Minggu, 09 Oktober 2011

Oh ZINA HATI, mengapa kau begitu menggoda?

pernikahan, sesuatu yang sangat membahagiakan, saya selalu berpikir bahwa saya hanya membutuhkan pernikahan untuk bersama dengan orang yang saya cintai. terlebih semenjak saya tahu bahwa Islam tidak mengenal aktifitas ber-pa-ca-ran *biar jelas, hhehehe*

pertanyaan ini dulu sering sekali saya ajukan kepada seseorang yang mengenalkan saya pada agama yang indah ini, mengenalkan Islam lebih dalam saat saya masih SMA, "mpok, kenapa sii kita ga boleh pacaran?" kekekeke, sebab waktu itu, ehm atau mungkin sampai sekarang yaa, ada bagian di hati saya masih bersemayam syaitan yang selalu menggoda untuk hal yang satu ini.

alhamdulillah, Allah berkenan menanamkan keyakinan dalam diri saya untuk tetap menjaga hati ini, amiin.

zina hati? apasih zina hati itu?

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).

dan “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memegang, kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).


jadi zina hati adalah posisi dimana kita berharap dan berangan-angan mengenai seseorang yang kita cinta. bahkan jika kita tidak berpacaran sekalipun ga usah khawatir kita tetap mempunyai kesempatan melakukan zina hati *maksud lo?*. masalah pacaran bagaimana hukumnya silahkan cari sendiri ya, kalu mau yang paling konkrit ya liat di Al Qur'an dan Hadist, kalau kemudian timbul pernyataan "lah di Al Qur'an aja ga ada larangan pacaran kok." iya emang ga ada, tapi emang di Al Qur'an atau Hadist ada perintah untuk pacaran? kalu ada saya nyari pacar sekarang juga nih.

nah di perintahnya aja ga ada di Al Qur'an ataupun Hadist kok tibatiba minta ayat larangan untuk membenarkan perbuatan. kalu gitu baca lagi Al Qur'an dan terjemahannya juga jangan cuma disimpen dilemari, setahun aja belum tentu bisa khatam Al Qur'an kok mau pacaran, yang wajibwajib belum dilaksanain kok yang bid'ah mau dijalanin, aneh. yang jelas ada itu perintah untuk MENIKAH, dan jalan untuk menikah bukan dengan pacaran, Rasulullah sudah menjelaskan pun para sahabat sudah mencontohkan. siapa kamu, merasa lebih baik dengan menuruti nafsu dibanding tuntunan Rasulullah?

oke, balik ke zina hati. tulisan ini lebih ke orang yang udah paham bagaimana Islam mengajarkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. semakin banyak kenyataan saya menemui aktivis -kita sebut gitu aja- yang berpacaran. iya sii, idup idup lo, yang ngejalanin juga elo, yang mati dan tanggungjawab nantinya juga elo. -jadi males lanjutin- *digetok*

"ini tujuannya memang kepernikahan kok."

"insyaAllah saya sudah istikharah dan hati saya memang condong kepadanya."

"biar lebih kenal aja, jadi paham gimana dia."

"saya insyaAllah akan melamar dia."

"kita ga pegang pegangan kok, kan ga boncengan juga, ga makan berdua dan nonton berdua, apalagi zina. enggak."

HAHAHAHAHAHA ! ups, 'afwan.

istikarah? lamaran? pernikahan?

namanya hati kita sedang condong ya jelas kemana mana yang keliatan yang mutermuter dipikiran cuma dia, sama DIA jadi lupa.

niat melamar? ga ada niat yang jujur sebelum benarbenar dilaksankan, jadi kalu emang mau melamar ya ga perlu sms an telpon an sebulan dua bulan tiga bulan kan? melamar itu datangi keduaorang tua, datangi walinya, mau kenal dulu? datangi murobbi nya, atau orang terdekatnya supaya penilaian lebih objektif. datengin orangnya langsung ya jadinya baikbaiknya doang yang keliatan.

ga penganpegang, ga berduaan? hati kamu dimana? hati kamu udah berzina, mengingat selain-Nya. mengingat seseorang yang belum halal bagi kamu, seseorang yang belum muhrim, masih haram bahkan untuk memiliki hati kamu. dan sampe kiamatpun hukumnya sesuatu yang haram itu tetap sama, dosa.

yakin dia yang sms tausiyah, telpon menjanjikan khitbah adalah dia yang Allah gariskan? lalu apa guna istikharah? apa guna hadist dan ayat Qur'an? ga percaya sam Lauhul Mahfudz yang sudah dirancang dengan sangat sempurna oleh Dia? sehingga kamu lebih memilih menjalankan rencana kamu lebih dulu dibnding rencana Allah. lidah bisa mengaku tetap lebih mencintai Dia, tapi hati mana bisa berdusta? kenapa ga percaya sama Allah saja, bukankah Dia yang Maha Baik dan Maha Mengetahui? layakkah kita membalas kasihsayang-Nya dengan menyayangi yang belum halal bagi kita?

sekarang do'a do'a yang menemani tahajjud bercerita tentang dia dia dia, kemana rasa takut akan azab siksa nereka-Nya? memang belum nyata keadaan akhirat sampai sekarang, tapi emangnya berguna penyesalan yang datang belakangan?

"aku menccintainya karena Allah."

mencintai itu hakikatnya memberi, yang terbaik bagi yang kita cintai. meberikan dia jalan yang lapang menuju Surga.

"kami kan tak sampai bersentuhan apalagi berzina."

HATIMU. dimana hatimu? mengingat Dia, atau dia? bahkan salah satu sahabat pun pernah meninggalkan malam pertamanya untuk pergi menjemput Surga dengan berjihad, berperang. padahal orang yang dia cinta itu halal, wanita yang halal baginya. lah ini masih belum halal aja udah beranganangan sakinah mawadah warahmah. dimana niat jihad? dimana rasa MALU?

lantas dimana kedudukan Allh dalam hatimu? dimana Rasulullah? dimana Surga?

bahkan jika kelak di akhirat, Allah mengatakan bahwa pacaran bukanlah hal yang haram, saya lebih memilih hati ini bertemu dengan Dia dalam kondisi penuh mengingat-Nya setiap waktu. hingga saat saya berkata, "Rabbi, aku mencitai-Mu' Dia tak kan berkata "kau berdusta hamba-Ku, kau ingat makhluk yang tak mampu memberimu apapun setiap waktu dan kau sisihkan sedikit ingatanmu untuk-Ku," tapi saya ingin Dia berkata, "hamba-Ku cintamu sampai ke Arsy-Ku sampai kehadapan-Ku, cintamu bersama cinta para penghuni Surga."

jadi jelas, hanya PERNIKAHAN lah jalan HALAL dan berkah, itulah guna istikharah memilih kecondongan hati berdasarkan petunjuk dari-Nya, bukan nafsu bukan hasrat terpendam. bersabarlah, katakan itu pada hatimu, "hatiku, bersabarlah dan berbahagialah dengan janji Surga."

Rabbi, hanya Kau yang mampu menjaga hati kami, jagalah hingga Kau ridha dengan penyempurnaan separuh agama. kenalkan ia saat kami mampu menjalani pernikahan yang barakah di hadapan-Mu hingga kami tak membawa rasa malu saat pertemuan kita kelak di akhirat. amiin.

*untuk mengingatkan diri sendiri, insyaAllah bukan karena iri, lebih kepada bentuk penghambaan diri pada-Nya sembari tetap suci di hari yang kelak diberkahi*

Tidak ada komentar: