Kamis, 14 Agustus 2014

inferno ; perjalanan menuju neraka


"kenapa Robert? jangan bilang kita salah tempat."

"tidak Sienna, lebih dari itu. kita salah negara."

***

selama satu pekan membaca Inferno saya selalu ingin menggantikan posisi Sienna Brooks di samping Robert Langdon, yang sayangnya menyimpan banyak rahasia yang membuat tokoh utama kesayangan Dan Brown ini kecewa. (aduh, saya ga bisa nahan diri buat spoiler nih-HAHAHA).

mengabaikan rasa penasaran pada buku ketiga serial profesor seni dan sejarah yang nyarinya susahnya amitamit. gue muterin toko buku se Bandar Lampung dan ga ada satupun yang jual The Lost Symbol, dan saat dulu liat ada satu biji di Gramedia ga jadi di ambil, QESEL.

kembali ke Inferno, seperti biasa Dan Brown sudah sengaja memunculkan adrenalin sejak awal membuka novelnya. berkisah tentang mas-mas kesayangan wa, huhuhhuuu Robert Langdon, si jenius yang masih saja memutuskan hidup membujang. ((masnya, nikah sama saya aja, ayo))

Mr. Langdon memulai harinya dengan terjaga di rumah sakit dengan jahitan di belakang kepala, yang disinyalir sebagai luka tembak oleh perawat dan dokter di rumah sakit yang menjelaskan dengan bahasa Italia dan Inggris, membuat Langdon tercengang sebab ia merasa seharusnya masih di kampusnya mengajar mahasiswanya.

dimulai dengan kenyataan ia kehilangan sedikit ingatannya atas 2 hari yang sudah berlalu, Langdon akhirnya memutuskan untuk mengikuti Sienna Brooks yang -terlihat- memberi jalan keluar untuk membantunya mencari jawaban atas banyak pertanyaan di kepalanya. Langdon menemukan sebuah proyektor mini di saku rahasia jaket miliknya dan mulai mencari tahu ada apa dengan hidupnya sebenarnya.

proyektor itu menunjukkan Mappa De'll Infernonya Sandro Botticelli yang sudah diubah sedemikian rupa, dan dimulailah petuangan Robert Langdon mengitari Italia untuk menemukan apa yang disembunyikan oleh seorang ilmuan cerdas tapi sedikit gila untuk mengurangi overpopulasi di dunia. dengan mengacu pada Inferno karya Dante dan kemampuan meneliti seorang Robert Langdon, Dan Brown memberikan kisah film box office dalam balutan katakata.



***

potongan kalimat di bawah judul postingan adalah satu dari sekian part terbaik -menurut saya- dalam buku ini. selalu, saat Langdon mulai bisa mengungkapkan semua rahasia, simbol-simbol, dan beragam pertanyaan yang muncul, adrenalin saya yang sudah terbangun sejak awal menjadi semakin memuncak. seperti tidak ingin meletakkan buku itu sebelum saya tahu apa yang menghadang Langdon di chapter berikutnya dan bagaimana dengan kecerdasannya ia melaluinya.

saya kadang suka gemas dengan Dan Brown, dia itu sengaja kali yaa bikin pembacanya jantungan bacain kisah Robert Langdon. sementara saya masih selalu terpana dengan keluarbiasaan peran utama tibatiba Dan Brown mengarahkan TKP menuju Istanbul ((yassalaaaaam, kota ini akan dan selalu jadi salah satu dari tiga besar kota yang begitu ingin saya kunjungi selain London dan New York)) dan coba dong tolong mereka ke Hagia Sophia. gue mau terjun aja rasanya. huhuhu, why you do this to me Dan Brown?!

yasudahlah, yang penting bukunya sudah beres dibaca, kisahnya teingat jelas di pikiran saya dan sepanjang saya membaca cerita ini ada sebuah pertanyaan yang selalu muncul setiap Langdon berhasil memecahkan kode-kode yang diberikan lawannya, "sebenarnya yang lebih pintar itu orang yang menjawab pertanyaan atau orang yang membuat pertanyaan itu sendiri?"

:)

judul : Inferno (neraka)
penulis : Dan Brown
penerbit : Doubleday, New York, 2013
penerjemah : Inggrid Dwijani N. dan Beliani Mantli N.
book design : Maria Carella
terjemahan : penerbit Bentang
penerbit : Bentang Pustaka
cetakan : IV, November 2013

Tidak ada komentar: