Jumat, 19 September 2014

mencintai kematian



dalam beberapa hari seminggu ini berturut-turut saya mendapat kabar/melihat kematian saudara dan tetangga serta orang yang tidak saya kenal (kebetulan lewat saat naik angkot). benarbenar berturutan, dari hari ke hari. seakan mengingatkan bahwa kematian itu memang dekat, dan akan selalu dekat. saya jadi teringat hari ahad kemarin, saat sedang bersama dengan seorang teman dan kami saling bercerita. kemudian sampailah saya pada kalimat, "gue ini selalu kepikiran, gimana kalau gue bentar lagi menginggal?". ya, selalu ada pemikiran seperti itu. sebenarnya sih untuk menahan diri ini agar tidak terlalu meencintai kehidupan. 

seperti apa yang sering saya temukan di buku tentang peperangan zaman Rasulullah saw atau para sahabat, saat seorang panglima berhadapan dengan musuhnya, saat itu ia selalu mengatakan kepada musuhnya (dan untuk meyakinkan diri sendiri serta pasukannya tentu), pemimpin pasukan akan selalu bilang, "aku akan datang bersama pasukanku yang mencintai kematian sama besarnya dengan pasukanmu mencintai kehidupan."

seperti apa mencintai kematian itu?

seperti apa memperbesar rasa menginginkan mati lebih dari menginginkan segala kehidupan?

dan bagaimana memulainya?

heh, jangan tanya saya, wong saya aja nanya. gimana, sik? ((yha))

sebelum lebih jauh, saya mau cerita dulu, yaa. ((yaa)) ((blog lu ini)). jadi, pernah kan yaa beberapa malam yang lalu saya pulang dan begitu sudha mau sampai rumah melihat 3 orang, ibu, anak lakilaki, dan anak perempuan yang sedang melakukan sesuatu di dalam pasar. saya dan ibu saya bertanyatanya sedang apa  mereka, lalu di hari berikutnya terjawab sudah bahwa mereka sedang mencari rongsokan. dan semalam saya bertemu lagi dengan keluarga pemulung itu.

jadi sedih.

i mean, gue harus bersyukur dan ga sedih sama hidup gue. trus ga serakah lagi, dalam artian kepengen segala macam ((please buat pengecualian untuk kertaskertas yang disatukan jadi buku)) ((itu cobaan besar)). karena apa yaa, kesannya ga adil. bukan, bukan meragukan keadilan yang Tuhan berikan. tapi ga adil kayak yang, duh mereka ga bisa seneng kayak gue dan yang lain. kok gue jahat bgt senengseneng, belibeli. oke, mungkin ada suatu pembelaan kalau apa yang bisa kita dapat sekarang adalah hasil dari jerih payah kita, hasil dari pendidikan dan pembelajaran kita sebelumnya. kita berhak karena kita sudah bekerja keras. tapi saya jadi teringat lagi dengan kalimat itu, "mereka mencintai kematian sama seperti kalian mencintai kehidupan", duh rasanya dalem banget, yaa.

mencintai kematian. mengapa dahulu -dan sekarang juga ada, sih- para mujahid yang berperang untuk menuju syahid itu tidak merasa gentar sedikitpun? karena mereka cinta kematian, cinta dengan perjumpaan dengan Rabbnya sebesar kita mencintai kehidupan. coba deh, mereka cinta kematian karena apa? karena mereka yakin akan kehidupan setelah mati mereka, karena mereka yakin akan janji Allah berupa Surga yang luasnya lebih dari langit dan bumi, yang mengalir sungaisungai susu, yang keindahannya tidak pernah ada dalam bayangan manusia. sedang kita, kita mencintai dunia dan kita takut mati -penyakit Wahn kalau kata Nabi saw.- sebab kita takut kan kalau mati trus ga masuk Surga, kalau ga masuk Surga jadi masuknya ke Neraka, dong, kan? mau nawar ga bisa, mau balik ke dunia lah yaa udah keburu kiamat, gan.

kembali ke pertemuan saya dengan keluarga itu, sekarang rasanya kalau mau "pamer" saya jadi mikir berkalikali, serius. mikir yang, di luar sana banyak yang ga bisa kayak kamu, kok kamu jahat banget, sih. okelah, kita ga tau apakah mereka sebenernya bahagia atau engga dengan kehidupannya. bisa jadi mereka yang sehari bahkan cuma bisa makan sekali hidupnya jauh lebih bahagia dan barakah dibanding kita. ga menampik, jujur saja dengan banyaknya media sosial dan lingkungan kita ingin dianggap ada, ingin selalu tampil. sebutlah saya makosis, karena saya lebih senang dianggap tidak punya apapun di dunia ini, saya lebih suka di anggap miskin, ga gaul, dll dsb. saya lebih suka menganggap dan merasa hidup saya memang ga punya apaapa, toh emangnya kamu punya apa, sih, Nay? napas aja dikasih sama Allah. kan gitu. untuk yang napas aja kamu bergantung kebaikan Tuhan, gimana untuk hal lain. termasuk harta, kedudukan, benda berharga, semua itu toh hanya titipan. kalau bukan kamu yang meninggalkan, kamu yang ditinggalkan.itu sudah hukum alam.

tbh, sih ini tulisan panjang kali lebar buat saya sendiri. sedalam apapun saya mencintai dunia dan isinya, saya ga akan hidup selamanya, toh saya akan mati juga. dan seperti yang panglima perang selalu bilang, "mereka mencintai kematian seperti kalian mencintai kehidupan.", sedalam itu rasa cinta kepada kematian. sungguh, itu indah sekali. mencintai kematian, berharap pada perjumpaan dengan Rabb kita, berharap pada kemudahan dalam kebaikan.

Tidak ada komentar: