Selasa, 01 Juli 2014

status (bagian ketigapuluh lima)


Itulah, Nak,
Jatuh cinta itu persis kau naik gunung, tiba2 terjerambab ke dalam jurang dalam, meluncurnya mudah, tapi susah payah merangkak naik kembali.
Jatuh cinta itu persis seperti komputer atau HP kau tiba2 terkena virus, kena-nya gampang, tapi memperbaiki, servis datanya susah kali–bahkan tetap tidak bisa diperbaiki hingga kapan pun.
Jatuh cinta itu sama dengan kau naik mobil cepat, kau gas kencang, jalan landai, tiba2 rem-nya blong. Mobil kau melaju tak terkira, susah payah menghentikannya. Bahkan harus menabrak sana-sini, kau patah hati.
Maka, pahamilah resikonya

Rasa sakit di hati itu hanya ibarat kabut di pagi hari. Tunggulah matahari tiba, maka dia akan hilang bersama siraman lembut cahayanya.
Rasa sakit di hati itu hanyalah ibarat kabut pagi.
Tidak pernah mengubah hakikat indahnya pagi. Bahkan bagi yang senantiasa bersyukur, dia akan menari (meski sambil menangis) di tengah kabut. Dan itu sungguh tarian indah. Tarian penerimaan

Jangan menghina fisik dan wajah orang lain. Sungguh jangan. Mau bergurau, main2, atau ikut2an, segera berhenti.
Apa hak kita menghina mahkluk ciptaan Allah? Jauh sekali dari ahklak terpuji.

Wahai yang masih mau mendengarkan,
Tuan, Nyonya di sana,
Islam tidak mengejar kekuasaan, jabatan. Tapi kekuasaan itulah yang tunduk kepada Islam.
Kita tidak pernah dinasehati untuk mengejar2, meminta2, bahkan berkongsi, saling serang, saling hina demi kekuasaan, jabatan. Tetapi kekuasaan itulah yang tunduk kepada prinsip2 kebaikan.
Semoga masih ada yang mau memikirkannya, besok lusa, semoga akan hadir generasi terbaiknya yang betul2 paham kepentingan Islam, bukan kepentingan kelompok saja.

Ada kalanya sesuatu, seseorang, atau apapun itu tidak bisa tinggal dalam hidup kita--sekuat apapun kita berusaha.
Mungkin sudah saatnya melepaskan.
Dan tersenyumlah, toh jika dia tidak bisa tinggal dalam hidup kita, kita selalu bisa membuatnya menetap abadi dalam hati dan kenangan terbaik.
 

Bagaimana mungkin orang bicara tentang pencitraan hari ini? Menuduh orang lain pencitraan? Ketika kosmetik laku keras, sepatu hak tinggi ada di mana2, bahkan untuk urusan foto profil/cover di facebook dan twitter pun ditimbang2 lama sekali mau yang mana?
Pun jangan lupakan: ketika mau bertemu someone special, memilih pakaian, mematut penampilan, bukankah lama sekali di depan cermin. Apa yang satu ini tidak masuk kategori pencitraan?
 

Jumlah penyidik KPK itu hanya 75 orang. Bayangkan hanya segitu saja, untuk mengawasi 500 lebih gubernur/bupati/walikota, belasan ribu DPRD, jutaan pegawai negeri sipil dan 560 anggota DPR.
Bandingkan dengan jumlah penyidik KPK Hongkong yang 900 orang untuk mengurus 7 juta warganya, 180rb pegawai pemeritah.
KPK itu hanya menghabiskan anggaran 360 Milyar (2013), bandingkan dengan DPR yang menghabiskan dana hampir 1 Triliun hanya untuk dana reses, masing2 anggota dikasih 1 milyar lebi
h.
Dengan penyidik hanya 75 orang pun, silahkan lihat daftar tangkapan KPK. Mulai dari Bupati, Gubernur, Menteri, anggota DPR, bos BI, Presiden RI, eh Presiden Partai, Jenderal Polisi, Jaksa, Hakim, Wakil Rektor, mantan Dosen terbaik kampus elit, semua dilibas. Bayangkan jika KPK ini punya 2000 penyidik, bahkan kepala sekolah yg menyalahgunakan dana BOS milyaran pun bisa tidak nyenyak lagi tidurnya.
Berhentilah percaya omongan orang2 yang ingin melemahkan KPK. Dukung agar KPK ini bisa segera dikasih ribuan penyidik, triliunan budgetnya. Agar negeri ini segera bersih dari maling.
Siapapun presiden yang naik, maka koruptor dan kroni2nya HARUS turun masuk penjara.
  
Pelaku korup dan kroni2nya adalah musuh bersama.

Dukung KPK, dan siapapun yang berdiri di depan berjihad memerangi prilaku korup ini. Daftar koleksi KPK hingga hari ini: 2 menteri aktif, Gubernur, jenderal kepolisian, ketua partai, ketua MK, ketua SKK Migas, petinggi kampus terkenal, bupati, puluhan anggota DPR, dsbgnya, dsbgnya.

Jomblo itu bukan karena nggak laku.
Jomblo itu simpel karena kita tidak akan menjual murah urusan cinta hanya karena kesepian, ikut2an, apalagi biar terlihat keren punya pacar.
  

Sebenarnya siapa sih yang sungguhan peduli saat kita sibuk menyebut nama2 pacar di jejaring sosial? Naruh foto2 mesra? Saling berbalas komen seperti sudah sewindu tak bersua?
Jangan2 nggak ada.
Iya kan? Menarik loh kalau mau dipikirkan dari sudut pandang berbeda. Besok lusa bisa nyengir dan tertawa sendiri.
 

Tidak semua orang bisa mengerti apa yang kita lakukan, pilihan yang kita buat, atau keputusan yang kita ambil.
Tapi tidak mengapa. Jika kita yakin itu benar, jalani saja dengan yakin, besok lusa akan lebih banyak yang paham.
 

Jika ada orang yang melupakan seluruh kebaikan kita, tapi malah mengingat seluruh keburukan kita; maka cara membalasnya bukan dengan melakukan hal yang sama.
Melainkan, ingatlah seluruh kebaikannya, dan lupakan keburukannya. Itu akan membuat kita lapang dan tenteram--dan hei, apalagi yang lebih penting selain kedamaian di hati kita sendiri?
 
Dalam sebuah perdebatan, boleh jadi kita merasa memenangkan banyak hal karena lawan kita memilih diam saja, dan kita terus berseru2 yakin sekali, tapi sesungguhnya, itulah kekalahan paling telak.
Kita tidak bisa melihatnya saat itu. Besok lusa, mungkin baru terlihat.
 

Kadangkala kita menunjukkan sendiri lewat komentar kita kalau kita tidak tahu sama sekali orang lain sedang membahas apa.

Jangan biarkan orang lain menarik kita dalam sekali dalam sebuah pertengkaran, hingga kita jadi membencinya seperti dia membenci kita. Jangan biarkan.
Kita berhak atas rasa damai dalam hidup ini, dengan tidak membenci orang lain walau kita tidak sependapat, berbeda pihak, dsbgnya.
  

Hidup ini harus dilalui dengan gagah perkasa. Tahan banting. Bukan ngesot, merangkak apalagi sampai meratap di dinding dunia maya.
 
Koruptor itu tidak dilahirkan dalam semalam.
Koruptor itu dibentuk, digembleng, diproses sejak kecil.
Saat sekolah dulu mereka adalah tukang nyontek, tukang ngasih contekan. Lantas sibuk membenarkan kalau itu boleh2 saja, demi kebaikan, biar lulus, tolong menolong. Rasionalisasi atas perbuatan keji ini terus berlanjut hingga mereka masuk kerja menyuap, meniti karir dengan nepotisme, menjilat. Ini itu menyogok, biar cepat. Peraturan bersama diinjak2 begitu saja. Koruptor dibentuk oleh proses panjang ini.
  

Ganteng, cantik, pintar, rajin, saleh, salehah, taat orang tua, aduh sungguh menyenangkan melihat anak muda seperti ini. Dan ternyata masih jomblo pula. Semoga besok lusa bertemu jodoh terbaik, dengan cara terbaik, dan menjadi keluarga yang baik.

Tukang nyontek pas ujian/ulangan sekolah itu jelas sekali adalah pengecut, pemalas, calon koruptor masa depan, dan tukang selingkuh.

Melepaskan sesuatu itu bukan dengan berontak, marah, meronta, sebal, karena kalau begitu, namanya bukan melepaskan.
Melepaskan itu juga bukan dengan penolakan (dalam hati), tidak terima, mengeluh, kecewa, karena kalau begitu, lagi2 namanya bukan melepaskan.
Melepaskan itu persis seperti penerimaan. Kayak kita tiba2 dikasih uang 1 milyar, bukankah kita terima dengan senang hati?
Demikianlah.

Ingatlah nasehat orang tua ini: Yang waras mengalah.
Rumus ini pamungkas sekali meredam perdebatan tiada guna, salah paham lebay, tuduhan tidak berdasar, hingga kebencian tanpa sebab. Sedikit saja dosisnya, sudah sangat manjur 

Urusan file2 di laptop, komputer, HP, itu simpel sekali. Tidak diperlukan, mengganggu, menuh2in kapasitas, maka tinggal delete, buang ke recycle bin. Beres.
Nah, sama dengan file2 di dunia nyata. Kenangan2 yang mengganggu, masa lalu yang terus menghantui, file2 yang tidak diperlukan, apalagi orang2 yang hanya membuat kita menjadi buruk, berpengaruh buruk, maka tinggal delete, buang recycle bin. Beres. Jangan kelamaan mikirnya, nanti hard disk kehidupan kita penuh, bikin hang, bikin lambat, error.

Selamat kepada KPK yang telah menetapkan Walikota Palembang bersama istrinya sebagai tersangka. Ini menarik sekali, karena istrinya juga satu paket jadi tersangka. Kasus ini juga rentetan dari kasus suap ketua MK, itu berarti siap2 saja yang disebut2 ikut menyusul.
Bravo! Terus berjihad menegakkan keadilan di muka bumi.
 

Obat dari segala obat, manjur di atas manjur bagi penyakit hati apapun adalah 'rasa syukur'. Cukup kecil saja dosisnya, sudah efektif mengobati hingga ke dalam-dalamnya.

Disakiti atau dikecewakan oleh orang yang tidak kita kenal, orang yang tidak kita harapkan, itu sih kadarnya hanya 1-2 garis kesal saja.
Disakiti atau dikecewakan oleh orang yang justeru tempat kita menambatkan harapan dan kesetiaan selama ini, maka itu bukan kesal lagi, tapi maksimal pol 10 garis sakitnya.
Maka, dalam urusan dunia ini, jangan berlebihan berharap. Biasa2 saja.

Mudah sekali mengenali siapa pembenci kita. Ketika kita berbuat kesalahan (yang padahal kecil sekali), maka para pembenci kita akan bersorak riang.
Pun sama, mudah sekali mengenali siapa yang paling peduli dengan kita. Ketika kita dalam situasi paling berat, suram, maka itulah orang terakhir yang masih bersedia dekat2 dengan kita.

BRAVO!! Selamat kepada KPK yang menangkap tangan Bupati Biak dkk, terkait kasus dana bantuan Menteri PDT.
Orang2 ini tidak pernah kapok, suka lupa kalau telepon2 mereka disadap, malah asyik bawa duit ke hotel buat menyuap dan menerima suap.
Baiklah, selamat bagi yang jadi susah tidur karena kasus ini. 

Ini serius: kalau kalian pacaran, terus manggil pacarnya mama-papa, atau abi-ummi. Mesra banget di media sosial. Maka saat putus, genap sudah kalian janda-duda.

Cinta bukan tentang kesempatan.
Cinta adalah tentang keyakinan.
Karena banyak orang2 yang sebenarnya memiliki kesempatan tapi dia tidak memperoleh cinta sejatinya. Tapi orang2 yang memiliki keyakinan, dia bisa mendapatkan kesempatan terbaiknya.
*Tere Liye, tersirat dalam "Sunset Bersama Rosie"
 

Jika memaki, menghina orang lain membuat kita puas banget, maka itu sungguh tipuan diri sendiri. Rasa puas semu yang justeru membuat kita semakin ngotot.
Ingatlah selalu rumus baku ini: boleh jadi (mereka yang dihina) lebih baik (dari yang menghina).
Tertulis dalam kitab yang tidak akan pernah keliru. Dipahatkan dalam salah-satu ayat yang sangat jelas. Maka peluklah erat2 nasehat dalam agama kita.
 

Anak jaman sekarang itu besar sekali tantangan hidupnya. Sangat besar. Coba bayangin, nunggu reply komen dari seseorang saja bisa galau. Kok nggak dibalas2 ya. Kok aku dicuekin? Semalaman nggak bisa tidur malah. Iya, kan?
 
Apakah prilaku menyontek pas UN/ulangan sekolah itu sudah jadi tradisi di negeri ini?
Mudah menjawabnya. Di page ini, postingan tentang cinta, hanya butuh 5 menit utk mengumpulkan ribuan like dan komen. Tapi postingan tentang jangan menyontek pas UN/ulangan, jangankan ribuan, yang ada malah orang2 ngamuk--dan itu banyak sekali yang tersinggung, bukan cuma satu atau dua.
Andai saja seluruh akun2 raksasa (termasuk artis, pesohor, ustad, motivator, siapapun itu) kompak dalam seminggu memposting ttg jangan menyontek, secara tegas, diulang2, maka boleh jadi, kita bisa membuat isu ini dipikirkan banyak orang. Ketika pengguna media sosial, mau berkunjung kemanapun, isinya kompak tentang jangan menyontek. Bisa ilfil yang suka nyolot.
  

Bukankah kita diajarkan dengan amat serius tentang rumus pitagoras di SD, SMP, SMA? Diulang setiap levelnya. Padahal paling hanya 1 di antara 1000 saja orang yang memakai rumus tersebut di kehidupannya? Cek saja sendiri, apakah kalian pernah memakai rumus tersebut?
Tetapi kenapa kita tidak diajarkan dengan serius, sungguh2, berulang2 tentang rumus kejujuran di SD, SMP, SMA? Padahal hampir tiap orang pasti memakai rumus tersebut dalam kehidupannya. 

Jodoh itu tidak perlu dikejar. Apanya yang mau dikejar? Memangnya dia lagi lari? Lagian, gaya banget bilang dikejar, berpapasan di jalan saja sudah melipir kayak layangan putus.
Jodoh itu hanya cukup didatangi. Datangi orang tuanya, bawa rombongan keluarga. Beres. 

Kenapa orang galau itu suka sekali dengan hujan?
Karena ingat masa kecil; ketika bisa lari2 bermain waktu hujan; adalah momen paling tanpa beban dalam hidup.
*Mungkin begitu

Lidah itu lebih "malang" nasibnya dibanding hati kita. Dia harus merasakan pahit, manis, asam, pedas, asin, bahkan tengik dsbgnya. Dia juga harus merasakan dingin, panas, obat, madu, keras, lembut, semuanya. Non stop setiap hari, tidak pernah protes, tidak pernah berhenti.
Sedangkan hati kita, baru terpanah sepucuk masalah, bisa langsung semaput semalaman, seharian, bahkan seminggu atau berbulan2.
Maka belajarlah dari tangguhnya lidah. Tetap teguh setiap hari.

Nggak usah dicek berkali2 apakah "seseorang" itu sudah reply atas komen kita atau belum. Nanti malah keki sendiri, kok belum komen2 juga si dia, padahal dia sudah update yg baru. Hiks.
Memberi itu tak harap kembali, sama, komen juga tak harus direply.

Eh, yang mau milih siapa pas pilpres itu kan urusan masing2. Jangan kampanye di page saya ini. Jangan menulis komen2 penuh isi kampanye.
Saya mau nyombong ya, saya ini bahkan kenal dengan salah satu dari calon2 itu, pernah ngobrol bareng, tapi apa perlu saya kampanye di page ini? Tidak. Nah, saya yang punya page saja nggak kampanye agar menghargai pilihan anggota page ini, kenapa kalian yang disapa saja mungkin tidak sama jagoannya, malah PD banget kampanye di sini?
*gagal paham saya

Memilih pasangan itu bukan sekadar lihat fisik luarnya.
Karena kalau hanya itu, bukankah kalian sendiri pernah mengalaminya? Mengambil potongan paling gede--nggak mau kalah, ternyata itu bukan rendang, itu lengkuas yang tertutup bumbu. Luarnya memang sama2 menggoda, tapi ketika digigit rasanya berbeda. Mau?

"Dunia ini tidak sesederhana seperti yang dilihat banyak orang. Aku percaya sejak dulu, bahkan membaca lebih banyak buku dibanding siapa pun karena penasaran, ingin tahu. Bumi kita memiliki kehidupan yang rumit. Dan hari ini aku menyaksikan sendiri, ada sisi lain dari kehidupan selain yang biasa kita lihat sehari-hari.
*Tere Liye, novel "BUMI"

"Hakikat hidup itu memang menunggu, menunggu kita kapan berhenti menunggu."

Dusta memang bisa menyelamatkan (sementara) hubungan.
Tapi hanya kejujuran yang membuat hubungan awet hingga mati.

Menangis tidak selalu simbol lemah tak berdaya.
Menangis dalam situasi tertentu justetu adalah simbol kekuatan, kesabaran, dan kehormatan. Apalagi jika tidak ada yang tahu.
  

Koruptor itu tidak dilahirkan dalam semalam.
Koruptor itu dibentuk, digembleng, diproses sejak kecil.
Saat sekolah dulu mereka adalah tukang nyontek, tukang ngasih contekan. Lantas sibuk membenarkan kalau itu boleh2 saja, demi kebaikan, biar lulus, tolong menolong. Rasionalisasi atas perbuatan keji ini terus berlanjut hingga mereka masuk kerja menyuap, meniti karir dengan nepotisme, menjilat. Ini itu menyogok, biar cepat. Peraturan bersama diinjak2 begitu saja. Koruptor dibentuk oleh proses panjang ini.

Tidak seperti papan tulis, coretannya bisa dihapus bersih.
Coretan di hati tidak bisa dihapus bersih. Bahkan saat kita benar-benar lupa, coretan itu tetap ada (di hati orang lain, dan atau banyak orang lain).

Kita tidak bisa dengan mudah, seketika men-delete, meng-undo, bahkan restart atau shut down perasaan yang terlanjur tumbuh.
Karena itu, hati2lah jika hendak meng-install perasaan di hati. Jangan begitu mudah, semua aplikasi perasaan dari mana-mana di-install. Boleh jadi ada yang bervirus mematikan.

Pertanyaan: "Bang Tere, ada dua orang yang bilang suka dan mau melamar saya, bagaimana saya tahu mana yang terbaiknya?"
Jawaban: Gampang. Buat saja debat capas (calon pasangan). Bila perlu buat 5 ronde untuk setiap tema. Dijamin, pasti tambah pusing milih yang mana. Silahkan dicoba.

Omongan orang lain, dijelek2an, direndahkan, tidak akan pernah membuat kita otomatis jadi lebih jelek atau rendah. 
Kitalah yang menentukan masa depan kita, mau kemana rencana kita, kualitas hidup kita. Bukan omongan orang lain. Kalau aslinya bagus, maka insya Allah bagus. Kalau aslinya memang demikian, maka akan demikian.
Jadi terus melakukan yang terbaik, yang baik akan datang.

Jika kita menyukai seseorang, maka tidak otomatis seseorang itu juga menyukai kita.
Ini bukan soal keadilan, hak asasi, apalagi soal mewujudkan perdamaian dunia, ini simpel tentang: mbok ya paham, berani jatuh cinta, berani dengan resikonya.

Tidak semua ucapan orang lain itu harus didengarkan. Terlebih jika itu hanya prasangka, kesimpulan, apalagi penilaian sepihak dari orang yang kenal juga tidak dengan kita, apalagi memahami kita.
Lebih baik fokus terus memperbaiki diri. Jika menganggu kita, ambil jalan aman dengan menjaga jarak, atau bila perlu bangun benteng kokoh dari orang2 ini.
Dunia ini akan benar2 gelap gulita jika semua ucapan orang dimasukkan ke dalam hati.

Tahun ajaran baru sebentar lagi tiba. Ada yang naik kelas, ada yang naik sekolah baru. Nah, kalau kalian ternyata nggak satu sekolah lagi dengan gebetan, nggak usah terlalu sedih.
Disimpan saja perasaannya, besok lusa, kalau memang jodoh, jangankan satu sekolahan, malah bisa satu KK (kartu keluarga). Selama itu belum terjadi, mending belajar, mengejar cita2, mempersiapkan diri, dan terus menjaga diri.
Salam caiyooo...

Teman baik bisa menjadi orang asing. Perlahan dan menyakitkan.

Saat kita memutuskan untuk memaafkan orang lain, bukan semata2 karena orang tersebut layak untuk dimaafkan. Melainkan kita selalu layak untuk memiliki kedamaian/ketenangan di dalam hati.
Memaafkan itu dekat sekali dengan damai.
*sy tulis ulang dr pepatah arab

Ketahuilah, jagoan pilpres, partai, kelompok, dsbgnya itu bukan hal prinsip. Sama sekali bukan. Karena besok lusa, boleh jadi kita yg hari ini meniup terompet memuji2, membela, tapi ternyata akhirnya malah mencaci maki kecewa. Sudah banyak kejadiannya. Karena hal ini fleksibel sekali tergantung tujuan.
Nah, yang prinsip itu adalah seperti: nilai2 kebenaran, kejujuran, kepedulian, anti korupsi, dll. Karena sampai kiamat hal ini tidak akan membuat kecewa.
Berpegang teguhlah pada hal prinsipnya.

Hati itu boleh jadi seperti meja makan malam. Ketika di atasnya masih menumpuk piring2 makanan lama, maka kita tidak punya ruang untuk bisa meletakkan piring2 makanan baru yang lebih segar dan lezat.
Maka, seperti itulah hati kita, ketika kita masih menumpuk beban kenangan, beban pikiran masa lalu, atau apapun itu, maka kita tidak punya ruang lagi untuk bisa meletakkan seseorang, sesuatu, kesempatan, atau apapun itu yang baru.

Kita tidak perlu selalu bisa menebak apa yang ada di pikiran seseorang. Karena kita itu sebenarnya sedang mencari jodoh atau lagi belajar jadi dukun?
Kita juga tidak perlu selalu harus merasa cocok dengan seseorang. Selalu merasa nyaman. Karena kita itu sebenarnya sedang nyari sepatu atau mencari pasangan hidup?
Tanyakan saja ke orang tua kita yang telah menikah berpuluh tahun, bahkan masih sering salah paham, keliru maksud. Pun tidak selalu cocok dan nyaman, tapi komitmen yang kuat akan membuatnya bisa dilewati dengan baik.

Kesetiaan itu tidak dibuktikan lewat kata-kata, apalagi kalimat manis penuh gombal. Kesetiaan adalah fungsi perbuatan, tindakan, yang disaksikan oleh waktu dan dunia.

*Mungkin menarik kalian tahu
Majelis tinggi parlemen Prancis melarang kontes kecantikan bagi anak dan remaja di bawah 16 tahun. Siapapun yang melanggar bisa terkena hukuman penjara dan denda. Silahkan cek website dunia untuk mengkonfirmasi berita ini.
Argumen parlemen tersebut simpel: Jangan biarkan anak-anak punya keyakinan bahwa nilai mereka didasarkan oleh penampilan, jangan biarkan kepentingan komersial menggerus kepentingan sosial. Peraturan baru ini masih memerlukan persetujuan majelis rendah sebelum diterapkan.
Ini kemajuan signifikan, meski hanya terbatas hingga usia 16 tahun, dan baru setengah jalan. Setidaknya ada juga yang mau berpikir waras tentang kontes2an ini. Nah, kalau mau pakai akal sehat, memang kesimpulannya akan sama--bahkan bagi kaum liberal sekalipun, dan yg tdk beragama sekalipun. Mau kontes buat anak2, remaja atau orang dewasa sekalipun, tetap saja itu jualan industri kosmetik dan artifisial.
Percayalah, kita akan lebih dikenang sepanjang masa karena kemampuan, kreatifitas dan terus berkarya. Bukan karena tampilan fisik yang 30, 40 tahun lagi juga jadi keriput. Kan sedih kalau ternyata yang memiliki pemahaman baik ini justeru orang lain, sedangkan kita yang punya agama malah belok mundur, euforia berlomba2 yg beginian.

Saya tidak suka dengan orang yang sok berkuasa, membuat rumit birokrasi, memperlama urusan, ribet, padahal itu jelas sekali tugas mereka dan mereka digaji untuk itu. Buat apa sih?
Kalaupun dia memang berkuasa, pikirkan satu hal ini: bahkan kita tidak bisa mengatur detak jantung sendiri; tidak bisa kita suruh2 berhenti, berdetak lebih cepat, lebih lambat. Tidak bisa. Nah, kalau jantung sendiri sj tidak bisa diatur, apalagi mau menguasai hal ini?
Ketahuilah, Nabi kita sendiri lewat riwayat yg sahih pernah menasehati: "Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat." Ini jelas bukan kalimat karang2an saya, ini hadist sahih Muslim. Sungguh tak sampai nasehat ini jika orang masih saja mempersulit urusan saudara sendiri.

Siapapun yang nanti terpilih jadi presiden, pastikan kita legowo menerimanya. Karena kalau sampai stres, kehilangan teman, akun fb/twitter-nya jadi garing, marah2 melulu, sensitif banget setiap saat, itu namanya tekor bandar dua kali.
Lebih baik antusias menyambut Ramadhan daripada pilpres. Nggak ada kan khatib yang menasehati: "Boleh jadi pilpres kali ini adalah yang terakhir, dan besok lusa kita tidak lagi sempat merasakan Pilpres. Ya Allah, sampaikan umur kami ke pilpres berikutnya... Ya Allah....." Nggak ada, toh?
Selamat sahur, buat yg sudah sahur malam ini. Buat yang belum, besok malam, kita pasti sahur bareng deh, sambil nonton piala dunia. Tidak masalah beda-beda pendapat, tujuannya sama.

Saya sih tidak mau menghabiskan waktu nonton acara2 lawakan saling mencela, lempar tepung, menghina, joget2, hura2, lantas dibumbu2i terharu, nangis, kemudian mencela lagi, menghina lagi, joget2 lagi, hura2 lagi.
Apalagi menontonnya saat sahur, di 1/3 akhir malam yang sangat mulia, di bulan yang juga amat terpilih.

Kebanyakan sahabat baik, terjadi dengan alami begitu saja. Tidak pernah tahu persis kenapa jadi dekat. Cocok satu sama lain dengan sendirinya, kompak, dan bersama-sama dengan sendirinya. Meskipun tentu saja ada yang menjadi sahabat baik setelah bertengkar hebat.
Tapi apapun itu, selalu menyenangkan memiliki sahabat baik. Yang saling memotivasi, mengingatkan hal baik, menemani dalam situasi apapun. Jadilah salah-satu dari mereka.

Ketika kita menyukai seseorang dalam diam; maka jelas, tanpa harus dibilang pun seharusnya rasa suka itu tetap sama. Tidak berkurang sedikit pun.
Ketika kita mencintai seseorang, sungguh cinta, bahkan membuat sesak dan sakit hingga memaksakan diri menyampaikan. Maka, jelas sekali, ditolak sekalipun, dibilang 'ngaca dong', seharusnya rasa cinta itu tetap utuh. Tidak berkurang walau sesenti.
Nah, kalau kita ngotot maksa pengin tahu dia suka atau nggak, maksa pengin bareng2, ngotot pengin pacaran, memiliki padahal belum waktunya, dsbgnya, itu jelas bukan cinta yang saya maksudkan. Itu hanya keinginan sesaat tanpa kendali yang baik. 

“Tidak ada yang kebetulan di muka bumi. Semua adalah skenario Tuhan, pemilik rencana paling sempurna. Dengan meyakini semua adalah skenario dari Tuhan, kita bisa menerima kejadian apapun dengan lapang dada sambil terus memperbaiki diri, agar tibalah skenario yang lebih baik lagi.”

Jika diibaratkan benda, maka kesetiaan adalah salah-satu benda paling mahal sedunia.
Well, kalau kita sudah tahu itu benda mahal, maka bagaimana kita tetap berharap memperolehnya dari orang2 'murahan' di sekitar kita? Yang ada hanya kesetian palsu alias KW2 saja.

Salah-satu contoh "epic fail" itu adalah, berdoa: "Ya Allah berikanlah hamba jodoh terbaik, jodoh yang Engkau ridhoi.", tapi malah pacaran, mojok dua2an, mesra banget manggil papa-mama, abi-umi, bahkan pakai nama belakang dari nama pacarnya.
Bingung, kan?

Tenang saja, kalian tidak akan kesiangan hanya gara2 nggak ada yang tiba2 nelepon, "Beb, udah sahur belum? Sahur, ya."
Ayo, lebih baik fokus dengan ibadah Ramadhannya, daripada pacaran. Syukur2 malah bisa paham, besok lusa, kalau memang cinta, toh jodoh tidak akan kemana2. Masa2 remaja baiknya diisi dengan sekolah, belajar, dsbgnya yang bermanfaat.

Cukuplah flyover, bawah pohon besar, jembatan, taman, atau tempat2 lain yang jadi lokasi pacaran. Jangan tambahi masjid.
Berangkat taraweh, berangkat shalat subuh, bukan untuk nongkrong, ngeceng, tebar pesona, ganjen, ke mana2. 

Ini serius: kalau kalian pacaran, terus manggil pacarnya mama-papa, atau abi-ummi. Mesra banget di media sosial. Maka saat putus, genap sudah kalian janda-duda.

Orang yang memang cinta dengan kalian itu: bilang cintanya susah payah, gemetaran, nervous, tapi saat melamar ke orang tua, dia gagah berani datang.
Nah, sebaliknya, orang yang cintanya gombal kepada kalian, cuma buat main2 itu: bilang cintanya mudah sekali; tapi saat disuruh melamar, susah payah, banyak alasan, bahkan "tidak pernah berani".

Alay bukan proses menuju dewasa.
Alay justeru adalah fase gagal. Berbelok dari jalur normal. Apalagi kalau yang bersangkutan sudah usia 20 lebih, masih nulis manja2, genit2, ngalay, please deh, itu jelas bukan proses pendewasaan. Tapi ketidakmampuan beradaptasi dan menempatkan diri.
 

Orang2 yang rendah hati, tidak akan rugi.
Bahkan dalam sebuah nasehat Nabi, barangsiapa yang rendah hati kepada Allah, dia tidak akan memperoleh sesuatu melainkan Allah akan meninggikan derajat kemuliaannya.

Tidak akan rendah harga diri seorang laki-laki dengan mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari nyapu, nyuci, dsbgnya. Dalam hadis2 yang sahih, Rasul Allah membantu pekerjaan istrinya.
Buat cowok2, kalau kalian sejak dini terbiasa melakukan hal ini, besok lusa, insya Allah dapat istri yang cantik jelita. 

Bapak, Ibu, kalau kalian hendak mencari calon menantu, maka jauh lebih baik memilih anak muda rumahan yang rajin membantu pekerjaan rumah, pandai ngepel, nyuci, nyetrika, dibandingkan yang hanya mejeng sana-sini, kelayapan, tebar pesona, dsbgnya.

Ini peringatan serius, kalian yg nama profilenya panjang kayak gerbong kereta, sudah gitu alay-nya overdosis, menulis dengan bahasa planet, huruf besar, huruf kecil, dsbgnya, jangan coba2 menulis komen di postingan manapun, atau saya ban/remove.
No hard feelings, my dear anggota page, dunia ini bebas, kalian berhak bebas dengan ke-alay-an kalian, saya bahkan mendukung, yeah, go go alay. Tapi page ini juga berhak atas dinding yang bersih. Punya peraturan.
Nah, tenang saja, semua orang tetap bisa mendapat manfaat dari page ini, tetap bisa baca, tetap bisa like, share, repost, copas, tanpa harus ikutan komen.
*tidak ada protes atas peraturan ini
**ban/remove page itu TIDAK menghilangkan akses untuk baca, yg kena ban tetap tersambung ke page (beda dengan ban/remove akun biasa). Hanya saja yang kena ban tidak bisa komen sama sekali.

Ketika orang saling membuka aib, maka hanya soal waktu, semua aib lama akan menguar terbuka, membuat udara terasa pengap dan busuk. Tidak akan ada habis2nya, susul menyusul.
Karena sungguh kita semua punya aib masing2.
Maka, berhentilah. Segera berhenti.
Ini bulan Ramadhan, kendalikan nafsu kita untuk saling menyebar kejelekan. Ingatlah, Nabi kita tercinta, ya Rabbi, Nabi kita yang sungguh mulia akhlaknya pernah berwasiat: Barangsiapa menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya.
Pikirkan berkali2 sebelum melepas postingan berisi hal2 seperti ini. Boleh jadi waktu 10 detik berpikir, akan menyelamatkan kita dari golongan penyebar aib.

Kalau aib kita (kelompok kita) berceceran di mana2 itu jelas sekali PERTANDA kita juga suka membuka aib orang lain (kelompok lain). Mudah sekali mengukurnya.
Belajarlah dari sekitar, dari cerita2 Nabi dan para sahabat, karena ada banyak orang2 yang kebal dengan gunjing aib, karena dia memilih tidak melakukannya. Mau seberapa banyak orang membuka aibnya, tetap tidak ngaruh, tidak membuat jatuh reputasinya.
Kalimat itu pasti 100% benar: barangsiapa menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya dunia dan akherat (hadist sahih). Dan jelas, kalimat ini berimplikasi sebaliknya.

Orang yang paling menguasai makna cinta adalah: yg tidak memiliki kepentingan, tidak ada pretensi, tidak cemas, tidak khawatir, simpel dan lurus hanya cinta saja.
Dan kita semua sebenarnya pernah menguasainya.
Ketika masih balita. Bahkan setelah dimarahin sekalipun, balita tetap bisa tersenyum. Bahkan habis menangis tantrum sekalipun, balita tetap segera tersenyum. Tidak ada sakit hati, benci, apalagi dendam.

1 komentar:

Alat Uji mengatakan...

Makasih atas sharenya ya mbak :)

www.alatuji.com