Senin, 10 November 2014

rindu ; sejauh mana perasaanmu bisa membawamu ke pertemuan dengan Tuhanmu?


penulis : tere liye
editor : andriyati
cover : EMTE
lay out : alfian
penerbit : replubika
tebal : ii+544hal
cetakan : IV November 2014
isbn 978-602-8997-90-4



respon pertama yang saya berikan untuk buku ini adalah, “bentar, kok udah ada cap 'Best Seller' nya? kan belum sebulan beredar luas di toko buku?” eh, besoknya si abang bilang bukunya udah cetakan ke-6 #tepokjidat

Rindu.

sudah lama diiklankan sama bang tere di facebooknya, sudah sering pembaca dibikin gemas dan penasaran dengan isi novelnya, bahkan baru seminggu terbit aja udah cetak ulang. dan seperti lazimnya novel tere liye, plus pemanasan yang beliau berikan di facebooknya, ini novel tentang perasaan, tentang pertanyaan dalam perjalanan.

Gurutta Ahmad Kaerang, Daeng Andipati, Ambo Uleng, Mbah Kakung, dan Bonda Upe adalah lima tokoh dengan pertanyaanpertanyaan yang harus dijawab.

tentang kisah kelam masa lalu, tentang kebencian, tentang takdir, tertang kemerdekaan, dan tentu saja, tentang cinta. bersetting tahuntahun terjajah Belanda, dalam perjalanan suci menuju Mekah, tere liye menunjukkan betapa berbahayanya ia saat sudah seruis menggerakkan jemarinya merangkai kata. 

***

karena kau tidak bisa membaca isinya, mijn vriend, bukan berarti sebuah buku otomatis jadi buruk.

luka fisik dengan cepat sembuh, sedangkan pemahaman baik atas setiap kejadian akan selalu menetap.

mata air yang dangkal, tetap saja bermanfaat jika jernih dan tulus. tetap segar airnya.

cahaya pengetahuan selalu membuat seseorang terlihat lebih muda.

dalam banyak hal, diam justru membawa banyak kebaikan.

tidak selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan.

pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, Nak. juga mataku, sudah rabun. tubuh tua ini juga sudah bungkuk. harus ku akui itu. tapi aku masih ingat kapan aku bertemu dengan istriku. kapan aku melamarnya. kapan kami menikah. tanggal lahir anakanak kami. waktuwaktu indah milik kami. aku ingat itu semua.

pendengaranku memang sudah berkurang, Nak. mataku sudah tidak awas lagi. tapi kami akan naik haji bersama. menatap Ka'bah bersama. itu akan kami lakukan sebelum maut menjemput. bukti cinta kami yang besar.

sayangnya, lazimnya sebuah pertanyaan, maka tidak otomatis selalu ada jawabannya. terkadang, tidak ada jawabannya. pun penjelasannya.

dia tidak akan mau mengambil kesempatan hanya karena ada orang berhutang budi padanya.

maka jangan pernah merusak diri sendiri. kita boleh jadi benci atas kehidupan ini. boleh kecewa. boleh marah. tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir.

sebuah kisah masa lalu yang amat memilukan kembali diceritakan. tapi kabar baiknya, ia diceritakan kepada orang yang tepat. tidak diumbar, tidak dibiarkan berceceran di tempat umum, untuk kemudian menjadi gunjingan aib tak terperikan.

kita keliru sekali jika lari dari kenyataan hidup, Nak. aku tahu, lima belas tahun menjadi pelacur adalah nista yang tidak terbayangkan. tapi sungguh, kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. ketahuilah, semakin keras kau berusaha lari, maka semakin kuat cengkramannya. semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul lagi memenuhi kepala.

cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dnegan dihadapi. berdiri gagah. mulailah damai dengan menerima masa lalumu. buat apa dilawan? dilupakan? itu sudah menjadi bagian hidup kita. peluk semua kisah itu. berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. itulah cara terbaik mengatasinya. dengan kau menerimanya, perlahanlahan, sia akan memudar sendiri. disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia.

nak, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apkah tawa itu bahagia atau tidak. boleh jadi, kita sedang tertawa dalam kesedihan. orang lain hanya melihat wajah. saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. orang lain hanya melihat luar. maka, tidak relevan penilaian orang lain.

kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. itu kehidupan kita. tidak perlu siapapun mengakuinya untuk dibilang hebat. kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.

kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. buat apa? sama sekali tidak perlu. jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.

selalulah berbuat baik. selalu. maka semoga besok lusa, ada satu perbuatan baikmu yang menjadi sebab kau diampuni.

berhenti lari dari kenyataan hidupmu. berhenti cemas atas penilaian orang lain, dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin.

hidup ini akan rumit sekali jika kita sibuk membahas hal yang seandainya begini, seandainya begitu.

berhenti bertanya hal yang hanya merepotkan diri sendiri. toh, kebahagiaan sejati itu bukan soal berhitung yang ada jawabannya.

selalu menyakitkan saat kita membenci sesuatu. apalagi jika itu ternyata membenci orang yang seharusnya kita sayangi.

kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat membenci orang lain.

Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya, yang kita tidak selalu paham.

kitapa kita harus benci? kenapa? padahal kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. toh itu hati kita sendiri. kita berkuasa penuh mengaturaturnya. kenapa kita tetap memutuskan membenci? karena boleh jadi, saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri.

dia tidak benci itu semua. dia terima sepenuh hati, maka dia bisa bahagia atas pilihannya.

kenapa kau memilih benci. sedangkan orang lain memilih berdamai dengan situasi di sekitarnya?

saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah dan kita benar. apakah orang itu memang jahat atau aniaya. bukan! kita memutuskan memaafkan seseorang karna kita berhak atas kedamaian di dalam hati.

bukalah lembaran kertas baru yang benarbenar kosong. buka lembarab baru, tutup lembaran yang pernah tercoret. jangan diungkitungkit lagi. jangan ada tapi, tapi, dan tapi. tutup lembaran yang tidak menyenangkan itu.

kebahagiaan adalah obat terbaik.

agama kita, sebaliknya, diajarkan lewat penjelasan dan akal sehat. bukan berarti tidak ada mukjijat atau keajaiban. Nabi pun memiliki banyak mukjijat, tapi bagian terbesar dalam agama ini adalah memahami dengan akal pikiran. tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.

hingga mereka lupa, bahwa mukjijat paling besar dalam agama kita justru ada di lemari rumahnya, ada di mejameja rumahnya. dibiarkan berdebu tanpa pernah dibaca. | eh, mukjijat berdebu? memangnya apa? | Alquran.

setiap hari aku jatuh cinta. setidaknya setiap melihat matahari terbit, aku jatuh cinta, mensyukuri hidupku. setiap matahari tenggelam, aku jatuh cinta, berterimakasih atas sepanjang hari, baik itu menyebalkan ataupun menyenangkan. bahkan melihat makanan ini pun aku jatuh cinta.

hidup ini ternyata dekat sekali dengan kematian. tidak pernah ada yang tahu kapan maut menjemput.

hidup ini sesungguhnya adalah antrean panjang menunggu kematian. semua makhluk yang bernyawa besok lusa pasti mati.

hanya ada dua hal yang membuat seseorang tidak merasa lapar. yang pertama karena perasaan suka cita yang besar. yang kedua karena kesediahan mendalam.

lahir dan mati adalah takdir Allah. kita tidak mempu mengetahuinya. pun tiada kekuatan bisa menebaknya. kita tidak bisa memilih orangtua, tanggal, tempat....tidak bisa. itu hak mutlak Allah. kita tidak bisa menunda, maupun memajukannya walau sedetik.

dan ketika kita tidak tahu, tidak mengerti alasannya, bukan berarti jadi membenci, tidak menyukai takdir tersebut. amat terlarang bagi seorang muslim mendustakan takdir Allah.

Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita. sebaliknya, segala sesuatu yang kita anggap baik, boleh jadi amat buruk bagi kita.

mulailah menerimanya dnegan lapang hati. karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. takdir bahkan basa-basi pun tidak. tidak peduli. nah, kabar baiknya, karena kita tidak bisa mengendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tak berdaya. kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. apakah bersedia menerimanya, atau mendustakannya.

ketika kita tidak tahu mau melakukan apalagi, ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik. hari demi hari akan menghapus lembar demi lembar kesedihan. minggu demi minggu akan melepas sepapan demi sepapan kegelisahan. bulan, tahun, maka rontok sudahlah bangunan kesedihan di dalam hari. biarkan waktu mengobatinya, maka semoga kita mulai lapang hati menerimanya. sambil terus mengisi harihari dengan baik dan positif.

mulailah memahami kejadian ini dari kacamata yang berbeda, agar lengkap.

jangan memaksakan melihatnya dari kacamata kita. tenti bersikeras, bertanya, tidak terima. jika itu yang kita lakukan, maka kita akan terus kembali, kembali, dan kembali lagi ke posisi awal. tidak pernah beranjak jauh.

kau pemuda malang yang terpagut harapan, terjerat keinginan memiliki, dan terperangkap kehilangan seseoraang yang kau sayangi. harapan itu belum padam, sejauh apapun kau pergi. pun keinginan memeiliki itu belum punah, sekuat apapun kau mengenyahkannya. dan terakhir, kehilangan itu justru mulai mewujud dan nyata. setiap hari, semakin menumpuk wujudnya, semakin nyata kehilangannya.

apakah cinta sejati itu? cinta sejati adalah melepaskan. semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya.

lepaskanlah. maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu.

selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama.

jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar.

senantiasa berbuat baik kepada siapapun. maka teruslah menjadi orang baik seperti itu. insyaAllah, besok lusa, Allah sendiri yang akan menyingkap misteri takdirnya/

sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun  wujud kehilangan, kau akan siap mengahdapinya.

menulis adalah salah satu cara terbaik menyebarkan pemahaman. ketika kita bicara, hanya puluhan atau ratusan orang saja yang bia mendengar. kemudian hilang ditelan waktu. tapi tulisan, bukubuku, bisa dibaca oleh lebih banyak lagi. satu buku bisa dipinjam dan dibaca berkalikali oleh orang yang berbeda, apalagi ribuan buku. dan jangan luapakan, buku bisa abadi. terus diwariskan, dicetak kembali. itu sangat efektif untuk mebagiakan pemahaman baik.

sungguh, telah menunggu hadiah paling indah bagi orangorang bersabar.

***

saya kasih lima bintang, sekalipun -i'm so sorry for this- ceritanya tidak seseru Thomas, dan tak semegah Rembulan yang menggetarkan hati itu. mungkin karena sudah banyak spoiler di facebooknya jadi ga merasakan kejutan lagi dibalik kisahnya, atau sudah "kebanyakan" baca buku si abang jadi udah kepikir apa plot twist kisahnya dan bagaimana bahasa yang digunakan.

perasaan saya aja atau gimana, yaa, kalau buat kalian yang sudah terbiasa kenal dengan beliau secara tulisan sejak lama, buku ini lebih cocok untuk anakanak remaja, bukan yang udah kepala dua sekian kayak saya ((PENGAKUAN)) i mean, bukan ga layak baca, buku ini bagus, untuk pengingat diri. tapi yaa, tadi itu, tidak semenggetarkan pendahulunya -karena menurut saya ini kakak adik serumpun dengan novel Rembulan-.

dan kayaknya sih, karakter utamanya bukan Gurutta ataupun Andipati, tapi yaa si Anna, yang lewat seluruh tingkah polahnya, menunjukkan betapa ringannya dunia anakanak.

Tidak ada komentar: