Sabtu, 26 Mei 2012

ayahku bukan pembohong

"hari yang dijanjikan telah tiba."

"dua ratus tahun bersabar, kesempatan itu akhirnya datang."

"mereka memenagkan pertempuran melawan diri mereka sendiri, melawan rasa tidak sabar, menundukkan marah, dan kekerasan di hati."

"pengorbanan, keteguhan hati. ketika kau tetap mendayung sampan sendirian di tengah sungai yang dipenuhi beban kesedihan, tangis, dan darah tercecer dimana-mana, ketika kau terus mendayung bukan karena tidak bisa kembali, tapi meyakini itu akan membawa janji masa depan yang lebih baik untuk generasi berikutnya apapun harganya."

"ibu tersenyum, menyeka ujung mata, 'kau tidak boleh pacaran di sekolah.' | aku menyeringai lebar, 'ibu lupa, ibu wanita nomor satu dalam hidupku. aku tidak akan pacaran dengan gadis mana pun.'"


"hidup terus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan, atau seberapa membahagiakan, biarkan waktu yang menjadi obat.

"aku tahu, besok lusa ia akan jadi bagian hidupku."


"sufi adalah orang-orang yang tidak mencintai dunia dan seisinya. mereka lebih sibuk memikirkan hal lain."

"apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? apa definisi kebahagiaan? kenapa kita tiba-tiba merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan, atau sekedar kabar buruk? kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati?"

"itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup. hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati jauh lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, itu semua tidak hakiki. itu datang dari luar. saat semua itu hilang, dengan cpat hilang pula kebahagiaan. sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan."


"jika kau punya mata air sendiri di dlam hati. mata air dalam hati itu konkret. amat terlihat. mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tak terkira. bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sabahat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gelisah. padahal apa susahnya ikut senang."

"itulah hakikat sejati kebahagiaan. ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih."

"kebahagiaan itu datang dari hati sendiri, bukan dari orang lain, harta benda, ketenarang, apalagi kekuasaan. tidak peduli seberapa jahat dan merusak sekitar, tidak peduli seberapa banyak parit-[arit itu menggelontorkan air keruh. ketika kau memiliki mata air sendiri dalam hati, dengan cepat danau itu akan bening kembali."

"ibu kau bahagia, Dam, meski harus melupakan hari-hari hebatnya. meski hidup sederhana, tidak memiliki perhiasan. kemana-mana naik angkutan umum."

"ayah memilih jalan hidup sederhana. berprasangka baik ke semua orang, berbuat baik bahkan pada orang yang baru dikenal, menghargai orang lain, kehidupan, dan alam sekitar."

"kalau kau punya hati yang lapang, hati yang dalam, mata air kebahagiaan itu akan mengucur deras. tidak ada kesedihan yang bisa merusaknya, termasuk kesedihan karena cemburu, iri, atau dengki dengan kebhagiaan orang lain. sebaliknya, kebahagiaan atas gelar hebat, pengkat tinggi, kekuasaan, harta benda, itu semua tidak akan menambah sedikit pun beningnya kebahagiaan yang kau miliki."


"ayah kau terlalu sederhana untuk mengakuinya."

Tidak ada komentar: