Kamis, 22 Januari 2015

kebiasaan membaca


Kebiasaan membaca seharusnya bukan milik orang Jepang. Bayangkan, di Jepang, koran2 top mereka, seperti Asahi Shimbun, oplahnya per hari saat masa puncak bisa mencapai nyaris 8 juta eksemplar (edisi pagi), dan 3 juta (edisi sorenya). Ampun2an deh melihat angka ini. Kalian tahu, setiap 1000 orang Jepang, maka ada 634 koran. Gile bener, kan? Di Indonesia, sebaliknya satu koran bisa buat 10 orang. Yomiuri Shimbun, koran Jepang juga, bahkan sirkulasinya bisa mencapai 14 juta per hari (tahun 2005; tahun paling tinggi).

Kebiasaan membaca juga seharusnya bukan milik orang Singapore. Jaringan perpustakaan nasional Singapura, mengacu data tahun 2007, dikunjungi oleh 37 juta pengunjung, alias 100.000 lebih pengunjung per hari. Masih mau bertanya kenapa Singapura masuk dalam daftar negara2 maju, bersih, jujur, dan hal2 menakjubkan lainnya? Karena mereka suka membaca.

Itu artinya, dalam setahun, rata2 penduduk Singapura berkunjung ke perpustakaan nasional mereka 7,4x (diluar toko buku, kafe buku, dsbgnya). Nah, kalau kota Jakarta mau menyamai Singapura, kita harus memiliki 74 juta pengunjung di jaringan perpustakaan daerah Jakarta. atau kalau seluruh Indonesia 1,7 milyar pengunjung di jaringan perpustakaan nasional seluruh Indonesia. Silakan cek sendiri data pengunjung perpustakaan Nasional di Jakarta, kalian bisa menangis melihat angkanya. 37 juta di Singapore, ratusan ribu di Jakarta.

Kebiasaan membaca juga seharusnya bukan milik negara2 Eropa. Menurut cerita orang2 yg pernah tinggal di luar negeri; negara2 maju itu, budaya membacanya bukan main. Di kereta, di bus, di halte, mereka pada rajin membaca. Karena saya hanya tinggal di kisaran sini-sini saja, jd saya tidak tahu pasti, apakah kabar ini benar atau cuma kabar burung saja.

Kalau melihat data dari nationmaster, maka di negara seperti Swis, Finlandia, Inggris, rata2 produksi buku per judul bisa mencapai 2 judul per 1000 penduduk. Indonesia di urutan 97, dengan angka 0,001 judul per 1000 penduduk. Kita lagi2 tertinggal jauh.

Negara2 maju itu perpustakaannya ramai sekali. Jam buka perpustakaan baru setengah jam lagi, pukul 09.00, yg mengantri di halaman perpustakaan sudah mengular panjang, yang membuat petugas perpust harus membuat aturan main masuk per gelombang. Di Indonesia rasa-rasanya sy tidak pernah menemukan yg begitu. Saya pernah nyasar di Hongkong, lagi jalan di taman, kemudian kebelet hendak ke belakang, langsung kabur ke salah-satu gedung terdekat, saya bingung melihat ini antrian apa sih? Panjang benar, pagi2 sekali? Seorang petugas berbaik hati bilang antrian masuk perpust. Saya menghela nafas lega, Thx God, sy kira ini antrian ke toilet. Di negeri kami, Mister, antrian toilet umum lebih panjang dibanding antrian ke perpustakaan.

Tinggalkan data kuantitatif yang kadang membuat pusing, mari kita lihat sekitar; apakah kebiasaan membaca ada? Anak2 remaja, apakah lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca? Orang tua, orang2 dewasa, apakah lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca? Silahkan dinilai masing2, karena kalau sy yang menyimpulkan, lebih banyak yang protesnya. Bilang melototin gagdet, itu juga membaca. Bilang membaca sekarang bisa lewat gagdet. Ya iyalah, memang bisa, bahkan mengaji kitab2 lama saja bisa lewat gagdet. tapi situ baca buku lewat gagdet atau baca update status? Twitter? Instagram? Situ lagi serius, atau cuma ngeles bergaya doang? Karena pembaca lewat gagdet sungguhan, tidak pernah perlu menjelaskan lagi, apalagi membela diri.

Saya hanya ingin menutup catatan pendek ini dengan: seharusnya kebiasaan membaca itu MILIK kita. Ya Allah, bukankah semua umat muslim tahu, ayat pertama yang diturunkan berbunyi: bacalah. Kebiasaan membaca itu sungguh seharusnya milik kami. Milik kami ya Allah. Jadi bukan karena tere liye seorang penulis buku, yang jualan buku, maka dia konsen sekali atas budaya membaca, tapi adalah perintah nyata dalam kitab suci, membaca. Mulai dari membaca kitab suci, kitab hadist, hingga buku2 bermanfaat lainnya.
Entahlah. Sebenarnya, apakah orang2 modern di luar negeri itu yang lebih paham soal perintah membaca ini, mereka mengambil manfaatnya, sementara kami tidak--bahkan tidak peduli kalau itu perintah pertama kitab suci.

Terakhir, sebagai penutup, akan saya repost sebuah summary manfaat membaca (menurut ’Aidh bin Abdullah al-Qarn), semoga bermanfaat:
1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
2. Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk dalam kebodohan.
3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang2 malas dan tidak mau bekerja.
4. Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
5. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
7. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalama orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksanan dan kecerdasan orang-orang berilmu.
8. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan merespon ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari disiplin ilmu dan aplikasi didalam hidup.
9. Keyakinan seseorang akan bertambah ketika dia membaca buku2 yang bermanfaat, terutama buku2 yang ditulis oleh penulis2 yg baik. Buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.
10. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia2.
11. Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebihlanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).

Adios!

sumber : Notesnya Bang Tere

***

asik, si abang bikin tulisan begini lagi. selalu suka, dengan pendangan beliau tentang membaca. terlepas dari fakta bahwa beliau adalah seorang penulis -yang notabenenya jualan buku untuk dibaca orang-, kebiasaan membaca memang layak untuk digaungkan, apalagi di negeri kita ini.

Rabu, 21 Januari 2015

setelah pertanyaan


apa yang akan terjadi, setelah pertanyaanmu terjawab
bukankah setelah itu, juga hanya akan ada pertanyaan berikutnya
pertanyaan atas jawaban dari pertanyaanmu sendiri

sebab itukah aku tak mau bertanya
pada yang menguasai segala
dimana separuh nyawa tersimpan
sampai mana ia sanggup berjalan tanpa penopang

jika aku bisa jadi pertanyaan
maka akan kuajukan yang tersulit hingga kau tak mampu lagi berucap kata
hingga kau tak bisa lagi temukan makna
dibalik tanya jawabmu sendiri

ingin aku masuk ke dalam kepalamu
menjejaki seluruh tanda tanyamu
menelusuri setiap pemikiran dalam benakmu
lalu kuselimuti engkau dengan jawaban

tapi aku hanyalah pertanyaan
yang tak pernah jua kau ketahui
di mana letak tanda tanyaku
hingga akhirnya kau melenggang pergi
tanpa menoleh sama sekali




Selasa, 20 Januari 2015

aku atau kau


katamu, kau ingin terbang dan menangkap awan
lalu memberikannya pada dia yang terperangkap senja
mengagumi bayangbayang

kau bilang, semoga waktu akan mengungkap
setiap alasan dari bibirnya, yang tak bisa kau tentang
lalu berjalan mengikuti kehendakmu untuk memiliki
dia yang terbuang juga dari anganangan 

sedang kita menjelajah segala asa dengan tergesa
yang dirundung kelabunya rindu 
sementara tak ada jejak yang tersisa
antara nyata atau hanya fatamorgana

jika bagumu ia oase di tengah gurun
maka harus aku anggap apa engkau yang membangun mimpiku
sementara akal sehat meminta aku menyadarkan diriku segera

dan aku
entah sejak kapan
mulai bicara dengan diriku sendiri
di depan cermin
yang ku anggap sebagai dirimu


Jumat, 16 Januari 2015

seperti membeli baju


kadang sesuatu datang dan memberitahu kita hal yang harus dilakukan tanpa kita memintanya. ((ngomong apa sih gue)). jadi gini, saya ini mau cerita, tapi lagi mentok nyari kata pengantarnya apaan. ceritanya gini ((kok ngulang, sih)) ((pening sendiri)), dua minggu lalu, sabtu 3 januari 2015 ((masih suka typo kalau tulis tangan ke 2014)) ((ga move on)) ((kok ga nyambung)).

KAPAN CERITANYA?????

jadi, saya dan teman saya, sebut saja dia Hanif ((memang nama sebenarnya)), yang sedang menginap di rumah saya, pergi ke pasar, karena dia berniat untuk membeli baju. jadilah kita berdua nih yaa ((yaa kalau bertiga gue bingung mau siapa satunya lagi?)) ((sudahlah, saya semakin gila aja)). saat memilih baju dan merasa suka dengan model-warna-bentuk-tapi tidak dengan harganya kita tawar menawar, dong, sama penjualnya. trus sampai ke bagian;

"sekian ribu yaa, mbak?"
"jangan, geh, mbak. tambahin dikit lagi. sekianplusplus ribu."
"ga, deh, mbak. sekian ribu kalau mau."
"yaudah enaknya aja, sekianplus ribu."
"ga, mbak. sekian ribu."
"yaa ga bisa kalau sekian ribu, mah, mbak. bahannya kan xxx yyy zzz blablabla."
"yaudah, mbak. kalau ga boleh juga gpp."

stop sampai sini aja, yaa. saya ga ceritakan gimana akhirnya kita bisa dapet sekian ribu dan ngerasa, "doh, harusnya kita tawar lebih murah lagi tadi" #kelakuan

titik beratnya ada di, "yaudah, mbak. kalau ga boleh juga gpp"

setelah mengucap kalimat ini di toko baju dan beranjak pergi, ga ada sama sekali kesedihan atau ketidak relaan karena keinginan memiliki baju tsb belum tercapai. yang ada adalah, "yaudah kalau ga boleh, gpp. kita pulang aja. ntar aja caricari laginya."

setelah itu saya jadi mikir, kenapa di dalam kehidupan, di dalam masalah cinta/jodoh ((kok ini sih)) kita tidak/belum bisa memakai prinsip ini. prinsip ikhlas. kalau kata film kiamat sudah dekat, mah, 'ilmu ikhlas'. kenapa kalau tidak mendapatkan sesuatu yang sebelumnya bukan milik kita, kita merasa kesal, geliah, tak tenang, marahmarah? sedih sendiri. dongkol sendiri. kenapa kita ga bisa sesederhana menyikapi hidup seperti membeli baju? oke, hidup memang ga segampang katakata mutiara motivator, tapi kita toh tetap bisa memilih mau bahagia dengan kecukupan atau selalu merasa kekurangan karena tidak pernah bersyukur.



Kamis, 15 Januari 2015

all of the stars


it's just another night and i'm staring at the moon
i saw a shooting star and thought of you
i sang a lullaby by the waterside and knew
if you were here, i'd sing to you

you're on the other side
as the skyline splits in two
miles away from seeing you

but i can see the stars from America
i wonder, do you see them too?

so open your eyes and see
the way our horizons meet
and all of the lights will lead
into the night with me
and i know these scars will bleed
but both of our hearts believe
all of these stars will guide us home

i can hear your heart on the radio beat
they're playing "Chasing Cars" and i thought of us
back to the time you were lying next to me
i looked across and fell in love

so i took your hand
back through lamp-lit streets and knew
everything led back to you

so can you see the stars over Amsterdam?
hear the song my heart is beating to

so open your eyes and see
the way our horizons meet
and all of the lights will lead
into the night with me
and i know these scars will bleed
but both of our hearts believe
all of these stars will guide us home

i can see the stars from America
popular by : Ed Sheeran




***

ternyata ini lagu buat soundtrack The Fault in Our Stars, yes? hehe, setelah denger beberapa kali dan suka baru tau kalau ini ost film.

you're on the other side
as the skyline splits in two
miles away from seeing you

**tewas**

Sabtu, 10 Januari 2015

kepada menuju cinta


kita bisa menari, walau tanpa musik yang mengiringi
atau tertawa, tanpa perlu ada canda mengawali
dan melengkungkan senyum rembulan, meskipun sabit belum datang mengantikan purnama

sejak rindu tersisih dan menghilang
yang tersisa hanya janji pada diri sendiri
cinta yang aku ((kita)) tuju
sedang mengayuh sampannya ke hulu
sedang hilir belum lagi tampak
sedang ombak belum lagi menyerah menghempas

siapa berlari menuju siapa
saat ingin mengalahkan logika
dan menajamkan firasat
sedang matahari belum terbenam
dan kita sama belum melangkah menjauh dari kubangan
yang semakin melebar
yang semakin menjerumuskan


Rabu, 07 Januari 2015

begin again


took a deep breath in the mirror
he didn't like it when I wore high heels
but i do
turn the lock and put my headphones on
he always said he didn't get this song
but i do, i do

walked in expecting you'd be late
but you got here early and you stand and wave
i walk to you
you pull my chair out and help me in
and you don't know how nice that is
but i do

and you throw your head back laughing like a little kid
i think it's strange that you think i'm funny 'cause he never did
i've been spending the last eight months
thinking all love ever does is break and burn and end
but on a Wednesday in a cafe i watched it begin again

you said you never met one girl
who had as many James Taylor records as you
but i do
we tell stories and you don't know why
i'm coming off a little shy
but i do

but you throw your head back laughing like a little kid
i think it's strange that you think i'm funny 'cause he never did
i've been spending the last eight months
thinking all love ever does is break and burn and end
but on a Wednesday in a cafe i watched it begin again

and we walked down the block to my car and i almost brought him up
but you start to talk about the movies that your family watches
every single Christmas and i want to talk about that
and for the first time what's past is past

'cause you throw your head back laughing like a little kid
i think it's strange that you think i'm funny 'cause he never did
i've been spending the last eight months
thinking all love ever does is break and burn and end
but on a Wednesday in a cafe i watched it begin again
but on a Wednesday in a cafe i watched it begin again 

popular by : Taylor Swift


***

haaaa~~~ lagilagi Swift. bagin again. memulai kembali. seperti awal. mungkin makna lagu ini akan sedikit menyimpang dari apa yang Taylor sampaikan. untuk saya, ini artinya memulai kembali awal yang baik, untuk sesuatu yang seharusnya sudah sejak dahulu saya lakukan, sesuatu yangs eharusnya tidak membuat saya menahan hati saya begitu lama.

bagaimana mungkin bertahan begitu lama untuk seseorang yang tidak menyukai apa yang membuat kita bahagia? bukankah kita seharusnya bahagia sejak awal, sejak sebelum bertemu, dan sampai kapanpun. i wont cange myself to be someone you want. seseorang yang tidak bisa menerima apa adanya orang lain mana mungkin bisa bertahan bersama? mana mungkin mau bertahan dengan orang yang menjadi pilihan pertama kita sedang kita adalah pilihan kedua atau entah keberapanya?

cinta bukan sekadar siap tidaknya, rasa tidaknya, tapi cinta adalah tentang harga diri.

Senin, 05 Januari 2015

1Q84 ; saat pertanyaan di duniamu, tak pernah bisa kau temukan jawabannya


bagaimana kamu bisa tenang memandang langit, saat ada dua bulan menggantung di langit?

Aomame dan Tengo, terpisah selama 20 tahun tapi siapa menyangka mereka punya takdir yang harus dilewati bersama demi kembali ke tahun di mana mereka seharusnya berada. 

kisah dimulai dengan dua sudut pandang, sebenernya sih, satu, penulisnya doang, cuma dibikin untuk dua sisi dari Tengo dan Aomame. Tengo adalah seorang lakilaki dewasa, pengajar bimbel yang juga menjadi penulis bayangan dan suka mengikuti kompetisi fiksi meskipun ga pernah menang ((sabar, yaa)), tinggal di apartemen sederhananya, melakukan kehidupan sebagaimruktana manusia normal, punya pacar yang adalah istri orang ((coba, deh, ampun sama kakek Haruki)), sementara Aomame adalah seorang isntruktur olahraga di sebuah pusat kebugaran, yang juga mengajar beberapa klien privat, dan menjadi pembunuh bayaran sebagai kerja sampingan ((what a coll girl!)) #seleralo.

di buku jilid pertama, cerita bermula saat Tengo menerima penawaran untuk menulis ulang sebuah novel yang dikarang oleh anak sma bernama Fuka Eri, seorang gadis yang irit bicara, yang ternyata merupakan anak dari seorang pemimpin sebuah sekte keagamaan terkemuka. sebuah novel yang diberi judul "kepompong udara", sangat melejit dan menjadi best seller yang ternyata berpengaruh buruk untuk sekte tersebut. sebuah novel dengan dua bulan menggantung di langit malam, dengan sedang Aomame adalah seorang wanita dewasa yang di perintahkan oleh seseorang untuk membunuh pemimpin tersebut di jilid kedua, yang ternyata memang menginginkan kematian sebab penyakit yang ia derita.

nah, sekarang saya mau fokus ke jilid 3 nya aja, aduhhh, hati wa berbungabunga.

jadi di jilid 3 ini saya agak kaget juga ada pov Ushikawa, seorang apa yaa, bisa dibilang detektive yang pengacara suruhan Sakigake ((sekte ayahnya Fuka Eri)) untuk mencari dan mendapatkan Aomame yang telah membunuh pemimpim mereka. yaa kaget aja kenapa ada pov ini orang, sementara di dua buku sebelumnya ga ada ((yaiyalah, di dua buku pendahulunya Ushikawa bukan orang penting)) ((iya, maaf)).

cerita berlanjut sejak Aomame memutuskan untuk tidak jadi bunuh diri dan mencari Tengo untuk menyelesaikan semua masalah di dunia 1q84 nya ini. dunia di mana tahun sebenarnya adalah 1984, sedang bulan yang menggantung di langit ada dua, dunia di mana orang kecil datang diamdiam dari jasad yang mati dan bangun lalu menganbil benang di udara dan membuat kepompong yang berisi kloningan untuk memenuhi sebuah aturan. jangan ditanya, yaa, karena sampe halaman belakang buku ini putih sekalipun ga ada yang namanya penjelasan tentang apa itu orang kecil dan apa itu kepompong udara. sialan yang manis, kalau saya bilang, mah. wkwkwkwk.

dan slaah satu hal yang paling membuat saya senang dnegan novel ini adalah, semakin banyak kalimat dari Murakami yang ga saya tahu saya justru semakin suka. semakin banyak katakata "ngaco" yang ia buat, saya semakin jatuh cinta.

***

"pengetahuan besar menuntut tanggung jawab besar."

"di mana ada harapan, di situ ada cobaan. tapi harapan jumlahnya sedikit, dan sebagian besarnya abstrak, sedangkan cobaan begitu banyak dan biasanya konkret."

apakah ada beda yang layak disebut perbedaan? mungkinkah kita sekadar menganggapnya beda agar praktis saja?

tetapi sejak menyaksikan sosok gadis yang tidur di dalam kepompong udara, Tengo tidak bisa memikirkan perempuan selain Aomame. bagi Tengo, perempuan lain sekadar bayangan samar yang kebetulan lewat. sosok Aomame selalu bersemanyam di sudut benaknya.

"waktu terus maju dari hari ke hari". dan waktu yang sudah maju tak bisa dimundurkaan lagi.

"orang berengsek jauh lebih banyak daripada orang yang berguna bagi masyarakat."

tak ada yang lebih gampang ditipu daripada orang yang yakin dirinya benar.

dia nyaris terjangkau. mungkin jika lain kali kuulurkan tanganku, aku benarbenar bisa menjangkaunya. hatinya melayang terbawa kerinduan.

inilah artinya meneruskan hidup. ketika dianugerahi harapan, ornag menggunakannya sebagai bahan bakar dan tujuan untuk menjalani hidup. tanpa harapan, manusia tidak bisa bertahan hidup. tetapi itu sama saja dengan berjudi melemparkan uang logam. sisi depan ataukah sisi belakang yang akan terpampang, tak ada yang tahu sebelum logam itu jatuh ke permukaan.

di hatinya, terasa seolah sebuah pintu ditutup, lalu pintu lain dibuka dengan tenang, tanpa suara.

dia senang mencari informasi di perpustakaan. dia suka rasanya menimbun pengetahuan di dalam otaknya. kebiasaan yang diperolehnya pada masa kanakkanak.

seandainya bisa memilih tempat tinggal, dia ingin hidup di negeri kecil dan damai di Amerika Selatan. Kosta Rika, misalnya. dia akan menyewa vila kecil di pantai, dan melewatkan harihari dnegan berenang, baca buku, dan sebagainya.

kebanyakan orang di dunia ini tidak berpikir pakai otak. dna orang yang tidak berpikir selalu tidak mendengarkan katakata orang lain.

dunia harus bergerak maju, bagai jam waker murahan, hanya bertugas menjalankan peran yang disandangnya sebisanya.

orang harus membayar apa yang diterimanya.

tapi bagaimanapun, bisa saja ada yang luput dari pandangan. karena dia hanya punya sepasang mata.

"apa yang terlanjur rusak tidak bisa dipulihkan seperti sedia kala."

menurutmu, apa definisi kenyataan?" | "tempat orang mengucurkan darah merah kalau ditusuk jarum. itulah dunia nyata."

kami datang dari arah yang berbeda, kebetulan kami berpapasan, saling berpandangan sejenak, lalu berpisah ke arah yang berbeda. kami masingmasing berdiri di dua ujung dunia yang terpisah jauh. tak ada yang dapat menjembatani.

kalau ada secercah harapan, dia akan memeganginya eraterat. biarpun kehujanan, walau diterpa angin, tak peduli terbakar matahari, atau dipukuli pakai tongkat, dia takkan melepasnya. sekali lepas, entah kapan terpegang kembali. dia mampu bertahan dalam penderitaan berat karena sudah belajar, dnegan mempertaruhkan nyawanya sendiri, bahwa ada penderitaan yang jauh lebih berat di dunia ini.

alangkah senangnya kalau Aomame ada di sini, menggenggam erat tanganku, tanpa mengucap sepatah katapun.

"orang yang belum pernah mengalami takkan tahu betapa menyekitkannya itu. rasa skit tidak mudah disamaratakan. tiaptiap rasa skit memiliki ciri khas. kalau boleh menyadur ungkapan terkenal  Tolstoy, semua kesenangan itu serupa, tapi tiap rasa sakit menyakitkan dengan cara masingmasing. walau tidak layak disebut beda rasa."

"maaf, aku tak bisa memberi tahu. tidak hanya kepadamu, tapi kepada siapa pun. kalau ada yang ku kasih tahu, seketika itu juga akan ketahuan seluruh dunia."

"sangat sulit menjelaskan secara logis hal yang tidak logis."

mulai sekarang, akulah yang menentukan. aku yang memutuskan apa yang baik dan apa yang buruk-dan kemana kami melangkah. sebaiknya siapapun ingat itu."

Tengo juga mencariku. hanya itu yang perlu kuketahui. hati Aomame dipenuhi kegembiraan. katakata lain di dunia ini tak berarti lagi baginya.

"katamu kamu mau pergi jauh. seberapa jauh?" | "jaraknya tak bisa diukur." | " seperti jarak yang memisahkan hati orang dari hati orang lain?"

"seandainya kamu benarbenar bertemu dengannya, kalian mau apa di papan luncur?" | "kami berdua mau melihat bulan." | 'romantis sekali."

sama speerti aku selalu memikirkannya, dia juga memikirkanku. Tengo hampirhampir tak percaya bahwa di dunia yang kalangkabut dan menyerupai labirin ini, hati dua insan-pemuda dan pemudi- dapat tersambung tanpa berubah, meski sudah 20 tahun tidak berjumpa.

ada banyak hal yang sulit dipahami. alur ceritanya berbelitbelit. garis mana tersambung dengan garis mana, ada hubungan sebab-akibat macam apa, sulit dilihat.

mungkin lebih baik kami tidak bertemu lagi. tidakkah lebih baik mereka terus memendam hasrat untuk berjumpa kembali, tanpa benarbenar bertemu lagi? dengan begitu, harapan dalam hati mereka akan menyaala selamanya. harapan itu akan menjadi pelita kehidupan yang mengahangatkan mereka sampai tulang sumsum. pelita yang dilindungi telapak tangan agar terlindung dari angin. pelita yang mudah padam jika tertiup angin kencang kenyataan.

ada kalanya waktu mengalir begitu lamban sampaisampai dia nyaris tidak tahan, tetapi kadang beberapa tahap diloncati begitu saja.

sejak lahir, mereka belum pernah sungguhsungguh disayangi, dan belum pernah sungguhsungguh menyayangi. belum pernah memeluk erat, belum pernah dipeluk erat. mereka juga tidak tahu tindakan mereka akan membawa mereka entah ke mana. yang mereka masuki pada saat itu adalah ruangan tanpa pintu. mereka tak bisa keluar, orang lain tak bisa masuk. meski mereka berdua kala itu belum tahu, ternyata itulah satusatunya tempattempat yang sempurna di dunia ini. tempat yang terasing total, namun tiada ternodai kesepian.

dua puluh tahun snagat lama. dalam dua puluh tahun, berbagai hal bisa terjadi. banyak yang lahir, banyak yang mati. selebihnya berubah bentuk, berubah kadar. tetapi bagi hati yang teguh, dua puluh tahun tidaklah terlalu lama. Tengo tahu bahwa kalau pun bertemu dengan Aomame dua puluh tahun lagi, perasaannya pasti sama persis dnegan sekarang. biarpun seandainya mereka berdua sudah berusia setengah abad lebih, hati Tengo pasti tetap bergejolak dahsyat dan dilanda kebingungan di hadapan Aomame seperti sekarang. Tengo pasti merasakan kegembiraan dan keyakinan yang sama seperti sekarang.

nyala api di hatinya tidak padam diterpa angin kenyataan. tidak ada lagi yang lebih penting daripada itu.

"kita takkan pernah berpisah. sudah jelas, lebih dari apapun. tanganku takkan pernah lepas dari tanganmu lagi."

apa yang dikenakan Aomame, atau tidak pakainya, semuanya terlihat sangat alami di mata Tengo. Tengo tidka bisa memikirkan apaapa lagi yang perlu ditambahkan pada, atau dihilangkan dari, penampilan Aomame.

tidak perlu dipaksakan menjelaskan semuanya sekarang. mereka berdua bisa mengisi semua kekosongan pelanpelan sambil jalan-kalau memang ada kekosongan yang harus diisi. bagi Tengo, asalkan ada yang bisa ditanggung berdua-biarpun itu kekosongan yang terbengkalai atau tekateki yang takkan pernah terpecahkan-rasanya dapat ditemukan kebahagiaan yang menyerupai cinta kasih.

"asal kamu percaya, selebihnya aku tak peduli. tidak perlu penjelasan."

hanya ada satu rembulan. bulan kuning sepi-sendiri yang sudah tidak asing lagi. bulan lama yang mengambang bisu di atas padnag rumput perak, mengapung pada permukaan danau yang tenang sebagai piring bundar putih, hening menyinari atap rumahrumah yang tidur pulas. bulan lama yang menghantamkan arus pandang ke pantai, menorehkan kilau lembut pada bulu binatang, menyelimuti dan melindungi musafir pada malam hari. bulan yang kadang menjelma jadi sabit tajam dan menguliti jiwa, kadang menjelma menjadi gelap yang diamdiam memandikan bumi dalam kesepiannya sendiri. bulan yang satu itu. bulan itu terpancang di langit, persis di atas papan iklan Esso, tanpa didampingi bulan kecil hijau pencong. bulan itu mengambang bisu tanpa pendamping. Aomame dan tengo serempak melihat pemandangan yang sama. tanpa sepatah kata pun, Aomame menggenggam erat tangat besar Tengo.

"aku kesepian begitu lama. dna terluka begitu dalam. andai berjumpa kembali denganmu lebih cepat, aku tidak perlu lewat jalan putar sejauh ini." | "tidak. ini jalan terbaik. sekarang inilah waktunya yang tepat. buat kita berdua."

Minggu, 04 Januari 2015

status (bagian keempat puluh satu)


“Kalau kita malas melakukan sesuatu, nggak mau, nggak niat, kita bisa punya 1.000 alasan.
Kalau kita semangat, niat, dan mau melakukan sesuatu, ajaibnya, ternyata kita kadang hanya butuh 1 alasan saja, bahkan boleh jadi tidak sama sekali.
Kabar baiknya, kita bisa memilih menjadi yang mana.”

Jika cinta tidak butuh alasan, maka putus pun sama sekali tidak butuh penjelasan. Cukup selesai saja.
Benar nggak, sih?

Besok anggota DPR pada reses (istirahat dari sidang2), nah pada disuruh ke dapil (daerah pemilihan) masing2. Buat sangu, semua dikasih 150 juta.
Dalam setahun anggota DPR itu memperoleh total dana reses 1 milyar per orang, total jenderal seluruh anggota dewan anggarannya 560 milyar. Di luar gaji, tunjangan dan uang2 lainnya.
Semoga uang2 itu memang digunakan sesuai amanahnya. Mari kita doakan wakil rakyat ini amanah semua.

Adik-adik sekalian amat terlarang menuduh orang lain munafik. Ada banyak sekali hadist2 sahih yang melarang kita melakukannya. Nah, menuduh orang lain "pencitraan" adalah sama persis seperti menuduh munafik.
Dek, saya tidak peduli dengan Si Bambang, Si Joko, Si Bowo, Si Ahok, dsbgnya. Saya tidak peduli dengan sakit hati jagoan pilpres dsbgnya. Tapi saya peduli dengan kalian, saya peduli sebagai sesama saudara muslim, saling menasehati agar berhenti melakukannya.
Silakan baca kisah2nya, buku2 baik yang membahas lebih detail soal ini. Berhenti jika kita masih melakukannya. Istigfar. Dan lebih2 istigfar lagi jika kita masih keras hati, menolak nasehat ini, terus merasa memiliki argumen melakukannya.
Semoga Allah menjaga kerusakan gara-gara lisan/tulisan kita. 

*Kisah pemimpin yang mulia
Ada seorang pemimpin yang mulia. Pada suatu hari dia menjadi imam shalat. Berbaris rapilah para jamaah di belakang. Tapi shalat itu berbeda dari biasanya, karena dari tubuh imam selalu terdengar bunyi gemeretuk. Aduh, suara apakah itu? Lepas shalat, salah-satu jamaah, sahabat dekat pemimpin bertanya, "Wahai pemimpin kami, apakah engkau sakit?". Yang ditanya menggeleng, "Saya sehat."
Sahabat dekat pemimpin ini tetap penasaran, jelas-jelas dia mendengar suara aneh dari pemimpinnya, "Wahai pemimpin kami, apakah engkau sakit?". Yang ditanya sekali lagi menggeleng, "Saya sehat." Ah, mana mungkin, sahabat dekat ini mendesak, "Apakah engkau sakit, wahai pemimpin kami?"
Yang ditanya sekarang balik bertanya, "Saya sehat2 saja. Memangnya ada apa?"
Sahabat dekat pemimpin berbicara, "Kami mendengar suara gemeretuk setiap kali engkau bergerak, kami cemas engkau sakit."
Singkat cerita, pemimpin ini akhirnya membuka baju yang dia kenakan--aduhai, itu baju paling sederhana. Di belakang baju itu lihatlah, ada buntalan kain--itu juga kain sederhana. Di dalam kain itu, bertumpuk kerikil dan batu kecil. "Ini apa, wahai pemimpin kami?"
Pemimpin tersebut melepas buntalan kain dari perutnya. Itu jelas sekali adalah alat pengganjal perut kosong. Lihatlah, pemimpin mereka perutnya tipis, terlihat menyedihkan.
"Wahai pemimpin kami," Sahabat dekat ini berseru sambil menahan air mata tumpah, dengan suara bergetar, "Apakah engkau tidak yakin, jika engkau bilang lapar, maka kami tidak akan berebut menyediakan makanan untukmu?"
Pemimpin yang mulia ini tersenyum, "Tentu saja kalian akan melakukan apapun untukku, wahai sahabat. Tapi apalah yang akan kukatakan kepada Allah nanti, jika aku sebagai pemimpin menjadi beban bagi orang yang dipimpinnya. Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah untukku. Agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia, terlebih di akherat."
Itulah pemimpin yang amat mulia.
***
Kita semua tahu, hari ini, agama menjadi 'komoditas' yang menarik sekali, bukan--apapun agamanya?
Dalam kasus ini, karena saya muslim, maka contohnya adalah Islam. Banyak negara2 didirikan dengan berlandaskan Islam. Banyak organisasi yang didirikan berlandaskan Islam. Banyak sekolah, aktivitas, apapun itu, didirikan berlandaskan Islam. Termasuk saya, menulis buku2 bernuansa islam, itu produk yang laku.
Nah, menarik dicermati, lantas apa kabar dengan pemimpin negara2 itu? Pemimpin organisasi2 itu? Pemimpin sekolah2, aktivitas2 itu?
Apakah mobil yang dimiliki pemimpinnya lebih baik dibanding yang dipimpinnya. Rumah yang dimiliki pemimpinnya lebih mewah dibanding yang dipimpinnya. Pakaian yang dikenakan, sepatu, aksesoris. Menarik sekali mencermati hal ini. Apakah pemimpinnya kaya raya, yang dipimpinnya bersusah payah. Apakah pemimpinnya rapat di hotel, yang dipimpinnya kepanasan di jalan.
Berapa harga jam tangan mereka? Berapa harga jas mereka? Apakah mereka benar2 mengambil suri teladan dalam nasihat agama, atau hanya sekadar mencomot yang cocok, sesuai dengan kepentingan. Lantas sibuk ngeles kemana2 bicara tentang kepantasan, kalau duit sendiri apa salahnya?
Karena seharusnya; kita tahu sekali kisah di atas. Siapa pemimpin yang mulia itu. Kita semua tahu sekali siapa yang harus mengikatkan kerikil di perut untuk mengganjal perut yang lapar.

*DPR Outsourcing
Berapa besar rumah kalian? Mayoritas penduduk Indonesia paling mentok hanya punya rumah ukuran 40 meter persegi. Maka bagaimana rasanya jika ada sebuah kamar, ukurannya 40 meter persegi? Satu kamar saja ukurannya setara dengan satu rumah. Kamar ini memiliki kasur super empuk, bantal terbaik, bahkan kamar mandinya, besar sekali. Bisa berendam, bisa bersantai, enak. Kamar ini berada di sebuah hotel bintang lima, dengan tarif satu malam 2 juta rupiah. Aduh, jika UMP hanya 2,8 juta, (banyak di daerah yang UMP hanya 1 koma sekian juta); itu berarti butuh bekerja selama sebulanan baru bisa menginap di hotel bintang lima ini.
Itulah standar hotel yang digunakan partai2 politik ketika mereka Munas. Berkumpul ribuan orang di satu tempat, menyewa ribuan kamar hotel selama 3-4 malam. Penuh dengan kemewahan. Penuh dengan makanan lezat, penuh dengan semua hal wah-wah dan wah lainnya. Lantas kemudian, saat rapat, mereka akan sibuk membahas tentang rakyat? Tentang mereka peduli rakyat? Mau membela wong cilik? Itu sungguh lelucon terbaik yang ada di negeri ini. Contoh paling mutakhir adalah Munas parpol di Nusa Dua Bali kemarin. Itu Munas di tempat paling top kemewahan seluruh Indonesia, secara matematis, tidak kurang 10 milyar hanya untuk biaya sewa kamar hotel saja. Belum tiket pesawat, belum uang saku.

Tapi kan kalau mereka punya uangnya ya terserah, dong? Memangnya situ miskin, yang mau nge-kost 300 ribu sebulan saja nggak ada duit? Iya, itu betul, memang terserah mereka.
Yang menjadi masalahnya adalah: partai politik itu milik siapa? Milik publik? Atau milik perorangan? Di negeri ini, tidak jelas transparansi dan akuntabilitas sebuah partai. Kita tidak pernah ada audit secara menyeluruh dari mana itu partai dapat duit? Dari sumbangan kader. Baik. Lantas darimana kader2 itu dapat duitnya? Kita tahu sama tahulah, kadang erat kaitannya korupsi, bagi2 proyek, dsbgnya dengan sumber pendanaan partai. Saking eratnya, tengok saja pesakitan KPK, bendahara, Ketum partai, masuk penjara mereka.
Dan lebih serius lagi pertanyaan: partai politik itu sebenarnya memperjuangkan apa? Kekuasaan individual atau kesejahteraan rakyat? Semua partai pasti buncah bilang demi rakyat. Lantas kenapa ketika mereka Munas, jauh sekali dari realitas tersebut? Bahkan rapat kecil, konferensi pers, pakai hotel mewah, dikit-dikit ditempat keren nan kinclong. Saya tidak paham situasi ini. Apalagi kalau sampai membahas tampilan mereka, apanya yang akan membicarakan wong cilik kalau jam tangan mereka saja nyaris 100 juta? Jas yang mereka kenakan 10 juta? Wong cilik mana sih yang sekeren itu?
Dari dulu saya selalu bertanya hal simpel ini: siapa sih yang paling diuntungkan dengan adanya partai politik? Entahlah. Karena jangan2 terlalu banyak yang diberikan negara ini untuk partai politik, tapi sedikit sekali yang mereka berikan untuk negara. Boleh jadi, besok lusa, kita outsource saja DPR/DPRD malah lebih baik. Dan partai politik, mereka juga bisa kita outsource, yang jika tidak becus, bisa dipecat segera. Asyik kan? Dan mereka cukup dikasih UMP saja.

"Seberat apapun beban yang mengganduli kaki, waktu terus berlalu" -
*Tere Liye, novel "Burlian"

Kalau kita punya kemampuan doa makbul, maka sebaik-baiknya doa tujukanlah kepada pemimpin agar dia amanah dan adil. Besar sekali manfaatnya ketika pemimpin mampu berlaku amanah dan adil. Sedangkan dampak doa tersebut kalau ditujukan ke kita akan terbatas sekali.
Kalau kita punya cercaan atau menjelek2an yang makbul, maka sebaik-baiknya tujuan adalah tujukan ke kita sendiri. Agar kita mau beranjak terus memperbaiki diri sendiri. Dan dampak kejelekan itu jika ditujukan ke kita sendiri pun akan terbatas sekali.
Ini nasehat guru2 dulu. Entah kalau sekarang, mungkin dibalik logikanya.

Koruptor (para pencuri) adalah para pembantah no. 1.
Maka membingungkan sekali jika ada orang yang justeru membela mereka. Percaya sekali ilusi tidak bersalah yang diciptakan.

Kenapa orang2 korup? Karena dia tidak pernah tahu betapa indahnya proses berusaha, dan kegagalan adalah cara terbaik untuk mensyukuri setiap kesempatan.
Kenapa orang2 menyontek? Karena dia tidak pernah tahu pengetahuan jauh lebih penting dari nilai2. Pemahaman jauh lebih penting dibanding ijasah.
Adalah pilihan semua orang, silakan jika ingin serba instan, serba cepat, serba jadi. Tapi belajarlah dari wisdom makanan. Mayoritas semua makanan yang serba instan, serba cepat, dalam jangka panjang bisa merusak yang memakannya. Sedangkan makanan baik, disiapkan dengan baik, dimasak dengan baik, tidak hanya lezat mengenyangkan, tapi sehat sudah bagi yang makan.

Dek, hidup ini tidak selalu harus diisi sebal2an melulu, marah2 melulu. Apalagi dinding facebooknya, nggak bosan apa diisi jelek2in orang melulu? Ituuu saja.
Karena eh karena, Bezita saja sama Son Goku bisa akur setelah berantem 5 episode nggak habis2nya--mana harus nunggu minggu depan nonton lanjutannya.

Penjelasan beberapa hal:
1. Kalian tidak perlu minta ijin jika hendak menjadikan novel2 Tere Liye sebagai skripsi, tesis, atau disertasi. Saya ijinkan semua. Juga termasuk untuk keperluan drama sekolah, materi diskusi, materi presentasi, dll. 100% diijinkan, sepanjang tidak komersil/bisnis. Boleh.
2. Tapi saya tidak bisa dimintai lagi wawancara, interview, dll, terkait proses pembuatan tugas tersebut. Silakan dikerjakan secara mandiri. Saya tidak muncul di televisi, tidak ada di media massa, terlepas dari karena memang tidak ada yang naksir ngundang Tere Liye masuk teve, saya pikir, cukuplah buku2 itu saja yang dibahas2, tidak perlu penulisnya ditanya2 lagi. Nanti saya malah narsis.
3. Saya tidak bisa memberikan foto bareng, tanda-tangan bukti, dll untuk keperluan tugas itu. Karena eh karena, apa hubungannya foto bareng dengan skripsi?
4. Penjelasan ini bersifat final, dan dengan disiplin saya berlakukan 3-4 tahun terakhir. Jika kalian memang merasa wajib sekali harus interview, foto bareng, dll, saran saya, lebih baik memilih buku lain saja yang bisa. Dan pastikan itu bukan buku Imam Syafi'i, atau Imam Ghazali, karena beliau sudah meninggal, entah bagaimana ngasih buktinya ke dosen.

Bukan kita saja yang miskin, bodoh, orang tua tidak mendukung, dsbgnya. Sama sekali bukan. Ada jutaan orang lain yang senasib dengan kita. Tapi kalau mereka berhasil sukses, kenapa kita tidak?
Kalau mereka bisa melanjutkan sekolah di tempat2 yang bagus, kenapa kita tidak?
Mulailah dipikirkan. Karena boleh jadi, alasan sebenarnya adalah: kita hanya asyik main HP setiap hari. Lebih banyak main HP dibanding buka buku untuk belajar. Untuk kemudian, banting pintu atau menangis jika tidak dibelikan pulsa. 

Pacaran itu bukan cuma dekat sama dosa.
Tapi juga dekat sama: bokek, masalah perasaan, patah-hati,putus, besok2 nggak bisa melupakan, hingga gangguan akut pikiran.
Pikirkanlah.

Jika satu pintu tertutup, maka sebenarnya satu pintu lain sedang terbuka. Jika satu kesempatan hilang, pun satu kesempatan lain justeru muncul.
Jangan putus asa. Jangan kecewa.

“Orang-orang yang bersabar tidak otomatis hidupnya seindah definisi sabar tersebut. Dimata banyak orang, boleh jadi hidupnya biasa saja, menyedihkan malah.
Orang-orang yang jujur, tidak selalu hidupnya jadi semegah definisi jujur tersebut. Di mata banyak orang, boleh jadi hidupnya biasa saja, menyedihkan malah. Di mata banyak orang, boleh jadi hidupnya patut dikasihani, miskin sekali.
Tapi sesungguhnya, hidup ini bukan soal yang terlihat dimata orang-orang. Hidup ini adalah kebahagiaan. Dan jelas, kebahagiaan selalu bersemayam dalam hati masing-masing. Kitalah yang tahu persis bahagia atau tidak, bukan orang lain.
Kemuliaan hidup tidak akan tertukar walau hanya seperjuta mili.”
*Tere Liye
**salam buat yang habis ditangkap KPK.

Ketika benci sudah menggunung, maka orang lain akan selalu salah, tidak ada baiknya meski sebutir debu saja. Sedangkan diri sendiri dianggap selalu benar, paling baik dan suci.
*nasehat guru

Jangan iri dengan kisah cinta yang ada dalam novel, film, lagu, dsbgnya. Itu semua ditulis oleh manusia, direka2, karangan saja.
Sedangkan kisah cinta kita, sungguh akan ditulis oleh yang maha memiliki skenario terbaik. Tidak akan tertukar. Tidak akan keliru. Kitalah pemeran utamanya, jadi mari menjadi pemeran cerita paling keren, agar keren sudahlah skenario yang kita jalani.

Selamat kepada KPK yang menangkap ketua DPRD Bangkalan (ex. Bupati Bangkalan).
Bravo!

Sungguh malang sebuah kaum, yang berusaha memenangkan perangnya lewat sistem yang dimiliki musuhnya.
*Tere Liye
**jika kalian paham, maka akan terang-benderang sekali dimana kaki dan pemahaman politik Tere Liye berdiri. sementara itu belum terjadi, maka saya akan fokus ikut menanamkan pemahaman ke anak2, remaja2. sekali akhlak baik dan manfaat mereka kuasai, yang lain pasti menyusul.

Ketika kita tidak suka dengan situasi tertentu, maka solusinya tidak pernah dengan: memaki, mencaci, menjelek2an, melempari telur. Itu jauh sekali dari ahklak yang baik. Sehebat apapun dalil agama yang kita pakai, jika caranya jauh dari ahklak baik, hasilnya nol besar.
Belajarlah dari Nabi dulu. Nabi dilempari batu, kotoran, dicaci-maki, Nabi justeru tersenyum dan tetap berkata dengan baik, dan hasilnya akhirnya baik. Maka, jangan ambil dalilnya saja, ambil juga satu paket teladannya.
Kalian yang tidak setuju argumen ini silahkan kalau mau ikut memaki saya. Ikut menyerukan boikot buku2, tulisan2 Tere Liye. Karena saya sih, lebih memilih fokus terus mengirimkan buku2, tulisan2 kepada pembaca saya. Nah, memakinya jangan coba2 di page ini, karena ada satpam cipirili.

Ahok itu bukan musuh islam. Kalau kita tidak suka, maka tidak perlu memaki, menghina, apalagi menyerukan agar dilempari telur. Ini jadi rumit sekali, jangan bawa2 nama Islam untuk kebencian kelompok.
Hanya satu solusinya: siapkan generasi lebih baik, muslim yang berahklak baik dan bermanfaat. Didik anak2 kita dengan pemahaman baik. Kita itu harus bercermin (dan mau mengakuinya), politikus Islam itu buram sekali saat ini, petinggi partai2 Islam dicokok KPK, belum lagi berbagai pernyataan2, karut-marut komentar, bukannya membuat orang respek, malah benci.
Nah, jika tetap ingin "benci" dengan Ahok, doakan saja dia dapat hidayah. Itu ada teladan doanya. 

Tentu saja semua orang pasti berbuat salah. Tapi tidak semua orang mencuri, korup, aniaya dan zalim kepada orang banyak.
Pun sama, semua orang tentu saja tidak ada yang sempurna. Tapi tidak otomatis semua orang itu pemalas, tidak kongkret dan hanya menghabiskan waktu mubazir.
Ada hal di dunia ini yang memang adalah "wisdom" terbaik, menuntun kita terus memperbaiki diri. Tapi ada juga yang hanya "excuse", atau "alasan" saja.

Selalu
Kita selalu saja merasa hak kita kurang, tidak dipenuhi. Untuk lupa, kewajiban mendasar kita justru sedang kita abaikan.
Kita selalu saja melihat ke atas, kan di sana lebih banyak. Untuk lupa, dibandingkan orang di sekitar, kita jauh lebih beruntung.
Kita selalu saja merasa masalah kita lebih penting, lebih mendesak. Untuk lupa, orang lain juga punya masalah, dan jauh lebih serius.
Kita selalu saja menilai orang lain menyakiti kita, kitalah korbannya. Untuk abai sekali, kitalah yang terus-menerus menyakiti orang lain.
Kita selalu saja merasa benar, membela hal benar. Untuk lupa, bahkan kita sendiri ragu dengan apa yang sedang kita bicarakan.
Kita selalu saja merasa kongkret, nyata. Untuk lupa, saat melihat catatan, tidak ada satupun hal membanggakan yang pernah kita buat.
Kita selalu saja merasa bisa melakukan banyak hal, tidak butuh orang. Untuk lupa, seluruh kehidupan kita ini hanyalah belas kasih orang lain.

Kalau kalian pacaran, lantas patah hati, silakan dikunyah sendiri sakit hatinya. Ditanggung resikonya. Situ yang pacaran, kenapa orang lain yang harus ketiban curhat?
Tahu pribahasa: Kalian yang makan nangkanya, orang lain yang kena getahnya? Kurang lebih begitu perumpamaannya.

Hanya orang2 kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu. Meski sakit hati, menangis, marah2, sebal, sekali pada akhirnya bisa tulus melepaskan, dia sudah berhasil menaklukkan diri sendiri. 

Tidak perlu terburu-buru. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang spesial, menunggu lama sekalipun itu tetap berharga.
Tidak perlu cemas apalagi takut. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang sejati, kita tidak akan cemas walau sesenti, sejauh apapun pergi, dia akan kembali.

Kenapa sih setiap ada kasus korupsi anggota partai politik yang dicokok KPK, partainya malah mengirim pembelaan, mengirim tim pengacara, dll? Bukannya malah dipecat dari partai.
Karena eh karena....

*Doa minta kaya agar bisa sedekah
Saya tidak tahu, sejak kapan ada banyak sekali buku2, tulisan, orang2 yang mengajak kaum muslim agar kaya biar nanti bisa banyak sedekah. Bahkan doa2 yang dipanjatkan pun, kadang redaksinya jelas sekali: berikan kami kekayaan ya Allah, agar besok lusa kami bisa banyak2 berinfaq, berbuat kebaikan.
Tahukah kita, redaksi doa ini bagai de-javu saja, bak pinang dibelah dua dari kisah yang telah dituliskan dalam Al Qur'an. Dan kisah itu jelas sekali ada di kitab suci agar kita mengambil hikmah.
Silahkan buka Surah At Taubah, ayat 75 (sy tuliskan terjemahannya):
"Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
Disusul ayat 76: Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
Kemudian ayat 77: Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta."
Silahkan baca ayat2 ini. Baca berulang2, biar tiba di hati terdalam (dan gugur sudah tapi, tapi, tapi dengan segala pembenarannya). Ingat baik2, memang tidak dilarang kaya dalam agama kita. Tapi ketahuilah, jangan menggunakan logika dunia untuk urusan akherat. Dan sebaliknya, jangan menggunakan logika akherat untuk pembenaran urusan dunia.
Seharusnya kita cemas sekali setelah membaca ayat2 ini. Silakan buka Al Qur'an, baca langsung ayat2 ini. Kalimat2 itu bukan karangan saya, dan istilah munafik itu juga bukan saya yang tulis, tapi ada di ayat2 tersebut.

*Memasukkan Air Ke Dalam Kantong
Bagaimanalah triknya, Kawan, kita diberikan sebuah botol, besar memang, tapi guru menyuruh kita memasukkan seluruh air di danau ke dalam botol itu?
Bagaimanalah caranya, Sobat, kita diberikan sebuah kantong plastik, amat besar sungguh, tapi guru menyuruh kita memasukkan seluruh pasir di pantai ke dalam kantong tersebut?
Sungguh tidak bisa. Kita hanya bisa kembali dengan botol dan kantong plastik, menggeleng. Menatap guru yang hanya tersenyum bijak.
Maka itulah dunia ini. Kehidupan kita persis seperti botol dan kantong plastik itu. Sebesar apapun botol dan kantongnya, seraksasa apapun bentuknya, dia tetap memiliki kapasitas. Terbatas.
Sedangkan air di danau, pasir di pantai adalah keinginan kita. Banyak sekali. Hei, bukan hanya air di danau yang saya sebut dalam tulisan ini, tapi juga ada danau2 lainnya, danau berwarna hijau, berwarna merah, berwarna cokelat. Belum lagi menghitung air di sungai, di lautan, di toren, di parit, di galon minum, dsbgnya. Itulah keinginan manusia. Tidak terbatas. Ibarat butiran pasir, tak terbilang jumlahnya di dunia ini. Tak sanggup untuk dihitung butir demi butir. Tak mampu diterka berapa jumlahnya. Itulah keinginan manusia. Amat tidak terbatas.
Jadi, bagaimanalah kita: memenuhi keinginan tidak terbatas itu dengan kehidupan yang terbatas?
Kenapa kita masih saja lagi, terus, merasa kurang, mau nambah, selalu melihat orang yang lebih, terussss saja dipenuhi dengan ambisi-ambisi keinginan. Hingga kita benar-benar lupa sebuah nasehat bijak: saat mati, tidak ada satupun yang dibawa pergi. Semua ditinggalkan di atas dunia.
Demikianlah. Maka semoga kita selalu termasuk golongan orang2 yang berpikir.

Di page ini, bahkan saya sendiri saja tidak posting jualan peninggi badan, celana dalam, sepatu, pulsa, MLM, partai, dsbgnya. Karena saya menghormati anggota page ini yang datang untuk belajar.
Lantas kenapa kalian (yang pada bandel) berani-berani betul menulis di kolom komentar jualan barang semaunya? Kalau mau jualan, silakan di profil masing-masing, jangan nyampah. 

Kenapa kita tidak diberikan Tuhan mobil keren? Boleh jadi karena, bisa naik angkot atau motor kemana2 kita tidak becus bersyukur Apalagi nanti dikasih mobil keren, malah tambah kurang ajar.
Kenapa kita tidak diberikan Tuhan pekerjaan bergaji tinggi? Boleh jadi karena, sudah punya pekerjaan tetap yang baik saja kita masih mengeluh. Apalagi nanti kalau sudah naik pangkat, tak berkurang keluhannya.
Kenapa kita gagal ini, gagal itu?
Boleh jadi karena, kita berhasil ini, berhasil itu selama ini tidak pernah berterimakasih. Apalagi nanti kalau berhasil semua, hanya menambah daftar panjang hitam tidak tahu terimakasih

Sayangi rasa sakit yang kita terima. Peluk dengan erat. Maka semoga rasa sakitnya berkurang.
Sungguh, apa2 yg kita tidak sukai, boleh jd itu amat baik bagi kita.

Orang yang mudah sekali menjelek2an, ketika giliran dia dijelek2an, maka dia justeru akan marah-semarahnya.
Orang yang mudah sekali melabeli, menuduh, ketika giliran dia dilabeli, dituduh, maka dia akan justeru akan mengamuk bukan main.
*nasehat ini adalah resep orang tua; berlaku hingga kapanpun. harap digunakan dengan dosis yang tepat. efek samping diluar tanggung-jawab.

Adik-adik sekalian, dalam hadist2 sahih, amat terlarang membaca ramalan bintang/zodiak. Ini serius sekali larangannya. Mau iseng, mau lucu-lucuan, mau selintas lalu, sama saja. Apalagi kalau sampai follow, share, dsbgnya. 
Lagian, yang bikin itu ramalan bintang itu, bahkan meramal nasib hidupnya sendiri saja tidak bisa. Bagaimana mungkin kita mau ikut2an mendengarkan hal sia-sia dan tiada bermanfaat dari mereka yang sok tahu?
Semoga paham. Untuk detail hadist2 sahih larangannya, silakan merujuk buku2 yang membahas soal ini dengan lengkap.

Sakit hati itu temporer. Tapi pemahaman, pelajaran yg diperoleh bisa abadi.
Rasa bahagia, senang, itu pun temporer. Tapi rasa syukur atas semua hal itu bisa abadi.

Kita harus tahu, "cinta" itu sudah bosan dijadikan pembenaran, argumen atas situasi manusia yang membuat rumit dan merusak dirinya sendiri. Bosan.
Karena "cinta" selalu saja bersahaja dan suci. Manusialah yang me-recokinya dengan keinginan, ambisi, ngotot, nafsu, dsbgnya.

Di tangan orang2 terpilih dan cemerlang: sakit hati membuatnya terus berkarya, bekerja keras, kongkret, berusaha menjadi lebih baik dari orang yang membuatnya sakit hati.
Di tangan orang2 tersudut dan kelam: sakit hati membuatnya terus menjelek-jelekkan, dengki, bila perlu mengeluarkan fitnah dan amarah membabi-buta.
Pilihan ada di tangan kita. Dilatih sejak remaja, hingga besok lusa, tiada situasi yang bisa merugikan kita sendiri.

Salah-satu ciri ketika kita sudah keras hati adalah: semua kebaikan orang dianggap dusta; semua penjelasan orang dianggap bohong. 
Berhati-hatilah. Karena sungguh malang, ketika tiba di akhir, kita baru menyadari: justeru kita sendiri masalah terbesar kita selama ini.

Wahai saudara2ku sesama muslim;
1. Sebelum bereaksi habis2an atas sebuah berita, cobalah cek dan ricek, atau dalam bahasa kerennya 'tabayun'. Karena hari ini, banyak sekali berita yang tidak jelas, asal kutip dsbgnya, bahkan itu datang dari website berita dengan standar jurnalistik tinggi, apalagi yang tidak, bisa apa saja keluar sebagai berita.
2. Sungguh, pikirkan berkali2 sebelum mengklik share atas sebuah tulisan yang belum jelas statusnya, belum ada tabayunnya. Karena jika kita melakukannya, share kita tadi dibaca orang lain, maka kita termasuk bagian yang menanggung fitnah (jika berita itu fitnah); bergunjing (jika berita itu aib); berbohong (jika berita itu bohong). Bisa dalam sekali kerusakan yang ikut kita ciptakan--dan kelak akan diperhitungkan meski hanya sebesar debu.
3. Banyak-banyaklah berpikir positif. Boleh jadi, apa yang ditulis tidak demikian maksudnya. Boleh jadi, saudara kita punya alasan baiknya yang kita tidak tahu. Ini akan mencegah kita tiba-tiba mengamuk, hanya untuk kemudian terpaksa minta maaf (asumsi kita mau minta maaf).
Semoga di page ini, masih banyak yang mau mendidik anak2 kita agar memiliki ahklak yang baik; lemah lembut dengan saudara sendiri.

Ketika kita melewati sebuah ujian, boleh jadi kita lulus secara bentuk, tapi hakikatnya tidak. Hanya yang terlihat di luar saja lulus, di dalamnya, yang lebih penting malah tidak.
Kita lulus ujian di sekolah misalnya, secara bentuk memang, tapi jika menyontek kita sejatinya gagal total, kita justeru sedang gagal di ujian paling hakiki.
Kita lulus, jadi PNS, polisi, karyawan, dll misalnya, secara bentuk memang lulus, tapi jika dgn menyuap, kita justeru gagal total dalam ujian kejujuran.

Ketika seseorang membuat kita menunggu, itu berarti ada hal lebih penting yang dia urus dibandingkan kita.
Selalu begitu.
Karena kalau kita memang penting, amat berharga, dia tidak akan pernah membiarkan kita menunggu. Dan sama, ketika kita merasa seseorang itu penting, kita juga tidak akan pernah membiarkan dia menunggu sedikit pun.

Nabi sendiri pernah menasehati: "Sambunglah (hubungan silaturahim) terhadap orang yang memutuskannya, berikanlah (sesuatu) kepada orang yang telah mengharamkannya untukmu dan ma’afkanlah orang yang telah menzalimi kamu.”
Aduh, sungguh tidak masuk akal jika kita bilang cinta pada Nabi, tapi setiap hari pekerjaan kita justeru mengajak orang2 memutus tali silaturahmi. Semoga di page ini tidak ada yang ikut-ikutan. 

Hidup ini kadang tidak berjalan sesuai keinginan kita. Karena pengemudi hidup kita sejatinya bukan kita sendiri.
Tidak mengapa. Sepanjang kita tetap jujur, bekerja keras dan selalu kongkret, insya Allah, jalannya kembali lancar.

Menyakiti balik orang2 yang menyakiti kita boleh jadi memang memberikan rasa puas, kebahagiaan. Biar tahu rasa.
Tapi hakikat terbaik dari pembalasan justeru terletak saat kita bisa melakukannya, tapi kita memilih memaafkannya. Melupakannya.
Itu sungguh akan memberikan rasa puas, kebahagiaan yang lebih hakiki. Lebih menenteramkan.

Banyak di antara para pencinta yang mengucapkan kalimat "selamat tinggal" kepada seseorang/sesuatu yang bahkan sebelumnya tidak pernah disapa "selamat bertemu", tidak pernah bersama sama sekali, tidak pernah punya jalan cerita bersisian.
Perasaan itu kadang kejam sekali.

Dunia ini besar sekali. Naik pesawat saja butuh lebih dari sehari semalam mengelilinginya. Apalagi jalan kaki, bisa bertahun-tahun.
Dunia ini juga banyak sekali penghuninya. Ada tujuh milyar. Coba saja kita berhitung 1 sampai dengan 7 milyar, jangan-jangan, tiba di angka 6.999.999.999, kalian akan trauma melihat dan mendengar angka. Banyak sekali orangnya.
Maka, bagi orang2 yg tidak paham, ketika menyaksikan dua orang bertemu, saling suka, lantas menikah, dia akan bilang: Itu sungguh kebetulan menarik, ada 7 milyar orang, dan mereka bisa berjodoh satu sama lain.
Tetapi sebaliknya, bagi orang2 yg yakin, ketika menyaksikan dua orang bertemu, saling suka, lantas menikah, dia akan bilang: Itulah skenario terhebat dari yang maha memilki skenario. Tidak akan tertukar. 

Hal yang sudah jelas dan pasti saja kadang berakhir menyakitkan. Apalagi yang tidak jelas dan tidak pasti. Tinggalkanlah. Bergegas. Ada banyak hal lebih penting yang harus segera diurus. Jangan habiskan waktu sia-sia.

Kunci perbaikan pendidikan di Indonesia itu adalah: guru. Bukan kurikulum, apalagi UN. Perbaiki kualitas gurunya, maka dengan cepat sekali kualitas pendidikan kita akan membaik.
Terpujilah wahai engkau Ibu-Bapak guru yang amanah, yang sungguh mencintai profesinya, yang dicintai murid2nya, yang mendidik murid2nya agar senantiasa jujur. 

Hukuman terbaik bagi penipu adalah: kita jujur padanya.
Hukuman terbaik bagi si pelit adalah: kita pemurah padanya.
Hukuman terbaik bagi si pembenci adalah: kita menghormatinya.
Dan hukuman terbaik bagi orang yang suka menjelek2an adalah: kita terus memperbaiki menjadi lebih baik darinya.
Percayalah, jurus2 ini sakti sekali.

Jika seseorang itu memang sungguh2 ingin tinggal, maka dia akan selalu punya alasan, meskipun sudah beribu alasan gagal. Dia akan menemukan alasan baik berikutnya.
Tapi sebaliknya, jika seseorang itu memang sudah ingin pergi, seribu alasan baik pun tidak akan berguna lagi. Dia tetap akan pergi.

Ambisi, keinginan, nafsu membuat seorang RAJA menjadi budak.
Tapi sabar justeru membuat seorang BUDAK menjadi raja.
*nasehat seorang guru, Imam Ghazali

Jangan menghina fisik dan wajah orang lain. Sungguh jangan. Mau bergurau, main-main, lucu-lucuan, atau ikut-ikutan, segera berhenti.
Menghina fisik orang lain (yang adalah given dari Allah, ciptaan Allah) sama persis seperti menghina yang menciptakannya. Pikirkanlah hal ini dengan baik. 

Jika kalian sudah khatam membaca novel "Negeri Para Bedebah", kalian baru boleh komen di postingan2 politik page ini.
Di luar itu, maka isi komennya akan lumrah sekali jika malah menulis: Duh, please bahas tentang cinta-cinta saja deh.
Yang membuat saya bingung. Kenapa ini tamu-tamu yang ngatur pemilik rumah? Tidak pernah diajarin soal sopan-santun bertamu apa?
*Salam cipirili
**page ini enteng sekali mencipirilikan bahkan orang yang pernah membeli 20 buku2 saya, hadir di acara2 saya. pahamilah hal itu. kalian ngeyel, ketahuan satpam, cipirili.

Orang2 yang sudah tahu kalau dia cuma hanya untuk disakiti, dibohongi, tapi tetaaap saja nggak kapok, tetap tidak berubah, maka itu sama kayak dia mandi tiap pagi, siang dan sore, tapi nggak pernah ganti baju.
Baju yang ituuuu saja dipakai, berminggu2. Sudah bau, dekil, dakian, tumplek jadi satu di bajunya--mandi sih tetap mandi.


Ketika kita bicara jelek atas seseorang, maka sebenarnya bukan karena orang lain itu jelek sesungguhnya. Melainkan, kita sendirinyalah yang tidak ada hal-hal baik yang pantas diucapkan.
Ketika kita asyik menjelek2an orang lain, masalahnya selalu ada di kita. Bukan di orang lain, yang boleh jadi malas menghabiskan waktu mengurusi kita.
*nasehat lama

Senyum adalah jembatan yang menghubungkan antara dua mata.
Kalimat yang santun dan baik adalah jembatan yang menghubungkan antara dua telinga.
Perbuatan yang mulia adalah jembatan yang menghubungkan antara dua hati.
Maka, jangan ragu2 membangun jembatan setiap hari. Bukan sekadar agar kita selalu terhubung dalam kebaikan, tapi yang lebih penting, agar kita tidak terisolasi dari kebahagiaan.
Tentu bukan hanya desa atau kampung saja yang bisa terpencil, manusia juga bisa disebut 'manusia terpencil'. Yang sayangnya bukan karena posisi geografisnya, tapi karena dia tidak mau membangun jembatan2 penghubung tersebut.

Kita tidak perlu kebarat2an, kekorea2an, atau apapun itu untuk terlihat menarik dan menjadi perhatian orang banyak.
Kita cukup tampil apa adanya, kita banget, enjoy, tanpa perlu meniru2 orang lain.
Jika orang banyak melakukannya, bukan berarti itu cocok buat kita.

Kalian tahu tidak, Pemerintah barusaja memutuskan akan menalangi 781 milyar untuk membayar hutang Lapindo ke warga yang tanahnya terkena dampak lumpur. Itu nilai sisa pembelian tanah warga. Karena Lapindo sudah menyerah, mengaku tidak punya uang lagi. Atas dana talangan ini, pemerintah akan menguasai tanah terkena dampak lumpur (yg semuanya adalah lumpur), Lapindo diberikan waktu 4 tahun melunasinya ke Pemerintah. Jika tidak lunas, tanah itu disita Pemerintah.
Argumen dari kebijakan ini adalah: kasihan dengan rakyat yang sudah 8 tahun menunggu ganti rugi. Dana talangan ini akan diambilkan dari APBN 2015, dan Lapindo dibuatkan perjanjian dengan Jaksa Agung. Beritanya ada di mana-mana, silakan baca.
Uenak tenan yo rek kalau orang besar punya hutang, bisa ditalangi oleh pemerintah. Om pemerintah, aku bisa minta tolong talangin hutang kredit motor bututku? Sampeyan boleh sita dulu motornya selama 4 tahun, nanti tak lunasi--kalau aku mau melunasi. Kalau nggak, ya ambil saja motornya, sing penting hutangku sudah dibayar. Toh, itu cuma motor butut.
Saya benar-benar tidak paham logika keputusan ini. Bukankah pemerintah itu bisa menyita aset apapun dari siapapun demi membela rakyat? Kenapa malah sebaliknya? Sangat mengecewakan. 781 milyar itu bukan uang kalian yang seenaknya saja dibagikan. Setiap koinnya adalah air mata rakyat.
Brengsek.
*Tere Liye
Maafkan saya menggunakan kata brengsek di postingan ini. Saya sedang memaki saya sendiri, yang hanya bisa menonton, tidak bisa berbuat apapun.

Postingan soal Lapindo semalam membingungkan kalian fans fanatik KMP dan KIH, bukan?
Yang nge-fans sama KMP, mau ikutan komen dukung, kecewa dgn pemerintah, bingung sendiri, karena Lapindo itu punya siapa. Yang nge-fans sama KIH, mau komen membela diri, juga ribet, karena ini jelas keputusan siapa. Jadilah beberapa komen fans berat malah kemana2, tidak fokus.
Itulah, dek. Di dunia ini cukuplah membela prinsip2 hidup kita. Berdiri di sana dengan kokoh. Nah, buat yang ilfil lihat page ini memposting tentang politik, kalian harus baca novel saya yang berjudul "Negeri Para Bedebah". Hidup ini bukan cuma soal galau perasaan. Kalian dipanggil untuk peduli mendidik generasi baru.
Salam bedebah!

Ada banyak sekali kesenangan datang dari sekadar berbicara sebentar dengan sahabat baik. Yang bisa mengguyur suasana hati muram dan sebal.
Ada banyak sekali obat kebahagiaan dari hanya bertemu sejenak dengan sahabat baik. Yang bisa melepaskan sejenak penat dan pikiran.
Sahabat baik adalah sahabat baik. Dia selalu spesial dan boleh jadi tidak tergantikan oleh jenis hubungan lain.

Ketika kita menutup mata, maka kita justeru mampu melihat hal-hal yang tidak kita lihat dengan mata terbuka sebelumnya.
Ketika kita menutup mulut, maka kita justeru mampu bicara hal-hal yang tidak bisa kita katakan dengan mulut terbuka lantang.
Oh dear, inilah salah-satu nasehat paling tua. Diajarkan penuh kasih sayang oleh guru2 kehidupan.


BBM lagi naik, harga2 juga lagi naik. Di tengah suasana susah seperti ini, jangan ada sekolah yang mewajibkan karya wisata, study tour ke murid2nya. Sampai diancam kalau tidak ikut.
Juga kegiatan lain yang memang tidak penting2 amat, jangan sampai keluar istilah wajib, harus, karena toh masih ada alternatif murah-meriahnya. Selalu berikan kesempatan murid2 kita punya hak untuk menyampaikan pendapat dan memilih.
Ayo, dipanggil nuraninya, siapa tahu masih nyisa.
Tidak ada yang melarang sekolah melakukan karya wisata/study tour. Silahkan. Boleh. Tapi pastikan tidak wajib, memaksa, bahkan mengancam murid2 hingga mendiskriminasi.
Tidak semua orang bisa mengeluarkan uang untuk jalan-jalan, buat sekolah saja kadang susah. Pun kalaupun bisa menabung jauh-jauh hari, ada keperluan lain yang lebih mendesak dibanding jalan-jalan yang tidak ada dalam kurikulum itu.
Guru-guru yang baik, mencintai dan dicintai murid2nya tahu persis soal ini. Dia akan melindungi murid-muridnya dari upaya sistematis yang memaksa anak didiknya harus ikut karya wisata/study tour. Apalagi sampai memanfaatkan study tour sebagai kesempatan membawa keluarganya jalan-jalan gratis. Tidak akan dilakukan.

Kita tidak bisa mengendalikan orang lain harus bilang apa tentang kita. Tidak bisa. Hari ini, semua orang bebas-bebas saja menilai apapun, mau negatif, mau menjelek2kan, termasuk membicarakan tentang kita.
Tapi kita selalu bisa mengendalikan bagaimana kita menyikapinya. Dan belajarlah dari teladan agung. Balas kalimat kasar dengan lemah lembut. Balas makian dgn kasih sayang. Dan balas semua kata menyakitkan dengan memperbaiki diri kita, hingga akhirnya, semua orang bisa melihatnya siapa yang terus produktif, berusaha menjadi lebih baik setiap hari.

Ketekunan mengalahkan bakat, kepintaran bahkan jenius.
Maka, orang2 yang tekun akan menggapai cita-citanya--bahkan kalaupun cita2 tersebut adalah memindahkan gunung, mengeringkan danau.
--Tere Liye
*kalau ada yang mau ngeles bilang "keberuntungan mengalahkan ketekunan", maka itu bukan nasehat, itulah yg disebut bersilat lidah. masa' kalian mau ngajarin anak2 kita agar mengandalkan keberuntungan (alih-alih ketekunan) di hidup ini?


Besok lusa, kalau kalian sudah besar, kalian akan tahu, tidak banyak pengusaha/pedagang itu yang mewarisi nasehat Nabi, jujur dan amanah. Kalau sudah soal uang, sifat aslinya keluar semua.
Tapi tidak mengapa, kalianlah harapan esok lusa. Pengusaha/pedagang muslim yang jujur, amanah, transparan, akuntabel, menghormati hak orang lain walau hanya hak sebutir apel, dan semua sifat mulia lainnya.

Kita tahu sekali situasi ini. Ada seorang penumpang berangkat dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta, di lorong-lorong bandara dia merokok, tidak peduli ada papan besar "No Smoking", saat ke toilet, bahkan dia tidak peduli harus flush, air berceceran. Saat antri boarding naik pesawat, dia nyelak, saat ada yang protes dia melotot marah. Di pesawat, dia cuek bebek nelepon pas pesawat sudah siap berangkat.
Nah, penumpang ini ternyata menuju ke Singapura.
Persis dia tiba di bandara Changi sana, orang ini mendadak ketika antri di loket imigrasi berbaris amat rapi. Saat mau merokok, dia hati-hati mencari tempat yang memang boleh merokok. Saat ke toilet, bukan cuma flush, air di wastafel pun dia lap agar bersih.
Kita tahu sekali situasi ini, karena banyak yang menyaksikannya berkali-kali secara langsung. Kenapa di negeri sendiri, orang2 cuek melanggar peraturan, melanggar kaidah dan etika umum? Tapi di Singapura, mereka tiba-tiba seperti bebek, patuh habis-habisan?
Karena hukum tidak pernah ditegakkan serius di sini. Tapi jangan bersedih hati, mari didik generasi baru. Singapura perlu berpuluh tahun mengubah cara berpikir rakyatnya. Kita memang lebih lambat, super duper lambat, tapi besok lusa, kita akan punya generasi itu.

*Setidaknya
Setidaknya perasaan itu sifatnya gratis. Rindu misalnya, tidak bayar sama sekali, kalau rindu itu sampai bayar, aduh, bisa jadi fakir semua para pencinta di dunia ini. Rindu satu jam bayar 10.000, rindu sepanjang tahun, berapa biayanya?
Setidaknya perasaan itu juga sifatnya tidak diskriminatif. Jatuh cinta misalnya, tidak ada diskriminasinya, kalau sampai ada, bisa jadi yang pesek dilarang jatuh cinta sama yang mancung, nyatanya boleh2 saja. Banyak yg pesek berjodoh sama yang mancung, malah kisah cinta mereka spesial.
Setidaknya perasaan itu juga sifatnya bukan ujian nasional. Kalau rasa sayang itu ada UN-nya, bisa jadi, angka kecurangan membumbung tinggi. Lihat saja, orang2 bahkan ingin tahu sekali siapa yang melihat profile FB-nya? Bila perlu dengan software khusus.
Pada akhirnya, ketahuilah, setidaknya perasaan itu juga sifatnya berdiri sendiri. Bahkan ketika ditolak sekalipun, disuruh ngaca sana, dihina dsbgnya, kita tetap bisa bilang itu perasaan, bukan? Tetap bisa disebut cinta, tetap bisa dibilang sayang, bukan?
Maka lengkapilah dengan yang disebut: "kehormatan perasaan", maka insya Allah kita bisa selalu menjaga diri. Jangan tumpah ruah perasaannya, bikin becek di timeline, jangan mau diajak berdua2an, dipegang2, jangan mau. Jangan mau melakukan hal sia-sia hingga merusak diri sendiri. Barangsiapa bisa menjaga kehormatan perasaannya, dia akan bisa menjaga kehormatan dirinya.

*Pantat & api
Jika ada nyala api sebesar rumah, tinggi menyala2, panas membara bahkan dari jarak 10 meter sudah terasa, suara kayu bakarnya bergemeletuk mengerikan, maka bagaimana agar kita bisa selamat melewati api tersebut? Tidak merasa panas? Tidak terbakar?
Jawabannya mudah, lewatilah nyala api itu secepat mungkin. Jika bisa melakukannya seperseribu detik, kita akan baik2 saja. Tidak peduli seberapa panasnya api tersebut, wusshh, melesat lewat, selesai. Tidak akan terasa panasnya. Itulah kunci melewatinya, yaitu: Waktu. Kecuali kita ini sebangsa dengan Nabi, dan api bisa berbalik sifatnya justeru menjadi dingin. Tapi bagaimana bisa melesat melewati nyala api itu dengan kecepatan seperseribu detik? Nah, itu pertanyaan rumitnya, dan saya tidak tahu jawabannya.
Sekarang kita balik perumpamaannya, yang saya lebih tahu; Perhatikan sebuah lilin, bukankah kecil sekali nyala apinya? Imut menggemaskan, sama sekali tidak membahayakan, kita injak juga padam, kita tiup juga habis. Tapi coba saja kalian letakkan pantat kita di atasnya, berdetik2, bermenit2, nyala api sekecil itu tetap bisa "menggigit", menyakitkan kita, bukan? Membuat terbakar? Berteriak mengaduh.
Maka, jangan2 begitulah hidup ini. Masalah2 besar yang kita hadapi, kesusahan yang harus kita lewati, beban pikiran yang kita tanggung, sama persis seperti nyala api. Ketika beban pikiran itu besar sekali, berat sekali, maka dia ibarat nyala api sebesar rumah. Bagaimana melewatinya agar kita selamat, tidak terbakar, tidak stres, tidak berpikir negatif? Lewati secepat mungkin. Seperseribu detik. Tapi bagaimanalah melakukannya? Bukankah justeru malah membebani berhari2? Bermalam2? Membuat susah sepanjang minggu, bulan atau tahun? Nah, itu pertanyaan rumitnya, dan saya tidak tahu jawabannya.
Yang saya tahu, bahkan ketika masalah itu kecil saja, beban pikiran itu imut menggemaskan seperti nyala lilin saja, tapi ketika kita berlama2, meletakkan pantat kita di atas masalah itu, memikirkannya, maka dia tetap akan menggigit, menyakiti, membakar kita. Inilah situasi simpel yang lebih mudah dipahami.
Apakah kita akan berlama2 meletakkan pantat di sana? Itu pilihan masing2. Salam buat pantat, eh masalah hidup kalian.

Benci tidak bisa dibalas dengan benci. Sakit tidak selalu harus dibalas sakit. Dalam banyak kasus, justeru cara terbaik membalasnya adalah dengan kasih sayang.
Itulah yang dicontohkan Nabi kita. Tak terhitung beliau dimaki, dilempar kotoran, tapi Nabi membalasnya dengan kasih sayang. Mari teladani sikap ini. Tunjukkan ahklak terbaik seorang muslim.
Mari didik anak-anak kita tentang ini, agar besok lusa, mereka tumbuh menjadi generasi terbaik.

Sebenarnya begitu banyak penjelasan di sekitar kita. Hanya saja, kita sendiri yang membuatnya rumit, terus mencari penjelasan lain yang menyenangkan hati.

Saat kita bersabar pada orang lain, sebenarnya kita tidak sedang bersabar padanya. Hakikatnya selalu: kita sedang bersabar pada diri sendiri.
Sekali berhasil bersabar pada diri sendiri, sisanya mudah saja.

Teman sejati boleh jadi persis sebuah cermin.
Yang dengannya, kita tidak perlu susah payah sungguhan bercermin untuk melihat kejelekan kita, karena ada yang tidak sungkan memberitahu, menasehati lantas menemani memperbaikinya.
Kita juga tidak perlu bercermin untuk membanggakan kehebatan kita, karena ada yang selalu menghargai, mengingatkan jangan berlebihan, dan terus mendorong kita semakin baik.

Jika kita mengetahui aib seseorang, maka tutuplah. Bukan sebaliknya, macam ember bocor, tumpah kemana2 bercerita.
"Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." Ini juga bukan kalimat fiksi karangan tere liye, ini nasehat Nabi, ada dalam hadist sahih Muslim.
Nah, jika orang lain sibuk melakukannya, bukan berarti kita ikut melakukannya. Hal seperti ini, bahkan sudah hati2 sekali, kadang tetap tidak sengaja ketelepasan, apalagi jika sudah jadi tabiat. Mari berlatih menjaga kehormatan saudara sendiri.

Kita tidak bisa melihat akar sebuah pohon besar. Tidak tahu seberapa dalam akar2nya menghujam, seberapa kokoh akar2nya masuk ke dalam tanah?
Kita tidak bisa melihatnya. Bukan berarti tidak bisa membayangkan, dan meyakininya.
Pun sama, kita tidak bisa melihat betapa menghujam kasih sayang orang tua. Betapa kokoh dan dalamnya cinta mereka.Kita tidak bisa melihatnya. Bukan berarti tidak bisa membayangkan, dan meyakininya.

“Ada orang-orang yang boleh jadi sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita.
Maka, belajar dari nasehat lama ini, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh, dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justeru membawa kedamaian.”

*Kelilingilah
Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang sibuk mengejar cita-cita, maka kita akan ikut mengejar cita-cita.
Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang sibuk berkata baik, berbuat baik, maka kita akan ikut berkata baik, berbuat baik.
Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang giat belajar, tak henti mencari ilmu, maka kita akan ikut giat belajar, tak henti mencari ilmu.
Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang selalu menyemangati, berkata positif, memotivasi, maka kita akan ikut semangat, berkata positif dan termotivasi.
Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang saling mengerti, menerima apa adanya, maka kita akan ikut saling mengerti, menerima apa adanya.
Sungguh, rumus ini tidak akan keliru.
Dan kabar buruknya; hal ini juga berlaku sebaliknya.
Kelilingilah diri sendiri dengan teman2 yang suka bicara kotor, maka dengan sendirinya kita akan ikut berkata kotor.
Selalu demikian.

Media sosial ini sudah mirip pasar malam, semua serba ada.
Mau berdoa, lapor ke facebook. Mau makan, lapor ke instagram. Mau jalan-jalan, lapor ke twitter. Lagi sedih, curhat ke google+. Habis menang undian sabun colek, umukan lewat profil BBM. Semua ada. Bahkan sedang sakit pun, bukannya minum obat atau pergi ke dokter, kita bergegas malah update.
Tentu saja boleh. Itu hak masing-masing. Bebas. Tapi saya percaya, kita selalu punya kesempatan memikirkannya. Bahwa ada hal-hal dalam hidup ini yang tidak harus dibagikan ke semua orang, cukup disimpan sebagai kenangan terbaik hidup kita.

Menurut statistik, dari orang2 yang suka sekali curhat dan berkeluh-kesah di dunia maya:
50% hanya mencari perhatian, bukan solusi
30% hanya mencari lawan bertengkar
30% hanya mencari pembenaran
Loh, kok totalnya malah 110%? Karena 10% diantaranya mencari perhatian, mencari lawan bertengkar, plus mencari pembenaran sekaligus.
Orang yang memang mau nyari solusi hidupnya, dia tidak akan berkeluh-kesah di dunia maya--yang malah lebih sering nambah2in masalah, membuat disitu2 saja, menghabiskan waktu tak terasa. Dia memilih hal lain yang lebih kongkret.

Bahkan kelak kalau kita sudah menikah, kita akan tahu, boleh jadi ada percakapan antara sahabat baik yang tidak bisa digantikan oleh percakapan antara suami-istri.
Maka, milikilah teman baik. Yang selalu nasehat-menasehati dalam kebaikan. Yang bersedia direpoti tanpa kita minta; menjadi sumber inspirasi saat kehilangan; dan menguatkan saat kita lemah.

*Empat Pasal GR-nya Manusia
Kita itu, sebagai manusia, memiliki empat pasal GR yang serius sekali saat berurusan dengan Tuhan.
Pasal 1:
Saat kita sukses dan berhasil, kita GR sekali merasa bahwa itu karena kita, karena kemampuan kita, tapi apakah demikian sebenarnya? Tidak. Kita sukses dan berhasil karena Tuhan memberikan jalan keberhasilan tersebut. Boleh GR? Silakan, tapi orang-orang yang paham, memilih untuk bersyukur dan berterima-kasih.
Pasal 2:
Saat kita susah hati dan gagal, kita GR sekali merasa bahwa itu ujian, cobaan dari Tuhan. Atau disebabkan orang lain, kesalahan orang lain, dan sebagainya. Tapi apakah demikian? Tidak. Kita susah hati dan gagal boleh jadi karena kita sendiri. Disuruh belajar dan sekolah, tidak mau. Disuruh bekerja dari yang kecil, malah gengsi. Untuk kemudian menghabiskan waktu sia-sia. Kebanyakan main HP. Masa' itu ujian dari Tuhan? GR banget kan?
Pasal 3:
Ketika kita disuruh memberikan sesuatu, misalnya bersedekah, berbagi, kita GR sekali, menolak mentah-mentah. Bilang itu punya kita. Enak saja dibagikan. Tapi apakah demikian? Tidak. GR kita kebangetan. Bukankah bahkan diri sendiri itu bukan milik kita? Apalagi harta benda, lebih-lebih bukan. Termasuk pengetahuan, masa' kita jumawa mengaku itu ilmu kita? GR banget. Itu semua milik Tuhan, dikasih titip saja sama kita.
Pasal 4:
Ketika kita meminta, maka sebaliknya, kita ngotot, maksa. Lihat saja saat berdoa, sadar atau tidak kadang ngotot sekali. Seolah kita memang berhak. Apakah kita memang berhak? Tidak. Itu GR banget. Bahkan dibanding orang2 di dekat kita saja, boleh jadi kita sama sekali tidak masuk prioritas dikasih. Lagipula, memang kita yakin cara meminta kita sudah benar? Jangan2 GR banget, menganggap Tuhan seperti kerabat dekat, punya facebook, jadi bisa minta lewat facebook. Itu GR.
Nah, terakhir, pastikan kita juga tidak GR saat membaca postingan orang lain. Sudah marah2, tersinggung, ngamuk, eh, ternyata orang sama sekali sedang tidak menulis untuk kita, itu GR namanya. Gede Rasa, orang sama sekali tidak bahas kita, kitanya malah merasa.

Tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Bahkan sebuah kebetulan yang amat kebetulan adalah tetap rencana Tuhan yang tidak pernah meleset walau sepersejuta mili.
Maka, orang2 yang kita temui, kejadian2 yang dilewati, pagi, siang, malam, selalu menyimpan misteri. Ada tujuannya, ada maksudnya.
Hei, jika kita tidak berhasil menerjemahkan tiap detailnya, karena terlalu megahnya rencana Tuhan tersebut, itu jelas bukan kabar buruk. Setidaknya pastikan saja kita sukses menysukuri tiap detik rencana tersebut. Selalu berterimakasih. Itu lebih dari cukup.

Satu hal yang harus selalu dicatat: tidak ada yang bisa dilupakan, meskipun itu kita tidak ingat lagi. Karena boleh jadi, di sisi2 lain, hal tersebut tetap diingat hingga kapanpun.
Jika kita tidak bisa memahaminya dari sisi yang tidak ingat lagi, maka cobalah dari sisi yang hingga kapanpun tetap mengingatnya. Dengan demikian, semoga kita selalu bisa menghormati perasaan-perasaan yang sempat bersinggungan dengan hidup kita. Dan selalu berhati2 dengan kehormatan perasaan sendiri.

Salah satu penyebab gagalnya sebuah hubungan adalah karena kita berlebihan menganggap seseorang itu sempurna. Maka, ketika ada sesuatu yang mengecewakan, sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan di awal, masalahnya akan membesar dan kemana2.

Orang-orang yang menyibukkan diri mengingat Allah, maka tidak ada kejadian yang akan membuatnya sedih pun menjadikannya gentar.
Orang-orang yang mencukupkan Allah sebagai penolongnya, maka dia tidak perlu siapapun dan apapun lagi sebagai penolongnya.
Dan orang-orang yang telah memilih jalan Allah sebagai perniagaan, maka dia tidak akan risau dengan perniagaan lain di dunia ini.

Kadang, kita sudah merasa keren sekali. Merasa paling benar, paling terkenal, untuk lupa, orang-orang yang berkerumun di sekitar kita, sebagian sedang mentertawakan kita, sebagian lagi merasa kasihan.
Itulah betapa pentingnya punya teman-teman terbaik; yang berani menasehati saat lengang, berani mengingatkan saat senyap, agar kita selalu bercermin.

Salah-satu kegagalan besar ketika kita pamer adalah: orang lain juga pamer ke kita. Saat kita pamer foto jalan2 ke Singapura, orang lain pamer foto ke Perancis. Saat kita pamer sedang ini, orang lain pamer sedang itu.
Kadangkala, hal-hal seperti ini lupa kita sadari. Termasuk lupa, kalau pamer itu bagai seekor semut hitam di tengah gulita malam, susah susah sekali disadari, tapi kita sudah terperangkap di dalamnya.

Bagaimana kita tahu mana teman sejati mana yang palsu?
Mudah. Lihatlah saat kita melakukan kesalahan. Maka orang2 yang tidak mengenal kita menonton tidak peduli, orang2 yang tidak menyukai kita akan menonton sambil bersorak riang, dan orang2 yang membenci kita akan menari kegirangan, bahkan mengucap syukur.
Hanya teman-teman sejati kita yang tetap membesarkan hati, membantu kita agar berubah dan terus memperbaiki diri.

Nilai jelek itu tidak ada korelasi dengan pandai atau bodoh. Tapi korelasinya dengan malas atau tidak. Banyak orang yang IQ-nya pas-pasan bisa sukses sekolah sampai profesor.
Pengangguran juga sama, tidak ada korelasinya dengan susah nyari kerja, latar belakang pendidikan formal. Banyak orang yang tetap sukses berwirausaha, kongkret, meski dia ditolak 20 kali oleh perusahaan atau hanya lulusan SMA. Malah mempekerjakan karyawan dia.
Jadi, adik-adik remaja di page ini, besok lusa, kalian bebas memilih yang mana. Masuk kelompok yang terus bekerja keras; atau masuk kelompok yang ngeles-nya kemana2, hanya untuk menjelaskan dia lebih banyak main HP, gagdet dibanding belajar atau berusaha.

Di Palestina sana, kalau sedang diserang Israel, mereka tiap malam mendengar dentuman bom, anak-anak meringkuk ketakutan, orang dewasa cemas, jangan-jangan bom itu nyasar ke rumah.
Di Indonesia, mereka malah memilih meledakkan kembang api, mercon. Tidak tahu tempat, tidak peduli situasi, komplek, gang sempit, jalan umum, hajar wae, dentum-dentum. Mau ada yang jantungan, mau ada bayi usia dua bulan, sebodo tuing, dentum-dentum.
Dalam situasi banyak musibah, tidak pantas merayakan tahun baru dengan hura-hura, menjurus mubazir apalagi hingga maksiat. Saya tidak sedang bicara moralitas, sok suci. Tapi saya bicara dengan akal sehat. Hari2 ini, lebih baik berkumpul bersama keluarga, tidak perlu kemana-mana. Itu lebih bermakna.

Kalian mau jodoh yang dipilih sendiri atau yang dipilih Allah?
Kalau kita maksa, rusuh, galau, cemas, dsbgnya, apalagi sampai pacaran merusak diri maka itu sih jelas jodoh yang kita pilih sendiri. Karena kalau pilihan Allah, yakinnya beda, berserah dirinya pun beda kelas.

Cinta sejati itu kadangkala susah sekali untuk dibuka. Perlu perjuangan. Perlu pengorbanan.
Tapi sekali dia dibuka, maka dia akan susah untuk ditutup. Akan langgeng hingga waktu yang akhirnya memisahkan.

Hidup ini hanya sekali, sangat berharga. Pun masa muda kita, juga sekali, sangat-sangat berharga. Maka isilah dengan sesuatu yang bermanfaat agar tidak menyesal kemudian hari. Belajar, berpetualang, melakukan hobi positif, aktivitas sosial, dan sebagainya yang berguna.
Ingat baik-baik, di sekitar kita, banyak sekali orang dewasa yang usianya 40, 50 bahkan lebih, yang hanya bisa menyesal menatap masa lalunya yang lewat sia-sia. Sekolah tidak beres. Kerja tidak serius. Hanya sibuk menghabiskan waktu mubazir. Kita tidak perlu menambahkan daftar panjang itu.
Silakan sepelekan nasehat ini, buka lagi 20-30 tahun ke depan, baru nampol nasehatnya.

Darwis Tere Liye Facebook