Kamis, 15 Agustus 2013

untuk yang terakhir kalinya


ada mendung menggelayut dalam senjaku, berbisik lewat angin yang tak semilir namun memabukkan,  aku terhempas kembali dalam dunia nyata.

"sudah selesai", katamu, malaikat yang menemaniku dalam detak, dalam setiap harap.

bolehkah aku menjatuhkan beberapa butiran saja? ia ingin tumpah, ruah, membanjiri semua pusara. namun sepertinya akan sia-sia.

aku memulainya dengan kata-kata, memikat dengan kalimat berbaur rasa, dan membingkainya dalam do'a-do'a, maka akan ku akhiri juga dengan kata, yang tetap ku bingkai dalam do'a, sekalipun berganti nama.

samar, bayangmu pergi. tak akan ku kejar lagi. sampai waktu sendiri yang mengembalikanmu dalam kisah abadi.

mungkin isyaratku tak sampai, atau menguap saat mengangkasa berbaur awan lalu terjun bebas menghujanimu dengan air yang memantulkan seluruh kerinduan, namun mendung membuat matamu buta akan kehadiran setiap sapa, malu-malu ia, sekalipun kau tutup pintu gerbang di halaman depan.

jika lelahku bernyawa, ia sudah bersandar di bahu dan menangis dalam keheningan. cukup matikan lampu kamar ini, dan ia sudah pasti 'tak ingin bermimpi lagi.

"kali ini saja, biar pemilik semesta menjalankan cerita tanpa tangan-tangan jahil kita." , bisik lembut malaikatku, yang setiap pukul 3 pagi mendentang lonceng agar aku terbangun dari segala resah menggelisah.

mungkin malam ini aku akan terlelap dalam peluk malaikatku yang selalu berbaik hati, yang kini tengah terluka, lelah sebab semua asa sudah terhempas jauh, tak lagi menjadi kepingan, ia sudah seperti debu, berterbangan mencari ke penjuru dunia, siapa yang seharusnya memilikinya.

aku terluka, lalu membalutnya, terluka lagi, membalutnya lagi, hingga jika terjadi kembali, sungguh aku 'tak bisa bayangkan sepeti apa perban yang kubutuhkan.

luka itu, 

menganga ia,

biar saja.

mungkin esok akan ku tabur garam, lalu perasan jeruk nipis, atau sebotol kecil cuka? yang mana yang paling menyakitkan? biar ia segera bangun dari tidurnya, dan menuju hati yang sesungguhnya.

aku yang lelah, biarkan terlelap sekalipun gudah. selamat bermimpi indah, malaikatku.

dan ketika aku berhadapan dengan cermin di sudut kamar, malaikat itu memantulkan bayangan hatiku sendiri. 

Tidak ada komentar: