Selasa, 01 April 2014

status (bagian ketigapuluh dua)


Hidup ini kadangkala persis melemparkan bola ke dinding, mantul lagi bolanya.
Maka, barangsiapa yang berbuat kebajikan, mempermudah urusan orang lain kalimat2 positif, prasangka2 terbaik, maka itulah yang akan mantul kepadanya, kebaikan diri sendiri dan kebaikan orang lain.
Tapi barangsiapa yang berbuat keburukan, mempersulit urusan orang lain, membuka aib, menjelek2kan, maka itulah yang akan mantul padanya, kejelekan diri sendiri, ditambah kejelekan orang lain yang dia kunyah juga.

Jaman dulu, para pencinta senang sekali melihat orang yang diam2 disukainya lewat depan rumah. Mengintip dibalik tirai. Tak berani menyapa.
Hari ini, para pencinta bersorak senang sekali melihat orang yang ditaksirnya sedang online. Kepo nan stalking. Pun juga tak berani menyapa.
Sama, kan? Atau beda?

Menunggu orang yang salah itu sama dengan kita datang ke sebuah resepsi acara, sudah disiap2kan, sudah datang jauh2, ternyata tiba di gedungnya, kosong melompong. Aduh, kita keliru hari dan tanggal, acara tersebut kemarin.
Jadi pastikan, cek berkali2, apakah kita tidak keliru.

Nasehat orang tua:
Melepaskan pergi sesuatu atau seseorang itu memang menyakitkan, tapi ketahuilah, bertahan dengannya boleh jadi berkali2 lebih menyakitkan.

Bersabarlah, tidak harus selalu karena kita memang kuat, tapi karena percaya saja itu janji Allah, orang2 bersabar pasti beruntung.
Banyak orang2 yang tersengal2 saat bersabar persis seperti berenang menyeberangi kolam dan kehabisan tenaga, maka semoga setelah terlampaui, besok lusa jadi sungguhan lebih kuat.

Jangan biarkan hari kita jadi menyebalkan karena omongan orang lain. Tidak usah dibalas. Diamkan saja.
Besok lusa, cara terbaik membalas orang2 ini adalah dengan menjadi lebih baik dari mereka.

Kita tidak pernah bertanya kapan pohon nangka, mangga atau rambutan di depan rumah kita akan berbuah. Kalaupun kita bertanya, toh, kita tidak tahu persis kapan. Siapa yang bisa memastikan detik, jam, hari dia akan mulai berbuah.
Tapi saatnya tiba, maka niscaya akan muncul bunga dari tangkainya, yang kemudian menjadi buah kecil, besar, lantas matang. Tapi ketika waktunya memang benar2 telah tiba, maka niscaya berbuahlah pohon2 tersebut, tanpa bisa dicegah, ditunda, dipercepat.
Semua punya momen dalam hidup ini. Momen terbaiknya. Jika tumbuhan saja punya, maka jangan cemas, apalagi manusia yang memiliki akal. Pasti punya momennya. Bersabarlah.
*Tere Liye
 

*Cinta yang tak tergapai
Kalau kita tidak bisa memperoleh apa yang kita cintai, maka my dear, cintailah apa yang kita miliki sekarang.
Karena cinta sejati, bukan sekadar angan, keinginan, mimpi. Tapi dalam banyak situasi cinta sejati adalah rasa syukur dalam keseharian. Dan ini berlaku dalam banyak hal. Ketika kita tidak bisa memperoleh sekolah/kampus yang kita cintai, kita inginkan, maka cintailah sekolah/kampus kita sekarang, boleh jadi ada rahasia besar di dalamnya. Jangan dibanding2kan, jangan merasa minder. Pun saat kita tidak bisa menggapai jenis pekerjaan yang kita cintai, idamkan, maka cintailah pekerjaan kita sekarang. Terus bekerja dengan sungguh2, tidak banyak mengeluh, tidak malas2an, apalagi penuh perhitungan adalah bentuk kongkret dari cinta sejati, kebersyukuran.
Sungguh tidak akan mengerti hakikat terdalamnya cinta, orang2 yang selalu saja mendefinisikan cinta itu adalah sesuatu yang harus dikejar, dimiliki. Karena boleh jadi, ketika sibuk mengejarnya, dia akan kehilangan kesempatan bahwa di sekitarnya berserakan miliknya.
Kita menyukai seseorang misalnya? Siang malam terbebani oleh perasaan tersebut, lantas apa yang harus dilakukan? Kalau kita pejuang tangguh, silahkan berangkat mengejar seseorang tersebut, taklukkan, miliki. Jadilah pangeran gagah perkasa. Tapi saat semua sudah digapai, lantas kenapa? So what? Apakah kemudian seperti di film2, akan muncul tulisan besar "the end"? Selesai. Penonton pulang, film berakhir bahagia.
Nyatanya tidak, di dunia nyata, perjalanan masih terus berlanjut, dan boleh jadi, ternyata semua tidak seseru yang kita harapkan. Ketahuilah, pernikahan paling bahagia antara dua kekasih hati bahkan tidak selesai saat mereka menikah. Film kehidupan itu justeru baru berubah menjadi sungguhan drama, thriller, aksi, atau horor saat telah menikah. Masalah datang silih berganti. Pertengkaran meletus. Dan dalam titik paling ekstrem, kehilangan cinta yang dulu sungguh tinggi menyala.
Maka my dear anggota page, kalau kita tidak bisa memperoleh apa yang kita cintai, selalu cintailah apa yang kita miliki sekarang. Keluarga kita sekarang, teman2 kita sekarang, pekerjaan kita sekarang, sekolah/kampus kita sekarang. Maka semuanya sungguh akan menjadi cinta sejati kita.
  
Adik2 remaja, jangan mengira kalau kalian meletakkan foto mesra bareng pacar itu keren, seru, apalagi malah bangga.
Aduh, itu sama sekali tidak ada bagusnya. Dari sisi manapun, tidak ada.
Yang keren itu kalau kita bisa menjaga diri dari hal2 merusak. Yang keren itu kalau kita sekolah yang rajin, melanjutkan ke sekolah yang diinginkan, dan terus berprestasi. Jangan terbalik memahaminya. Karena nggak akan ada pula yang terpesona saat kita mengumumkan ke seluruh dunia: "Aku punya pacar loh."
 

Jangan menyakiti perasaan orang lain yang justeru berharap kepada kita. Jangan merendahkan perasaan orang lain yang justeru meletakkan dengan tinggi posisi kita.
Perasaan bukan permainan, melainkan kepastian dan kejelasan.
Tidak akan pernah ada orang yang sempurna cocok dengan kita. Bahkan sahabat terbaikpun bisa berbeda pendapat dalam banyak hal. Juga suami-istri yang paling romantis sekalipun, tetap saja tidak sepaham soal warna cat rumah, mau nonton apa, atau malah tentang pendidikan anak2.
Jadi, lebih baik fokus pada bagian yang cocok, lantas menghormati bagian yang tidaknya. Dengan begitu, sebuah hubungan akan berjalan awet nan langgeng.

Kita yg ngebet betul ingin menyatakan perasaan, khawatir banget doi duluan digaet orang, lantas pacaran adalah orang yg tidak paham bahwa: cinta adalah perjalanan panjang, bukan tujuan.
Oh, well, kalau cinta hanya tujuan, jangankan kita yg cuma pengin say i love you, pengin dekat2 selalu, pacaran, lihatlah, bahkan banyak pasangan suami istri yg bercerai, runtuh bangunan cintanya, karena tidak sanggup melanjutkan perjalanan tersebut.
Cinta adalah perjalanan panjang, super2 panjang. Jika belum pasti, belum siap, maka siapkanlah bekal terbaik. Apa itu? Banyak, buat cewek, belajar benerin genteng bocor, benerin pintu rusak karena boleh jadi besok lusa suaminya dinas di luar kota. Buat, cowok, belajar nyuci, ngepel, masak, karena boleh jadi besok lusa istrinya sakit.

Terkadang kita tidak memerlukan penjelasan dari orang lain. Kadangkala, justeru 'penjelasan' dari kita untuk kita sendirilah yang menenteramkan hati.
Terkadang, kita tidak memerlukan argumen orang lain. Kadangkala, justeru argumen dari kita untuk kita sendirilah yang dibutuhkan untuk membuat damai hati.

Menahan diri tidak memberitahu betapa hebatnya kita, betapa banyaknya tempat yg kita kunjungi, betapa hebatnya anak2 kita, betapa kerennya pendidikan kita, atau sekadar betapa lezat dan asyiknya tempat kita makan siang adalah latihan yg baik.
Ditahan dengan kesadaran terbaik, bahwa memang tdk semua harus diumumkan. Kalau hari ini gagal, semoga besok lusa berhasil menahan diri.

Tuhan tidak pernah tidur. Dia tahu segala dusta dan culas. Ada yang disingkapkan di atas dunia ini, ada yang tunggulah waktu kelak.

Musuh dari ketidakbahagiaan itu adalah kita sendiri.
Bukan orang lain. Bukan orang lain. Dan sekali lagi: bukan orang lain.

Membenci hanya menyakiti diri sendiri.

Bisa menyuruh2, memerintah2 tidak selalu simbol kekuasaan. Terkadang boleh jadi simbol kelemahan dan ketergantungan. Bahkan mungkin ketidakmampuan diri sendiri.

Salah-satu hal ajaib dari pertemanan adalah: tidak ada jadiannya, tidak ada akadnya, tidak ada nembaknya, tidak ada.
Tiba2 sudah teman baiklah. Dan teman baik selalu mempunyai ruang untuk teman baik berikutnya, berikutnya dan berikutnya.
 
Anak perempuan berhak sekolah setinggi mungkin. Bahkan dengan dia hanya bercita2 jadi ibu rumah tangga sejak kecil, lebih berhak lagi dia sekolah setinggi dia mau dan mampu.
 
Kecantikan perempuan itu ada di akhlak dan cara berpikirnya. Bukan di tempat lain.
Tapi nasehat ini memang hanya bisa dipahami oleh cowok2 yang meletakkan ketampanannya di akhlak dan cara berpikirnya juga.
 

Tidak ada yang bisa menyakiti kita. Sepanjang kita tidak mengijinkannya. Mau jungkir balik orang2 melakukannya, tapi kita merasa baik2 saja, santai, maka kita akan baik2 saja.
 
Jika kita bahagia karena puji dan puja orang lain; maka itu fatamorgana saja. Tidak ada lagi yang memuji, menyanjung, mengelu2kan kita hanya tertunduk bisu.
Bahagialah karena diri sendiri.
 

Maafkanlah. Dan bukalah lembaran baru.
Kesalahan itu ibarat seperti halaman kosong, lantas ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan type ex, dengan apapun. Tapi tetap akan tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Maka, agar semuanya benar2 bersih, bukalah lembaran kertas baru yang benar2 kosong.
Maafkanlah. Dan bukalah lembaran kertas baru.
 

Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita, tidak perlu siapapun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan.
Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita itu keren atau tidak, bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia.
Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.

Ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi ternyata kemudian gagal, maka sebenarnya kita sudah sukses.
Setidaknya sukses melakukan yang terbaik. Soal hasilnya, itu ketentuan mutlak Yang Maha Menentukan.
Itulah hakikat ikhtiar. Hakikat ketekunan.
 

Kita tidak bisa melarang orang lain membenci kita, menjelek2kan, memfitnah, dan sebagainya. Kita tidak bisa mengendalikannya.
Namun kita selalu bisa mengendalikan bagaimana cara menyikapi orang2 ini. Boleh saja kita marah, jengkel, namanya juga manusia, tapi jangan sampai hal itu membuat kita sama rendahnya seperti mereka. 
 

Lewatilah lautan kesendirian; Maka semoga kita akan bersyukur atas setiap kebersamaan.

Saya tidak tahu dengan kalian, tapi saya sering ilfil lihat poster, iklan, spanduk resmi milik pemda, kementerian, lembaga pemerintah yang memajang foto pejabatnya.
Jika itu promosi pariwisata misalnya, apakah wajah pejabat ini menjual? Turis jadi tertarik datang setelah melihat cengirannya? Jika itu himbauan hemat energi, semangat koperasi, UKM dsbgnya, memangnya senyum pak pejabat jadi bisa menginspirasi? Mana kadang desain posternya nggak banget--yg penting wajah pejabatnya terlihat besar.
Poster, spanduk, iklan2 tersebut dibayar oleh rakyat dengan uang pajak, dan mahal. Kecuali kalau pejabatnya bayar sendiri, silahkan saja, mau eksis sampai ubun2. Mending uangnya untuk subsidi sekolah, kesehatan, atau perbaikan infrastruktur.
 

Alamilah lengang ditinggalkan, maka kita akan mengerti definisi menunggu.
Dan semoga bisa menghargai orang yang menunggu kita.

Jangan membuat rumit diri sendiri.
Sebuah buku atau tulisan tidak akan berkurang nilainya karena satu-dua typo, salah ketik, salah sebut nama, salah EYD, dan sebagainya. Kecuali kita memang suka rese hal2 kecil.
Pun sama, kebaikan orang lain tidak akan berkurang nilainya karena dia melakukan kesalahan kecil, khilaf ringan, dan hal2 sejenis lainnya. Tidak ada yang sempurna. Fokuslah pada kebaikan yang lebih besar.

Siapa yang meletakkan cintanya hanya di mata, maka hanya sampai disanalah awal dan akhir semua kisah.
Siapa yang meletakkan cintanya hanya di kaki dan tangan, maka juga hanya disanalah tempat terjauh yang bisa digapai.
Tapi barangsiapa yang meletakkan cintanya di hati, mematuhi aturan main dan senantiasa bersabar, maka perjalanan cintanya bisa menyentuh jauh sekali.

Hidup ini adalah perjalanan.
Semakin lama, maka semakin sedikit sisa waktu milik kita. Yang semakin membesar adalah kenangan di masa lalu. Maka, sungguh beruntung orang2 yang memiliki banyak kenangan indah, dan terus menumpuk kenangan indah hingga waktunya habis.
Dia bisa mengenang banyak hal membahagiakan di ujung sisa waktu yg semakin mengecil, mengecil, dan akhirnya padam.
 

Bahkan orang tua pernah menasehati: Anakku, bahkan bangkai pun dikerubuti oleh lalat.
Ramainya orang2 di sekitar kita, tidak pernah bisa jadi ukuran kemuliaan, melainkan ketenteraman hati sendiri. Kita tidak perlu sanjung dan dukungan jutaan orang. Kita cukup membutuhkan kedamaian diri sendiri.
Jangan memaksakan hal2 yang tidak bisa dipaksakan. Roda belakang motor tidak akan pernah berhasil mengejar roda depan, semau apapun dia. Dan ingat selalu, kita tetap bisa bahagia tanpa harus menjadi roda depan.

Bahagia atas kebahagiaan orang lain adalah salah-satu sumber kebahagiaan.
Catat itu.
 
 

Seorang guru pernah menasehati:
Pemuda itu dinilai dari dua hal: ilmu yang dimilikinya, serta prinsip2 kebaikan yang digigitnya.
Dan atas dua hal tersebut, ada dua hal pula yang akan segera terlihat sekali dari pemuda tersebut: ahklak yang mulia dan kebermanfaatan bagi orang lain.
Tiada dua yang pertama, pun nihil dua yang kedua, maka tidak ada pula sebutan "pemuda" bagi seseorang. Jangan sia2kan masa terbaik kita, 20 tahun lagi kita sendirilah yang akan memetik hasilnya.

Hari ini, orang2 lebih berjuang habis2an mempertahankan hubungan pacaran tapi setelah menikah bubar karena alasan sepele saja, sudah tak cinta.
Hari ini, orang2 lebih mesra dan aduhai sayangnya saat pacaran, untuk hambar nan dingin setelah menikah.
Tentu saja kalian jangan mudah percaya dengan kalimat2 saya ini, silahkan observasi sendiri di sekitarnya, jadikan pelajaran.

Cinta itu tidak selalu melekat pada kebersamaan, tapi melekat pada doa-doa yang disebutkan dalam senyap.
Itulah kenapa seorang Ibu bisa terus mendoakan anak2nya meski terpisah samudera dan benua. Pun seorang istri/suami bisa terus membisikkan doa2 terbaik bagi pasangannya, meski telah terpisah oleh kematian. Tidak bersama secara fisik, tapi bersama dalam doa-doa terbaik.

Jika kita ingin mengubah nasib anak2 kita, keluarga kita, maka mulailah dari memberikan pendidikan terbaik kepadanya.
Karena pendidikan, bukan hanya membuat yang bodoh jadi pintar, atau yang miskin jadi kaya, tapi lebih dari itu: mengubah yang lemah jadi kuat prinsip2 kebaikannya, yang tidak peduli menjadi peduli. 

Kita tidak perlu sibuk2 menjelaskan ke orang lain jika kita merasa benar dan yakin. Buat apa? Toh, pendapat orang lain tidak akan mengganggu kebenaran dan keyakinan tersebut.
Maka, jika kita ternyata repot2 memilih menjelaskan, membela diri, bahkan ber-argumen kepada orang yang bahkan kita kenal juga tidak, dilakukan pula di tempat orang lain, itu sih simpel menunjukkan ada keraguan diri sendiri.
Itulah kenapa guru2 dulu yang dalam wawasannya, menolak berdebat. Dia cukup menyatakan pendapatnya di hadapan murid2nya; atau menulis buku2, tapi tidak akan bersedia berseru2 di tempat orang lain, berbantah2an, berdebat, pun bergegas harus berkomentar--padahal tidak ada pula yg meminta berkomentar.

*Pengorbanan seberapa banyak?
Kenapa ibu rumah tangga itu mulia sekali? Kenapa? Karena dia membesarkan anak2? Bukan itu jawabannya, karena banyak orang yang bisa membesarkan anak2 sama baiknya dgn mereka, baby sitter misalnya, dibayar. Karena dia mendidik anak2? Bukan. Karena toh juga banyak yang bisa mendidik anak2 lebih baik, guru, trainer, instruktur misalnya. Semakin profesional, semakin jago--meski semakin mahal bayarnya.
Kenapa ibu rumah tangga itu mulia sekali? Jawabannya adalah: karena mereka mengorbankan hidup mereka demi orang2 di sekitarnya berkembang. Pengorbanan, itulah kata kuncinya.
Sungguh, tidak terbilang ibu rumah tangga yang bisa saja jadi wanita karir, bisa menggapai CEO, direktur, tapi dia memilih menjadi ibu rumah tangga di rumah saja. Tidak terbilang ibu rumah tangga yang bisa jadi profesor, doktor, jadi apapun yang mereka mau karena pintar dan brilian. Tidak terbilang dari mereka yang bisa jadi Presiden, Menteri, astronot, dokter, artis, apapun itu, tapi ketika mereka memilih menghabiskan waktu menjadi ibu rumah tangga, mereka telah mengambil langkah yang amat mulia: mengorbankan hidup mereka demi membesarkan dan mendidik anak2nya, mendukung suaminya dari belakang, menjadi orang dibalik layar. Mereka mengorbankan hidupnya agar orang disekitar berkembang.
Kenapa menjadi guru itu amat mulia? Juga sama rumusnya, karena guru2 terbaik, hei, sejatinya guru2 terbaik ini bisa sukses kalau dia mau jadi pengusaha, mau jadi insinyur, tapi mereka memilih mengajar dengan kesadaran penuh, dengan kecintaannya. Mereka mengorbankan hidupnya dengan cukup menjadi guru saja, mendidik anak2, agar anak2 ini berkembang baik, menjadi kebanggaan. Tahu resikonya, tidak akan kaya raya dengan jadi guru. Jalan yang dia pilih. Itulah kenapa guru amat mulia.
Disekitar kita, banyak sekali jenis pengorbanan yang indah. Sebatang lilin membiarkan tubuhnya meleleh demi terang sekitar. Seorang Ibu rela hidup-mati demi melahirkan anak tersayang. Seorang Ibu rela tidak beli baju demi anak2nya beli baju. Tidak tidur demi anak2nya tidur. Pengorbanan2 yang mengharukan. Dan kita, Kawan, selalu bisa mengambil jalan itu, jalan pengorbanan. Bersedia menukar hidup kita demi kebahagiaan orang2 yang kita sayangi.
Ketahuilah, semakin lapang hati kita memilihnya, semakin lega, maka semakin indah jalan pengorbanan itu. Dilakukan penuh kesadaran, dilakukan penuh ihklas dan tulus. Biarlah, biarlah orang2 yg kita cintai berkembang, orang2 menggapai cita2, mimpi2 terbaiknya, kita memutuskan menjadi jalan terbaik bagi mereka, men-support, mendukung. Nama kita boleh jadi tidak akan diukir di prasasti, nama kita boleh jadi tidak akan diingat siapapun. Tapi kita akan selalu mengukir, mengingat ketulusan pengorbanan yang kita lakukan. Itulah kenapa Ibu rumah tangga amat mulia dan spesial. Mereka adalah pahlawan dalam sebuah pertempuran besar egoisme, keinginan diri sendiri.
Dalam banyak keterbatasan, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, maka sudah sepatutnya kita bersabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan.
Insya Allah, semoga yang terbaik memang akan datang.

Ketahuilah:
Menunggu seseorang yang ternyata tidak menunggu kita, itu sama saja seperti kita menunggu kereta lewat di halte bus.
Tidak akan lewat sampai kapan pun itu kereta.

Saya kira tidak ada gunanya membenturkan realitas wanita karir vs ibu rumah tangga. Tidak banyak manfaatnya.
Yang paling penting adalah: memastikan setiap anak perempuan memperoleh pendidikan terbaik, apapun pilihannya besok lusa, bahkan jika dia hanya bercita2 jadi ibu rumah tangga, lebih mendesak dan serius lagi pendidikan yang dia butuhkan.

Surat cinta untuk wanita:
"Dear hati, inilah yg terjadi jika kalian memutuskan sesuatu tanpaku. Tertanda: otak."
Surat cinta untuk laki2:
"Dear otak, bukankah sudah berkali2 kubilang jangan memutuskan tanpa aku? Tertanda hati."
Rumus ini tdk selalu benar, tapi bisalah menjelaskan dua kutub yg berbeda antara wanita dan laki2.
 

Ikut menyebarkan fitnah, tuduhan, kesimpulan yang tidak ada buktinya, hanya mereka2, hanya katanya adalah tindakan fitnah, menuduh itu sendiri.
Semoga kita terhindar dari hal2 seperti ini. Ingatkan teman2 kita, saudara2 kita jika melakukannya. Jangan sampai media sosial ini jadi lautan kelam penuh kebencian.
 

Dalam urusan cinta, boleh jadi benar untuk mengikuti kata hati. Namanya juga cinta, terkadang susah dijelaskan. Tapi pastikan, ikuti selalu dengan akal sehat, minimal untuk memastikan kita tidak sedang merusak diri sendiri 

Yang kita sangka adalah ‘akhir’ sebuah perjalanan, justeru kadang adalah ‘awal’ perjalanan yang lebih panjang.
Menikah, itu bukan akhir kisah cinta, tapi adalah awal kehidupan cinta yang lebih besar, lebih banyak masalah, dan lebih menuntut semua persiapan—bukan sekedar cinta.
Lulus sekolah, itu bukan akhir kisah pendidikan, tapi adalah awal kehidupan pembelajaran yang lebih berkelok, lebih serius, lebih menuntut semua persiapan—bukan sekadar ijasah.
Maka, mari menyiapkan diri untuk awal perjalanan berikutnya yang sudah menunggu, bukan sekedar tiba di akhir perjalanan sekarang.

Jika ada dua pilihan sama baiknya, dan kita pusing sekali harus memutuskan apa, maka boleh jadi justeru jangan pilih dua2nya. Ingatlah, jika sebuah pilihan masih menyisakan pilihan lain, maka itu berarti dua2nya bukan yang terbaik, pilihan semu. Karena pilihan terbaik selalu menyingkirkan opsi lain. Unggul mutlak.
Tapi ini tips main2 saja, sy tdk bertanggungjawab kalau kalian keliru memutuskan

Saya suka repos hal ini di page: "Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dipaksakan; seperti roda belakang tidak bisa bisa menyusul roda depan. Penerimaan akan membuat hati jadi lapang. Ihklas."
Selalu saja akan ada yang komen bersilat lidah seperti: "Tapi kalau motornya kebalik, bisa kok roda belakang menyusul roda depan" atau "Ah nggak juga, kalau Allah menghendaki, apapun bisa terjadi."
Itulah yang disinggung oleh Imam Syafii dalam nasehat legendarisnya kenapa ilmu tidak melekat pada kebanyakan orang, karena mereka hanya sibuk bersilat lidah, ngeles, lucu2an, bahkan mengomentari hal2 yang semua orang juga tahu.
Itu juga yang disinggung oleh guru2 lain dalam nasehat penting: orang2 yang mau berpikir, selalu bicara jika dia merasa kalimatnya penting. Tapi orang2 yang mulutnya tidak tersambung ke pikirannya, selalu bicara karena itulah yang dia bisa lakukan.
Semoga masih ada yang mau belajar nasehat2 lama ini di tengah hiruk pikuk media sosial.

Liverpool menang lagi.
Sepertinya dahaga juara itu semakin dekat dengan air segar. Semoga terus begini, atau endingnya jadi tambah bikin dahaga. Enam pekan tersisa, Chelsea dan City ditunggu di stadion legendaris: Bang Thoyib tidak akan jalan sendirian.

Apapun yang kita lakukan, pasti ada yang suka dan tidak.
Maka, jangan fokus pada orang2 yang membenci kita. Tekor dua kali, karena apapun yang kita lakukan, tetap dibilang jelek. Rugi waktu, rugi perasaan. Abaikan saja. Jika mengganggu, jauhi, bangun benteng kokoh agar tidak bisa dekat2.
Lebih baik fokuslah pada yang mendukung kita.
Selalu begitu rumusnya.

Bagaimana mungkin kita bisa berharap memperoleh pasangan yang sempurna dengan mudah? Cukup dicari dengan modal tampilan fisik? Lewat kosmetik dan baju2?
Bukankah bahkan seorang putri harus mencium kodok baru memperoleh seorang pangeran tampan nan baik hatinya. Pun seorang putri yang lain, harus mencintai dengan tulus seorang "Beast", baru akhirnya memperoleh pasangan sejatinya. Juga sebaliknya, seorang putri harus mencintai "Shrek" si ogre, untuk mendapatkan pasangan terbaiknya.
Maka, memperbaiki diri sendiri, sekolah, belajar, melalui kesulitan2, pahit getir akan membawa kita pada kesempatan terbaik. Dan kalaupun sudah memperbaiki diri tapi tidak dapat juga, minimal kita punya diri sendiri, yang telah menjadi seorang "putri" dengan pemahaman baiknya. Itu lebih dari cukup.
 
Anak laki2 dan anak perempuan itu sama dalam urusan ketrampilan rumah. Juga harus pintar nyuci baju, piring, ngepel, nyetrika, nyikat kamar mandi, menjahit pakaian robek, pun jika memungkinkan terampil masak.
Keliru sekali yang bilang pekerjaan rumah itu urusan anak perempuan saja. Entah itu ajaran darimana.

*Berdamai dengan masa lalu
Saya suka sekali menyebutnya: "berdamai dengan masa lalu".
Di hampir setiap novel/tulisan yang membahas tentang masa lalu, saya menyebutnya begitu. Bahkan jika kalian mengikuti tulisan2 saya, jangan2 hafal dengan pilihan istilah ini.
Kenapa saya menyebutnya demikian? Karena masa lalu memang tidak bisa diajak perang, diajak ribut. Buat apa? Kalaupun perang, yang kalah, pasti kita juga. Pun kalau menang, yang jadi arang, kita sendiri juga. Siapa sih yang bisa melawan hari kemarin? Meski hanya sedetik lalu, masa lalu itu jauh sekali jaraknya dari kita, tidak bisa direngkuh dengan kendaraan super apapun (kecuali di film2). Masa lalu sudah tertinggal di belakang, tidak bisa diulang, tidak bisa di undo, tidak bisa di restart. Tidak bisa.
Kenangan, orang2 yang pernah mampir dalam hidup kita, kejadian, semuanya sudah berlalu. Suka atau tidak, bahagia atau sebal, kecewa atau nelangsa, game over.
Maka, pilihan tersisa adalah: berdamai. Itulah opsi paling masuk akal. Bukan gencatan senjata, bukan negosiasi, bukan pula tawar menawar. Berdamai. Yang ajaibnya, sekali bisa dilakukan, maka perdamaian sejati memang akan terwujud di dalam hati. Jika tidak terwujud, simply itu berarti kita memang tidak pernah bersedia "berdamai dengan masa lalu".
Demikian.

Lebih baik kelamaan jomblo daripada kelamaan pacaran.
Apalagi, lebih mending jomblo tapi bahagia daripada pacaran makan hati tiap hari.
Sibukkan belajar ngepel, masak, nyuci, nyetrika di malam minggu seperti ini. Bakal disayang orang-tua. Atau baca buku, nonton DVD serial favorit, main futsal, badminton, basket bareng teman2, daripada keluyuran nongkrong di jembatan malah masuk angin.
  
Tahun 2001, hanya ada satu negara di dunia yang me-legal-kan pernikahan sesama jenis, yaitu, Belanda.
Tahun 2014, sudah 20 negara, terakhir adalah Inggris yang baru saja mengesahkan UU tersebut beberapa hari lalu.
Tahun 2028, boleh jadi seluruh dunia me-legal-kan pernikahan sejenis. Saya tidak sedang bergurau. Apakah di Inggris misalnya, tidak ada pemeluk agama (yg tahu persis, di kitab manapun, pernikahan sesama jenis amat dilarang)? Banyak. Tapi ketika orang2 tidak peduli lagi, urus masing2 soal moralitas, maka apapun bisa saja terjadi.
Panggil kepedulian kita. Bentengi keluarga kita dengan nilai2 agama, atau besok lusa, bersiaplah menyaksikan dua cowok macho saling ciuman di angkutan umum, di tempat2 publik--dan mereka dilindungi hukum.

Tidak ada komentar: