Rabu, 30 Mei 2012

bibadari-bidadari Surga

"bagaiamana mungkin dia tidak akan mmenagis? lihatlah, seseorang yang amat dihargai sepanjang hidupnya berbaring lemah dihadapannya, tetap sama seperti dulu. memberi perlindungan. memberikan perlindunga. memberikan janji-janji yang selalu ditunaikan. mengubur cita-citanya sendiri demi adik-adiknya. bahkan hingga saat ini, ketika tubuhnya terlihat amat lemah. kak Laisa tetap berusaha tersenyum menyuruhnya tidak menangis."

"Laisa yang bersumpah membuat adik-adiknya sekolah menjadikan sumpah itu seperti praasasti di hatinya. tidak. laisa tidak pernah menyesali keputusannya. sepanjang hari terpanggang terik matahari di ladang. bangun jam empat membantu memasak gula aren. menganyam rotan hingga larut malam. tidak henti, sepanjang hari. mengajari adik-adiknya tentang disiplin. madiri. kerja keras."

"bagi Laisa, yang berhak merepotkan itu adik-adiknya, bukan dia."

"kak Laisa yang tidak pernah menangis di depan adik-adiknya. tidak pernah. sesakit apapun, sesesak apaun rasanya. kak Laisa yang selalu berusaha terlihat semua baik-baik saja."

"itu semua karena kakak. itu semua sungguh karena kakak."

"jodoh ada di tangan Allah. mungkin dalam urusan ini, kakak tidak seberuntung dibandingkan dengan memiliki adik-adik yang hebat seperti kalian. dulu memang mengganggu sekali mendengar pertanyaan tetangga, tatapan mata itu, tetapi mereka melakukannya karena mereka peduli dnegan kita. satu dua menyampaikan rasa peduli itu dengan cara yang tidak baik, namun itu bukan masalah."

"sekarang usiaku tiga puluh empat tahun. tapi apa yang kaka harus lakukan? itu semua ada di tangan Allah. yang lebih penting lagi, apakah masih berkesempatan melakuakn banyak hal di lembah ini, berkesempatan melihat kalian melakukan hal-hal hebat di luar sana. berkesempatan membuat mamak riang dengan keseharian di perkebunan."

"bagi kak Laisa, adik-adiknya jauh lebih penting."

"kak Laisa tidak pernah sekalipun berkeberatan dengan takdir kehidupannya."

"'ia mata menyukaimu, nak. kau tahu, meski tadi pagi ia sendiri yang meminta perjodohan itu dipercepat, tapi ia tak kuasa melangkahkan kakinya ke dalam pesawat. tidak kuasa. hanya berbisik berkali-kali di dalam garbata, 'Dali akan menyusul, Dali akan menyusul, papa'. berdiri mematung di depan pintu pesawat. tidak bisa melakukannya. ia sungguh amat menyukaimu.'"


"terkadang betapa munafiknya urusan manusia dalam urusan ini. lihatlah, kenaapa pula temannya tersebut mesti berpura-pura ada jadwal acara mendadak, ceramah di manalah hari ini. Dali munte membenci ukuran-ukuran relatif yang ada di kepala orang ketika mencari jodoh. sungguh jika ada yang ingin menilai secara objektif, kak Laisa masuk tiga dari empat kriteria utama yang disebutkan Nabi dalam memilih jodoh."

"menjadi keluarga yang jujur meski keadaan sulit. berbuat baik dengan tetangga sekitar. jadi kenapa harus mempersoalkan kecantikan? bukiankah itu hanya ada di urutan keempat?"

"ketika salah-satunya justru memutuskan untuk bersabar atas pasangan yang tidak beruntung dari tampilan wajah dan fisik tersebut maka Surga menjadi balasan buatnya. tidakkah hari ini, ada yang mengerti hakikat kisah tersebut."

"'kakak tidak sakit hati?' | 'kenapa harus sakit hati, Dali?'"

"apakah mereka akan tetap sibuk mencari perhatian jika wajah dan fisiknya seperti kak Laisa? omong-kosong. mereka tidak benar-benar menyukai dirinya. menyukai apa adanya. mereka hanya menyukai tampilan fisik dan wajah. seperti seekor lebah yang tertarik atas indahnya kelopak bunga. seperti seekor rubah yang tertarik pasangannya karena bau tubuhnya. maka hewan-lah sehatinya perangai mereka."

"maafkan Ikanuri.... sungguh maafkan Ikanuri, kak Laisa... maafkan Ikanuri yang dulu selalu bilang, kak Laisa bukan kakak kami."


"kak Laisa yang berjanji akan membuatnya terus sekolah. yang boleh malu dan sakit itu kak Laisa, bukan adik-adiknya. bagaimana mungkin kak Laisa bukan kakak mereka dengan semua itu?"

"tidak ada anak-anak di dunia ini yang instan tumbuh seketika menjadi baik. masa kanak-kanak adalah masa 'peniru'. mereka memperhatikan, menilai, lantas mengambil kesimpulan. lingkungan, keluarga, dan sekitar akan membentuk watak mereka. celakalah, kalau proses 'meniru' itu keliru. contoh yang keliru. teladan yang salah."

"sejak kecil mamak mengajarkan ritus agama yang indah kepada mereka. shalat malam salah-satunya. 'Lais, seandainya kita bisa mengukurnya seperti timbangan beras, shalat malam yang baik seharga seluruh dunia dan seisinya."

"kak Laisa jatuh tertidur, dengan sungging senyum dan satu kalimat do'a : 'yaa Allah, jadikan Lais salah satu bidadari-bidadari Surga....'"

"mereka tidak saling mengungkapkan perasaan secara langsung. tapi bukankah perasaan itu tidak selalu harus dikatakan? cara menatap, cara bertutur sungguh cermin dari isi hati. lagipula sama seperti kakak-kakaknya, Yashinta tidak mengenal proses pacaran."

"Lais sungguh ikhlas dengan segala takdirMu..."


"semua ini memang benar-benar sederhana baginya. kesendirian. rasa sepi. kerinduan. semua itu benar-benar sederhana baginya. ia merasa cukup dengan segalanya."

"aku akan tetap menunggu, aku sangat mencintaimu, bagaimana kau harus melukiskan perasaan tersebut karena teramat besarnya cinta itu."
"jika mereka tidak bisa bergerak ke fase komitmen, pernikahan, maka lebih baik ia mundur. lebih baik mereka saling menjauh. menunggu. menunggu hingga kapanpun."

"sungguh begitulah hidup ini. datang. pergi. senang. susah. tidak peduli meski seseorang itu anggota keluarga yang amat kita cintai."

"aku akan selalu mencintaimu, Yash"

"senja itu, seorang bidaadari sudah kembali di tempat terbaiknya. bergabung dengan bidadari-bidadari Surga lainnya."

"dengarkanlah kabar bahagia ini ; wahai wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan atau tidak pernah 'terpilih' di dunia yang amat keterlauan mencintai materi dan tampilan wajah). yakinlah, wanita-wanita shalehan yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur. kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari Surga. dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari Surga parasnya cantik luar biasa."

Tidak ada komentar: