Rabu, 29 Agustus 2012

status (bagian kedelapan)

Orang-orang yang galau karena perasaan, kadang sibuk bilang: 'aku tidak bisa hidup tanpanya', 'aku mati karena cinta', 'aku tidak bisa melanjutkan hidup tanpa cinta'
Well, menurut saya sih, kita akan benar2 mati kalau tidak ada oksigen atau air.

Mengingatkan/menasehati teman terkadang jauh lebih sulit dibandingkan mengingatkan orang kebanyakan yg tidak kita kenal dekat. Tetapi ada yg lebih sulit lagi, mengingatkan diri sendiri.

Apakah itu cinta sejati tanpa berharap apapun?
Tanyakanlah ke anak2 kita, anak2 balita di sekitar kita, yg berlarian senang saat melihat orang tuanya pulang, berteriak kencang, "Bapak/Ibu pulaaangg!"
Sesederhana itu?
Iya, sesederhana mereka tetap berteriak riang walaupun seharian kita tinggalkan pergi bekerja, walaupun tadi pagi kita marahin karena sesuatu, walaupun sebelumnya nangis jerit-jerit karena kita bilang tidak atas permintaannya utk bermain sebentar

Apa yang kita anggap penting, belum tentu penting bagi orang lain.

Sebenarnya, apakah pengorbanan memiliki harga dan batasan?
Apakah pengorbanan itu priceless, tidak terbeli dengan uang, karena hanya kita lakukan untuk sesuatu yang amat spesial di waktu yang juga spesial? Atau boleh jadi sebenarnya gratis, karena bisa kita lakukan kapan saja, ke siapa saja, dan selalu menyenangkan untuk dilakukan berkali-kali.
--Tere Liye, novel Sunset Bersama Rosie

Momen paling menarik dari hubungan seorang anak dan ibunya adalah beberapa detik setelah anaknya lahir.
Lihatlah, anaknya menangis kencang, Ibunya tersenyum bahagia.
Karena besok lusa, saat sudah besar, boleh jadi, anaknya tertawa (ha-ha, hi-hi dengan teman2nya, susah diatur), Ibunya justeru menangis sedih.

Bicara soal prinsip2 kebenaran, maka tidak ada yg namanya keragu2an. Sekali itu jelas keliru, salah, merusak, maka jangankan ditukar satu gunung emas, ditukar seluruh dunia pun tidak mau.
Hanya para peragu-lah yg baik2 saja dalam segala hal. Mau bernegosiasi atas setiap kesempatan.

Kalian pernah baca berita di Nigeria sana, ada bayi yg terlahir bersama Al Qur'an kecil? Lantas kita berbondong2 menyebarkan berita itu, menyanjung agama kita, dsbgnya.
Maka sy hanya ingin bilang: boleh jadi apa yg kita lakukan, dekat sekali dgn menghina agama ini. Jika berita itu diposting oleh media2 yg menurut kita terpercaya, maka bukan berarti berita itu jadi valid 100%, mudah saja cek-nya,
googling nama2, lembaga2 atau siapa sj yg disebut dlm berita tsb, cari di laman aslinya, dalam kasus ini Nigeria langsung, maka kita akan paham mana berita palsu, hoax, mana berita benar.
Mari mencari ilmu sebanyak2nya. Agar kita semua bisa lebih hati2. Jangan sampai kita justeru menebar benih sirik dgn semua berita yg seolah2 mukjijat, dsbgnya.

Jika semua orang menyukai kita, maka itu tidak selalu kabar baik. Jangan-jangan selama ini kita selalu memakai topeng untuk menyenangkan semua orang. Jangan berkecil hati jika ada yang membenci kita, pastikan saja jangan habiskan waktu menanggapi mereka.

Kita sibuk menyebarkan berita2 palsu/hoax ttg mukjijat apalah, mukjijat inilah. Ada asma Tuhan di manalah, ada bayi yg apalah, ada yg bisa menyembuhkan apalah, dsbgnya. Sibuuuk sekali di repost, di komen, dirubung seperti laron merubung lampu.
Sampai kita lupa (atau jangan2 kita semua memang sengaja dibuat lupa dgn berita itu), bahwa, mukjijat terbesar dalam agama ini justeru ada di rumah kita sendiri: Al Qur'an.

'Pintu hati' itu tidak seperti pintu bendungan, yang kapanpun aman dibuka tutup, tidak merembes. Dalam urusan perasaan, sekali pintu hati dibiarkan terbuka, maka susah payah menutupnya kembali, tetap merembes, bahkan lubang bocornya jebol dimana2, membahayakan seluruh bendungan.
Maka, jika kita belum siap, belum niat serius, maka jangan suka membuka tutup pintu hati. Dan tentu saja, jangan mau digombalin oleh orang yg terbiasa sekali membuka tutup pintu hatinya. Lah, pintu bendungan dunia nyata saja hanya dalam kondisi tertentu dibuka tutup.

Cinta yang besar, tanpa disertai komitmen dan saling mempercayai, maka dia hanya akan menelan diri sendiri.
--Tere Liye, buku 'Berjuta Rasanya 2'. quote ini hanya relevan utk yg sudah menikah, bukan buat kalian yg gombal pacaran.

"Itu tiada lain hanyalah bayangan dan pikiran yang kau cintai. Saya tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan."
-it is but a shadow and a thought that you love, i cannot give you what you seek.
**Aragorn, saat menjelaskan ke Eowyn kalau dia tidak menyukainya. 'Return of The King, Lord of The Ring #3". Ini cara paling efektif (sekaligus super tega) untuk menutup pintu perasaan, jangan macem2, jangan dekat2.

Cermin memang memantulkan apapun yg ada, jujur. Tapi hati manusia yg jujur, bisa lebih cemerlang dibanding cermin yang jelas2 tidak bisa menunjukkan apa yg ada di dalam kantong atau kotak yg kita pegang.
Genangan tinta hitam pekat, sama sekali tidak bisa memantulkan apapun. Tapi hati manusia yg jahat, bisa lebih pekat dan kelam, menyembunyikan lebih banyak dibanding pantulan tinta hitam.

Otak manusia sejak lama terlatih menyimpan banyak perbandingan berdasarkan versi mereka sendiri, menerjemahkan nilai seratus itu bagus, nilai lima puluh itu jelek. Wajah seperti ini cantik, wajah seperti itu jelek. Hidup seperti ini kaya, hidup seperti itu miskin. Otak manusia byang keterlaluan pintarnya mengumpulkan semua kejadian-kejadian itu dalam sebuah “buku besar”, yang disebut buku perbandingan.
Buku itu lantas diserahterimakan kepada generasi penerusnya, selalu diperbaharui sesuai kebutuhan jaman, yang sayangnya dalam banyak hal, lama-lama perbandingan itu menjadi amat menyedihkan. Mempunyai harta benda itu baik, miskin-papa itu jelek. Benar-benar ukuran-ukuran yang tidak hakiki. Bagaimana mungkin posisinya tetap lebih baik kalu harta-benda itu didapatkan dengan cara-cara yang tidak baik? Bagaimana pula tetap lebih jelek kalau kemiskinan itu memberikan kehormatan hidup?
--Tere Liye, novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

*Sinonim kata 'cukup'
Jika kita tidak bisa memperbaiki, tidak ikut merusak sudah cukup.
Jika kita tidak bisa saling tolong-menolong, tidak ikut merugikan orang lain, sudah memadai.
Jika kita tidak bisa memulai perubahan, berdiri di belakang orang2 yg memulai perubahan, sudah lumayan.
Jika kita tidak bisa memberantas korupsi, tidak ikutan korupsi waktu dan hal2 kecil lainnya, sudah genap.
Jika kita tidak bisa berdakwah, turur menyebarkan, repost, share nasehat2, sudah pas.
Jika kita tidak bisa berpartisipasi positif memberikan pendapat, tidak ikutan merusak diskusi, sudah komplet.
*Banyak sekali urusan di dunia ini, yg jika masing2 melakukan yg minimal saja (tidak perlu yg excellence segala), kehidupan akan jadi lebih baik.

Memilih sekolah/universitas yg baik itu bukan karena terkenal, ngetop, dijamin bekerja setelah lulus, pilihan orangtua/keluarga, dsbgnya.
Memilih sekolah/universitas yg baik itu adalah karena kalian menyukai jurusannya, meyakini akan bisa belajar dgn menyenangkan di sana, dan tahu persis ilmunya akan bermanfaat bagi orang banyak setelah lulus.
Tidak ada yg mengalahkan serunya belajar karena kalian memang menyukainya. Lakukan yg terbaik, apapun jurusannya, mau seaneh, setidak ngetop apapun, sukses akan tetap datang.


**sumber : Darwis Tere Liye Facebook

Tidak ada komentar: