Selasa, 17 Juni 2014

ora lucu ; saat kita semua punya pilihan


Baca tulisan ini sampai selesai, jangan separuh2, dan jangan pula mengambil kesimpulan sepihak, karena akan saya simpulkan--biar tidak ada yang malah lari kemana2 menyimpulkannya.

Kalian nonton debat capres? Nah, lebih mudah menjelaskannya kalau nonton. Karena tulisan ini tentang debat capres.

Satu. Ketika ada selembar kertas nyempil di jas Jokowi, maka rusuh sudah media sosial dengan orang2 yang tertawa, menghina, menjelek2an kejadian itu. Ada yang bergurau, ada yang ikut2an, ada yang memang niat sekali mentertawakannya. Padahal apa salahnya? Duh, dek, keselip kertas itu bukan dosa. Membaca catatan saat ceramah juga bukan aib. Saya kasih contoh (biar saya saja contohnya), saya ini, pernah ketika mengisi acara, yang dihadiri banyak orang, penuh sesak satu aula besar, malah lupa menutup restliting celana. Tidak akan saya biarkan saya malu atas kejadian tersebut. Kenapa harus malu? Itu bukan aib, bukan dosa, dan jelas bukan mencuri, maling, zalim, cuma lupa.

Dua. Ketika Prabowo tidak tahu singkatan "TPID", maka juga rusuh sudah media sosial dengan orang2 yang mengolok2, merendahkan. Ada yang bergurau, ada yang ikut2an, ada juga yang memang niat menyerang hal begini. Padahal apa salahnya? Duh, dek, lagi2 akan saya gunakan contoh saya saja. Dalam sebuah acara, ada peserta yang nanya tentang apa pendapat sy soal "fan fiction", saya bengong, nanya balik, fan fiction itu apa? Silahkan saja orang2 menganggap sy penulis amatiran, masa' nggak tahu istilah itu padahal sudah nulis novel banyak. Tapi memang saya tidak tahu, mau dikata apa? Seorang profesor biologi di kampus tidak tahu nama tumbuhan yang ditanya mahasiswanya, tidak akan mengurangi derajat profesor tsb. Pun sama, ketika seorang ibu tidak tahu istilah "saleh" dan "salehah", bukan berarti anak2nya tidak bisa jadi anak yang saleh dan salehah kelak.

Semua ini benar2 ora lucu. Tingkah dan reaksi berlebihan dari pendukung dua pihak ini tidak lucu sama sekali. Kita punya masalah ahklak serius. Betapa mudahnya orang mentertawakan orang lain, hingga lupa, kalau dia juga tidak sempurna. Dan lupakan kalian, kita ditonton banyak orang. Anak2 kita, remaja2 kita, mereka menonton. Kalian mau jika mereka berpikir: "oh ternyata mentertawakan orang lain itu boleh." "oh ternyata malah asyik dan seru."

Ingatlah baik2, adik2 sekalian, akan saya simpulkan:
1. Dua calon presiden itu adalah saudara kita. Jelas sekali mereka memiliki banyak kesamaan dengan kita, maka berhentilah mentertawakan. Salah-satu dari mereka akan jadi presiden, suka atau tidak suka, masa' kita mau punya presiden yang ditertawakan, benci, hina, dsbgnya. Padahal mereka saudara kita sendiri. Buat yang muslim, jelas dua2nya itu muslim, dan bukan urusan kita soal kualitas muslimnya. Sungguh terlarang menghina sesama saudara muslim, ada hadist sahihnya.
2. Silahkan punya jagoan masing2, tidak ada yang melarang. Tapi jangan pernah berlebihan. Melihat orang lain tdk sependapat langsung marah. Melihat celah kekurangan orang lain, langsung ditertawakan, seolah senang dan puas sekali. Padahal apa poinnya? Apa manfaatnya? Biar heboh? Biar ramai? Kalau cuma biar ramai, ingatlah, bangkai busuk pun ramai dikerubung lalat. Mau?
3. Pada akhirnya, silahkan memilih calon presiden kalian pas hari pencoblosan. Tidak perlu rusuh, lebay, heboh. Tiap hari selalu memenuhi dunia dengan jagoannya. Ada loh, yang sudah nyoblos sejak Orde Baru, biasa2 saja tuh, masa' kita yang bahkan baru nyoblos sekarang, selama ini malah seringan golput, histerisnya minta ampun. Ora lucu, kan?

Pikirkanlah.

sumber : Notesnya Bang Tere

***

sebelum nambahin pendapat, saya mau tanya itu siapa yang nanyain "fan fiction" sama bang Tere, woy? HAHAHAHAHAHA.

oke, sekarang kita bahas ini, yuk. nyerempet dikit ke politik nih sekarang sekalipun tbh saya mah sebel untuk ga bilang jijik sama politik. why? sebab politik itu busuk. ayolah, akui saja. siapa yang tidak tahu buruk dan bobroknya akhlak pimpinan politik di Indonesia. ga, ga perlu kasih contoh yang "bersih" ke saya, kalian hanya membela kepentingan partai saja maunya. ((ahey))

buat yang demennya provokasi di jejaring sosial, sebenernya buat apa, sih, kalian ngejelekjelekin calon yang ga kalian dukung? terlepas itu dukung karena partai atau kehendak pribadi, ga sepantasnya orang yang (ngakunya) berpendidikan malah sibuk nyari keburukan orang lain. beneran eneg sama beranda facebook yang isinya bukannya banggain capres sendiri eh malah sibuk share keburukan capres lain. i mean, bersainglah dengan sehat kalau memang mau bersaing. kayaknya ilmu agamanya udah pada tinggitinggi.

entah itu yang dilakukan pencitraan atau bukan, setau saya ini yaa, kalau orang cinta (dalam hal ini memberikan dukungan) kepada seseorang (dalam hal ini capres-cawapres) yang dilakukan adalah memberikan perhatian penuh pada orang yang dicintai, bukan pada orang lain yang jadi pesaing. biar aja kek orangorang mau ngomong apa tentang pilihan kita, mau jelekjelekin juga, toh kemuliaan orang ga akan ketuker, kan? gitu juga takdir Allah untuk 9 Juli kelak. yang puguh harus dilakukan adalah dukungan positif, bukan malah bikin orang lain mandang jadi negatif.

sementara pada sepeninggal Rasulullah saw empat khalifah pertama justru berusaha menolak jabatan sebab mereka tahu konsekwensinya, akan tetapi karena umat membutuhkan pemimpin maka mereka harus mau menampuk posisi itu, jika keinginan pribadi yakinlah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali pasti lebih memilih hidup sebagai rakyat biasa, beribadah, dan bekerja untuk bekal akhirat. Indonesia juga butuh pemimpin, tapi tidak dengan saling menjatuhkan. fokus saja dengan kabaikan dan keunggulan capres anda, bukan malah menulis halhal negatif mengenai yang lain. cinta anda jelas salah kaprah, ingat kata bang Tere kesetiaan hanya kepada Allah, Rasul, dan agama ini, bukan pada partai.

cinta anda jelas tak berekspresi dengan benar saat anda lebih sibuk memikirkan yang lain dibanding yang anda cinta. saya memang buta politik, tapi saya tidak ingin memilih dengan membutakan mata dan hati saya. (itu juga kalau nanti memutuskan untuk milih )

Tidak ada komentar: