Kamis, 05 Desember 2013

little women ; kisah perjalanan 4 anak perempuan Mrs. March


mengambilnya sebagai "pelarian" sebab saya tidak mendapatkan apa yang saya cari di sebuah toko buku ternyata menjadi sebuah kisah menarik secara emosional antara saya dan keempat anak perempuan keluarga March --terutama Jo!--
  
pada awalnya jelas ada keraguan memutuskan membawa buku ini ke kasir dan membayarnya, sebab saya bukan penyuka buku terjemahan terlebih novel, pengecualian untuk Sherlock Holmes, Poirot, dan apapun tentang detective.

Little Women bercerita tentang empat anak gadis Mr. and Mrs. March ; Meg, Jo, Bert, dan Amy. empat karakter yang berbeda, empat kebiasaan yang berbeda, namun mereka disatukan oleh hal bernama cinta dalam sebuah keluarga. 

judul buku : Little Women
penulis : Louisa May Alcott
penerjemah : Utti Setiawati
cetakan : I, Maret 2013
penerbit : Qanita, Mizan Pustaka
desain sampul : Windu Tanpan
 
***


pada akhirnya, saya akan selalu bersyukur sudah membeli buku ini dari toko buku dan menjadikannya ada di salah satu bagian terbaik rak buku saya. sungguh, keempat anak gadis Mrs. March mengajarkan banyak hal. terutama Jo. TERUTAMA JO! ((dipertegas))

memangnya ada apa, sih, dengan Jo?

anak kedua pasangan March ini benar-benar mencuri hati saya, karakternya yang kuat dan periang, mampu meluluhkan hati pembaca. dan saya pikir dia adalah tokoh utama dalam buku ini, Jo mengajarkan banyak hal, setia kawan, kesabaran, kerja keras, dan yang paling penting Jo mencintai buku-buku. ha. ha. ha. ha. sungguh menyenangkan saat membaca kalimatkalimat saat Jo menemukan buku-buku yang bertumpuk, perpustakaan, dan segala hal yang ia suka.

tapi, saya bingung harus menjelaskan dari mana tentang buku ini, saya tidak akan spoiler banyak hal, termasuk untuk kata-kata indah ((seperti biasanya)) sebab kalian harus membaca langsung untuk mendalami setiap karakter peran gadis-gadis penuh cinta ini.

dan bagian paling menyenangkan adalah saat Jo mendapat surat dari ibunya, saat ibunya sungguh bahagia sebab Jo bisa menahan amarahnya, menyadarkan Jo bahwa ia perduli meskipun mungkin kepedulian itu tidak terlihat, dan saat bagaimana ibu mereka menasehati Jo untuk berteman dengan Tuhan, menceritakan segala sesuatunya kepada Teman terbaik.

pada akhirnya, saya berharap bahwa akan ada Little Women yang lain, sebab sungguh ((seharusnya)) cerita ini belum selesai.