Senin, 02 Juni 2014

status (bagian ketigapuluh empat)


Cinta itu tidak selalu melekat pada kebersamaan, tapi melekat pada doa-doa yang disebutkan dalam senyap.
Itulah kenapa seorang Ibu bisa terus mendoakan anak-anaknya meski terpisah samudera dan benua.
Pun seorang istri/suami bisa terus membisikkan doa-doa terbaik bagi pasangannya, meski telah terpisah oleh kematian.
Tidak bersama secara fisik, tapi bersama dalam doa-doa terbaik.
 
Cinta itu buta, dek. Nah, ketika menikah, kita baru terbuka matanya lebar-lebar. Paham.
Nasehat orang tua ini brilian sekali menjelaskan banyak hal.

Tidak semua orang bisa jadi presiden. Tapi semua orang bisa bahagia dengan apapun pekerjaan dan kehidupannya. Sesederhana apapun itu menurut penilaian orang.
Inilah salah-satu misteri indah kehidupan.
Jangan sampai kita ini cukup segalanya, tapi mudah pencemburu, selalu merasa kurang, pendengki, dan tidak bahagia nyata2nya (meski mulut selalu bilang saya bahagia dan baik2 saja).


Senyum adalah jembatan yang menghubungkan antara dua mata.
Kalimat yang santun dan baik adalah jembatan yang menghubungkan antara dua telinga.
Perbuatan yang mulia adalah jembatan yang menghubungkan antara dua hati.
Maka, jangan ragu2 membangun jembatan setiap hari. Bukan sekadar agar kita selalu terhubung dalam kebaikan, tapi yang lebih penting, agar kita tidak terisolasi dari kebahagiaan.
Tentu bukan hanya desa atau kampung saja yang bisa terpencil, manusia juga bisa disebut 'manusia terpencil'. Yang sayangnya bukan karena posisi geografisnya, tapi karena dia tidak mau membangun jembatan2 penghubung tersebut.


Siapa yang meletakkan cintanya hanya di mata, maka hanya sampai disanalah awal dan akhir semua kisah.
Siapa yang meletakkan cintanya hanya di kaki dan tangan, maka juga hanya disanalah tempat terjauh yang bisa digapai.
Tapi barangsiapa yang meletakkan cintanya di hati, mematuhi aturan main dan senantiasa bersabar, maka dari sanalah semua kisah akan mekar bercahaya, wangi memesona.
 

Ketika kita tidak bisa melupakan sesuatu, kejadian, atau seseorang, maka bukan berarti kita tidak bisa terus beranjak maju.
Dengan terus melangkah, cepat atau lambat, semua beban kenangan akan tertinggal di belakang.
 

Nasehat ini mungkin relevan buat siapapun, ditulis di banyak tempat, bahwa:
Ada orang2 yang boleh jadi sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh, dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justeru membawa kedamaian.
 

Acara gosip di negeri ini sudah keterlaluan. Hal2 yang sejatinya adalah aib, diberitakan dengan terbuka. Dilahap begitu semangat, dipelototin, dicungkil hingga detail.
Ya Allah, pekat sekali bau bangkai di mana-mana.
Lindungi kita dan keluarga kita. Matikan televisi, jangan klik link beritanya, jangan baca, jangan share, jangan digunjingkan, jangan dijadikan becandaan. Percayalah, jika kita bisa menahan diri soal bergunjing, besok lusa akan ada hadiah spesial bagi kita. Itu janji Allah.

"Cinta pertama itu tidak spesial; karena yang paling spesial adalah cinta terakhir dan itu selama-lamanya. Tetapi jika kalian beruntung, akan lebih spesial lagi jika cinta pertama itu sekaligus menjadi cinta terakhir dan selama-lamanya.
Situasi ini hanya terjadi jika kita menjaga perasaan kita dengan baik, bukan setiap saat bisa jatuh hati ke siapapun, cepat sekali GR, lantas dinyatakan dengan mudah sekali, untuk berganti cinta lagi juga dengan mudah."
 

Cinta itu tidak selalu melekat pada kebersamaan, tapi melekat pada doa-doa yang disebutkan dalam senyap.
Itulah kenapa seorang Ibu bisa terus mendoakan anak-anaknya meski terpisah samudera dan benua.
Pun seorang istri/suami bisa terus membisikkan doa-doa terbaik bagi pasangannya, meski telah terpisah oleh kematian.
Tidak bersama secara fisik, tapi bersama dalam doa-doa terbaik.
 

"Mencintai" dan "membenci" berasal dari mata air perasaan yang satu.
Banyak orang mencintai yang kemudian jadi membenci. Dan lebih banyak lagi orang2 yang membenci namun dia sungguh mencintai, menyebut namanya dalam senyap.
 

"Memiliki" dan "melepaskan" berasal dari mata air perasaan yang satu, hanya berbeda tujuan alirannya, tapi sejatinya sama.
Karena memiliki bahkan bisa dalam bentuk melepaskan, membiarkannya terbang bahagia. Pun sebaliknya, melepaskan bisa selalu berarti memiliki, memiliki kenangan terbaik, memiliki cinta terbaik meski dilepaskan.
 

Bukankah banyak kerinduan saat kita hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan dalam rindu?
Hingga rindu dan melupkan jaraknya setipis benang saja.

Kenapa sih spion sebelah kiri sepeda motor itu harus dicopot? Kenapa? Sudah bagus2 dikasih dua, dicopot yang kirinya. Silahkan perhatikan jalanan, banyak sekali yang dicopot.
Ini salah-satu yang saya tidak paham dengan sebagian pengendara sepeda motor.
Kenapaaaaa?
*sebagai catatan, UU No 22/2009 tentang LLAJ mewajibkan spion. Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2012 tentang Kendaraan ditegaskan bahwa jumlah kaca spion harus dua.
 
 

Saya tidak menjawab setiap email pertanyaan.
Karena hampir semua pertanyaan kalian dalam email itu sudah pernah ada jawabannya di page ini. Silahkan baca ribuan postingan di page ini, full gratis (siapapun yang butuh jawaban atas masalah hidupnya, maka pahamilah: membaca adalah cara terbaik belajar, bukan langsung bertanya). Nah, jika saya merasa perlu merespon satu-dua email, maka akan saya jawab secara terbuka di page, tidak personal.
Saya tidak membuka jasa konsultasi, jasa curhat, jasa titip doa, apalagi jasa titip salam kayak di radio. Kalau besok lusa saya tertarik membukanya, akan saya umumkan daftar tarifnya berapa.
Jangan pernah tertipu, saya itu adalah penulis full komersil dalam industri besar. Boleh jadi, ketika saya berminat atas masalah hidup orang lain, itu semata-mata untuk keperluan riset bisnis ini. Orang tua kalian, keluarga kalian, teman2 terbaik kalian jelas adalah tempat yang lebih brilian untuk bertanya, kasih sayang mereka lebih tulus dan murni.
*Tere Liye
**disampaikan berkali2 agar tidak ada dusta di antara kita
 

Pertanyaan: "Bang Tere, saya itu sering dimarahi di rumah oleh orang tua, sepertinya apa yang saya lakukan semuanya salah. Ini salah, itu salah, dikit2 salah. Apakah orang tua saya sayang dengan saya? Atau mereka kecewa dengan saya?"
Jawaban: Saya tidak tahu. Saya harus bertanya langsung ke orang tua kamu untuk tahu apakah mereka sayang atau tidak.
Tapi beginilah, kamu tahu listrik? Maka ketahuilah, sedikit sekali orang yang pernah melihat listrik mengalir di dalam kabel. Tapi bukan berarti tidak ada listrik di dalamnya. Lampu menyala, televisi menyala, kulkas, setrika, pompa air, semua menyala. Dengan kita tidak bisa melihat listriknya, tidak berarti tidak ada, bukan?
Begitu pula dengan kasih sayang orang tua. Dengan kita tidak mengerti, salah paham, diomeli, tidak bisa melihat kasih sayang tersebut, tidak berarti tidak ada. Kita tumbuh besar, jadi remaja yang sehat adalah bukti "menyala"-nya kasih sayang orang tua. Kalau soal sering dimarahi, itu sih simpel hanya dinamika berkeluarga.
Nah, semoga kita tidak telat mengetahui soal ini, karena persis seperti listrik, kita baru tahu persis tidak ada listrik di kabel2 itu ketika lampunya tidak menyala, televisinya membisu, mati listrik, baru terasa, hei, ternyata selama ini ada listrik yang mengalir.
Semoga paham.
**saya akan menjawab beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya, dan sy tdk sempat menjawabnya secara personal satu-persatu.

Pertanyaan: "Bang Tere, saya menyukai seseorang di sekolah. Apa yang harus saya lakukan? Apa saya harus bilang kalau saya suka?"
Jawaban: Tergantung. Kamu suka banget atau suka aja. Kalau memang suka banget, besok sudah langsung mau menikah, silahkan bilang, terus temui orang tuanya. Kalau hanya suka aja, senang lihat dia dari jauh, senang disapa, lebih baik disimpan saja rasa sukanya. Lebih baik fokus sekolah, belajar. Besok lusa, kalau memang jodoh, tidak akan kemana.
Dibiarkan saja rasa sukanya, jalani aktivitas sehari2 seperti biasa, lama-lama juga padam sendiri. Bukan sebaliknya, dibesar2kan, rusuh sendiri, misalnya dia cuma komen di FB kita, kita sudah heboh sendiri--padahal cuma komen simpel "bagus ya fotonya". Menurut penelitian mutakhir, rasa suka jaman remaja itu paling hanya menggebu2 sekitar 3-4 bulan, lewat dari itu, malah lucu saat diingat2 lagi. Selamat menikmati momen2 "suka aja" tersebut, karena besok lusa, akan tiba momen2 "suka banget"-nya.
Kurang lebih demikian.

Jika orang lain dengan cepatnya melupakan kita; maka sebaliknya, kita bisa memilih untuk terus mengingatnya (dengan hati yang lapang). Bahkan meletakkannya di bagian terbaik kenangan kita.
  
Adik2ku, jangan berkecil hati kalau kita memilih jalan yang berbeda, lantas orang2 mentertawakan kita, menganggap remeh.
Ada nasehat lama yang mungkin menarik buat kita terkait situasi ini: "Orang2 boleh saja tertawa melihat seseorang berbeda sendirian, tapi sejatinya, seseorang yang berbeda itulah yang lebih berhak tertawa melihat kenapa mereka justeru mau-maunya sama dengan orang kebanyakan."
 
'Pintu hati' itu tidak seperti pintu bendungan, yang kapanpun aman dibuka tutup, tidak merembes. Dalam urusan perasaan, sekali pintu hati dibiarkan terbuka, maka susah payah menutupnya kembali, tetap merembes, bahkan lubang bocornya jebol dimana2, membahayakan seluruh bendungan.
Maka, jika kita belum siap, belum niat serius, maka jangan suka membuka tutup pintu hati. Dan tentu saja, jangan mau digombalin oleh orang yg terbiasa sekali membuka tutup pintu hatinya, sudah kayak portal jalan, siapapun bisa melintas.
 
Dek, perasaan itu bukan kayak angkot, yang siapapun bisa naik. Pun perasaan itu juga bukan kayak angkot, yang sering banget ngetem.
Perasaan itu sesuatu yang berbeda. Hanya yang benar2 serius boleh naik; dan dia pun boleh jadi tidak akan ngetem terlalu lama menunggu penumpang.
*Tere Liye
**sy tidak sedang menghina angkot, hanya perumpamaan
 

Saya baru tahu kalau ISTRI-ISTRI pejabat itu juga punya ajudan--yg jelas dibayari oleh uang rakyat.
Karena selama ini yang saya tahu, bahkan Umar Bin Khattab saja berjalan kaki, membiarkan pelayannya naik unta, bergantian. Umar yang amat mulia itu, bahkan disangka pembantu, dan pelayannya adalah khalifah.
Kita jangan2, benar2 telah terputus dengan teladan agama sendiri.
 
Pak Menteri yang mulia bilang: "Jika ada satu kelas bunuh diri massal usai UN, baru bisa dipikirkan ulang penyelenggaraan UN."
Demikianlah kiranya tanggapan beliau. Diskusi selesai. Kalian yang nyuruh UN dihapus silahkan berdiri di pojok kelas sana, angkat satu kaki, kuping dijewer.
 

*"Setidaknya"
Setidaknya perasaan itu sifatnya gratis. Rindu misalnya, tidak bayar sama sekali, kalau rindu itu sampai bayar, aduh, bisa jadi fakir semua para pencinta di dunia ini. Rindu satu jam bayar 10.000, rindu sepanjang tahun, berapa biayanya?
Setidaknya perasaan itu juga sifatnya tidak diskriminatif. Jatuh cinta misalnya, tidak ada diskriminasinya, kalau sampai ada, bisa jadi yang pesek dilarang jatuh cinta sama yang mancung, nyatanya boleh2 saja. Banyak yg pesek berjodoh sama yang mancung, malah kisah cinta mereka spesial.
Setidaknya perasaan itu juga sifatnya bukan ujian nasional. Kalau rasa sayang itu ada UN-nya, bisa jadi, angka kecurangan membumbung tinggi. Lihat saja, orang2 bahkan ingin tahu sekali siapa yang melihat profile FB-nya? Bila perlu dengan software khusus.
Pada akhirnya, ketahuilah, setidaknya perasaan itu juga sifatnya berdiri sendiri. Bahkan ketika ditolak sekalipun, disuruh ngaca sana, dihina dsbgnya, kita tetap bisa bilang itu perasaan, bukan? Tetap bisa disebut cinta, tetap bisa dibilang sayang, bukan?
Maka lengkapilah dengan yang disebut: "kehormatan perasaan", maka insya Allah kita bisa selalu menjaga diri. Jangan tumpah ruah perasaannya, bikin becek di timeline, jangan mau diajak berdua2an, dipegang2, jangan mau. Jangan mau melakukan hal sia-sia hingga merusak diri sendiri. Barangsiapa bisa menjaga kehormatan perasaannya, dia akan bisa menjaga kehormatan dirinya.

Saya selalu menemukan komentar seperti ini di setiap postingan tentang ujian, seleksi sekolah, dan sejenisnya: "Makanya belajar dong, biar lulus. Kalau malas dan bego, jangan salahkan siapapun nggak lulus. Apalagi sampai bunuh diri."
Buat siapapun yang ringan sekali menulis komen ini, saya berdoa, semoga kalian besok lusa tidak dalam situasi: Sudah belajar habis2an, ternyata tetap tidak lulus (karena kalian ternyata lebih bego dibanding ribuan murid2 lain yang lebih pintar).
Ketahuilah adik2 sekalian, jika pendidikan itu hanya fokus mendidik yang pintar2 saja, murid2 paling rajin, maka siapa yang akan mendidik orang2 yang bego dan malas? Jika sekolah hanya mengurus angka2 di ijasah/rapor, orang2 jenius, maka siapa yang akan mengurus yang bahkan lambat sekali mengenal huruf A?
Mendidik adalah sebuah tuntunan, guru2 terbaik akan bisa menuntun, merawat benih seperti apapun, hingga bisa tumbuh kelak esok lusa menjadi sosok yang penuh budi pekerti luhur, jujur dan bermanfaat bagi sekitar.

Sahabat yang baik bagai tutup kaleng sarden, rapat menjaga aib dan rahasia kawan karibnya. Kedap udara.
Dan berbeda dengan kaleng sarden, dia tidak akan pernah membukanya atau bisa dibuka oleh siapapun.
 

Jadikanlah wajah tulus dan kebaikan, maka kita tidak perlu membeli bedak seumur hidup untuk membuat wajah cantik.
Jadikanlah bibir tersenyum bahagia, maka kita tidak perlu membeli sepotong lipstik untuk membuat bibir indah.
Jadikanlah mata yang selalu menatap bersahabat, maka kita tidak perlu membeli pewarna atau penebal alis.
Dan kabar baiknya, bahkan saat sudah keriput, tidak tertolong lagi oleh kosmetik fisik, maka kita justeru semakin menawan dengan kosmetik hati.

Hidup ini terbatas, dan hanya sekali. Jadi jangan habiskan dalam kenangan orang lain.

Jangan bersedih jika melihat banyaknya ketidakadilan bisa pongah di sekitar kita. Orang2 menyuap, menyogok bisa masuk pekerjaan/sekolah dan bangga sekali pula. Orang2 berkolusi, membeli hukum dan congkak pula. Orang2 begitu mudahnya zalim mengambil hak orang lain, dan kita tersingkirkan, dirugikan.
Jangan pernah bersedih hati. Allah tidak tidur. Selalu yakini ini, sambil tersenyum lapang. 

Jangan habiskan masa muda kita yang cemerlang hanya untuk pacaran. Rugi. Apalagi jika sampai membuat sekolah gagal, itu tekor berkali2.
Mending habiskan berpetualang melihat dunia, ikut gerakan sosial membantu daerah2 terpencil, belajar, melakukan hobi yang positif, itu jauh lebih keren.
Tenang saja, akan tiba masanya untuk jatuh cinta, punya pasangan jiwa sehidup-semati. Akan datang sendiri ketika kita sudah siap, matang dan mampu mengambil keputusan terbaik.

Dalam agama kita, membicarakan aib orang lain itu:
1. Jika benar maka itu masuk gunjing
2. Jika dusta maka itu masuk fitnah
Paham tidak, sih? Berhenti ngomongin aib keluarga, dsbgnya milik orang lain. Muslim yang baik tidak akan pernah mau dekat2 membicarakan aib orang, malah dipertontonkan. Tidak lucu sama sekali.
*Tere Liye

Beberapa hari lalu, sebuah sepeda motor melawan arus/arah, lantas menabrak mobil. Pemotor yang melawan arus ini meninggal. Polisi bilang, kita tidak lihat siapa yang salah, ini musibah, sebaiknya pengemudi mobil menyantuni pemotor. Kali ini, saya paham, sepertinya motor selalu dibela--meski jelas sekali melanggar hukum.
Kemarin2, sebuah sepeda motor ditabrak mobil dinas salah seorang Walikota, polisi membiarkan mobil dinas tersebut melenggang pergi. Kali ini, saya bingung, jadi bagaimana sebenarnya?
Saya banyak sekali bingungnya soal penegakan hukum di negeri ini. Mungkin memang sudah "Negeri Para Bedebah" sekali.

Menunggu seseorang yang ternyata tidak menunggu kita, itu sama saja seperti kita menunggu kereta lewat di halte bus.
Tidak akan lewat sampai kapan pun itu kereta.

Kekeliruan fatal dari orang yang jatuh cinta adalah: dia menginginkan cintanya berbalas, pengin tahu apakah seseorang itu juga suka atau tidak. Padahal sebenarnya, jatuh cinta itu sendiri sudah anugerah. Sudah spesial. Terlepas dari dibalas atau tidak, tahu atau tidak.
Ayo, jangan galau, lebih baik memperbaiki diri, belajar banyak hal, sambil terus menjaga diri, kehormatan perasaan, tahu batas2nya. 

Jika kita menyukai teman karena dia tampan, cantik, kaya, pintar, populer, baik dan semua kelebihan lainnya, maka itu sih lumrah saja. Rumus umum yang berlaku di dunia.
Tapi jika kita tetap berteman dengan seseorang yang jelek (maaf), miskin, biasa2 saja, tdk ada prestasinya, maka itu sebuah pertemanan yang baik.
Nah, jika kita tetap berteman dengan seseorang yang bangkrut, melakukan kesalahan, dijauhi orang lain, tetap membantunya, memberikan kekuatan, motivasi agar terus memperbaiki diri maka jelas itu sebuah keistimewaan. Amat spesial.

Ada beda yang besar sekali antara: "kebenaran" dan "pembenaran".
Kabar buruknya, jika kita terbiasa melakukan "pembenaran", maka lama-kelamaan, kita menganggapnya sebuah "kebenaran", bahkan bersedia membela habis2an. Hilang sama sekali kesempatan untuk berubah, atau minimal, mendengarkan pendapat orang yang sungguh peduli kepada kita.

Ketika kita memilih hidup dengan topeng, dan orang2 menyukainya. Maka sesungguhnya itu masalah kita.
Tapi ketika kita tampil adanya, dan orang2 ternyata tidak suka, bahkan membenci. Maka sesungguhnya itu masalah mereka.
Pahamilah perbedaan kedua hal ini.

Memilih pasangan itu bukan sekadar lihat fisik luarnya.
Karena kalau hanya itu, bukankah kalian sendiri pernah mengalaminya? Mengambil potongan paling besar, ternyata itu bukan rendang, itu lengkuas yang tertutup bumbu lezat. Luarnya memang sama2 menggoda, tapi ketika digigit rasanya berbeda.
Demikianlah.

Tidak ada komentar: