Senin, 01 Desember 2014

status (bagian keempat puluh)


Menunggu adalah pekerjaan untuk orang yang memiliki keyakinan.
Bahkan ketika yang ditunggu berkali2 tidak muncul, bahkan ketika situasi berganti menyebalkan, bahkan ketika orang lain sudah mengambil jalan lain, dia tetap yakin.

Janganlah menyuruh anak2 kita yang masih SD membeli rokok di warung. Di luar negeri, di tempat yang bebas-sebebasnya pun, tidak ada orang tua yang bisa menyuruh anak2 mereka membeli rokok--karena ada batas minimalnya membeli rokok.
Kalau mau merokok, beli sendiri, gunakan kaki dan tangannya.

Saya berharap di page ini, tidak ada pengendara motor yang suka melawan arus, naik trotoar hanya untuk lebih cepat 2-3 detik saja--tapi bisa mencelakakan orang lain.
Dan saya lebih2 berharap, tidak ada yang sudah begitu kelakuannya, saat diingatkan baik-baik telah melawan arus, naik trotoar, dsbgnya, malah wajahnya merah padam, berteriak, balik marah2.
 
Kenapa doa kita tidak kabul? Boleh jadi salah alamat. Sama kayak anak kecil, yang sedang marah2 minta permen ke Ibunya. "Kapan kamu minta, Nak?" Tanya Ibunya bingung. "Aku sudah minta sejak sebulan lalu!" Si kecil merajuk. "Eh, Ibu kok tidak pernah tahu." Ibunya menggeleng semakin bingung. "Tapi aku kan sudah tulis di facebook mintanya." Si kecil berteriak--masa' Ibu nggak baca sih.
Hilang sopan-santun adab memintanya.
Pun sama. Kenapa masalah kita tidak selesai? Padahal sudah berkeluh-kesah, sudah curhat. Karena boleh jadi salah alamat. Kita curhatnya ke dinding facebook atau twitter, monggo, ditunggu saja si facebook atau twitter bakal ngasih jalan keluarnya.
  

Rasa sabar tidak bisa menjanjikan bahwa kita akan memiliki seseorang atau sesuatu. Tidak bisa.
Tapi rasa sabar, bisa menjanjikan ketentraman di hati, apapun yang terjadi. Dan sungguh, itulah hakikat sabar.
 

Orang2 yg sedang jatuh cinta itu suka membuat kesimpulan sepihak. Untuk menyenangkan hatinya. 

Barangsiapa yang rajin berdoa di dunia nyata, maka dia tidak perlu lg berdoa di dunia maya.
Barangsiapa yang menyibukkan diri beribadah di dunia nyata, maka dia tidak perlu lg sibuk menyebut2 ibadah tsb di dunia maya.
Semoga mau didengarkan. Dan barang-siapa yang malah mengajak bertengkar di postingan ini, hati2 dengan satpam cipirili.
 

*Foto2 keren

Mendaki sebuah gunung bukan sebuah kebanggaan, Kawan
Karena kalau kita anggap pendakian gunung itu kebanggaan
Maka jangan lupa, penduduk setempat bahkan setiap hari
Setiap hari mencari kayu bakar, rotan, dan sebagainya di sana
Bahkan anak2 mereka pergi memancing ke atas danau di gunung
Berangkat pagi, pulang sore

Mengunjungi sebuah kota, New York, London, dsbgnya juga bukan prestasi
Karena kalau melanglang buana itu kita anggap prestasi
Maka jangan lupa, pengemis, gelandangan di sana setiap hari
Setiap hari mengemis dan menggelandang di jalanannya
Tidur di sudut2 kota, tempat kita baru saja ber-pose
Lantas kita bagikan di jejaring sosial

Kita tidak bicara berapa banyak gunung yang kita daki
Berapa lembar foto keren yang kita peroleh
Tapi berapa banyak pemahaman yang menetap di hati kita
Lantas menjadi sumber inspirasi kebaikan bagi sekitar
Menyayangi alam, memahami kebesaran Tuhan
Berhenti bertingkah kekanakan
Itulah hakikat pendakian tersebut

Kita tidak bicara berapa banyak kota yang kita kunjungi
Berapa lembar foto hebat yang kita dapatkan
Tapi berapa banyak pelajaran yang tinggal di kepala kita
Lantas menjadi sumber kebermanfaatan bagi orang lain
Memahami keanekaragaman dan perbedaan
Berhenti sombong dan berlebihan
Itulah hakikat sebuah perjalanan

Lakukanlah perjalanan mengelilingi dunia, Kawan
Kunjungi tempat2 indah dan spesial
Bukan untuk dicatat, difoto lantas dipamerkan
Tapi simpel, perjalanan adalah perjalanan
Dia akan mendidik kita dengan lembut
Tentang banyak hal

Sudah sepatutnyalah setiap muslim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi rapat, yang hanya Allah dan dirinya yang mengetahuinya.
*Imam Syafi'i

Baju spesial, paling berharga, tidak pernah dipajang2 di depan toko, siapapun bisa pegang dan coba, bahkan dijual obral, diskon besar2an, yang kemudian jadi barang second, loakan.
Baju paling spesial, paling berharga, selalu dibuat, diukur, dijahit pas dan khusus sekali untuk seseorang. Yang setelah dimiliki, akan dijaga agar tidak kotor, lecek, serta kusam.
Maka, demikian juga perasaan dan diri kita sendiri. Apakah kita "baju murah" yang bisa dipegang2, dicoba, didiskon, jadi barang second? Atau kita adalah baju spesialnya?

Tidak semua yang kita miliki itu harus diumumkan. Tidak semua yang kita lakukan itu harus diberitahukan. Tidak semua.
Karena ketahuilah sebuah rahasia kecil, orang2 yang suka mengumumkan ini itu, maka sebenarnya itulah yang dia miliki.
Sebaliknya, jadilah seperti gunung es di dalam lautan, yang terlihat hanya pucuk kecilnya saja, sedangkan di bawah, di dalam laut, tersimpan erat bagian raksasanya. 

Cara terbaik menghukum orang adalah diamkan saja, tidak usah dipedulikan lagi. Itu menyakitkan sekali.
Maka, bersyukurlah jika orang masih marah, menegur, menyindir, dsbgnya. Karena sekali kita dianggap angin lalu, kita seperti 'dihapus' dari muka bumi.

Bacalah buku2. Maka nafsu sok tahu akan jauh berkurang.
Bacalah buku2. Maka nafsu membantah akan jauh berkurang.
Bacalah buku2. Maka kita akan nyambung dengan pembicaraan orang lain, paham maksud tersirat, tersurat.
Bacalah buku2. Karena sungguh tidak akan merugi orang2 yg suka membaca. Besok lusa akan berguna.

Yang merusak penilaian orang banyak terhadap sebuah agama itu bukan karena fitnah, tuduhan, olok2 dari luar atau orang lain. Yang cepat sekali merusaknya adalah kelakuan orang-orang di dalamnya. Cepat dan ringan, hingga tidak terasa oleh yang melakukannya kalau dia sedang 'merusak' agamanya sendiri.
Yang mengangkat citra sebuah agama juga jelas bukan karena banyak orang yang memuji-muji, menyanjung. Yang cepat sekali mengangkatnya adalah perangai orang-orang di dalamnya. Itulah kenapa 'akhlak yg baik' serta 'kebermanfaatan', menjadi penting.

Semua orang bisa berubah.
Tapi ada yg niat dan sungguh2, ada yg tidak.
Ada yang menjadikan janji berubah itu seperti janji matahari yang setiap pagi selalu hadir; ada yang gombal saja, pemanis bibir.

Perusakan mobil plat B di Bandung adalah tindak kriminal. Pelakunya bukan fans sejati Persib, mereka justeru sedang menpermalukan klub bahkan seluruh nama baik kota Bandung.
Polisi seharusnya menangkap orang2 mabuk ini. Suruh ganti rugi materi dan immaterial, tambahkan suruh nyuci kakus terminal bus selama setahun.

Ini oknum bocah2, kalian bahkan belum lahir pas Persib juara tahun 1995, mengalahkan Petrokimia Putra 1-0. Baru nge-fans Persib seumur jagung saja kelakuan sudah hebohnya minta ampun.
Tindakan menyerang mobil plat B di kota Bandung dengan membabi-buta itu adalah kriminal. Kalau kalian merasa berhak membalas karena bus pendukung Persib diserang di tol Jakarta, maka bukan dengan menyerang balik sembarangan. Introspeksi, ngaca. Bayangkan jika keluarga kalian, ada anak2, balita di mobil, lantas dikerubuti orang2 mabuk, dihancurkan kaca, mobilnya. Mau apa? Bayangkan kalau warga Jakarta memutuskan menyerang setiap mobil plat D? Dunia ini hangus terbakar jika semua orang egois memikirkan dendam masing2.
Dan keliru sekeliru-kelirunya, jika ada orang yang membenarkan tindakan seperti ini. Saya pemilik sah KTP Bandung, saat Persib juara tahun 1995 saya mengkliping berita, klasemen, dsbgnya di sekolah dulu. Menasehati kelompok sendiri itu kadang susah, tapi harus dilakukan. Tapi saya yakin, ini hanya pelaku oknum, dibenarkan segelintir fans yang juga tidak mengerti. Masih ada ribuan fans Persib yang santun, karena sejatinya orang Bandung itu memang santun.
*Tere Liye
**jangan coba2 komen ngaco di postingan ini. sedikit saja kalian bilang "ah", saya kandangkan.
**semalam saya memposting soal ini juga, dan puluhan komentar harus dikandangkan; bahaya sekali generasi muda dengan pemahaman penuh dendam seperti ini. dikit2 egois membela kelompok sendiri. dikit2 ngajak bertengkar. jika orang dewasa di sekitar kita melakukannya, bukan berarti kita harus ikut tabiat tersebut.

Obat dari segala obat, manjur di atas manjur bagi penyakit hati apapun adalah 'rasa syukur'. Cukup kecil saja dosisnya, sudah efektif mengobati hingga ke dalam-dalamnya.

Janganlah meributkan hal2 kecil. Mengomentari hal2 tidak penting. Apalagi memperdebatkan hal2 yang sebenarnya sepakat dan sama saja. Maka kita akan dijauhkan dari kesia2an dan pertengkaran yang tidak perlu. 

Seorang guru pernah menasehati: kombinasi mematikan itu adalah: "miskin + sombong pula" atau "jelek + belagu pula" atau "bodoh + malas pula".
Aduh, bikin dongkol dengarnya. Saya kan tidak begitu. Eh?

Senyum adalah jembatan yang menghubungkan antara dua mata.
Kalimat yang santun dan baik adalah jembatan yang menghubungkan antara dua telinga.
Perbuatan yang mulia adalah jembatan yang menghubungkan antara dua hati.
Maka, jangan ragu2 membangun jembatan setiap hari. Bukan sekadar agar kita selalu terhubung dalam kebaikan, tapi yang lebih penting, agar kita tidak terisolasi dari kebahagiaan.
Tentu bukan hanya desa atau kampung saja yang bisa terpencil, manusia juga bisa disebut 'manusia terpencil'. Yang sayangnya bukan karena posisi geografisnya, tapi karena dia tidak mau membangun jembatan2 penghubung tersebut.

Pejabat negara, aparat negara sejatinya adalah pelayan bagi rakyat. Jika kalian sejak awal memang sudah niat jadi bagian dari aparat negara, maka mulailah memahami hal ini.
Umar bin Khattab adalah salah-satu contoh baiknya. Paham sekali posisinya sebagai pelayan--padahal dia tidak minta2 posisi khalifah tersebut. Akan menyedihkan jika kita yang minta2, habis2an ikut tes, seleksi, pemilihan, tapi malah tidak pernah paham.



Sudah saatnya pelajaran di sekolah itu bukan hafalan. Lihatlah anak muda hari ini, semua jadi susah melupakan, gara2 sejak TK disuruh belajar menghafal.
Tidak semua ucapan orang lain itu harus didengarkan. Terlebih jika itu hanya prasangka, kesimpulan, apalagi penilaian sepihak dari orang yang kenal juga tidak dengan kita, apalagi memahami kita.
Lebih baik fokus terus memperbaiki diri. Jika menganggu kita, ambil jalan aman dengan menjaga jarak, atau bila perlu bangun benteng kokoh dari orang2 ini.
Dunia ini akan benar2 gelap gulita jika semua ucapan orang dimasukkan ke dalam hati.

Bersabarlah seperti air. Terus mengalir ke bawah sesuai hukum alamnya, ketemu rintangan dia berbelok, ketemu celah kecil dia nyelip, ketemu batu dia menyibak, ketemu bendungan, dia terusss mengumpulkan diri sendiri, hingga semakin banyak, semakin tinggi, penuh terlampui bendungan tersebut, untuk mengalir lagi. Seolah dia tidak melakukan apapun, hanya diam, sabar, tenang, tapi sedang terus berusaha habis2an.
Bersabarlah seperti air, ketika orang2 tidak tahu betapa besar dan menakjubkannya rasa sabar tersebut.


Novel, film, event, adalah kebutuhan tersier. Ketika BBM naik, maka orang2 akan lebih fokus pada kebutuhan primer dan sekunder. Mending beli beras daripada buku. Kalau mau marah, saya termasuk yang berhak marah ketika BBM naik. Sudah puluhan ribu buku2 itu kena bajak, dimana2 bajakan, ratusan ribu hingga jutaan film2 itu ditonton lewat youtube, dsbgnya.
Tapi buat apa?
Saya akan mengatasi masalah ini persis nasehat orang tua dulu. Lebih kreatif, lebih produktif. Karena siapapun yang bisa tetap berdiri tangguh setiap adalah masalah, maka dia akan semakin kuat setelah masalah itu berlalu. Percuma ngamuk2 di media sosial. Toh, orang2 lebih menunggu mana buku barunya, bukan mana postingan status barunya.
Keran rezeki itu ditentukan oleh Allah, kita hanya disuruh bekerja keras, kemudian berserah diri. Siapapun yang mau optimis dalam situasi ini, dia akan selalu bisa optimis. Pun sebaliknya buat yang mau tapi, tapi dan tapi. Dia akan selalu punya seribu tapi.


Masih sakit hati gara2 sesuatu padahal sudah lewat berbulan2? Ayo, pada move on. Yang rugi kita sendiri, loh. Karena justeru kitalah yang menghabiskan waktu terus mengungkit2 hal tersebut.

Hidup ini selalu dipenuhi dengan perbedaan pendapat, perbedaan apapun. Karena kita memang diciptakan berbeda2. Bahkan dalam perkara agama pun, bisa berbeda2 cara memahaminya.
Maka, sungguh beruntung orang2 yang tidak menghabiskan waktu hanya untuk mengurusi perbedaan2 tersebut. Mulai dari meributkan hal2 kecil, berdebat sia-sia tidak habis, apalagi sampai menghina, menjelek2an.
Cari kesamaan kita, fokuslah di sana. Dan segera move on jika menemukan perbedaan.
 
"Tapi" adalah kosakata milik para pengeluh, tidak pandai bersyukur, merasa kurang, suka berdebat dan ratusan sifat buruk lainnya. Orang2 ini selalu suka bilang "Tapi", "Tapi", dan "Tapi".
Lantas kosakata apa milik orang2 yang merasa cukup, lapang, suka mendengarkan nasehat, senantiasa belajar dan ratusan sifat baiknya? Orang2 ini selalu suka bilang, "Alhamdulillah", "Alhamdulillah" dan "Alhamdulillah".
 

Gantungkan rezeki dan hidup kita itu pada Allah. Bukan pada boss kantor, pemerintah, apalagi harga BBM. Insya Allah dengan terus bekerja keras, keran rezeki kita akan cukup. Toh, berkeluh-kesah, marah2, apalagi saling menyalahkan sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah.

Jika orang lain memilih melupakan kita, maka itu masalah dia. Nah, ketika kita yang melupakan, maka itu sungguh adalah masalah kita.
Iya, kan?
  

Nasehat lama:
Jangan terlalu sering bicara hak-hak kita; karena jangan2 kita lupa kewajiban kita.
Jangan terlalu ngotot meminta ini, meminta itu; karena jangan2 kita lupa kita pun tidak pernah memberi.
Jangan terlalu menuntut orang lain agar baik dan sabar pada kita; karena jangan2, kita tutup mata, orang lain itu sudah 100x baik dan sabar kepada kita.


Liverpool kalah lagi. Terlempar dari 10 besar.
Apakah akan tetap YNWA jika besok lusa akhirnya Liverpool malah degradasi? Jawabannya, masih.
Baiklah, salam YNWA!


Yang masih sakit hati karena pilpres kemarin, ayo move on. Karena saatnya semua orang ikut membangun negeri ini. Karena Pak Bowo dan Pak Joko pun sudah lama saling berdamai. Masa' kita yang bukan siapa-siapa masihhh saja sakitnya di sini.
Awasi rezim baru, kritisi, ingatkan, pun bantu mereka dengan sesuatu yang kongkret. Berikan solusi. Maka semoga rahmat Allah hadir di negeri ini. Indonesia ini milik Allah (bukan milik rakyat Indonesia), apapun yang terjadi adalah takdirnya. 


Cinta adalah kesabaran.
Barangsiapa yang bisa memahami nasehat ini, maka dia bisa memetik buah cinta terlezat dalam hidupnya.


Islam itu datang dengan damai. Satu. Utuh.
Hingga akhirnya, kelompok, partai, organisasi, front, lembaga, dan apapun itu namanya terbentuk, kemudian merasa membela agama ini paling benar--untuk kemudian bahkan teganya membenci, menjelek2an, menghancurkan saudara sesama agama sendiri.
Masih belum terlambat, ayo didik anak2 kita untuk memiliki pemahaman lebih baik. Menghormati orang lain, bertenggang-rasa atas perbedaan. Karena bahkan soal qunut saja kita berbeda, apalagi dalam pilihan politik dsbgnya yang dipenuhi kepentingan dunia.


20 tahun dari sekarang, saat kita membaca lagi semua yang pernah kita tulis di media sosial, maka apakah kita akan bangga melihatnya?
Atau tertawa? Atau malu? Atau menyesal?
Rumus: "20 tahun dari sekarang" ini sangat brilian dalam segala urusan untuk menjaga kita terus berusaha menjadi lebih baik.


Kita selalu bisa menemukan nilai positif dalam setiap hal, termasuk hal yang kita benci atau menyakitkan hati.
Pun sama, kita selalu bisa mencari2 hal negatif dalam setiap hal, termasuk sesuatu yang sejatinya baik dan penuh nasehat.
Silakan pilih kita mau berdiri di mana. Esok lusa, kemuliaan hidup tidak akan pernah tertukar walau satu senti.


“Hakikat hidup itu memang menunggu, menunggu kita kapan berhenti menunggu.”

*Insya Allah vs In sha Allah
Saya selalu ingin bertanya ke orang2 yg fasih dalam tata bahasa, bagaimana menulis kata "Allah" dalam huruf latin? Kita semua sepakat menulisnya "Allah". Tapi bukankah kalau kita baca kata ini seperti kaidah membaca bahasa Indonesia, maka bunyinya jadi seperti kata "Ala"? Bedanya dobel L dan ada huruf H di ujungnya. Sama sekali tidak mirip dengan bunyi dalam huruf arabnya? Kalau begitu, kita jangan2 sedang menyebut Tuhan lain, bukan Tuhan yang ada di dalam kitab suci.
Saya juga berkali2 ingin bertanya ke orang2 yang fasih dalam tata bahasa, boleh saya menulis "allah"? Dalam huruf kecil semua? Karena banyak yang tiba2 protes tidak boleh. Maka saya akan bingung, karena dalam kaidah bahasa Arab, bukankah huruf kapital itu tidak ada? Hurufnya hanya dikenal 4 bentuk, jika ada di depan, ada di tengah, ada di belakang dan berdiri sendiri.
Saya tahu, hari2 ini, di media sosial ada banyak orang yang memposting agar jangan menulis kata "Insya Allah", karena artinya bisa berbeda sekali, lebih menulis dengan "Insha Allah", itu baru akurat. Maka saya ingin bertanya, kata "Allah" yang versi benar ini pun juga tidak akurat, karena boleh jadi yg lebih tepat utk mulut Indonesia adalah "Awloh". Kalau tetap di tulis "Allah", itu jelas rusak sekali artinya, karena sekali lagi, tidak ada bedanya dengan menyebut kata "Alay", beda dobel L dan ujungnya H (bukan Y).
Akhirnya, kita hanya akan berdebat kusir jika membahas hal ini. Menyalah2kan pihak lain, dan merasa pendapat kita lebih benar.
Kembali lagi ke kata "Insya Allah", maka komentar saya pendek saja, mau ditulis "Insya Allah", "In Sha Allah", sama saja, dua-duanya tetap tidak akurat menuliskan huruf2 Arab. Ketahuilah, dalam kaidah bahasa kita (bahasa Indonesia), SYin itu sama dengan SHin (bahasa Inggrisnya), karena SH, sudah dipakai untuk SHAD (yg lagi2 membingungkan, kan harusnya shod, kenapa jadi A). Dengan situasi seperti ini, maka tidak ada gunanya bilang ini salah, itu benar. Ikuti saja kaidah yang dirujuk, mau pakai kaidah bahasa Indonesia, silahkan tulis Insya Allah, mau merujuk kaidah Inggris, silahkan di tulis In Sha Allah. Jika semua orang punya ilmunya, pasti tidak akan meributkan hal2 kecil ini.
Semoga penjelasan kesekian kalinya ini berguna. Saran saya, jangan mau berdebat soal ini panjang lebar, di-repos kemana2, seolah2 itu pondasi akidah yang paling penting. Jika ada perbedaan cara menulis huruf latin, selalu silahkan rujuk ke huruf Arabnya saja, sekali dibaca masuk bunyi hurufnya, sudah cukup.


Perusahaan raksasa Inggris BP tahun 2010, pernah menumpahkan minyak di pantai Amerika. Atas kejadian ini, mereka didenda 4,5 milyar dollar (50 triliun lebih) oleh pemerintah Amerika; mereka juga membayar dana kompensasi ke nelayan2 dan pihak terkena dampak sebesar 7,8 milyar dollar (90 triliun lebih). Tambahkan biaya2 lain seperti biaya membersihkan tumpahan minyak, denda tambahan, hingga 2013 totalnya nyaris 50 milyar (600 triliun).
Ketika membela diri, BP ini menggunakan semua logika, pengacara2nya top semua, termasuk berargumen itu bencana dll, bukan kemauan mereka. Tapi pemerintah Amerika galak sekali, tidak ada tawar-menawar, hingga BP sukarela mengaku bersalah atas 11 tuduhan kejahatan, termasuk melanggar UU Lingkungan Hidup.
Begitulah hikayat di negeri orang. Bisa kita dongengkan ke anak2 kita sebelum mereka tidur.

Menunggu seseorang yang ternyata tidak menunggu kita, itu sama saja seperti kita menunggu kereta lewat di halte bus.
Tidak akan lewat sampai kapan pun itu kereta.
Menyakitkan memang. Tapi hidup ini memang harus dihadapi dengan tegak nan gagah, bukan ngesot penuh keluh kesah.

Untuk membuat sebilah pedang terbaik, pandai besi harus memanaskannya di tungku dengan suhu memerihkan wajah, menghantamnya berkali-kali, menempanya berulang-ulang, dan itu pekerjaan panjang penuh kesabaran serta ketekunan. Sekali prosesnya selesai, beres, maka sepotong besi biasa, tumpul, jelek telah berubah menjadi sebuah pedang tajam, gagah, dan bisa menebas apapun. Indah sekali.
Begitulah kehidupan ini. Murid2 yang baik, para pembelajar kehidupan terbaik, harus ditempa2 berkali-kali, melewati situasi yang berat, jatuh bangun, hampir berputus asa, hingga akhirnya berubah menjadi seseorang yang ‘tajam’ dan bisa menebas ujian kehidupan manapun.

“Tidak semua yg tersenyum pada kita itu adalah teman, dan tidak semua yang menyakiti kita itu otomatis adalah musuh.
Tidak semua yang bermanis2 ria kepada kita itu adalah sahabat, dan tidak semua yang berkata tegas, terasa jleb, sakit kepada kita itu otomatis lawan.”


Jika perokok berhenti merokok, maka orang yang paling diuntungkan adalah: dirinya sendiri.
Diniatkan sungguh-sungguh, dilaksanakan dengan penuh kesabaran. Pasti bisa berhenti.

Di Indonesia ini, segala sesuatu yang dihinggapi virus partai politik, maka akan kacau balau. Sepak bola misalnya, berpuluh tahun dicengkeram orang2 partai. Seolah ganti orang, tapi sama saja. Juga cabang olahraga lain, prestasinya turun drastis ketika dipegang orang2 partai.
Mereka ini tidak punya mental sportif. Kalau gagal, yang dipecat justeru orang lain, bukannya malu, sadar diri mundur.
Indonesia tidak pernah kekurangan pemain dan pelatih yang baik, dalam jenis olahraga apapun, kita punya 240 juta manusia di sini; tapi soal pengurus, minus sekali. Bayangkan, bekas terpidana saja bisa jadi ketua pengurus olahraga. Kita perlu mendidik, mengubah cara berpikir generasi baru agar masa depan olahraga kita cerah.
Saya sih tidak keberatan koruptor, penyelundup, pelaku kejahatan milyaran itu dihukum pancung. Biar tidak cengengesan di televisi, senyum2 di depan kamera.
Nah, buat keluarganya, dimiskinkan, disita semua harta bendanya. Biar berhenti tertawa-tawa.
Tapi di gedung DPR sana, yang punya hak bikin UU, mungkin keberatan untuk bikin UU seperti ini. Malah sibuk berantem.

Siapapun yang mengeluh atas pekerjaannya, maka sudah waktunya dia mencari pekerjaan baru. Karena jika masih mengeluh, dia tekor dua kali: tidak dapat dunianya; pun tidak dapat akherat pula.
Nasehat orang tua ini selalu relevan buat kita. Karena hidup ini bukan diisi untuk mengeluh, apalagi mengeluh ditambah malas pula.
Terus bekerja keras, senantiasa jujur, tidak korup, mencuri, maka insya Allah solusi atas masalah kita akan datang

Orang sungguh baik itu bukan karena berharap balas, apalagi penuh perhitungan, tapi semata karena dia berharap janji Tuhannya.
Orang sungguh sabar itu bukan karena terpaksa, tidak ada pilihan, tapi semata karena dia memutuskan percaya pada Tuhannya.
Orang sungguh berani itu bukan karena sedang ramai, banyak yg membela, tapi semata karena dia bergantung pada Tuhannya.


Tidak ada itu rumus "ikut-ikutan". Termasuk dalam perkara baik, tidak ada. Kalian mau, besok lusa, misalnya sudah 50 tahun shalat, meninggal, pas ditanya Malaikat, "kenapa kamu shalat, fulan?", jawabannya: "anu, Malaikat, saya ikut-ikutan saja." Kan nggak asyik dengar jawabannya. Awalnya memang boleh ikut2an shalat, tapi kemudian segera cari ilmunya, cari tahu kenapa, dsbgnya.
Nah, apalagi dalam perkara yang tidak jelas baik buruknya. Remaja itu paling mudah ikut2an. Teman2nya pakai bando, ikut2an pakai bando. Model baju mana lagi nge-trend, ikut2an model tersebut. Juga alay, nge-fans dengan apa, dsbgnya. Cenderung ikut2an.
Terakhir, buat yang pacaran, coba cari tahu apa baik-buruknya, manfaatnya, negatifnya. Cari tahu semua, baru simpulkan dengan matang. Karena jangan2, kita itu cuma ikut2an saja. Hanya karena orang lain pacaran, punya gandengan, rese ditanyain melulu, kita juga ikut pacaran. Itu nggak asyik banget.

Jika kita ingin bahagia, maka dengarkanlah nasehat seorang guru. Apa nasehatnya, pendek saja: Ketika sepi, pun ketika ramai.
Apa maksud nasehat ini? Simpel.
Selalu lakukan sesuatu yang kita cintai ketika sepi, pun ketika ramai. Berbuat baik ketika sepi, pun ketika ramai. Tampil apa adanya ketika sepi, pun ketika ramai. Maka, kita akan terus terlatih untuk konsisten, dan tidak akan tergantung dengan penilaian orang lain.



KMP sama KIH itu kenapa nggak kompak sih?
Di Kalteng, Ketua DPRD Kab. Kapuas (Golkar), Wakilnya (PDIP), Ketua Fraksi2nya (GERINDRA dan PAN), ditangkap tangan oleh Polisi, dan dijadikan tersangka kasus suap oleh Dinas PU setempat. Tuh, kompak kan mereka. Tidak kenal itu KMP atau KIH, bisa bekerjasama erat.
Atau jangan2, kalian ini hanya becus kompaknya untuk urusan beginian, saat suap-menyuap menyusun RAPBN, tapi untuk urusan rakyat malah bertengkar. Mikir dong.


Tidak semua perlu kita umumkan di dunia maya. Beberapa cukup disimpan dalam hati.  

Anak yang malang itu adalah, dia berusaha mendengar nasehat dari manapun, tapi tidak dari orang tuanya sendiri.
Istri/suami yang malang itu adalah, dia bersedia mendengar nasehat dari manapun, tapi justeru tidak dari pasangannya sendiri.
Dan penulis--seperti saya ini--yang malang adalah, semua orang mengambil manfaat dari nasehat tulisannya karena mengerjakannya, tapi dia justeru tidak mengerjakannya.
 


Cinta sejati itu kadangkala susah sekali untuk dibuka. Perlu perjuangan. Perlu pengorbanan.
Tapi sekali dia dibuka, maka dia akan susah untuk ditutup. Akan langgeng hingga waktu yang akhirnya memisahkan.


Di page ini ada 2 gubernur aktif, 8 bupati/walikota, belasan anggota DPR, yang rajin kepo. Tambahkan satu lagi pejabat super top yang juga rajin ngintip page ini.
Tapi itu tidak penting. Karena yang lebih penting, ada kalian, ribuan remaja, anak muda yang masih sekolah. Ketika membahas tentang korupsi misalnya; fokus saya bukan didengarkan oleh pemerintah. Melainkan didengarkan oleh kalian. Insya Allah besok lusa, kalianlah yang membuat Indonesia ini jadi lebih baik.
*Tere Liye
**soal gubernur, dll itu hanya "fiksi", kalian tidak perlu serius menanggapinya, fokus saja pada paragraf terakhir.


Dear pemerintah baru,
Tolong suruh berhenti itu pemda, kementerian, lembaga, atau apapun dari pemerintah yang suka pasang baliho, spanduk raksasa dengan wajah pejabatnya besar2. Juga kebiasaan pasang iklan di media massa. Fotonya narsis amat. Mereka itu bukan bintang iklan. Satu baliho permanen 10 juta misalnya, kalikan ribuan jumlahnya di seluruh Indonesia. Satu iklan di media massa ratusan juta. Mending uangnya buat rakyat.
Atau kalau memang ingin sekali pasang iklan layanan masyarakat, cukup fokus pada substansi pesannya, bukan gambar pejabatnya yang bisa makan separuh iklan tersebut.



KMP sama KIH itu kenapa nggak kompak sih?
Di Kalteng, Ketua DPRD Kab. Kapuas (Golkar), Wakilnya (PDIP), Ketua Fraksi2nya (GERINDRA dan PAN), ditangkap tangan oleh Polisi, dan dijadikan tersangka kasus suap oleh Dinas PU setempat. Tuh, kompak kan mereka. Tidak kenal itu KMP atau KIH, bisa bekerjasama erat.
Atau jangan2, kalian ini hanya becus kompaknya untuk urusan beginian, saat suap-menyuap menyusun RAPBN, tapi untuk urusan rakyat malah bertengkar. Mikir dong.


Kalau menangis bisa menyelesaikan masalah, maka urusan lebih gampang. Sayangnya tidak, menangis bahkan bisa menambah masalah--seperti mata merah, bengkak, sembab.
Silahkan menangis, secukupnya, seperlunya. Lantas hapus air matanya, berdiri gagah menyusun rencana, mulai beraksi. Kongkret.


Ada sekitar 100-an akun media sosial di Indonesia yang aktif dan punya follower banyak. Jika mereka kompak selama sehari ini mem-bombardir dunia maya dengan topik: jangan nyontek, saya kira itu bisa jadi sesuatu yang akan dipikirkan follower-nya. Pasti ada yang tersinggung, marah2, unlike, dll, tapi setidaknya mereka berpikir--bahwa menyontek tidak pernah bisa dibenarkan.
Termasuk kalian, bisa ikut share, memposting hal yang sama di akun masing2. Mari ikut bertanggungjawab membentuk generasi berikutnya yang lebih baik.
*Tere Liye
**postingan ini tentang menyontek pas ulangan, ujian. silakan baca postingan2 sebelumnya. jangan menyimpulkan sendiri.


Bayangkan situasi ini:
Kalian lulus dengan ijasah hasil nyontek. Lantas kalian melanjutkan sekolah dengan ijasah hasil nyontek. Pun saat bekerja, itu semua dari ijasah hasil nyontek.
Seumur hidup itu akan dibawa. Menjadi nafkah buat diri sendiri, anak2, keluarga. Seumur hidup mata air kehidupan kalian dikontaminasi oleh ijasah nyontek tersebut. Maka keberkahan dari mana yang kita harapkan? Doa2 mana yang kita harapkan kabul? Jika seluruh mata air kehidupan kita telah terkontaminasi.
Adik2 sekalian, pikir2 panjanglah sebelum nyontek. Dipikir berkali2. Toh, dengan belajar sungguh2, meski nilainya kecil, itu tetap pada akhirnya bermanfaat bagi kita. Jangan pernah gadaikan kejujuran kita hanya demi angka2. 


Tukang nyontek di sekolah/kampus itu pengecut. Mereka bahkan tidak berani menghadapi selembar kertas kecil. Jika tidak berubah, tidak tobat, orang2 ini akan menambah daftar koruptor di negeri ini. Juga akan jadi tukang selingkuh masa depan.
Tidak ada alasan yang dibenarkan untuk urusan menyontek ini. Baik yang memberi, ataupun yang menerima contekan, sama saja. Saya percaya, tidak ada anggota page saya yang melakukannya, dan kalaupun kemarin2 dia melakukannya, mulai hari ini dia bersumpah akan berhenti.


Dusta memang bisa menyelamatkan (sementara) hubungan.
Tapi hanya kejujuran yang membuat hubungan awet hingga mati.


sumber : Darwis Tere Liye Facebook

Tidak ada komentar: