Senin, 21 Mei 2012

batas bersyukur

beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah tayangan bagus di televisi, judulnya "Jika Aku Menjadi" diakhir acara mbak-mbak pesertanya berkata "kita tidak bisa memberi sesuatu apapun kepada orang yang selalu bersyukur."

bener banget. mbaknya bener banget, terlepas itu benar kata-katanya atau memang settingan cerita dari televisi yang bersangkutan -su'udzon aja gue ini-

kata-kata tersebut benar, benar sekali, kita memang tidak akan pernah bisa memberi apapun untuk seseorang yang selalu bersyukur atas apa yang telah dia miliki, bersyukur dan ridha atas semua pembagian dari Tuhannya.

orang yang selalu bersyukur, niscaya tidak memiliki tempat untuk mengeluh dan risau gundah gulana atau galau terhadap apa yang terjadi dlam hidupnya. karena dia selalu menjadikan perkataan Rasulullah saw sebagai pedoman, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

maka, selesailah sudah kegundahan dan keresahaan. sebab cukup bagi orang yang bersyukur semua apa yang telah Allah berikan padanya. ia ridha dengan pemberian Allah, dan dengan rahmatNya semoga Allah juga ridha dengan kepadanya.

jadi apapun yang Allah berikan, baik banyak ataupun sedikit orang yang selalu bersyukur akan selalu berterimakasih, akan selalu merasa cukup, tak menuntut Tuhannya untuk memberi lebih. sebab ia percaya Allah telah memberikan yang terbaik banginya, sebab ia yakin Allah tak pernah salah memutuskan ketetapanNya. jika pemberianNya kurang, maka ia akan tetap berterimakasih dengan sabar yang ia punya, jika pemberianNya adalah musibah, maka orang yang pandai bersyukur akan mengoreksi dirinya, akan meningkatkan keimanannya, akan semakain mendekatkan diri padaNya, sehingga kekurangan dan musiban yang ia dapat justru menjadi kekuatan unutk "naik level keimanan", sehingga musibah dan kekurangan akan membuka pintu Surga baginya dengan kesabarannya.

sedang ketika ia mendapatkan yang lebih dari Tuhannya maka itu hanyalah jalan untuk semakin bersyukur dan berterimakasih atas segala nikmat yang Allah beri, jika ditambah dengan kenikmatan lain maka semakin tersungkurlah ia dalam sujudnya, semakin dalamlah rasa cintanya, semakin deraslah airmata penghambaannya.

orang yang merasa cukup dengan pembagian Allah, tak akan pernah mengeluh untuk gaji yang kecil, pendapatan yang menurun, sulitnya mencari pekerjaan, pelajaran yang susah, ujian yang memusingkan, bahkan segala musibah akan tetap disikapi dengan senyuman diwajah. karena ia paham, dunia ini tak selamanya, ia hanya mampir untuk siapkan bekal di Surga. maka ia akan sikapi segala yang menyakitkan hati dengan taqwa.

pun begitu saat nikmat datang, ia tak akan jumawa atau merasa sangat dicintai Tuhan. sebab ia paham ada ujian terselip dalam setiap nikmat. maka nikmat akan disikapi dengan bijak, akan dinikmati dengan sujud yang lebih dalam, dengan cinta kepada Tuhan yang lebih besar.

batas syukur hanya ada di Surga, batas syukur bagi orang-orang yang ridha dengan pembagian Tuhannya adalah saat ia menginjakkan kakinya di Surga, adalah saat ia berbahagia menatap wajah Tuhannya yang selama ini memberikan segala yang ia butuhkan.

”Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (At-Taubah:72)

Tidak ada komentar: