Selasa, 01 Januari 2013

sepotong hati yang baru

"siapa suruh ia GR? terbukti, kan? maka saat kebenaran itu datang, ia bagai embun yang terkena cahaya matahari. bagai debu yang disiram air. musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu. menyisakan kesedihan? salah siapa?"

"kalian tahu, dalam hidup ini, kita masih beruntung karena kita selalu punya banyak pilihan. apa pun masalah kita, tetap saja banyak pilihan solusi yang tersedia."

"ia berjanji, ia akan mencintai apa-adanya suaminya yang datang dari antah berantah. dan ia juga berjanji, akan membuat suaminya mencintainya apa-adanya. berjanji memaksa perasaan itu tumbuh mekar di pernikahan mereka."

"ia akan mencintai suaminya apa adanya. dan ia akan memaksa perasaan yang sama muncul di hati suaminya."

"aku mencintai suamiku sejak pertama kali naik bus menuju Pontianak. dan aku akan terus mencintainya hingga mati."

"ada seseorang dalam hidupmu yang ketika ia pergi, maka ia juga akan membawa sepotong hatimu."

"aku tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup dengan hati yang hanya tersisa separuh. tidak bisa. hati itu sudah rusak, tidak utuh lagi. maka aku memutuskan membuat hati yang baru. ya, hari yang benar-benar baru."

"ketika hati itu terkoyak separuhnya setahun lalu, aku sudah bersumpah untuk menguburnya dalam-dalam. berjanji berdamai meski tak akan pernah kuasa melupakan."

"cinta bukan sekedar soal memaafkan. cinta bukan sekedar soal menerima apa adanya. cinta adalah harga diri, cinta adalah rasionalitas yang sempurna."

"jika kau memahami cinta adalah perasaan irrasional, sesuaatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. tidak lebih, tidak kurang."

''berjanjilah, apapun yang terjadi kau akan selalu mencintaiku."

"aku tak bisa membayangkan mengenakan gaun panjang putih berenda bukan untukmu. mengenakan cindai pewarna di tangan bukan untukmu. mengenakan cadar merah pengantin bukan untukmu. datanglah menjemputku, aku mohon."

"malam ini kalau kematian akhirnya menjempuku, maka biarlah itu terjadi. biarlah itu menjadi takdir. aku akan mati membawa seribu luka janji setia. aku akan mati setidaknya setelah berusaha menjemputnya. aku akan mati dengan tersenyum."

"aku tidak akan pernah menghianati cintaku."

"biarlah. ia tidak akan marah atas segala takdir ini."

"orang-orang sakit hati lazimnya tidak lagi mencintai kehisupan dunia ini. ia tidak menginginkan singgasana. ia tidak menginginkan tumpukan emas. ia hanya ingin sendiri dengan seluruh luka di hatinya."

"seseorang yang memiliki hati yang baik. hati yang apa daya tersakiti oleh sesuatu. tetapi hati itu tidak pernah membenci atas takdir menyakitkan tersebut. tidak pernah."

"sepanjang ia bahagia, maka mau jelek, mau caantik orang lain menilai, ia selalu merasa cantik."

"tentu saja semua ini adil. sudah diatur sedemikian rupa. kita saja yang tega membuat definisi sendiri soal kecantikan. semua bayi perempuan terlahir cantik, menggemaskan. semua anak-anak perempuan tumbuh menjadi remaja dengan kecantikan masing-masing. lantas dewasa juga dengan kecantikan masing-masing."

"bagi yang memiliki pemahaman baik, mau berubah ribuan kali mekanisme kecantikan dunia, tidak akan membuatnya menjadi bahagia atau sedih, karena kebahagaiaan selalu ada dalam hati kita."

"mau sejelek apapun dirinya dan orang lain, kebahagiaan tetap berasal dari hati sendiri. sepanjang ia bahagia, maka tidak penting penilaian orang lain."

"buat apa cinta jika kau tidak percaya padaku? buat apa sayang jika kau terus berprasangka yang bukan-bukan?"

"fondasi terbesar perasaan cinta selain komitmen adlah kepercayaan. tanpa sebuah kepercayaan yang utuh, maka cinta hanya ibarat malam tanpa lampu, tersuruk tanpa arah. ibarat kapal tanpa kompas, tersesat semakin dalam di lautan perasaan."

"tetapi cinta tanpa disertai kepercayaan, amka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan."

"sungguh ia masih cinta, tapi buat apa? bukankah cinta tidak pernah dibungkus ketidakpercayaan?"

"cinta yang besar, tanpa disertai komitmen dan kepercayaan, maka ia hanya akan menelan diri sendiri."

"akhirnya hari yang terjanjikan itu tiba. kesabaran selalu menaklukan apappun ."


Tidak ada komentar: