Sabtu, 16 November 2013

#BukuDalamHidupku - rembulan tenggelam di wajahmu ; sebuah novel pembangun jiwa


akhirnya sampai juga pada urutan pertama buku paling berpengaruh dalam hidup saya.


menjadi novel tere liye yang saya beli pertama kali, novel yang membuat penasaran dengan seorang laki-laki berperasaan wanita ((seperti itu biasanya beliau dibayangkan)). untuk hitungan sebuah novel yang dipinjam oleh seorang teman hingga saya rela mengeluarkan dana lagi untuk membeli novel ini yang kedua kalinya, tentu tidak perlu dipertanyakan kembali apakah saya menyukai buku ini.

judul buku : rembulan tenggelam di wajahmu
penulis : tere liye
penerbit : republika
desain cover : Eja-creative14
percetakan : PT Gramedia, Jakarta
cetakan : VI, Maret 2011
tebal buku : iv+426 halaman 20.5 x 13.5 cm

***

memulai kisah dengan deskripsi seorang gadis kecil di sebuah taman panti asuhan, seorang gadis kecil yang menangis dalam kesendirian. sebuah pembuka yang manis meski berbalut kesedihan. cerita kemudian berlanjut ke sebuah rumah sakit yang dihuni seorang pria yang terbaring sakit di ranjang rumah sakit, seorang pria yang memiliki banyak pertanyaan dalam hidupnya.

novel ini menjelaskan tentang apa yang kita cari dalam hidup, apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan kita bisa mendapatkan sebuah jawaban. sebuah kisah tentang seseorang yang penuh tanya dalam hidupnya, sebuah kisah tentang setiap hati manusia yang selalu bertanya, "apakah hidup ini adil?"

berapa banyakkah kita sudah bertanya kepada Pencipta jagad raya, tentang sebuah keadilan? tentang banyak hal yang mungkin tidak kita capai sementara orang lain justru memilikinya. berapa banyakkah kejadian yang kita alami dalam hidup ini yang membuat kita bertanya-tanya mengapa kita mengalami banyak hal yang tak kita suka, menghadapi banyak kondisi yang tidak bisa kita terima.

buku ini tentang pertanyaan, tentang jawaban-jawaban, tentang banyak kalimat yang membuka hati saya, tentang sebuah kisah yang menyadarkan diri saya, tentang sebuah penjelasan, dan tentang keadilan Tuhan.

"banyak mereka yang tidak menyadari kalau penjelasan itu sudah datang. mungkin karena mereka terlalu dibutakan oleh kehidupan itu sendiri. mungkin karena mereka tidak pernah memiliki kemampuan untuk menggapai penjelasannya. mungkin juga karena mereka terlalu berharap penjelasan itu datang dengan amat fantastis. dalam banyak hal, banyak kasus, penjelasan itu justru datang dengan sederhana."

demikian sebuah kutipan indah dalam buku ini, setiap orang kadang tidak menyadari bahwa kita, manusia, yang terkadang selalu menuntut banyak penjelasan atas berbagai kejadian yang kita alami ((terutama kejadian yang menyesakkan)) justru mendapatkan penjelasan dari kejadian atau hal yang kecil, yang kita pikir tidak ada hubungannya sama sekali, hal kecil yang tidak kita harapkan. atau mungkin karena hal kecil yang menjadi penjelasan itu bukanlah hal yang kita harapkan selama ini, egois, bukan? kita lebih sering menuntut dibanding menerima penjelasan yang sesungguhnya.

"begitulah kehidupan. robek tidaknya sehelai daun di tempat tersembunyi semua sudaah ditentukan. menguap atau menetesnya sebulir embun yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi, hutan paling jauh. semua sudah ditentukan."

"bagi manusia, hidup ini sebaab akibat, Ray. bedanya, bagi manusia sebab akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. kehidupanmu menyebabkan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu. saling mempengaruhi, saling berinteraksi."
 
"itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. setiap keputusan yang mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, semua itu akan mereka sadari sebagai bagian dari siklus bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab akibat bagi orang lain. dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik bagi orang lain."

sebuah novel tentang sebab-akibat sebuah kejadian yang dialami manusia, menyadarkan pembacanya ((terutama saya)) tentang sebab akibat sebuah kejadian, bahwa apa yang kita lakukan, kita alami, berakibat kepada orang lain. sebab kita tidak hidup sendiri, kita bisa jadi menjadi sebab orang lain terluka, kecawa, atau bahagia.

"kehidupan ini selau adil. keadilan langit mengambil berbagai bentuk. meski tidak semua bentuk itu kita kenali, tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil? hidup tidak adil?"
 
"kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi. rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan itu sementara. pemahaman dan penerimaan yang tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi."

"tahukah kau, orang-orang yang suka menyalahkan orang lain atas kejadiaan buruk yang menimpanya cenderung sepertimu. membalas. ketika kau tidak mampu membalasnya ke orang yang menjadi penyebaabnya, tidak bisa membalassnya ke Tuhan, maka kau membalasnya ke bentuk lain."

"kalau Tuhan menginginkannya terjadi, maka sebuah kejaadian pasti terjadi, tidak perduli seluruh isi langit-bumi bersekutu menggagalkannya. sebaliknya, kalau Tuhan tidak menginginkannya, maak sebuah kejadian niscaya tidak akan terjadi, tidak peduli seluruh isi langit-bumi bersekutu melaksanakannya."

"kejadian buruk itu datang sesuai takdir langit. hanya ada satu hal yang bisa mencegahnya. satu hal, sma seperti siklus sebab-akibat sebelumnya, yaitu : berbagi. ya, berbagi apa saja dengan orang lain. tidak. sebenarnya berbagi tidak bisa mencegahnya secara langsung, tapi dengan berbagi kau akan membuat hatimu damai. hanya orang-orang dengan hati damailah yang bisa menerima kejadian buruk dengan lega."

demikianlah poin penting dalam novel ini. sebuah pertanyaan yang selalu berkecamuk dalam pikiran Ray, sng tokoh utama, sebuah pertanyaan yang tak usahlah dipungkiri, sering sekali melintas dalam pikiran kita.

apakah hidup ini adil? bacalah novel ini dan kalian akan tahu sendiri jawabannya. tentu tidak akan dijelaskan jawabannya dengan kalimat-kalimat ala motivator ulung. tapi cukup dengan kisah seorang Rehan Raujana kita akan mengatupkan bibir setiap ingin melafadzkan pertanyaan tersebut.

"apakah hidup ini adil? jawabannya: YA." 

membaca novel ini untuk yang ke-eeeerr entah berapa kalinya ((saya tak pernah merasa bosan)) sekalipun sudah hafal betul kejatdian apa dihalaman berikutnya. novel ini selalu membawa ketenangan, memberikan jawaban yang bahkan mungkin atas pertanyaan yang belum saya lontarkan. sebuah novel yang jika ada orang yang bertanya kepada saya, "baca buku apa yaa, yang bagus?", maka novel ini akan selalu menjadi jawaban pertama.

dan bagian Ray menatap rembulan adalah satu dari sekian part terbaik dalam buku ini. ahhh, saya selalu mencintai rembulan, ia mungkin tidak bulat sempurna iatapi satu hal yang membuat saya mencintai rembulan adalah karena rembulan bersinar dalam kegelapan, ia bersinar sekalipun mendung menggantung diangkasa, ia bisa muncul di sore hari dan tak menghilang sekalipun fajar sudah datang.

kembali ke novel ini, lantas seberapa berpengaruhkah novel ini dalam hidup saya? maka saya akan berikan kalimat pamungkas di penghujung novel yang membuat saya tidak lagi bertanya kepada Tuhan, apakah hidup ini adil, atau apakah memang hal yang saya alami pantas saya dapatkan.
 
"begitulah kehidupan. ada yang kita tahu. ada pula yang tidak kita tahu. yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri."

"andaikata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenangkan."

1 komentar:

Muh Mailia mengatakan...

Baru minggu kemaren aq baca buku ini.. bagus sekali isinya ..
dan sekarang masih baca novel karya tere liye yang lain,, "Ayahku Bukan Pembohong" dan ntar berlanjut "Rindu"

Salam kenal ya mba,, ditunggu kunjungan baliknya http://muhmail.blogspot.com/2015/08/lima-pertanyaan-dalam-novel-rembulan.html