Rabu, 01 Juli 2015

status ((bagaian keempatpuluh tujuh))


Ketika kita disuruh menunggu, lantas bertanya, hingga kapan? sampai kapan? berapa lama? Maka sebenarnya kita tidak sedang menunggu, Kawan. Tapi berhitung, penuh perhitungan sang pedit nan pelit.
Ketika kita disuruh bersabar, lantas nyeletuk iya kalau ujungnya dapat, kalau nggak? Rugi dong. Maka sebenarnya kita tidak sedang bersabar, Kawan. Tapi transaksi jual beli, atau malah bertaruh. Seolah bersabar adalah pilihan tersisa yang dilempar di atas meja taruhan.
Padahal, sungguh tidak ada resiko bagi orang yang sabar. Dia menjual sesuatu kepada yang maha memiliki segala sesuatu. Apanya yang akan rugi? 

Senyum adalah jembatan yang menghubungkan antara dua mata.
Kalimat yang santun dan baik adalah jembatan yang menghubungkan antara dua telinga.
Perbuatan yang mulia adalah jembatan yang menghubungkan antara dua hati.
Maka, jangan ragu2 membangun jembatan setiap hari. Bukan sekadar agar kita selalu terhubung dalam kebaikan, tapi yang lebih penting, agar kita tidak terisolasi dari kebahagiaan.
Tentu bukan hanya desa atau kampung saja yang bisa terpencil, manusia juga bisa disebut 'manusia terpencil'. Yang sayangnya bukan karena posisi geografisnya, tapi karena dia tidak mau membangun jembatan2 penghubung tersebut.

*Perayaan
Boleh mengadakan acara resepsi saat pernikahan? Jawabannya: boleh. Ada sunnah Nabi atas hal ini. “Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing’’ (HR. Bukhari dan Muslim).
Tapi di tengah jaman hari ini, ada beberapa hal yang mungkin bermanfaat jika kita bersedia memikirkannya.
1. Resepsi itu adalah pemberitahuan penuh rasa syukur
Resepsi pernikahan itu poin pentingnya ada dua: pertama, pengumuman bahwa si fulan sudah menikah. Kedua, bentuk rasa syukur. Maka keliru jika resepsi dijadikan ajang pamer. Kusut jadinya, berbelok dari tujuan mendasarnya. Resepsi pernikahan bukan pertunjukan status sosial keluarga, bukan pula pamer gelar-gelar pendidikan, apalagi pamer kekayaan, jabatan, kekuasaan. Soal ini kadang susah sekali diingatkan, orang-orang keras kepala akan bilang: "Toh hanya sekali seumur hidup"; atau "Apa salahnya? Ada uangnya ini, dan itu uang saya." Baiklah. Itu hak semua orang, terserah. Tapi adik-adik sekalian, pikirkanlah poin paling penting ini jika besok lusa kalian akan menikah. Saya tahu, kadang, kalian memang memilih sederhana, tapi orang tua tidak. Ada banyak keluarga yang sampai tega berhutang, juga membebani anak-anaknya, hanya untuk show, bahwa dia bisa membuat resepsi pernikahan yang mewah.
2. Resepsi itu adalah kepatuhan atas sunnah Nabi, bukan malah membuat maksiat
Kenapa kita melakukan resepsi? Karena Nabi nyuruh. Kita patuh. Maka, lagi-lagi repot sekali urusannya, jika ternyata, resepsi itu mengundang maksiat. Banyak jenisnya. Mulai dari menentukan tanggal nikah melalui cara-cara mistis. Memanggil pawang hujan. Pakai acara dangdutan, dengan penyanyi berpakaian tidak pantas. Hingga demi bedak dan riasan tidak luntur, kita jadi meninggalkan shalat.
3. Resepsi itu adalah bersilaturahmi, bukan mengumpulkan amplop
Sudah jadi tradisi yang membekas sekali di sekitar kita, jika ada resepsi, maka lazimnya ada kotak besar untuk memasukkan amplop. Semakin mewah itu resepsi, kotak amplopnya semakin megah, mewah pula. Juga pernikahan di kampung-kampung, pun ada amplopnya juga. Saya tidak mengerti poin tradisi ini? Apaan sih? Ekses dari tradisi ini tidak sederhana, itu memiliki dampak negatif. Di amplop2 itu ditulis nama, siapa yang ngasih, besok lusa, seolah menjadi 'hutang'. Semakin bagus kartu undangan, semoga semakin banyak amplopnya, dll. Tetangga, kerabat, kolega yang kaya-kaya diundang, yang miskin tidak. Dan lain sebagainya. Aduh, mungkin saatnya kita kembali memikirkannya. Gunakanlah teladan Nabi, wasiat-wasiatnya, itu mungkin bisa membantu melihat situasi ini lebih jernih.
4. Resepsi itu adalah kebermanfaatan, bukan mubazir dan mengganggu.
Poin terakhir, resepsi pernikahan itu diadakan, karena ada azas manfaatnya. Maka, ketika dia berlebihan, mubazir, sia-sia, suramlah cahaya baik dalam resepsi tersebut. Belum lagi jika sampai mengganggu, bikin macet, bikin susah, dan menimbulkan kesulitan di sekitarnya. Saya tahu, lagi-lagi itu sekali seumur hidup, tidak setiap hari juga bikin repot, tapi sejatinya, justeru karena acara tersebut sangat spesial, maka berhati-hatilah.
Ingatlah selalu, telah menunggu jalan panjang setelah resepsi. Hakikat pernikahan itu sendiri.
Ketahuilah, jika kita bisa menempatkan resepsi pernikahan dengan baik, maka biasanya, kita juga bisa menempatkan pemahaman hidup dengan baik pula. Itu memiliki korelasi yang mungkin menarik direnungkan. Ingatkan orang-orang di sekitar kalian, termasuk orang tua, agar bisa menahan diri. Jika susah melakukannya, pastikan, generasi berikutnya, anak-anak kita, tidak mengalami hal yang sama kita alami.

Hati manusia itu seperti samudera luas. Tidak terkira isinya. Ada yang bisa menampung begitu banyak kesedihan dan dia tetap bersyukur, ada yang muat begitu banyak pengorbanan, dan tetap lebih luas lagi isinya.
Hati manusia itu seperti samudera luas. Dan saat dia menangis, maka satu-dua butir tetes airnya mengalir keluar.

Percaya Diri alias PD sejati itu menempel pada apa yang ada di kepala kita. Bukan pada pakaian yang kita kenakan, kendaraan yang kita naiki, apalagi bualan omong-kosong.
Semakin banyak isi kepala kita, pengetahuan, wawasan, pengalaman, maka semakin PD kita. Lengkapi dengan rendah hati dan ketulusan, mulailah dengan Bismillah, maka tiada situasi yang bisa membuat kita gugup.

Ada tiga "selalu" yang pantas dimiliki:
1. Selalu sederhanakan masalah kita. Jangan dibuat rumit, jangan dibuat panjang.
2. Selalu berpikir positif. Pun saat situasi memang negatif sekali, berpikir positif akan membantu kita.
3. Selalu belajar melepaskan. Pada akhirnya, toh, tidak ada yang sebenarnya kita miliki, bukan?

Jika itu cinta
Maka jadilah seperti air
Seperti air yang merayap di dalam tanah
Merambat di akar-akar, pohon dan dahan
Menyuburkan tanaman satu benua luas
Tanpa pernah harus terlihat
Seperti air yang mengalir di sungai-sungai jernih
Membawa kehidupan bagi ikan dan hewan-hewan
Terus-menerus mengalir
Tanpa pernah bicara tentang balas budi
Seperti air yang luruh dari awan-awan
Membasuh dedaunan dan semua kerontang
Membawa kabar baik menenteramkan
Tanpa pernah bicara soal pengorbanannya
Jika itu cinta
Maka jadilah seperti air
Yang tiada mahkluk hidup manapun bisa bertahan tanpanya
Jadilah, persis seperti itulah cinta kita
Meski tidak semua orang harus tahu
Tetap kita dekap erat dalam diam

Tidak semua hal hebat yang kita lakukan harus diumumkan, diberitahukan. Foto2 terbaik, tempat2 terjauh, prestasi2 terindah, negara2 yang kita kunjungi, kadangkala cukup untuk diri kita sendiri. Disimpan menjadi kenangan paling istimewa.
Jangan sampai, bahkan saat tidak ada yang bertanya, tidak ada yang meminta bercerita, kita tetap asyik memberitahu betapa kerennya, "saya, saya dan saya" loh.

Fobia atas agama yang mengerikan itu adalah: ketika pemeluk agamanya sendiri yang 'benci', tidak suka atas ajaran agamanya. Selalu ingin terlihat seperti kelompok lain, yang jadinya serba tanggung. Selalu ingin menyenangkan kelompok lain, demi disebut modern. Yang sayangnya, di sana dia tetap dianggap asing, di sini, dia merasa asing.
Ekstrem kanan atas agama yang mengerikan itu adalah: ketika tidak menyadari sedang merusak nilai-nilai agamanya sendiri. Selalu merasa benar, yang jadinya serba labil. Sudah habis-habisan merasa membela agamanya, tapi justeru sedang merusaknya.
Lantas di mana posisi sebaik-baiknya? Di tengah-tengah. Golongan yang lemah lembut atas saudaranya, tapi tegas di luar itu. Golongan yang menghormati perbedaan, tapi tegas atas masalah akidah. Berhati-hatilah atas posisi kita, selalu cek, selalu konfirmasi dengan pendapat2 ulama terdahulu, karena boleh jadi, tanpa disadari, kita justeru adalah "corong" dua titik ekstrem ini di media sosial. Dan lebih jangan lagi, kita dimanfaatkan orang lain sebagai corong tersebut.

Ramadhan sebentar lagi tiba. Semua orang juga tahu, ini adalah bulan penting bagi umat Islam. Dan puasa ramadhan, sudah ribuan tahun dilakukan. Tepatnya 1.434 tahun.
Maka, keblinger sekali jika yang berpuasa disuruh menghormati yang tidak berpuasa. Egaliter, kesetaraan, saling respek itu bukan begitu. Kalau begini caranya, hanya soal waktu, akan ada yang bilang: adzan di mesjid itu mengganggu. Kenapa harus teriak2 sih manggil shalat? Kenapa nggak pakai SMS/miskol? Biar nggak mengganggu.
Jangan sampai, justeru yang beragam islam yang punya pola pikir begini. Keliru sekali.

*Menghormati yang tidak berpuasa
12 tahun silam, saat saya baru lulus kuliah, saya sudah menemukan konsep baru yang sangat membingungkan ini: Orang2 berpuasa diminta menghormati orang2 yang tidak berpuasa. Maka, saat ramadhan datang, apa salahnya jika tempat2 hiburan tetap buka, rumah makan tetap beroperasi penuh, dsbgnya. Apa salahnya jika klub malam tetap beroperasi. Toh, mereka juga mencari makan, nafkah dari bisnis mereka.
Saya membaca tulisan itu di milist (jaman itu belum ada media sosial). Saya masih muda, masih tidak berpengalaman. Saat membaca tulisan tersebut, aduhai, isinya masuk akal sekali. Benar loh, kan kita berpuasa itu disuruh menahan diri, agar jadi lebih baik, masa' kita akan tergoda saat melihat warung buka, masa' kita akan tergoda saat melihat tempat hiburan ada di mana2? Full beroperasi. Kalau masih, berarti puasa kita nggak oke. Itu logika yang masuk akal sekali. Tapi saya bersyukur, saya tidak pernah membiarkan "logika" sendirian saat menentukan prinsip2 yang akan saya gigit. Saya selalu memberikan kesempatan mendengarkan pendapat lain.
Baik. Itu mungkin masuk akal, orang2 berpuasa disuruh menghormati orang2 tidak berpuasa, tapi di mana poinnya? Apakah orang2 yang berpuasa mengganggu kemaslahatan hidup orang2 tidak berpuasa? Apakah orang2 berpuasa ini punya potensi merusak? Sehingga harus ada tulisan, himbauan, pernyataan: kalian yang puasa, hormatilah orang yang tidak berpuasa. No way, man, itu logika yang bablas sekali. Saya tahu, ada banyak razia penuh kekerasan dilakukan kelompok tertentu atas tempat2 hiburan, warung2, dll. Tapi itu bukan cerminan kelompok besar muslim di negeri ini. Kelompok besarnya, bahkan tidak suka dengan cara2 penuh kekerasan ini, pun tidak suka dengan kelompok ini.
Lantas siapa yang seharusnya menghormati?
Default dalam situasi ini adalah: ingatlah baik2, ramadhan itu sudah ribuan tahun usianya, 1.434 tahun tepatnya. Bahkan perintah shaum, itu hampir seusia manusia di bumi ini, agama2 terdahulu juga memilikinya. Kalau itu sebuah tradisi, maka dia lebih tua dibanding tradisi apapun yang kalian kenal, silahkan sebut tradisinya, puasa lebih tua. Maka, tidak pantas, manusia yang usianya paling rata2 hanya 60 tahun, tiba2 mengkritisi puasa, memandangnya sebagai sesuatu yang artifisial, tidak penting, dsbgnya. Ramadhan adalah bulan paling penting dalam agama Islam, jelas sekali posisinya.
Sama dengan sebuah komplek, itu komplek sudah 1.434 tahun punya tradisi tidak boleh memelihara hewan peliharaan. Kemudian datanglah keluarga baru, membawa hewan yang berisik sekali setiap malam. Siapa yang disuruh menghormati? Wow, warga satu komplek yang disuruh menghormati keluarga dengan hewan berisik? Demi alasan egaliter, HAM, kesetaraan, kebebasan, dan omong kosong lainnya. Kalian tahu, ketika orang2 tidak punya argumen substantif dalam hidup ini, maka senjata mereka memang hanya itu: kebebasan. Amunisi paling mudah saat melawan agama adalah: kebebasan. Hingga lupa, siapa sih yang over sekali menyikapi situasi ini?
Karena sejatinya, tidak ada pula yang menyuruh warung2 full tutup, warung2 makan cukup diberikan tirai saat bulan Ramadhan, semua baik2 saja. Itu lebih dari cukup. Lantas soal klub malam? Diskotik? Tempat2 menjual minuman keras? Kalian punya 11 bulan untuk melakukannya, diminta libur sebulan, apa susahnya? 11 bulan orang lain menghormati kalian melakukannya, maka tiba giliran 1 bulan, apa susahnya mengalah? Tidak perlu sampai ribut, sampai berantem, sampai dirazia, cukup kesadaran diri saja. Tidak ada yang meminta kalian tutup 12 bulan.
Kusutnya masalah ini, kadang yang mengotot sekali justeru sebenarnya beragam Islam. Orang2 yang beragama lain, sudah otomatis menyesuaikan diri. Saya punya banyak teman2 non Islam, saat mereka makan siang, mereka dengan sangat respek minta ijin, bisa menempatkan diri dengan baik. Hampir semua agama itu punya ibadah yang harus dihormati. Di Bali misalnya, saat Nyepi, mau agama apapun, semua orang diminta menghormati Nyepi. Tidak ada alasan: kebebasan, boleh dong saya hura2 saat Nyepi.
Saya tahu, silahkan saja jika kalian tetap punya tapi, tapi dan tapi. Saya hanya mengingatkan: sekali orang2 mulai terbiasa membalik2 logika, dalam urusan ini, hanya soal waktu, besok lusa akan ada yang bilang: adzan di masjid itu mengganggu. Kemudian orang2 akan mengangguk, mengamini, benar juga ya, kenapa harus teriak2 sih adzannya? Kenapa harus pakai speaker? Kan bisa pakai SMS, miskol, dll. Itu pemeluk agama Islam kok bego banget, tidak tahu teknologi.
Saat itu terjadi, maka silahkan tanggung dosanya, wahai kalian, orang2 yang bangga sekali dengan logika hidupnya. Bangga sekali dengan kepintarannya berdebat, kalian --mungkin tanpa menyadarinya-- telah memulai menggelindingkan bola salju agar orang2 lain mulai meninggalkan agamanya.
Terakhir, ada jutaan anak2 kami yang baru belajar puasa ramadhan ini, saat mereka pulang sekolah TK, SD, saat mereka habis2an menahan haus dan lapar, maka jika kalian yang keblinger sekali pintarnya tidak bisa melihat mozaik besar ramadhan, maka lihatlah anak2 ini, mereka sedang berusaha taat melaksanakan perintah agama--bahkan saat mereka belum tahu-menahu. Hormatilah anak2 kami ini. Jangan suruh mereka menghormati orang2 yang tidak berpuasa.

Kalau orang yang kalian taksir diam-diam selama ini ternyata menikah dengan orang lain, menikah dengan teman kalian, maka itu seharusnya kabar baik. Sudah sepatutnyalah kalian ikut bahagia.
Lah, daripada dia tidak nikah-nikah, gara-gara sampeyan penakut ngelamar ke orang tuanya? Atau kalian penakut tidak berani kirim agen khusus buat bertanya apakah dia mau menikah dengan kalian?

Berapa lama kita harus menunggu?
Tergantung. Boleh sebentar, boleh selamanya. Hanya saja, gantungkan harapan tersebut bukan ke orangnya/sesuatu; gantungkan harapan tersebut ke yang maha menguasai hati. Tempat seluruh pengharapan akan kembali.
Maka proses menunggunya boleh jadi berkah dan bermanfaat--pun kalau ujungnya tidak seperti yang kita inginkan di awal.

Salah-satu hal ajaib dari pertemanan adalah: tidak ada jadiannya, tidak ada akadnya, tidak ada nembaknya, tidak ada.
Tiba2 sudah teman baiklah. Dan teman baik selalu mempunyai ruang untuk teman baik berikutnya, berikutnya dan berikutnya. .

Anak perempuan berhak sekolah setinggi mungkin. Bahkan dengan dia hanya bercita2 jadi ibu rumah tangga sejak kecil, lebih berhak dan mendesak lagi dia sekolah setinggi dia mau dan mampu.

Kita memahami "bahagia", kadangkala setelah menaklukkan "kesedihan" yang harus dilalui.
Jadi tidak mengapa jika harus melewati lautan kesedihan.

Seseorang tidak dinilai dari warna kulitnya, tidak dinilai dari rambutnya, bola matanya, tidak dinilai dari bentuk fisiknya, tidak dinilai dari apa yang dia kenakan.
Seseorang dinilai dari jiwa yang ada di dalam tubuh tersebut.
Tubuh akan sakit, lemah, keriput, tapi jiwanya bisa terus sehat dan tangguh. Tubuh akan mati, hancur terurai dalam tanah. Tapi jiwa-nya akan terus ada.

Kenangan itu seharusnya adalah benda tidak kasat mata, tidak bisa disentuh, tidak bisa dipegang. Hanya diawang-awang.
Tapi ajaibnya, kenangan bisa lebih tajam dibanding pisau; lebih pahit dibanding pare; dan lebih berat mengganduli kaki dibanding bola besi. Membuat tidak selera makan, membuat sesak sepanjang hari.

Tidak suka dengan orang lain, tidak sependapat, beda paham, itu lumrah saja. Tapi pastikan kita jangan memaki, menghina, apalagi menyerang fisik, keluarga, latar belakang, pendidikan, dan lain-lain.
Karena jika itu yang kita lakukan, maka belum jelas benar siapa yang sebenarnya keliru, kita sudah menunjukkan kualitas diri kita yang keliru. Belum jelas benar apakah yang kita maki itu memang pantas dimaki, kita justeru sudah jelas sekali mengumumkan sifat buruk diri sendiri.
Ingat baik-baik: argumen dilawan argumen, tulisan dilawan tulisan, buku dilawan buku. Selalu begitu bagi para cendekia sejati. Di luar itu, simply menunjukkan jika kita tidak punya amunisi setara, tidak punya kemampuan substantif, jadilah memilih menghina.

Sajak Pekerjaan
Nak, jangan jadi pengacara kalau kau tidak kuat.
Membela yang kaya (dan nyata2 salah), kau masuk neraka, meski banyak uangnya.
Membela yang miskin dan papa (nyata2 benar), musuhmu menggunung di dunia, pun miskin pula kau, bujang.
Nasib sekali profesi ini, sama dengan profesi hakim, jaksa dan sebagainya.

Nak, jangan jadi dokter kalau kau tidak tulus.
Susah payah menimba ilmu (mahal pula), kadang hanya dibayar dengan ucapan terimakasih.
Saat hendak menuntut imbalan dan perhatian yang layak dari pemerintah, malah disangka penuntut dan tidak ihklas.
Ini pun serupa dengan bidan dan petugas kesehatan lainnya, mahfumnya demikian.
Nak, jangan jadi guru kalau kau tidak tahan.
Menghabiskan waktu berhari2 mengajari murid2, dianggap memang itulah tugasnya. Biasa sajalah.
Saat murid2nya tidak pintar, bandel, nakal, yang disalahkan adalah gurunya.
Ini pun sama dengan pekerjaan guru ngaji, tutor, dosen dan sebagainya.
Nak, jangan jadi polisi kalau kau tidak gagah perkasa.
Bukan gagah perkasa fisiknya, karena itu memang harus. Tapi gagah perkasa hatinya.
Membela orang salah (tapi berkuasa), kelak teman kau di neraka banyak.
Membela orang benar (tapi lemah), musuh kau di kantor yang bisa jadi banyak sekali.
Ini senasib dengan pekerjaan sipir dan sejenisnya.
Nak, jangan jadi PNS kalau kau tidak mantap, aduh rumit sekali sebutan ini.
Kau kaya disangka korup.
Kau jalan2 di mall disangka kelayapan.
Kau banyak internetan disangka maling waktu.
Padahal boleh jadi ada PNS yang job desc-nya demikian--terlepas yang lebih banyak tidak.
Belum lagi bisik2 dan tatapan2 meremehkan lainnya, kecuali kau mantap, Nak.
Nak, jangan jadi karyawan atau buruh kalau kau tidak sungguh2.
Giat bekerja sesuai waktu memang begitulah SOP dan kebutuhannya.
Diperintah dan disuruh2 sudah resikonya.
Bekerja tiap hari hanya membuat pemilik perusahaan tambah kaya raya.
Seolah terjamin masa tua, digaji mahal, tapi lupa berapa harganya masa muda yang diberikan.
Hanya untuk pensiun dan menerima selembar kertas masa bakti dan ucapan terima kasih.
Aduh, Bapak pusing sekali harus memberi tahu, kelak kau sebaiknya jadi apa.
Sepertinya semua pekerjaan punya resikonya.
Maka baiklah, kita fokus saja pada hal terpentingnya.
Semoga besok lusa kau tumbuh jadi anak yang kuat, tahan banting, tulus, mantap, sungguh2
Maka, apapun profesinya, kau siap
Tetap berdiri tegar dengan pemahaman terbaiknya.

Saya tidak perlu mencantumkan riwayat pendidikan saya di buku2, di page ini. Tidak perlu.
Toh, itu kadang seru. Karena tidak hanya sekali, ketika saya menulis tentang ekonomi, ada komentar yang bilang: "Tere Liye ini siapa sih sok tahu banget nulis ekonomi. Kayak lulusan ekonomi kampus xyz saja. Nulis novel sajalah, tidak perlu nulis yang kamu tidak paham."
Membaca komentar2 seperti ini, selalu membuat tersenyum simpul. Sama tersenyum simpulnya, ketika datang ke sebuah acara, hanya memakai sendal jepit, lantas panitianya menyuruh2 memperbaiki sound system, bantu2, dikira office boy gedung tempat acara. No problem at all 
“Bagi manusia, hidup itu juga sebab-akibat.
Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu....
Saling mempengaruhi, saling berinteraksi.... Sungguh kalau dilukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.”
― Tere Liye, Novel "Rembulan Tenggelam Di Wajahmu"

Orang-orang yang sekarang terlihat berleha-leha, santai, menikmati semua kesuksesan, boleh jadi dia telah bekerja keras 20 tahun lalu.
Sementara kita, terus menunda, malas, untuk kemudian iri, buruk sangka, bahkan bicara jelek melihat keberhasilan orang lain.
Ingatlah nasehat lama: hanya orang2 yang menanam pohon 20 tahun lalulah yang bisa berteduh di bawah pohon rindangnya. Yang tidak pernah menanam pohon, hanya bisa menonton di bawah terik matahari.

Berhenti banyak bertanya, mulai dikerjakan. Ada banyak jawaban yang bisa kita temukan saat mulai melakukannya.
Lagipula, semakin banyak bertanya, kita semakin tidak kongkret, mengulur2 waktu, kebanyakan mengeluh dan argumen.

Ini serius.
Jika kita muslim, tapi tidak happy, tidak antusias menyambut bulan Ramadhan, malah mengeluh, merasa terbebani, tidak suka, ilfil, maka segeralah cari cermin besar. Berdiri. Tatap cermin itu, bertanyalah: "Ada apa dengan diri saya? Seberapa besar kemunafikan membelenggu saya?"
*Tere Liye
**postingan ini tidak menyuruh ribut, berdebat. postingan ini menyuruh--termasuk saya yang posting--mencari cermin, dan mulai mengevaluasi banyak hal.

Sebenarnya, saat kita menangis, lebih banyak orang-orang yang bahkan tidak menyadari ada air mata di pipi kita.
Saat kita susah hati, lebih banyak orang-orang yang tidak peduli dengan apa yang kita rasakan. Saat kita kesulitan, orang-orang justeru menjauh, tidak mau tertimpa masalah.
Hanya teman sejati yang bisa menyaksikan tangisan di antara senyuman. Semoga salah-satunya adalah kalian.

Rasa malu adalah pakaian terbaik manusia.
Dengan pakaian itu, akan mencegah dirinya dari perbuatan buruk nan memalukan. Juga membuatnya memilih bekerja keras, dibandingkan menjadi beban, meminta-minta.

Jika kita selalu berkata benar, maka semua urusan tertinggal di belakang. Selesai.
Tapi jika kita berbohong, menutup-nutupi, maka semua urusan akan menumpuk di kemudian hari. Bom waktu.
*saya tulis ulang dari nasehat lama

Salah-satu penyebab korupsi adalah: gaya hidup.
Ketika keinginan gaya hidup lebih besar dibanding pendapatan, membuatnya mengambil jalan pintas.
Hampir pelaku korupsi itu sebenarnya punya pekerjaan, jabatan, harta-benda, punya posisi lebih baik dibanding orang2 lain. Keluarganya juga berkecukupan. Tapi dia tetap merasa lebih susah hidupnya, lebih miskin, karena setiap hari hanya melihat gaya hidup yang dia inginkan, bukan melihat orang lain yang lebih bersyukur.

Koruptor (para pencuri) adalah para pembantah no. 1.
Maka membingungkan sekali jika ada orang yang justeru membela. Percaya sekali ilusi tidak bersalah yang diciptakan.
Contohlah Nabi, beliau pernah bilang: "Seandainya Fatimah mencuri, maka akan kupotong tangannya." Inilah teladan paling optimus prime, sekali seseorang mencuri, bahkan anaknya sendiri akan dipotong tangannya. Silahkan, orang2 mau nurut apa kata Nabi, atau nurut logikanya sendiri.

Dulu, saya kira, masalah hidup kita itu harus dihabisi, diperangi, diusir jauh2. Dan kita berdiri gagah jadi pemenangnya. Sekarang, tidak lagi, saya akan memutuskan menyayangi, memeluk erat2 setiap masalah hidup ini.
Hidup ini bukan soal menang atau kalah. Hidup ini sungguh soal kebahagiaan dan ketentraman hati. Dan orang2 bahagia, bahkan bisa hidup damai bersama masalah hidupnya.

Kalau kalian mau cari idola, maka carilah: yang tidak punya akun facebook, tidak punya akun twitter, instagram, dsbgnya, tapi punya "follower" 1,6 Milyar orang di seluruh dunia. Yang nasehat2nya akan abadi hingga akhir jaman. Dan yang sungguh peduli dengan para "follower"-nya dulu, sekarang, hingga kelak.

Hal yang sudah jelas dan pasti saja kadang berakhir menyakitkan. Apalagi yang tidak jelas dan tidak pasti. Tinggalkanlah. Bergegas. Ada banyak hal lebih penting yang harus segera diurus. Jangan habiskan waktu sia-sia.

Ada 4 strategi tiada tanding:
1. Diam ketika orang berharap kita membalas berkata-kata buruk.
2. Tersenyum ketika orang berharap kita merah padam.
3. Tinggalkan ketika orang berharap kita hendak melanjutkan perdebatan.
4. Dan terakhir, lepaskan ketika orang berharap kita akan ngotot dan memaksa.


Mata cinta sangatlah tajam.
Tapi ada yang lebih tajam lagi, mata kebencian.
Mata kebencian sungguhlah terkenal tajam.
Tapi ada yang lebih tajam lagi, mata cemburu.
*saya tulis ulang dari pepatah Arab

Ingatlah selalu:
Yang akan tiba, selalu lebih baik dibanding yang telah pergi.
Yang akan menggantikan, juga lebih baik dibanding yang telah tergantikan.
Kesempatan baru, pun lebih baik dibanding kesempatan lama.
Karena jikalaupun yang tiba, menggantikan, serta kesempatan baru itu ternyata memang lebih jelek , maka mau apalagi? Toh, yang telah pergi, telah tergantikan, dan kesempatan lama sudah tidak lagi menjadi bagian dari kita?
Itulah kenapa, hakikat "bersyukur" selalu bicara tentang penerimaan. Bukan tentang membanding-bandingkan.

Jangan habiskan waktu kalian membela seseorang yang telah dijadikan tersangka korupsi. Se-nge-fans apapun kalian ke orang tersebut. Se-hebat apapun orang itu menurut kalian--dan kalian sungguh percaya dia tidak melakukannya.
Siapapun yang ditetapkan sebagai tersangka koruptor, maka silahkan dia membuktikan salah atau tidak salahnya di pengadilan. Biarkan mekanisme pengadilan dunia membuktikannya. Jika kalian mau bilang pengadilan itu rekayasa, maka bagaimana kemudian kita menuntaskan masalah hukum seorang tersangka korupsi di atas dunia? Toh, ada berlapis-lapis prosesnya, berbulan-bulan, ada banyak hakim yang terlibat. Kalau di tingkat pertama kalah, dia bisa banding, kalah lagi, dia bisa banding lagi, terus hingga keputusan tertinggi--pun masih bisa request peninjauan kembali. Pendapat subyektif kita tidak sebanding dengan proses peradilan panjang tersebut.
Termasuk besok lusa kalau Tere Liye tersangka korupsi, jangan habiskan waktu kalian membela dia.

Ketika seseorang membuat kita menunggu, itu berarti ada hal lebih penting yang dia urus dibandingkan kita.
Selalu begitu.
Karena kalau kita memang penting, amat berharga, dia tidak akan pernah membiarkan kita menunggu. Dan sama, ketika kita merasa seseorang itu penting, kita juga tidak akan pernah membiarkan dia menunggu sedikit pun.

Kenapa kita tidak diberikan Tuhan mobil keren? Boleh jadi karena, bisa naik angkot atau motor kemana2 kita tidak becus bersyukur Apalagi nanti dikasih mobil keren, malah tambah kurang ajar.
Kenapa kita tidak diberikan Tuhan pekerjaan bergaji tinggi? Boleh jadi karena, sudah punya pekerjaan tetap yang baik saja kita masih mengeluh. Apalagi nanti kalau sudah naik pangkat, tak berkurang keluhannya.
Kenapa kita gagal ini, gagal itu?
Boleh jadi karena, kita berhasil ini, berhasil itu selama ini tidak pernah berterimakasih. Apalagi nanti kalau berhasil semua, hanya menambah daftar panjang hitam tidak tahu terimakasih

Saya tidak keberatan anak-anak muda membangunkan sahur dengan kentongan, galon aqua, keliling kompleks/kampung. Atau petugas DKM membangunkan sahur dengan suara mengaji di mesjid.
Bagi saya itu tidak menganggu. Saya tahu, ada alarm HP, alarm jam. Tapi atmosfernya tidak akan pernah tergantikan.
Toh, bicara soal terganggu, ketika malam tahun baru, orang sibuk meledakkan mercon, kembang api, petasan, bukankah orang asyik2 saja? Saya belum pernah dengar ada pejabat yang bilang: "Hormatilah orang-orang yang tidak merayakan tahun baru. Tolong meledakkan merconnya pakai aplikasi kayak alarm di HP, atau alarm di jam. Biar tidak mengganggu yang lain."
smile emotikon
*Tere Liye
**saya tambahkan: tapi jelas keliru jika anak2 muda ini balap2an, ngebut2an, nyampah, bikin kecelakaan di jalan raya, pacaran, keluyuran tidak jelas, dan tindakan yang justeru melanggar nilai2 agama. sepanjang hanya di komplek/kampung masing2, dengan tujuan positif, welcome.

Ada yang nonton petualangan Kevin, Stuart dan Bob. Hari ini rilis di bioskop. Semakin banyak saja kosakata Indonesia yang digunakan Minion. Termasuk yang paling clear adalah "Terima Kasih".
Mengesankan. Pembuat filmnya, tidak melupakan "asalnya". Jangan sebaliknya, kita malah terbalik, melupakan budaya dan bahasa sendiri demi meniru budaya orang lain.

Anak-anak kecil di sekitar kita sudah tidak sabaran menunggu puasa. Bertanya berkali-kali, nanti malam jadi sahur kan? Aku bisa bangun sendiri, kok (padahal selama ini bangun pagi saja susah banget). Dan celoteh semangat lainnya.
Ramadhan selalu istimewa di hati yang masih murni. 

Jangan sampai pagi dan hari kita yang indah dirusak oleh kalimat2 menyebalkan dari orang lain. Jauhi.
Ingatlah nesahet lama: Orang2 yang suka berkata jelek adalah orang2 yang memang suka merusak kebahagiaan orang lain, simply karena mereka tidak menemukan kebahagiaan milik sendiri.

Di dunia ini, ada orang-orang yang memilih pergi, ada yang memutuskan tinggal.
Ada orang-orang yang melupakan, ada yang memilih mengingat.
Ada orang-orang yang menyayangi, pun ada yang tidak peduli lagi.
Maka, fokuslah pada yang tinggal, mengingat dan menyayangi. Bukan yang pergi, melupakan dan tidak peduli. Jangan dibalik, agar kita senantiasa bahagia.

Barangsiapa yang sering berdoa dalam senyap, di penghujung malam, menangis di atas sajadah, maka dia sama sekali tidak perlu lagi berdoa di dinding facebook, twitter, dsbgnya. Tidak akan.
Ini rumus pasti. Berlaku sebaliknya.
--Tere Liye
**menyakitkan mendengar kalimat2 ini, apalagi jika kita melakukannya, tapi pikirkanlah, semoga bermanfaat.

Kita tidak memerlukan orang sempurna dalam hidup kita. Cukup ketika dia bilang "saya minta maaf", maka dia sungguh-sungguh melakukannya dan berubah.
Daripada sebaliknya, terlihat sangat sempurna, tapi bahkan saat minta maaf, dia tetap begitu-begitu saja.

Jangan cemas berdiri di atas prinsip kebaikan yang kita pegang. Jangan ikut-ikutan, hanya agar menyenangkan hati orang lain, atau hanya agar diterima sebuah kelompok.
Tidak mengapa jika hal itu membuat kita kehilangan "teman".
Kita justeru akan menemukan teman sejati lewat sikap dan perbuatan kita yang teguh atas prinsip-prinsip.

5 Rule:
Kesalahan selalu bisa dilupakan
Jika seseorang bisa berbesar hati mengakuinya
Kesedihan selalu bisa dihapus
Jika seseorang berani memeluknya
Rasa sakit selalu bisa diobati
Jika seseorang tulus mampu memaafkan
Kegagalan selalu bisa diatasi
Jika seseorang "keras kepala" terus berusaha
Kehilangan selalu bisa dilewati
Jika seseorang kuat dapat melepaskan

*Malam perpisahan yang bablas.
Saya seringkali melihat acara wisuda TK/SD di ballroom hotel bintang empat. Maka, menemukan Prom Night, malam perpisahan yang diadakan oleh anak2 SMA di ballroom hotel berbintang lima, hal biasa saja jaman sekarang. Sudah jadi kebanggaan malah, "eh sekolah kamu prom night dimana?"
Boleh melakukannya? Silahkan, itu hak semua orang. Tapi jika kalian ingin mendengarkan, maka saya punya beberapa argumen kenapa "Prom Night" di hotel2, di gedung2 itu sebaiknya dihindari.
1. Mubazir
Ada banyak cara melakukan perpisahan. Dan itu bisa lebih berkesan dibandingkan menghabiskan uang ratusan juta menyewa ballroom hotel, konsumsi, plus hiburan. Ada sekolah2 yang melakukan bakti sosial, ada sekolah2 yang simply hanya sesepedaan ramai-ramai. Saya tahu, kalian adalah generasi dengan orang tua kaya (catat baik2, orang tua kalian yang kaya, kalian sih tidak), saya tahu, kepanitiaan prom night mudah sekali mengumpulkan uang ratusan juta (mulai dari sponsor lewat koneksi, patungan, dll). Tapi uang itu bisa lebih berguna untuk tujuan lain.
2. Dekat dengan maksiat
Mulai dari cara berpakaian, konsep acara, prom night di hotel2, gedung, sudah menjurus acara hura-hura. Kebebasan. Saya tahu, itu hanya acara 1-2 jam, kalian juga bisa bilang acara kalian bebas dari hal aneh2, tapi please, mengumpulkan anak2 dengan usia rata2 di bawah 18 tahun, malam hari, itu sudah sebuah konsen serius. Orang tua kalian mungkin welcome saja, anak gadisnya keluar malam-malam, tapi itu tetap sebuah konsen serius. Karena kalian hidup dalam masyarakat, jika terjadi sesuatu, baru rusuh semua orang, menyalahkan semua orang.
3. Bukan budaya setempat
Dari mana sih generasi sekarang mencontoh prom night? Dari film-film luar negeri. Mereka ingin sekali terlihat keren seperti film2 yang ditonton, untuk sayangnya, serba tanggung. Mereka sudah tidak menghargai lagi budaya tempat dia tinggal, untuk saat bergaul dengan cara luar, terlihat ganjil. Mau coba minum-minuman keras? Teler? Seks bebas? Ngebut2an pakai mobil setelah acara? Bergaya seperti di film-film itu? Dek, yang kalian tonton itu hanya film. Di negeri barat sana, justeru keluarga mereka berusaha mendidik anak-anak remajanya jauh dari hal seperti itu.
Jika kalian remaja, di usia2 tersebut, maka selalulah berpikir matang atas aktivitas yang akan kalian ikuti. Selalu kritis, bertanya. Jangan ikut2an, jangan malu, apalagi kalau cuma gara2 dibilang kuper, nggak gaul. Idih, itu bukan alasan untuk ikut trend. Katakan tidak pada acara2 yang menurut kalian tidak pantas. Tidak mengapa kehilangan "teman" gara2 hal seperti ini. Toh, kalian akan menemukan teman yang lebih baik sebagai penggantinya, saat bersikap atas sesuatu.
Semoga masih banyak yang punya pemahaman seperti ini.

"Prom Night" itu bukan tradisi anak SMA di negeri kita. Kalian tidak perlu ikut, dan bodo amat kalaupun disebut kuper, tidak gaul, kampungan gara-gara tidak mau ikut.
10 tahun dari kelulusan SMA, kalian bisa buktikan, si anak kuper itu justeru bisa diterima di kampus terbaik, memiliki pekerjaan terbaik, dan tahu persis apa yang harus dia lakukan--bukan sekadar ikut2an, mem-bebek budaya orang lain.

Saya tidak bergurau: semakin banyak perusahaan yang ketika menerima karyawan baru, mereka memeriksa ke akun facebook/twitter/dll calon karyawan. Kadang mereka memang minta akunnya, kadang mereka cari diam-diam.
Maka, nggak banget, kalian gagal diterima bekerja, simply karena akun facebook kalian alay, tidak jelas, galau, dsbgnya. Karena eh karena, bagaimana mereka akan menerima karyawan dengan nama profil: "Puteri lovedia celalu cikicikibumbum"?

Menara paling tinggi di dunia ini adalah: tinggi hati.
Batu paling keras di dunia ini adalah: keras kepala.
Maka, menara batu paling tinggi dan keras di dunia ini, adalah kombinasi keduanya. Tabiat ini kalau hanya dimiliki kanak-kanak, tidak serius. Tapi jika dimiliki orang dewasa, bisa serius sekali. Ngototnya tanpa ampun.

Pak/Ibu pejabat, harga-harga sembako, naik tajam setiap kali Ramadhan tiba. Tolong lakukan sesuatu secara kogkret, minimal biar tidak naik terlalu gila. Lakukan operasi pasar, sidak pasar2, agar para penimbun yang mengambil kesempatan berkurang.
Soal harga ini penting, loh. Kalau Ibu2 di rumah pada demo, tiba-tiba ngambek nggak mau masak sahur, bisa repot urusan. Karena mereka tidak protes, bukan berarti mereka baik-baik saja saat belanja di mamang sayur, saat mereka termangu mendengar harga bawang lima siung.
*Tere Liye
**disponsori emak-emak komplek

*Hai
Secara logika, malam itu untuk tidur. Istirahat. Semua orang juga tahu. Tapi kenapa, pukul 3 atau 4 subuh, Ibu-Ibu rumah tangga sudah harus menyingkirkan selimut, lantas beranjak ke dapur, masak. Ngapain? Apa tidak bisa ditunda masaknya hingga pukul 7 nanti siang? Kayak kurang kerjaan. Juga malam-malam, ada banyak yang menghabiskan waktu untuk shalat, mengaji. Ngapain begadang? Nanti besok siang jadi mengantuk, tidak produktif bagaimana?

Secara logika, manusia itu membutuhkan makan. Asupan energi. Dalam buku2 medis disebutkan demikian. Lantas terbentuklah ritmenya. Makan pagi, makan siang, dan makan malam. Tapi kenapa, tiba-tiba sepanjang hari, jangankan makan, minum pun tak boleh? Belum lagi, lihatlah, anak-anak usia SD, SMP, juga harus melakukannya? Apa tidak kasihan, toh? Apa tidak tega? Masa' anak kecil disuruh jangan makan dan minum. Ini sungguh terlalu dan tidak logis. Yang makan banyak saja belum tentu produktif, ini malah tidak makan.

Perintah puasa sebulan penuh selama Ramadhan adalah salah-satu ibadah yang silahkan gunakan logika, maka kalian bisa mendebatnya dari ujung ke ujung. Apalagi buat yang memang "rewel" suka mendebat. Ngapain sih kita harus menghabiskan waktu sebulan untuk berpuasa? Kenapa tidak seminggu saja? Kenapa tidak selang-seling? Lima hari puasa, dua hari libur? Bikin repot. Orang2 yang dagang makanan jadi terganggu. Orang2 yang mau cari makanan jadi terganggu. Yang mau hedon, juga terganggu.

Tetapi perintah berpuasa, tidak datang dengan "logika manusia".

Itu benar, hari ini, ada banyak bukti medis yang mendukung betapa baiknya berpuasa selama sebulan bagi tubuh manusia itu sendiri. Tapi saat perintah ini turun seribu tahun lebih dulu, manusia bahkan belum tahu apa itu HDL, LDL, saat perintah Ramadhan turun, manusia belum paham dengan clear alasan medisnya. Lantas kenapa mereka tetap berbondong2 bersedia melakukannya? Karena mereka yakin sekali, Tuhan tahu hal terbaik bagi mereka. Penciptanya tahu persis hal terbaik bagi tubuh mereka. Patuh.

Ada yang tidak patuh? Tentu saja ada, banyak.

Dan Allah tahu persis tabiat manusia tidak patuh, itulah kenapa, perintah ini diturunkan dengan kalimat, "Hai orang2 yang beriman". Tidak menggunakan kalimat, "Hai orang2 yang berlogika". Kata kuncinya di kata "iman". Situ tidak beriman, maka tidak dipanggil "Hai". Jadi situ tidak perlulah rusuh tidak suka, rusuh keberatan. Tidak ada pemaksaan. Sampeyan tidak yakin, tidak masalah. Allah tidak akan mengirim petir ke rumah yang menolak perintah ini.

Tapi saat kita bicara tentang "iman", maka lihatlah, anak2 kecil usia lima tahun, ternyata bisa menyelesaikan ibadah puasa selama 30 hari. Masih kecil sekali, Nak, ringkih badanmu, tapi kamu berhasil menyelesaikannya. Orang tua usia 70, 80 bahkan lebih lagi, juga berhasil menyelesaikannya dengan paripurna. Padahal sudah renta, sakit-sakitan pula. Juga tidak terhitung yang sedang menderita penyakit tertentu, mereka juga berhasil melakukannya. Dengan antusias dan penuh rasa senang. Dengan suka cita dan kemenangan.

Ramadhan adalah ibadah panggilan "Hai". Jika kita tidak terpanggil, maka meskipun sehat wal'afiat, usia juga sedang segar bugar, kita tidak akan melaksanakannya. Kalaupun melaksanakan, hanya jadi beban, hanya karena baiklah, setiap tahun juga sudah melakukannya. Ramadhan hanya tiba di kulit luar saja, tidak mampir hingga ke dalam hati.

Jika kita menyukai teman karena dia tampan, cantik, kaya, pintar, populer, baik dan semua kelebihan lainnya, maka itu sih lumrah saja. Rumus umum yang berlaku di dunia.
Tapi jika kita tetap berteman dengan seseorang yang jelek (maaf), miskin, biasa2 saja, tdk ada prestasinya, maka itu sebuah pertemanan yang baik.
Nah, jika kita tetap berteman dengan seseorang yang bangkrut, melakukan kesalahan, dijauhi orang lain, tetap membantunya, memberikan kekuatan, motivasi agar terus memperbaiki diri maka jelas itu sebuah keistimewaan. Amat spesial.

Adik2 sekalian, besok lusa, berhati2lah atas 3 kosong ini: Omong kosong, otak kosong, tabungan juga kosong.
Nah, mumpung masih muda, mulailah serius untuk belajar, sekolah. Kalau sudah lulus, segera cari pekerjaan, usaha. Dilakukan dengan tekun. Biar besok2 bukan kita yang masuk 3 kosong tadi. Jangan habiskan waktu main HP melulu, kelayapan di flyover, pacaran, hamil dulu sebelum menikah, dsbgnya.

Orang2 yang TIDAK punya pilihan, tapi dia tetap berpegang teguh, tidak berhenti atau memutuskan pergi, maka sudah setia-lah dia.
Apalagi, ketika seseorang PUNYA banyak pilihan, opsi, alternatif, tapi dia tetap berpegang teguh, tetap di sana, maka sungguh setia.

Tamak kekuasaan itu adalah ketika: suaminya habis berkuasa, giliran istrinya yang mencalonkan diri. Habis istrinya, giliran anaknya yang mencalonkan diri.
Dan selalu saja alasannya: "kalau mampu, kenapa tidak?", "kalau masih dipilih, kenapa tidak?". Sistem demokrasi ini menjadi alat pembenaran yang mulus sekali. Hingga orang2 lupa, dalam sistem ini, koruptor pun masih bisa terpilih lagi, lagi dan lagi. Karena satu suara preman setara dengan satu suara profesor.

Apa yang bisa dialami oleh seorang anak berusia 8 tahun?
Banyak.
Anak kecil usia 8 tahun di Gaza, Palestina, hari ini, maka itu berarti mereka setidaknya telah melewati 3 ronde peperangan besar--di usia semuda itu. Terakhir adalah saat musim panas 2014, ketika Israel meledakkan rumah, gedung, sekolah, dsbgnya, mengirim rudal tanpa peduli sasarannya.
Anak-anak yang tumbuh di tengah kemiskinan, kekerasan, dentuman peluru, meringkuk ketakutan, terbiasa hidup di lokasi2 pengungsian, untuk di tahun2 berikutnya siklus itu terjadi lagi.
Tahun ini, Ramadhan kembali menyapa Gaza, Palestina. Ratusan ribu anak-anak semangat puasa di tengah keterbatasan. Jika di rumah2 kita semua mudah didapat, ramadhan kita berjalan lancar, maka ingatlah, ratusan ribu anak-anak Gaza, Palestina. Jangan pernah lupakan mereka--setidaknya dalam doa.

Jika orang lain dengan cepatnya melupakan kita; maka sebaliknya, kita bisa memilih untuk terus mengingatnya (dengan hati yang lapang).
Bahkan meletakkannya di bagian terbaik kenangan kita.

Sungguh beruntung jika kalian menemukan suami atau istri yang amat pengingat. Apalagi jika dia mengingat dengan sangat baik, betapa besar cintanya dulu saat akad nikah dilakukan.
Ingatan tersebut akan menghancurkan tembok masalah sebesar apapun, membuatnya bersabar, dan tidak akan mudah menyerah.

Pukul 4 dinihari saat postingan ini dirilis, seharusnya "titik-titik kehidupan" 253 juta di negara yang disebut Indonesia "hanya satu-dua". Hampir semuanya sedang tertidur lelap.
Tapi bulan Ramadhan memutarbalikkan situasinya.
Jika kita bisa duduk di atas langit sana, menyaksikannya, maka dini hari ini, "titik-titik kehidupan" di Indonesia aktif sekali. Tua, muda, kaya, miskin, bahkan yang selama ini tidak shalat wajib, apatis, sekuler, turut bangun untuk sahur--terlepas puasanya genap atau tidak.
Itulah istimewanya bulan Ramadhan. Selalu spesial.

Ramadhan adalah waktu yang baik untuk berhenti merokok.
Bujuk, support, dan jangan lupakan, doakan keluarga kalian yang merokok agar diberi kekuatan untuk berhenti. Hanya Allah yang mampu membolak-balikkan hati. Kalau gagal Ramadhan tahun ini, coba lagi tahun berikutnya, berikutnya dan berikutnya.

Segala sesuatu yang baik; selalu datang di saat terbaiknya. Persis waktunya. Tidak datang lebih cepat, pun tidak lebih lambat.

Mau pesek, mau sipit, mau hitam, putih, maka wajah dan tubuh kita itu adalah anugerah Allah. Disayangi. Diterima apa-adanya. Bukan sebaliknya, berusaha dilawan, dipermak, dibedaki banyak2, dilipstiki tebal2, hanya untuk tampil cantik menurut standar orang banyak.
Hei, hidup ini bukan sesuai standar orang lain, tapi mengacu pada pemahaman yang ada di hati kita. Kalau mau ngikut kata orang, sampai kiamat kita tidak akan puas.

Sakit hati, patah hati, dan sejenisnya itu mudah sekali dipahami, dijelaskan.
Nah, yang susah dipahami itu adalah: jika kita sendiri yang mengalaminya.

Kadang, kita tidak tahu kenapa kita masih berharap.
Kadang, kita tidak tahu kenapa masih menunggu.
Kadang, kita tidak tahu kenapa tetap tinggal.
Maka, itulah salah-satu cabang sabar. Ketika kita "tidak tahu" misteri masa depan, tapi kita tetap melakukannya. Lengkapi dengan keyakinan Allah selalu punya skenario terbaik, sibukkan diri dengan hal positif fan bermanfaat, maka semoga bahagia selalu menemani kita.

Kata "Maaf" tidak akan membuat yang terlambat jadi tepat waktu.
Kata "Maaf" juga tidak akan membuat yang terlanjur tersakiti jadi sembuh sedia kala.
Kata "Maaf" apalagi, juga tidak bisa mengembalikan yang telah pergi; menghapus salah menjadi benar; yang rusak seketika menjadi baik.
Tidak bisa.
Tapi kata "Maaf" yang tulus dan ihklas, melampaui ukuran itu semua, melewati ukuran dunia. Kata "Maaf" bisa menyiram hati menjadi lebih cemerlang. Bening. Damai. Dan itulah hakikat memaafkan.

Kita bisa saja memantulkan semua omongan jelek orang lain. Kita balas, caci balas caci, fitnah balas fitnah, benci balas benci, kita pantulkan dengan lebih kencang. Tapi buat apa?
Lebih baik diserap saja. Seperti sponge busa yang bisa menyerap air. Kemudian keluarkan lagi dengan santai. Tidak ada rasa sakit hati. Tidak ada waktu untuk memikirkannya. Sibukkan diri dengan hal positif dan produktif.

Rasa sakit di hati itu hanya ibarat kabut di pagi hari. Tunggulah matahari tiba, maka dia akan hilang bersama siraman lembut cahayanya.
Rasa sakit di hati itu hanyalah ibarat kabut pagi.
Tidak pernah mengubah hakikat indahnya pagi. Bahkan bagi yang senantiasa bersyukur, dia akan menari (meski sambil menangis) di tengah kabut. Dan itu sungguh tarian indah. Tarian penerimaan.

Bukan hanya ketika melakukan hal salah kita bisa menghadapi masalah. Saat melakukan hal benar pun kita bisa menghadapi masalah yang lebih serius lagi.
Tetapi bukan berarti kita jadi tidak mau melakukannya. Itulah yang membedakan antara orang2 hidup dengan prinsip baik atau sebaliknya.

Waktu dan Jarak tidak bisa mengalahkan persahabatan sejati. Justeru membuatnya semakin cemerlang.
Beruntunglah jika kita memiliki para sahabat.

Mencari jodoh itu bukan mencari kesempurnaan. Nggak ada jodoh yang pontenny
a 100. Cukup memenuhi kriteria dasar, maka sudah baiklah dia.
Dan kita semua, bisa menentukan apa kriteria dasar terbaik tersebut. Semakin banyak pengetahuan kita, semakin luas pemahaman kita, maka akan semakin baik kriteria tersebut, tidak hanya soal tampilan fisik.

Kita beli HP, maka jelas yang kita peroleh adalah HP. Kita beli laptop, juga dapat laptop. Yang kita gunakan hingga rusak/bosan.
Kita beli makanan, yang kita dapatkan adalah makanan. Kita beli minuman, pun yang kita peroleh adalah minuman. Yang kita konsumsi hingga habis, atau bersisa basi tidak terpakai.
Lantas, kalau kita membelanjakan uang kita untuk melakukan perjalanan, apa yang kita peroleh?
Pergilah melihat dunia. Tidak mengapa menghabiskan sedikit uang melakukan perjalanan. Karena meski kita tidak mendapatkan HP, laptop, makanan, minuman, kita akan memperoleh hal lain yang akan bermanfaat.

Akar dari seluruh perasaan sejati adalah: menunggu
Mahkota dari segenap perasaan adalah: melepaskan
Sayangnya, saat kita diselimuti kabut perasaan, sesak tidak tertahankan, kita tidak bisa melihat semua ini dengan akal sehat. Percayalah, Tuhan yang akan menulis skenario terbaik buat kita. Yang pergi pasti kembali, yang hilang akan ditemukan jika memang berjodoh. Lewatilah masa2 ini dengan cara yang baik, gunakan rambu2 agama.

Kata siapa kita tidak bisa melihat bintang di siang hari? Kata siapa bintang baru bisa dilihat di langit gelap? Itu amat keliru.
Karena matahari sejatinya adalah bintang. Kita bisa melihatnya sangat terang setiap siang. Bahkan terbit dan tenggelam dengan indahnya. Tapi kita tidak menyadarinya.
Itulah sifat "manusiawi". Kadangkala kita selalu melihat hal yang jauh sekali, untuk yang dekat tidak nampak. Kadangkala kita mengingat yang jelek (padahal itu sedikit), untuk melupakan yang baik (padahal itu banyak). Kadangkala kita sakit hati untuk urusan sepele, untuk mengabaikan begitu saja semua rasa bahagia yang didapat selama ini.
Well, semoga kita paham sekarang: kita selalu bisa melihat "bintang" di siang hari. Sepanjang kita mau menyadarinya atau tidak.

Sayangi orang2 yang selalu mengingatkan, meski terdengar menyakitkan, tidak terima dan sebal sekali. Peluk erat nasehatnya.
Jika kita tidak mampu mendengarnya sekarang, boleh tutup kuping, tinggalkan, namanya juga manusia; tapi saat situasi lebih tenteram, tidak ada salahnya dipikirkan, maka semoga muncul pemahaman berbeda.

Ketika kita dalam masa-masa gelap hidup kita, maka lazim sekali jika yang kita sangka teman-teman akan pergi. Keluarga pun bahkan tega pergi. Sungguh, dalam kegelapan, bahkan bayangan kita sendiri saja ikut pergi.
Hanya "pemahaman baik" yang akan menjadi teman sejati kita. Menetap, menemani. Dan mata air pemahaman paling jernih adalah agama kita. Nasehat-nasehat agama kita. Jangan pernah ditinggalkan.

Bahkan orang tua pernah menasehati: Anakku, bahkan bangkai pun dikerubuti oleh lalat.
Ramainya orang2 di sekitar kita, tidak pernah bisa jadi ukuran kemuliaan, melainkan ketenteraman hati sendiri. Kita tidak perlu sanjung dan dukungan jutaan orang. Kita cukup membutuhkan kedamaian diri sendiri.

Bahagia atas kebahagiaan orang lain adalah salah-satu sumber kebahagiaan.

Ada tiga cara belajar tentang hidup ini:
1. Refleksi; dengan memikirkan banyak hal, menyelami kedalaman pemikiran, nasehat-nasehat. Ini cara paling luhur.
2. Imitasi; dengan mencontoh orang lain, meniru, ambil yang baik, buang yang jelek. Ini cara paling mudah.
3. Pengalaman; dengan melewatinya, merasakan pahit-getir, susah payah. Ini adalah cara paling menyakitkan.
Nasehat lama ini menarik untuk dipikirkan. Karena kita selalu bisa memilih, apakah memilih sakit-binasa dulu, baru paham hakikat sesuatu (cinta misalnya), atau lewat cara lain, melalui refleksi, mendengarkan nasehat orang lain.

Kita hanya punya dua pilihan soal waktu:
Kita menghabiskan waktu dengan baik. Atau: Waktu yang menghabisi kita dengan baik.
Hello! Ayo, kerjakan sekarang skripsi, thesis, tugas akhir, pekerjaan kalian. Jangan malah berkeliaran di page ini

Bagaimana kita bisa menghentikan perasaan yang terlanjur salah install?
Jawabannya mudah: Mulailah detik ini juga menekan tombol "cancel". Kemudian biarkan waktu menghapus sisanya.

Ada sesuatu yang jika memang sudah selesai, maka sudah demikianlah, tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menerimanya dengan lapang.
Kita tidak bisa lagi menyiram bunga yang sudah mati. Buat apa? Tidak akan tumbuh, tidak akan berbunga. Lebih baik, bersiap menanam bunga berikutnya.

Kita tidak bisa membangun satu jembatan untuk anak-anak berangkat sekolah; tapi kita bisa membeli barang2 lembaga pemerintah, benda2 yang tidak perguna dengan harga milyaran--yang besok lusa teronggok karatan saja.
Kita tidak bisa menyediakan raskin (beras miskin) kepada nenek-nenek yang tinggal di kandang kambing; tapi kita mau saja memberi partai politik 1triliun. Sekarang ribut pula soal dana aspirasi belasan triliun totalnya.
Kita tidak bisa melindungi nenek-nenek pencuri demi sesuap nasi; tapi kita bisa melindungi rekening gendut puluhan milyar pun rekening2 lain penegak hukum.
Saat semua serba terbalik, maka sudah saatnya kita lebih peduli. Apapun yang bisa kita lakukan. Jika itu hanya sekadar doa dan menjaga keluarga kita tidak ikut jadi maling, tidak ikut membela maling (yang pasti jago banget ngelesnya), genap sudah tunai kepedulian kita.

Segala sesuatu yang baik; selalu datang di saat terbaiknya. Persis waktunya. Tidak datang lebih cepat, pun tidak lebih lambat.

Salah satu istri tersangka korupsi yang digelandang KPK, memiliki tas hermes seharga 960 juta rupiah, dan tas yang dia punya itu, hanya diproduksi lima saja di seluruh dunia. Nyonya tersangka ini juga punya barang2 lain dengan harga wah. Informasi ini diungkap oleh pimpinan KPK di salah-satu acara. Bayangkan, ada seorang istri, membeli tas yang harganya bisa membeli 8 mobil (harga 110jutaan), 3 rumah (harga 300jutaan). Hanya sebuah tas, yang jelas tidak bisa membuatnya terbang atau sakti. Uang 960 juta hanya untuk tas. Seorang pembantu, bibi, dengan gaji 800ribu per bulan, maka dia butuh 1.200 bulan agar bisa menabung 960 juta.
Silahkan saja kalau itu uang sendiri, hasil keringat dan air mata sendiri. I dont care. Tapi jadi sangat mengenaskan, jika uang itu hasil perbuatan keji luar biasa.
Berdasarkan pengalaman pimpinan KPK ini bekerja di lembaganya, mengurusi banyak kasus korupsi, catat baik-baik: nyaris TIDAK ADA istri tersangka korupsi yang keberatan, apalagi melarang suami/keluarganya korupsi. Bahkan dalam kasus tertentu, istrinya justeru ikutan korupsi, menjadi pengurus, bendahara, dll, menjadi bagian, calo, makelar dari proyek korupsi suaminya. Ini sangat mengerikan.
Bagaimana mungkin istri koruptor akan bertanya darimana asal uang sebanyak ini, jika dia justeru tertawa bahagia, bilang Alhamdulillah saat terima uang? Bahkan nyinyir setiap hari jika keperluan gaya hidupnya tidak terpenuhi suami? Uang2 itu lantas dibelanjakan untuk keperluan tersier. Mulai dari membeli tas, sepatu, melakukan perawatan kecantikan, memutihkan badan, bergaul dengan sosialita lainnya, hang out kemana2? Koruptor level atas mereka akan membeli hermes, dll, sedangkan koruptor kelas kroco, hanya setingkat korupsi di desa, kecamatan, levelnya berbeda, karena uangnya terbatas. Tapi pola ini sama. Mudah sekali memetakannya.
Jika seorang istri menjadi bagian penting dari tindak korupsi, maka apalagi yang akan kita bicarakan tentang anak-anak? Siapa yang akan mendidik anak-anak agar jujur, memiliki prinsip dan pemahaman baik, jika bukan hanya perutnya diisi nafkah haram, tapi di keluarganya dipenuhi contoh-contoh hidup konsumerisme dan serba instan. Ingin cepat punya uang, instan, korup.
Apakah istri koruptor ini merasa berdosa? Inilah pertanyaan yang saya tidak pernah tahu jawabannya. Karena jika menyimak dari banyak kasus, mereka sepertinya justeru merasa apa yang dilakukan baik-baik saja. Toh, semua orang melakukannya (menurut mereka). Toh, yang mereka lakukan tidak separah orang lain (lagi2 menurut mereka). Tidak punya rasa malu, menyalahkan orang lain, adalah kencenderungan yang sangat nampak dari prilaku mereka. Apakah mereka bertobat? Ini lagi2 pertanyaan yang saya tidak tahu juga jawabannya. Karena jika menyimak dari banyak kasus, lagi-lagi, sebaliknya yang terlihat.
Gaya hidup selalu saja membuat orang lain butuh uang lebih banyak. Tidak tahan hidup miskin, terbiasa hidup nyaman, juga membuat orang tidak sabaran. Saat mereka tidak punya kompetensi memenuhi kebutuhannya. Tidak mau bekerja keras, tidak tekun berdagang, tidak kreatif berusaha, saat itu tidak mereka miliki, maka hanya itu saja pilihan yang tersisa: jalan pintas. Mencuri. Pejabat2 besar jaman dulu, seperti Hatta, Natsir, untuk beli sepatu saja mereka harus nabung berbulan2, apalagi rumah, dll. Menjamu tamu saja mereka pinjam piring dari tetangga. Hari ini, pejabat kelas kroco bahkan bisa merayakan ulang tahun anaknya dengan biaya milyaran rupiah. Beda sekali memang gaya hidupnya.
Maka, bagi siapapun yang ingin mencegah anak-anaknya korups, keluarganya korup, penting sekali sedari awal, selain menumbuhkan kejujuran di hatinya, tanamkanlah kompetensi menghadapi hidup ini. Berikan anak2 kita pendidikan formal dan informal yang cukup. Beri contoh kerja keras, ketekunan dan kreatifitas. Saat dia punya semua itu, dia akan punya solusi kalau ingin punya gaya hidup tinggi. Bekerja keras.
Bukan sebaliknya, mencuri.

**sumber : Darwis Tere Liye Facebook