Senin, 02 September 2013

the man who loved book to much ; saat buku-buku membuatmu rela melakukan segalanya


"barang siapa yang mencuri buku ini dari pemiliknya, atau meminjam dan tidak mengembalikannya...semoga dia menderita kelumpuhan, dan seluruh anggota badannya hancur... semoga cacing menggerogoti isi perutnya, dan ketika akhirnya dia menerima hukumannya yang terakhir, semoga api neraka membakarnya untuk selama-lamanya." - kutukan dalam manuskrip abad pertengahan dari Biara San Pedro di Barcelona.

membaca paragraf di atas saat membuka halaman awal buku ini membuat saya ingin menuliskan kata-kata tersebut di setiap buku saya, huhu, jebal benar sekali, setiap pemilik buku pasti tidak menyukai jika buku yang ia pinjam tidak dikembali-kembalikan. pengalaman.

***

judul buku : the man who loved book to much ; kisah nyata tentang seorang oencuri, detekdif, dan obsesi kesusastraan
penulis : Allison Hoover Bartlett
penerjemah : Lulu Fitri Rahman
editor : Indradya Susanto Putra
penerbit : pustaka Alvabet
tata letak sampul : Priyanto 
tat letak isi : Dadang Kusmana

mengangkat kisah nyata kedalam sebuah buku bukanlah hal yang mudah, seorang penulis harus benar-benar yakin bahwa apa yang ia tuliskan adalah sebuah kebenaran. the man who loved book to much adlaah sebuah buku yang ditilis oleh Allison Hoover Bartlett, seorang jurnalis yang tertarik dengan buku setelah ia membaca sebuah buku keluaran lama yang ia temukan dengan temannya.

kemudia ia berfikir untuk menulis tentang pencurian buku yang marak terjadi, beruntung ia kenal dengan seorang kolektor buku langka yang juga menganggap dirinya seorang detektif yang berambisi untuk menangkap pencuri buku langka.

berhasilkah sang detektif menjebloskan pencuri buku ke dalam penjara? atau justru si pencuri yang selalu berasumsi bahwa ia mencuri sebab terlalu mencintai buku lah yang akan terus berkeliaran tanpa ada yang sanggup menghentikan.

buku ini berisi kisah yang akan membuat para pencinta buku-buku semakin menghargai apa yang ia miliki, bahwa sebenarnya buku-buku itulah yang berjasa untuk kita.


***


lembarannya, ketika dibalik, menimbulkan bunyi samar, mirip bunyi bendera yang berkibar di sore berangin, dan memunculkan bau kering seperti kayu, kombinasi bau lapuk dan manis yang mengingatkanku kepada buku-buku tua kakek-nenekku. aku selalu menghubungkan aroma buku tua dengan waktu penulisannya, seolah baunya muncul langsung dari lingkungan dalam kisah tersebut.

orang-orang memiliki ikatan emosional dengan buku yang mereka ingat ketika masih anak-anak, katanya, dan seringkali itulah jenis pertama buku yang dicari kolektor.

kolektor Amerika yang sudah almarhum, Robert H. Taylor, berkata bahwa buku langka adalah, "buku yang sangat kuinginkan dan tak bisa kutemukan."

mungkin lebih menyedihkan, adalah ketika buku itu berakhir. aku begitu menghargai keadaan larut dalam sebuah buku sehingga aku membatasi jumlah halaman yang boleh kubaca setiap hari agar bisa menangguhkan akhir yang tak terindahkan, dan terusir dari dunia itu.

aku jadi teringat bagaimana buku itu datang kepadaku. buku itu adalah cacatan pribadi satu bab kehidupanku, sebagaimana buku lainnya terhadap bab-bab kehidupanku yang lain. pola itu berlanjut.

menemukan buku yang kelangkaan, keindahan, sejarah, atau asala usulnya bahkan lebih memikat daripada kisah yang tercetak di dalamnya.

ketebalannya, halamannya yang berpinggiran kasar, keindahan cetakannya, sampul kulitnya yang terbuat dari linen atau kulit, bau kertasnya.

aku mulai bermimpi tentang membangun perpustakaan raksasa, dan aku akan duduk di meja kerja yang menyenangkan. aku akan membaca atau menulis. akn ada bola dunia di atas meja.

"kalau kita memiliki rak buku tambah Gilkey, "semakin sering diisi, semakin banyak bukunya, semakin besar nilainya, semakin bagus kelihatannya... dengan buku, semuanya terasa indah, kita bisa membacanya kapan saja. dan rak bukupun bagian dari atmosfer rumah, bukan? rak buku bisa memperkaya suasana rumah. mestinya setiap rumah punya rak buku. pasti rasanya menyenangkan -andaikan harus menjamu seseorang yang belum pernah kita temui- mengajak tamu masuk  lalu berkata, "ini perpustakaanku."".

bagi Gilkey, sebanyak apa pun uang yang dimilikinya, jumlah itu tak akan pernah cukup untuk semua buku yang didambakannya.

perbedaan antara orang yang menghargai buku, bahkan mencintainya, dan seorang kolektor tidak hanya terletak pada tingkat kasih sayangnya. bagi yang pertama, rak buku adalah sejenis memoar. di dalamnya terdapat buku dari masa kecil, buku kuliah, novel favorit, buku-buku aneh pilihan si pemilik. bagi kolektor, rak buku merefleksikan tidak hanya apa yang telah dibacanya, tetapi juga mengenai dirinya. "kepemilikan adalah hubungan paling intim atara orang dengan benda. bukan berarti benda bisa menguasinya; orang itulah yang menguasai benda." tulis kritikus budaya Walter Benjamin.

berada diantara buku-buku yang sangat menarik itu, dengan jumlah yang begitu banyak, sudah cukup menyenangkan bagi pecinta buku kebanyakan -tetapi bagi Gilkey, itu merupakan kesuksesan yang penting dan mengesankan.

"buku itu benda visual, yang tampak menarik ketika berjajar di rak." John Gilkey

buku dapat mengungkapkan banyak hal dari seseorang.

aku menghabiskan semua uangku untuk membeli buku-buku pada hari itu. sampai sekarang aku masih melakukannya. 

semakin banyak buku yang didapatkannya, semakin banyak yang diinginkannya. mengoleksi itu seperti dahaga, dan memiliki satu buku lagi tidak memuaskan dahaga untuk memiliki buku lainnya.

"kau melihat sesuatu yang tak mampu kau beli, tetapi kau tetap saja membelinya.", katanya. "istriku menyebutnya kecanduan, tetapi menemukan buku-buku itu sungguh menyenangkan."

buku mestinya selalu didapatkan karena rasa cinta dan kegembiraan terhadapnya.menganggap buku sebagai objek investasi akan mengubahnya menjadi sekadar barang dan komoditas.

jika kau mengoleksi apa yang kau cintai dan kau nikmati, dan selalu membeli yang terbaik sesuai kesanggupan, dan membeli buku dalam kondisi terbaiknya, buku-bukumu akan selalu terbukti menjadi investasi yang baik.

bagi seorang kolektor, satu tidak pernah cukup, dan ketika suatu koleksi lengkap, masih ada koleksi lain yang perlu dilengkapi, dan bahkan mungkin sudah dimulai. proses pengumpulan itu tak pernah berakhir.

kami ingin buku-buku ini bersama dengan orang yang mencintai mereka, orang-orang yang mau membeli mereka, menghargai mereka.

buku-buku yang "mungkin tak akan pernah  kita lihat lagi seumur hidup" itu bukan sekadar objek yang indah, dan keadaan fisik mereka entah bagaimana membuat isi mereka seperti lebih bermakna.

ketika membuka buku-buku itu dan mulai membaca, aku senang membayangkan dari mana asal mereka, siapa lagi yang pernah membaca mereka. rasanya seolah ada lebih dari satu kisah yang bisa mereka ceritakan.

duduk di perpustakaan, dikelilingi rak-rak tinggi berisi buku, aku merasakan sejarah ilmu pengetahuan yang sangat kaya sebagai sesuatu yang nyata, yang rendah hati sekaligus menginspirasi.

buku memakukan kita dalam sesuatu yang lebih besar daripada diri kita, sesuatu yang nyata.

ketika aku sedang berjalan-jalan dan hampir setiap orang yang berpapasan denganku terasing dengan dunia iPod atau ponselnya, mau tak mau aku berpikir bahwa hubungan kita dnegan buku -setelah berabad-abad ini- masih sangat penting. koneksi semacam inilah yang membuat buku-buku tua orangtua dan kakek-nenekku begitu istimewa bagiku.

selalu saja ada datu buju yang tak pernah bisa kau dapatkan.

hampir setiap orang yang kutemui selama penulisan buku ini begitu terinspirasi oleh kisah, oleh buku.

***

jadi, buat kamu-kamu yang wanna know what people's do to get something they love tooooo much, coba baca buku ini, tapi beli yaaa jangan kayak si John Gilkey :D

Tidak ada komentar: