Jumat, 30 Mei 2014

Sapardi Djoko Darmono ; dan serpihan sajak cintanya


Ia hanya ingin menangis lirih saja. sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik. di lorong sepi. pada suatu pagi.

Bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara ? bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca ?

Cemaskah aku kalau nanti air hening kembali, cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi. 

Ada yang ingin membebaskan hujan dengan telapak tangan yang jari-jarinya bergerak gemas - hujan pun tersirap: air mata. 
 
Ada yang memperhatikannya dari seberang sungai, tetapi ia tak melihatnya ada.
 

Kata hujan kepada lampu jalan, "Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam."

kita pandang daun bermunculan
kita pandang bunga berguguran
kita diam: berpandangan
 

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya. 

Dalam setiap kata yg kau baca selalu ada huruf yg hilang. Kelak kau pasti akan kembali menemukannya di sela2 kenangan penuh ilalang.
 

Pada suatu saat nanti, jasadku tak ada lagi, tapi dalam bait-bait sajak ini, kau takkan kurelakan sendiri.
 

Pandanglah aku yang masih sempat ada, pandanglah aku: sebelum susut dari suasana.

"Aku menyanyi untukmu” katamu. Aku diam, mendengarkan gerimis yang berderai, lalu bagai benang terurai dari langit yang dalam.

Pada suatu hari nanti, impianku pun tak dikenal lagi. Namun di sela-sela huruf sajak ini, kau takkan letih-letihnya kucari.

Tapi dalam bait bait sajak ini. Kau takkan kurelakan sendiri. Pada suatu hari nanti.

Tiba-tiba menjelma isyarat, Merebutmu entah kapan bisa kutangkap.

Bahwa kata-kata adalah segalanya dalam puisi.

Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang.

Nanti dulu, biarkan aku sejenak trrbaring di sini, ada yang senantiasa ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput.

Karena tak dapat ku ungkapkan kata yang paling cinta, ku pasrahkan saja dalam doa.

Mencintai angin harus menjadi siut, mencintai air harus menjadi ricik, mencintai gunung harus menjadi terjal.

Kita mungkin memang diciptakan, agar ada yang bisa merasa bahagia.

Setiap kali merindukannya, aku pun pergi tidur agar ia muncul. Andai kata tahu itu mimpi belaka, takkan mau aku kembali terjaga.

Kubiarkan cahaya bintang memilikimu. Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya gelisah.

Penyair hujan.. aku jatuh cinta pada cakrawala, maka tolong ajari aku cara menebas jaraknya.

Dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya.

Meruntuhkan segala penjara rasa, membebaskan aku dari derita ini, dukamu menjadi sejarah silam, dasarnya kujadikan asas.

Ia sprti yg engkau katakn, tdk sprti kita sma sekali. Tuhan, merawat sgla yg kita kenal & juga yg tdk kita kenal & yg tak pernah kita kenal.

Butuh beberapa lama untuk mengerti kamu, pada isi di dalam ruang, pada spasi di dalam jarak, pada rindu yang berserak.

Kukirimkan padamu beberapa patah kata yg sudah langkah, jika suatu hari nanti mrk mencapaimu, rahasiakan, sia-sia saja memahamiku.

Kau bertanya tentang puisi yang indah, berulang aku bilang tak tahu batas-batasnya, aku hanya tahu puisi yang begitu terbacakan

Tak bisa kutolak matahari, memaksaku menciptakan bunga-bunga.

Puisi adalah ingin mengatakan begini, tetapi dengan cara begitu.

Masih sempat kulihat risik cinta lewat meripatmu, untuk merapat, sejauh waktu yang paling kekal.

Puisi harus diterjemahkan ke puisi. Karena itu yang menerjemahkan puisi harus penyair.

Mencintaimu, harus menjelma aku.

Ia tampak gemetar karena rindu yang tak mungkin dipahami siapa pun.

Langit; dimana berakhir setiap pandangan, bermula kepedihan rindu itu.

Kita berdua saja, aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput - kau entah memesan apa.

Ku tak tahu mengapa merindu, tergagap gugup di ruang tunggu.
    

Tidak ada komentar: