Selasa, 13 Agustus 2013

the road to Persia ; saat matamu menelusuri jejak kaki di tanah Iran dalam kata-kata


menutup 216 halamannya, tak pernah menyesal menjadikan ia berdiri di rak kesayangan. sebab sang penulis begitu paham bagaimana menarik hati seseorang yang selalu (mengaku) mencintai puisi dan kisah-kisah masa lalu.

judul buku : the road to Persia, menelusuri keindahan Iran yang belum terungkap
penulis : Afifah Ahmad
cetakan : pertama, Februari 2013
penyunting : M. Iqbal Dawami
perancang sampul : Yellow P.
pemeriksa aksara : Arum & Titish A.K.
penata aksara : Adfina Fahd
foto isi : koleksi pribadi penulis
penerbit : bunyan ( PT. Bentang Pustaka )

***



"sejarah adalah sebuah siklus puisi yang ditulis oleh waktu pada kenangan manusia." - Percy Bysshe Shelley

membaca kalimat di atas di bab pertama buku ini bercerita, saya tercekat sejenak membayangkan betapa indah kalimat tersebut. perpaduan sempurna salah dua dari sekian sisi yang saya sukai dalam kehidupan ini. kata-kata terangkai yang menceritakan keindahan kisah lampau. puisi dan sejarah.

lembar-lembar berikutnya hanya menambah kekaguman sekaligus keirian saya kepada penulis. kekaguman atas begitu cantiknya ia bercerita tentang setiap sisi Iran yang ia datangi dan jujur tentu saja saya iri sekali ingin juga berkunjung ke tanah Persia. mendatangi setiap makam para penyair dan museum-museum bersejarah, lalu ke desa batu yang seperti negeri dongeng itu, menjelajah gua airnya, atau sekadar bepergian dengan taxi yang disetiri oleh perempuan Iran yang gagah.

Afifah Ahmad, sekalipun tidak dengan gamblang menceritakan seluk beluk Iran, tidak seperti beberapa penulis yang menceritakan dengan detail justru membuat keingintahuan pembaca semakin membuncah. membaca baik demi bait kata-kata yang ia rangkai sedemikian rupa membentuk kalimat yang membuat hati berdesir sebab seluruh imajinasi tertarik ke dalam setiap paragraf, membentuk gambaran tentang Persia yang begitu indah.

Afifah menceritakan tentang seni syair dan pusi Iran di awal, dilanjutkan dengan sejarah nasionalisme, lalu tempat-tempat indah, dan terakhir yang sungguh menyentuh hati bagaimana ia dan keluarga kecilnya melewati Ramadhan di Persia, saya sungguh tercengang mengetahui bahwa ajaran Islam di Iran begitu kental jika dibandingkan negara kita, tempat mayoritas umat muslim dunia hidup. sungguh, Afifah membuat hati saya begitu dekat dengan Iran, begitu sejuk dengan cerita pepohonan di antara gurun pasir. serta menenangkan hati saat mengetahui bahwa ada tempat yang begitu menghargai perbedaan di sana.

***

Ranier, seorang penyair Perancis, empat abad lalu menggambarkan Isfahan sebagai Half of The world karena dahulu ia percaya bahwa separuh keindahan dunia dapat ditemukan di Isfahan.

air terjun yang mengalir bening dari sela-sela bebatuan, pepohonan yang menebar warna kemuning, kios-kios penjual manisan ceri, dan aroma jagung bakar segar menenggelamkan pikiran saya ke negeri-negeri tropis.

tidak jarang kita berada di persimpangan setelah melewati keletihan yang sangat. rasanya kita tak sanggup untuk menanjaki undakan jalan kehidupan di depan sana. masalah kian berat dan melelahkan. ada kalanya, kita ingin menyerah dan kembali ke titik nol demi menghindar dari segala kerja keras. akan tetapi, alangkah bahagianya saat kita bisa melewati berbagai aral yang melintang dengan mengoptimalkan potensi diri. itulah salah satu pelajaran yang saya catat saat tiba di pintu gerbang Rudkhan.

terdengar suara gemericik air di sepanjang aliran sungai dan nyanyian burung, serta terdapat pepohonan rindang, jembatan tua, juga batu-batu raksasa yang tumbuhi lumut.

ketulusan untuk menghormati perbedaan dan sikap tegas negara dalam menjamin serta melindungi setiap warganya, menjadi kunci terciptanya ketentraman dan kedamaian.

Kandovan (desa batu) ibarat sebuah museum antropologi yang hidup, ajab, dan mengesankan.

barangkali, inilah sebabnya dalam teks-teks suci keagamaan, manusia kerap disarankan untuk melihat secara sahih fenomena alam di sekitarnya. alam bisa menjadi penghubung untuk menanjakkan spiritualitas dalam diri manusia karena roh keindahan alam akan menghantarkan manusia pada pemilik sumber keindahan sejati.

di balkon itulah, biasanya kami duduk berbincang ditemani lantunan ayat Al Qur'an dan gemericik air mancur. sungguh, keindahan yang sulit dilukiskan dnegan kata-kata.

tempat perjumpaan para pencinta Tuhan di mana pun, akan membimbing hati-hati untuk menuju-Nya.

"pengaruh penting arsitektur Persia begitu luas. tidak terlalu istimewa, tetapi bermartabat, megah, dan mengesankan." - Arthur U. Pope, peneliti arsitektur Persia Lama dan Islam.

"seperti opera pada bangsa Italia, puisi adalah semangat berseni yang dimiliki oleh seluruh bangsa Iran." - Terence Ward, penulis Searching for Hasan

"anak Adam satu badan satu jiwa, tercipta dari asal yang sama.
bila satu anggota terluka, semua merasa terluka.
kau yang tak sedih atas luka manusia, tak layak menyandang gelar manusia." - Saadi, penyair Iran

"cinta-Nya memberiku iman dan keraguan. 
cinta-Nya adalah nyala api di hatiku.
kalau tak seorang bersamaku dalam duka. 
cukuplah bagiku mengadu kepada Cinta." - Fariduddin Attar

"masa kini dan masa depan, orang akan datang dan berkata, "inilah aku.". 
hadiah emas atau perak ia berikan, sambil berkata, "inilah aku.". 
namun, ketika suatu masa dalam hidupnya ia jatuh sakit, mau memerangkap dan berkata, "inilah aku." - Rubaiat Khayyam.

"jiwa tanpa cinta dan hati tanpa kasih,
hanya hadirkan getir.
lihatlah kebersamaan udara,
dan tanah berdebu ini." - Mulla Sadra, filsuf dan arif besar Islam

***

bagi anda pencinta sejarah dan ingin mengetahui lebih dalam tentang Persia dan Iran, serta berencana melancong ke sana suatu hari kelak, maka tidak ada salahnya mengambil buku ini di rak toko buku kesayangan anda untuk dipindahkan ke rumah. ;)

2 komentar:

dinta donna mengatakan...

jadi tertarik nih
mau nanya itu sudah dalam bentuk bahasa indonesiakah? berapa rupiah ? hehe

Nur'aini Tri Wahyuni mengatakan...

iya, dalam bahasa indonesia memang bukunya ;)