Kamis, 04 Juli 2013

Muhammad Al-Fatih 1453 ; sebaik-baik pemimpin, sebaik-baik pasukan


Obsesi tujuh abad itu begitu bergemuruh di dada seorang Sultan muda, baru 23 tahun usianya. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu, hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendapatkannya.

Maka di sepetiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atsa mimbar, dan meminta semua pasukannya berdiri. “Saudara-saudaraku di jalan Allah”, ujarnya, “Amanah yang dipikulkan di pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mngizinkan mereka memenuhinya. Aku katakan kepada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!”

Begitu sunyi. Tak seorang pun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan silakan duduk!”

Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satu pun bergerak.

“Yang pernah menghatamkan Al Quran melebihi sebulan silakan duduk!”

Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.

“Yang pernah kehilangan hafalan Al Quran-nya, silakan duduk!”

Kali ini lebih banyak yang menangis sedih, khawatir tak terikut menjadi ujung tombak pasukan. Mereka pun duduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya, silakan duduk!”

Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah sangat tegang, dada berdegub kencang, dan tubuh menggeletar.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh, silakan duduk!”

Kali ini semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang sultan sendiri. Namanya Muhammad Al Fatih. Dan obsesi tujuh abad itu adalah Konstantinopel.

Sejak kecil, ia berada dalam bimbingan Syaikh Aaq Syamsudin. Mufti di istana Sultan Murad itu sering membacakan untuk Al Fatih sebuah hadist Rasulullah dari ‘Abdullah ibn ‘Amru ibn Al ‘Ash. Suatu ketika, sahabat Rasulullah yang zuhud, putra penakhluk Mesir iu pernah ditanya, “Mana yang lebih dulu dibebaskan, Konstantinopel ataukah Roma?” Syukurlah ‘Abdullah pernah mencatat, bahwa Rasulullah ketika ditanyai pertanyaan yang sama menjawab, “Kota Heraclius lebih dahulu. Yang menaklukkannya adalah sebaaik-baik pasukan. Dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima.”

Hadist ini begitu menggelora Al Fatih kecil, menguasainya, dan membeningkan dirinya untuk menjadi ‘sebaik-baik panglima’, atau setidak-tidaknya menjadi anggota ‘sebaik-baik pasukan’. Ia menjauhi kehidupan mewah istana, berguru kepada para ‘ulama, beribadah dengan khusyu’-nya. “Ya Allah, jadikan aku sebaik-baik pemimpin, atau sebaik-baik prajurit!”, pintanya dalam doa. Tiap pagi, dari puncak perbukitan Bursa, dia memandang ke seberang utara Laut Marmara, kearah Konstantinopel.

Konstantinopel. Visi yang bening itu menguasai Al Fatih. Membuatnya mendekatkan diri kepada Allah sdekat-dekatnya. Membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tak dinyana manusia. Seperti ketika dengan kayu gelondongan yang dilukuri lemak sapi, diseberangkan kapal-kapal perang memasuki perairan Konstantinopel lewat darat karena sebelumnya sulit ditembus lewat perairan.

(dari buku Jalan Cinta Para Pejuang - Salim A. Fillah, bab kekuatan bening)

***

aku baru mengenalmu, ketika sampai di halaman 142 di penggalan buku yang tersebut di atas. dan seketika aku mulai betanya-tanya siapa engkau sesungguhnya. sampai akhirnya aku bertemu dengan sebuah buku yang menjelaskan sosok bersahaja yang ada dalam dirimu, Sultan Mahmed II.

***




judul buku : Muhammad Al-Fatih 1453
penulis : felix y. siauw
penyunting : salman iskandar
tata letak : tim alfatih press
perancang sampul : tim alfatih press
tebal buku : 320 hlm + xxvi ; 20,5 sm
ISBN 978-602-17997-0-3
cetakan ke-1 Maret 2013

sudah sering berseliweran di twitter, membuat saya super penasaran, dan akhirnya membelinya dalam sebuah kesempatan saat ke toko buku dan dengan berat hati menyelesaikannya hari ini. sungguh, buku yang bagus ibarat teman baik yang tidak ingin kau tinggalkan saat sudah sampai di halaman terakhirnya. saya bahkan berharap buku ini lebih tebal dan ust. Felix menceritakan tentang Mahmed II kembali, hiks.

oke, sekarang kita bahas tentang buku ini. MAF 1453 adalah sebuah buku biografi inspirasi yang ditulis ust. Felix Siauw dengan gaya bahasa novel yang enak dibaca, ga bikin kita bosen, yang ada penasaran kapan sebenarnya Konstantinopel berhasil dikuasai oleh kaum muslim.

buku ini menceritakan tentang bagaimana upaya kaum muslim untuk membebaskan Konstantinopel yang saat itu dikuasai oleh rakyat Byzantium sebelum Mahmed II lahir sampai akhirnya beliau bisa berdiri gagah memasuki gerbang Konstantinopel sebagai 'Sang Penakluk'.

buku ini akan memaparkan kepada anda sebuah obsesi atas bisyarah Rasulullah saw yang dipegang erat oleh Sultan Mahmed II sejak beliau kecil, obsesi Konstantinopel, obsesi pemimpin terbaik. bagaimana Mahmed II menghabiskan masa kecilnya, hingga memimpin kekhalifahan Utsmaniyah dan akhirnya mengguncang dunia dengan kekuatan yang ia bangun. buku ini menceritakan sebuah sejarah yang tidak akan membuat anda mengantuk saat membacanya.

saya ga akan spoiler banyak-banyak bagaimana isi buku ini. tapi yang jelas kalau anda ingin mengetahui bagaimana seorang pemimpin mengkoordinir 250.000 pasukan selama 54 hari untuk berperang dengan segala macam strategi, menghadapi sebuah tembok yang selama 11 abad tidak tertandingi, jika kalian ingin mengetahui sejarah masa lampau gemilang agama ini, lupakan apabila ternyata si penulis tidak 'satu aliran' dengan anda, buku ini high recommended!

***

"sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya." (H.R. Ahmad)

Tidak ada komentar: