Minggu, 16 Oktober 2011

dari Allah, untuk kita

Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku dan juga demi kemurahan dan ketinggian kedudukan-Ku di atas Arsy.

Aku akan mematahkan harapan orang yang berharap kepada selain Aku dengan kekecewaan.
Akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata manusia.
Aku singkirkan ia dari dekat-Ku, lalu kuputuskan hubungan-Ku dengan-Nya.

Mengapa ia berharap kepada selain Aku ketika dirinya sedang berada dalam kesulitan, padahal sesungguhnya kesulitan itu berada di tangan-Ku dan hanya Aku yang dapat menyingkirkan nya.
Mengapa ia berharap kepada selain Aku dengan mengetuk pintu-pintu lain, padahal pintu-pintu itu tertutup ?
Padahal, hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapa pun yang berdoa memohon pertolongan dari-Ku.

Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesulitannya lalu Aku kecewakan ?
Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena dosa-dosanya yang besar, lalu Aku putuskan harapannya ?
Siapakah pula yang pernah mengetuk pintu-Ku lalu tidak Aku bukakan ?

Aku telah mengadakan hubungan langsung antara Aku dengan angan-angan dan harapan seluruh makhluk-Ku.
Akan tetapi, mengapakah mereka malah bersandar kepada selain Aku ?
Aku telah menyediakan semua harapan hamba-hamba-Ku, tetapi mengapa mereka tidak puas dengan perlindungan-Ku ?

Dan Aku pun telah memenuhi langit-Ku dengan para malaikat yang tiada pernah jemu bertasbih pada-Ku, lalu Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara Aku dengan hamba-hamba-Ku.
Akan tetapi, mengapa mereka tidak percaya kepada firman-firman-Ku?

Tidakkah mereka mengetahui bahwa siapa pun yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan tiada yang dapat menyingkirkannya kecuali Aku ?
Akan tetapi, mengapa Aku melihat ia dengan segala angan-angan dan harapannya itu, selalu berpaling dari-Ku ?

Mengapakah ia sampai tertipu oleh selain Aku ?

Aku telah memberikan kepadanya dengan segala kemurahan-Ku apa-apa yang tidak sampai harus ia minta.
Ketika semua itu Aku cabut kembali darinya, lalu mengapa ia tidak lagi memintanya kepada-Ku untuk segera mengembalikannya, tetapi malah meminta pertolongan kepada selain Aku ?

Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, lalu ketika dimintai tidak Aku berikan ?
Apakah Aku ini bakhil sehingga dianggap bakhil oleh hamba-Ku?

Tidakkah dunia dan akhirat itu semuanya milik-Ku ?
Tidakkah semua rahmat dan karunia itu berada di tangan-Ku ?
Tidakkah dermawan dan kemurahan itu adalah sifat-Ku ?
Tidakkah hanya Aku tempat bermuaranya semua harapan ?

Dengan demikian,siapakah yang dapat memutuskannya dari-Ku ?
Apa pula yang di harapkan oleh orang-orang yang berharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi,

"Mintalah kepada-Ku!" Aku pun lalu memberikan kepada masing-masing pikiran apa yang terpikir oleh semuanya.
Dan semua yang Kuberikan itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku meskipun sebesar debu.
Bagaimana mungkin kekayaan yang begitu sempurna akan berkurang, sedangkan Aku mengawasinya ?

Sungguh, alangkah celakanya orang yang terputus dari rahmat-Ku. Alangkah kecewanya orang yang berlaku maksiat kepada-Ku dan tidak memperhatikan Aku dan tetap melakukan perbuatan-perbuatan haram seraya tiada merasa malu kepada-Ku."

(Hadist Qudsi, Riwayat Ibnu Husain)

Dia Mengajarimu Untuk Bersabar

Seorang kawan bertanya dengan nada mengeluh.

“Dimana keadilan ALLAH?”, Ujarnya. “Telah lama aku memohon dan meminta padaNya satu hal saja. Kuiringi semua itu dengan segala kataatan padaNya. Kujauhi segala larangannya. Kutegakkan yang wajib. Kutekuni yang sunnah. Kutebarkan shadaqah. Aku berdiri di waktu malam. Aku bersujud di kala dhuha. Aku baca KalamNya. Aku upayakan sepenuh kemampuan mengikuti jejak RasulNya. tapi hingga kini ALLAH belum mewujudkan harapanku itu. Sama sekali.”



Saya menatapnya iba. Lalu tertunduk sedih.

“Padahal,” lanjutnya sambil kini berkaca-kaca.”Ada teman lain yang aku tahu ibadahnya berantakan. Wajib nya tak utuh. Sunnahnya tak tersentuh. Akhlaknya kacau. Otaknya kotor. Bicaranya bocor. tapi begitu dia berkata bahwa dia menginginkan sesuatu, hari berikutnya segalanya telah tersaji. Semua yang dia minta didapatkan. Dimana keadilan ALLAH?”

Rasanya saya punya banyak kata-kata untuk manghakiminya. Saya bisa saja mengatakan “Kamu sombong. Kamu bangga diri dengan ibadahmu. Kamu menganggap hina orang lain. Kamu tertipu oleh kebaikanmu sebagaimana iblis telah terlena! Jangan heran kalau doamu tidak diijabah. Kesombonganmu telah menghapus segala kebaikan. Nilai dirimu hanya anai-anai beterbangan. Mungkin kawan yang kau rendahkan jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi ALLAH karena dia merahasiakan amal shalihnya!”

Saya bisa mngucapkan itu semua. Atau banyak kalimat kebenaran lainnya.



Tapi saya sadar. ini ujian dalam dekapan ukhuwah. maka saya memilih sudut pandang lain yang saya harap lebih bermakna baginya daripada sekedar terinsyafkan tapi sekaligus terluka. Saya khawatir, luka akan bertahan jauh lebih lama daripada kesadarannya.

Maka saya katakan padanya,

“Pernahkan engkau di datangi pengamen?”

“Maksudmu?”

“ya, pengamen,” lanjut saya seiring senyum, “pernah?”

“iya. Pernah” wajahnya serius. matanya menatap saya lekat-lekat.

“Bayangkan jika pengamennya adalah seorang yang berpenampilan seram, bertato, bertindik, dan wajahnya garang mengerikan. Nyanyiannya lebih mirip teriakan yang memekakkan telinga. Suaranya kacau, balau, parau, sumbang, dan cemprang.



Lagunya malah menyakitkan ulu hati, sama sekali tak dapat dinikmati. Apa yang akan kau lakukan?”

“Segera kuberi uang,” jawabnya, “Agar segera berhenti menyanyi dan cepat-cepat pergi.”



“Lalu bagaimana jika pengamen itu bersuara emas, mirip sempurna dengan Ebit G.Ade atau sam bimbo yang kau suka, menyanyi dengan sopan dan penampilannya rapi lagi wangi; apa yang kau lakukan?”

“Kudengarkan, kunikmati hingga akhir lagu,” dia menjawab sambil memejamkan mata, mungkin membayangkan kemerduan yang dicanduinya itu. “Lalu kuminta dia menyanyikan lagu yang lain lagi. Tambah lagi. dan lagi”

Saya tertawa.

Dia tertawa.

“Kau mengerti kan?” tanya saya.

“Bisa saja ALLAH juga berlaku begitu pada kita, para hambaNya. JIka ada manusia yang fasik, keji, mungkar, banyak dosa, dan dibenciNya berdoa memohon padaNya, mungkin akan Dia firmankan pada malaikat : Cepat berikan apa yang dia minta. Aku muak mendengar ocehannya. Aku benci menyimak suaranya. Aki risi mendengar pintanya!”

“Tapi,” saya melanjutkan sambil memastikan dia mencerna setiap kata,

“Bila yang menadahkan tangan adalah hamba yang dicintaiNya, yang giat beribadah, yang rajin bersedekah, yang menyempurnakan wajib dan menegakkan yang sunnah; maka mungkin saja ALLAH akan berfirman pada malaikatNya :

Tunggu! Tunda dulu apa yang menjadi hajatnya. Sungguh Aku bahagia bila diminta. Dan biarlah hambaKu ini terus meminta, terus berdoa, terus menghiba. Aku menyukai doa-doanya. Aku menyukai kata-kata dan tangis isaknya. Aku menyukai khusyuk dan tunduknya. Aku menyukai puja dan puji yang dilantunkannya. Aku tak ingin dia menjauh dariKu setelah mendapat apa yang dia pinta. Aku mencintai-Nya.”

“Oh ya?” matanya berbinar. “Betul demikiankah yang terjadi padaku?”

“Hm… Pastinya aku tak tahu,” jawab saya sambil tersenyum.

dia terkejut. segera saya sambung sambil menepuk pundak-nya, “aku hanya ingin kau berbaik sangka.”

Dan dia tersenyum. Alhamdulillah…

sumber : Dalam Dekapan Ukhuwah - Salim A. Fillah

Jumat, 14 Oktober 2011

Tujuh Langit, Tujuh Malaikat Penjaga, dan Tujuh Amal Sang Hamba

Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu.

Dari Ibnu Mubarak dan Khalid bin Ma'dan, mereka berkata kepada Mu'adz bin Jabal, "Mohon ceritakan kepada kami sebuah hadits yang telah Rasulullah ajarkan kepadamu, yang telah dihafal olehmu dan selalu diingat-ingatnya karena sangat kerasnya hadits tersebut dan sangat halus serta dalamnya makna ungkapannya. Hadits manakah yang engkau anggap sebagai hadits terpenting?"

Mu'adz menjawab, "Baiklah, akan aku ceritakan..." Tiba-tiba Mu'adz menangis tersedu-sedu. Lama sekali tangisannya itu, hingga beberapa saat kemudian baru terdiam. Beliau kemudian berkata, "Emh, sungguh aku rindu sekali kepada Rasulullah. Ingin sekali aku bersua kembali dengan beliau...". Kemudian Mu'adz melanjutkan:

Suatu hari ketika aku menghadap Rasulullah Saw. yang suci, saat itu beliau tengah menunggangi untanya. Nabi kemudian menyuruhku untuk turut naik bersama beliau di belakangnya. Aku pun menaiki unta tersebut di belakang beliau. Kemudian aku melihat Rasulullah menengadah ke langit dan bersabda, "Segala kesyukuran hanyalah diperuntukkan bagi Allah yang telah menetapkan kepada setiap ciptaan-Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Wahai Mu'adz....!

Labbaik, wahai penghulu para rasul....!

Akan aku ceritakan kepadamu sebuah kisah, yang apabila engkau menjaganya baik-baik, maka hal itu akan memberikan manfaat bagimu. Namun sebaliknya, apabila engkau mengabaikannya, maka terputuslah hujjahmu di sisi Allah Azza wa Jalla....!

Wahai Mu'adz...
Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkati dan Mahatinggi telah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan petala langit dan bumi. Pada setiap langit terdapat satu malaikat penjaga pintunya, dan menjadikan penjaga dari tiap pintu tersebut satu malaikat yang kadarnya disesuaikan dengan keagungan dari tiap tingkatan langitnya.

Suatu hari naiklah malaikat Hafadzah dengan amalan seorang hamba yang amalan tersebut memancarkan cahaya dan bersinar bagaikan matahari. Hingga sampailah amalan tersebut ke langit dunia (as-samaa'I d-dunya) yaitu sampai ke dalam jiwanya. Malaikat Hafadzah kemudian memperbanyak amal tersebut dan
mensucikannya.

Namun tatkala sampai pada pintu langit pertama, tiba-tiba malaikat penjaga pintu tersebut berkata, "Tamparlah wajah pemilik amal ini dengan amalannya tersebut!! Aku adalah pemilik ghibah... Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk mencegah setiap hamba yang telah berbuat ghibah di antara manusia -membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan orang lain yang apabila orang itu mengetahuinya, dia tidak suka mendengarnya- untuk dapat melewati pintu langit pertama ini....!!"

Kemudian keesokan harinya malaikat Hafadzah naik ke langit beserta amal shalih seorang hamba lainnya. Amal tersebut bercahaya yang cahayanya terus diperbanyak oleh Hafadzah dan disucikannya, hingga akhirnya dapat menembus ke langit kedua. Namun malaikat penjaga pintu langit kedua tiba-tiba berkata, "Berhenti kalian...! Tamparlah wajah pemilik amal tersebut dengan amalannya itu! Sesungguhnya dia beramal namun dibalik amalannya itu dia menginginkan penampilan duniawi belaka ('aradla d-dunya).Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalan si hamba yang berbuat itu melewati langit dua ini menuju langit berikutnya!" Mendengar itu semua, para malaikat pun melaknati si hamba tersebut hingga petang harinya.


Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan sang hamba yang nampak indah, yang di dalamnya terdapat shadaqah, shaum-shaumnya serta perbuatan baiknya yang melimpah. Malaikat Hafadzah pun memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya hingga akhirnya dapat menembus langit pertama dan kedua. Namun ketika sampai di pintu langit ketiga, tiba-tiba malaikat penjaga pintu langit tersebut berkata, "Berhentilah kalian...! Tamparkanlah wajah pemilik amalan tersebut dengan amalan-amalannya itu! Aku adalah penjaga al-Kibr (sifat takabur). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku, karena selama ini dia selalu bertakabur di hadapan manusia ketika berkumpul dalam setiap majelis pertemuan mereka...."

Malaikat Hafadzah lainnya naik ke langit demi langit dengan membawa amalan seorang hamba yang tampak berkilauan bagaikan kerlip bintang gemintang dan planet. Suaranya tampak bergema dan tasbihnya bergaung disebabkan oleh ibadah shaum, shalat, haji dan umrah, hingga tampak menembus tiga langit
pertama dan sampai ke pintu langit keempat. Namun malaikat penjaga pintu tersebut berkata, "Berhentilah kalian...! Dan tamparkan dengan amalan-amalan tersebut ke wajah pemiliknya..! Aku adalah malaikat penjaga sifat 'ujub (takjub akan keadaan jiwanya sendiri). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku agar ridak membiarkan amalannya melewatiku hingga menembus langit sesudahku. Dia selalu memasukkan unsur 'ujub di dalam jiwanya ketika melakukan suatu perbuatan...!"

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan seorang hamba yang diiring bagaikan iringan pengantin wanita menuju suaminya. Hingga sampailah amalan tersebut menembus langit kelima dengan amalannya yang baik berupa jihad, haji dan umrah. Amalan tersebut memiliki cahaya bagaikan sinar matahari. Namun sesampainya di pintu langit kelima tersebut, berkatalah sang malaikat penjaga pintu, "Saya adalah pemilik sifat hasad (dengki). Dia telah berbuat dengki kepada manusia ketika mereka diberi karunia oleh Allah. Dia marah terhadap apa-apa yang telah Allah ridlai dalam ketetapan-Nya. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal tersebut melewatiku menunju langit berikutnya...!"

Malaikat Hafadzah lainnya naik dengan amalan seorang hamba berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, shaum-shaumnya, haji dan umrah, hingga sampailah ke langit yang keenam. Namun malaikat penjaga pintu langit keenam berkata, 'Saya adalah pemilik ar-rahmat (kasih sayang). Tamparkanlah amalan si hamba tersebut ke wajah pemilikinya. Dia tidak memilki sifat rahmaniah sama sekali di hadapan manusia. Dia malah merasa senang ketika melihat musibah menimpa hamba lainnya. Rabb Pemeliharaku memerintahkanku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku menuju langit berikutnya...!'

Naiklah malaikat Hafadzah lainnya bersama amalan seorang hamba berupa nafkah yang berlimpah, shaum, shalat, jihad dan sifat wara' (berhati-hati dalam bermal). Amalan tersebut bergemuruh bagaikan guntur dan bersinar bagaikan bagaikan kilatan petir. Namun ketika sampai pada langit yang ketujuh, berhentilah amalan tersebut di hadapan malaikat penjaga pintunya. Malaikat itu berkata, 'Saya adalah pemilik sebutan (adz-dzikru) atau sum'ah (mencintai kemasyhuran) di antara manusia. Sesungguhnya pemilik amal ini berbuat sesuatu karena menginginkan sebutan kebaikan amal perbuatannya di dalam setiap pertemuan. Ingin disanjung di antara kawan-kawannya dan mendapatkan kehormatan di antara para pembesar. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amalannya menembus melewati pintu langit ini menuju langit sesudahnya. Dan setiap amal yang tidak diperuntukkan bagi Allah ta'ala secara ikhlas, maka dia telah berbuat riya', dan Allah Azza wa Jalla tidak menerima amalan seseorang yang diiringi dengan riya' tersebut....!'

Dan malaikat Hafadzah lainnya naik beserta amalan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum demi shaum, haji, umrah, akhlak yang berbuahkan hasanah, berdiam diri, berdzikir kepada Allah Ta'ala, maka seluruh malaikat di tujuh langit tersebut beriringan menyertainya hingga terputuslah seluruh hijab dalam menuju Allah Subhanahu. Mereka berhenti di hadapan ar-Rabb yang Keagungan-Nya (sifat Jalal-Nya) bertajalli. Dan para malaikat tersebut menyaksikan amal sang hamba itu merupakan amal shalih yang diikhlaskannya hanya bagi Allah Ta'ala.

Namun tanpa disangka Allah berfirman, 'Kalian adalah malaikat Hafadzah yang menjaga amal-amal hamba-Ku, dan Aku adalah Sang Pengawas, yang memiliki kemampuan dalam mengamati apa-apa yang ada di dalam jiwanya. Sesungguhnya dengan amalannya itu, sebenarnya dia tidak menginginkan Aku. Dia menginginkan selain Aku...! Dia tidak mengikhlaskan amalannya bagi-Ku. Dan Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang dia inginkan dari amalannya tersebut. Laknatku bagi dia yang telah menipu makhluk lainnya dan kalian semua, namun Aku sama sekali tidak tertipu olehnya. Dan Aku adalah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, Yang memunculkan apa-apa yang tersimpan di dalam kalbu-kalbu. Tidak ada satu pun di hadapan-Ku yang tersembunyi, dan tidak ada yang samar di hadapan-Ku terhadap segala yang tersamar..... Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang belum terjadi. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah berlalu sama dengan pengetahuan-Ku terhadap yang akan datang. Dan pengetahuan-Ku terhadap segala sesuatu yang awal sebagaimana pengetahuan-Ku terhadap segala yang akhir. Aku lebih mengetahui sesuatu yang rahasia dan tersembunyi. Bagaimana mungkin hamba-Ku menipu-Ku dengan ilmunya. Sesungguhnya dia hanyalah menipu para makhluk yang tidak memiliki pengetahuan, dan Aku Maha Mengetahui segala yang ghaib. Baginya laknat-Ku....!!

Mendengar itu semua maka berkatalah para malaikat penjaga tujuh langit beserta tiga ribu pengiringnya, 'Wahai Rabb Pemelihara kami, baginya laknat-Mu dan laknat kami. Dan berkatalah seluruh petala langit, 'Laknat Allah baginya dan laknat mereka yang melaknat buat sang hamba itu..!

Mendengar penuturan Rasulullah Saw. sedemikian rupa, tiba-tiba menangislah Mu'adz Rahimahullah, dengan isak tangisnya yang cukup keras...Lama baru terdiam kemudian dia berkata dengan lirihnya, "Wahai Rasulullah......Bagaimana bisa aku selamat dari apa-apa yang telah engkau ceritakan tadi...??"

Rasulullah bersabda, "Oleh karena itu wahai Mu'adz.....Ikutilah Nabimu di dalam sebuah keyakinan...".

Dengan suara yang bergetar Mu'adz berkata, "Engkau adalah Rasul Allah, dan aku hanyalah seorang Mu'adz bin Jabal....Bagaimana aku bisa selamat dan lolos dari itu semua...??"

Nabi yang suci bersabda, "Baiklah wahai Mu'adz, apabila engkau merasa kurang sempurna dalam melakukan semua amalanmu itu, maka cegahlah lidahmu dari ucapan ghibah dan fitnah terhadap sesama manusia, khususnya terhadap saudara-saudaramu yang sama-sama memegang Alquran. Apabila engkau hendak berbuat ghibah atau memfitnah orang lain, haruslah ingat kepada pertanggungjawaban jiwamu sendiri, sebagaimana engkau telah mengetahui bahwa dalam jiwamu pun penuh dengan aib-aib. Janganlah engkau mensucikan jiwamu dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Jangan angkat derajat jiwamu dengan cara menekan orang lain. Janganlah tenggelam di dalam memasuki urusan dunia sehingga hal itu dapat melupakan urusan akhiratmu. Dan janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang, padahal di sebelahmu terdapat orang lain yang tidak diikutsertakan. Jangan merasa dirimu agung dan terhormat di hadapan manusia, karena hal itu akan membuat habis terputus nilai kebaikan-kebaikanmu di dunia dan akhirat. Janganlah berbuat keji di dalam majelis pertemuanmu sehingga akibatnya mereka akan menjauhimu karena buruknya akhlakmu. Janganlah engkau ungkit-ungkit kebaikanmu di hadapan orang lain. Janganlah engkau robek orang-orang dengan lidahmu yang akibatnya engkau pun akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman-Nya Ta'ala, "Demi yang merobek-robek dengan merobek yang sebenar-benarnya..." (QS An-Naaziyat [79]: 2) Di neraka itu, daging akan dirobek hingga mencapat tulang........

Mendengar penuturan Nabi sedemikian itu, Mu'adz kembali bertanya dengan suaranya yang semakin lirih, "Wahai Rasulullah, Siapa sebenarnya yang akan mampu melakukan itu semua....??"

"Wahai Mu'adz...! Sebenarnya apa-apa yang telah aku paparkan tadi dengan segala penjelasannya serta cara-cara menghindari bahayanya itu semua akan sangat mudah bagi dia yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala.... Oleh karena itu cukuplah bagimu mencintai sesama manusia, sebagaimana engkau mencintai jiwamu sendiri, dan engkau membenci mereka sebagaimana jiwamu membencinya. Dengan itu semua niscaya engkau akan mampu dan selamat dalam menempuhnya.....!!"

Khalid bin Ma'dan kemudian berkata bahwa Mu'adz bin Jabal sangat sering membaca hadits tersebut sebagaimana seringnya beliau membaca Alquran, dan sering mempelajarinya serta menjaganya sebagaimana beliau mempelajari dan menjaga Alquran di dalam majelis pertemuannya.

istimewanya hari Jum'at

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah dan Hudzaifah radhiallahu anhum berkata:
" Allah subhanahu wata'ala telah merahasiakan hari jum’at terhadap umat sebelum kita, maka orang-orang Yahudi memiliki hari sabtu, orang-orang Nashrani hari ahad, maka Allah subhanahu wata'ala mendatangkan umat ini, lalu Dia menunjukan kita hari jum’at ini, maka Dia menjadikan urutannya menjadi jum’at, sabtu ahad, demikian pula mereka akan mengikuti kita pada hari kiamat, kita adalah umat terakhir di dunia ini namun yang pertama di hari kiamat, yang akan diputuskan perkaranya sebelum makhluk yang lain”.
(Shahih Muslim no: 856 dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan maknanya dari Abi Hurairah ra no: 876).


dari Abi Hurairah radhhiyallahu a'nhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya pada hari jum’at terdapat satu saat tidaklah seorang muslim mendapatkannya dan dia dalam keadaan berdiri shalat dia meminta kepada Allah suatu kebaikan kecuali Allah memberikannya, dan dia menunjukkan dengan tangannya bahwa saat tersebut sangat sedikit. ( HR. Muslim no: 852 dan Al-Bukhari no: 5294)

hari Jum'at itu istimewa, bahkan dikatakan sebagai hari raya nya umat Islam, diluar hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. nah saya jadi penasaran dan mulai mencari-cari kenapa bisa begitu, dan ternyata hari Jum'at memang istimewa. Adam as. diciptakan hari Jum'at, bumi juga diciptakan hari Jum'at, dan kiamat pun kelak terjadi di hari Jum'at.

dan akhirnya saya sadar juga kenapa hari Jum'at itu hari raya umat Islam, selain karena keberkahan yang ada di hari ini, serta shalat Jum'at yang pahalanya gedeeeee banget *bikin saya iri sama para lelaki* tetapi juga karena hari Jum'at itu jatuh setelah hari Kamis !! *digetok yang buat tanggalan* nah tau kan sunnah Rasul setiap hari Senin dan Kamis? Yup, shaum sunnah. coba deh Idul Fitri setelah puasa Ramadhan sebulan, Idul Adhs setelah puasa hari Arafah. nah loh jadi hari jum'at itu setelah puasa sunnah Senin-Kamis.

Subhanallah, Maha Benar Allah !!

Minggu, 09 Oktober 2011

Oh ZINA HATI, mengapa kau begitu menggoda?

pernikahan, sesuatu yang sangat membahagiakan, saya selalu berpikir bahwa saya hanya membutuhkan pernikahan untuk bersama dengan orang yang saya cintai. terlebih semenjak saya tahu bahwa Islam tidak mengenal aktifitas ber-pa-ca-ran *biar jelas, hhehehe*

pertanyaan ini dulu sering sekali saya ajukan kepada seseorang yang mengenalkan saya pada agama yang indah ini, mengenalkan Islam lebih dalam saat saya masih SMA, "mpok, kenapa sii kita ga boleh pacaran?" kekekeke, sebab waktu itu, ehm atau mungkin sampai sekarang yaa, ada bagian di hati saya masih bersemayam syaitan yang selalu menggoda untuk hal yang satu ini.

alhamdulillah, Allah berkenan menanamkan keyakinan dalam diri saya untuk tetap menjaga hati ini, amiin.

zina hati? apasih zina hati itu?

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).

dan “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memegang, kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).


jadi zina hati adalah posisi dimana kita berharap dan berangan-angan mengenai seseorang yang kita cinta. bahkan jika kita tidak berpacaran sekalipun ga usah khawatir kita tetap mempunyai kesempatan melakukan zina hati *maksud lo?*. masalah pacaran bagaimana hukumnya silahkan cari sendiri ya, kalu mau yang paling konkrit ya liat di Al Qur'an dan Hadist, kalau kemudian timbul pernyataan "lah di Al Qur'an aja ga ada larangan pacaran kok." iya emang ga ada, tapi emang di Al Qur'an atau Hadist ada perintah untuk pacaran? kalu ada saya nyari pacar sekarang juga nih.

nah di perintahnya aja ga ada di Al Qur'an ataupun Hadist kok tibatiba minta ayat larangan untuk membenarkan perbuatan. kalu gitu baca lagi Al Qur'an dan terjemahannya juga jangan cuma disimpen dilemari, setahun aja belum tentu bisa khatam Al Qur'an kok mau pacaran, yang wajibwajib belum dilaksanain kok yang bid'ah mau dijalanin, aneh. yang jelas ada itu perintah untuk MENIKAH, dan jalan untuk menikah bukan dengan pacaran, Rasulullah sudah menjelaskan pun para sahabat sudah mencontohkan. siapa kamu, merasa lebih baik dengan menuruti nafsu dibanding tuntunan Rasulullah?

oke, balik ke zina hati. tulisan ini lebih ke orang yang udah paham bagaimana Islam mengajarkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. semakin banyak kenyataan saya menemui aktivis -kita sebut gitu aja- yang berpacaran. iya sii, idup idup lo, yang ngejalanin juga elo, yang mati dan tanggungjawab nantinya juga elo. -jadi males lanjutin- *digetok*

"ini tujuannya memang kepernikahan kok."

"insyaAllah saya sudah istikharah dan hati saya memang condong kepadanya."

"biar lebih kenal aja, jadi paham gimana dia."

"saya insyaAllah akan melamar dia."

"kita ga pegang pegangan kok, kan ga boncengan juga, ga makan berdua dan nonton berdua, apalagi zina. enggak."

HAHAHAHAHAHA ! ups, 'afwan.

istikarah? lamaran? pernikahan?

namanya hati kita sedang condong ya jelas kemana mana yang keliatan yang mutermuter dipikiran cuma dia, sama DIA jadi lupa.

niat melamar? ga ada niat yang jujur sebelum benarbenar dilaksankan, jadi kalu emang mau melamar ya ga perlu sms an telpon an sebulan dua bulan tiga bulan kan? melamar itu datangi keduaorang tua, datangi walinya, mau kenal dulu? datangi murobbi nya, atau orang terdekatnya supaya penilaian lebih objektif. datengin orangnya langsung ya jadinya baikbaiknya doang yang keliatan.

ga penganpegang, ga berduaan? hati kamu dimana? hati kamu udah berzina, mengingat selain-Nya. mengingat seseorang yang belum halal bagi kamu, seseorang yang belum muhrim, masih haram bahkan untuk memiliki hati kamu. dan sampe kiamatpun hukumnya sesuatu yang haram itu tetap sama, dosa.

yakin dia yang sms tausiyah, telpon menjanjikan khitbah adalah dia yang Allah gariskan? lalu apa guna istikharah? apa guna hadist dan ayat Qur'an? ga percaya sam Lauhul Mahfudz yang sudah dirancang dengan sangat sempurna oleh Dia? sehingga kamu lebih memilih menjalankan rencana kamu lebih dulu dibnding rencana Allah. lidah bisa mengaku tetap lebih mencintai Dia, tapi hati mana bisa berdusta? kenapa ga percaya sama Allah saja, bukankah Dia yang Maha Baik dan Maha Mengetahui? layakkah kita membalas kasihsayang-Nya dengan menyayangi yang belum halal bagi kita?

sekarang do'a do'a yang menemani tahajjud bercerita tentang dia dia dia, kemana rasa takut akan azab siksa nereka-Nya? memang belum nyata keadaan akhirat sampai sekarang, tapi emangnya berguna penyesalan yang datang belakangan?

"aku menccintainya karena Allah."

mencintai itu hakikatnya memberi, yang terbaik bagi yang kita cintai. meberikan dia jalan yang lapang menuju Surga.

"kami kan tak sampai bersentuhan apalagi berzina."

HATIMU. dimana hatimu? mengingat Dia, atau dia? bahkan salah satu sahabat pun pernah meninggalkan malam pertamanya untuk pergi menjemput Surga dengan berjihad, berperang. padahal orang yang dia cinta itu halal, wanita yang halal baginya. lah ini masih belum halal aja udah beranganangan sakinah mawadah warahmah. dimana niat jihad? dimana rasa MALU?

lantas dimana kedudukan Allh dalam hatimu? dimana Rasulullah? dimana Surga?

bahkan jika kelak di akhirat, Allah mengatakan bahwa pacaran bukanlah hal yang haram, saya lebih memilih hati ini bertemu dengan Dia dalam kondisi penuh mengingat-Nya setiap waktu. hingga saat saya berkata, "Rabbi, aku mencitai-Mu' Dia tak kan berkata "kau berdusta hamba-Ku, kau ingat makhluk yang tak mampu memberimu apapun setiap waktu dan kau sisihkan sedikit ingatanmu untuk-Ku," tapi saya ingin Dia berkata, "hamba-Ku cintamu sampai ke Arsy-Ku sampai kehadapan-Ku, cintamu bersama cinta para penghuni Surga."

jadi jelas, hanya PERNIKAHAN lah jalan HALAL dan berkah, itulah guna istikharah memilih kecondongan hati berdasarkan petunjuk dari-Nya, bukan nafsu bukan hasrat terpendam. bersabarlah, katakan itu pada hatimu, "hatiku, bersabarlah dan berbahagialah dengan janji Surga."

Rabbi, hanya Kau yang mampu menjaga hati kami, jagalah hingga Kau ridha dengan penyempurnaan separuh agama. kenalkan ia saat kami mampu menjalani pernikahan yang barakah di hadapan-Mu hingga kami tak membawa rasa malu saat pertemuan kita kelak di akhirat. amiin.

*untuk mengingatkan diri sendiri, insyaAllah bukan karena iri, lebih kepada bentuk penghambaan diri pada-Nya sembari tetap suci di hari yang kelak diberkahi*

Kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu ?

Pernah suatu hari Rasulullah SAW pulang dari perjalanan jihad fisabilillah. Beliau pulang diiringi para sahabat. Di depan pintu gerbang kota Madinah nampak Aisyah r.a sudah menunggu dengan penuh kangen. Rasa rindu kepada Rasulullah SAW sudah sangat terasa. Akhirnya Rasulullah SAW tiba juga ditengah kota Madinah. Aisyah r.a dengan sukacita menyambut kedatangan suami tercinta. Tiba Rasulullah SAW dirumah dan beristirahat melepas lelah. Aisyah dibelakang rumah sibuk membuat minuman untuk Sang suami. Lalu minuman itupun disuguhkan kepada Rasulullah SAW. Beliau meminumnya perlahan hingga hampir menghabiskan minuman tersebut tiba tiba Aisyah berkata “ Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?”. Rasulullah SAW diam dan hendak melanjutkan meminum habis air digelas itu. Dan Aisyah bertanya lagi, Yaa Rasulullah biasanya engkau memberikan sebagian minuman kepadaku tapi kenapa pada hari ini tidak kau berikan gelas itu?”Akhirnya Rasulullah SAW memberikan sebagian air yang tersisa di gelas itu Aisyah r.a meminum air itu dan ia langsung kaget terus memuntahkan air itu.Ternyata air itu terasa asin bukan manis. Aisyah baru tersadar bahwa minuman yang ia buat dicampur dengan garam bukan gula. Kemudian Aisyah r.a langsung meminta maaf kepada Rasulullah.

Itulah sebagian dari banyaknya kemuliaan akhlak Rasulullah SAW. Dia memaklumi kesalahan yang dilakukan oleh istrinya, tidak memarahinya atau menasihatinya dengan kasar. Rasulullah SAW memberi kita teladan bahwasanya akhlak yang mulia bisa kita mulai dari lingkungan terdekat dengan kita. Sebuah hadits menyebutkan, “ Lelaki yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya kepada istrinya”. Semoga kita diberi taufik untuk bisa meneladani akhlak Rasulullah SAW.

sumber : http://kisahislami.com/kenapa-pada-hari-ini-tidak-kau-berikan-gelas-itu/

Karamah di Bumi Jihad Gaza-Palestina

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.

Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.

Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.
Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas, sebagaimana pertolongan yang sudah diturunkan kepada pasukan yang dipimpin Rasulullah dalam menghadapi kaum kafirin dan musyrikin.

Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnalis, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

kami merangkum kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti.

Pasukan "Berseragam Putih" di Gaza

Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina diakui sendiri oleh pasukan Israel. Menurut penuturan pasukan kafir Israel, pasukan tersebut berseragam putih-putih.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.
Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin AlAan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.

Suara Tak Bersumber

Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.

“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi. Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak. Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi yang ditirukan oleh lisan khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.

“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya.

Saksi Serdadu Israel

Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.

Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Channel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.

“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.

Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.

Masih dari Channel 10, seorang tentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”

Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu?

Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh

Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.

Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.

Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.

Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.

Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.” Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.

Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.

Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.

Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”

Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para mujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.

Merpati dan Anjing

Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs Filisthin AlAan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.

Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.

Begitu merpali itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.

Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filisthin AlAan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.

Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”

Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.

Kabut pun Ikut Membantu

Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).

Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.

Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.

Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.

Awalnya, pasukan mujahidin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.

Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.

Selamat dengan Al-Qur’an

Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.

Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf Al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.

Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.

Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).

Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.

Abu Ahid, imam Masjid An-Nur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.

“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,” (Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip IslamOnline (15/1/2009).

Harum Jasad Para Syuhada

Abdullah As Shani' adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.

Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan. Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo.com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.

Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.

Kemudian puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.

Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.

Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.

Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”

Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir

Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal Al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) Al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.

Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.

Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.

Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.

Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009).

Terbunuh 1.000, Lahir 3.000

Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.

Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.

Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.

Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.

“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka. (PurWD/www.blak-blakan.com)

Sumber : http://www.voa-islam.com

Senin, 26 September 2011

bidadari bidadari Surga

Dan sungguh di dalam Surga ada bidadari-bidadari bemata jeli (al Waqiah : 22)

Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. mereka baik lagi cantik jelita (ar Rahmaan : 70)

Andaikata ada seorang wanita penghuni Surga mengintip ke bumi, niscaya dia menerangi ruang antara bumi dan langit. Dan niscaya aromanya memenuhi ruang antara keduanya. Dan sesungguhnya kerudung diatas kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Bidadari-bidadai Surga, seolah-olah dalah telur yang tersimpan dengan baik (ash Shaffat : 49)

Wahai, wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah 'terpilih' di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah). Yakinlah, wanita-wanita salehah yang sendiri, namun tetap mengsi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur. Kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari Surga. dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari Surga parasnya cantik luar biasa.

Yaa Allah, jadikanlah hamba salah satu bidadari-bidadari Surga.
Bidadari Surga yang Kau ciptakan untuk suami di dunia dan akhirat hamba.
Amiin :)

Minggu, 18 September 2011

Lord Of The Rings itu special

kalau kamu mengaku pecinta film yang bermutu pasti sudah pernah menonton dengan tuntas trilogi Lord Of The Rings. baik Fellowship Of The Rings, The Two Towers, ataupun The Return Of The King semuanya bagussssss.

buat saya LOTR itu special, mengajarkan banyak hal.

perjalanan yang dimulai dengan semangat melindungi Frodo dan dunia, seperti keyakinan akan masa depan yang lebih baik jika mereka bekerja keras memperjuangkan apa yang memang seharusnya diperjuangkan.

Frodo yang memutuskan untuk mengambil tanggung jawab meskipun ia tak mengetahui kekuatan cincin serta tak memiliki kekuatan didalam diri untuk cukup tahu bahaya apa yang akan ia hadapi, seolah menyadarkan kita bahwa tanggung jawab itu memang berat tapi bukan berarti ketika kamu tahu kamu tak cukup kuat kamu berpikir untuk melupakannya.

teman-teman Frodo yang setia menemani perjuangan Frodo, Sam. Sam itu pemberani ga gampang menyerah dan selalu semangat. percaya ga, kalu ga ada karakter Sam di film ini pasti Frodo ga akan bisa bertahan sampai akhir ;)

dan semua yang mendukung Frodo, menemani dia, Gandalf, Aragon, Legolas dll dsb dkk -ini cuma karena saya lupa nama-namaya, hahaha- punya keberanian yang luar biasa, kekuatan untuk bertahan dan akhirnya menang.

film ini nilai moralnya sungguh luar biasa. menceritakan perjuangan, pengorbanan, ketidak putus-asa-an, keberaniann, pengambilan keputusan, persahabatan, janji masa depan, dan cinta #tsaaaahh

dimana letak kisah cintanya ? Arwen.

Arwen memutuskan untuk meninggalkan kehidupan ELF -peri- untuk janji masa depan yang bahagia bersama Aragon. ;)

nb : kalau favorit saya itu The Two Towers, kenapa ? perang nya paling seru :p

Rabu, 14 September 2011

hebatnya cinta

Pernahkan kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang
meski kamu tahu ia tak sendiri lagi?
Dan meski kamu tahu cintamu takkan berbalas,
tapi kamu tetap mencintainya?

Pernahkan kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai meski kamu tahu, ia takkan pernah peduli?
Ataupun ia peduli dan mengerti tapi ia tetap pergi?

Pernahkan kamu merasakanh hebatnya Cinta?
tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia,
bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah?

Aku pernah tersenyum meski kuterluka,
karena kuyakin Allah tak menjadikannya untukku
Dan aku pernah menangis kala bahagia,
karena ku takut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja

Aku pernah bersedih kala bersamanya,
karena ku takut aku akan kehilangan dia suatu saat nanti

Dan aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya,
karena sekali lagi “cinta tak harus memiliki”
dan aku yakin Allah telah menyiapkan cinta yang lain untukku

Aku tetap bisa mencintainya,
meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku,
karena memang cinta ada dalam jiwa, bukan dalam raga.

REPOST : http://www.facebook.com/notes/kisahku-true-story/hebatnya-cinta/10150149569122069


** wkwkwkwkwk, jangan terlalu dipikirin puisi atau katakatanya, liat di FB dan bagus katakatanya, dont be serious but yeah same like my feel *eh?

mimpi-mimpi si patah hati (edisi special)

special edition ? hehehehe. baca aja nih :

Nah, berikut kita akan menebak bagaimana kita memahami cinta selama ini:

Kelompok 1: Para Pencinta yang Menyedihkan

Jika kita menyukai cerita klasik ‘kutukan miss x’, fantasi ‘cintanometer’ serta kisah gw banget ‘hiks, kupikir kau naksir aku’, kabar buruk, kita termasuk golongan para pencinta yang menyedihkan. Ups, maaf. Tapi begitulah, kita selalu peragu, pemilik rasa bimbang, takut menyatakan, serta banyak mendendang resah. Kita pemuja kesepian. Setiap hari sibuk menenun harapan, yang sayangnya tidak pernah menjadi kain kenyataan. Kitalah pelaku yang selama ini mem-posting status cari-cari perhatian, tidak jelas dan agak-agak galau. Kita menyukai kisah-kisah sedih tentang cinta, karena dengan demikian, sambil tertawa cengengesan, kita menyadari setidaknya memiliki teman senasib.

Kelompok 2 : Para Pencinta yang Menyebalkan

Jika kita menyukai cerita imajinatif ‘bila semua wanita cantik’, drama melankolik ‘cinta zooplankton’ serta kisah simpel antar teman ‘perbandingan2’, maka juga kabar buruk, kita termasuk kaum para pencinta yang menyebalkan. Ayolah, tentu saja tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, apalagi cinta--yang sayangnya situasi itu justeru selalu kita inginkan. Kita ingin semua orang diberikan kesempatan yg adil, padahal sebaliknya, secara kasat-mata, semua orang tdk memiliki kesempatan yang sama. Tidak buruk untuk selalu sempurna, menunggu yang terbaik, memilih yang paling tepat, tapi masalahnya, dalam urusan ini, hei, memangnya kita sudah sempurna, terbaik atau paling tepat? Maaf. Kitalah yang selama ini selalu suka sebal dengan komen, cara berpikir, tulisan, cerita orang-orang di dunia maya yang tidak cocok dengan kita—meskipun sebalnya dalam hati. Kita jugalah yang selama ini gregetan, gemas, tidak suka atau benci atas cara berpikir yang menurut kita tidak baik. Tidak apa-apa, kabar baiknya, sebenarnya energi kehidupan para pencinta di dunia ini, lebih banyak bersumber dari kita. Para pencinta yang menyebalkan. Banyak mau. Dan buktinya, biasanya pemilih opsi ini juga yang paling banyak.

Kelompok 3 : Para Pencinta yang Memendam Rindu

Aduh, jika kita memilih kisah sendu ‘pandangan pertama Zalaiva’—bahkan suka dengan nama Zalaiva-nya, suka dengan re-make kisah legendaris Laila Majnun, serta cerita mengharukan ‘kupu-kupu monarch’, maka kita termasuk para pencinta yang memendam rindu. Nampak dari luar, kita sepertinya orang-orang yang pragmatis, tidak memuja sebuah proses cinta yang agung, tidak juga terlalu menyederhanakan prosesnya, kita sedang-sedang saja. Tapi, jauh di sepotong hati yang tersembunyi, kita memendam kerinduan pada sesuatu, seseorang, atau entahlah yang benar-benar kita sukai. Ada sebuah ruang kecil di hati kita yang tidak akan pernah bisa dimengerti orang lain. Kita mungkin tidak pernah patah-hati, tidak pernah merasakan titik-titik ekstrem perasaan, dan itu bukan masalah, boleh jadi lebih baik. Tips bagi golongan ini simpel: berbahagialah dengan apapun yang kita miliki sekarang. Berbahagialah. Ohiya, juga tidak ada salahnya dengan kebiasaan kita yang suka mengumpulkan, mengutip, atau mengkoleksi kata-kata mutiara/indah tentang cinta. Buat lucu2an masih oke.

Kelompok 4 : Para Pemuja Cinta Sejati

Nah, jika kita menyukai kisah rumit ‘harga sebuah pertemuan’, cerita nasib ‘Lili & tiga pria itu’, serta kisah tidak jelas seperti ‘kotak-kotak kehidupan Andrei’, maka kita adalah para pemuja cinta sejati itu. Dalam urusan ini, kita sedikit dari orang yang meyakini sesuatu yang hebat. Kita memiliki banyak kesempatan, juga banyak keberanian. Kita benar-benar pemuja cinta sejati. Tapi apakah semua jadi baik? Aduh, masalahnya, hari gini kita masih percaya beginian? Tidak ada cinta sejati itu. Ayolah, kita suka dengan cerita, diskusi, perbincangan, bahkan perdebatan tentang makna cinta. Lantas kenapa? Kita suka sekali berumit-rumit dengan situasi ini. Lantas kenapa? Kitalah pemimpi paling hebat dalam sebuah epik kolosal tentang cinta.

KESIMPULAN:

Sebenarnya, apapun pilihannya, dengan menyukai salah-satu dari 15 cerita di MMSPH kita sudah tergolong para pencinta yang ganjil. Bagaimana tidak? Hei, kita sedang menyukai cerita sedih, menyebalkan, bikin nangis, gregetan, gemes, dan jelas patah-hati, bukan? Seharusnya yang disukai itu adalah kisah-kisah pembangkit semangat, penuh teladan, serta simbol pengharapan hidup yang lebih baik.

Nah, dengan menyukai lebih dari satu, maka simptom dari para pencinta yang suka rumit, deg-deg-an, harap2 cemas, dan berbagai jenis lainnya baik psikis maupun fisik jelas terlihat. Tetapi itu manusiawi, hampir semua orang demikian, itu membuat keseharian menjadi lebih berwarna. Hanya saja, pesan terakhir, tips terakhir, ingatlah selalu:

1. Jika cinta itu penting, maka dia akan lebih banyak dibahas di kitab suci. Sayangnya, bahkan dengan urusan bersuci (buang hadas), saja dia kalah banyak dibahas.

2. Kehidupan ini siklus. Boleh jadi kita sudah melewati masa-masa jatuh cinta penuh semangat itu. Boleh jadi akan ketemu lagi dengan momen2 itu. Nah, ketika kita tiba di masa2 jatuh cinta, maka ingatlah, selalu berpikiran positif, proporsional, serta dewasa akan membantu banyak. Jangan merusak diri sendiri. Misalnya, buat apa berharap2 cemas dia akan mengirimkan sms, atau menelepon? padahal boleh jadi yang diharapkan sedikit pun tidak berharap2 cemas menunggu sms atau telepon kita. Jangan biarkan momen2 itu merusak diri sendiri, karena jika begitu, maka jelas cinta yang sedang kita alami bukan sesuatu yang baik. Hei, urusan beginian seharusnya memberikan manfaat dan energi positif, bukan?

3. At last, cinta sejati selalu memiliki wujud. Jangan banyak bertanya pada buku2, pada orang2, pada saya, pada siapapun. Wujud paling indah cinta sejati adalah: Ibu, Ayah, Adik, Kakak, Saudara. Wujud paling indah cinta adalah: teman2 terbaik. Jadi segeralah bilang perasaan cinta itu pada mereka. Berhentilah gombal dan membaca kisah2 seperti ini. Apalagi gombal dengan berpacaran. Itu tidak ada gunanya. Wassalam.

REPOST : http://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/kunci-jawaban-quiz-mmsph/234092479974661

Selasa, 13 September 2011

iman itu

Pengertian iman, dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. (http://islamagamaku.wordpress.com/2009/07/25/pengertian-iman/)

kalau begitu iman artinya percaya, meskipun kita belum melihat secara nyata. percaya pada keberadaan Allah, meskipun belum pernah melihat Dzat-Nya, jangankan melihat membayangkan saja jangan deh, sebab akan terlalu tinggi dan terlalu indah untuk dibayangkan. belum saatnya, nanti di Surga kan bisa melihat Allah. masalahnya masuk Surga apa kagak. *itulah*

iman, percaya. percaya akan janji kebaikan. mengapa kadang manusia berterimakasih pada Tuhan, mengakui kuasa dan kebenaran Allah, dan tersenyum akan ketetapan-Nya setelah kejadian itu nyata dihadapannya. sebelum permintaannya terkabul apakah manusia mau berpikir janji-Nya itu pasti ? sebelum permintaannya terpenuhi apakah yakin janji itu benar ? ada. tapi sungguh tak banyak yang memahami ini.

itulah guna iman dalam hati. percaya, meskipun ketetapan janji kebaikan-Nya itu belum nyata di depan mata. bagaimana bisa dikatakan beriman apabila terus meragu akan kemudahan yang Ia janjikan setelah adanya kesusahan ? bagaimana bisa dikatakan iman bila hanya berterimakasih saat keinginan sudah terkabul ? dimana iman ketika ujian kesabaran datang ? yakini dalam hati, ucapkan dengan lisan dalam setiap do'ado'a, dan lakukan dengan perbuatan.

iman itu artinya percaya, meski belum nampak padamu keterangan yang nyata, hanya percaya akan janji masa depan yang lebih baik tanpa bertabur keluhan. mengeluh pada manusia lewat cara/media apapun juga = mengadukan sang Maha rahiim kepada yang tak memiliki belas kasih. bukankah tak sebanding kasih sayang Allah dengan manusia -yang paling mencintai kita sekalipun-. nah jika bukan pada Rabb mu kau percaya, kepada siapa lagi ? Dia, bahkan 'rela' berlari menemuimu meskipun kau datang menemuinya dengan berjalan. pahami disini Siapa yang mendatangi siapa.

iman itu, percaya.

tentang Rasulullah


dia sangat bersih, wajahnya berseri-seri.

bagus perawakannya, tidak merasa berat karena gemuk, tidak bisa dicela karena kepalanya kecil.

elok dan tampan.

dimatanya ada warna hitam, bulu matanya panjang, lehernya jenjang, matanya jelita, memakai celak mata.

alisnya tipis, memanjang dan bersambung, rambutnya hitam.

jika diam dia tampak berwibawa.

jika berbicara dia tampak menarik.

dia adalah orang yang paling elok dan menawan jika dilihat dari kejauhan, tampan dan manis setelah mendekat.

:: Ummu Ma'bad Al Khuza'iyyah ::

*dikutip dari buku jalan Cinta Para Pejuang - Salim A. Fillah*

Senin, 12 September 2011

(terakhir): Kupu-Kupu Monarch

Aku lama tidak kembali ke kota ini. Hampir dua puluh tahun. Perjalanan yang melelahkan. Mengelilingi separuh dunia hanya untuk melupakan. Hari ini aku pulang. Berusaha mengenang semua jejak kaki. Semoga masih ada yang tersisa. Semoga masih ada yang kukenali. Dengan semua kenangan itu, bukan keputusan mudah untuk kembali. Seperti menoreh kembali luka yang sudah mengering. Menyakitkan. Tapi ibarat seekor bangau yang terbang jauh, aku harus kembali jua ke kota ini. Rindu. Tak mengapa mengenang sedikit luka itu.

Aku berdiri takjim di pemakaman kota. Menatap sekitar.

Sepagi ini pemakaman kota terlihat begitu indah. Dipenuhi hiasan bunga. Merah. Kuning. Putih. Bertebaran. Bebungaan yang disampirkan di nisan-nisan besar. Bebungaan melilit kayu yang dipasang silang-menyilang. Bebungaan di air mancur tengah pemakaman. Bebungaan di patung yang banyak berserak. Sungguh pekuburan berubah menjadi taman bunga. Nuansa buram kecoklatan berpadu dengan warna-warni ceria. Hari ini: Hari Monarch. Hari di mana seluruh penduduk kota kami meyakini jiwa yang pergi akan kembali. Hari ini penduduk kota akan berpiknik di pemakaman.

Tepat benar dengan jadwal kedatanganku.

Semburat cahaya matahari pagi menambah magis suasana. Menelisik sela-sela dedaunan pohon cemara. Cahaya itu seolah menggantung di atas barisan nisan. Aku tersenyum, bukan menatap ribuan larik cahaya memesona, lebih karena menatap ribuan kupu-kupu kuning yang memenuhi pemakaman, sudut-sudut kota, pohon-pohon cemara. Kupu-kupu itu disebut Monarch. Kupu-kupu itu hanya datang sekali setahun ke kota ini. Terbang. Membuat anak-anak berlarian mengejarnya. Membuat pasangan berpelukan mesra melihatnya. Atau sekadar membuat penziarah pemakaman seperti aku menghela nafas lega.

Kupu-kupu itulah jiwa-jiwa yang kembali. Sepanjang hari terbang tanpa takut dengan penduduk kota. Entah dari mana datangnya. Dan sore hari, persis ketika senja membungkus bibir pantai, kupu-kupu itu kembali ke hutan cemara tepi danau yang berada dekat kota. Lenyap. Selalu begitu, beratus-ratus tahun. Tidak pernah ingkar memenuhi janji setianya, selalu datang sehari setiap tahun.

Jam di kapel tua berdentang. Sembilan gema yang panjang dan berwibawa. Aku takjim mendengarnya. Perayaan ini akan segera dimulai. Orang tua mulai bergegas meneriaki anak-anak mereka. Segera turun. Bekal piknik disiapkan. Pakaian tebal dan topi disampirkan. Menuju pemakaman kota.

Seekor kupu-kupu hinggap di ujung lengan mantelku. Aku menatapnya lamat-lamat. Menghela nafas, “Apakah itu kau, Cindanita? Putri duyung kecilku? Apakah itu kau yang kembali?”

Jalanan mulai ramai oleh penziarah. Anak-anak berlarian, enggan dikendalikan. Satu dua hampir menabrakku. Berkejaran riang. Hari ini sekolah diliburkan. Aku menepi, memberikan jalan bagi serombongan warga kota yang datang. Mereka mengangguk pelan. Berbincang akrab satu sama-lain. Menunjuk kupu-kupu yang berterbangan. Hari ini seluruh kegembiraan melingkupi pemakaman besar ini. Semua datang untuk berkunjung.

Kupu-kupu itu masih hinggap di mantelku. Aku mendesah lirih, “Aku sungguh rindu padamu, Cindanita.”

***

Dua ratus tahun silam.

Legenda itu dimulai di sini. Legenda yang selalu diceritakan turun-temurun oleh tetua kota. Diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan pesan sederhana, jangan pernah mengulangi kesalahan yang dilakukan Fram, si petani miskin.

Aku ingat setiap kalimat kisahnya. Terpesona saat pertama kali mendengarnya. Meyakini cinta sejati sejak hari itu. Merasa kehidupan akan jauh lebih indah ketika perasaan itu muncul. Seperti indahnya setiap melihat kupu-kupu monarch yang terbang mengelilingi pemakaman.

Dua ratus tahun silam, alkisah Fram amat beruntung mendapatkan istri sebaik itu. Kembang kota. Di antara puluhan pemuda yang menyanjung dan menyatakan cinta, gadis itu justru memilih Fram, pemuda miskin yang tinggal di danau dekat kota. Meninggalkan janji kehidupan yang lebih baik yang bisa diberikan pemuda kaya lainnya. Tidak juga, gadis itu di hari pernikahannya tersenyum riang dan berkata, “Aku akan menjemput janji cintaku, tidak ada janji kehidupan yang lebih hebat dari itu, bukan?”

Fram mencintai istrinya. Dan jangan ditanya apakah istrinya mencintai Fram. Masalahnya, apakah cinta itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh-cinta lagi padahal sebelumnya sudah berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya: “Ia adalah cinta sejatiku.”

Ah! Urusan ini benar-benar rumit. Awalnya keluarga muda itu memulai kehidupan bahagia selama lima tahun. Walau miskin, mereka selalu merasa berkecukupan. Apalagi istrinya tidak banyak menuntut, selain perhatian dan kasih-sayang. Tepi danau kota kami seperti berubah menjadi taman bunga. Pondok kecil mereka berdiri indah di tengah hamparan kembang. Itulah kesukaan istri Fram sejak kecil. Kupu-kupu.

Sayang, di penghujung tahun ke lima pernikahan mereka, musim dingin datang tak-terperikan. Kota kami dikungkung badai salju berhari-hari. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Tidak ada yang tahu hingga kapan. Salju di mana-mana. Pohon-pohon meranggas dibalut gumpalan es. Kembang-kembang layu ditimbun tumpukan es. Danau membeku. Dan tidak ada yang berniat menjejak laut yang sepanjang hari digantang angin-badai.

Seluruh kota mengalami kesulitan besar. Berebut makanan menjadi pemandangan sehari-hari. Enam bulan kemudian, harga sepotong roti tawar sebanding dengan sebutir peluru. Tak ada yang bisa mengalahkan urusan perut. Kota kami yang elok bertetangga selama ini, karut-marut oleh perkelahian. Dan celakanya, itu semua belum cukup, penyakit aneh mendadak menjalar dengan cepat. Tubuh-tubuh lumpuh. Muka pucat. Bibir membiru. Dan kematian!

Enam bulan sejak penyakit aneh itu tiba, kota kami benar-benar tak-tertolong. Sepanjang hari hanya kidung sedih yang terdengar. Nyanyian duka-cita. Pemakaman demi pemakaman. Bagaimana dengan Fram dan istrinya? Jika di kota saja urusan ini pelik apalagi bagi mereka. Enam bulan pertama mereka menghabiskan cadangan umbi-umbian di gudang. Enam bulan berikutnya, dimulailah cerita memilukan penuh pengorbanan tersebut. Fram terkena penyakit ganjil itu.

Tubuhnya membeku di atas ranjang. Tanpa bisa digerakkan. Tinggallah istrinya yang kalut oleh banyak hal. Ia tahu persis, sejak memutuskan menikah dengan Fram, bahwa tentu saja tidak setiap hari janji kebahagiaan itu akan datang dalam kehidupan cinta mereka. Ada kalanya masa getir tiba. Dan saat itu benar-benar terjadi, tiba waktunya untuk menunjukkan betapa besar cinta itu. Bukan sekadar omong-kosong.

Tak pernah terbayangkan tangan lembut itu mengais-ngais tumpukan salju, berusaha menemukan sisa umbi-umbian yang tersisa. Terseok mengumpulkan kayu bakar di hutan. Melubangi permukaan danau mencoba peruntungan mendapatkan ikan. Memperbaiki atap rumah yang rusak. Menambal dinding-dinding yang robek oleh badai salju.

Istri Fram berjanji akan bertahan hidup.

Dan semakin menyedihkan pemandangan itu, karena setiap malam dia dengan sabar merawat suaminya yang terbaring lumpuh di atas tikar. Menyuapinya dengan penuh kasih-sayang. Menggendong tubuh suaminya yang semakin ringkih mendekati perapian. Membuang sisa kotoran dari suaminya di atas ranjang. Memandikannya dengan air hangat. Istri Fram bersumpah akan bertahan hidup, demi suaminya.

Dua belas bulan musim dingin itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbaik hati. Kerusuhan besar menjalar di kota kami. Kecamuk orang-orang yang kelaparan dan sakit semakin menjadi-jadi. Dan di tengah kota yang sekarat itu, seorang penziarah entah dari mana datangnya singgah. Penziarah itu amat teganya mengatakan kalimat yang paling tidak logis bagi penduduk kota, semua penyakit aneh ini hanya bisa disembuhkan dengan memakan: daging. Astaga, di mana lagi mereka akan menemukan daging hari ini? Seluruh ternak tak bersisa. Seluruh cadangan makanan tak berbekas.

Sementara Fram semakin menyedihkan. Sehari kemudian tubuhnya mendadak kejang-kejang. Sekarat. Istrinya panik. Malam itu juga sambil terseok-seok dia menggendong Fram menuju kota. Meminta pertolongan tabib. Badai datang menghajar apa saja. Pohon cemara bertumbangan. Istri Fram mendesis, menggigit bibir berusaha melalui badai salju. Entah dari mana kekuatan itu, dia tiba di kota keesokan harinya. Dengan tubuh biru. Kedinginan.

Sayang, tidak ada pertolongan yang tersisa di kota. Tabib mengangkat bahu, menatap amat prihatinnya. “Aku tidak tahu apa itu benar. Berikan suamimu sepotong daging! Semoga itu menyembuhkannya!” Istri Fram sungguh menatap tak percaya. Kecewa. Sedih. Setelah perjalanan melelahkan ini, ternyata hanya untuk mendengarkan saran gila itu? Gemetar dengan sisa tenaga ia membawa Fram kembali ke rumah tepi danau. Menyedihkan. Tubuh yang semakin kurus-ringkih itu terhuyung, mencoba terus bertahan.

Jangankan daging, sepotong umbi-pun sudah sulit didapat. Ia sudah membongkar seluruh bekas kebun suaminya. Tidak ada. Kalaupun ada, sudah membusuk. Ikan-ikan di danau itu juga entah pergi kemana. Istri Fram menangis. Menatap wajah suaminya yang semakin sekarat. Ia tahu, se-sejati apapun cinta mereka, pastilah mengenal perpisahan. Ia tahu sekali itu. Tapi ia ingin berpisah dengan suaminya dalam sebuah pelukan yang indah. Saat satu-sama-lain bisa saling menyebut nama. Bukan seperti ini. Malam itu suaminya benar-benar tidak akan tertolong lagi. Istri Fram tersedu memeluk tubuh suaminya.

Tetapi, hei! Sudut matanya menangkap seekor belibis hinggap di jendela. Belibis? Istri Fram menyeka ujung matanya. Ganjil sekali. Bagaimana mungkin ada seekor belibis tersesat di musim dingin seperti ini? Tapi ia tidak sempat memikirkannya. Dengan gesit ia berusaha menangkap belibis tersebut. Jatuh bangun berkali-kali. Mantelnya robek. Setengah jam berlalu, setelah mengerahkan sisa-sisa tenaga tubuhnya, ia tersenyum lebar menjepit sayap belibis tersebut.

Malam itu, takdir langit di tepi danau itu berubah. Sepotong daging yang masuk ke dalam perut Fram mengembalikan kesehatannya. Malam itu, takdir langit di kota kami juga berubah. Musim dingin berkepanjangan tersebut berakhir. Digantikan semburat cahaya matahari pagi. Gumpalan salju mencair. Kecambah mekar tak-terbilang. Tunas tumbuh menghijau. Janji kehidupan baru datang.

***

Tapi cerita yang lebih menyedihkan baru saja dimulai. Tidak ada yang tahu kalau seekor belibis itu memiliki pasangan. Menurut keyakinan penduduk kota kami, dalam waktu tertentu, dewa-dewi di surga turun menjejak bumi. Celakanya belibis itu turun di waktu dan tempat yang salah.

Fram dan istrinya kembali ke keseharian mereka dulu yang menyenangkan. Tubuh Fram kembali kekar. Dia mengambil-alih tugas istrinya selama ini. Terlebih kaki istrinya pincang sekarang, terpotong hingga pangkal betis. “Terkena pohon cemara yang roboh. Membusuk. Jadi aku potong!” Istrinya menjelaskan. “Kau tetap cantik meski pincang, istriku!” Fram bergurau riang. Istrinya bersemu merah. Dan kebahagiaan mereka semakin lengkap saat enam bulan kemudian istrinya hamil. Benar-benar kabar yang menyenangkan.

Saat kandungan istrinya menjejak tujuh bulan. Terjadilah peristiwa aneh itu. Fram yang sedang berburu rusa di hutan cemara, tidak-sengaja melihat seekor belibis indah. Hei? Semangat Fram mengejarnya. Bukan main, belibis itu benar-benar indah. Melupakan banyak keganjilan. Fram berkali-kali jatuh mengejar belibis itu hingga ke tepi danau. Dan terperanjatlah! Dia tidak menemukan seekor belibis yang sedang berenang, tapi seorang wanita yang sedang mandi.

Apakah cinta sejati itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh-cinta lagi padahal sebelumnya sudah berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya: “Ia adalah cinta sejatiku!”

Entah bagaimana caranya, Fram jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis belibis tersebut. Duhai! Celakalah urusan ini! Jalan kisah menjadi berpilin menyakitkan. Bukannya menghabiskan waktu bersama istrinya yang sedang hamil tua di rumah, Fram malah lebih banyak duduk di tepi danau. Bercengkerama dengan gadis itu.

Di mata Fram, gadis itu sungguh menyenangkan. Memesona. Pakaiannya indah berkemilauan. Perhiasannya cemerlang. Wajahnya bagai guratan sempurna pematung tersohor. Tubuhnya memikat. Fram benar-benar jatuh-cinta, tak pernah dia menyadari ternyata cinta bisa sehebat ini.

Malangnya nasib istri Fram, seminggu sudah suaminya tidak pulang-pulang. Ia hanya menunggu cemas di bawah pintu. Sementara perutnya semakin membuncit. Dua minggu lagi bayinya akan lahir. Di tengah putus-asanya menunggu, pagi itu, persis saat cahaya matahari menerabas sela dedaunan pohon cemara, persis saat bunga-bunga bermekaran di halaman pondok, istri Fram memutuskan mencari suaminya.

Pencarian yang menyesakkan. Dengan sepotong tongkat, istri Fram menopang tubuhnya yang kesusahan menyisir hutan cemara. Dan lebih menyesakkan lagi saat ia akhirnya menemukan Fram yang tergila-gila, sedang berdua dengan gadis cantik tersebut.

Tersungkurlah istri Fram! Lirih memanggil suaminya. Duhai, Fram hanya melirik selintas, lantas menyuruhnya pergi. Seperti tidak pernah mengenalnya.

Seperti tidak pernah mengenalnya.

Menangis istri Fram! Lemah berusaha memeluk kaki suaminya. Duhai, Fram justru mengibaskannya. Membuat tubuh dengan perut buncit itu jatuh terjungkal. Tongkat yang dibawanya tak-sengaja mengenai kepala. Istri Fram mengaduh kesakitan. Meski ada yang lebih sakit lagi di hatinya.

Di manakah janji cintanya? Di manakah? Semuanya musnah. Benar-benar saat mereka sedang berbahagia menanti anak pertama mereka. Istri Fram gemetar berusaha berdiri. Lirih memanggil dewa-dewi di surga demi sebuah keadilan. Ia gemetar berdiri dengan sebelah kakinya, pincang berusaha mencengkeram bebatuan.

Fram tidak peduli. Menarik tangan gadis belibis, mengajaknya pergi menjauh. Tapi sebelum itu terjadi, dewa-dewi di surga yang melihat kejadian itu turun ke bumi. Mengungkung tepi danau dengan gemerlap mereka.

“Siapakah yang memanggil dan meminta penjelasan?”

“Aku….” Istri Fram menjawab lirih.

Dan menjadi teranglah urusan itu. Gadis cantik itu adalah penjelmaan pasangan belibis yang tersesat di pondok Fram dua tahun silam. Justeru gadis cantik itu menuntut keadilan. Istri Fram tersedu mendengar tuntutan itu, dia tidak menyangka urusan berubah sedemikian rupa.

“Baik, yang terjadi, biarlah terjadi. Maka biarlah Fram yang memutuskan masalah ini. Apakah ia akan memilihmu atau memilih gadis belibis. Wahai, karena kau seorang manusia, dan gadis belibis ini separuh dewa-dewi, maka kami akan memberikan kau tiga kali kesempatan untuk menghilangkan kelebihan miliknya atau menambahkan kelebihan milikmu. Setelah itu apakah Fram akan memilihmu atau gadis belibis itu terserah padanya.”

Istri Fram menyeka air-matanya.

“Aku ingin seluruh sihir milik gadis ini dihilangkan!”

Cahaya yang mengungkung gadis belibis mendadak lenyap. Pakaiannya kehilangan kemilau. Perhiasannya berubah menjadi kerikil batu. Tetapi, duhai, tetap saja ia terlihat lebih cantik dari siapapun di tempat itu. Tetap memesona. Fram dengan mudah memutuskan memilih gadis belibis itu. Istri Fram mengeluh tertahan.

“Aku ingin seluruh sihir yang masih mengungkung suamiku dihilangkan!” Istri Fram menyebut kesempatan keduanya. Gentar sekali menunggu hasilnya.

Sekejap cahaya yang membalut tubuh Fram sejak pertama kali dia melihat burung belibis itu menghilang. Sihir pesona itu lenyap. Petani miskin itu tiba-tiba seperti baru tersadarkan. Tetapi, wahai, apalah arti cinta sejati? Gadis belibis itu tetap memesona meski sihirnya tidak lagi menutup mata dan membebalkan otaknya. Fram sekali lagi tega memilih gadis belibis itu.

Istri Fram jatuh terduduk.

Oh…. Di manakah sisa-sisa janji cinta itu? Di manakah?

“Aku ingin Fram melihat janji kebahagiaan yang diberikan oleh bayi yang kukandung!” Istri Fram berkata lirih. Menyebut kesempatan ketiga sekaligus terakhirnya.

Siluet cahaya menggetarkan mengungkung kepala Fram. Dia seperti menyaksikan visualisasi nyata masa-depan mereka. Kehidupan yang menyenangkan di pondok dengan anak-anak mereka…. Taman bunga di tepi danau. Tetapi, apalah gunanya janji masa depan itu? Fram mengibaskannya. Dia merasa memiliki janji kehidupan yang lebih indah bersama gadis belibis ini…. Fram mendesis memilih gadis belibis.

Tersungkurlah istri Fram sekarang. Menangis. Tiga kali kesempatan, habis sudah pengharapannya. Musnah. Tepi danau itu senyap, hanya diisi oleh berlarik suara tangisan.

Fram meraih tangan gadis belibis di sebelahnya. Mengajaknya pergi. Matanya benar-benar dibutakan oleh tampilan. Tega sekali dia memberangus kehidupan bersama istrinya. Dewa-dewi menghela nafas tertahan. Apapun hasilnya, semua sudah selesai. Mereka beranjak hendak pergi. Saat itulah salah-seorang dewa-dewi itu berkata lirih.

“Kenapa kau tidak menggunakan kesempatan terakhirmu untuk menunjukkan kejadian yang sebenarnya, wahai wanita yang malang.”

Wajah-wajah tertoleh. Seorang dewa yang amat cemerlang wajahnya terbang mendekati istri Fram.

“Kenapa kau justru menggunakan kesempatan terakhirmu untuk memperlihatkan janji masa depan?”

Istri Fram tersedu, menggeleng. Menyeka pipinya.

“Wahai wanita yang malang, kenapa kau tidak meminta kami menunjukkan dengan nyata kejadian malam itu. Agar suamimu melihatnya. Agar gadis belibis ini melihatnya.”

Istri Fram berkata lirih, tertahan, “Aku tidak ingin cintanya kembali karena dia merasa berhutang budi.”

Dewa dengan wajah cemerlang itu tertawa getir.

“Kau melakukannya karena cinta, wahai wanita yang malang. Maka tidak ada hutang-budi. Ah, urusan ini benar-benar menyakitkan! Amat menyakitkan!” Dewa itu menoleh ke arah Fram, dengan tatapan menghinakan, ”Kau tidak pernah tahu mengapa istrimu pincang, wahai pemuda yang sepatutnya dikasihani. Dan kau, gadis belibis yang menyedihkan, kau tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan belibis pasanganmu. Biarlah hari ini seluruh dewa-dewi menjadi saksi, dalam urusan cinta ini mereka yang berkuasa atas segenap urusan ternyata sama sekali tidak kuasa untuk terlibat dalam urusan sesederhana ini.”

Maka melesatlah dewa dengan wajah cemerlang itu ke angkasa, menyusul dewa-dewi lainnya. Meninggalkan istri Fram yang menangis tersungkur sendirian. Istri Fram yang hamil tua. Istri Fram yang menyimpan kisah sesungguhnya apa yang terjadi malam itu, ketika suaminya sekarat. Yang dia tidak ingin suaminya lihat. Hingga merasa berhutang-budi.

Fram dan gadis belibis itu justeru sudah pergi segera.

***

Aku menghela nafas panjang. Pemakaman semakin ramai oleh penziarah. Dua puluh tahun berlalu. Benar-benar tidak ada lagi yang kukenali di kota ini. Semua sudah berubah.

Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti Fram, si petani miskin. Kalimat itu terngiang kembali. Aku tertunduk menatap pusara Cindanita-ku. Mengusap batu besar yang mengukir namanya. Aku tidak pernah melakukan hal bodoh itu, Putri Duyung Kecilku. Tapi Mama-mu melakukannya. Dan aku sungguh tidak tahu apakah itu sebuah kebodohan atau bukan.

“Mengertilah, Sam. Pernikahan kita sudah selesai. Aku mencintainya. Aku seperti anak remaja yang jatuh cinta lagi. Anak remaja yang pertama kali mengenal kata cinta!”

“Ya Tuhan, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan pergi bersamanya.”

“Bagaimana dengan janji cinta kita?”

“Semua sudah berakhir, Sam. Biarkan aku pergi! Aku lelah dengan kehidupan kota ini. Aku tidak akan pernah bisa menggapai mimpiku. Aku lelah hanya bernyanyi di tengah pesta seadanya, orang-orang biasa.”

“Bagaimana mungkin kau akan melakukannya? Bagaimana dengan masa-masa indah pernikahan kita?”

“Aku mencintai pemuda itu, Sam. Aku akan pergi bersamanya, aku merasa muda lagi. Seperti gadis remaja yang kasmaran, aku sungguh seperti menemukan cinta sejati…. Dia cinta sejatiku, Sam!”

“Bagaimana dengan Cindanita.”

Suaraku hilang ditelan desau angin laut. Sempurna hilang bersama dengan perginya Mama-mu, Sayang. Kau yang masih berbilang enam bulan sungguh tidak beruntung. Papa-mu tertatih dengan kehidupan baru. Sendiri. Tertatih dengan semua beban kehidupan, dan itu semakin bertambah saat kau jatuh sakit dan tak pernah kunjung sembuh.

Maafkan aku, Cindanita-ku.

Aku menyeka ujung mata. Kupu-kupu semakin banyak memenuhi pemakaman kota. Orang-orang semakin riang bercengkerama. Tidak semuanya riang. Ada juga satu-dua yang sepertiku menangis di depan pusara. Ada yang berpelukan haru satu-sama lain. Bersama keluarga. Bersama anak-anak mereka. Aku tidak. Hari ini setelah memutuskan pergi menjauh, aku kembali seorang diri.

Mendongak menatap ribuan siluet kuning. Jiwa-jiwa yang pergi kembali hari ini. Persis seperti yang terjadi dengan istri Fram, petani miskin itu. Sejak kejadian di tepi danau, tidak ada yang tahu kemana Fram dan gadis belibis itu pergi menghilang. Juga tidak ada yang tahu kemana istrinya yang hamil tua pergi. Yang penduduk kota tahu, persis setahun kemudian setelah kejadian tersebut, dua ekor kupu-kupu kuning terbang mengunjungi kota. Satu kupu-kupu besar dengan anaknya yang mungil.

Setahun berikutnya kupu-kupu itu bertambah menjadi belasan. Setahun berikutnya puluhan. Setahun berikutnya ratusan. Hingga ribuan seperti hari ini. Mereka kembali.

Aku menatap pucuk-pucuk pohon cemara.

Apakah cinta sejati itu? Istriku pergi hanya karena ia lelah dengan kehidupan kecil kota kami. Menemukan pemuda yang menjanjikan masa depan lebih baik. Pasangan-pasangan lain hari ini juga berpisah karena alasan-alasan sepele. Bosan. Merasa terkekang. Merasa pasangannya sudah berubah. Atau bahkan hanya karena alasan-alasan yang dicari. Apakah itu cinta kalau kau setiap saat bisa jatuh cinta lagi dengan gadis lain? Dengan pemuda lain?

Esok-lusa, alasan mereka berpisah akan semakin sepele. Bahkan mungkin mereka tidak perlu alasan lagi untuk berpisah. Padahal percayakah kalian, seminggu setelah berpisah dengan pasangan lamanya, mereka akan menemukan pasangan baru. Buncah dengan kata: “Kaulah cintaku!” “Aku belum pernah merasakan cinta sehebat ini.” Dan berpuluh-puluh kalimat dusta lainnya. Terus saja begitu. Seperti siklus yang berulang. Apakah cinta itu? Mungkin hanya istri Fram, si petani miskin yang bisa menjawabnya.

Kau ingin mendengar penjelasan yang sesungguhnya di malam saat Fram sekarat, Cindanita-ku? Kau ingin tahu? Baiklah, akan aku bisikkan, semoga setelah itu sama sepertiku dulu kau akan tetap mempercayai adanya cinta, meski bisa jadi kau dalam posisi yang tersakiti, anakku.

Aku memandang lemah seekor kupu-kupu kuning yang terus hingga di ujung mantelku. Cahaya pagi mengambang indah. Berlarik-larik menembus kabut memesona. Orang-orang semakin ramai memenuhi pemakaman kota.

***

Lama sekali istri Fram memandangi belibis di tangannya. Mendadak ia merasakan ada yang ganjil. Lihatlah, mata belibis itu menyimpan perasaan takut kehilangan sesuatu. Cemas berpisah dengan sesuatu. Istri Fram mengenali tatapan itu. Tatapan itu sama seperti tatapan miliknya, tatapan yang amat takut kehilangan suaminya. Takut berpisah dengan suaminya.

Fram semakin kejang. Melenguh tertahan. Istri Fram gemetar mengambil pisau. Sekali lagi menatap mata belibis dalam jepitan tangannya. Belibis ini pasti memiliki pasangan, sama seperti dirinya yang memiliki pasangan. Tidak. Istri Fram berkata lirih. Malam ini, jika sepotong daging itu akan mengobati suaminya, itu tidak akan berasal dari belibis elok ini.

Biarlah dewa-dewi menjadi saksi, biarlah semua ini menjadi bukti cinta sejatinya. Istri Fram sambil menggigit bibir gemetar menebaskan pisau tajam. Bukan ke leher belibis, tapi ke betis kakinya. Sempurna memotong. Malam itu, istri Fram memberikan ‘daging’ miliknya.

Dia melepas pergi belibis jelmaan itu. Itulah yang terjadi. Malangnya, belibis jantan yang hendak kembali terbang ke langit terjerambab di pecahan es danau. Mati tenggelam tanpa seorang pun tahu, juga termasuk pasangan betinanya. Malam itu, istri Fram telah membuktikan cinta sejatinya. Andaikata demi kesembuhan suaminya ia harus memberikan jantungnya, maka itu pasti akan diberikannya.

Hari ini, setiap tahun istri Fram kembali. Kupu-kupu kuning yang memenuhi pemakaman kota. Kupu-kupu indah yang terbang di sela-sela cahaya matahari pagi yang menembus dedaunan pohon cemara. Mengambang. Memesona. Hari ini, istri Fram selalu menunaikan janji cinta sejatinya. Dulu iya, sekarang masih, esok-lusa pasti.

Aku juga akan selalu setia dengan janji cinta sejatiku.

Beristirahatlah dengan tenang, Cindanita-ku.

***

REPOST : http://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/mmsph-15-terakhir-kupu-kupu-monarch/233521486698427

Minggu, 11 September 2011

Perbandingan-Perbandingan

JONI, hari ini ujian skripsi. Bangun pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba di kampus 45 menit sebelum pintu ruang ujian dibuka. Menunggu di aula depan gedung Departemen Akuntansi. Masih sempatlah SMS sana, SMS sini. Bilang hari ini dia mau sidang skripsi. Pliz, kasih doa-doa biar lancar. Setengah jam berlalu, sayang sepuluh SMS dikirim, tak satupun yang ngasih reply. Mungkin teman-temannya lagi sibuk. Mungkin masih di jalan. Mungkin HP mereka tertinggal. Mungkin entahlah. Joni membesarkan hati.

Dosen penguji mulai berdatangan. Joni semakin ketar-ketir. Eh, masa’ iya nggak ada teman-temannya yang reply SMS? Joni mencet-mencet nomor. Mencoba menghubungi teman-temannya. Apes! Nada sibuk. Kalaupun ada nada tunggu, ya nggak diangkat-angkat. Pada kemana mereka hari ini?

Duh, kemana pula Puput pacarnya. Masa’ di hari sepenting ini, pacarnya nggak kasih doa selamat berjuang atau apa kek. Joni mengusap dahinya yang berkeringat. Puput mungkin masih bete. Mereka memang habis bertengkar dua hari lalu. Puput malah ngancam mau putus segala.

Teng! Waktunya masuk ruang sidang. Joni mengusir hal-hal negatif di kepalanya. Berusaha merapikan dasi dan kemeja lengan panjangnya. Berdoa sebentar. Semoga semuanya lancar.

***

DONI, hari ini ujian skripsi. Bangun pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba di kampus 45 menit sebelum pintu ruang ujian dibuka. Menunggu di aula depan gedung Departemen Manajemen (beda sepuluh meter dengan gedung Departemen Akuntansi). Masih sempatlah SMS sana, SMS sini. Bilang hari ini dia mau sidang skripsi. Pliz, kasih doa-doa biar lancar. Setengah jam berlalu, sayang sepuluh SMS dikirim, tak satupun yang ngasih reply. Mungkin teman-temannya lagi sibuk. Mungkin masih di jalan. Mungkin HP mereka tertinggal. Mungkin entahlah. Doni membesarkan hati.

Dosen penguji mulai berdatangan. Doni semakin ketar-ketir. Eh, masa’ iya nggak ada teman-temannya yang reply SMS? Doni mencet-mencet nomor. Mencoba menghubungi teman-temannya. Sial! Nada sibuk. Kalaupun ada nada tunggu, ya nggak diangkat-angkat. Pada kemana pula mereka hari ini?

Celingukan kesana-kemari. Ngelihat Joni yang berdiri di aula Gedung Akuntansi. Sial, tuh anak hari ini ujian skripsi juga. Doni benci banget dengan Joni. Apalagi kalau bukan gara-gara Puput! Dari dulu Doni naksir berat sama Puput. Sayang Puput malah jadian sama Joni. Semoga Joni nggak lulus. Doni berseru sirik dalam hati.

Teng! Waktunya masuk ruang sidang. Doni mengusir hal-hal negatif di kepalanya. berusaha merapikan dasi dan kemeja lengan panjangnya. Berdoa sebentar. Semoga semuanya lancar.

***

Dua jam berlalu, Joni keluar dengan muka merah. Benar-benar menyakitkan. Skripsinya dibilang sampah. Dan benar-benar dibuang ke kotak sampah oleh salah-seorang dosen penguji yang punya reputasi super-killer. Hiks! TIDAK LULUS. Joni tertunduk, melangkah patah-patah keluar gedung Departemen Akuntansi.

Baru tiba di pintu aula depan, HP-nya berdengking. Puput yang telepon. “Mulai hari ini kita putus!” Puput tanpa bilang salam, tanpa say sayang, langsung to the point. “Put, dengarkan aku….” Tut. Tut. Tut. Joni panik. Berusaha telepon balik Puput. Apes! Tidak aktif. Ya Tuhan! Joni mengeluh dalam. Lihatlah, hari ini dia nggak lulus ujian skripsi dan Puput bilang putus.

Joni melangkah tertatih ke air mancur kampus. Duduk nelangsa di kursi taman. Ketemu Doni di sana.

***

Dua jam berlalu, Doni keluar dengan muka merah. Benar-benar sempurna. Skripsinya dibilang luar-biasa! Dikasih nilai A+ oleh salah-seorang dosen penguji yang punya reputasi super-killer. Dahsyat, man! LULUS. Doni melangkah riang bin gagah keluar gedung Departemen Akuntansi. Menuju air mancur kampus. Duduk dengan bangganya di kursi taman. Ketemu Joni di sana. Ngelihat tampang Joni yang nelangsa. Yes!! Kalau lihat mukanya, dia nggak lulus. Doni bersorak riang dalam hati. Benar-benar hari yang sempurna.

“Lu lulus, Jon?” Basa-basi.

Joni menggeleng lemah.

“Nggak. Sial banget gw. Lu lulus?”

Doni mengangkat bahu, sok-banget.

“Gw benar-benar apes, Don.” Joni tertunduk pelan.

“Kenapa?”

“Hari ini Puput juga mutusin gw!”

Doni bahkan hampir tak kuasa menahan diri untuk tidak melompat riang jingkrak-jingkrak.

“Gw ke kantin dulu, Jon.” Doni beranjak pergi. Hari yang menyenangkan. Teman-teman se-gengnya pasti lagi ngumpul di kantin. Bakal seru banget ngomongin kabar hari ini.

***

Joni duduk bengong di depan air mancur. Sedih banget. Sesak. Dia benar-benar apes hari ini. Nggak lulus. Diputusin pacar. Terus lihat Doni yang bahagia banget.

Joni ngambil HP-nya dari kantong celana. Lihatlah, tetap nggak satupun teman-temannya yang reply SMS. Sekali lagi mencoba send SMS. Bilang dia nggak lulus. Bilang Puput mutusin. “Hari ini gw sedih banget, frens!” Satu jam berlalu tetap nggak satupun dari (sekarang) dua puluh SMS yang dikirim berbalas. Mungkin mereka nggak tahu kalau ada SMS darinya. Joni mencet-mencet nomor. Coba menelepon. Nada sibuk. Nggak diangkat. Tidak aktif. Voice-box. Pada kemana?

Joni duduk semakin nelangsa. Lihatlah! Hari ini pas dia lagi sedih banget, justru nggak ada satu pun teman yang bisa jadi tempat curhat. Sendiri. Joni mengusap wajahnya.

***

Doni pergi ke kantin. Semangat. Mereka harus tahu kabar-baik hari ini. Doni tersenyum lebar. Tuing! Ternyata nggak ada satupun teman se-geng-nya ada di kantin. Malah kantin terlihat sepi. Kok? Doni mengambil HP di kantong celananya.

Pada ke mana sih? Masa’ SMS-nya tadi pagi belum di-reply juga? Doni send dua puluh SMS lagi. “Gila, frens, gw lulus. Trus lu tau, nggak? Puput putus sama Joni! Haha! Gw bahagia banget hari ini.” Doni duduk di kursi kantin.

Satu jam berlalu. Ampun, belum ada satupun juga reply SMS! Mungkin mereka nggak tahu kalau ada SMS darinya. Doni mencet-mencet nomor. Coba menelepon. Nada sibuk. Nggak diangkat. Tidak aktif. Voice-box. Pada kemana?

Doni menatap kosong langit-langit kafe yang sepi. Bagaimana mungkin? Hari ini dia lagi hepi banget, tapi justru nggak ada satu pun teman yang bisa jadi tempat untuk cerita kebahagiaannya. Sendiri. Doni mengusap wajahnya.

***

Percayalah, hal yang paling menyakitkan di dunia bukan saat kita lagi sedih banget tapi nggak ada satupun teman untuk berbagi. Hal yang paling menyakitkan adalah saat kita lagi hepi banget tapi justru nggak ada satupun teman untuk membagi kebahagiaan tersebut.

Tapi ada yang lebih celaka lagi, yaitu ketika kita justru senang banget pas lihat teman susah, dan sebaliknya terasa susah banget di hati pas lihat teman lagi senang. Hiks!

***

REPOST : http://www.facebook.com/notes/darwis-tere-liye/mmsph-14-perbandingan-perbandingan/233025713414671