Rabu, 31 Desember 2014

december's read - 2014 ; judgment in death


gue ga tau harus cemburu sama Eve apa justru sama Roarke?

Eve adalah gambaran perempuan ideal dalam benak saya selama ini ((tos untuk kita, J.D. Robb!)), plus kondisi rumah tangganya yang huhu please, cinta banget gue sama pasangan yang satu ini, aduuuh.

kali ini Eve berurusan dengan Ricker. seseorang dari masa lalu bisnis Roarke, yang ternyata juga mempunyai ikatan dengan masa lalu Eve dan ayahnya. Ricker berusaha menjebak Roarke dalam kehancuran, yang sayangnya, Ricker mungkin lupa kalau Roarke selicin belut, cerdas, dan licik ((GANTENG DAN GONDRONG)). di sisi lain, ada polisi "putih" yang mengincar siapa pun yang berkhianat terhadap lencananya, sampai dia "menuntut" Eve menyelesaikan kasus Ricker sampai ke akarnya sebelum ia memutuskan bahwa Eve juga adalah polisi kotor sama seperti beberapa yang sudah ia habisi sebelumnya.

kali ini Roarke dan Eve mengalami masamasi tegang dalam sebuah pernikahan hanya karena masingmasing ingin melindungi satu sama lain, yang membuat mereka merasa tidak dihargai karena tidak boleh ikut campur, dan membuat mereka berdiam diri, membangun pertahanan untuk pasangannya.

nih, yaa, kalau gue jadi Eve kali tiap hari gue udah meleleh karena tingkah sialan Roarke, tapi...tapi... Eve, huhuhuhu Letnan, aku cinta padamu!


***

"kenapa, sih, kau harus punya semuanya?" | "ini mimpi masa kecilku" | "apa kau harus memberitahu tim TKP kalau aku istrimu?" | "kau memang istriku. kenyataan yang selalu membuatku bahagia."

"kau bisa mengajukan permohonan pengambilalihhan penyelidikan. tapi aku akan berterusterang dneganmu. aku takkan gampang menyerah. aku berdiri di dekatnya pagi ini. aku melihat apa yang dilakukan si pembunuh terhadapnya. kau tidak mungkin bisa menginginkan si pembunuh itu lebih besar dibanding aku."

"jika hidup bersama seseorang dari hari ke ahri, kau pasti tahu apa yang mereka lakukan, apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka alami." 

"itu cara yang indah untuk mengatakan tak seorang pun di antara kalian yang akan membiarkan pihak lainnya menutup diri. setiap kali ada sesuatu yang terjadi pada salah satu dari kalian, yang lain pasti bisa mengetahuinya dan terus mendesak sampai semuanya terbuka. kalian berdua sangat ingin tahu, dan cukup kejam untuk tidak membiarkan pihak lain mengalami kesusahan."

benteng Roarke terhaadap masa lalunya berupa uang, kekuasaan, kendali. sedangkan benteng Eve adalah lencananya. hampir tidak ada yang tidak bersedia mereka lakukan, yang belum mereka lakukan, demi mempertahankan benteng itu. namun, entah bagaimana, ketika bersamasama, mereka....normal, putusnya. mereka menikah dan membangun rumah tangga.

Roarke menghampiri Eve dengan gaya khasnya, matanya menatap wajah Eve lekatlekat. tidak pernah ada yang menatap Eve dengan cara seperti itu selain Roarke. seolah tidak ada apa pun dan tidak ada siapa pun di sekitar mereka. tidak peduli berapa kali Roarke melakukannya, tatapan lekatlekat itu saja sudah dapat menggetarkan hati Eve.

"kau tidak bisa mengubah masa lalumu, dan dia bagian dari masa lalumu. tapi dia bukan bagian dari masa kinimu."

ia tahu begitu banyak alasan yang bisa mendorong pria melakukan pembunuhan. tapi tidak ada yang lebih mendesak, tidak ada yang lebih penting dibanding menjaga keselamatan orang yang dia cintai.

"tidak usah terlalu mencemaskannya. dia bilang, begitu menemukan oraang yang tepat, aku pasti mengetahuinya, dan aku bahkan tidak perlu memikirkannya. aku pasti bisa merasakannya. aku tahu saat itu Taj sedang memikirkan istrinya, karena sorot matanya selalu terlihat lembit setiap kali dia memikirkan istrinya."

"hatihati, Letnan. mereka yang mengancamku akan berakhir dengan nasib buruk." | "lihat kembali dataku, Ricker, dan kau akan tahu aku tidak takut pada nasib buruk."

"jangan bohong. jangan pernah berbohong padaku. aku orang yang toleran, dan Tuhan tahu aku telah menoleransi banyak hal darimu, Eve. tapi kau tak kan berdiri di sini dan terangterangan berbohong padaku."

"kalau dia menyentuhmu lagi, meninggalkan jejak di tubuhmu, dia akan mati."

"kau masih marah padaku?" | "oh, ya. ya, aku marah padamu." | "apa yang kau inginkan dariku? aku kan sudah minta maaf." | "kau meminta maaf karena aku mendesakmu." | "aku tidka tahu bagaimana harus melakukannya! aku mencintaimu, dan itu membuatku gila. bukankah itu sudah cukup buruk?" | "ya Tuhan, Eve, kau benarbenar tiada duanya."

"apa kau sehebat omongan mereka?" | "aku tidak suka mendengarkan omongan orang."

"penyelidikan pembuunuhan tidak hanya dimulai dari sesosok mayat. itu di mulai dengan daftar, kemungkinan, dan motif. kau menutup kasus dengan memangkas daftar, mempersempit kemungkinan, dan meneliti berbagai motif. pertimbangkan itu tadi, bukti, cerita, TKP, korban, dan pembunuhnya. dan gabungkanlah semuanya dnegan cara yang berbedabeda, sebanyak mungkin, sampai semuanya cocok."

"aku sulit berkonsentrasi pada pekerjaanku ketika mengetahui kau masih dongkol padaku." | "sepertinya begitu. kau mau aku melakukan apa?" | "aku sudah bilang aku minta maaf. brengsek." | "aku mencintaimu, Eve. tidak ada yang bisa mengubahnya. takkan ada yang bisa mengubahnya. tapi, demi Tuhan, kau benarbenar membuatku marah."

"aku tidka perlu melindungi Roarke. sejak dulu dia sudah bisa menjaga dirinya. tidak seorang pun, kecuali seseorang yang mengkhawatirkan sesuatu, punya alasan untuk mencurugai atau mengetahui penyelidikanku menemukan kebusukan kedua korban itu."

"aku lebih suka kalau kau melepaskan peganganmu dari tubuh istriku sbeelum aku mematahkannya. tapi aku tidak keberatan dengan urutan yang mana pun."

"tidak terjadi apaapa di sini. kau menghinaku kalau sampai berpikir terjadi sesuatu." | "Eve sayang, kalau aku berpikir terjadi sesuatu di sini, dari pihakmu, Webster tak akan pergi dalam keadaan hidup."

"kau dan Roarke adlaah dua orang yang kuat, keras kepala, dan penuh gairah yang sangat mencintai satu sama lain. Roarke marah kepadamu karena kau berusaha melindunginya dengan mempertaruhkan keselamatanmu sendiri. seperti halnya dirimu ketika dia melakukan hal yang sama."

"pria itu mencintaimu dnegan segenap hatinya, dengan segenap dirinya. itu artinya kau bisa melukainya, Eve. luangkanlah waktu dan berbicaralah dnegan suamimu."

ada banyak penjahat yang sedang di penjara berani menyatakan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan Eve Dallas di ruang interogasi.

"sudah hilang." | "apanya?" | "dua hari ini aku merasakan sakit kepala ringan. sekarang sudah hilang. ku rasa kaulah penyebab sakit kepalaku." | "sayang, itu manis sekali." | "yeah, aku memang gula."

wanita itu snagat mendedikasikan dirinya pada pekerjaan, berdiri di hadapan kematian dan bekerja dnegan tekun untuk membela keadilan, bahkan bagi lakilaki yang Roarke tahu tidak disukai oleh Eve.

"aku tidka punya ibu, tapi aku tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang dengan begitu besar, dan apa yang besedia kita lakukan demi melindungi orang yang kita cintai itu"

"karena kau jauh lebih berarti bagiku dibanding apa pun yang pernah atau pun akan ada. tapi itu tak kan terjadi. dan kalau ada sesuatu yang menimpamu Jumat malam nanti-" | "takkan ada apaapa" | "kalau ada sesuatu yang menimpamu, aku akan mendedikasikan sisa hidupku untuk membuat hidupmu seperti di neraka." | "cukup adli."

"aku hanya menjadwalkan pertemuan di sini supaya aku bisa mengomelimu tanpa diketahui orang." | "aneh. aku menyetujui pertemuan di sini supaya aku bisa mengomelimu tanpa diketahui orang." | "ini menunjukkan betapa kacaunya kita berdua." | "justru sebaliknya. menurutku kita sngat cocok satu sama lain."

tak diragukan lagi siapa yang berkuasa di sini, batin Roarke seraya mengamati Eve. siapa yang memegang kendali. Eve tidka melewatkan detail sekecil apapun, tidak menafikan kemungkinan apa pun. wanita itu mondarmandir di ruangan, berpikir sembari berjalan suaranya terdengar tegas. di kehidupan lalunya Eve pasti mengenakan emblem jendral. atau baju zirah.

"kalau kau berani menyentuh istriku, kalau kau berani melukainya, aku akan mengejarmu smapai ke neraka dan mengulitimu. aku akan menjejalkan matamu ke mulutmu sendiri. aku bersumpah. ingatlah diriku yang dulu, dan kau tahu pasti aku akan melakukannya. bahkan lebih parah lagi."

Tidak ada komentar: