyataan.

ada kalanya waktu mengalir begitu lamban sampaisampai dia nyaris tidak tahan, tetapi kadang beberapa tahap diloncati begitu saja.

sejak lahir, mereka belum pernah sungguhsungguh disayangi, dan belum pernah sungguhsungguh menyayangi. belum pernah memeluk erat, belum pernah dipeluk erat. mereka juga tidak tahu tindakan mereka akan membawa mereka entah ke mana. yang mereka masuki pada saat itu adalah ruangan tanpa pintu. mereka tak bisa keluar, orang lain tak bisa masuk. meski mereka berdua kala itu belum tahu, ternyata itulah satusatunya tempattempat yang sempurna di dunia ini. tempat yang terasing total, namun tiada ternodai kesepian.

dua puluh tahun snagat lama. dalam dua puluh tahun, berbagai hal bisa terjadi. banyak yang lahir, banyak yang mati. selebihnya berubah bentuk, berubah kadar. tetapi bagi hati yang teguh, dua puluh tahun tidaklah terlalu lama. Tengo tahu bahwa kalau pun bertemu dengan Aomame dua puluh tahun lagi, perasaannya pasti sama persis dnegan sekarang. biarpun seandainya mereka berdua sudah berusia setengah abad lebih, hati Tengo pasti tetap bergejolak dahsyat dan dilanda kebingungan di hadapan Aomame seperti sekarang. Tengo pasti merasakan kegembiraan dan keyakinan yang sama seperti sekarang.

nyala api di hatinya tidak padam diterpa angin kenyataan. tidak ada lagi yang lebih penting daripada itu.

"kita takkan pernah berpisah. sudah jelas, lebih dari apapun. tanganku takkan pernah lepas dari tanganmu lagi."

apa yang dikenakan Aomame, atau tidak pakainya, semuanya terlihat sangat alami di mata Tengo. Tengo tidka bisa memikirkan apaapa lagi yang perlu ditambahkan pada, atau dihilangkan dari, penampilan Aomame.

tidak perlu dipaksakan menjelaskan semuanya sekarang. mereka berdua bisa mengisi semua kekosongan pelanpelan sambil jalan-kalau memang ada kekosongan yang harus diisi. bagi Tengo, asalkan ada yang bisa ditanggung berdua-biarpun itu kekosongan yang terbengkalai atau tekateki yang takkan pernah terpecahkan-rasanya dapat ditemukan kebahagiaan yang menyerupai cinta kasih.

"asal kamu percaya, selebihnya aku tak peduli. tidak perlu penjelasan."

hanya ada satu rembulan. bulan kuning sepi-sendiri yang sudah tidak asing lagi. bulan lama yang mengambang bisu di atas padnag rumput perak, mengapung pada permukaan danau yang tenang sebagai piring bundar putih, hening menyinari atap rumahrumah yang tidur pulas. bulan lama yang menghantamkan arus pandang ke pantai, menorehkan kilau lembut pada bulu binatang, menyelimuti dan melindungi musafir pada malam hari. bulan yang kadang menjelma jadi sabit tajam dan menguliti jiwa, kadang menjelma menjadi gelap yang diamdiam memandikan bumi dalam kesepiannya sendiri. bulan yang satu itu. bulan itu terpancang di langit, persis di atas papan iklan Esso, tanpa didampingi bulan kecil hijau pencong. bulan itu mengambang bisu tanpa pendamping. Aomame dan tengo serempak melihat pemandangan yang sama. tanpa sepatah kata pun, Aomame menggenggam erat tangat besar Tengo.

"aku kesepian begitu lama. dna terluka begitu dalam. andai berjumpa kembali denganmu lebih cepat, aku tidak perlu lewat jalan putar sejauh ini." | "tidak. ini jalan terbaik. sekarang inilah waktunya yang tepat. buat kita berdua."

Tidak ada komentar: