Senin, 18 Agustus 2014

sudut pandang dan kesetiaan ; found and guide you


Anshar berarti penolong. Dan kaum Anshar adalah penolong yang paling menakjubkan.

Perang Hunain baru saja berakhir. Dua belas ribu pasukan yang semula berbangga dengan jumlahnya, berantakan tercerai berai ketika dikepung di celah sempit. Gemuruh berjatuhannya batu, luncuran tombak, hujan anak panah, serta hingar-bingar teriakan perang suku Hawazin dan Tsaqif menderu mengerikan, menyisakan tak lebih dari 40 orang di sisi Rasulullah.

“Aku Rasulullah! Aku putra ‘Abdul Muthalib!”, seru Sang Nabi.

Kalimat pertama mungkin ditujukan pada mereka yang iman telah kokoh dalam hatinya. Kalimat kedua barangkali teruntuk mereka yang masih diliputi perasaan jahiliyah, yang mereka ingat adalah keagungan kakek Sang Nabi memimpin Makkah.

“Wahai Paman”, kata Rasulullah kepada ‘Abbas, “Panggil mereka!”

Maka ‘Abbas ibn ‘Abdil Muthalib, saksi Bai’atul ‘Aqabah itu, pertama-tama teringat para ahli Madinah. “Wahai orang-orang yang berbai’at di ‘Aqabah! Wahai orang-orang Anshar!” Maka merekapun menyambut, “Labbaik.. Labbaik.. Labbaik wa sa’daik..”

Maka Anshar-lah yang menjadi penentu kemenangan hari itu. Saat akhirnya berlembah-lembah kambing dan unta menjadi rampasan perang yang dikumpulkan di Ji’ranah. Pertimbangan manusiawi mengatakan, Anshar yang paling berhak mendapatkan segala harta yang memenuhi wadi itu. Tapi Rasulullah justru membagikannya kepada pemuka-pemuka Thulaqaa , para muallaf Makkah yang paling depan dalam melarikan diri dari pertempuran dan berkata, “Mereka takkan berhenti berlari sampai mencapai laut!“

Ada sesuatu yang mengganjal setelah pembagian itu, sesuatu yang disampaikan oleh Sa’ad ibn ‘Ubadah dan membuat orang-orang Anshar dikumpulkan di sebuah ladang penggembalaan. Rasulullah datang dan berbicara kepada mereka.

“Amma ba’du. Wahai semua orang Anshar, ada kasak kusuk yang sempat kudengar dari kalian, dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah dulu kalian miskin lalu Allah membuat kalian kaya melalui wasilahku? Bukankah dulu kalian bercerai berai lalu Allah menyatukan hati kalian dengan perantaraanku?“

Mereka menjawab, “Begitulah. Allah dan RasulNya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya.“

“Apakah kalian tak mau menjawabku, mendebatku, membantahku, wahai orang-orang Anshar?“, tanya beliau.

Dengan terhenyak, mereka ganti bertanya, “Dengan apa kami menjawabmu Ya Rasulallah? Milik Allah dan RasulNya lah semua anugrah dan karunia…“

Beliau bersabda, “Demi Allah, kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku: Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lagi papa lalu kami memberikan tempat dan menampungmu..“

Air mata sudah mulai melinang, pelupuk mereka terasa panas, dan isak mulai tersedan.

“Apakah di dalam hati kalian masih membersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar mereka berislam, sedang keimanan kalian tak mungkin lagi kuragukan?“

“Wahai semua orang Anshar, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama kambing dan unta, sedang kalian kembali bersama Allah dan RasulNya ke tempat tinggal kalian?“

Isak itu semakin keras, janggut-janggut sudah basah oleh air mata…

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan di celah gunung, dan orang-orang Anshar memilih celah gunung yang lain, tentulah aku pilih celah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, sayangilah orang-orang Anshar, anak orang-orang Anshar, dan cucu orang-orang Anshar…“, Rasulullah menutup penjelasannya dengan doa yang begitu menenteramkan.

Dan tentu, akhir dari semua ini mempesona, semempesona semua pengorbanan orang-orang Anshar selama ini, “Kami ridha kepada Allah dan RasulNya dalam pembagian ini.. Kami ridha Allah dan RasulNya menjadi bagian kami…“

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah.

didapat dari website beliau, sila cek.

***

saya berpikir tentang kesetian orang Anshar, dan bagaimana sudut pandang mereka terhadap Rasulullah seperti yang telah diceritakan ulang oleh ust. Salim dengan indahnya. seiap membaca bagian di mana Rasulullah 'menuntut' kaum Anshar untuk bicara untuk berkat bahwa dulu beliau saw  lah yang datang kepada mereka dalam keadaan didustakan, lalu mereka membenarkannya. datang dalam keadaan lemah lalu mereka menolongnya. datang dalam keadaan terusir lagi papa lalu mereka memberikan tempat dan menampungnya.

tapi kaum Anshar paham posisi mereka sebagai ummat. paham bagaimana memangdang Rasulullah saw dalam hidup mereka. paham bagaimana mencintai dengan sebenarbenarnya. itulah sudut pandang yang sempurna, memandang diri tidak lebih baik dari orang lain akan menjadikan kita lebih mawas diri dan semakin bersemangat memperbaiki kwalitas diri kita, jiwa dan raga.


i got this pic in Pinterest. so touchy.

dan sangatlah benar. mungkin kita ((atau hanya saya)) pernah berpikir bahwa kita ada dalam kondisi seperti sekarang ini karena kerja keras kita sendiri, dan bagaimana pemahaman terhadap ilmu agama adalah sebab kita yang gemar membaca dan hadir pengajian. padahal sesungguhnya, semua itu hanyalah sebab Allah meridhai kita melakukannya, sebab Allah mengijinkan dekat, sebab Allah menginginkan kita kebaikan.

"and Allah found you lost...." sungguh saya suka sekali membaca ayat ini dan kalimat ini, dan Allah menemukanmu tersesat.... apa lagi yang pantas bagi seorang hamba yang jauh dari Tuhannya selain kesesatan? kita awalnya buta oleh ilmu agama, ita awalnya tak tahu apaapa, kita bagaikan hilang, di hutan yang penuh kegelapan, dan Allah mememukan kita.

"and Allah found you lost; and guided you." dan Allah menemukanmu tersesat dan memberikanmu petunjuk....

Tidak ada komentar: