Sabtu, 01 November 2014

status (bagian ketigapuluh sembilan)


Rasa sakit di hati itu hanya ibarat kabut di pagi hari. Tunggulah matahari tiba, maka dia akan hilang bersama siraman lembut cahayanya.
Rasa sakit di hati itu hanyalah ibarat kabut pagi.
Tidak pernah mengubah hakikat indahnya pagi. Bahkan bagi yang senantiasa bersyukur, dia akan menari (meski sambil menangis) di tengah kabut. Dan itu sungguh tarian indah. Tarian penerimaan.

Itulah, Nak,
Jatuh cinta itu persis kau naik gunung, tiba2 terjerambab ke dalam jurang dalam, meluncurnya mudah, tapi susah payah merangkak naik kembali.
Jatuh cinta itu persis seperti komputer atau HP kau tiba2 terkena virus, kena-nya gampang, tapi memperbaiki, servis datanya susah kali–bahkan tetap tidak bisa diperbaiki hingga kapan pun.
Jatuh cinta itu sama dengan kau naik mobil cepat, kau gas kencang, jalan landai, tiba2 rem-nya blong. Mobil kau melaju tak terkira, susah payah menghentikannya. Bahkan harus menabrak sana-sini, kau patah hati Maka, pahamilah resikonya.

Berserakan di sekitar kalian remaja2 yang putus sekolah, hancur lebur masa depannya karena terlanjur bunting (maaf). Pacarnya kabur entah kemana. Habis manis sepah dibuang. Berserakan dek kasus ini. Saya saja bosan menerima email/message orang2 yang kenal juga tidak, tiba2 bersimbah air mata curhat panjang lebar. Ih, situ yang pacaran, situ yang enak2, kenapa saya yang jadi repot.
Maka cukuplah airmata penyesalan mereka, cukuplah airmata kesedihan orang tua mereka. Jangan tambahi.
Sebelum kalian jatuh cinta ke orang lain, lebih baik jatuh cintalah kepada diri sendiri. Apalagi masih SMP, SMA, kuliah. Hidup kalian jauh lebih penting, sekolah, masa depan kalian. Sayangilah diri sendiri dengan tidak merusaknya. Ada banyak sekali mahkluk dewasa yang hari ini kalau bisa balik, mereka mau balik ke masa remaja, memperbaiki semuanya. Tapi sudah terlambat. Waktu tidak pernah bisa diputar lagi. Hanya menyimpan sendirian semua masa lalu kelam tersebut bahkan kepada anak2 mereka sendiri.

Beruntunglah orang-orang yang bahagia melihat orang lain bahagia.
Dan sungguh beruntunglah, orang-orang yang justeru dialah sumber kebahagiaan orang lain bahagia tersebut.
Itulah kenapa, dalam agama ini, kebermanfaatan kita bagi orang lain, menjadi salah-satu ukuran yang penting. 

Kalau pacar kalian sanggup membangunkan kalian jam 2 subuh bilang: "Babe, shalat tahajud dulu, gih." Tapi dia tidak sanggup melamar kalian ke rumah, maka please deh, tidak perlu cekikikan bahagia, merasa dia orang baik sedunia. Karena itu gombal saja.
Karena weker, alarm HP, bisa mengambil-alih tugas tersebut, tanpa perlu dekat-dekat dengan pintu pergaulan bebas. Dan jelas, weker bisa diandalkan, tanpa pamrih.
Jangan tertipu hal-hal seperti ini. Mau dibungkus apapun, tidak ada definisi pacaran sehat, apalagi definisi pacaran islami. Tidak ada.
 
*Prosa "Lupa"
Kadangkala, kita lupa, yang tahu persis tentang motor adalah yang menciptakan motor itu. Insinyur yang mendesainnya sejak awal. Dialah yang super tahu. Bukan montir, bukan sales dealer, apalagi kita yang montir amatiran.
Kadangkala, kita lupa, yang tahu persis tentang kursi atau meja adalah yang membuatnya pertama kali. Tukang kayu yang membuatnya dari sepotong demi sepotong kayu. Dialah yang tahu soal kursi atau meja tersebut.
Maka, untuk yang satu ini, jangan pernah lupakan, kawan.
Yang paling tahu semua tabiat, perangai, tingkah laku kita adalah sungguh yang menciptakan kita. Tahu persis hingga sekecil apapun.
Jadi, jika kita punya problem, rusak, ngadat, ayo mari sampaikan keluhan tersebut ke yang tahu persis tersebut. Bukan ke tempat yang lain. Nanti malah tambah rusak mesinnya. Pahamilah logika sederhana ini. Dan jangan lupakan, yang menciptakan kita, sudah memberikan "buku petunjuk", lengkap di dalamnya.

Kalau kalian ingin menulis kisah cinta, maka ketahuilah, sebuah novel cinta yang baik adalah yang pembacanya tahu persis itu cinta sejati, larut di dalam cerita, bisa merasakannya, tapi tidak sekalipun kata "I Love U" perlu ditulis di dalamnya.
Jangan sampai kisah cintanya penuh dengan kata "I Love U", setiap bab ada, tapi yang membaca tidak merasakan apapun. Hambar saja.
Hipotesis ini juga berlaku dalam kehidupan nyata.

Kita bisa saja memantulkan semua omongan jelek orang lain. Kita balas, caci balas caci, fitnah balas fitnah, benci balas benci, kita pantulkan dengan lebih kencang. Tapi buat apa?
Lebih baik diserap saja. Seperti sponge busa yang bisa menyerap air. Tidak ada rasa sakit hati. Tidak ada waktu untuk memikirkannya. Sibukkan diri dengan hal positif dan produktif.

Ketika kita membenci seseorang, maka apapun yg dilakukan seseorang itu selalu nampak buruk di mata kita. Bahkan saat orang itu mengeluarkan pendapat yg kita setujui selama ini, tiba2 kita akan mengubah pendapat kita hanya untuk menunjukkan rasa tidak suka tersebut.

Kalau kalian sedang patah hati, maka sebenarnya teman2 terbaik adalah salah-satu obat efektifnya. Tambahkan juga dukungan keluarga, itu bagus sekali.
Sayangnya, hari ini, banyak remaja yang bahkan tiba2 tertutup, menjauh dengan teman2nya, keluarganya saat jatuh cinta dengan orang asing. Untuk kemudian ketika sudah rusak semuanya, tertatih mencari solusi.
Semoga kalian tidak termasuk di dalamnya. Dan semoga, kalian punya teman2, keluarga yang senantiasa menasehati dan mengingatkan.

Jangan membuat rumit diri sendiri.
Sebuah buku atau tulisan tidak akan berkurang nilainya karena satu-dua typo, salah ketik, salah sebut nama, salah EYD, dan sebagainya. Kecuali kita memang suka rese hal2 kecil.
Pun sama, kebaikan orang lain tidak akan berkurang nilainya karena dia melakukan kesalahan kecil, khilaf ringan, dan hal2 sejenis lainnya. Tidak ada yang sempurna. Fokuslah pada kebaikan yang lebih besar.

“Dimana-mana tentu saja orang akan jatuh cinta ke orang yang tampil baik, keren, punya uang, pekerjaan, masa depan. Punya segala2nya. Situasi aman sentosa. Semua serba indah dan mudah.
Tapi sesungguhnya, perasaan diuji ketika situasi menjadi sulit dan rumit. Ketika kita bangkrut, dipecat dari pekerjaan, atau kecelakaan yang mengambil tampilan fisik, ketika sakit berkepanjangan. Saat situasi menjadi buruk dan sesak, dan kalimat-kalimat cinta tidak bisa dimakan atau bisa membayar tagihan-tagihan.
Ketika itulah kita tahu persis siapa yang sebenarnya mencintai kita. Siapa yang tetap berdiri di sebelah kita.”

Mencari ilmu jauh lebih mendesak dibanding kekayaan atau ketenaran.
Karena ilmu akan menjaga kita dengan baik; sedangkan kekayaan atau ketenaran? Kitalah yang harus menjaganya habis2an. Sibuk menghabiskan waktu untuk perkara sia-sia dan pasti akan ditinggalkan.

Orang tua dulu sering menasehati:
1. Jangan marah atau benci tanpa sebab
2. Bicara tanpa faedahnya
3. Menjadikan pengkhianat sebagai teman, hanya karena kepentingan sesaat
Nasehat2 ini masih relevan hingga hari ini.

"Cinta pertama itu tidak spesial; karena yang paling spesial adalah cinta terakhir dan itu selama-lamanya. Tetapi jika kalian beruntung, akan lebih spesial lagi jika cinta pertama itu sekaligus menjadi cinta terakhir dan selama-lamanya.
Situasi ini hanya terjadi jika kita menjaga perasaan kita dengan baik, bukan setiap saat bisa jatuh hati ke siapapun, cepat sekali GR, lantas dinyatakan dengan mudah sekali, untuk berganti cinta lagi juga dengan mudah."

Ketika seseorang membuat kita menunggu, itu berarti ada hal lebih penting yang dia urus dibandingkan kita.
Selalu begitu.
Karena kalau kita memang penting, amat berharga, dia tidak akan pernah membiarkan kita menunggu. Dan sama, ketika kita merasa seseorang itu penting, kita juga tidak akan pernah membiarkan dia menunggu sedikit pun.
 
Salah-satu ciri orang2 yang rendah hati itu adalah: mematuhi peraturan. Dilarang buang sampah sembarangan, merokok sembarangan, menyalakan telepon genggam di pesawat, tidak menyerobot antrian, dsbgnya. Dia patuhi dengan senang hati, tidak merasa kalah, tidak merasa dihina oleh peraturan itu.
Saya percaya, masih banyak orang2 rendah hati--meski dia kaya, pintar, berkuasa, hebat dan memang luar biasa sekali; tetap memilih rendah hati.
 
Jangan membawa barang2 yang tidak diperlukan dalam perjalanan. Singkirkan yang tidak perlu dan malah paling berat, paling membebani. Biar perjalanannya asyik.
Pun sama, jangan membawa 'barang2' yang tidak perlu dalam hati kita. Tinggalkan. Buang. Jangan mau sumpek dan membebani diri sendiri. Biar kehidupan kita juga asyik.
 

Khusus buat cewek2:
Kebahagiaan adalah kosmetik terbaik di dunia. Satu senyum terbaik yang tulus dan bahagia, serta-merta membuat seseorang terlihat lebih muda 10 tahun.
*saya tulis dari nasehat lama
 

Di jaman modern ini, definisi sahabat yang baik itu bisa diibaratkan seperti "copy" dan "paste".
Saling melengkapi, saling membutuhkan
 

Salah-satu teman terbaik kita adalah buku-buku yang baik. Menyenangkan dan bermanfaat menghabiskan waktu bersama teman yang satu ini.

Jika tidak cinta, maka janganlah sampai membenci.
Jika tidak suka, maka janganlah sampai mencaci.
Jika tidak sudi membantu, maka janganlah sampai mengganggu.
Karena bukankah itu perkara mudah sekali?
Semudah nasehat dalam agama ini: berkata baik, atau pilihlah diam. Pilihan "atau" ini sungguh maksudnya dua-duanya beruntung. Berkata baik, beruntung. Memilih diam, juga beruntung.

"Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan, namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi."
*petuah lama dari Gibran

Komen paling nggak jelas di page ini: "Saya nggak suka Anda posting soal pacaran, urus saja urusan masing2".
Lah, kalau situ nggak suka, mending situ pergi dari page ini. Nggak suka kok masih gabung.
Ini juga berlaku untuk kasus lainnya. Jika ada yang tidak suka dengan postingan tertentu, seperti KPK, korupsi, jangan nyontek, jangan merokok, dll, maka lebih baik bergegas tinggalkan.
 
Salah-satu cabang kehormatan itu adalah: lebih memilih bekerja keras, bersusah-payah, daripada merepotkan dan beban orang lain.
Jika kita sejak remaja sudah punya pemahaman sebaik ini, maka kita akan tumbuh mandiri, tahan banting dan insya Allah peduli. 

*Nasehat lima perkara
Orang tua dulu seringkali menasehati, jauhilah lima perkara berikut ini:
1. Orang pemalas yang lebih suka meminta-minta. Baik ditunjukkan secara langsung, maupun tidak langsung. Dan lebih jauhi lagi, menipu orang lain dengan tampilan compang-camping (padahal mampu) untuk meminta-minta.
2. Pengangguran yang gengsi sekali mengambil pekerjaan kasar. Sejatinya, semua orang bisa bekerja. Apapun bisa dikerjakan. Tapi ketika kita gengsi, malu, merasa itu bukan level kita, maka dengan serta-merta 99% "lowongan pekerjaan" akan terhapus dari daftar.
3. Orang miskin yang menghabiskan waktu dengan melamun. Rezeki adalah hak mutlak Allah, tapi bagaimana menjemputnya, itu akan menunjukkan seberapa besar usaha kita. Ingatlah, hari ini, definisi "melamun" bisa luas sekali.
4. Pelajar yang enggan berlatih. Tugas utama seorang yang sedang belajar adalah latihan. Jika dia malas dari berlatih, maka jauh sudah definisi pelajarnya.
5. Terakhir, ingin berusaha tapi terlalu banyak alasan. Menjual sekantong buah mangga, tidak membutuhkan punya supermarket dulu, cukup dibawa kantongnya, maka laku sudah. Menjadi seorang penulis, tidak membutuhkan laptop canggih, komputer mahal, pulpen dan kertas sudah lebih dari cukup.
Nah, dari lima perkara ini, kitalah yang tahu persis apakah kita masuk dalam golongan tersebut. Tidak perlu orang lain yang menilainya.  

Ada banyak sekali hal yang tidak perlu kita bagi di media sosial. Termasuk doa2 terbaik kita, pun keluh kesah dan pengumuman tiada guna.
Setiap kali hendak menulis sesuatu, selalu berikan jeda untuk dipikirkan dua kali, itu akan bermanfaat.
 

*Nasehat "Jangan"

Nak,

1. Jangan buru-buru marah jika orang menuduh kita. Karena jika itu adalah tuduhan palsu, itu berarti hanya fitnah belaka, jadi memang kelasnya tidak perlu dihiraukan. Pun jika itu adalah kebenaran, mau apalagi? Itu memang benar. Boleh jadi bermanfaat untuk koreksi.
2. Jangan buru-buru membantah atas nasehat orang lain. Karena jika nasehat itu keliru, sia-sia saja dibantah, namanya juga sudah keliru, lebih baik bergegas tinggalkan. Pun jika nasehat itu benar, mau apalagi? Boleh jadi itu bermanfaat untuk memperbaiki diri.
3. Jangan suka sekali berdebat, mudah sekali seperti api mengenai rumput kering. Karena jika kita berdebat dengan orang yang lebih tahu dan bijak, kita pasti kalah telak. Pun jika kita berdebat dengan orang yang (maaf) bodoh dan bebal, kita pun pasti kalah habis2an.
4. Jangan biasakan buru-buru, pun jangan pula terlalu lambat. Karena jika kita buru-buru, kita bisa melupakan satu-dua hal yang sangat penting. Pun jika kita terlalu lambat, kita bisa kehilangan satu-dua hal yang sangat penting pula.
5. Jangan terlalu yakin atas sesuatu, pun jangan ragu-ragu. Karena ingatlah, jika kita ragu-ragu, lebih baik pikirkan ulang. Pun jika kita terlalu yakin, mungkin kita telah melupakan sudut pandang lain yang tidak pernah kita pikirkan. Tertutup karena kita terlalu yakin.
6. Jangan terlalu menyangkutkan hidup di masa lalu, pun terlalu berharap di masa depan. Karena masa lalu sudah tertinggal, tidak akan pernah bisa menyusul. Pun masa depan adalah misteri, kita tidak pernah tahu persis apa yang akan terjadi.
7. Jangan menggenggam terlalu erat sesuatu, pun jangan terlalu longgar. Karena terlalu erat, jika terlepas kita akan sedih sekali. Pun terlalu longgar, kita akan menyesal tidak menjaganya dengan baik.
8. Jangan mendengarkan setiap omongan orang lain. Cukup seadanya, dan saring mana yang bermanfaat, mana yang tidak. Sebagian besar komentar orang lain hanyalah melintas tanpa pernah mereka pikirkan dua kali. Hanya sedikit saja yang memang peduli--apalagi di dunia maya. Dunia akan gelap gulita jika kita selalu mendengarkan apapun komentar orang lain.
9. Terakhir, jangan menitipkan kebahagiaan kita di hati orang lain. Ingatlah selalu, kebahagiaan itu ada di hati kita sendiri. Dan tentu saja, jangan menitipkan kebahagiaan kita pada benda2 dunia, kekuasaan, kabar gembira dan sebagainya. Karena saat semua hal itu pergi, kita akan sendiri. Musnah sudah semua kebahagiaan. Titipkanlah kebahagiaan di hati sendiri, yang apapun terjadi, kita tetap bisa memeluknya erat-erat.

Jangan menghina fisik dan wajah orang lain. Sungguh jangan. Mau bergurau, main2, atau ikut2an, segera berhenti.
Apa hak kita menghina mahkluk ciptaan Allah? Jauh sekali dari ahklak terpuji.

*Gorengan
Di depan rumah kontrakan, suka lewat penjual gorengan. Umurnya paling baru 9 tahun, masih kecil sekali. Sambil membawa kotak (bukan nampan) berisi gorengan, dia berkeliling dari satu gang ke gang lain, dari satu jalan ke jalan lain. Tasnya besar, dengan tali disampirkan di pundak. Teriakannya kencang, "GORENGAN!! GORENGAN!!"
Anak sekecil ini, setiap sore, beberapa hari belakangan tidak absen lewat. Kadang-kadang baru lewat lepas maghrib, terus semangat berjualan di antara remang cahaya lampu. Entah sudah berapa kilometer kakinya melangkah, entah sudah berapa kali dia berteriak. Keringat, debu menempel. Tapi dia tetap riang jualan. Kadang dia melakukan modifikasi tawaran jualannya, "Gorengan! Asli dari Jerman." atau, "Gorengan!! Asli tanpa formalin." Membuat tertawa mendengarnya. Anak ini, masih kecil nian, tapi sudah membanting tulang mencari rezeki.
Di tempat lain, seperti di terminal, di pasar, tidak terhitung anak-anak kecil lainnya yang bekerja. Tangan mereka terlihat masih ringkih, tubuhnya kurus, pakaian kumal, tapi serius bekerja. Ada yang jadi penjual asongan, ada yang penyemir sepatu, ada yang bantu2 di warung makan. Di kota2 lain, jumlah mereka banyak. Bagi anak-anak ini, uang 10-20ribu adalah istimewa, mereka perlu bekerja untuk memperolehnya. Meski banyak diantara kita, justeru bisa menghabiskan ratusan ribu hanya untuk sekali duduk makan di mall.
Saya berdoa, semoga anak2 ini besok lusa memperoleh kesempatan yang lebih baik. Banyak diantara mereka yang sambil sekolah, terus melanjutkan pendidikan dengan segala keterbatasan. Sejak kecil mereka sudah paham bagaimana hidup mandiri. Mereka tidak minta dikasihani, tidak banyak argumen, tidak banyak ngeles, memilih bekerja. Jangan tanya soal minta HP, motor, apalagi merajuk nangis minta isikan pulsa, tidak ada kamusnya.
Merekalah contoh terbaik jika kita ingin belajar tentang kehidupan. Termasuk bagi orang dewasa. Melakukan hal kongkret walaupun kecil, jauh lebih penting daripada berpangku-tangan. Jika kita merasa susah, lihatlah kehidupan mereka. Jika kita merasa telah berusaha, tengoklah kerja keras mereka.
Semoga itu menginspirasi.

Jika kita menyukai teman karena dia tampan, cantik, kaya, pintar, populer, baik dan semua kelebihan lainnya, maka itu sih lumrah saja. Rumus umum yang berlaku di dunia.
Tapi jika kita tetap berteman dengan seseorang yang jelek (maaf), miskin, biasa2 saja, tdk ada prestasinya, maka itu sebuah pertemanan yang baik.
Nah, jika kita tetap berteman dengan seseorang yang bangkrut, melakukan kesalahan, dijauhi orang lain, tetap membantunya, memberikan kekuatan, motivasi agar terus memperbaiki diri maka jelas itu sebuah keistimewaan. Amat spesial.

Jika kita menyukai teman karena dia tampan, cantik, kaya, pintar, populer, baik dan semua kelebihan lainnya, maka itu sih lumrah saja. Rumus umum yang berlaku di dunia.
Tapi jika kita tetap berteman dengan seseorang yang jelek (maaf), miskin, biasa2 saja, tdk ada prestasinya, maka itu sebuah pertemanan yang baik.
Nah, jika kita tetap berteman dengan seseorang yang bangkrut, melakukan kesalahan, dijauhi orang lain, tetap membantunya, memberikan kekuatan, motivasi agar terus memperbaiki diri maka jelas itu sebuah keistimewaan. Amat spesial.

Karya besar selalu dibangun lewat kerja keras. Bukan lewat komentar atau banyak bicara. Seorang motivator ulung pun, yang memang pekerjaannya banyak bicara, tetap saja dia membangun karya besarnya dengan kerja keras. Selalu memperbaiki diri sendiri, riset, menghindarkan hal sia-sia, dan lain sebagainya.
Pun dalam hal lainnya. Esok lusa, kita akan melihat, orang2 yang dicatat dalam sejarah adalah yang bekerja keras secara kongkret. Sedangkan yg menghabiskan waktu banyak bicara, akan hilang ditelan jaman.

Saat kita bersabar pada orang lain, sebenarnya kita tidak sedang bersabar padanya. Hakikatnya selalu: kita sedang bersabar pada diri sendiri.
Selalu demikian. Juga dalam kasus pekerjaan yang tidak disukai, sekolah yang tidak kondusif, situasi yang menyebalkan. Kita tidak bersabar pada kondisi2 tersebut, kita bersabar pada diri sendiri.
Sekali berhasil bersabar pada diri sendiri, sisanya mudah saja.

Tidak ada kebetulan di dunia ini. Tidak pantas bagi orang2 yang beragama bilang kebetulan. Karena segala sesuatu sudah ada dalam skenario maha sempurna.
Jadi, orang2 yang kita temui, kejadian2 yang kita lewati, tempat2 yang kita kunjungi, itu semua adalah skenario. Jalani sebaik mungkin, lewati selapang mungkin, luruhkan semua kecewa. Sisanya serahkan pada yang maha memiliki skenario.

Jatuh cinta itu tidak ada yang melarang. Saya ini malah hobi nulis novel2 perasaan, quote2 perasaan. Tapi ada batasannya, ada kehormatannya. Tidak bisa diterabas bebas.
Saya tidak sedang bicara soal moralitas, sok alim. Saya sedang mengingatkan, jangan sampai masa muda kalian yang cemerlang, dihabiskan untuk ngurusin orang lain yang siapalah dia. Mending habiskan dengan fokus belajar, memperbaiki diri sendiri. Kita itu baik2 saja tanpa punya pacar.
 
Seorang guru pernah menasehati, pemalas itu cirinya 5:
1. Tidak ada hal kongkret yang dia lakukan
2. Banyak bicara
3. Bangun kesiangan
4. Asyik melakukan aktivitas sia-sia
5. Dinasehati pasti marah2
Hah, saya jadi manyun, karena ada semuanya ciri itu di saya

Mengingatkan orang lain berkali-kali kalau dia memiliki kebaikan (sekecil apapun sisa kebaikan tersebut), jauh lebih efektif mengubah tabiatnya, dibandingkan mengingatkannya dengan cara menyeru berkali2 keburukannya (sebanyak apapun keburukan itu).
Itulah hakikat saling menasehati. Karena kita tidak otomatis lebih baik dibanding orang lain, saat kita memutuskan menilainya.

Seorang guru pernah menasehati, anakku, ada empat prilaku manusia yang amat khas--yang terkadang tidak disadarinya:
1. Menjawab bukan hal yang ditanyakan
2. Bertanya hal-hal yang sudah ada jawabannya
3. Berseru untuk mencari perhatian
4. Berkomentar tapi tidak cocok dengan topiknya
Maka, juga ada empat obatnya, anakku:
1. Mendengar sebelum bicara
2. Membaca sebelum menulis
3. Mencatat sebelum menerangkan
4. Melengkapi sebelum menilai

Cinta itu tidak rumit.
Orang-orang-nya yang rumit.

Akar dari seluruh perasaan sejati adalah: menunggu
Mahkota dari segenap perasaan adalah: melepaskan
Sayangnya, saat kita diselimuti kabut perasaan, sesak tidak tertahankan, kita tidak bisa melihat semua ini dengan akal sehat. Percayalah, Tuhan yang akan menulis skenario terbaik buat kita. Yang pergi pasti kembali, yang hilang akan ditemukan jika memang berjodoh. Lewatilah masa2 ini dengan cara yang baik, gunakan rambu2 agama.
  

Jangan iri dengan kisah cinta yang ada dalam novel, film, lagu, dsbgnya. Itu semua ditulis oleh manusia, direka2, karangan saja.
Sedangkan kisah cinta kita, sungguh akan ditulis oleh yang maha memiliki skenario terbaik. Tidak akan tertukar. Tidak akan keliru. Kitalah pemeran utamanya, jadi mari menjadi pemeran cerita paling keren, agar keren sudahlah skenario yang kita jalani.
 

Tidak ada komentar: