Senin, 12 November 2012

status (bagian kelimabelas)

Apakah kita percaya dengan Tuhan kita sendiri? Gagah semua orang akan menjawab percaya. Malah ada yang tersinggung atas pertanyaan ini.
Lantas, buat apa kita mengeluh pada mahkluknya? Bahkan pada dunia maya? Tidakkah kita tergerak memilih untuk mengeluh pada Tuhan? Tapi kan Tuhan tidak langsung memberikan jawaban? Saya harus bilang lewat apa, dong? Memangnya Tuhan mendengarkan? Nah, jawaban2 kita itulah ukuran seberapa besar 'kepercayaan' kita.
Iman itu sesuatu yang amat menakjubkan. Jika urusan mengeluh saja kita tdk bisa mengatasinya, apalagi mempercayai soal keran rezeki, usia, jodoh, dan hal2 ghaib lainnya. Penting sekali memiliki ilmu yang baik, kemudian bertunas menjadi pemahaman yg baik atas urusan ini.

Setiap kejadian mengandung hikmah, ada yang kecil ada yang besar. Di dalamnya tersimpul jawaban atas banyak pertanyaan hidup.
Tinggal apakah kita termasuk golongan orang2 yg mau disuruh memperhatikan, 'membaca' sekitar. Atau kita lebih suka mengabaikan, menunggu jawaban yg lebih menyenangkan hati versi kita sendiri, atau dalam kasus lain, baru berhenti mengabaikan/
tertawa, saat sudah benar2 nyemplung ke masalah, kemudian bergegas curhat, mengeluh bahkan di dinding dunia maya yg tiada gunanya.

Waktu selalu berbaik hati mengobati kesedihan.
Jadi, kalau kita tidak tahu harus bagaimana lagi, biarkan obat ini bekerja. Cobalah untuk survive, menunggu, cepat atau lambat kesedihan itu akan pergi.
--Tere Liye, separuh quote dari "Sunset Bersama Rosie"

Apakah kalian yakin 100% orang yg kalian taksir, pacari sekarang baik buat kalian? Pilihan terbaik? Oh my dear, padahal Allah sudah bilang: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
Kalimat Allah lebih dari 1.000.000 % meyakinkan, tak terbilang.
Orang-orang yang sempit pemahamannya--entah sengaja tidak mau tahu atau memang tidak tahu, hanya melihat awal permulaan, kulit luarnya saja, seru2annya saja, lantas berkesimpulan itu baik--padahal jelas itu boleh jd melanggar banyak nilai-nilai. Sebaliknya, orang-orang yg paham, tahu mana urusan yg benar2 memberikan kebaikan baginya, melihat lebih luas--meski itu terlihat buruk, dinilai buruk di mata orang lain.

Bagaimana berhenti merokok?
Niat! Laksanakan!
Bagaimana menyelesaikan skripsi/tugas?
Niat! Laksanakan!
Bagaimana jadi bintang film?
Niat! Laksanakan!
Dan sama semua resepnya utk hal lain. Jadi PNS, dpt kerja, jd artis, tidak ada tapi, tapi, dan tapi. Kalau gagal, berarti niatnya tdk sungguh2, pelaksanaannya kurang.

Mau seberapa menyakitkan sebuah kejadian, jika kita mempunyai hati selapang lautan, ditumpahkan racun paling mematikan se-kontainer sekalipun, tetap akan larut, tidak terasa.
Tetapi kalau hati itu sempit, satu tetes berbisa saja cukup untuk membuat hidup kita 'binasa' sehari, seminggu, bahkan berbulan-bulan.
Melapangkan hati adalah pekerjaan panjang, perlu latihan, berkali-kali jatuh-bangun, dan jelas membutuhkan ilmu dan pemahaman baik. Tidak mengapa gagal, besok lusa tidak terasa hatinya sudah semakin luas.

Ketika urusan menguap saja diberikan teladannya, salah-satunya mungkin agar kita memahami agama adalah keseharian, bukan hanya simbol-simbol megah.
Dan adalah keseharian itulah cermin ketaatan pada agama.

"Bang, memangnya benaran ya, rindu itu bahkan membuat kita sedih saat melihat butiran nasi di piring?"
Tentu saja my dear, bahkan, ada yang saat nama kota-nya saja disebut, seperti ada menyayat hati seketika. Padahal hanya kota tempat tinggalnya saja disebut, itupun oleh pembawa berita di televisi. Membiarkan hati terbuka terlalu lebar, seringkali membuat kita kehilangan kendali untuk mengendalikannya.

Kitalah yg mengendalikan hati dan perasaan kita. Jangan dibalik, hidup kita yg dikendalikan hati dan perasaan. Bisa berbahaya. Dan lebih celaka lagi, kalau hidup kita dikendalikan seseorang yg bukan siapa2, hanya karena kita menambatkan ilusi pengharapan/rindu padanya.

Orang2 yang korupsi waktu di kantor/pekerjaan, menggunakan fasilitas kantor utk keperluan pribadi, internetan pas jam kantor, dan 'hal2 kecil' lainnya saya sarankan tdk usah ikut2an menghujat orang2 yg korupsi besar2an. Akan lebih baik ayo bersama2 fokus memperbaiki diri sendiri. Karena nanti bisa2: menepuk air di belanga, terpercik diri sendiri.

Bersyukurlah kalau kita punya pekerjaan sekarang. Karena jutaan teman, tetangga kita pengangguran. Berbulan2, bertahun2 nggak dapat kerja.
Mari bersyukur, dgn tidak banyak mengeluh gaji kecil, lelah, dan jelas zalim pada amanah kerja. Rasa syukur itu selalu manjur melapangkan hati.

Kita kadang cemas kehilangan sendal/sepatu saat di mesjid, atau tempat umum lainnya, bukan? Takut ada yang mengambilnya. Juga benda-benda yang lebih berharga lain milik kita, dijaga erat-erat agar bisa digunakan dengan baik.
Maka, tidakkah kita erat-erat menjaga hati dan perasaan kita? Atau kita biarkan saja tumpah kemana-mana, terlihat di mana-mana, kita biarkan silahkan digoda, dipermainkan oleh siapapun?
Tutup pintu hati kita dengan akhlak yang baik dan terus belajar, kunci dengan rasa sabar dan doa-doa.
Selamat mencoba.

Perhatikan orang2 yg merokok, 80% rokoknya terbakar mengepulkan asap di kepitan jari, dibiarkan sia2, terbakar sendiri. Hanya 20% rokoknya terbakar karena dihisap.
Kenapa mereka2 ini tidak menghisap terus menerus rokoknya ya? Bukankah mereka suka sekali dgn rokok itu? Kalau begini, istilahnya adalah mubazir di atas mubazir.

“Saya cinta akan dikau, biarlah hati kita sama-sama dirahmati Tuhan.”
--Kalau saya tidak keliru, kalimat ini ada di novel "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk" karya ulama sohor Buya Hamka (penulis tafsir, penerima DR kehormatan pertama dari Al Azhar Mesir). Ditulis di sebuah novel roman percintaan yg santun, maka isinya tetap penuh dengan teladan.

Jika kita selama ini hanya pintar 'ceramah' (tulisan, ucapan, status, komen, dsbgnya), tp itu tdk tulus di hati, maka saat orang lain mengingatkan kita, akan terasa menyebalkan dan mengganggu kita (padahal justeru yg diingatkan orang lain itu benar adanya, dan itu jelas2 'materi ceramah' kita selama ini).
Kita sendirilah yg paling tahu seberapa lapang dan seberapa kukuh prinsip baik hidup kita. Kita jugalah yang paling tahu alasan kenapa harus melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Keluarga adalah tempat terbaik untuk menghabiskan waktu. Rumah adalah tempat terbaik untuk pulang. Semua orang menginginkan, saat lahir, disambut di dunia ini dengan disaksikan keluarga dekat; lantas tumbuh besar juga dengan disaksikan keluarga dekat; dan saat pergi selama-lamanya dengan disaksikan keluarga dekat.
Jika saat ini kita tidak beruntung memiliki keluarga, rumah tersebut. Maka mari menatap masa depan. Mulailah bangun keluarga dari keping2 kebaikan yang tersisa. Mulailah dirikan rumah dari puing-puing kebahagiaan yang terkenang. Agar anak-anak kita, cucu-cucu kita, memiliki keluarga, rumah terbaik.

Semua perempuan adalah Puteri. Mau hitam, putih, cokelat kulitnya. Mau panjang, keriting, pendek rambutnya. Mau hitam, biru, abu-abu matanya. Mau pendek, tinggi. Mau apapun. Semua adalah puteri dengan perangai yang terhormat.
Jadi, jagalah kehormatan diri sebagaimana seorang Puteri. Dia hanya berjodoh pada Pangeran yang baik hatinya serta selalu melindungi--seperti dalam cerita2 dongeng. Jangan terlalu mudah digombali, terpesona dengan tampilan fisik, rayuan dangkal, apalagi sekadar perhatian2 kecil di dunia maya. Dan ingat, tidak ada Puteri yang mau diajak pergi berdua2an, dipegang2, direndahkan secara fisik.

Salah satu contoh gombal tingkat RT: "Eh, halo Rosi, eh, nama saya Bambang, eh, namamu siapa ya, kenalan dong?"
atau, "Eh, nggak sengaja ketemuan di sini, ya?"--padahal sudah sejak tadi nungguin.

Jangan bertanya tentang perasaan, soal sabar dan menunggu pada orang yg masih disuruh bersabar dan dalam proses menunggu tapi nggak sabar-sabar dan banyak mengeluhnya pula.
Tetapi tanyakanlah pada yang sudah melalui fase itu, sudah lamaaa sekali menunggu dan bersabar, hingga datang yg dinanti. Orang2 ini bisa memberikan jawaban penuh hikmah.
Dan akan lebih menakjubkan lagi jika pertanyaan ini ditanyakan pada orang2 yang sudah lamaaaaa sekali menunggu dan bersabar, dan dia tidak mendapatkan apa yang diharapkannya, tapi dia tetap senantiasa bersyukur. Orang2 ini bisa memberikan jawaban pendek tapi amat cemerlang hikmahnya.

“Tapi apalagi yang membuat hati tiba-tiba berdesir selain pertemuan yang tidak disengaja?”
--Tere Liye, novel "Kisah Sang Penandai" --tidak semua kalian pernah membaca novel ini, bukan?

Tidak ada orang tua yang ingin mengecewakan anak-anaknya.
Sama persis tidak ada anak yang ingin mengecewakan orang tuanya? Atau saya keliru? Kita sebagai anak, jangan-jangan tidak pernah tahu seberapa besar harapan mereka terhadap kita? Tidak pernah tahu doa-doa apa saja yang ditambatkan mereka kepada kita? Dan kita tidak peduli dengan nasehat2 mereka?
Semoga saya keliru. 

Seorang guru pernah menasehati: Kau tahu, Nak, ketika sebuah tulisan berhasil menusuk bisul seseorang, maka mau sehalus apapun, selemah-lembut apapun tulisan tersebut, sebagian yang ketusuk bisulnya biasanya langsung mendirikan benteng2 tinggi, perlawanan, pembenaran, apapun yang dia bisa lakukan, termasuk menyerang balik tulisan tersebut. Hingga lupa, hei, bukankah itu tulisan saudara kita sendiri yang sedang saling mengingatkan? Tapi itu sungguh permulaan yang baik, artinya dia mendengarkan, besok lusa boleh jadi berpikir ulang.
**Saya berdoa, semoga dari page ini lahir penulis2 tangguh. Yang bukan cuma menghasilkan buku, tapi juga kongkret menyerbu setiap jengkal kehidupan sekitar, tontonan, media massa, internet, gencar menanamkan pemahaman yg baik.
Dan saya beri sebuah rahasia kecil, kalian tetap bisa jadi dokter, insinyur, akuntan, guru, peneliti, PNS, karyawan, apapun profesi yg kalian cintai, sambil terus menulis. 

Rasa2nya ada perbedaan yang amat signifikan antara benar2 bertanya karena sayang, atau bertanya karena iseng, sambil lalu, menggoda atau malah buat bahan tertawaan. Dan kita sendiri tahu persis, kok, tidak perlu pakai dijelaskan ke orang lain.
Jadi, dikembalikan ke kita masing2 saja ya. Kalau kita memang bertanya penuh kasih sayang, perhatian, "Kapan menikah?", "Kapan punya momongan?" semoga itu jadi pahala penuh kebaikan.
Selalu ingat, dalam situasi tertentu, bahkan pertanyaan yg super duper penuh kasih sayang tetap berimplikasi menyakiti saat yang ditanya memang sudah penat. Jodohnya tak kunjung datang, atau tak kunjung hamil jua. 

Pada suatu hari "Kematian" dan "Kehidupan" bertemu satu sama lain, lantas mereka ngobrol:
Kematian : "Kenapa orang2 itu menyukai kamu, tapi mereka amat membenci aku?"
Kehidupan (menjawab sambil tersenyum) : "Orang-orang menyukaiku karena aku adalah 'dusta yang indah', sedangkan mereka membencimu karena kamu adalah 'kebenaran yang menyakitkan'."
*Saya juga suka dengan quote ini--entah siapa yg pertama kali menuliskannya. (repost ke-2x untuk sesi malam)

Sebenarnya, orang2 dengan wajah rata2 (tidak ganteng, tdk cantik, sedang2 saja--kayak saya) adalah orang2 paling keren di atas dunia.
Kenapa? Karena kalau berdasarkan definisi ganteng/cantik versi manusia, maka bukankah Tuhan menciptakannya banyak sekali? Paling banyak, malah.
Sayangnya, kita selalu merasa ingin tampil lebih ganteng/lebih cantik. Lupa kalau kita adalah mayoritas mutlak di muka bumi.
*separuh quote dari film Abraham Lincoln

Orang2 yg merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa2nya menguntai tangga yg indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yg lebih baik.

"Manusia adalah pengacara yang hebat untuk kesalahan diri sendiri. Tapi berubah jadi hakim yang mahsyur untuk kesalahan orang lain."
*tentu saja manusia itu termasuk saya (sebelum ada yang tersinggung). ini juga quote yg saya suka, nggak tahu siapa dulu yg pertama kali menuliskannya.

Tanyakanlah pada orang2 yang telah menikah dengan bahagia di atas 20 tahun (boleh jadi orang tua kalian termasuk). Apa yang membuat mereka langgeng hingga selama itu, dan akan terus langgeng? Apakah karena (a) cinta, (b) komitmen atau karena (c) saling percaya.
Mereka bisa memberikan jawaban yang penuh hikmah.
"Seluruh air di samudera lautan tidak bisa menenggelamkan sebuah perahu kecil, jika airnya tidak masuk ke dalam perahu tersebut.
Maka, seluruh kesedihan, kegundahan, beban hidup di dunia ini tidak bisa menenggelamkan hati kita, kecuali kita membiarkannya masuk ke dalam hati kita sendiri."
*Saya suka sekali dengan quote ini. Entah siapa yg pertama kali menuliskannya.
  
Kita benar-benar harus mengasihani orang2 yang sibuk komentar menjelek2an orang lain. Karena sudah jadi rahasia umum, dari jaman dulu hingga kelak, hanya itulah yang bisa dilakukan oleh orang2 ini.
Sudah berapa puisi, surat, kalimat2 indah yang kita buat untuk seseorang? Dan akan berapa banyak lagi puisi, surat, kalimat2 indah yang akan kita tuliskan?

Puisi antar pasangan yang sah, mau seburuk apapun isinya, tetap gemilang nilainya, memperoleh pahala. Tapi pernyataan cinta antar pasangan yang melanggar begitu banyak nilai2 agama, mau seindah apapun isinya, tetap saja hanya sebuah puisi. Sekadar rangkaian kata-kata saja.

Kenapa saya selalu bilang agar jangan berlebihan dalam urusan perasaan, karena boleh jadi tidak seimbang, berat sebelah.
Misalnya, bagi orang2 yang berlebihan, terkadang misalnya hari ini, hari bertemu dengan seseorang spesial terlanjur dianggap penting sekali, super spesial malah, selalu dikenang, tapi bagi dia ternyata hanya dianggap: hari rabu.

Bagi orang-orang yang selalu bersyukur, rutinitas seperti pagi yang datang setiap hari adalah salah-satu anugerah terbaik yang membuanya berterima-kasih.
Bagi orang-orang yang selalu mengeluh, rutinitas seperti pagi yang tiba setiap hari adalah seolah siksaan, hukuman di atas dunia, maka dia selalu mengeluh apa saja, rusak setiap pagi miliknya.
Bagi orang-orang yang tidak peduli, maka rutinitas seperti pagi hari untuk yang kesekian kali ini juga tidak peduli pada orang2 tersebut. Tetap akan datang.
Selamat pagi.

Ada banyak kaidah budaya, kebiasaan setempat yang tercampur2 dengan kaidah agama. Jika cocok, tdk menabrak, maka tentu boleh digunakan, bahkan bijak sebagai panduan. Tetapi jika sebaliknya, maka segera tinggalkan.
Salah-satunya adalah, misal, menentukan tanggal pernikahan berdasarkan hitung2an--entah dengan rumus apapun. Segera tinggalkan, ini amat terlarang. Berkah itu semata-mata datang dari Tuhan, bukan karena bulan segaris, bulan gerhana, purnama, hari2 sial, hari2 baik, dan hitung2an lainnya.

Bagi perempuan, lazimnya masa lalu itu terasa berat utk tidak ditoleh2. Ada saja pemicunya, membuat menoleh. Bagi laki2, lazimnya lebih jarang menoleh.
Nah, buat cowok2 anggota page ini, kalau kalian serius hendak menikah, jangan terlalu banyak bertanya masa lalu. Pernikahan itu masa depan. Kalau tdk nyaman, mending cari lain, jangan terlalu banyak tanya yg boleh jd tdk sopan.

Jangan sering2 menoleh ke belakang kalau ingin melangkah maju, nanti kakinya tersangkut.
Jangan sering2 menoleh masa lalu kalau ingin menuju masa depan, nanti hatinya tersangkut.

Kita tidak bisa membohongi Tuhan, jadi tidak perlu terlalu memaksakan gagah menanggung beban perasaan atau beban hidup, tp sebenarnya sendu dan susah sepanjang hari. Laporkan saja langsung :) 

Sebuah benda tidak perlu terlalu kecil untuk tidak terlihat. Bola bumi misalnya, justeru karena terlalu besar, kita tdk pernah bisa melihatnya secara utuh, kecuali dibantu tunjukkan oleh layar televisi, tontonan, gambar, oleh orang lain.
Maka, perbuatan penuh kerusakan yg kita lakukan, boleh jadi karena terlalu besar atau tetlalu sering, maka kita tdk pernah menyadarinya secara utuh. Setiap hari kita anggap ringan. Kita anggap biasa. Tidak kita sadari hingga suatu kejadian atau orang lain yg memperlihatkannya.
Itulah gunanya teman yg baik, agar bisa selalu mengingatkan.
 

Hewan, mencari pasangan karena tampan, cantik, kuat, aroma badan, teritori, dan ukuran tampilan fisik serta duniawi lainnya.
Itu hewan. Manusia? Pikirkan sendiri, mau disamakan dgn hewan atau tdk :)
 

Jarak 'diskusi' dan 'debat' itu dekat sekali. Jadi selalu cek apakah kita benaran diskusi atau sudah berdebat. Sekali terbersit ngotot, tdk mau kalah mau membalas bicara itu positif debat.
Dalam agama kita, posisi debat hina sekali. Bahkan kalaupun kita merasa benar.
 

Jika tidak banyak manfaatnya, segera tinggalkan perdebatan, silat lidah. Bukan soal kalah menang, tapi jangan habiskan waktu kita utk hal yg tidak penting dan meladeni orang2 tiada manfaatnya.

Apakah uang bisa membeli kebahagian?
Tentu saja 'bisa'.
Belanjakanlah untuk menyantuni anak yatim, orang-orang miskin, infaq-kan di jalan yang baik, seperti mendukung sekolah-sekolah gratis dengan murid ribuan; gerakan-gerakan yag memberikan akses kesehatan, pendidikan, pada orang banyak. Maka uang tersebut bisa ‘membeli’ kebahagiaan.

Berapa banyak air mata yang sudah kita tumpahkan untuk seseorang, benda, atau sesuatu di atas dunia ini? Dan berapa banyak lagi yang akan kita tumpahkan esok lusa?
My dear anggota page. Bukankah kalimat itu nyata? "Seseorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis), maka Allah akan menolongnya saat tidak ada lagi pertolongan yg tersisa kecuali
pertolonganNya."
Lantas, setelah mengetahui kalimat ini, apakah kita masih memilih menangis ber-ember-ember untuk seseorang, yang jangankan ngasih pertolongan, boleh jadi dia nyadar juga nggak, tahu juga nggak kita sedang menangis untuknya.
Ayo, lebih baik kita menangis untuk yang maha mendengar. Janji itu valid, pasti terbukti. Janji itu sungguh hebat, pertolongan saat tidak ada lagi yang bisa menolong. Allah sungguh tahu kita menangis untukNya atau bukan. Maka jangan sia-siakan air mata kita.

“Kau tahu kenapa kebanyakan orang menganggap kecantikan seorang perempuan lebih penting dibanding perangai yang baik? Karena di dunia ini, lelaki bodoh jumlahnya lebih banyak dibanding lelaki buta.
Juga sebaliknya, kenapa kenapa kebanyakan wanita suka dengan wajah2 tampan, memasang foto wajah2 tampan, dibanding perangai yang baik, karena di dunia ini, wanita bodoh jumlahnya lebih banyak dibanding wanita buta.”
 -- Tere Liye, novel "Pukat". Serial Anak2 Mamak #3
Saya minta maaf menggunakan cacat (buta) sebagai perbandingan. Tidak ada maksud lain kecuali untuk menjelaskan situasinya.
"Mawar akan tumbuh di tegarnya karang, jika Tuhan menghendakinya."
--Tere Liye, novel Sunser Bersama Rosie
Ayo, tidak perlulah ditunjukkan ke seluruh dunia kalau kalian punya pacar, foto mesra ditaruh2 di profile facebook atau twitter, setiap hari memasang status/tweet cinta berlebihan. Masih pacar, kan? Yang suami istri saja (hubungan yang diakui agama dan negara) bisa cerai, apalagi masih pacaran.
Nanti foto2 mesra, postingan2 mesra lamanya mau dikemanain kalau sudah putus? :)

Seorang guru pernah menasehati: "Anakku, ada tiga ciri suatu golongan disebut terbaik, yaitu jika anggota golongan ini:
1. Berlomba2 menyeru kepada kebaikan
2. Mencegah kerusakan
3. Takut pada Tuhan-nya.
Sebaliknya, ada tiga ciri suatu golongan disebut paling rusak, yaitu jika anggota golongan ini:
1. Berbondong2 meninggalkan kebaikan
2. Tidak peduli sekitarnya penuh kerusakan

3. Sama sekali tidak takut pada Tuhan-nya
Maka selalu ikutlah golongan yang pertama, se-rusak apapun golongan kau sekarang."


Hiasilah diri kita dengan perasaan malu. Karena perasaan malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.



Kita memang tidak boleh pilih-pilih teman. Semua orang, dari suku bangsa, ras, agama, kebiasaan, dsbgnya. Tidak boleh pilih-pilih, semua manusia sama di atas dunia ini.
Tetapi kita jelas dan jelas, harus selalu memilih teman kalau urusannya sudah tabiat yang merusak, seperti mabuk2an, nge-geng motor, kelayapan malam2, hidup bebas, merokok, dan paham-paham merusak diri sendiri lainnya.


Jika kita berprasangka buruk terhadap orang lain, maka sebaik apapun orang tersebut menurut orang banyak, kita tetap tidak peduli, tetap saja berprasangka buruk.
Jika kita terlanjur membenci orang lain, maka sebaik apapun orang tersebut menurut orang banyak, kita tetap tidak peduli, dan tetap saja ada keburukannya. 

Nasehat orang tua: "jika ragu2, lebih baik tidak"
Tentu sj ini tdk berlaku dlm segala hal, tp bisa berguna sebagai patokan.

Wahai para pencinta di seluruh dunia, kisah paling romantis itu bukan cerita Romeo dan Juliet yang menikah pun tidak, mati bunuh diri pula bersama, tidak bisa mengatasi masalahnya.
Kisah paling romantis itu adalah Ibu-Bapak kita yang menikah, terus bersama hingga maut menjemput secara alamiah, dan mampu terus menerus mengatasi berbagai masalah dalam hubungan mereka.
*Sy tulis ulang dari quote anonim bahasa inggris, dan sy suka membacanya.

cc : Darwis Tere Liye Facebook
 

Tidak ada komentar: