Rabu, 24 Agustus 2011

sekarang tidak ada lagi pertanyaan itu

bukankah daun yang jatuh tidak pernah mebenci angin yang telah menerbangkannya jauh dari ranting yang -mungkin- ia cintai ?

bukankah daun yang jatuh tidak pernah membenci angin yang telah memisahkannya dari pohon yang -mungkin- memberinya kebahagiaan ?

namun siapakah yang telah mengirimkan angin untk menjatuhkan daun ? bukankah Rabb kita dan Rabb angin, daun, ranting, serta pohon itu satu, sama ?

hidup ini tidak lain mempunyai hakikat penerimaan dan kesederhanaan. penerimaan akan ketetapan-Nya setelah kita berusaha mati-matian, penerimaan akan takdir baik atau buruk -menurut kita-, penerimaan akan segala hal yang tak kita inginkan. kesederhanaan dalam memandang ketetapan-Nya, sederhana dalam menjalani hidup, sedehana dalam mencintai memiliki.

aku pernah, bertanya pada Rabbku.

mengapa bukan aku yang mendapatkan semua kebaikan itu ? bukankah aku sudah bersabar ? bukankah aku tidak mengeluh ? bukankah aku tetap menjalani hari seperti biasanya, memasang wajah ceria dan terus menunjukkan rasa syukurku pada-Mu ?

sungguh, dengki, iri hati, dan cemburu itu menghapus segala kebaikan yang pernah ada, segala rasa taat yang pernah tercipta. ia menghitamkan hati tatkala menginginkan karunia orang lain hilang dari genggaman.

astaga, bisa-bisanya, berani-beraninya !!

bertanya membangkang meminta penjelasan pada-Nya, merusak catatan amal kebaikan yang lama dibangun, menggugurkan niat para malaikat mengukir indah nama ini di gerbang rumah yang mengalir sungai-sungai susu.

sungguh Rabb kita Maha Mengetahui, mengatahui mata air di dalam hati yang berubah keruh, tak lagi mengalir bening dan kau tahu itu sangat menyakitkan, mengetahui hati kita kotor busuk oleh prasangka buruk pada-Nya. bagaimanalah jika Dia bosan menegur, tak lagi perduli pada diri yang hina. tak mau lagi mengingatkan, bahkan sekedar menyapa lewat cobaan agar tahu kita bersalah, kau tahu bahkan itu lebih menyakitkan dibanding cinta yang bertepuk sebelah tangan. bagaimana bisa berbahagia kala Rabb sudah tak mau memandang penuh ridha karna kebencian yang tertanam, kebencian dan kemarahan pada ketetapan-Nya. kau tahu, penyesalan di hari pembalasan itu sungguh tidak berguna, tidak berguna.

Rabb, sekarang tidak akan ada lagi pertanyaan itu. biar hujan keikhlasan yang akan menghapus parit kotor dalam hati ini agar tetap lapang, agar tetap mengalirkan kejernihan mata air yang coba hamba bangun. hanya kekuatan dari-Mu dan keridhaan-Mu yang mampu menjadikannya nyata, menjadikan rumah itu berhiaskan berjuta kupu-kupu bersayap indah dan kerudung yang mengalir bagai air, bertetangga dengan insan yang paling mulia.

*recomended book : Hafalan Shalat Delisa, Ayahku (bukan) Pembohong, Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin karya tere-liye.*

Tidak ada komentar: