Senin, 01 September 2014

status (bagian ketigapuluh tujuh)


Kalaupun nilai2 di sekolah kita tidak cemerlang, IP-nya biasa2 saja, malah nyaris DO, bukan berarti kita tidak bisa sukses saat kerja kelak.
Kerja keras, ketekunan jauh lebih penting. Nah, apakah kalian memiliki kerja keras, ketekunan tersebut?
Jika jawabannya punya, sungguh punya, maka saya hendak bertanya: "Kok bisa IP, nilai2 kalian jelek padahal mengaku punya kerja keras, ketekunan?" Tidak masuk akal. 

Ada banyak hal yang punya kemampuan menakjubkan di dunia ini, dan itu kecil sekali sebenarnya.
Ini contoh berguraunya, lampu merah. Ketika dia menyala merah, ratusan mobil berhenti (asumsi di negara2 maju), padahal apalah itu lampu merah. Dia bukan monster, bukan raksasa, bukan Iron Man, yang kalau dilanggar bisa mengamuk. Cuma lampu. Bisa menghentikan ratusan mobil.
Jadi tenang saja, kalau merasa tidak penting, tidak pintar, tidak berprestasi, kita juga bisa punya kekuatan besar. Sepanjang kongkret dan tekun, pasti ketemu apa kekuatannya.

Tidak ada kebetulan di dunia ini. Tidak pantas bagi orang2 yang beragama bilang kebetulan. Karena segala sesuatu sudah ada dalam skenario Maha Sempurna.
Jadi, orang2 yang kita temui, kejadian2 yang kita lewati, tempat2 yang kita kunjungi, itu semua adalah skenario. Jalani sebaik mungkin, lewati selapang mungkin, luruhkan semua kecewa. Sisanya serahkan pada yang maha memiliki skenario.

Mencintai dalam diam adalah seperti menari takjim sendirian di antara kabut pagi di sebuah padang rumput yang megah dan indah. Dan meski tidak tersampaikan, tidak terucapkan, demi menjaga kehormatan perasaan, kita selalu tahu itu sungguh tetap sebuah tarian cinta.
Semoga besok lusa bisa menari bersama dalam ikatan yang direstui agama, dicatat oleh negara.

Sebenarnya banyak orang yang melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali padahal mereka tahu itu hal menyedihkan. Ada yang bahkan melakukannya 10x, kesalahan yang sama, orang yg sama, situasi yg sama. Berakhir dengan sakit hati yang sama, kekecewaan yang juga sama.
Itulah kenapa manusia itu kadang disebut keras kepala. 

Salah satu ironi itu adalah:
Banyak orang merasa amat cemas kehilangan sesuatu atau seseorang yang sebenarnya menyakiti dan merusak dirinya sendiri.
Tapi cuek dan santai saja melepaskan sesuatu atau seseorang yang sebenarnya setia dan selalu ada untuknya.

Ketika kita gagal memiliki sesuatu, boleh jadi karena kita memang belum pantas memilikinya. Maka bersabar selalu lebih baik.

Siapa sih yang tidak pernah disakiti dalam hidup ini. Tapi itu bukan berarti kita harus membalasnya.
Kalau memang harus membalas, maka tidak ada pembalasan lebih baik selain menjadi orang yang lebih baik dibandingkan orang2 yang menyakiti kita tersebut.

Sekali sebuah hubungan (entah itu persahabatan, rekan bisnis, suami-istri) dibumbui dengan dusta, kemudian menyusul dusta berikutnya, maka soal waktu akan selesai sudah.

Saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah.
Saat kita menangis, pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar.
Maka, tidak relevan penilaian orang lain. 

Bisa menyuruh2, memerintah2 tidak selalu simbol kekuasaan. Terkadang boleh jadi simbol kelemahan dan ketergantungan. Bahkan mungkin ketidakmampuan diri sendiri.

Orang yang membenci kita, boleh jadi adalah orang yang paling banyak memikirkan kita.
Tidak perlu dikonfirmasi ke orang itu. Karena rumus ini juga berlaku saat kita membenci orang lain.

Semua orang memiliki 'buku'. Maka, jangan habiskan waktu menulisi buku milik orang lain, habiskanlah waktu untuk menulis buku kita sendiri, karena kitalah yang akan menjalani kehidupan ini. Pahit, getir, manis, bahagia, itu kehidupan kita. Banyak melakukan kekeliruan, bebal, bodoh, tidak mengapa, toh inilah buku kehidupan milik kita. Jangan sedih, selalu ada halaman baru berikutnya.
Mari, tuliskan catatan terbaik di buku milik kita. 

Dunia ini penuh omong kosong.
Ada negara yang selalu bicara Hak Asasi Manusia, tapi justeru negaranya adalah pendukung paling setia Israel. Tutup mata atas pembunuhan anak2 di Palestina.
Ada banyak jenis manusia yang selalu bicara tentang HAM di media sosial, ngoceh mengaku sebagai aktivis perjuangan HAM, secuil kuku pun dia tidak peduli dengan kejadian di Palestina.
Dunia ini penuh omong kosong kepentingan. Sesimpel itu.


Sebagai muslim kita nggak bisa bilang: 'Tidak masalah tidak shalat, yang penting baik hatinya." Ini keliru.

Dan lebih fatal lagi saat bilang: "Daripada shalat rajin, tapi kelakuan bejat." Ini juga pendapat yang lebih fatal lagi.
Tidak ada pilihan antara shalat dengan yang lain. Karena tetap saja pilihannya mutlak: shalat. Hal ini beda dengan memilih seseorang baik hatinya tapi miskin; atau buruk kelakuannya tapi kaya. Itu bisa dilakukan memilih. Silahkan. Tapi shalat, mau bumi hancur lebur, langit digulung, tetap tidak bisa dipilih. Harus shalat.
Jika mencari jodoh, itu salah-satu kriteria paling penting. Coret jika tidak. Dan kalau dia berjanji mau berubah, shalat, suruh buktikan dulu memang shalat dengan baik dan konsisten dalam jangka waktu tertentu, baru lanjutkan rencana menikahnya.

Kita tidak perlu membuktikan apapun kepada siapapun bahwa kita itu baik, setia, ramah, berbakti, pintar, kaya, dsbgnya.
Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik, ramah, pintar, setia, kaya, dan sebagainya tersebut.
 

Tidak semua kata-kata indah itu mengandung kebenaran. Kadangkala, sebuah kebenaran harus disampaikan dengan kalimat yang amat menyakitkan.

Kita lakukan, orang2 tetap ngoceh. Tidak kita lakukan, orang2 juga tetap ngoceh. Kita pilih A, orang2 tetap berisik. Kita pilih B, C, dsbgnya, orang2 juga tetap berisik.
Apapun yang kita putuskan, orang2 tetap saja demikian. Jadi, biarkan saja orang2 sibuk dengan masalah mereka sendiri.
  

Orang2 yang sudah tahu kalau dia cuma hanya untuk disakiti, dibohongi, tapi tetaaap saja nggak kapok, tetap tidak tergerak buat berubah, move on, maka itu sama kayak dia mandi tiap pagi, siang dan sore, tapi nggak pernah ganti baju.
Baju yang ituuuu saja dipakai, berminggu2. Sudah bau, dekil, dakian, tumplek jadi satu di bajunya. Mandi sih tetap mandi.
 
Boleh2 saja menghabiskan waktu internetan, selalu melototi gagdet, sibuk sekali dengan hal itu.
Tapi akan lebih boleh2 lagi jika sejenak kita refleksi, bagaimana dengan nilai2 di sekolah, bagaimana besok lusa mau melanjutkan sekolah di mana, bagaimana dengan pekerjaan, bagaimana dengan kewajiban kita, dsbgnya. Agar seimbang.
 
Jangan pernah terpesona dengan jumlah. Hanya karena sesuatu banyak, ramai, tidak otomatis jadi baik.
Orang tua dulu menasehati begini: bahkan bangkai pun dikerubuti lalat, Nak. Pikirkanlah.
Maka hari ini, di abad gagdet, juga ada nasehat yang relevan: bahkan 1000 file pun bisa di winzip/winrar jadi 1 file. Pikirkanlah.
 
Semua orang akan dinilai dari karya, perbuatan, hal2 kongkret.
BUKAN dari apa yang dia posting di media sosial.
Pahamilah hal ini. Karena besok lusa, saya khawatir, orang2 merasa dunia maya inilah dunia nyatanya,

Saya yakin sekali, orang2 yang asyik facebook-an, twitter-an, menghabiskan waktu berjam-jam, berkali2 buka facebook, maka tidak masuk akal kalau termasuk kategori miskin, nganggur, atau nyari pekerjaan.
Karena kalau tetap ngotot merasa masuk golongan itu, bukankah lebih baik berhenti menghabiskan waktu untuk internetan, bergegas mencari pekerjaan yang kongkret. Iya, kan?

Sungguh rupawan wajah orang2 ini:
Ketika dizalimi mereka bersabar, ketika disakiti mereka memaafkan, pun ketika orang2 lain pelit, pedit, kikir mereka tetap murah hati.
Jika tidak di dunia ini--karena orang2 sekarang hanya melihat wajah secara fisik, maka kelak di akherat wajah mereka sungguh amat rupawan, bercahaya indah.

Membicarakan perceraian orang lain adalah bergunjing. Dan bergunjing, persis seperti kita asyik memakan bangkai saudara sendiri. Bangkainya yang busuk, berulat, kita makan ramai2.
Maka berhentilah menyimak, membaca, menonton hal2 ini. Jika tidak sengaja, segera tutup, matikan. Jika terlanjur, segera istigfar, jangan diulangi. Jangan anggap sepele persoalan ini, atau tunggu saja, besok lusa Allah akan membiarkan aib2 kita tercerai berai di kunyah orang lain.

Tidak perlu mencari kejujuran di hati orang lain. Carilah kejujuran yang bermukim di hati kita.
Tidak perlu menemukan kebaikan di hati orang lain. Carilah kebaikan yang menetap di hati kita.
Selalu begitu.

Saking lebaynya orang2 soal syiah di media sosial, saya pernah posting: Insya Allah saya akan menghadiri acara di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Langsung ada saja yang komen syiah-syiah dan syiah.
Alamak, ada yang korslet sekali di media sosial ini.

Orang-orang boleh jadi cepat sekali lupa kebaikan yang kita berikan. Juga cepat sekali lupa bantuan yang kita julurkan. Seperti air menguap. Lupa seketika.
Sebaliknya, orang2 boleh jadi gampang sekali mengingat kesalahan yang kita perbuat. Mudah sekali mengungkitnya. Selalu ingat.
Tapi justeru dengan tahu hal tersebut, itu bukan berarti kita punya alasan untuk berhenti berbuat baik. Juga bukan alasan untuk malu pernah membuat kesalahan. 

Jangan pacaran adik2 sekalian. Fokus saja pada sekolah, karir kalian. Kalau kalian menyukai seseorang, maka jika belum siap segera menikah besok, lepaskan saja.
Karena kalau kalian takut melepaskannya, boleh jadi kalian sebenarnya sedang mengkonfirmasi kalian takut itu bukan jodoh kalian. Cemas jangan-jangan nanti disambar orang.
Sebab orang yang yakin, dia akan berani meluruhkan perasaan. Yakin sekali, besok lusa kalau memang jodoh, pasti akan kembali, di saat yang tepat, cara yang tepat, saat siap mengambil keputusan menikah.

Ini nasehat lama (yg bnyk ditulis dimana2):
Melepaskan dengan tulus sesuatu yg amat kita inginkan tidak selalu berarti kita lemah.
Melainkan sebaliknya, kita sangat kuat untuk membiarkan sesuatu itu pergi. Kita sangat kuat utk meyakini bahwa besok lusa, jika memang berjodoh, pasti akan kembali.
 

“Besok lusa, mungkin ada saja yang tahu aib kita.
Tapi buat apa dicemaskan?
Saudaramu sesama muslim, jika dia tahu, maka dia akan menutup aibmu. Karena Allah menjanjikan barang siapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akherat. Itu janji yang hebat sekali. Kalaupun ada saudara kita yang tetap membahasnya, mengungkitnya, kita tidak perlu berkecil hati. Abaikan saja. Dia melakukan itu karena ilmunya dangkal. Doakan saja semoga besok lusa dia paham.”

Kesendirian itu adalah pilihan. Kita bisa memilih sendiri, dan tetap bahagia dengan situasi tersebut.
Tapi kesepian, dalam situasi tertentu, dia adalah mahkluk yang berbeda lagi. Karena banyak orang yang justeru merasa kesepian di tengah hiruk pikuk ramainya dunia.
 

“Tidak selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, atapun karena harapan.”

Orang egois itu, mana pernah merasa dia egois. Yang ada, menurut dia orang lain yang egois.
Iya kan? Mari kita cek masing-masing.
 
 

Kalau kita menemukan tulisan yang menyebalkan di beranda rumah orang lain, tidak perlu bereaksi menanggapi. Buat apa? Hari ini orang2 bebas bicara apapun. Kita tidak bisa melarang. Bahkan sejahat apapun tulisan itu, tidak perlu ditanggapi. Jangan repotkan diri meluruskan. Kalau kita ribut di rumahnya, malah hepi sekali dia. Karena penulisnya biasanya memang cari2 perhatian.
Nah, cara menanggapinya, cara meluruskannya adalah dengan: tulislah tulisan versi kita di beranda rumah sendiri. Itu jauh lebih efektif. Tulisan dilawan tulisan.
Jangan biarkan diri kita mudah sekali tersinggung. Tidak suka, lewatkan saja. Terganggu karena sering muncul, tinggal unfollow atau remove. Semoga semakin kesini, semakin banyak pengguna internet yang sehat.
 

Sayangi rasa sakit yang kita terima. Peluk dengan erat. Maka semoga rasa sakitnya berkurang.
Sungguh, apa2 yg kita tidak sukai, boleh jd itu amat baik bagi kita.
 

Ini serius: coba diingat hari ini, teman satu sekolah kalian yang paling gaul, paling gaya, sibuk pacaran, seolah keren banget, 10-20 tahun lagi di mana posisinya. Apa keberhasilan yang dia capai kemudian?
Jangan pernah salah fokus di masa remaja kalian. Karena sesuatu yang tidak hakiki, semakin lama maka semakin pudar. Tapi tekun belajar, punya hobi positif dan bermanfaat, semakin lama akan semakin cemerlang.
 

Dalam setiap pertengkaran, tidak ada yang diuntungkan.
Dalam setiap perdebatan, juga tidak ada yang menang.
Lantas, buat apa? Tinggalkanlah bergegas.
 

Ajarkan sejak dini kepada anak-anak kita untuk bisa menerima kekalahan. Jika temannya bisa melukis lebih bagus, didik anak kita agar mampu mengakuinya. Jika temannya dapat ponten lebih tinggi, didik anak kita agar mampu menghormati nilai tersebut.
Pernah nonton Karate Kid versi baru yang main Jade Smith dan Jackie Chan? Ketika lawan tandingnya kalah di final, mau sesakit apapun kekalahan itu, lawannya yang akhirnya memberikan piala ke pemenangnya. Begitulah seharusnya.
 

Jika skripsi kalian tidak selesai.
Sini saya bantuin nyari solusinya.
Lebih banyak mana selama ini, kalian membuka buku utk mencari bahan dan nulis skripsi itu dibanding kalian membuka HP, gagdet utk sms, WA, BBM, internetan tdk jelas?
Nah, silahkan mikir!

Orang tua banting tulang nyari duit buat makan.
Anak-anak sekarang banting pintu untuk beli HP, pulsa, motor dan sejenisnya.
Mikir!

Adik2 yang masih remaja.
Kalau nilai ulangan kalian jelek, nilai ujian jelek, maka silahkan cek, mana yang paling lama: saat kalian membuka buku untuk belajar atau saat membuka HP, main internetan, sms-an, whatsapp, dll.
Sesimpel itu saja. 
Nah, pilihannya, silahkan sakit hati karena postingan ini, atau berubah. Saya sih hanya mengingatkan. Toh, itu masa depan kalian sendiri. Jangan sampai kalian termasuk orang2 yang dimasa mudanya menyusahkan orang tua, lantas di masa tuanya, menyusahkan anak-anaknya.

Banyak di antara para pencinta yang mengucapkan kalimat "selamat tinggal" kepada seseorang/sesuatu yang bahkan sebelumnya tidak pernah disapa "selamat bertemu", tidak pernah bersama sama sekali, tidak pernah punya jalan cerita bersisian. 
Perasaan itu kadang kejam sekali.

Ada dua jenis orang dilihat dari tindakannya:
Orang yang kongkret dan orang yang hanya bicara saja.
Mudah sekali membedakannya. Misalnya, pengin usaha/bisnis, maka orang yang kongkret, nyata sekali, dia mulai melakukannya meski dari hal kecil, lama2 jadi besar. Sedangkan yg hanya bicara saja, 5 tahun berlalu pun, tetap kosong, hanya bicara terus--sambil terus asyik facebookan. Juga dalam urusan lain, seperti sekolah, bekerja, sama cara menganalisisnya dua jenis ini.
Maka, gunakan hal ini untuk bercermin, dua tahun lalu, apa yang telah kita lakukan, dan sekarang, apa yang telah kita gapai. Karena jangan2, kita termasuk orang yang hanya bicara saja. Sementara orang yang kongkret sudah jauh sekali larinya.

"Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi.
Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka.
Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Tidak peduli.
Nah, kabar baiknya, karena kita tidak bisa mengendalikannya, bukan berarti kita jadi mahkluk tidak berdaya, kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerimanya, atau mendustakannya.”

*Mengapa ridho suami itu surga bagi para istri

Karena ilmu saya tidak cukup memadai menjelaskannya, maka akan saya reposkan sebuah tulisan dari salah-satu penulis yang lebih dalam ilmunya, Ust. Rahmat Idris (RH Fitriadi), kawan penulis dari Aceh, semoga bermanfaat:

Mengapa ridho suami itu surga bagi para istri?
1. Suami dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidupmu. Bahkan seringkali rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.
2. Suami dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah ibunya hingga dia beranjak dewasa. Namun sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad menafkahimu, perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.
3. Suami ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan anak-anakmu serta dirimu. Padahal dia tahu, di sisi Allah engkau lebih harus dihormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan dirinya. Namun tidak pernah sekalipun dia merasa iri, disebabkan dia mencintaimu dan berharap engkau memang mendapatkan yang lebih baik daripadanya di sisi Allah.
4. Suami berusaha menutupi masalahnya di hadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu memberi solusi. Padahal bisa saja di saat engkau mengadu itu, dia sedang memiliki masalah lebih besar. Namun tetap saja masalahmu diutamakan dibandingkan masalah yang dihadapinya sendiri.
5. Suami berusaha memahami bahasa diammu dan bahasa tangismu, sedangkan engkau kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja. Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali.
6. Bila engkau melakukan maksiat, maka dia akan ikut terseret ke neraka karena dia ikut bertanggung-jawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah dituntut ke neraka karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggungjawabkannya sendiri.
*semoga tulisan ini bermanfaat.

Banyak sekali masalah itu jadi rumit, karena kita sendiri yg membuatnya rumit.
Siapa sih yang memaksa kita utk berada di situ2 saja? Kita ini berkuasa penuh atas hati sendiri. Atau jangan2 kita membiarkan dikuasai?

Dalam agama kita, tidak ada istilah bahu untuk bersandar, apalagi 'dinding' tempat meratap nan mengadu. Karena yg kita jadikan sandaran/ratapan saja tetap mahkluk dia--yg juga cari sandaran dan tempat meratap.
Dalam agama kita yang diajarkan adalah: semua lantai bisa tempat bersujud. Termasuk di tanah berdebu, sepanjang memenuhi syarat, bisa bersujud. Kapanpun, di manapun, dan masalah apapun, termasuk sandal jepit hilang, boleh diadukan. Langsung, tanpa limitasi kuota, apalagi antri segala. 

Amerika itu memang 'bedebah'. Tapi ketika Mc Cain kalah dari Obama, dia menelpon sendiri Obama dan mengucapkan selamat.

Mc Cain ini adalah tentara, pernah dipenjara oleh Vietkong, untung ada Rambo berhasil menyelamatkannya (ini bergurau). Silahkan baca wikipedia utk memahami betapa panjang pengorbanan Mc Cain demi Amerika, tapi dia dikalahkan oleh seorang Obama--yang siapa sih dia?

Ini pidato Mc Cain saat mengakui kekalahan:
"Sen. Obama has achieved a great thing for himself and his country - I applaud him for it,"
Obama's achievement in "inspiring the hopes of so many millions who once wrongly believed that they had little at stake or little influence in the election of an American President is something I deeply admire and commend him for,"
"I urge all Americans who supported me to join me in not just congratulating him but offering our next President our goodwill and earnest effort to find ways to come together,"
Amerika itu memang 'bedebah'. Tapi mereka punya hal2 baik yang bisa dipelajari.
 

Kenapa sesuatu itu terasa menyakitkan.
Karena kita lawan kenyataannya. Akan berbeda sekali jika kita terima. Serta merta semua jadi berubah begitu mudah.
Mudah dipahami, mudah dilewati.
Tapi sekali kita lawan, dustakan, maka dia akan terus menghimpit sesak hidup kita. Terus mengikat kaki-kaki, dan tangan2 kita. 
 
Itu mulut seorang muslim atau bukan sih?
Kenapa mendoakan kejelekan buat orang lain?
Ayo, istigfar. Mau tidak sengaja, atau diniatkan, mendoakan kejelekan saudara muslim lainnya, ditulis pula di media sosial, itu sungguh bukan akhlak yg baik. 
 
Jika kita tidak bisa mendoakan saudara sesama muslim hal2 baik, maka jangan doakan hal buruk baginya.
Jika kita tidak bisa menjaga aib saudara sesama muslim, maka jangan jadi bagian yang bocor baginya.
Jika kita tidak bisa membantu saudara sesama muslim untuk keluar dari lubang masalah, maka jangan malah didorong jatuh sekalian.

Petarung yang baik itu, fokus pada kekuatan miliknya. Bukan fokus menceritakan kejelekan lawannya. Karena yang namanya kejelekan, boleh jadi kita punya sama banyaknya.
Nah, jika kita malah fokus pada kejelekan orang lain, jangan2 karena kita memang tidak punya kekuatan sama sekali. Hanya menjelek2an itulah yg bisa kita jual agar ramai orang berkumpul,
 
Bukan kita saja yang miskin, bodoh, orang tua tidak mendukung, dsbgnya. Sama sekali bukan. Ada jutaan orang lain yang senasib dengan kita. Tapi kalau mereka berhasil sukses, kenapa kita tidak?
Kalau mereka bisa melanjutkan sekolah di tempat2 yang bagus, kenapa kita tidak?
Mulailah dipikirkan. Karena boleh jadi, alasan sebenarnya adalah: kita hanya asyik main HP setiap hari. Lebih banyak main HP dibanding buka buku untuk belajar. Untuk kemudian, banting pintu atau menangis jika tidak dibelikan pulsa. 
 
Gagalnya sekolah kalian hari ini, akan berimplikasi serius puluhan tahun mendatang. Juga termasuk malasnya sekolah, menggampangkan urusan belajar, itu semua akan kalian petik di masa depan.
Catat baik2 nasehat ini, bila perlu simpan, 20-30 tahun lagi buktikan saja sendiri.
 
Adik2 sekalian, besok lusa, berhati2lah atas 3 kosong ini: Omong kosong, otak kosong, tabungan juga kosong.
Nah, mumpung masih muda, mulailah serius untuk belajar, sekolah. Kalau sudah lulus, segera cari pekerjaan, usaha. Dilakukan dengan tekun. Biar besok2 bukan kita yang masuk 3 kosong tadi. Jangan habiskan waktu main HP melulu, kelayapan di flyover, pacaran, dsbgnya.
 

Saya sepakat sekali dengan kalimat ini: Jodoh itu tidak mungkin tertukar. Tapi keduluan orang lain mungkin saja.
Jadi, segera lulus sekolah, kerja, mandiri, biar bisa melamar anak orang. Bukan sebaliknya pacaran mulu, ngakunya tidak siap2.

Allah tidak tidur.
Kita kira, tidak ada yang tahu niat jahat? Perbuatan jahat kita? Telah tersembunyi begitu rapatnya.
Tapi Allah sungguh tidak tidur. Dan perhitungannya kelak tidak akan meleset walau satu benang pun.

Tidak mengapa kalau kita pelupa. Hei, tetap ada untungnya. Ingat baik2, orang pelupa itu tidak jago berbohong.
Tidak mengapa kalau kita ini pendiam. Hei, tentu banyak manfaatnya. Ingat baik2, orang pendiam lebih sedikit menyakiti orang lain dengan kalimat2nya.
Tidak mengapa kalau kita ini penakut. Oi, ini tentu tidak sedikit faedahnya. Ingat baik2, orang penakut itu tidak mau dekat2 sesuatu yang membahayakan dan merusak dirinya.
Tidak mengapa kalau kita ini lambat. Oi, tentu tetap ada gunanya. Ingat baik2, orang2 yang lambat belajarnya, mesti diulang2, akan mengingat sesuatu lebih lama dan mendalam.
Dan terakhir, tidak mengapa kalau kita ini pemalu.
Sungguh sikap pemalu yang positif adalah Ibu dari segala sikap menjaga diri. Tidak akan rugi orang2 yang bisa menggunakan rasa malunya dengan jitu.

Orang2 yang TIDAK punya pilihan, tapi dia tetap berpegang teguh, tidak berhenti atau memutuskan pergi, maka sudah setia-lah dia.
Apalagi, ketika seseorang PUNYA banyak pilihan, opsi, alternatif, tapi dia tetap berpegang teguh, tetap di sana, maka sungguh setia. 

“Orang-orang yang bersabar tidak otomatis hidupnya seindah definisi sabar tersebut. Dimata banyak orang, boleh jadi hidupnya biasa saja, menyedihkan malah.
Orang-orang yang jujur, tidak selalu hidupnya jadi semegah definisi jujur tersebut. Di mata banyak orang, boleh jadi hidupnya biasa saja, menyedihkan malah. Di mata banyak orang, boleh jadi hidupnya patut dikasihani, miskin sekali.
Tapi sesungguhnya, hidup ini bukan soal yang terlihat dimata orang-orang. Hidup ini adalah kebahagiaan. Dan jelas, kebahagiaan selalu bersemayam dalam hati masing-masing. Kitalah yang tahu persis bahagia atau tidak, bukan orang lain.
Kemudian, hidup tidak akan tertukar seperjuta mili.” 

“Air itu sabar sekali sifatnya. Ketemu batu, ia berbelok. Ketemu lorong sempit, ia masuk sedikit demi sedikit. Ketemu bendungan, ia bersabar, terus mengumpulkan teman-temannya. Sesekali terlampaui bibir bendungan, ia mengalir lagi..
Air hanya memastikan bahwa ia pasti mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tidak ada yang bisa menghalangi takdir hidupnya tersebut.
Tinggal darimana kita mau melihat penjelasannya."

Jangan iri dengan kisah cinta yang ada dalam novel, film, lagu, dsbgnya. Itu semua ditulis oleh manusia, direka2, karangan saja.
Sedangkan kisah cinta kita, sungguh akan ditulis oleh yang maha memiliki skenario terbaik. Tidak akan tertukar. Tidak akan keliru. Kitalah pemeran utamanya, jadi mari menjadi pemeran cerita paling keren, agar keren sudahlah skenario yang kita jalani.

Perjalanan ini adalah perjalanan penuh kerinduan.
Berjuta orang pernah melakukannya. Dan besok lusa, berjuta orang lagi akan terus melakukannya. Mencoba memahami kehidupan lewat cara terbaiknya. 

Maka ketahuilah, kesalahan itu ibarat halaman kosong, yang tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang.
Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong.
Buka lembaran baru, tutup lembaran yang pernah tercoret. 

'Satu abad' lalu saya sudah pernah bilang: siapapun yang berkuasa di pemerintahan, maka dia pasti akan terdesak menaikkan harga BBM. Subsidi energi itu sudah lebih dari 300trilyun. Mau habis uang rakyat buat subsidi doang? 15 tahun lagi minyak di Indonesia juga habis. Mau disubsidi apalagi? Barangnya nggak ada, harus impor 100%.
Nah, silahkan saja nikmati oleh calon partai berkuasa sekarang. Ditelan saja kenyataan kalau dulu mereka menolak mentah2 kenaikan harga BBM--sekarang malah berencana menaikkan. Dan buat yang berada di luar partai berkuasa, juga tidak perlu teriak hore, toh, jika kalian yang jadi pemerintah, sama saja. Nanti juga menjilat ucapan sendiri.
Politikus itu tidak pernah bicara tentang prinsip2, mereka hanya bicara kepentingan dan posisi. Di mana mereka berdiri, maka di situa pula pendapat mereka condong. Dulu mendukung, sekarang berubah posisi menolak. Dulu menolak, sekarang gantian yang mendukung.
*Tere Liye
**'Satu abad' lalu sy juga sudah menulis, segera naikkan harga BBM. Jangan pakai ditunda. Pil pahit itu mending kita telan sekarang, tapi anak cucu kita sudah siap dengan sumber energi terbarukan, lebih hemat, dan lebih sejahtera hidupnya.

Jika premium dan solar bersubsidi dihapus di muka bumi Indonesia, maka itu bukan kejadian yang paling menyakitkan. Kalian mungkin sudah lupa, ketika "minyak tanah", atau "kerosin" dihabisi, itulah kejadian yang mengenaskan. Atau jangan2, anak sekarang tidak tahu apa itu "minyak tanah".
Nenek2 di kampung pontang-panting harus nyari kayu bakar. Ibu2 yg takut sekali dengan kompor gas bahkan masih ada yg hingga hari ini terpaksa susah tiap kali mau masak. Jumlah mereka jutaan. Tidak sedikit. Saya menyaksikan dgn mata kepala sendiri kebingungan melanda kampung2 saat kompor dan tabung gas dibagikan.
Pemerintah sukses besar menghabisinya. Tidak ada demo yang berarti. Tidak ada kemarahan publik. Karena, hello, yang terkena dampaknya adalah orang2 miskin yg masak pakai kompor minyak tanah. Coba saja, hari ini, premium atau solar subsidi yg dihapus, pasti ribut. Karena yang kena adalah masyarakat kelas menengah.
Sepertinya, memang nenek2 di kampung itu lebih gagah berani menghadapi hidup, dibandingkan orang2 yg punya motor/mobil. Tidak ada tuh, Nenek2 itu yg bertanya, kemanakah triliunan uang subsidi minyak tanah dialihkan?
Jika "minyak tanah" dihabisi begitu saja. Apa haknya orang2 bermotor/bermobil mendapat subsidi? 

Di negeri kita ini ada 29 juta rakyatnya yg hanya berpenghasilan 10.000/hari. Alias 300rb/bulan. Silahkan cek data BPS. Itulah golongan miskin, dek.
Bukan kita yang uang pulsanya saja bisa 100rb/bulan. Yang bisa internetan tiap hari dengan HP oke. Yang bisa naik motor, mobil. Wushhh... Kemana2 enak banget.
Ada 29 juta rakyat Indonesia, yg jangankan mikir soal BBM. Mereka bahkan naik motor/mobil paling sebulan sekali. Kemana2 jalan kaki, naik angkutan pedesaan.
Jika BBM naik, maka siapa yang paling terkena dampaknya? Ketika harga2 naik, semua naik, siapa yang semakin susah hidupnya? Ya mereka ini. Kita mah paling cuma hitungan bulan sudah menyesuaikan diri. Mereka? Tidak ada solusinya, kecuali bertahan dengan cara apapun.
Setiap kali kasus harga BBM naik, kelas menengah (yg berpendidikan, punya penghasilan tetap) hanya sibuk mengurus dirinya sendiri. Sibuk membela dirinya sendiri. Sibuk dengan logika sendiri. Mereka lupa, mereka bukan orang termiskin di dunia. 29 juta rakyat Indonesia bahkan mau ke puskesmas, mau sekolah, mau ngurus surat2 saja susah. Dan 29 juta ini, setetes subsidi BBM yg 300 trilyun pun tidak mereka nikmati. Lah, motor saja kagak punya.

*15 TAHUN LAGI
Jika kalian sempat, silahkan buka wikipedia, masukkan kata kunci "list of countries by proven oil reserves". Maka, segera kita tahu, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia adalah Venezuela, mereka punya 297.000 juta barrel, disusul oleh Arab Saudi, sebesar 267.000 juta barrel. Ada di urutan berapa Indonesia? Hanya di posisi 30, dengan cadangan terbukti 4.000 juta barrel.
Berapa kebutuhan minyak Indonesia per hari? 1,3 juta barrel. Berapa produksi kita saat ini? Mentok di angka 820.000 barrel. Sisanya kita impor. Baik, mari kita berhitung dengan data dan fakta akurat tersebut. Katakanlah konsumsi minyak kita tidak tumbuh, tetap 1,3 juta barrel/hari, secara teoritis, cadangan minyak kita hanya bertahan 3.077 hari saja, alias hanya bertahan 8 tahun. Kabar baiknya, ada kemungkinan kita menemukan cadangan minyak baru, boleh jadi masih ada. Tapi kabar buruknya, setiap tahun jutaan kendaraan bermotor bertambah di jalanan. Mobil misalnya, lebih dari 1 juta unit setiap tahun bertambah. Motor lebih amazing lagi, Kawan, lebih dari 9 juta unit. Belum lagi konsumsi untuk listrik (karena masih banyak pembangkit listrik diesel). Proyeksi paling pemurah sekalipun, hanya berani bilang 15 tahun, maka habis sudah cadangan minyak milik kita.
Sekarang tahun 2014, tambahkan 15 tahun, maka di tahun 2029, kita tidak punya lagi cadangan minyak.
Pertanyaan relevan sekarang adalah: apanya yang akan kita subsidi saat hari itu tiba? Minyaknya sudah habis. Dan dengan konsumsi dunia yang terus meroket, tidak susah membayangkan harga minyak dunia akan semakin tinggi. Berapa harga minyak tahun 2029? Bagi pemilik cadangan besar seperti Venezuela dan Arab Saudi, mereka sih tidak akan pusing. Apalagi negera mereka kecil dibanding kita. Tapi kita? Tahun ini saja, lebih dari 300 trilyun rupiah digunakan untuk subsidi BBM, jika masa tersebut tiba, akan berapa ribu trilyun subsidi BBM diberikan? Habis seluruh uang negara, bahkan tidak akan cukup lagi.
Kita kan bisa menemukan sumber energi lain dong? Iya, itu betul. Brazil misalnya, adalah negara pengguna biodesel terbesar, jutaan mobil disana telah menggunakan biodesel, tapi itu paling hanya 5-6% dari total konsumsi minyak. Tetap saja rakus sekali dengan minyak dari fossil. Juga penggunaan mobil listrik, menjanjikan, tapi hingga hari ini, mayoritas kendaraan bermotor tetap mengonsumsi BBM. Di negara2 maju perkembangan energi terbarukan saja lambat, apalagi negara kita, yang terlambat sekali dalam kebijakan sumber energi terbarukan ini. Sumber daya gas alam, panas bumi, itu bisa jadi solusi juga, tapi tetap saja sifatnya adalah sumber daya yang akan habis.
Maka, apapun pendapat kalian tentang BBM, apapun pendapat orang2 tentang subsidi BBM, silahkan baca data2 di atas. Jika kalian meragukan akurasi data2 di page ini, silahkan merujuk atau cari sendiri data validnya (biar pada pintar nyari datanya). Itulah realitasnya. Tapi katanya cadangan minyak fossil itu bisa terbarui kok, bisa nambah loh. Well, silahkan tanya ke insinyur tambang, jangan mudah percaya tulisan2 yang tidak jelas asal usulnya, apalagi kalau itu cuma berasal dari website simpatisan partai. Tapi katanya cadangan minyak kita masih banyak kok, cuma disembunyikan datanya oleh konsipirasi Amerika, lagi2, silahkan tanya ke teman2 kalian yang minimal pernah bekerja di perminyakan, biar tidak termakan propaganda sepihak tanpa analisis. Tapi kok, tapi kok.
Baiklah. Berapa usia kalian hari ini? Katakanlah 20 tahun, maka itu berarti di usia kalian 35, jika panjang umur, kalian akan sempat menyaksikan sendiri negeri ini tidak punya cadangan minyak lagi. Saat itu boleh jadi kebutuhan kita adalah 3 juta barrel per hari (asumsi tiap tahun tumbuh 5%), maka dari mana kita akan memperoleh minyak sebanyak itu? 1 barrel kita mudahkan konversinya jadi 100 liter (angka persisnya akan butuh penjelasan panjang), maka itu berarti kita butuh 300 juta liter per hari. Itu minyak yang banyak sekali. Satu hari saja, 300 juta liter.
Saya tidak akan berdebat soal subsidi 300 trilyun/tahun di negeri ini. Karena kadung pasti banyak yang membahas soal ini dari sudut pandang politik, debat kusir, lupa esensi bahwa setiap hari, krisis energi semakin serius, kita malah asyik bertengkar.
Saya hanya ingin bertanya, 15 tahun lagi, apa yang akan kita subsidi ketika barangnya sudah tidak ada lagi? Apa yang akan kita ributkan ketika semua minyak itu harus kita beli dari luar negeri?

Kejujuran dan kesederhanaan adalah amunisi terbaik bagi siapapun. Punya dua hal ini, meski di dunia tidak terlihat hebat, insya Allah, kelak akan terlihat.
Toh, kemuliaan hidup tidak akan tertukar.

Tamak kekuasaan itu adalah ketika: suaminya habis berkuasa, giliran istrinya yang mencalonkan diri. Habis istrinya, giliran anaknya yang mencalonkan diri.
Dan selalu saja alasannya: "kalau mampu, kenapa tidak?", "kalau masih dipilih, kenapa tidak?". Sistem demokrasi ini menjadi alat pembenaran yang mulus sekali. Hingga orang2 lupa, dalam sistem ini, koruptor pun masih bisa terpilih. Satu suara preman setara dengan satu suara profesor.

Lidah itu lebih "malang" nasibnya dibanding hati kita. Dia harus merasakan pahit, manis, asam, pedas, asin, bahkan tengik dsbgnya. Dia juga harus merasakan dingin, panas, obat, madu, keras, lembut, semuanya. Non stop setiap hari, tidak pernah protes, tidak pernah berhenti.
Sedangkan hati kita, baru terpanah sepucuk masalah, bisa langsung semaput semalaman, seharian, bahkan seminggu atau berbulan2.
Maka belajarlah dari tangguhnya lidah. Tetap teguh setiap hari.

Kejujuran tidak menjanjikan kita akan lulus seleksi PNS, karyawan, lulus ujian sekolah, dsbgnya. Tidak bisa. Karena terlalu kecil kalau hanya itu hadiahnya.
Melainkan kejujuran bisa menjanjikan kemenangan atas seluruh kehidupan ini, termasuk kelak di hari penghabisan. Kemuliaan hidup tidak akan tertukar walau satu senti.

Perhatikan keran atau pipa air yang bocor. Meskipun kecil, airnya tetap merembes keluar, setetes demi setetes, ditampung dengan ember, lama2 penuh juga embernya.
Seperti itulah jika kita membiarkan hati dan perasaan tidak terkendali. Sekali dia bocor, meski amat kecil bocornya, airnya tetap merembes. Lama2 jumlah air-nya bisa membuat badan basah kuyup.

Ini saran saja, kali2 saja di page ini ada yang mau jadi ustad.
Besok lusa, jangan mau masuk acara gosip2 di televisi, juga acara2 mentertawakan, menjelek2an fisik. Karena itu membingungkan.
Saya tahu, dakwah itu harus kreatif, menyesuaikan dengan jaman, akan tetapi tetap saja ada hal2 yang tidak bisa dicampurkan.

Orang bawa bantal, belum tentu akan tidur. Orang bawa handuk, pun belum tentu bakal mandi. Orang yang bawa piring, juga belum pasti akan makan.
Di dunia ini banyak sekali yang sudah terlihat begitu, ternyata memang belum tentu akan begitu. Termasuk salahsatunya, orang2 yang perhatian sama kita, belum tentu memang suka, memang sayang sama kita. Mungkin saja dia memang perhatian dan baik ke semua orang, atau kitanya yang korslet, merasa GR duluan.

Tidak ada komentar: