Kamis, 02 Agustus 2012

status (bagian kelima)

Sayangnya kita tidak bisa lagi bertanya arti cinta pada Sultan Mahmud Syah, beliau memberikan mahar sebuah pulau saat menyunting Engku Putri binti Raja Haji Syahid Fisabilillah.
Sungguh sebuah pulau, Kawan. Pulau yang mahsyur di jamannya. Bukalah buku catatan sejarah, agar kita belajar banyak tentang cinta.

Salahsatu misal bagaiman menilai seseorang itu terhormat atau tidak adalah dgn apakah dia suka menyalip antrian atau tidak. Apakah dia teratur ngantri atau tidak. Nah, tidak akan pernah kehormatan seseorang itu dilihat dr pakaian, kendaraan, rumah dan harta bendanya.
*banyak sekali yg paham hal ini, tapi kalau sudah urusan praktek lapangan, semua jd kampungan.

Cinta memiliki begitu banyak pintu untuk datang. Kita, orang2 kebanyakan, biasanya lebih sering menggunakan 'pintu mata'. Tapi orang2 yg paham, selalu menggunakan 'pintu hati' dalam bentuk cinta manapun.
*Tere Lije, naskah utk acara RRI Pro2FM 4-5 tahun lalu

Menjadikan buku2 tere liye sebagai seserahan lamaran atau mahar pernikahan itu keren.
Tetapi menjadikan buku2 tere liye sebagai hadiah utk pacar, cari2 perhatian, tebar pesona, apalagi biar terlihat sok lembut padahal hatinya buaya, itu sama sekali tidak keren.

Di dunia ini banyak orang melupakan sifat baik di hatinya.
--Tere Liye, novel 'Negeri Para Bedebah'

Syukur dan bahagia itu teman karib. Barangsiapa hendak berbahagia, maka harus pandai-pandai bersyukur.

"Tidak semua orang mendapatkan pilihan pertama dalam hidup ini. Tapi kita bisa hidup sama bahagianya dengan mereka, meski hanya mendapatkan pilihan kedua, ketiga, atau bahkan keseratus-satu."
--Tere Liye, salah-satu artikel utk RRI 5-6 tahun lalu.

Sebagian dari kita selalu mengeluh pusing menentukan pilihan. Jadi saya harus milih yang mana? Ambil keputusan yg mana? Pilihan apa yg harus saya lakukan?
Kita lupa, banyak orang di luar sana, bahkan tidak punya pilihan. Bahkan untuk keputusan simpel nanti sore mau berbuka dengan apa. Tidak ada pilihan sama sekali.

“Maha Suci Engkau Ya Allah, yang telah menciptakan perasaan. Maha Suci Engkau yang telah menciptakan ada dan tiada. Hidup ini adalah penghambaan. Tarian penghambaan yang sempurna. Tak ada milik dan pemilik selain Engkau. Tak ada punya dan mempunyai selain Engkau.
Tetapi mengapa Kau harus menciptakan perasaan? Mengapa Kau harus memasukkan bongkah yang disebut dengan "perasaan" itu pada mahkluk cip
taanMu? Perasaan kehilangan... perasaan memiliki... perasaan mencintai....
Kami tak melihat, Kau berikan mata; kami tak mendengar, Kau berikan telinga; Kami tak bergerak, Kau berikan kaki. Kau berikan berpuluh-puluh nikmat lainnya. Jelas sekali, semua itu berguna! Tetapi mengapa Kau harus menciptakan bongkah itu? Mengapa Kau letakkan bongkah perasaan yang seringkali menjadi pengkhianat sejati dalam tubuh kami, bahkan termasuk mengkhianati Engkau. Mengapa?”
--footnote di 'Hafalan Shalat Delisa'-- karena ini footnote, jadi begitulah, penulisnya ikutan curhat di dalam novel.

Menangis karena sebab apapun tidak membatalkan puasa. Silahkan cek buku2 ttg puasa, dalam mazhab apapun, menangis tdk membatalkan puasa.
Tapi tergantung bang, kalau nangisnya bla-bla-bla. Oh dear, makan di siang hari pun juga tergantung, bisa saja jadi tidak membatalkan puasa dalam kondisis tertentu. Nah, lagi-lagi, silahkan mencari ilmunya, agar ibadah puasa kita lebih bernilai.

Maaf, kalau kalian pernah membaca cerita Kak Laisa dgn adik2nya di 'bidadari2 surga', kalian tidak akan pernah mau ikut kontes2 kecantikan, dan sejenisnya, termasuk kontes paling cantik pakai kerudung. Se-tinggi apapun orang2 menyanjung kalian di kontes2 itu, semuanya kosong, semu.

"Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang."
--Tere Liye, Berjuta Rasanya 2

lupa itu adalah mekanisme agar kita selalu insyaf ada yg maha mengingat.
maka orang2 yg pura2 lupa, benar2 membalik logika tersebut.

Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat sepanjang kalian memiliki sesuatu. Apa sesuatu itu? Tentu saja bukan GPS, alat pelacak, dan sebagainya, sesuatu itu adalah pemahaman yang baik bagaimana mengendalikan perasaan.
--Tere Liye, separuh quote dari novel 'Borno'.

Perintah puasa di bulan Ramadhan, turun di bulan sya'ban tahun ke-2 hijriyah--silahkan diperbaiki jika ada yg tahu lebih valid. Itu artinya, Nabi yang kita cintai, hanya menggenapkan 9 kali Ramadhan--lagi2 silahkan diperbaiki jika perhitungan sy keliru.
Itu artinya lagi, kalau kita mulai genap puasa Ramadhan usia 9 tahun, kita yg berusia 18 tahun ke atas, lebih banyak menggenapkan puasa Ramadhan. Apalagi sy yg usianya kepala tiga, lebih banyak lagi.
Semoga kita semua tidak termasuk yg puasanya hanya memperoleh haus dan lapar saja. Banyak, berpuluh tahun, tapi tetap hanya dapat haus dan lapar saja. :(

Cukuplah akhlak yg baik sebagai kecantikan/ketampanan utama.
--Tere Liye, novel bidadari2 surga (tdk ada kalimat persis seperti ini tertulis di dalamnya)

Janganlah termasuk golongan orang2 yg suka melampui batas.
Lantas di mana batasnya? Batas masih boleh atau nggak? Nah, itulah gunanya akal, pengalaman, insting digunakan. Dalam banyak situasi, tidak semua orang mau mengingatkan apakah kita ini sudah melampui batas atau tidak. Sering-sering introspeksi, menilai diri sendiri juga cara lain agar tidak melampui batas.

“Ya Rabb, Engkaulah alasan semua kehidupan ini. Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini. Perasaan itu datang dariMu. Semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMu. Kami hanya menerima titipan. Dan semua itu ada sungguh karenaMu.
Katakanlah wahai semua pencinta di dunia. Katakanlah ikrar cinta itu hanya karenaNya. Katakanlah semua kehidupan itu hanya karena Allah. Katakanlah semua getar-rasa
itu hanya karena Allah. Dan semoga Allah yang Maha Mencinta, yang Menciptakan dunia dengan kasih-sayang mengajarkan kita tentang cinta sejati.
Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan hakikatNya. Semoga Allah sungguh memberikan kesempatan kepada kita untuk memandang wajahNya. Wajah yang akan membuat semua cinta dunia layu bagai kecambah yang tidak pernah tumbuh. Layu bagai api yang tak pernah panas membakar. Layu bagai sebongkah es yang tidak membeku.”
**footnote di novel 'hafalan shalat Delisa', saat Delisa bilang 'Delisa cinta Ummi/Abi karena Allah'.

Hanya orang2 tdk berilmu-lah yg membagikan zakat dgn cara acara massal, antrian panjang, dan sejenisnya (pakai diliput, difoto2 pula). Zakat itu kewajiban kita, sekaligus HAK mereka, jd bila perlu, kita yg datang membungkuk2 sopan mengantarkannya, bukan sebaliknya, mereka yg membungkuk2 menunggu antrian.
*sy posting hal ini setahun lalu, sy repost kembali. kalau ada yg merasa tersinggung, berbeda pendapat, dan merasa itu baik2 saja, sy pikir mending kalian menahan diri utk komen membantah.


**sumber : Darwis Tere Liye Facebook

Tidak ada komentar: