Jumat, 31 Mei 2013

sederhana, bijaksana ; belajar dari standup comedy sampai memilih cara hidup


kemarin, saya menyempatkan diri untuk refresh sejenak menonton video di situs youtube.com tentang standup comedy. pasti pada tahu dong apa itu acara standup comedy? yup, acara di mana beberapa orang maju berdiri dan melakukan comedy melalui kata-kata/kalimat yang dibawakannya di depan kamera dengan tema yang berbeda-beda.

nah, kemarin saya nonton standupnya om Mario Teguh, ehhhh salah, maksudnya om Mario Lontong, nah salah lagi, kan! Cak Lontong! xoxo. Cak Lontong adalah satu dari sekian banyak comedian standup metrotv (karena ada standup tv lain), ga kok, saya ga akan cerita panjang lebar tentang biografi Cak Lontong, yang mau saya ceritakan adalah materi yang dibawakan oleh beliau dan kolerasinya *ceilah gaya, kolerasi* dengan judul postingan yang saya buat.

sila dilihat dahulu videonya jika berminat :


di video tsb Cak Lontong mengambil tema tentang "sederhana" *nyimpulin sendiri* jadi di bagian awal standup beliau mengatakan sebuah kalimat yang sungguh menarik, kalimat yang pernah dijadikan status oleh teman saya di facebook, "miskin itu kondisi hidup, sederhana adalah cara hidup." nah, pegimane, keren kan? jadi, saya mikir bener juga, miskin itu berkaitan dengar harta -jumlah harta- menjadikan kita terlihat dalam kondisi tidak berkecukupan atau miskin, sedang sederhana adalah cara hidup, bagaimana kita bertindak dengan apa yang kita miliki *baca : harta* bagaimana kita bersikap dengan segala yang kita punya.

lalu berlanjutlah standup Cak Lontong, sampai kebagian beliau berkata, "sederhana tidak sejajar dengan orang miskin atau orang kaya, sederhana sejajar dengan orang bijaksana, maka jadilah orang yang sederhana agar anda bijaksana." kurang tjakep apa coba tuh kata-katanya? jadi ingat tentang kultwit Ust Salim yang pernah saya post : #sederhana

***

nah, sekarang mari kita bicara soal sederhana, bijaksana, dan bagaimana memilih menjalani hidup ini #gaya dan seperti biasa kalau udah soal prinsip hidup, cara berpikir, pasti ada satu dua kalimat dari si abang, tere liye

"tips berkecukupan itu mudah sekali, yaitu: jangan pernah MERUBAH gaya hidup. atau kalau memang harus berubah, lakukanlah lambat sekali. hanya itu. bayangkan, kalian sudah kerja, tapi gaya hidupnya masih seperti anak kuliah, serba irit. kalian sudah jadi manajer, GM atau direktur malah, tapi gaya hidupnya masih seperti karyawan biasa. dijamin nyaman dan selalu merasa cukup."

kalimat dari Cak Lontong, kultwit Ust. Salim, ditambah kata-kata bertenaga bang tere sepertinya cukup untuk membuktikan sebuah hipotestis yang sekaligus menjadi kesimpulan bahwa, "resep hidup sederhana adalah merasa cukup dengan segala yang kita miliki."

tidak ada larangan menjadi kaya, berkecukupan, memiliki segala yang kita butuh dan ingin, agama kita saja tidak melarang apa lagi saya, masa saya melarang-larang anda, xoxo. tapi tahukah bahwa sahabat Rasul yang kaya raya, someone who i adore Abdurrahman bin 'Auf, saudagar kaya raya yang kemampuan berdagangnya sangat luar biasa, bersedekah harta dan unta yang bergitu banyak, tapi hidupnya, pakaiannya, rumahnya, segala yang berhubungan dengan dunia sungguh jauh dari kata bermewah-mewah. mengapa beliaru r.a bisa bersikap demikian? tentu saja karena pemahaman hidup yang luar biasa, yang lebih mementingkan akhirat dibanding dunia, yang paham bahwa seluruh apa yang dimiliki di dunia ini tak sementara dan alangkah bijaknya jika menjadikan segala sesuatu tersebut sebagai perantara kita ke Surga, kalau Abdurrahman bin 'Auf melalui jalan bersedekah.

jadi, benarlah kalimat miskin itu kondisi hidup, dalam artian tidak punya apa-apa, sulit untuk mencukupi kebutuhan diri sendiri, dan hanya berputar soal harta, itulah sebuah keadaan yang seharusnya dihindari oleh umat muslim, sekalipun Rasul kita berdo'a kepada Allah supaya meninggal dalam keadaan miskin, namun coba kita pahami, jika kita miskin kita belum tentu mampu bersedekah seperti sahabat-sahabat Rasulullah, dan belum tentu mampu memajukan agama kita. sedang sederhana adalah cara hidup, ya, sederhana adalah bagaimana kita bersikap, bagaimana kita menjalani kehidupan kita, bagaimana kita bertindak dalam keseharian, apakah bermewah-mewah ataukah selalu menyadari bahwa tidak ada gunanya membanggakan hal yang kekal abadi pun tidak.

lalu, bagaimana supaya kita tidak miskin tapi tetap sederhana, maka bekerjalah, berusahalah, mencukupi segala kebutuhan kita di dunia dan jika Allah melebihkan kita dari orang lain, nah disitulah sikap hidup sederhana kita praktekan, jangan hanya karena kita memiliki pekerjaan yang lebih layak, punya banyak uang, gengsi yang lebih tinggi lantas membuat kita bermewah-mewah di atas bumi, sungguh kesederhanaan itu hanya terbentuk lewat rasa cukup atas pemberian Tuhan, apapun itu. harta, jabatan, kedudukan, tahta, nama baik, dll dsb. terlebih jika sebelumnya kita hidup dalam kesederhanaan dan Allah mengangkat derajat kita di mata manusia lain lantas kita berubah, mengganti gaya hidup, itu sungguh bukan pilihan yang tepat, sebab siapa menjamin sampai menua kita akan hidup dalam keadaan yang sama?

dan seperti kata bang tere, jika kita ingin hidup berkecukupan maka jangan ubah gaya hidup kita, atau seandainya kita ingin merubahnya lakukanlah dengan perlaahan-lahan, atau malah lambat sekali, sehingga kita memahami bahwa hisup dengan kesederhanaanlah yang terbaik. tak perlu bermewah-mewah dengan gadget mahal, tas bermerk yang luar biasa harganya, sepatu yang bahkan jika harganya mencapai 100juta rupiahpun tetap akan digunakan dibawah kaki kita tidak lantas berpindah ke kepala, maka bersikap biasa sajalah, sama seperti sebelum kita memiliki banyak hal, itu akan banyak mengajarkan kita bagaimana harus bersikap bijaksana, sebuah keadaan yang tentu akan mengajarkan bagaimana memandang hidup ini dengan lebih baik.

sudah H-39, mari sama-sama, saya dan anda, kita semua, meneladani bagaimana kehidupan Rasul dan para sahabat, bagaimana mereka yang lebih mulia dari kita, dengan jabatan yang lebih tinggi, dan tentu amalan yang jauh diatas kita, mampu hidup dengan penuh kesederhanaan, berkecukupan, dan juga kaya sehingga bisa mendermakan hartanya di jalan Allah, namun tidak pernah berlebihan dalam hal dunia, dan sangat bijaksana menjalani kehidupan. jadi, kita yang sekarang yang bahkan tidak seujung kukupun dari kebaikan hidup beliau yang hidup bersama manusia paling mulia, sama-sama belajar untuk tidak berlebihan dalam segala hal, untuk tetap hidup dalam kesederhanaan, jangan khwatir sekalipun kita tidak ikut-ikutan tren yang ada, dibilang tidak gaul, dibilang tidak mengikuti perkembangan zaman, sebab kita sama-sama tahu kemuliaan seseorang tidak akan pernah tertukar, tidak akan pernah tertukar.

***

ini logika simpel: jika seseorang hanya mengikuti trend, keramaian, kemana orang pergi, maka positif, sejauh apapun dia pergi, hanya akan tiba di mana keramaian itu menuju. tapi orang2 yang memilih langkahnya sendiri, yakin atas pilihannya, maka meskipun dia tidak berhasil pergi jauh, positif dia akan tiba di tempat yang berbeda dari tujuan orang banyak, dan boleh jadi itu lebih indah. - tere liye

2 komentar:

m-info mengatakan...

Salah satu hal yang mengejutkan tentang pedagang kaki lima adalah bahwa ternyata ... mereka semua ... hanya berkaki dua saja

selimut mengatakan...

hidup sederhana juga akan membuat kita mudah bersyukur dan tdk jumawa..