Minggu, 03 Agustus 2014

status (bagian ketigapuluh enam)


Berpikir dan berprasangka positiflah selalu. Maka hal menakjubkan akan terjadi.
*Tere Liye
**Kalian tidak perlu memforward, mengirim postingan ini ke minimal 20 orang. Tidak akan ada bencana yang menimpa kalian jika tdk dilakukan. Hanya kerjaan orang2 nggak punya iman yang nyuruh2 forward sambil ngancem2.

Pertanyaan: "Bang Tere, saya pusing sekali, saya punya dua pilihan jurusan kuliah. Satu di Ekonomi, satu di Teknik. Kayaknya dua2nya paling bagus, paling menjanjikan. Gimana, dong?"
Jawaban: Maka jangan ambil dua2nya. Jika pilihan itu memang bagus sekali, dia tidak akan membuat kita jadi tertarik dengan opsi lain. Kalau masih ada pilihan lain, itu berarti dua2nya tidak ada yang paling bagus. Cuma saling tarik-menarik saja di antar dua pilihan yang tersedia.
Nah, sama, juga dalam situasi kalian bingung, susah sekali memilih sesuatu, seseorang. Jangan pilih dua2nya, tiga2nya, dsbgnya. Itu bukan pilihan terbaik. Karena pilihan yang terbaik, tidak akan menyisakan opsi kedua, ketiga, dsbgnya.

Menunggu bukan pekerjaan sabar atau tidak sabar.
Menunggu adalah pekerjaan bermanfaat atau tidak bermanfaat.
Menunggu bukan pekerjaan setia atau tidak setia.
Menunggu adalah pekerjaan awal dan akhir prosesnya.
Siapa yang mengerti, akan berakhir dengan pribadi lebih baik,
meskipun yang dia tunggu tidak pernah datang kembali.

Yang lagi ngabuburit nunggu buka di flyover ayo pulang. Juga nongkrong, ngalur-ngidul nggak jelas. Bantu masak dan beres2 di rumah.

Selamat kepada KPK atas dihukum seumur hidupnya Akil Mochtar.
Ayo jangan ragu2, besok lusa bisa juga dikenakan hukuman mati buat koruptor2 ini.


Orang tua sering menasehati:
"Kita tidak akan pernah kehilangan sesuatu yang tidak pernah kita miliki, kecuali dalam urusan perasaan. Karena dalam urusan ini, bahkan kita bisa merasa kehilangan seluruh dunia ketika orang yang diam-diam dicintai memilih orang lain. Padahal, dikatakan pun tidak pernah perasaan tersebut, apalagi mau memiliki."
 
Jika kita tahu sesuatu itu palsu, dibuat2, dan kita menyukainya, itu masalah kita. Bukan masalah orang lain.
Tetapi jika kita melakukan sesuatu yang benar, berprinsip dan orang lain tidak menyukainya, itu masalah orang lain. Sama sekali bukan masalah kita.

Dulu, ada seorang guru menasehati:
Jika kamu penulis, maka lebih baik mengurus buku2 sendiri, daripada ngomongin buku orang lain. Lebih baik mengurus tulisan2 sendiri, daripada ngomongin tulisan orang lain. Fokus pada diri sendiri, maka dengan itu, akan ada dua keuntungan yang diperoleh: pertama kita jadi sibuk mengembangkan diri sendiri; kedua dengan kesibukan tersebut, kita terhindar dari membicarakan orang lain yang sama sekali tidak ada faedahnya.
Nasehat ini relevan atas semua pekerjaan dan profesi lainnya. Mungkin bermanfaat buat kalian

Kenapa kita sakit hati saat membaca tulisan orang lain--yang bahkan kita kenal juga tidak?
Jawabannya simpel: karena kita tahu, tulisan tersebut benar. Sakitnya sampai ke dalam sini. Maka, kita akan mulai membela diri, mulai menjelaskan, padahal tidak ada yang sedang membicarakan kita. Iya, kan?
.

Menyakitkan kalau kita hanya jadi alternatif orang lain. Cuma opsi, dibutuhkan karena tidak ada pilihan terbaik. Tapi tidak mengapa, banyak orang yang hidup bahagia dengan kondisi tersebut, sepanjang kita terus membuktikan kita sejatinya adalah prioritas pertama dalam hidup ini.
Cepat atau lambat, orang lain akan tahu hal tersebut.

Hanya orang jelek yang suka menjelek2an.

Berhenti mencintai sama sulitnya dengan berhenti membenci.
Tapi aduhai nasib, memulai mencintai sama mudahnya dengan memulai membenci.

Berbeda pendapat boleh saja, tapi jangan sampai bertengkar, jangan sampai menghabiskan waktu sia-sia, menambah penyakit hati. Kalaupun merasa pendapat kita benar sekali, itu tetap tidak menghentikan kita menghormati, menyayangi dan "memeluk erat" saudara sendiri yang berbeda pendapat.
Apalah yang bisa kita banggakan di dunia ini? Ilmu hanya dititipkan, kepandaian bicara atau menulis hanya pemberian, apalagi soal kebenaran, itu mutlak milik yang maha memiliki kebenaran.

Rasa sabar itu bahkan boleh jadi bisa:
1. Mengembalikan yang pergi menjadi kembali;
2. Membuat jarak yang jauh menjadi dekat,
3. Beban yang berat menjadi ringan,
4. Waktu yang lama menjadi sebentar,
5. Melunturkan benci menggunung menjadi sebutir debu
Dan kalaupun kita gagal menyaksikan hal itu terjadi, rasa sabar tetap akan menjanjikan sesuatu: beruntung. Sungguh beruntung orang2 yang sabar. 

Perasaan itu punya kehormatan.
Fisik kita juga punya kehormatan. 
Jangan mudah sekali "direndahkan", bahkan oleh orang yang menurut kita cinta sejati, baik banget, alim sekali, dsbgnya. Kitalah yang rugi jika besok lusa ternyata jalan ceritanya ternyata meluncur menyakitkan.

Baru ditinggal libur dua hari saja, media sosial ramai sekali ya? Indonesia menguasai trending topic dunia tanpa henti, menyingkirkan piala dunia.
Tapi: mau apapun trending topic di dunia sana, yang penting kita selalu jadi trending topic di hati seseorang yang kita sayangi, orang tua, adik, kakak, teman2 terbaik.

Jomblo yang bahagia adalah spesies paling menarik bagi lawan jenis sejagad raya. Kalau sudah niat, nyari jodohnya insya Allah gampang.
Sedangkan populasi yang paling tidak menarik itu adalah: punya gebetan tapi tidak bahagia, malah rusuh tiap hari di media sosial. Yang ini complicated sekali.

Jangan menilai orang lain dari penampilannya. Karena kita jelas tidak mau dinilai dari tampilan kita, bukan?
Jangan mengejek fisik orang. Karena kita, juga jelas sekali tidak mau diejek karena fisik kita.

Permasalahan atau urusan hidup itu persis seperti rumput di halaman. 100 kali kita potong, rapikan, perindah, maka 100 kali pula rumput tersebut tumbuh lagi, tinggi, berantakan. Terus saja begitu, ada-ada saja masalah/urusan baru yg muncul.
Oleh karena sudah demikian kodratnya, maka drpd mengeluh, berputus asa, lebih baik siapkan peralatan yg baik, sisihkan waktu, dan jangan malas segera disiplin memotong rumputnya, agar terus indah dilihat sepanjang waktu.

Hilangkanlah tabiat: susah hati lihat orang lain bahagia, tapi bahagia lihat orang lain susah.
Sebelum tabiat itu menelan sisi "kemanusiaan" milik kita. 

Jadilah orang yang tidak terlalu mementingkan masa lalu, tapi fokus pada masa depan. Bukan sebaliknya, sibuk mengurus masa lalu, habis waktunya, hingga lupa jika masa depan terbentang lebih luas.

Akan selalu ada orang2 yang: saat kita susah mereka menjauh, saat kita sukses mereka dekat2.
Akan selalu ada. Karena kita juga termasuk di dalamnya, bukan?

Sahabat baik adalah ketika kita melakukan hal2 kecil bersamanya, selalu seru dan mengasyikkan, apalagi saat melakukan hal2 besar bersama, seperti mengejar cita2, masa depan, dsbgnya. Lebih menakjubkan lagi.

Kita harus tahu, pemandangan terbaik di dunia yang pernah ada bukanlah air tejun niagara falls, atau pantai2 mahsyur, atau aurora di kutub2 sana, pun juga bukan lembah2, kota2 indah.
Pemandangan terbaik itu adalah "senyuman". Saat orang2 tersenyum hangat dan tulus. Itulah pemandangan terbaik yang ada di sekitar kita, tidak perlu jauh2 untuk melihatnya.
Tapi sebaliknya, wajah yang dipenuhi benci, dengki, bahkan saat kita tidak melihat wajahnya secara nyata, cukup membaca postingannya di media sosial, sudah terasa suram dan dingin pemandangan tersebut.

Kitalah yang mengendalikan hati dan perasaan kita. Jangan dibalik, hidup kita yang dikendalikan hati dan perasaan. Bisa berbahaya.
Dan lebih celaka lagi, kalau hidup kita dikendalikan seseorang yang bukan siapa2, hanya karena kita menambatkan ilusi pengharapan/rindu padanya.

Kita tidak bisa membohongi Tuhan, jadi tidak perlu terlalu memaksakan gagah menanggung beban perasaan atau beban hidup, tapi sebenarnya sendu dan susah sepanjang hari. Laporkan saja langsung.
Ingat, laporkan langsung. Tidak perlu pakai perantara facebook atau twitter. 

Kalian mau tahu betapa "sakti mandraguna-nya" waktu?
Ini salah-satu contohnya: Sekarang sudah tahun 2014, tahu film "2012"? Nah, saat film tentang kiamat ini diputar berkali2 di televisi, gambarnya ternyata semakin tidak menarik, ceritanya semakin biasa saja dibanding film2 fantasi terbaru. Dan hei, yang lebih penting lagi, kita semua selamat, kan? Sebentar lagi hampir dua tahun kita semua selamat dari kejadian tersebut
Apalagi soal galau, sakit hati, kenangan, seseorang, sesuatu, dsbgnya. "Kiamat" saja kita bisa selamat, apalagi beginian. Berikan waktu menghabisi semua perasaan tersebut.

Saya banyak menerima pertanyaan ini di inbox, kolom komen, dsbgnya: "Besok-besok pas pilpres Bang Tere milih siapa?"
Maka baiklah, malam ini akan saya jawab di page ini. Tetapi pertama2, ijinkan saya bertanya balik sebelum menjawab: kalian yang bertanya sebenarnya "mau tahu aja" atau "mau tahu banget"?
Kalau hanya "mau tahu aja", adik2 sekalian, ada banyak hal lebih penting dan mendesak untuk ditanyakan dibanding pilihan saya tentang pilpres besok. Kalau levelnya cuma "mau tahu aja", kalian tahu atau tidak tahu, cuma mau tahu aja, kan?
Nah, kalau "mau tahu banget", maka jawaban saya: itu bukan urusan siapapun saya besok milih siapa. Buat apa? Kalau saya bilang saya memilih siapa, lantas besok lusa ternyata pilihan itu buruk bagi banyak orang, itu jadi tanggung jawab saya, karena boleh jadi ada yang ikutan. Kecuali kalau saya pernah menginap minimal tiga hari di rumah para capres itu, bisalah saya PD ngasih rekomendasi. Kalau cuma berdasarkan kabar "katanya", "katanya" dan "katanya", saya tidak akan mencemplungkan diri saya hanya sekadar menurutkan emosi sesaat.
Saya akan memilih dan tidak penting orang lain tahu.
Semoga kita semua tidak termasuk golongan yang dituliskan Kahlil Gibran: "Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan, namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi."

Di luar sana, ada spesies yang sangat berbahaya buat kalian, adik2. Yaitu orang2 yang seolah cinta dengan kita, membiarkan kita jatuh cinta padanya, tapi ternyata dia hanya punya tujuan tertentu saja. Besok lusa, dengan mudahnya dia sudah hinggap ke tempat lain.
Jangan coba2 dengan spesies ini. Kitalah yang akan menyesal jika semua berantakan.

Tuhan itu tahu persis siapa yang baik untuk kita, siapa yang tidak. Siapa yang silahkan lewat, siapa yang harus berhenti dan menjadi bagian hidup kita.
Masalahnya, mungkin kita semua yakin soal ini, tapi kenapa kita sendiri yang sibuk meng-intervensi skenario Tuhan. Pada bandel, kan? Kenapa tidak dibiarkan saja mengalir, terus memperbaiki diri, akan datang sendiri momennya.
Tapi, kalau tidak dikejar nanti jodohnya tidak dapat, Bang? Baik. Baiklah. Silahkan sana kejar ke rumah orang tuanya, langsung lamar. Atau kalau kalian cewek, kirim orang ke dia, tanyakan mau menikah dengan saya, nggak. Nah, berani melakukannya? Karena kalau cuma ngomong doang, sudah terlalu banyak teori cinta di dunia ini. Bosan.

Dear stasiun2 televisi yang meletakkan hasil quick count di layar (yg hampir 1/5 layar penuh), tolong diperbaiki dulu total jumlah suaranya, saya tahu, saya juga sering salah ketik, typo, tapi kalau berkali2 salah (totalnya lebih dari 100%), dan beda-beda pula angkanya, kan jadi tidak asyik lagi.
Dan satu lagi, tolong kalau lagi siaran film/kartun anak2 seperti sepagi ini, dihilangkan dulu, anak2 kita tidak perlu diikutsertakan dalam urusan ini. Mereka hanya ingin nonton Upin-Ipin.

Bagaimana cara terbaik menerima kebenaran--meski kita menolaknya?
Mudah jawabannya: lakukan di detik pertama saat kebenaran itu tiba. Jangan pakai ditunda. Jangan pakai ngeles. Karena semakin lama, kita akan semakin terdesak. Repot.
Bagaimana cara terbaik menyampaikan kejujuran--meski itu pahit?
Mudah jawabannya: lakukan di detik pertama saat kejujuran itu tiba. Jangan pakai delay. Jangan pakai bersilat lidah. Karena semakin lama, kita semakin rumit dan terhimpit. Galau.

Di tengah simpati deras tentang Gaza, saya menghimbau, agar kita justeru tidak bertengkar sendiri.
Ajak orang2 lain untuk peduli dengan santun, dan kabar baik jika ada yang selama ini diam, kemudian ikut bersuara. Sudah jadi satu gerbong kepedulian.
Pun tidak harus berprasangka buruk kepada orang2 yang tetap diam, karena pertama kita tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, yang kedua, kita tidak bisa bilang kitalah yang paling peduli dengan masalah Palestina.

Jika kita tidak punya sahabat baik, maka mulailah punya. Dan jika tetap tidak punya, boleh jadi ada yang keliru di kitanya--bukan orang lain yang nyebelin, ember, suka nyakitin, dll.
Ayo, sahabat baik itu jauh lebih penting daripada pacar. Masa' kita lebih bangga punya pacar daripada punya banyak sahabat.
Dalam agama kita, sahabat itu ada definisinya, ada teladannya. Sahabat2 terpilih.

Menikah itu secara "harfiah" adalah menjalani dan menjadi tua bersama dengan seseorang.
Bayangkan dua buah kursi di depan rumah. Sepasang anak muda yang baru menikah duduk di sana menatap jalanan ramai. Lantas, wusshh, 50 tahun berlalu, sekarang sepasang kakek-nenenk duduk di atas kursi (yg sudah berganti berkali2). Tetap bersama, tanpa terasa, beranjak semakin tua.

Siklus "jahiliyah" modern:
Tiga bulan lagi, orang2 mulai lupa soal pemilihan presiden.
Satu tahun kemudian, orang2 mulai lupa siapa dulu mendukung siapa. Siapa menghujat siapa, siapa memuja siapa.
Tiga tahun berlalu, orang2 mulai berubah pikiran, pindah posisi. Mulai berhitung siapa kawan, siapa lawan baru.
Lima tahun berlalu, orang2 ribut lagi, dengan posisi yang benar2 berganti. Dulu mihak siapa, sekarang menghujat siapa. Dulu memuja siapa, sekarang memaki siapa. Untuk kemudian, kembali lagi ke siklus sebelumnya:
Tiga bulan lagi, orang2 mulai lupa soal pemilihan presiden.
Dstnya.
Inilah siklus "jahiliyah" modern. Ketika orang2 tidak mencatat apa yang telah mereka katakan, tidak mengingat apa yang telah mereka lakukan. Yang ada hanya kepentingan saja, cocok dengan kepentingannya, maka semua bisa berubah pikiran.

Serusak apapun negeri ini, kitalah, anak muda yang akan mewarisinya. Dan kita tidak bisa menyalahkan orang tua atas situasi yang telah ada--karena itu tidak akan menyelesaikan masalah.
Maka, lebih baik kitalah yang memulai mengambil bagian memperbaiki. Tidak perlu dari hal2 hebat atau besar. Cukup dengan mulai menanam pemahaman terbaik.
Masalah MOS/ospek, study tour, tidak nyontek pas ujian, tertib lalu lintas adalah contoh2 kecil. Syukur2 jika mau jadi relawan mengajar di mana2, jadi kakak asuh, bantu2 posyandu, bikin bakti sosial, lebih bagus lagi. Selamat datang generasi baru menjanjikan.

Dek, banyak sekali orang tua yang pontang-panting harus menyiapkan keperluan MOS/ospek anak2 mereka. Dan banyak juga diantara mereka yang terpaksa pinjam uang. Pusing tujuh keliling nyari air mineral apalah, kaos kaki warna apalah, dsbgnya.
Jika keluarga kalian kaya, maka catat baik2: di Indonesia ini ada 30 juta orang yang penghasilannya kurang dari 10.000/hari (data BPS). Mereka, yang sebulan hanya punya penghasilan 300rb. Jangan bandingkan dengan kita yang pulsa saja lebih dari itu, sekali ke KFC, habis 100rb. Mereka sudah habis2an menyekolahkan anaknya, ditambah pula MOS/ospek yang aneh2. Di hari pertama sekolah baru, mereka harus menerima anak2 mereka dibentak, dimarahi, dikerjai.
Boleh MOS/ospek? Boleh banget. Tapi jangan pernah ada yang aneh2. Acara MOS itu mudah sekali, cukup: senyum. Sepanjang hari selama 3 hari MOS/ospek, seluruh murid2 senior, guru2 cukup senyum saja, sudah sukses acaranya.
Jangan anggap ringan, main2 isu MOS/ospek ini. Bagaimana cara kalian memahami isu ini jelas sekali membedakan di mana kalian berdiri. 

Situ oke, bisa bentak2, marah2in murid baru? Situ merasa oke sekali bisa nyuruh2 murid baru bawa barang/pakaian/tugas aneh? Kalau merasa oke, aduh, apa kabar isi raport kalian? IPK kalian?
Karena saya khawatir--semakin kencang teriakan kakak panitia MOS/ospek, maka semakin kosong isi kepalanya.
Lawan!
Lawan pelaksanaan MOS/ospek yang masih saja mengintimidasi, ngerjain. Jangan biarkan orang lain menzalimi hidup kita. Apalagi kalau hanya seglintir kakak kelas tidak berprestasi atau guru2/dosen2 tidak amanah yang melakukan pembiaran acara2 ini di sekolah/kampusnya.

Salah-satu argumen panitia MOS/ospek yang suka sekali bentak-membentak, menghukum fisik, dsbgnya itu adalah: agar murid baru menghormati mereka, tahu sopan santun dan etika.
Hellooo.... Dek panitia, kalian pasti jarang baca buku, jarang melihat dunia. Karena ketahuilah, "rasa hormat itu diperoleh, bukan diajarkan". Rasa hormat itu diperoleh dari keseharian berinteraksi dan memang kita pantas dihormati, bukan dipaksakan tumbuh, ditakut2i, diintimidasi. Alih2 mereka hormat, malah benci dan dendam. Rasa hormat itu diperoleh dengan kita lebih dulu menghormati orang lain--bukan sebaliknya memaksa orang lain hormat pada kita.
 
Kekuatan terbesar di dunia ini bukan panglima perang, petir, geledek, banjir, atau apalah. Melainkan, kekuatan terbesar di dunia ini adalah kebelet buang air besar. Coba saja kalau sudah kebelet (apalagi sampai mencret), semua orang pasti lari. Mau sedang ketemu presiden sekalipun, bergegas ngacir nyari toilet.
Hal sesimpel ini seharusnya membuat kita berpikir: berhentilah merasa lebih baik, lebih benar, lebih oke dibanding orang banyak. Toh, dengan kebelet buang air besar saja kita kalah.

Saya kira, akun2 di facebook/twitter yang sering banget merilis postingan bertengkar soal politik, dsbgnya itu, harus banyak2 mengkonsumsi ekstrak kulit manggis. Biar hatinya putih cemerlang. Pasti good.
Begitu. Tapi makan ekstrak kulit manggisnya jangan siang2, nanti batal puasanya 

Adik2 sekalian, kalian pernah makan telur ayam? Maka ketahuilah, telur ayam itu keluar dari duburnya, pantatnya ayam, tempat ayam beol.
Itulah salah-satu nasehat hidup paling mendasar bagi kaum berpikir. Jika dari pantat ayam saja ada sebuah kebaikan yang bisa keluar, apalagi dari kepala manusia yang dilengkapi akal pikiran.
Jangan pernah tergoda bilang orang lain bodoh, sesat, jangan terbawa nafsu merendahkan saudara sendiri, menuduh sembarangan. Karena bahkan pantat ayam saja ada kebaikannya. Apalagi saudara kita sendiri? Masa' hanya karena berbeda pendapat, kita langsung menganggapnya musuh, lebih rendah dibanding pantat ayam. Boleh jadi, kita saja yang salah paham. Boleh jadi, caranya saja yang berbeda, tujuan tetap sama.
Jangan biarkan hanya karena berbeda kelompok, kita menjadikan semua orang lawan. Peluk erat persaudaraan kita.

Memangnya ada ajaran dalam agama kita, ketika ada saudara baru bergabung, murid2 baru di sekolah datang, malah dikerjai dengan atribut aneh2, topi aneh, papan nama aneh, kaos kaki belang, baju ini, pakaian itu? Ada?
Mau iseng, mau cuma main2, apapun argumennya, tidak pernah masuk dalam cara berpikir penuh pemahaman baik. Kecuali ada yang korslet. Belum lagi intimidasi verbal, intimidasi fisik. Itu ajaran dari siapa? Kata siapa itu bisa menumbuhkan disiplin dan rasa hormat? Yang ada malah kebencian.
Jika kalian kepala sekolah, guru, hentikan sekuat tenaga proses MOS tidak bertanggungjawab di sekolah kalian, awasi OSIS-nya. Jika kalian kakak2 kelas, lindungi adik2 kelas kalian yang baru masuk. Mereka itu saudara sendiri.
Nah, khusus buat guru2, panitia MOS yang tetap merasa itu penting, malah marah2 baca postingan ini, kenapa tidak kalian ke Israel sana saja sih? Di sana silahkan kalau mau sok kuasa, sok hebat, ada lawan sesama nyolotnya.

Ini sudah 2014, murid2 baru (MOS) masih disuruh pakai atribut aneh2? topi aneh? kaos kaki belang? dikerjain? diintimidasi secara fisik dan verbal? Aduh, mundur sekali pemahamannya tentang definisi mendidik.
Apalagi bulan Ramadhan. Shame on you.

Ketika kita berbeda pendapat dengan orang lain; maka bukan tanggungjawab dan misi kita mengubah pendapatnya agar cocok dengan kita. Bukan pula hak dan kewajiban kita memastikan pendapat kita lebih baik darinya, lantas ngotot, mengajak bertengkar.
Aduh, kalau itu yang kita pikirkan, maka kita benar2 lupa, bahkan dalam agama ini, ada nasehat: Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Nah, jika soal agama saja begitu, apalagi beda pendapat yang hanya urusan dunia? Hanya urusan kelompok dan kepentingan saja? Ngapain harus lebay banget?

Menasehati orang lain itu mudah. Gampang banget.
Tapi menasehati teman, kelompok sendiri, itu mulai susah.
Dan lebih susah lagi, menasehati diri sendiri.

Ketika prinsip2 baik dikalahkan oleh kepentingan, yang tersisa hanya inkonsistensi dan hipokrasi.
Ketika ketulusan dikalahkan oleh ambisi dunia, yang tersisa hanya topeng-topeng palsu.
Ketika cinta dikalahkan oleh fanatisme, yang tersisa hanya keras kepala dan hati membatu.

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah l dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” Hadits ini diriwayatkan al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 7146
Berebut orang2 di negeri ini meminta jabatan, berambisi sekali, bahkan bila perlu dengan segala cara, termasuk curang, manipulasi, dsbgnya; maka mudah saja menjelaskannya kenapa tidak ada pertolongan Allah. Hadist ini kelasnya sahih, jelas nan terang benderang, tapi justeru di tangan orang yang mengerti agama fansboy partai, tafsirnya bisa 100 versi.

Seringkali kenapa kita tidak bahagia, simpel karena kita tidak tahu berterima kasih saja. Menolak semua kebaikan. Menolaknya dengan benci, selalu merasa punya alasan--padahal dibandingkan dengan berjuta keadaan orang lain, kita jelas lebih baik.

Meski sejahat apapun Israel itu, hindarilah kata2 mengumpat, memaki, nama2 hewan, kotoran, semua keluar tidak tertahankan.
Teladanilah ahklak Rasul, yang walaupun dicaci-maki oleh pengemis yahudi buta tua, dia tetap menyuapinya dengan penuh kasih sayang.
Ingatlah baik-baik, mengumpat Israel itu tidak akan membantu saudara kita di Palestina. Bahkan menyeka luka di tangan mereka pun tidak.

My man, tidak ada kebetulan di dunia ini. Tidak ada. Kehidupan kita ini semua adalah skenario dari pemilik skenario paling sempurna.

Buat adik2 anggota page yg cowok, kalian harus tahu, semua cewek itu pengin punya suami yang bekerja baik serta berkecukupan. Siapa sih yang nggak. Maka, penting sekali menyiapkan masa depan saat memutuskan menikah.
Ayo, daripada sibuk gombalin anak gadis orang, galau, mending fokus sekolah, nyari pekerjaan, terus memperbaiki diri. Jangan sebaliknya, nikah kagak berani, selalu bilang nggak siap2, tapi malah asyik pacaran. Ini sudah 2014, sudah nggak jaman cowok2 kayak begini. Kalian akan dicoret dari daftar.

Jaman dulu, ketika Rasul Allah berkuasa, apa yang dimakan beliau, sama dengan apa yang dimakan rakyatnya.
Apa yang menjadi rumah beliau, sama dengan apa yang ditinggali rakyatnya. Apa yang menjadi tikar beliau, sama dengan apa yang dipakai rakyatnya. Apa yang menjadi pakaian beliau, sama dengan apa yang dikenakan rakyatnya. Bahkan dalam banyak kesempatan, beliau jauh lebih sederhana, manusia paling mulia itu jauh lebih bersahaja.
Hari ini, pemimpin dan pejabat negeri ini terbalik bablas. Di meja makan mereka terhidang makanan lezat, rakyatnya cuma seonggok piring berisi nasi sepotong lauk sudah bagus. Rumah dan tanah mereka berserakan, rakyatnya bahkan harus kredit 30 tahun baru lunas. Kasur2 mereka empuk, jas mahal jutaan rupiah, jam tangan puluhan juta, rakyatnya beli baju di pasar loak.
Tidak sampai nasehat agama. Sungguh tidak sampai.

Sulit sekali menemukan kedermawanan dari orang2 yang masih ingin selalu gratisan. Apapun ingin gratis. Saya serius loh ini. Karena kalau ada yang tersinggung, silahkan dievaluasi dalam diam--tidak usah lapor ke siapapun.
Negara2 maju itu selalu punya ciri: bangsanya dermawan. Jepang misalnya, itu negara dengan kesadaran tinggi tidak suka gratisan. Mereka tidak mau dibantu begitu saja.
Dan jika kita masih tidak paham, ingatlah, Islam punya nasehat yang keren sekali: tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Berjanjilah dalam hati, kalau hari ini masih serba gratis, besok lusa, kita akan jadi orang2 yang tangannya di atas.

“Kalian lihat lilin-lilin merah itu. Indah. Cahaya kerlap-kerlip. Lilin itu membakar tubuhnya sendiri untuk mengeluarkan cahaya. Begitulah kehidupan. Kita mengorbankan diri kita untuk sesuatu yang lebih indah. Menerangi sekitar, tanpa peduli itu menyakiti kita. Lilin ini hanya bisa hidup semalam, lantas setelah seluruh batangnya habis, nyalanya akan padam. Selamanya.”
*Tere Liye, novel "Sunset Bersama Rosie"

Ada situasi yang sangat mengharukan.
Yaitu ketika kita membenci sangat seseorang, dinyatakan kebencian itu terang benderang di depan banyak orang--agar orang lain ikut benci; tapi orang yang kita benci justeru dalam waktu2 terbaik, di malam gelap, justeru mendoakan kita dengan tulus, mendoakan sesama saudara.
Ingatlah selalu: kita boleh jadi SULIT mencapai level orang dibenci ini--yang tetap membalas dengan kebaikan, tapi pastikan kita tidak jadi bagian, atau dekat2 dengan orang yang membenci.

Saya mulai bingung dengan sebagian anggota page ini.
Tadi malam saya posting soal segera kirimkan donasi kalian, saya kasih contoh beberapa organisasi yang membantu Palestina seperti Dompet Dhuafa Republika, MER-C, maka yang paling membingungkan ada beberapa komen yang malah bilang MER-C itu syiah. Salah fokus sekali orang2 ini.
Tulisan apa sih yang kalian baca selama ini? Website apa yang kalian sering kunjungi? Hingga dalam situasi seperti ini, masih nyeletuk soal syiah? Sejak kapan orang2 tiba2 merasa jadi pakar teologi? Sejak kapan orang2 mendadak jadi berhak menyimpulkan orang lain, seolah ilmunya sudah lengkap sekali? Sudah berapa buku agama yg kalian baca? Karena sy khawatir yg kita baca hanya media sosial, blog, dsbgnya. Hanya pendapat orang2 secara subyektif. Hanya tulisan orang2 kelompok tertentu.
Ini serius sekali, karena yg komen bukan cuma satu atau dua orang. Jika begini terus modelnya, Tere Liye pun bisa dituduh syiah, wahabi, liberal, sesat dan menyesatkan.
Ingat: akan saya cipirili-kan tidak ampun komen2 yang melanggar peraturan page.

Serangan Israel atas Gaza semakin tidak beradab dan memalukan. Mereka tega menembakkan roket ke rumah sakit--tempat yang seharusnya sebutir peluru pun dilarang.
Kirimkan donasi kalian SEGERA! Jangan pakai tunda2.
Gunakan rekening2 organisasi yang kalian percayai seperti Dompet Dhuafa Republika, MER-C, dan lain-lain. Bantu saudara kita dengan kongkret. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian. Jangan biarka
n.

Ketika orang lain malas menjelaskan sesuatu, boleh jadi bukan karena orang itu yang menyebalkan.
Boleh jadi karena kitalah yang bertanya sesuatu yang memang sudah ada penjelasannya terang-benderang di hadapan kita--kitanya saja yang malas mencari tahu, atau malah tidak peduli, tapi tetap saja nanya.
 

Cinta itu bekerja sama misteriusnya seperti listrik.
Kita tidak pernah melihat listrik di rumah kita. Tak nampak, tak diperhatikan, dan memang tidak kelihatan. Tapi ternyata televisi bisa nyala, lampu bisa terang, kipas angin bisa nyala, setrika bisa panas, HP bisa di charge. Coba kalau mati listrik?
Maka, begitu juga cinta. Kita boleh jadi tidak bisa melihat cinta itu, apa sih bentuknya, apa warnanya? Tapi ternyata, hasilnya yang terlihat, orang tua bisa merawat dan mendidik anak-anaknya, suami menafkahi istrinya, istri menjaga kehormatan keluarganya. Nah, coba kalau mati cintanya?

Saya pernah menemukan satu kampung, anak kecilnya, baru umur 4-5 tahun sudah pandai bahasa Inggris. Lancar dan jago semua. Tapi ya itu, di kampung dekat London Inggris sana.
Itu artinya apa? Anak-anak itu spesial dengan kekhasan masing2. Tidak ada definisi yang satu lebih pintar hanya karena bisa bahasa Inggris, yang satu bisa bahasa Jerman, dsbgnya.
Berikan kesempatan anak-anak kita berkembang sesuai minatnya.
 

Kalau pas hari-hari libur lebaran ini ada yang nanya, "Mana pacarnya? Kok sendirian?"
Kalian jawab saja, begini: Ini sudah 2014, Tante, Om, Pakde, Bude, sudah tidak jaman lagi pacaran menghabiskan waktu. Saya lebih memilih fokus sekolah, belajar, meniti karir. Insya Allah, semakin baik seseorang, jodohnya akan semakin baik pula.
 

Tepat orangnya.
Tepat waktunya.
Tepat pula caranya.
Satu tidak terpenuhi kondisinya. Maka tidak akan baik prosesnya. Lantas bagaimana kita tahu tiga ini memang sudah tepat? Genapi dengan tepat ke-4, pamungkasnya: tepat doanya.
 

Kalau kalian punya kerbau, takut kerbaunya hilang, maka ikatlah dengan tali. Itu nasehat orang tua jaman dulu.
Kalau kalian punya file, laptop, HP, takut dibaca orang isinya, diambil orang idenya, maka jagalah dengan password. Itu nasehat orang tua jaman modern ini,
Nah, kalau kalian punya gebetan, kekasih hati, takut disambar orang, ditaksir orang lain, maka ikat dan jagalah dengan pernikahan. Bukan dengan pacaran, apalagi hubungan tidak jelas. Jangan salah siapapun kalau lepas. 
Ini sungguh nasehat dari jaman dulu, jaman modern, hingga kelak jaman ultra modern.

Tersinggung tanda "merasa".
Merasa tanda "memang iya".  

Hari ini,
Di Gaza sana, orang2 tetap berangkat shalat Id meski rumah mereka dihajar oleh rudal Israel.
Di tahanan KPK, koruptor kelas kakap (mulai dari Mr. AF, Mr AM, Mr AU, Mr AAM, Mr LHI, dll) ngambek boikot tidak mau shalat Id, meski sudah disiapkan mobil antar jemput oleh petugas, hanya karena izin besuk diperketat oleh KPK.
Bisa pening melihat kelakuan koruptor ini.
 

Selamat buat yang telah berpuasa, berhak dapat ijasah: "Puasa genap sebulan". Buat yang tertinggal karena halangan, perjalanan atau uzur lainnya, bisa segera dilengkapi, agar memperoleh ijasah yang sama.
Mari kita bersuka-cita.
 

Setidaksuka apapun kita dengan Israel, tidak perlu memaki, keluar semua nama2 hewan, dsbgnya di media sosial.
Karena itu sama sekali tidak ada manfaatnya, menyeka wajah berdebu saudara kita di Palestina pun tidak mampu. Malah sebaliknya, kontraproduktif. Dan ingatlah, facebook, twitter, semuanya milik yahudi, mereka bisa tahu semua aktivitas orang2 di media sosial. Mungkin mereka sedang tertawa melihat kita marah2, ngamuk2, maki2 di fasilitas milik mereka.
Bantu donasi, bantu doa, tumbuhkan pemahaman baik buat anak2 kita, itu jauh lebih kongkret.
 

Buat yang tidak suka dengan KPK, coba bayangkan sejenak, tanpa mereka, apakah kita bisa menangkap menteri aktif? Petinggi BI? Gubernur, Bupati, Walikota? Satu komisi penuh DPR? Ketua Partai? Jenderal Polisi? Jaksa? Hakim? Ketua MK? Ketua SKK? Rektor? Bayangkan, apa kita bisa melakukannya?
Ketahuilah, ada banyak masalah selesai dengan sendirinya jika hukum bisa ditegakkan di negeri ini. Anak-anak kita akan menikmati masa-masa terbaik itu, seperti di negara2 maju sana.
Dulu, hampir semua orang mendukung KPK, memuji2 KPK, hingga kabar buruk menimpa banyak kelompok, elit mereka ditangkapi KPK. Termasuk sekarang yang paling tidak suka, dulu adalah penggemar alias fans berat KPK. Maka semoga besok lusa, mereka akan kembali jadi fans KPK
 

Huruf Q, X dan Z, jarang sekali terlihat di tulisan. Lebih sering huruf A, E atau I. Tapi bukan berarti Q, X dan Z tidak penting, karena tanpa mereka ada banyak kata yang kehilangan bentuknya.
Jadi tidak persoalan kalau kita tidak sering terlihat. Tidak masalah. Karena kita selalu tahu, kita adalah bagian dari kehidupan ini, dan tanpa kehadiran kita, banyak kebaikan kehilangan bentuknya.
 

Salah-satu kunci keberhasilan dakwah Nabi adalah: beliau selalu mengasihi orang lain. Bahkan kepada Yahudi tua yang menghinanya setiap saat, tetap meluap kasih sayang Nabi, tidak hilang senyum dan ketulusan. Kepada orang2 yang melempari dengan batu, kotoran, tetap melimpah kasih sayangnya.
Mendoakan yang terbaik. Selalu berharap yang baik.
Hari ini, semoga kita tetap meneladani hal tersebut. Bukan sebaliknya, menganggap kelompok lain di luar kita adalah musuh, tidak bisa dipercaya, busuk, jahat dan harus dilawan. Karena jika demikian, tidak akan pernah berhasil misi kita, hanya menambah daftar musuh.

Saya tidak akan berdebat. Karena saya pasti akan selalu kalah.
Jika saya berdebat dengan orang berwawasan dan berilmu luas, saya pasti kalah. Karena ilmunya jelas luas, mau bagaimana saya membantahnya?
Pun jika saya berdebat dengan orang yang sama sekali tidak tahu, saya juga pasti kalah. Kalah sekalah-kalahnya.
Jadi, saya minta maaf, saya tidak akan berdebat, karena saya pasti kalah.

Besok lusa, kita semua akan ditanya sikap kita atas situasi2 penting di sekitar kita. Sebuah keburukan misalnya, apakah kita mencegahnya dengan tangan. Apakah kita mencegahnya dengan lisan dan perkataan. Apakah kita mencegahnya dengan benci di dalam hati--dan itu selemah2nya iman.
Semoga kalian semua, pembaca tulisan2 di page ini, tumbuh menjadi orang2 tangguh atas itu semua.
Semoga kalian semua, adik2 yang masih SMP, SMA, atau kuliah, dan sudah membaca banyak buku2 itu, tulisan2 itu, kalian jadi orang yang teguh. Di tangan kalianlah masa depan semua pemahaman baik. Tulisan2 kalian kelak bagai pedang tajam kebenaran. Perbuatan2 kalian kelak menjadi teladan tak terbantahkan. 

Hari2 ini, saat kita sudah asyik libur panjang, cuti lebaran, tapi penyidik KPK sedang semangat2nya.
Tadi malam, hingga dini hari, saat sebagian orang2 sudah tidur nyenyak, KPK melakukan sidak di Bandara Soekarno Hatta, belasan orang ditangkap (onkum TNI, Polri, petugas) dengan dugaan telah memeras TKI/TKW yang baru pulang dari luar negeri. Pemerasan atas TKI/TKW ini tidak sepele, nilainya ratusan milyar.
Bravo KPK. Semoga terus amanah. Semoga senantiasa diberikan kekuatan dan ketabahan.

Nasehat orang tua, nih, banyak ditulis di mana2:
Lebih baik diam dan disangka bodoh. Daripada sibuk bicara atau komen, tapi malah menunjukkannya.

Boleh sj marah, sebal dengan seseorang. Tapi sebelum melampiaskan rasa kesal tsb, setidaknya pikirkan kebaikan yg pernah diberikan orang tsb.
Karena boleh jd, pemicu rasa kesal kita itu secuil sj dibandingkan kebaikannya selama ini.

Dengan "berpikir positif" kita bisa melewati samudera luas, penuh dengan badai, meski hanya menaiki perahu kecil.
Dengan "berpikir negatif", bahkan waduk kecil, tenang, cerah, naik perahu bermesin sekalipun, kita tidak kuasa tiba di tepi seberangnya.

Buat perempuan, carilah suami yang tidak pelit/bakhil.
Sedangkan buat laki-laki, carilah istri yang tidak boros.
Itulah yang disebut dengan keseimbangan.


sumber : Darwis Tere Liye Facebook

Tidak ada komentar: