Kamis, 19 Juni 2014

let's talk about this one


tidak ada yang kebetulan. semua terjadi atas izinNya.

dua penggal kalimat yang ada di cover belakang buku yang sedang saya baca. kalimat yang cukup untuk membuat saya berhenti sejenak dari aktivitas membaca dan memandang entah kemana sembari tersenyum simpul membenarkan.

saya sebenarnya ga tahu mau nulis apa, ini yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya saja. oke, kita mulai ceritanya. beberapa hari yang lalu teman saya memberikan undangan pernikahannya, untuk saya pribadi dan untuk beberapa kenalan dan temanteman angkatan. dan saya meneruskanlah yaa ke beberapa teman secara personal kalau mereka dapat undangan walimah. dan, seperti biasa jika ada teman yang bicara soal pernikahan maka pertanyaan selanjutnya adalah, "kapan nyusul?"

yaa Rabbi, terimakasih atas hati yang sekeras baja ini ((hahahah)) i mean, wa ga kebayang kalau hati wa ini bukan buatan Tuhan, kalau ga ngerti arti sabar dan syukur. eh, seriusan, lho. ga semua manusia bisa nerima keadaan dia yang belum memiliki dan dimiliki sementara temantemannya sudah dan terus bertanya kepadanya, kapan? kapan? kapan?

jadi, untuk kalian yang suka nanyain hal begitu ke orang lain baik itu teman dekat ataupun sekadar teman haha hihi basa basi, cobalah berpikir sebelum bertanya, bipikir bagaimana rasanya menjadi orang lain itu. yang belum mendapatkan apa yang dia pikir seharusnya sudah dia dapatkan. situ, sih enak udah dapet, lah yang lain? bukan soal ngebet nikah atau apa, kasus ini sama saja dengan wisuda misalnya, atau mencari pekerjaan. coba, kamu masih jadi mahasiswa di saat lebih dari 7/8 teman satu kelas di kampusmu sudah lulus, sudah kerja, sudah nikah, sudang gendong anak, sudah bla bla bla, dan kamu ditanya sama teman kamu yang udah bahagia sejahtera, "kapan lulus?", kalau kamu ga punya hati yang buatan beton kayak gatot kaca udah harakiri kali. sama dengan sarjana yang udah lulus tapi belum berkerja, belum punya penghasilan tetap atau tetap berpenghasilan, kamu pasti ga mau kan kalau ditanya, "kapan nih kerja?" atau, "eh, si A udah di xxx ((kok malah mencurigakan)) lho.", atau pas lagi kumpul teman kamu bilang, "iyaa, alhamdulillah dapet promosi jabatan." dll dsb. gimana rasanya? pengen detik itu juga menghilang dari bumi sambil update status #akurapopo? emang situ timnas Spanyol yang harus balek kampong duluan dari Piala Dunia 2014?

ga enak, kan? nah, sama saja duhai sayangku. bagi setiap orang, mungkin terutama perempuan, pertanyaan "kapan nyusul nikah?", "eh, lo kapan mau merid, gue keburu punya anak 5.", dan lainnya itu bisa menyakitkan hati. belajarlah memahami bahwa semua orang punya jalan yang berbeda, punya kisah hidup yang ga sama. jika memang kamu benar perhatian dengan orang lain yang belum menikah yaa jangan cuma bisa nanya doang, dong, bantuin, kek. kita kan ga tau apa yang membuat seseorang itu belum menikah, belum wisuda, belum bekerja, belum punya anak, dan bahkan belum mati!

bisa saja dia memang ga mau menikah. bisa jadi dia masih merasa punya tanggungan yang membuat dia harus menunda keingan menikah, mungkin dia trauma. untuk kasus wisuda, mungkin dia memang sibuk di luar kuliahnya, atau dia kesulitan, alih alih memberi bantuan kok yaa malah bikin orang tambah down dengan tanya tanya mulu. bisa jadi dia sudah melamar pekerjaan tapi belum bisa lolos seleksi, atau dia memang memilih yang dia suka, menunggu kesempatan terbaik. kita kan tidak tahu.

gini deh, gampangnya, kalau kita tidak menghabiskan banyak waktu dengan dia, hanya sekadar chatting atau sms atau telepon atau bahkan "hanya" teman dekat waktu sekolah, kuliah, kerja, sedang kita tidak sama sekali mengetahui kesehariannya sekarang maka jangan pernah sekali-kali menjugde apa yang dia lakukan, yang tahu pasti apa yang orang lakukan di dunia ini yaa kan cuma dia, Allah, dan malaikat di sampingnya ((itu juga kalau ke kamar mandi malaikat ga ngintil)), kita blasss ga ngerti apapun tentang kehidupannya. wong yang tinggal serumah aja belum tentu paham, sebab pasti ada halhal yang tidak ingin kita bagi dengan orang lain, kan?

*skip beberapa jam*

barusan dapet tausiyah pernikah, ini kenapa jadi berkaitan gini? -____-

sudahlah nanti aja lanjutin topik ininya lagi, yaa. soalnya saya jadi kepikiran, asik kali yaa kalau LDM alias Long Distance Marriage? xixixixix. maaf, ini hanya pemikiran seseorang yang punya keinginan untuk menikah tapi masih kepengen punya waktu bebas untuk dirinya sendiri dan ga ngurusin orang lain. ((kok kesannya wa jahat?)) ((sudah cukup sebelum semua makin ga nyambung))

pay pay. 

*waves*

Tidak ada komentar: