Selasa, 02 Oktober 2012

status (bagian keduabelas)

Kita mungkin pernah mengalaminya (menyaksikan), ada tetangga yg kecurian, kemalingan, karena semalam lupa mengunci pintu rumah, maka respon pertama orang2 di sekitar kita adalah, nyeletuk, "Salah sendiri, kenapa rumahnya nggak dikunci. Bodoh."
Jika itu yg ada di kepala kita--malah kita pelakunya, maka ada yg benar2 perlu dirubah pemahamannya. Tega sekali. Tetangga sudah kecurian, malah disalahkan
, ditatap sinis, direndahkan pula. Padahal apa salah dia lupa ngunci pintu rumah? Bahkan ketika pintu rumahnya terbuka lebar2, dlm kejadian seperti ini, yg salah adalah pencurinya.
Poin penting status ini adalah, sebagai tetangga, maka apakah kita akan termasuk orang2 yg ringan sekali komen menyakitkan, atau sebaliknya bersimpati, turut membantu tetangga kita tersebut. Dan hal ini berlaku dalam setiap keseharian. Entah itu mentertawakan, menanggapi sebuah kejadian apalah, dsbgnya.
Dipikirkan, direnungkan. Boleh jadi, kitalah pelakunya selama ini.
*repost ke-3 kalinya dalam waktu 24 jam
**saya sengaja me-repost ulang postingan ini secara berkala setiap beberapa jam selama 24 jam ini, dengan harapan kita semua mulai belajar menahan diri utk nyeletuk/komen sembarangan.
 
Waktu saya masih kecil, ada orang tua yang bilang kalimat berikut: "Darwis, orang2 saleh itu, saat dia lagi di jalan, lantas berseru Allahuakbar, maka seekor kucing yang sedang lari, langsung berhenti. Tapi sebaliknya, Nak, orang2 yang munafik, saat dia lagi di jalan, lantas berseru kalimat zikir, maka seekor kucing yang sedang diam, justeru berlari pergi."
Kalimat itu terus saya ingat hingga detik ini. Belasan tahun berlalu.
Saya ingat, namanya juga anak2, waktu itu saya memahaminya lurus seperti jalan kereta nggak pakai belok. Malah dipraktekkan. Jadi kalau ada kucing berkeliaran di dekat rumah, di jalanan, langsung berseru Allahuakbar. Kemudian nyengir, menggaruk kepala, melihat kucingnya lari tunggang langgang. Dilakukan berulang2, seperti kebanyakan anak kecil yg tidak puas2nya membuktikan kalau kalimat itu benar atau tidak. Dan tidak terima kalau ternyata hasilnya tidak cocok di hati, kucingnya terus kabur.
Itu dulu, bertahun2 berlalu, seiring perjalanan, sy paham kalau kalimat itu tidaklah se-harfiah, atau se-denotatif yang disampaikan. Ada hikmah dari kalimat tersebut, tersirat. Makna itu sederhana sesungguhnya, tapi begitu dalam dan penuh arti. Maksud kalimat itu tidak kurang tidak lebih adalah: orang2 saleh, saat dia memberikan nasehat, tanpa menggunakan dalil2 sekalipun, maka orang jahat sekalipun terdiam dan mendengarkan. Tapi sebaliknya, orang2 munafik, yang entah apa tujuannya, saat dia memberikan nasehat, bahkan dengan menggunakan dalil-dalil, maka orang2 justeru menjauh, bahkan mengolok, tidak mau mendengarkan.
Kalimat itu terus saya ingat hingga detik ini. Bahkan saat melihat kucing pun, hari ini, sekali dua, saya nyengir, sambil membenak--hampir ketelepasan mau menguji lagi kalimat tsb, tertawa, itu sungguh perumpamaan yg baik sekali. Boleh jadi tidak selalu benar, tapi nasehat orang tua, selalu layak direnungkan, mengingat mereka tentu telah belajar dari pengalaman panjang.
Terkadang, kita menjadikan seseorang/sesuatu prioritas utama kita, tapi sebenarnya seseorang/sesuatu tersebut hanya menjadikan kita alternatif pilihan saja.
Terkadang, kita sibuk memikirkan orang lain, tapi orang lain itu malah memikirkan orang lain lagi.
Terkadang, kita membela habis2an, menyayangi segenap jiwa seseorang/sesuatu, tapi sebaliknya seseorang/sesuatu itu hanya menjadikan kita pilihan opsional saja.
Kehidupan persis seperti menaiki sepeda, jika kita tidak bisa menjaga keseimbangan lagi, maka segeralah maju, bergerak ke tempat baru, karena jika terus memaksakan diri berhenti, cepat atau lambat kita akan terbalik.
 
Inilah resep sederhana: "Jangan habiskan waktu kita untuk sesuatu yg tidak ada manfaatnya buat kita--meskipun itu terlihat menyenangkan."
*resep ini berlaku utk semua urusan.
 
Sebagian besar dari kita lebih suka membeli televisi besar, keren, canggih, atau gagdet mutakhir, mahal, lantas menghabiskan waktu berjam2 bersamanya,
di bandingkan dengan,
Lebih suka membeli banyak buku2 yg baik, bacaan2 yg baik, lantas menghabiskan waktu berjam2 bersama bacaan2 tersebut.

My dear, berbohong itu seperti melempar segenggam pasir di atas danau yg bening nan tenang...
lemparkan, splassss.........
air danau beriak pelan...
lantas diam..
kemudian hening...
kembali bening dan tenang..
tidak berjejak, tanpa bersisa...
tapi Allah maha tahu..
dan sungguhlah Allah maha tahu..
 
Pemahaman sekufu yg paling 'menakjubkan' adalah sama level gelar pendidikannya. Sarjana dgn sarjana, s2 dgn s2, s3 dgn s3. Tidak boleh menikah jika tdk setara. Anak kami s3, anak situ apa? cuma SMA?
Lantas di manakah kita harus meletakkan definisi sekufu dari sisi iman dan kecintaan pd agama ini?
Jika orang tua kalian, tetangga, atau kalian sendiri memiliki pemahaman seperti ini, maka berikan buku2 yg baik tentang ilmu agama, cari yg isinya baik dan mengajarkan agama dgn baik.
 
tahukah kita, untuk merusak sebuah kebahagiaan, cukup hanya dgn berprasangka buruk tiba2..
tahukah kita, untuk menghabisi pagi yag indah, cukup hanya dgn makian kecil kepada seseorang atau sesuatu..
tahukah kita, untuk membunuh suasana pagi yg riang, cukup hanya dgn keluhan ringan tentang sesuatu yg amat sepele pula..
padahal, tidak setiap hari kita bisa menjalin kebahagiaan, memulai pagi yg indah, atau menyulam suasana hati yg riang penuh mood.. jadi, jangan mudah dirusak ya..

Meskipun nonton konser maher zein sekalipun, tdk jadi otomatis dibenarkan pergi berdua pacaran. pegangan tangan dsbgnya.
 
Merasa bodoh, ingin terus belajar, menghormati, mendengarkan mereka, adalah jalan tercepat kalau kita ingin mengambil hati orang yg lbh tua di sekitar kita--entah itu atasan, guru, dosen, tetangga.
Dan boleh jd ada bonusnya, karena dalam level tertentu kita bisa dinilai sbg calon menantu ideal.

Sebagian berubah karena terpaksa.
Sebagian lagi berubah setelah membayar mahal dgn bnyk kesedihan.
Sebagian lagi berubah setelah penuh penyesalan dan airmata.
Maka orang2 yg beruntung adalah yg berubah cukup dgn belajar dari pengalaman orang lain. Dari bacaan, nasehat, mengamati. Sebelum terlanjur.
 
kebanyakan kita membeli barang, bermewah2 utk tujuan pamer kpd orang2 yg justeru tdk kita sukai dan mereka tdk menyukai kita.
 
Islam datang membumihanguskan perbedaan suku bangsa, ras, bahasa, warna kulit, dsbgnya. Bilal, misalnya, mantan budak, hitam, tapi dia jelas 'lebih tampan' dibanding pemuda Arab paling rupawan.
Jadi, jika ada yg keberatan, menolak menikah gara2 beda suku bangsa, ras, bangsa, warna kulit padahal jelas2 calonnya islam dan taat, maka itu bukan 'kolot', itu adalah 'menghina' ajaran agama.
 
 
semua orang selalu bilang: acara resepsi pernikahan itu suci, sakral, sekali seumur hidup, kenangan indah, bla.. bla... bla...
tapi dirusak dgn banyak hal yg justeru tdk 'suci'? ajang pamer? malah kadang bablas melanggar nilai2 agama?
 
 
Anak2 SMA itu masih di bawah 18 tahun. Anak2 SMP itu juga di bawah 15 tahun. Tidak terbayangkan tawuran di antara mereka bisa terjadi. Tawuran yg bisa membunuh. Demi apa? Untuk membela kehormatan siapa? Bukankah mereka masih remaja? Dan yg menjadi korban, justeru orang2 yg tdk terlibat. Orang2 yg hanya kebetulan ada di tempat salah.
Sy ikut berduka cita atas korban tawuran terakhir dari SMAN 6 Ja
karta. Dan juga belasan korban lain sepanjang tahun.
Kita semua yg bertanggungjawab atas 'budaya kekerasan' ini. Kita, kita semua. Orang tua, guru, kakak2, tulisan2, pendapat2, komen2, tontonan, buku2, dsbgnya. Kita tdk pernah tahu seberapa jauh gaungnya bisa merusak. Apalagi remaja adalah masa rentan. Jadi mari mulai hati2 memberikan teladan dan pemahaman yg baik.
 
Teman yang baik, yang tidak sekadar menjadi teman, ada di saat susah, tapi juga saling mengingatkan dalam kebaikan, berani meluruskan jika kita melakukan khilaf adalah salah satu harta paling berharga di dunia.
Jika kita tdk memilikinya, maka mulailah dengan menjadi teman seperti itu ke siapa saja, maka semoga mekanisme ini akan bekerja dgn mengagumkan.
 
novel 'bidadari2 surga' bukan novel cinta2an. judulnya boleh jd terkesan seperti novel2 nge-pop, tp isinya bukan. sy tdk bisa menjelaskan banyak, yg pernah membacanya pasti tahu maksudnya.
 
*kisah tangan kanan & membela Nabi kita (inilah sikap dan cara sy melawan para pembenci)
Mengapa dalam agama kita, makan dan minum harus pakai tangan kanan? Karena itu perintah Rasul Allah.
Terserah saya dong, mau makan pakai tangan kiri. Ya, silahkan. Tidak akan ada petir yg menyambar kepala gara2 itu. Tapi, sebelum melakukannya, dengarkan kisah seseorang yang baru saja mengalami musibah.
Kita
sebut saja Bambang, baru dua belas tahun.
Masih kelas enam SD, tapi anak kecil selalu saja spesial. Sy beberapa hari lalu, bahkan mendengarkan cerita Ashabul Kahfi dari seorang anak berusia 5 tahun--lengkap, sistematis, beserta hikmahnya.
Alkisah, Bambang, jagoan kecil kita ini, naik motor abang ojek, antar jemput, pulang dari sekolahnya. Nahas, motornya ditabrak mobil, lengan kanannya tergencet knalpot, parah, dan tidak ada pilihan selain diamputasi.
Sedih sekali orang tuanya, siapa tidak sedih, anak semanis Bambang, penurut, pintar, harus kehilangan lengan tangan kanannya. Tapi Bambang tidak terlihat sedih, dia lebih banyak berdiam diri, seperti mencemaskan sesuatu.
Apa pasal yg dicemaskannya? "Apakah boleh Bambang nanti makan pakai tangan kiri, Pak, Bu?" Akhirnya Bambang buka mulut, bertanya, suaranya bergetar. Orang tuanya terdiam sejenak, saling bersitatap, lantas buru-buru menggangguk, tentu saja boleh.
"Tapi, tapi apakah Nabi Muhammad tidak akan marah?" Anak kecil itu menyeka air matanya dengan punggung telapak tangan kirinya, terisak.
Dua belas tahun umurnya, lengan tangan kanannya hilang, hanya satu hal yg dia cemaskan. Bukan masa depannya, melainkan, apakah Nabi Muhammad akan marah atau tidak kalau dia terpaksa makan tangan kiri. Itulah kecintaan atas Nabi yg cemerlang.
Hari ini, kita siap sedia mengangkat senjata demi membela Nabi tercinta kita dihina. Tapi apakah sebenarnya kita tidak sedang jadi korban lucu-lucuan orang yg memang membenci kita saja? Apakah mereka justeru tdk sedang tertawa terpingkal2, melihat kita beringas, buas sekali membalas--dan dunia melihat itu semua.
Jika kita ingin membela Nabi kita, maka teladanilah beliau. Hanya itu cara terbaik menunjukkannya ke siapapun, termasuk musuh paling membenci. Mulailah dr urusan makan/minum dengan tangan kanan. Seperti Bambang yg sedih sekali tidak bisa melakukannya lagi.
*share, share, repost kemana2. komen seperlunya, dan substantif, sy tdk suka membaca komen kalian memuji2 tulisan ini, tdk banyak manfaatnya komen2 seperti itu
**besok lusa, sampai kiamat, kita tdk akan pernah bisa membuat orang2 itu berhenti menghina, karena memang itulah pekerjaan mereka. semakin kita bereaksi, semakin senang mereka, memancing2, maka saat kita paham, justeru dgn kita abaikan, terus membalas dgn ahklak yg baik, meneladani Rasul Allah, orang2 ini akan kalah sendiri, bahkan oleh jadi memperoleh pemahaman yg baik.
***saya tahu, ada banyak artikel yg menyerukan justeru melawan, sy tahu argumen yg dipakai, riwayat2 yg dipakai, tp kita harus proporsional, juga banyak riwayat2 saat Nabi begitu lemah lembut thd yahudi atau orang lain yg menghinanya. semoga kalian paham. karena sy paham sekali, kita tdk terima, marah, tp teladanilah riwayat lain yg membuat berlinang air mata, betapa mulianya ahklak Rasul Allah.
 
 sy tdk ikut2an boikot youtube dan google. karena di youtube banyak video2 ttg agama islam yg baik, dan google jg menyediakan akses informasi yg baik.
selain itu bagaimana sy harus memboikot dua website ini sedangkn facebook sj, yg jelas2 amerika serta yahudi pemiliknya tetap sy pakai buat narsis. malu lah sy.
jika kalian berbeda pendapat dalam urusan ini, semoga tdk menganggap sy musuh jg. musuh yg dibenci tp tetap sj nge-like page ini.
 
pelajaran pertama ttg cinta yg seharusnya kita kuasai adalah: bertanya pd orang tua bagaimana mereka dulu hingga akhirnya menikah.
dari cerita mereka, ambil nasehat baiknya.

cool itu: tetap dermawan pd orang2 yg pelit sekalipun kpd kita.
 
ada perbuatan, yg ringan sekali dilakukan, mudah sekali hinggap di hati, tp akibatnya fatal, dibenci penduduk dunia juga 'penduduk surga'
bahkan bagi orang2 yg terus melatih dirinya agar terhindar dr perbuatan tsb, tetap sj ia muncul dan menari2 di hatinya dlm banyak kesempatan.
apakah itu? perbuatan sombong.

kenapa produk kosmetik lebih laris dibanding buku2 agama, buku2 yg baik?
karena orang2 lebih suka wajahnya cantik/tampan dibanding hatinya yg cantik/tampan; bersih dari komedo atau jerawat di hati.
 
Bilal adalah mantan budak, berkulit hitam. Tapi Rasul Allah dan sahabat menyayanginya lbh dr pemuda paling tampan arab saat itu.
Agama kita datang menghapus seluru rasialis dan diskriminatif suku, bangsa, bahasa dan ukuran duniawi lainnya.
Jd jgn pernah merasa lbh keren, lbh utama karena ukuran tsb. Apalagi sombong. Terbersit sekecil apapun jgn. Segera usir jauh2 perasaan buruk itu.

berbuat baik tdk pernah memikirkan apakah orang lain akan membalasnya dgn kebaikan atau malah keburukan. simply dilakukan sj.
 
jika kita berbohong sekali, maka mengulanginya akan lbh mudah lg.
 

Tidak ada komentar: