Kamis, 11 Juli 2013

sadgenic ; pencinta kata di balik jutaan rasa




judul buku : sadgenic
penulis : rahne putri
penyunting : natha callista
penerbit : kurniaesa publishing
ISBN 978-602-7618-01-5

***

sudah lama sejak saya membeli buku antalogi puisi terakhir yang kini berjajar manis dengan buku-buku lainnya di lemari akhirnya memutuskan untuk membeli buku sadgenic, karangan kak rahne putri, salah satu pencinta kata yang karyanya patut diperhitungkan. mengenal eh mangetahui beliau dari akun twiternya @rahneputri lalu berselancar ke blognya rahne putri dan jatuh cinta dengan tulisan-tulisannya.

buku sadgenic merupakan kumpulan dari apa yang ia tulis dan yang tak ia tulis di websitenya, bercerita dengan pilihan kata-kata yang indah kak Rahne sanggup membuat imajinasi saya kembali menggelora *iki opo?* sebab setiap kali membaca tulisannya saja jadi kepingin nulis juga.

sadgenic berisikan tiga bagian, pertama kotak surat dan kamu, kedua cerita waktu dan aku, dan terakhir laci air mata. bagian pertama bercerita tentang surat-surat yang sejatinya ia kirimkan untuk seseorang yang selalu ada di hati, surat yang entah akan sampai ke tujuan atau tidak, sebab surat itu tak beralamat selain ke hatinya sendiri. kedua, cerita waktu dan aku, tentang sebuah penantian, tentang sebuah rasa yang ingin segera digenapkan. dan ketiga, wah jangan baca bagian laci air mata kalau lagi galau, dan gagal move on, apalagi sakau *baca : sakit karena engkau* bisa-bisa pas lagi ga ada tissue, ktrus ertas-kertas bukunya dipake buat lap air mata :p

membaca judulnya saya berpikir bahwa "ini pasti puisi-puisi sedih, nangis-nangis." heheheh, dan yah -mungkin- memang demikian, lalu saya sampai pada salah satu bagian di buku ini di mana kak Rahne bercerita dengan temannya kak Alex *si selebtwit :p* tentang penantiannya pada seseorang yang namapun belum tahu apalagi rupa.

untuk kamu-kamu pencinta kata yang suka banget sama puisi bolehlah buku ini jadi salah satu moodbooster kalau lagi ga punya ide nulis, atau sekadar pelengkap lemari buku yang pastinya bakal sering-sering kamu ambil dari raknya untuk dibaca berulang-ulang :D

***

kekasih masa depan

kepada senyawaku....
hai sayang, saat kau membaca surat ini. ya, tentu saja aku sudah bersamamu. membuatkanmu kopi tiap pagi, menyiapkan sarapan, dan merapikan bajumu dan segala tindakan menyenangkan lain.

tahukah kamu, saat ini apa yang aku rasakan? ya....saat ini aku memang sedang berada di sebuah jalan bernama penantian. menanti kita berjumpa di sebuah persimpangan dan lalu menempuh jalan yang sama hingga merenta dan menutup usia.

aku di saat ini belum tahu seperti apa rupamu, apakah kau mancung atau pesek. tapi yang jelas, ketika kau membaca ini, sungguh aku tak peduli. hidungmu, nafas yang keluar dari situ sudah menjadi bagian dari nyawaku.

aku di saat ini mungkin belum tahu bagaimana bentuk matamu, tapi aku yakin saat kau baca ini. matamu adalah pancaran sinar, yang menerangkan setiap langkahku.

saat aku menulis ini, aku memang masih sendiri, tapi tak mengapa. aku menikmati masa ini, karena akan ada ribuan hari yang kujalani dengaan tak sendiri nanti. ya, bersamamu tentunya. sedetik kutunggu, selangkah kau mendatangiku. bersamaan itu, kusiapkan hati agar kau tahu. aku selalu menjaganya hati-hati. untukmu.

saat kau membaca ini. kau satu-satunya yang kutunggu. terimakasih atas segala waktu yang terlewati. aku mencintaimu, dari dulu, kini, dan nanti.

salam sayang, dariku kini. senyawamu, bertahun-tahun lalu.

nb : selesia kau baca ini, ciumlah aku :)

-----

kapan kau berhenti jadi fatamorgana? kenapa kau tak mewujud saja. hingga nyata. keluar dari cakrawala.

Tidak ada komentar: