Sabtu, 15 Juni 2013

memaksakan jalan cerita


Manusia itu tidak pernah tahu pasti apakah seseorang itu akan baik atau tidak baginya. Tidak bisa. Manusia itu paling mentok hanya bisa menduga, kayaknya baik, mungkin baik, sepertinya baik.

Lantas, kenapa setiap hari, di mana2, orang2 tetap saja galau, ngotot, maksa. Bahkan berdoa menyuruh Tuhan, "Ya Allah jadikanlah dia milikku." Itu jelas jenis doa yang mengatur2 Tuhannya. Apakah kita ini sudah naik derajatnya jadi maha tahu? Tahu mana yang baik, mana yang tidak bagi kita?

Aduhai, my dear anggota page, selalu pahami rumus ini: hal2 yang kita sangka baik belum tentu baik bagi kita, boleh jadi itulah pilihan terburuk. Dan hal2 yang kita sangka buruk, belum tentu buruk, boleh jadi itulah pilihan terbaik, pilihan yang membawa selamat dunia akherat. Apa susahnya sih memasang rumus ini dalam hati kita? Jadikan salah-satu filter, saringan. Biar kita bisa berpikir lebih sehat.

Perasaan ke seseorang itu sejatinya hanyalah salah-satu cabang dari keinginan. Dan sama seperti keinginan lainnya, posisinya tidak berubah jadi lebih mulia karena bentuk, pun karena substansi yang mengada-ada. Orang2 bilang, saya ingin kaya agar saya banyak sedekah, maka itu logika terbalik. Orang2 bilang saya ingin berkuasa agar saya bisa berbuat baik lebih besar, itu juga logika terbalik. Karena banyak orang2 yg miskin, sedekahnya tetap banyak. Pun orang2 yg biasa2 saja, bermanfaat lebih luas dibanding seorang raja. Ya Allah, jadikanlah dia milikku, karena cinta kami suci, agar bisa membawa jalan kebaikan. Ini juga logika terbalik. Memangnya kalau atas nama cinta, permintaan ini jadi lebih sakral? Mulia? Tidak sama sekali. Jangan memberi syaratlah. Kita tetap bisa menjadi jalan kebaikan, tanpa harus bersama dengan seseorang, apalagi jika ternyata kemudian malah bermain2 dengan perasaan, menikah tidak, maksiat iya. Jalan kebaikan mana? Nyasar.

Saya tidak akan membawa tulisan ini ke logika rumit, apalagi menutup diskusi dengan hakikat cinta sejati kepada Allah. Saya akan membawanya lebih membumi bagi kita semua, dan semoga itu bermanfaat.

1. Jangan bermain2 dengan pintu perasaan. Sekali kita buka, maka kalian memberikan posisi kuda-kuda yang sangat rentan. Jangan mudah percaya omongan manis, bilang serius, kaulah satu2nya, kaulah yang terakhir. Jangan terpesona dengan tampilan orang lain, keren, lulusan manalah, alim, saleh. Omong kosong. Dalam hidup ini, hanya satu momen saja kalian bisa membuka pintu perasaan: ketika kalian datang dilamar. Itupun tidak usah berlebihan, karena banyak yang tidak jadi nikah meski gedung sudah dipesan, undangan sudah disebar.

2. Selalu gunakan pemahaman di awal tulisan ini, kita tidak tahu mana yang terbaik. Berdoalah kepada Allah, minta dibukakan penjelasan lebar2. Bertanyalah ke orang tua, apakah ini baik atau tidak. Bertanyalah pada teman dekat yg bisa dipercaya, apakah orang itu baik atau tidak. Ketka kita tidak tahu, pendapat orang akan sangat berguna. Nah, di dunia nyata sana, situasi ini terbalik total. Jutaan orang2 yang jatuh cinta, malah menutup pintu pendapat orang lain. Jutaan orang2 yg jatuh hati, malah merasa dia bisa mengurusnya sendiri. Orang tua tidak didengar, teman baik apalagi, ditinggal, asyik dengan hubungan baru.

Itu memang betul, kadang orang tua kita tidak setuju, tapi pahami dari sisi positifnya: kalau begitu, saatnya membuktikan, menguji, apakah yg kita yakini itu memang baik. Bicarakan baik2, bentangkan semua yg kita ketahui. Orang tua kita itu juga manusia, mereka jelas punya pengalaman, punya logika. Ini malah bermanfaat, beda pendapat dengan orang tua membuat kita dibantu berpikir. Bukan sebaliknya, merajuk, merengek, ngirim email ke tere liye, curhat panjang lebar sudah kayak novel, minta solusi. Well yeah, hentikanlah email2 itu, hidup saya sudah rumit tanpa harus mendengarkan curhat orang2 yg jatuh cinta (dan setiap hari semakin banyak saja emailnya).

3. Jika ada masalah, maka boleh jadi itu sumber pemahaman yg baik. Kalian tahu, orang2 yang jatuh cinta, tetap bisa menjaga kehormatan perasaan, maka bukan berarti akan seperti Ali dan Fatimah, perintah menikahnya langsung datang dari Allah. Level kita jauh dari mereka. Masalah akan muncul silih berganti. Mengendalikan perasaan menjadi rumit. Tapi itu momen2 terbaik untuk menguji ulang, re-test, memastikan apakah kita memang suka atau tidak, mengumpulkan hipotesis, baik atau tidak.

Berapa lama sih kalian galau? Baru sehari? Baru seminggu? Aduh itu sih sebentar, kalian tahu, rata2 gelombang besar yg disebut cinta itu hanya 3-4 bulan. Lewat dari itu, biasa2 saja tuh. Jadi, sebelum kalian tiba2 berubah jadi tidak waras, tumpah berceceran kemana2 curhatnya, setidaknya tunggu selama 3-4 bulan. Boleh jadi juga sembuh sendiri, sudah tak cinta lagi, biasa saja tuh. Karena kalau kalian bertingkah aneh2, silahkan tanggung resikonya: cinta itu persis seperti semak belukar, dicabut satu, tumbuh sepuluh. Dibakar habis, malah melebar kemana2 tunas barunya tumbuh. Ketika kalian malah genit, berlebihan, sudah kayak Romeo-Juliet, maka bersiaplah terjebak dalam siklus perasaan bertahun2--yang jelas tidak banyak manfaatnya kecuali kalian mau jadi pujangga. Padahal sumber masalah ini awalnya kecilll sekali, hanya tatap muka selintas saat bertemu di depan kampus.

Semua orang berhak atas kisah cinta yang mengesankan. Tapi pastikan, kita memiliki pemahaman baik agar kisah cinta itu terjaga dengan baik. Ingat baik2, 20 tahun lagi, kalian akan tertawa cengengesan mengenang semua masa remaja/usia sekolah dulu. Selalu demikian.

sumber : Darwis Tere Liye notes

Tidak ada komentar: