Jumat, 02 Mei 2014

status (bagian ketigapuluh tiga)


Apapun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat.
Apapun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga.
Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang.
*Tere Liye, novel fantasi "BUMI"

"Petarung yang baik itu, fokus pada kekuatan miliknya. Bukan fokus menceritakan kejelekan lawannya. Karena yang namanya kejelekan, boleh jadi kita punya sama banyaknya."
Nasehat orang tua ini relevan dalam setiap kasus, di sekolah, di kantor, di media sosial, di manapun adanya.

Ada nasehat lama yang dalam sekali: jika kita berkata jujur, maka apapun akan tertinggal di belakang; tapi saat kita berbohong, maka semua akan jadi urusan masa depan.
Tambahkan lagi satu nasehat lama soal ini: Orang yang suka berbohong itu pastilah pengingat yang sangat lihai. Jika dia bilang lupa, itu jelas salah-satu trik terbaiknya.
Lagi2 tambahkan satu nasehat lama: Berbohong itu seperti candu. Sekali dilakukan, maka mudah sekali mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Jangan coba2.
 

Jika kita terpaksa melakukan sesuatu; maka jangan pernah jadikan itu sebuah alasan. Lakukanlah hanya karena kita sendiri--karena tetap saja, mau sukarela atau terpaksa, kita yang melakukannya. Ambil sikap yang kokoh, jalankan dengan tulus.
Agar besok lusa, jika gagal, kita tidak menyalahkan siapapun atas keputusan tersebut. 

“Hidup ini terbatas dan hanya sekali. Jadi jangan habiskan dalam kehidupan orang lain--sedangkan kita tidak pernah jadi bagian hidupnya."
— Tere Liye
  
Untuk membuat sebilah pedang terbaik, pandai besi harus memanaskannya di tungku dengan suhu memerihkan wajah, menghantamnya berkali-kali, menempanya berulang-ulang, dan itu pekerjaan panjang penuh kesabaran serta ketekunan.
Sekali prosesnya selesai, beres, maka sepotong besi biasa, tumpul, jelek telah berubah menjadi sebuah pedang tajam, gagah, dan bisa menebas apapun. Indah sekali.
Begitulah kehidupan ini. Murid2 yang baik, para pembelajar kehidupan terbaik, harus ditempa2 berkali-kali, melewati situasi yang berat, jatuh bangun, melakukan kesalahan, hampir berputus asa, hingga akhirnya berubah menjadi seseorang yang ‘tajam’ dan bisa menebas ujian kehidupan manapun.
*Tere Liye

Sungguh bersyukurlah memperoleh pasangan yang tidak banyak janji2. Tidak mengapa dia tidak pernah menjanjikan rumah megah, mobil mewah, jalan2 ke Eropa dan Amerika, tidak masalah.
Karena cinta tidak dibangun dari janji2; cinta dibangun dari hal-hal kongkret, seperti komitmen dan kepercayaan. Akan tegak bangunannya.
 

Menjelang pemilihan umum 9 April, banyak sekali forward, seruan, anjuran, dsbgnya yang bahkan sama sekali tidak berdasarkan data, fakta, hanya sekadar menakut2i, memprovokasi, dsbgnya. Masuk lewat media sosial, SMS, BBM, whats app, dsbgnya.
Saya menghimbau agar siapapun jangan ikut2an semangat sekali menyebarkannya.
Pastikan isinya memang valid, pastikan isinya memang 100% benar. Karena jika isi forward-an tersebut adalah dusta, maka kita termasuk bagian penyebar dusta. Jika isi forward-an tsb berisi fitnah, maka kita termasuk bagian penyebar fitnah.
Berhati2lah.
*Tere Liye
 

Kalau besok jarinya sudah ditintain, semoga tidak lama lagi, juga bisa ditandai dengan cincin atau henna pernikahan. Tidak perlu menunggu lima tahun lagi.
Demikian.
*btw yg kampanye nyebut partai di page ini, bakal diusir sama satpam.

Kata siapa nikah itu cepat-cepatan? Yang ada nikah itu lama-lamaan. Siapa yang paling lama, langgeng, awet sampai aki-nini, bahagia dunia akherat.
Mungkin begitu. Jadi, tenang saja kalau belum dapat juga; semoga segera.

Tinta pemilu itu hanya bertahan paling lama seminggu, untuk kemudian pudar. Tapi tinta tanda-tangan di atas sepasang buku kecil itu bisa tahan selama2nya. 

Adik2 sekalian, ngomong/nulis di manja2in, digenit2in, itu bukan proses pendewasaan. Banyak remaja yang tumbuh dewasa tanpa perlu demikian. Jika bablas sampai usia 30, 40, kebiasaan ini justeru bisa merugikan diri sendiri. 

Saya berani menduga, kawan, ada ratusan bahkan ribuan TK, SD, atau institusi pendidikan lainnya yang tidak memiliki ijin lengkap di seluruh Indonesia. Silahkan saja cek. Ini ironis sekali, karena profesi lain, dokter misalnya, tanpa ijin lengkap, bisa masuk penjara jika tetap nekad buka praktek.
Maka di tengah komersialisasi pendidikan gila2an hari ini, berhati2lah mencari tempat sekolah anak2 kita. Label internasional, atau inter-galaksi, tidak menjamin membuat anak2 kita jadi Superman.  

Ketahuilah, saat sebuah nasehat tiba, dan kita justeru membela diri, mencari argumen, bahkan sibuk menjelaskan, maka itu jelas sekali sebuah pertanda: nasehat itu benar.
Bukankah begitu?
Pikirkanlah
 

Besok lusa, di tengah sesak pengapnya media sosial, boleh jadi akan banyak yang update status: "Lagi rakaat kedua shalat Isya, nih."
Itulah kenapa, Imam Syafi'i, ratusan tahun silam, bahkan sudah memberikan wasiat: cukuplah Allah yang tahu ibadah2 terbaik yang kita lakukan.
Urusan ini bukan soal memotivasi orang lain, menjadi contoh, dsbgnya. Urusan ini simpel tentang: kitalah yang tahu persis apakah sesuatu itu perlu diumumkan ke semua orang atau tidak. Ada yang perlu, ada yang tidak. Menahan diri, memikirkan minimal 2x sebelum menekan tombol "post", ditimbang2 sekali lagi, boleh jadi akan menjaga nilai ibadah tersebut. Pikirkanlah.

Orang bawa bantal, belum tentu akan tidur. Orang bawa handuk, pun belum tentu bakal mandi. Orang yang bawa piring, juga belum pasti akan makan.
Di dunia ini banyak sekali yang sudah terlihat begitu, ternyata memang belum tentu akan begitu. Termasuk salahsatunya, orang2 yang perhatian sama kita, belum tentu memang suka, memang sayang sama kita. Mungkin saja dia memang perhatian dan baik ke semua orang, atau kitanya yang korslet, merasa GR duluan.

Ketika pasangan yang telah menikah berpuluh2 tahun, suami istri, salah-satunya meninggal, maka yang menyedihkan bukan melihat ada yang ditinggalkan, ada yang sendirian.
Melainkan saat menyaksikan yang terbaring kaku, tidak bisa lagi mengusap air mata di pipi yang duduk menangis di sebelahnya. Itulah hakikat kasih sayang. Ketika tiada lagi yang bisa menghibur kekasihnya.
Saksikanlah momen2 ini pada kakek-nenek kita, orang2 tua di sekitar kita, saat cinta mereka "dihentikan" oleh waktu. Belajarlah dari hal2 ini, cinta bukan sekadar gejolak masa muda yang singkat. Belajarlah dari orang2 tua kita, tidak perlulah terlalu percaya novel2 gombal (apalagi karangan Tere Liye).

Salah-satu ciri dengki adalah: Kita tiba2 tidak suka dengan orang lain yang kenal pun tidak, dekat pun tidak, hanya katanya, katanya dan katanya saja.
*tidak perlu langsung bereaksi negatif atas nasehat lama ini, direnungkan justeru akan menuntun kita lebih damai.

Jatuh cinta itu bukan dosa apalagi kesalahan. Tetapi melanggar batas dalam kaidah agama itu baru terlarang.
Boleh jatuh cinta kepada seseorang? Boleh. Itu manusiawi sekali. Tetapi pastikan cinta itu dikelilingi oleh rambu2, agar tidak justeru merusak diri sendiri.
 

Mengalah itu bukan perkara orang lemah. Mengalah itu justeru adalah milik orang yang kuat, yang paham sekali, lebih baik mengalah daripada binasa semuanya, lebih baik mengalah untuk kebaikan esok lusa.

Jika buku yang kalian beli rusak dari sananya/halaman hilang/terbalik/tertukar, maka bisa ditukar ke tempat membelinya. Jika struk-nya hilang, bisa tukar ke penerbit langsung. Alamat mereka ada di novel tersebut, hubungi, tanyakan bagaimana prosedur menukar buku.
Semua pembeli berhak atas buku yang baik. Bahkan kalau mau menurutkan pendapat saya, buku itu kayak uang saja, kalau sudah lecek, bisa bawa ke bank, minta tukar yang baru--tapi ini saya bakal ditimpuk penerbit kalau disetujui.
 
 

Tidak akan ada yang perlu disesali jika nilai UN kalian tidak tinggi, hanya cukup lulus, sepanjang itu jujur dan hasil kerja keras sendiri.
Tetapi sungguh, akan menyesal sangat panjang hingga kelak jika nilai UN kita adalah hasil menyontek. Ijasah2 itu akan digunakan utk melanjutkan sekolah, mencari kerja, dan besok lusa untuk mencari nafkah. Panjang sekali rentetannya.
Jujur itu hebat. Percayalah, kita tidak perlu jadi seperti Kapten Amerika, kita hanya cukup jadi kapten diri sendiri yang senantiasa jujur dan bersahaja.
Selamat UN, adik2 sekalian. Ada banyak sekali yang mengirimkan doa buat kalian--bahkan dari orang2 yang tidak dikenali sedikit pun.
 

Guru kita, Imam Syafi’I pernah menyampaikan sebuah nasehat dengan lembut:
Sudah sepatutnyalah setiap muslim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi rapat, yang hanya Allah dan dirinya yang mengetahuinya.
Sudah sepatutnyalah demikian.
 

Nasehat orang tua kalian, bahkan lebih indah dibanding nasehat2 di page ini, juga di buku2 itu. Malah lebih afdol, karena mereka orang tua sendiri, dijamin kasih sayangnya murni.
Kalau di page ini, kasih sayang saya hanya sebatas page ini ramai, banyak yg beli buku2 saya, nonton film2, sinetron saya, dan besok lusa, jika diundang ke acara2, tarif saya semakin mahal.
Demikian keterusterangan ini disampaikan seterang2nya, berkali2. Agar tidak ada dusta diantara kita, dan kalian tidak keliru menganggap saya sebaik tulisan2 tersebut.
  
Boleh jadi, sesuatu yang kita anggap keren, hebat, dimudahkan, kita sukai sekali, dsbgnya itu ternyata adalah hal paling buruk bagi kita.
Boleh jadi, sebaliknya, hal yang menyebalkan, menyakitkan, tidak kita sukai, ternyata adalah hal paling baik bagi kita.
Kalimat2 ini bukan karangan saya--terlepas dari memang hobi saya mengarang2. Kalimat ini bahkan ada dalam kitab suci. Semoga nasehat ini membantu kita memahami banyak hal. Bersabarlah jika sedang susah, pun bersabarlah jika sedang senang, merasa di atas. Agar kita tidak tertipu sekali urusan dunia.
 

Ketahuilah, jika ada orang yang menyakiti kita, menjelek2an kita, maka itu masalahnya di dia. Tidak pernah di kita.
Jangan rendahkan diri dengan membalas, karena jika kita lakukan, itu membuat kita justeru setara dengannya. Lebih baik fokus atas banyak hal lain.

*Hal-hal lucu yang tidak lucu
Saya menemukan hal-hal lucu yang tidak lucu, betapa ajaibnya tanggapan manusia saat datang sebuah nasehat. Agar tulisan ini menjadi komprehensif, maka akan saya daftar hal-hal lucu yang tidak lucu tersebut.
1. Ketika datang nasehat, mereka berkata: "Urus saja urusan masing-masing"
Ini lucu tapi tidak lucu, karena hampir setiap manusia yang mengaku muslim tahu surah pendek yang penting sekali. Impossible jika mereka bilang tidak tahu, karena surah ini masuk dalam surah yang bahkan diajarkan saat TK, SD, usia kanak-kanak. Yaitu surat Al 'Ashr: (I) Wal Asri (II) Innal Insan nalafi khusr, (III) ilallazi na'amanu wa'amilus sallehati, Watawa saubil haq watawa saubil sabr.
Tahu, kan? Apa terjemahan surah itu? Here we go: (I) Demi masa, (II) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (III) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Jelas sudah, surah ini bilang manusia itu dalam posisi default rugi. Saya, anda, kita semua dalam posisi rugi. Kecuali yang melakukan tiga hal: beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasehati. Maka, orang-orang yang bilang urus saja urusan masing-masing, jelas sekali tidak paham agamanya.
2. Ketika datang nasehat, mereka berkata: "Jangan sok suci."
Jika urusan saling menasehati harus menunggu semua orang suci dulu, maka bubar kehidupan ini. Ini juga favorit sekali reaksi orang-orang yang ogah dinasehati. Kalaupun seseorang itu tidak suci, maka bukan berarti kewajiban untuk menasehati jadi gugur. Adalah jalan menuju kebaikan ketika seseorang rajin mengingatkan, menasehati, secara terus menerus, hingga akhirnya perbuatan maksiat, dosa yang dia lakukan menjadi berangsur-angsur berkurang. Ada banyak nasehat ulama besar atas hal ini, silahkan dibaca buku2 mereka. Betapa indah nasehat tersebut.
3. Ketika datang nasehat, mereka berkata: "Memangnya lu sudah melakukan apa yg lu bilang."
Bukan urusan kita menilai hal ini. Itu urusan Tuhan. Jelas bahwa: besar sekali kebencian Tuhan atas orang-orang yang tidak melakukan apa yang dia katakan. Tapi itu bukan urusan kita. Jika setiap kali nasehat datang, kita sibuk bertanya hal ini, memang lu sudah? Maka rusaklah keseimbangan dalam masyarakat. Kalaupun kita tahu seseorang itu memang munafik pol, pendusta maksimal, hanya pencitraan saja nasehatnya, jangan diserang dengan kalimat tersebut, didiamkan saja, jika memang tidak tahan lagi, lakukan secara personal dan langsung. Ini kadang mengenaskan sekali, masa' kita bertengkar ditonton banyak orang. Membuat orang lupa substansi nasehatnya.
Nah, jika masih mau ngotot tidak suka sama yg memberikan nasehat, silahkan besok lusa pas shalat Jum'at atau Idul Fitri, kalian berseru ke khatibnya, "Memangnya ente sudah melakukan apa yg lu ceramahkan, Khatib?". Berani tidak? Jangan beraninya hanya di media sosial. Yg bisa berlindung karena tdk kelihatan fisiknya.
4. Ketika datang nasehat, mereka berkata: "Bisa nggak sih dakwahnya lebih santun."
Tidak ada nasehat baik yang keliru. Yang salah itu orang2 yang tidak memberikan nasehat. Ketika kita kehilangan argumen secara substansif untuk ngeles, kehabisan argumen berdasarkan dalil untuk membantah sebuah nasehat, maka jangan pernah justeru menyerang sisi elementernya. Menyenangkan memang melakukannya, karena memberi kepuasan temporer di hati, tapi itu dusta hati yang kotor, tapi, tapi, tapi, itu semua kulit bawang halus yang kita ciptakan untuk membentengi kesalahan. Dan hal ini amat kontraproduktif, bayangkan, kita menyerang langsung secara terbuka ditonton banyak orang. Maka orang-orang lebih asyik menonton, bukan mendengarkan substansi nasehat. Saya menyarankan semua orang rajin membaca terjemahan Al Qur'an, membaca hadist, boleh jadi, kalian akan paham betapa banyaknya peringatan yang disampaikan dengan keras, perumpamaan yang sangat menohok hati (manusia disamakan dengan binatang ternak), dsbgnya.
5. Ketika datang nasehat, mereka berkata: "Lantas lu siapa yang menasehati?"
My dear anggota page, enyahkanlah ilusi itu. Emosi sesaat yang muncul karena kita menolak sesuatu masuk. Jangan pernah jadikan itu alasan untuk menyimpulkan sesuatu yang boleh jadi tidak benar, hanya prasangka kita saja. Kita kenal juga nggak dengan orang yang memberikan nasehat. Menurut orang banyak, justeru sebaliknya, bisa melihat dengan lebih kristal, kalau orang yang memberikan nasehat terbuka atas saling menasehati, terbuka atas pro dan kontra, dan jelas membiarkan orang lain membantah. Menurut ego kita saja yang tidak.
Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah nasehat menawan hati, yang saya temukan dari film: bahwa berbuat baik, termasuk di dalamnya saling menasehati adalah tanggung-jawab (responsibility). Tidak pernah menjadi pilihan (choice).
Nah, peradaban manusia bisa bertahan ratusan karena masih ada yang mengambil tanggung-jawab tersebut, jika tidak, maka dia akan hancur binasa oleh tangan manusia sendiri, atau digulung oleh azab Tuhan. Bacalah sejarah2 peradaban lama. Pastikan bahwa nasehat itu ada dua kaki: Amar ma'ruf, nahi munkar. Menyeru kepada kebaikan, itu sudah banyak, tapi yang mencegah kemungkaran, berdiri gagah mengingatkan hal2 mungkar, kita semua dibebani kewajiban tersebut.

Ketika kita dalam posisi salah, maka saran saya, jangan ngeles, berdusta, nyari2 argumen.
Karena ketahuilah, semakin berkelit maka kita justeru semakin terdesak. Pun kalaupun orang2 memang bisa ditipu berkali2, seolah2 kita sudah lolos, tapi ketenteraman dan kedamaian dalam hati kita tidak pernah bisa ditipu.

Menyontek saat ujian atau ulangan jelas sekali prilaku jahat. Menyuap waktu proses penerimaan pegawai dsbgnya juga jelas sekali prilaku jahat. Kita menyingkirkan kesempatan orang lain. Kita berbuat curang.
Akan terus terbawa hingga mati, karena dengan menyontek itulah rezeki kita besok lusa diperoleh. Ijasah2 hasil contekan. Pun apalagi dengan menyuap itulah rezeki kita besok lusa didapat, lebih jelaslagi situasinya.
Sebelum terlanjur, sebelum menyesal, hentikan kebiasaan menyontek dan menyuap ini. Baik yang memberikan contekan, maupun yang menyontek sama saja. Sama dengan menyuap dan menerima suapan.
Pikirkanlah adik2 sekalian.

Kesabaran dan kejujuran adalah ibu dan bapak dari segala ahklak mulia. Dari sini, akan dilahirkan berbagai ahklak terbaik lainnya.
Didik hati kita untuk senantiasa sabar dan jujur, maka insya Allah, tiada kesulitan, masalah, ataupun aral melintang dalam hidup yang bisa mencegah kita senantiasa damai dan tenteram.
 

Pak Jenderal, setahu saya sih, membeli barang bajakan (seperti jam tangan KW) adalah tindak pelanggaran pidana. Tidak jelas pajaknya, tidak jelas ini-itunya.
Di negeri ini, orang jualan Ipad asli tapi tidak pakai manual bahasa Indonesia saja masuk penjara; kenapa yang jelas2 beli bajakan malah bebas ya?
*Nasib jadi orang kebanyakan
 

Berhati2lah atas lima hal negatif ini di media sosial:
1. Pamer dan bergunjing tanpa disadari
2. Marah dan kebencian tanpa sebabnya
3. Ramai tapi sia-sia belaka
4. Menshare dusta/fitnah begitu mudah
5. Menjauhkan yang dekat, menghilangkan yg akrab
Tapi sungguh beruntung yang pandai, maka media sosial ini juga bisa positif:
1. Menemani & menghibur tanpa kehadiran fisik
2. Menasehati bahkan hingga di dalam toilet
3. Belajar tanpa perlu mengunyah bangku sekolah
4. Membuka pintu rezeki tanpa perlu membuka pintu sungguhan
5. Melanglang dunia tapi fisik tetap di tempat
 

*Laksana air

Bersabarlah seperti air. Terus mengalir ke bawah sesuai hukum alamnya, ketemu rintangan dia berbelok, ketemu celah kecil dia nyelip, ketemu batu dia menyibak, ketemu bendungan, dia terusss mengumpulkan diri sendiri, hingga semakin banyak, semakin tinggi, penuh terlampui bendungan tersebut, untuk mengalir lagi. Seolah dia tidak melakukan apapun, hanya diam, sabar, tenang, tapi sedang terus berusaha habis2an.
Dan ketahuilah, kenapa bersabarlah seperti air? Karena orang sedunia ini kadang abai, air itu adalah 2/3 seluruh permukaan planet Bumi. Jadi kalau kita sudah keliling dunia, mengunjungi 180 negara lebih, itu sebenarnya hanya 1/3 Bumi saja.
Bersabarlah seperti air, ketika orang2 tidak tahu betapa besar dan menakjubkannya rasa sabar tersebut.
 

Bukan main, KPK barusaja menetapkan Ketua BPK (dulu Dirjen Pajak) Hadi Purnomo sebagai tersangka kasus pajak BCA.
Apresiasi tinggi untuk kinerja KPK. Dengan kekuatan penuh, besok lusa, bukan keajaiban jika tampuk paling tinggi negeri ini pun bisa diseret ke penjara oleh KPK. Daftarnya sudah panjang, mulai Bupati, Gubernur, jenderal polisi, Bos BI, Menteri, Ketua Partai, Jaksa, Hakim, Ketua MK, Wakil Rektor kampus top, dsbgnya, dstnya.
Dukung KPK terus memberantas korupsi di Indonesia. Tidak ada lembaga se-kongkret ini di negeri ini. Siapapun yang hanya bisa mencurigai KPK, menuduh katanya, katanya dan katanya, saran saya lebih baik seperti nasehat orang tua: jika tidak bisa membantu, maka jangan merecoki orang yang sedang bekerja.
Bravo!
 

Tidak ada komentar: