Senin, 09 Juni 2014

cinta adalah kata kerja


” Ya Rasulallah” kata ‘Umar perlahan, ” Aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri”
Beliau SAW tersenyum. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebih cintamu pada diri dan keluargamu.”
“Ya Rasulallah”, kata ‘Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini”
“Nah, begitulah wahai ‘Umar”.

Membaca kisah ini dulu saya takjub bertanya. Sebegitu mudahkah bagi orang semacam Umar ibn al khaththab menata ulang cintanya dalam sekejap? Sebegitu mudahkah cinta diri digeser ke bawah untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta pada sang nabi? Dalam waktu yang sangat singkat. Hanya sekejap. Ah, alangkah indahnya jika saya bisa begitu. Bagi saya tak semudah itu. Cinta berhubungan dengan ketertawanan hati yang tak gampang dialihkan. Tetapi umar bisa. dan mengapa ia bisa? Ternyata bagi umar cinta adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berumit-rumit dengan apa yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal salihnya.

Maka mari kita sederhanakan persoalannya. Bahwa cinta, -sebagaimana Umar memahaminya- adalah persoalan berusaha untuk mencintai. Bahwa cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri melihat paras ayu atau jenggot rapi. Bahwa, sebagaimana cinta kepada Allah yang tak serta merta mengisi hati kita, setiap cinta memang harus diupayakan. Dengan kerja, dengan pengorbanan, dengan air mata, dan bahkan darah.

Di jalan cinta para pejuang, cinta adalah kata kerja. Biarlah perasaan hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalih kita

Mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus
Alirannya adalah kerja yang terus menerus


***


begitulah sepenggalan cerita dalam Jalan Cinta Para Pejuang, milik Ust. Salim A. Fillah dalam bukunya. kisah yang selalu membuat saya berpikir semudah itukah memutar kedudukan cinta di hati kita? mungkin, sebab Umar bertetangga, berkehidupan bersama Rasulullah saw. melihat akhlak beliau, selalu membersamai beliau maka mudah saja bagi Umar untuk mengganti tingkatan cintanya berpindah kepada Rasulullah saw bukan lagi kepada diri sendiri. sedang kita? yang tak membersamai beliau saw, yang mengenal hanya lewat cerita guru mengaji dan buku-buku. jujur, bagi saya sulit, teramat sulit. maafkan, sungguh, wahai manusia yang malaikat pun tunduk padamu, aku ingin mencintaimu sebesar cinta Umar padamu.

bagaimana bisa Umar mengganti cintanya secepat itu? sebab bagi Umar, cinta adalah kata kerja. bukan soal betapa tampannya seseorang, atau cantik mempesonanya dia yang membuat cinta, tapi cinta adalah kata kerja, kita bisa mencintai dengan mudah seseorang yang bahkan diseluruh dunia ia tak dianggap ada ketika cinta kita berubah jadi kata kerja, ketika cinta yang kita punya menjadi perbuatan. 

ketika kita mencintai seseorang, namun takdir tak membersamai dan akhirnya Tuhan menuliskan kisah kita bersama orang lain, maka cinta kita berubah menjadi kerja, kerja untuk mencintai orang tersebut. buan lagi sebab cinta maka kita kerja, tetapi sebab kerja kita akan menghasilkan cinta. mungkin benar, butuh proses yang bisa jadi tidak singkat. namun, kerja kita kan menemui Surga, insyaAllah.

seperti mencintai dunia, saat mulai merasa dunia ini begitu indah, tak bisa ditinggalkan, begitu mencintai standar makhluk di bumi, melupakan langit yang menyimpan segala perasaan paling baik. maka mari katakan saat ini juga, bahwa kita lebih mencintai akhirat dibandingkan dunia, bahwa kita lebih merindukan kehidupan abadi dalam kebaikan dibandingkan dunia yang fana. maka, semoga Rabb kita memudahkan langkahlangkah ini, menjadi jejak yang mengguncang 'Arsy menawan malaikat untuk senantiasa mendo'akan. aamiin.

Tidak ada komentar: